Anda di halaman 1dari 4

Membangun Sistem Data Statistik Peternakan

Oleh : Bela B. Negara, S.IP

“Pada suatu saat, sebut saja Budi, seorang mahasiswa Fakultas Peternakan di Jawa Barat
memerlukan data populasi unggas, khususnya populasi burung puyuh di Jawa Barat. Dalam
pemikiran mudahnya, untuk mendapatkan data itu, Budi hanya tinggal “surfing” di internet, masuk
kedalam situs pencarian, dan dalam hitungan detik, “sim salabim” keluarlah data yang dia butuhkan.
Namun tidak demikian kejadian sesungguhnya, ternyata, di situs pencarian itu, tidak ditemukan
mengenai data populasi burung puyuh di Jawa Barat. Kemudian, tidak berputus asa, Budi, masuk ke
situs web Departemen Pertanian, namun hasilnya pun, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, nihil
alias tidak ada datanya. Hal tersebut menjadi tanda Tanya besar bagi Budi, kenapa ini bisa terjadi ?”

Membaca cerita diatas, bisa kita identifikasi permasalahan mendasar mengenai data dan
informasi peternakan yang ada di Jawa Barat, diantaranya, ketersediaan data populasi kelinci di Jawa
Barat dan permasalahan di sisi lain, jikalau ada data tentang populasi kelinci tersebut, mengapa tidak
di upload kedalam suatu situs web ?

Hal tersebut terus terang membuat kita harus mengerenyitkan dahi, memang masih seperti
itu lah cerminan kondisi nyata sistem data peternakan di Jawa Barat. Begitu banyak hambatan-
hambatan yang merintang untuk mewujudkan system data peternakan terpadu, secara horizontal
dari tingkat pemerintah terbawah (Kecamatan) sampai dengan tingkat pemerintahan tertinggi
(DEPTAN) dan secara vertical dari data sektor hulu sampai data di sektor hilir. Secara umum,
hambatan-hambatan yang ada, terbagi kedalam 4 (empat) faktor, pertama, metodologi, dua,
kelembagaan, tiga, sumber daya manusia, empat, sarana dan prasarana.

Butuh waktu yang lama dan jumlah halaman yang sangat banyak untuk mengurai hambatan-
hambatan yang ada tersebut, sehingga dalam kesempatan ini, hanya akan 2 (hambatan) yang akan
kita jelaskan lebih mendalam, yaitu hambatan metodologi dan kelembagaan.

Hambatan metodologi, dalam artian, saat ini, begitu banyak metodologi perhitungan –
perhitungan tentang peternakan yang belum disepakati oleh stakeholder peternakan itu sendiri,
padahal metodologi ini menjadi dasar untuk melakukan analisis – analisis terhadap data di lapangan.
Salah satunya adalah perhitungan populasi ternak dan produksi hasil ternak (daging, telur dan susu)
yang tidak dapat lepas dari adanya parameter yang menjadi indikator data lapangan untuk
memperkuat hasil perhitungan.

Salah satu dari parameter yang digunakan adalah parameter berat karkas dan parameter
berat edible offal. Secara definisi, karkas adalah bagian dari ternak ruminansia yang didapatkan
dengan cara disembelih secara halal dan benar, dikuliti, dikeluarkan darahnya, dikeluarkan jeroan,
dipisahkan kepala, kaki mulai dari tarsus/karpus ke bawah, organ reproduksi dan ambing, ekor serta
lemak yang berlebih kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain melalui pendinginan yang telah
ditetapkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga lazim dan layak dikonsumsi oleh
manusia. Sementara arti dari edible offal adalah bagian dari dalam tubuh hewan yang berasal dari
ternak ruminansia yang disembelih secara halal dan benar serta dapat, layak dan aman dikonsumsi
oleh manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com


Parameter tersebut digunakan dalam perhitungan produksi hasil ternak. Rumus sederhana
yang digunakan, misalnya, perhitungan produksi daging sapi, dapat dicari dengan mengalikan angka
pemotongan dengan angka karkas ditambah angka offal. Adapun angka parameter yang digunakan
dalam perhitungan produksi di Jawa Barat adalah karkas sapi lokal 184,84 kg/ekor, sapi impor 216,65
kg/ekor sementara edible offal sapi lokal adalah 42,70 kg/ekor dan sapi impor adalah 50,97 kg/ekor.

Selain parameter karkas dan edible oval diatas terdapat pula parameter – parameter
lainnya, misalnya parameter betina dewasa laktasi (% dari total populasi sapi perah betina), produksi
susu per hari (13,57 liter) dan lama produksi per tahun (300 hari). Parameter tersebut digunakan
untuk perhitungan produksi susu per tahun, sehingga perhitungannya sebagai berikut jika di sebuah
kabupaten mempunyai populasi sapi perah betina 100 ekor, maka produksi susu setahun di
kabupaten tersebut adalah 52% x 100 ekor x 13,57 liter x 300 hari = 211.692 liter atau setara dengan
217.619 kg. Jadi produksi susu setahun di kabupaten tersebut adalah 217.619 kg. Dari contoh
aplikasi perhitungan parameter tersebut dapat tergambarkan begitu penting dan vitalnya parameter
tersebut dalam mewujudkan data peternakan yang akurat, tepat dan objektif di suatu daerah.
Padahal, menilik jumlah daerah di Jawa Barat yang berjumlah 26 kab/kota, tidak semua memiliki
parameter-parameter perhitungan tersebut, padahal terdapat perbedaan potensi yang mencolok
antara satu kabupaten/kota dengan yang lainnya, sehingga meskipun di Jawa Barat (Dinas
Peternakan Provinsi) mempunyai parameter tersendiri, parameter tersebut tidak dapat diadopsi
seluruhnya, kalaupun mau dipergunakan, perlu adanya penyesuaian yang disesuaikan dengan
potensi daerahnya.

