Anda di halaman 1dari 19

DRAFT-3

ROADMAP SANITASI TOTAL


BERBASIS MASYARAKAT
2010-2014

Kementerian Kesehatan

April 2010
Daftar Isi

Daftar Isi ........................................................................................................................... i


Daftar Gambar ................................................................................................................ ii
Daftar Tabel ................................................................................................................... iii
Kata Pengantar............................................................................................................... v
1 Dasar Pertimbangan Pengembangan Roadmap Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) ...................................................................................................... 1
1.1 Target Pembangunan Sanitasi Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-
2014 ........................................................................................................................................... 1
1.2 Rencana Strategis Kementrian Kesehatan 2010-2014 ...................................... 2
1.3 Target MDGs .................................................................................................................. 2
1.4 Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP)
2
2 Pembangunan Sanitasi di Indonesia: Pencapaian, Permasalahan dan
Usulan Roadmap STBM 2010-2014 .......................................................................... 4
2.1 Pencapaian Pembangunan Sanitasi di Indonesia ................................................ 4
2.2 Permasalahan Utama Pembangunan Sanitasi di Indonesia ............................. 5
2.3 Target STBM 2010-2014 ............................................................................................ 6
2.4 Sasaran Lokasi STBM................................................................................................... 6
2.5 Langkah-Langkah Pelaksanaan STBM.................................................................... 6
3. Penutup................................................................................................................... 14

i
Daftar Gambar
Gambar 1: Dasar Pertimbangan Pengembangan Roadmap Sanitasi .............................. 3

ii
Daftar Tabel
Tabel 1: Usulan Roadmap STBM Berdasarkan Waktu dan Wilayah ............................... 7

Tabel 2: Estimasi Kebutuhan Pendanaan Roadmap STBM ...............................................10

iii
Kata Pengantar

v
1 Dasar Pertimbangan Pengembangan Roadmap Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Dokumen ini disusun atas dasar beberapa hal, yaitu (i) target pembangunan
sanitasi jangka menengah nasional tahun 2010-2014; (ii) Rencana Strategis
(Renstra) Kementerian Kesehatan 2010-2014; dan (iii) kesepakatan
internasional terkait air minum, sanitasi dan higiene yang tercantum dalam
kesepakatan Millenium Development Goals (MDGs). Masing-masing target, baik
pada tingkat nasional maupun internasional, berangkat dari pemikiran yang
sama, yaitu dampak dari buruknya perilaku dan kondisi sanitasi yang
mengancam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan,
sampai pada aspek ekonomi1.

Masing-masing target yang dimaksud pada dasarnya mencanangkan perlunya


perubahan yang signifikan dalam pendekatan pembangunan sanitasi. Berikut ini
paparan singkat terkait dengan masing-masing target dimaksud.

1.1 Target Pembangunan Sanitasi Jangka Menengah Nasional Tahun


2010-2014
Dalam kurun waktu 2010-2014, pemerintah Indonesia telah menegaskan
komitmennya dalam pembangunan sanitasi dengan mencanangkan beberapa
target penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2010-2014 Bidang Permukiman dan Perumahan. Beberapa target
penting yang dimaksud adalah sebagai berikut2:

a. Terwujudnya kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS)


nasional hingga akhir tahun 2014, baik di perkotaan maupun di perdesaan
melalui pemicuan perubahan perilaku BABS dengan target sesuai Renstra
2010-2014 masing-masing Kementerian/Lembaga;
b. Tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80 persen rumah
tangga hingga tahun 2014;
c. Menurunnya luas genangan sebesar 22.500 Ha di 100 kawasan strategis
perkotaan;

1 Berbagai kajian literatur terkait sanitasi telah mengulas berbagai pemikiran dan fakta terkait dampak
sanitasi terhadap kualitas kehidupan dari berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, dokumen ini tidak
mengelaborasi lebih jauh mengenai latar belakang pentingnya sanitasi.

2 RPJMN Bidang Perumahan Permukiman, Bappenas

1
1.2 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014
Di dalam renstra Kementerian Kesehatan 2010 – 2014 ditetapkan 8 fokus
prioritas pembangunan kesehatan. Salah satu diantaranya adalah pengendalian
penyakit menular, penyakit tidak menular dan penyehatan lingkungan. Melalui
program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, salah satu
indikator utama pencapaian sasaran pada tahun 2014 adalah jumlah desa yang
melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebanyak 20.000
desa. Sedangkan indikator untuk kegiatan penyehatan lingkungan adalah (i)
meningkatnya persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat dari 64%
pada tahun 2010 menjadi 75% pada tahun 2014; (ii) meningkatnya persentase
penduduk stop BABS dari 71 persen pada tahun 2010 menjadi 100 persen pada
tahun 2014; dan (iii) meningkatnya persentase provinsi yang memfasilitasi
penyelenggaraan STBM dari 18 persen pada tahun 2010 menjadi 100 persen
pada tahun 2014.

1.3 Target MDGs


Kesepakatan internasional MDGs secara umum ditujukan untuk mengurangi
tingkat kemiskinan dan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat di
berbagai belahan dunia. Salah satu tujuan dari kesepakatan MDGs tersebut
adalah menjamin keberlanjutan lingkungan, dimana salah satu sasaran
utamanya mengurangi separuh dari proporsi penduduk yang belum memiliki
akses terhadap air minum dan sanitasi (Tujuan 7 target 10)3. Indonesia
merupakan salah satu negara yang turut menandatangani kesepakatn MDGs.

1.4 Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi


Permukiman (PPSP)
Pada dasarnya target dari kesepakatan MDGs tersebut sejalan dengan target
pembangunan jangka menengah nasional 2010-2014. Sehingga untuk dapat
mencapai target yang telah ditetapkan dan disepakati, maka penting untuk
dikembangkan strategi yang dapat menjadi acuan dalam melaksanakan
pembangunan sanitasi di Indonesia paling tidak selama 5 tahun kedepan. Terkait
dengan kebutuhan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Tim Teknis
Pembangunan Sanitasi (TTPS) dan didukung oleh Kelompok Kerja Air Minum
dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) yang terdiri dari sektor terkait telah
mengembangkan program nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi
Permukiman (PPSP). Program nasional PPSP ini ditujukan untuk memfasilitasi
pengembangan strategi sanitasi di seluruh kabupaten dan kota (SSK) di
Indonesia sampai pada tahun 2014. Terkait dengan target dimaksud, telah
dikembangkan roadmap PPSP 2010-2014.

Dalam pelaksanaannya program PPSP bersinergi dengan program nasional


STBM untuk mengatasi permasalahan sanitasi permukiman di Indonesia.

3 http://www.undp.or.id/mdg/targets.asp

2
Target Pembangunan
Sanitasi:

 RPJMN 2010-2014

 MDGs Strategi Sanitasi


Kabupaten/kota
(SSK)

Roadmap
Pembangunan Sanitasi
Rencana Strategis
Pembangunan Permukiman
Sanitasi K/L

Sanitasi Total
Berbasis
Masyarakat (STBM)

Gambar 1
Dasar Pertimbangan
Pengembangan Roadmap STBM

3
2 Pembangunan Sanitasi di Indonesia: Pencapaian,
Permasalahan dan Usulan Roadmap STBM 2010-2014

2.1 Pencapaian Pembangunan Sanitasi di Indonesia


Dalam pengembangan roadmap STBM, perlu diketahui pencapaian
pembangunan sanitasi di Indonesia saat ini terhadap target yang telah
ditetapkan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui besarnya kesenjangan antara
kondisi eksisting dengan target yang harus dipenuhi. Dari data SUSENAS tahun
2007, proporsi rumah tangga yang mendapatkan akses terhadap pengolahan
limbah cair baik melalui sistem on-site maupun sistem communal off-ste telah
mencapai 63,9 persen dari total populasi penduduk di Indonesia. Sedangkan
rumah tangga yang mendapatkan akses pengelolaan limbah cair melalui sistem
pengelolaan limbah cair terpusat skala kota adalah 1,65 persen. Angka yang
cukup tinggi tersebut terutama merupakan hasil dari kegiatan penyediaan
prasarana dan sarana pengelolaan limbah cair berbasis masyarakat yang
difasilitasi oleh pemerintah bersama dengan lembaga swadaya masyarakat.
Namun demikian, pencapaian yang cukup tinggi tersebut masih belum
memperhatikan kualitas sistem pengelolaan limbah cair baik secara teknis
maupun kesehatan. Sehingga diperkirakan pencapaian yang sebenarnya masih
berkisar pada 30-40 persen. Capaian riil tersebut dirasakan sangat jauh dari
target pemerintah yaitu Indonesia Stop BABS pada tahun 2014.