Selain itu, aktualitas dari parameter-parameter tersebut, sudah seharusnya dikaji ulang,
sehingga teridentifikasi parameter-parameter mana yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi
yang sebenarnya dilapangan.

Hambatan Kelembagaan, sebagai dampak nyata dari adanya UU nomor 32 tahun 2004,
adalah adanya restrukturisasi kelembagaan-kelembagaan di kabupaten/kota di Jawa Barat, dalam
artian, setiap kabupaten/kota mempunyai wewenang untuk membentuk DIBALE (Dinas, Badan dan
Lembaga) tersendiri, tidak harus mengacu kepada pemerintah pusat. Sehingga kabupaten/kota
seakan berlomba untuk membuat DIBALE tersendiri yang tentunya pasti akan berbeda-beda dari sisi
nomenklatur di DIBALE tersebut.

Hasilnya, bisa dibilang sangat mengkhawatirkan. Sub sektor peternakan seakan menjadi sub
sektor yang hanya pelengkap saja. Jangan heran, kalau suatu saat anda bermain-main ke Kota
Cirebon, anda hanya akan menemukan sektor peternakan itu hanya ada dalam tataran esselon IV
atau setara dengan Kepala Seksi. Nama-nama Dinas Yang Menangani Fungsi Peternakan di
kabupaten/kota dapat dilihat sebagai di dalam tabel berikut ini :

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com


KANTOR/DINAS YANG MENANGANI FUNGSI PETERNAKAN

1 Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bogor

2 Dinas Agribisnis Kota Bogor

3 Dinas Pertanian Kota Depok

4 Dinas Peternakan Kab. Sukabumi

5 Dinas Pertanian Kota Sukabumi

6 Dinas Peternakan dan Perikanan. Kab. Cianjur

7 Dinas Pertanian dan Peternakan. Kab. Indramayu

8 Dinas Pertanian. Perkebunan dan Peternakan

9 Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cirebon

10 Dinas Pertanian. Kab. Kuningan

11 Dinas Pertanian. Kab. Majalengka

12 Dinas Peternakan. Perikanan dan Kelautan Kab. Bekasi

13 Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi

14 Dinas Perikanan. Kelautan dan Peternakan. Kab. Karawang

15 Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Purwakarta

16 Dinas Peternakan Kab. Subang

17 Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung

18 Dinas Pertanian Kota Bandung

19 Dinas Perekonomian dan Koperasi Kota Cimahi

20 Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Sumedang

21 Dinas Peternakan dan Kelautan. Kab. Garut

22 Dinas Pertanian. Kota Tasikmalaya

23 Dinas Peternakan. Perikanan dan Kelautan. Kab. Tasikmalaya

24 Dinas Peternakan. Kab. Ciamis

25 Dinas Pertanian. Ketahanan Pangan. Perkebunan dan Kehutanan Kota Banjar

26 Dinas Pertanian. Perkebunan. Peternakan dan Perikanan


Kab. Bandung Barat

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com


Hal itu tentu saja, semakin mempersempit ruang gerak perkembangan sektor peternakan di
daerah tersebut. Sehingga dengan tugas dan fungsi sektor peternakan yang begitu banyak dan luas,
dikhawatirkan tidak dapat tertanggulangi oleh hanya level di esselon IV sebuah instansi.

Penutup

Jikalau seorang Budi kemudian merasa ada sesuatu yang salah dengan kesisteman data yang
ada di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, adalah sesuatu yang wajar. Maka tidak salah pula, Budi
mencoba untuk mengambil 1 (satu) benang merah yang menurutnya akan mengatasi semua
hambatan-hambatan dalam mewujudkan sistem data yang terpadu, yaitu KOMITMEN. Komitmen
dari seluruh stakeholder yang terkait; pemerintah berupaya untuk mendapatkan data yang
selengkap mungkin di lapangan dan melakukan sofistifikasi sarana dan prasarana pelayanan data;
masyarakat berkomitmen untuk supporting pelaksanaan pencarian data di lapangan; dan sektor
swasta berkomitmen untuk memberikan laporan tentang aktivitas yang dilakukan kepada DIBALE
pemerintah terkait (missal, melaporkan data pemotongan, data pemasukan dan pengeluaran
ternak). Dengan adanya integrasi ketiga sektor itu untuk berkomitmen memajukan data, khususnya
data peternakan, dipastikan Sistem Data Statistik Peternakan Terpadu bukanlah suatu keniscayaan.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com