Terkait pengelolaan sampah, peningkatan volume sampah diperkirakan


mencapai 74 juta ton/tahun, namun telah dilakukan upaya pengurangan volume
timbulan sampah melalui penerapan konsep reduce, reuse and recycle (3R) yang
mulai diterapkan oleh masyarakat dan pemerintah. Dari total timbulan sampah
tersebut, sampai pada tahun 2007, proporsi sampah rumah tangga yang
terangkut masih mencapai 20,63 persen (SUSENAS 2007). Jika dibandingkan
dengan target pemerintah yaitu 80 persen sampah rumah tangga terangkut pada
tahun 2014, maka terdapat kesenjangan yang cukup besar antara realisasi dan
target pemerintah

Pembangunan drainase di Indonesia belum dapat memberikan kontribusi yang


signifikan. Menurut data SUSENAS 2007, saluran drainase rumah tangga yang
berfungsi dengan baik hanya mencapai 52,83 persen. Hal ini dirasakan belum
dapat membantu pemerintah dalam upaya mengurangi luas genangan di
Indonesia yang ditargetkan berkurang seluas 22.500 Ha pada tahun 2014.

Dari Kementrian Kesehatan, hasil pendataan melalui RISKESDAS tahun 2007


menunjukkan proporsi rumah tangga yang masih berperilaku BABS masih cukup
tinggi, yaitu 24,8 persen. Sedangkan terkait dengan perilaku cuci tangan pakai
sabun (CTPS) data RISKESDAS menunjuukan proporsi masyarakat yang sudah
berperilaku CTPS mencapai 22 persen. Terkait akses terhadap pengelolaan air
limbah, data RISKEDAS tahun 2007 menunjukan proporsi rumah tangga yang
tidak memiliki sarana pembuangan air limbah (SPAL) mencapai 32,5 persen.

4
2.2 Permasalahan Utama Pembangunan Sanitasi di Indonesia
Secara umum, pencapaian pembangunan sanitasi saat ini terhadap target lima
tahun mendatang masih jauh di bawah harapan. Hal ini secara umum disebabkan
oleh beberapa permasalahan utama yang mengemuka4, yaitu:

a. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) belum menjadi kebutuhan bagi
sebagian besar masyarakat.

Masyarakat secara umum memiliki pengetahuan mengenai pentingnya


perilaku hidup bersih dan sehat serta kondisi sanitasi terhadap tingkat
kesehatan. Namun demikian prioritas masyarakat masih belum
menempatkan sanitasi pada prioritas utama. Oleh karena itu, seringkali
ditemui ketidakkonsistenan dalam pengetahuan, sikap dan praktik hidup
bersih masyarakat.

b. Kurangnya komitmen pemerintah daerah mengenai pentingnya


pembangunan sanitasi.

Fokus pembangunan di daerah masih berkisar pada sarana infrastruktur lain


seperti jembatan atau jalan, sementara pembangunan sanitasi belum
menjadi prioritas. Selain itu, fakta bahwa pembangunan sanitasi belum
merupakan kegiatan yang terintegrasi antar sektor terkait dan menjadi
tanggungjawab bersama.

c. Belum tersedianya pendekatan pembangunan sanitasi yang terpadu dan


sinergis.

Salah satu kendala yang cukup mendasar adalah belum adanya cetak biru
maupun pendekatan untuk menanganani pembangunan sanitasi.
Pelaksanaan pembangunan sanitasi masih dilaksanakan secara sporadis
tanpa acuan yang jelas dari pemerintah. Pemerintah saat ini telah
mencanangkan program STBM sebagai program nasional dan menjadikan
program tersebut sebagai acuan bagi pelaksana berbagai program/proyek
sanitasi yang ada. Namun demikian, program STBM masih perlu
dikembangkan untuk memenuhi persyaratan sebagai program nasional.

d. Terbatasnya pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat, khususnya di


daerah sulit sepert rawa, cadas, dan pesisir pantai.

Seringkali kendala yang dihadapi oleh masyarakat untuk mendapatkan akses


terhadap sarana sanitasi adalah tidak tersedianya teknologi sanitasi yang
sesuai dengan kondisi lokal.

e. Terbatasnya akses masyarakat terhadap suplai sanitasi;

Kendala lain yang juga sering ditemui adalah terbatasnya akses masyarakat
terhadap suplai material sanitasi.

4 Permasalahan stratgeis yang mengemuka terkait sanitasi merujuk pada dokumen RPJMN
bidang permukiman dan Perumahan 2010-2014 serta hasil pembelajaran berbagai proyek air
minum dan sanitasi di Indonesia

5
2.3 Target STBM 2010-2014
Terkait dengan pencapaian target nasional pembangunan sanitasi di Indonesia,
maka pelaksanaan program STBM 2010-2014 akan mengacu pada beberapa
target sebagai berikut:

 Seluruh Provinsi terpaparkan mengenai STBM;


 Seluruh Provinsi memfasilitasi penyelenggaraan STBM kepada seluruh
kabupaten/kota;
 Sebanyak 20.000 desa mengimplementasikan STBM;
 Seluruh penduduk stop buang air besar sembarangan (Stop BABS);
 Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat meningkat dari 64%
pada tahun 2010 menjadi 75% pada tahun 2014.
 Jumlah kasus diare per 1.000 penduduk menurun dari 350 pada tahun 2010
menjadi 285 pada tahun 2014.

Pencapaian target STBM tersebut akan dilakukan melalui:

 Advokasi/sosialisasi/fasilitasi kepada provinsi dan kabupaten/kota terpilih;


 Pelaksanaan pemicuan dan kampanye perubahan perilaku 5 pilar STBM
kepada sekitar 20.000 desa pada tahun 2014;
 Pemicuan perubahan perilaku BABS kepada komunitas pada 20.000 desa
untuk mencapai Indonesia Stop BABS pada tahun 2014;
 Peningkatan kualitas bangunan bawah jamban untuk memenuhi standar
kesehatan terhadap 11% penduduk sesuai target RPJMN 2010-2014.

2.4 Sasaran Lokasi STBM


Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan sanitasi yang terpadu, maka
sasaran lokasi pelaksanaan STBM perlu disinergikan dengan berbagai
program/proyek yang sedang berjalan. Berikut ini prioritas sasaran lokasi
STBM:
 Kabupaten/kota lokasi PPSP
 Kabupaten/Kota dan Desa/Kelurahan proyek AMPL-BM
 Kabupaten/Kota yang telah mengembangkan Kabupaten Kota Sehat (KKS)
 Kabupaten/Kota dan Desa/Kelurahan rawan diare.

2.5 Langkah-Langkah Pelaksanaan STBM


Berdasarkan kondisi eksisting dan permasalahan utama sanitasi dan mengacu
pada 6 butir Strategi Nasional STBM, maka berikut ini langkah-langkah yang
diusulkan sebagai acuan pembangunan sanitasi di Indonesia sampai pada tahun
2014.

a. Pengembangan pendekatan penanganan sanitasi berbasis masyarakat yang


sistematis dan terpadu melalui program STBM

 Pembentukan/penguatan forum koordinasi yang menjadi focal point


dalam pembangunan sarana sanitasi secara keseluruhan

6
(pembentukan/penguatan Pokja AMPL nasional dan daerah, termasuk
Tim Pembina STBM Nasional dan Provinsi)

 Pengembangan pedoman umum, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk


teknis program STBM

b. Advokasi dan sosialisasi program STBM seluruh pemangku kepentingan

c. Peningkatan kapasitas kelembagaan terkait pelaksanaan program STBM di


tingkat nasional dan provinsi

d. Peningkatan kampanye publik sanitasi dengan pelibatan media massa

e. Pengembangan pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat di daerah sulit

f. Peningkatan akses masyarakat terhadap penyediaan sanitasi melalui


kemitraan dengan berbagai pihak

g. Peningkatan alternatif pendanaan STBM

Terkait dengan waktu dan kebutuhan dana untuk melaksanakan seluruh usulan
di atas, maka tabel berikut ini menyajikan rangkuman dari usulan roadmap
STBM.

7
Tabel 1

Usulan Roadmap STBM berdasarkan Waktu dan Wilayah


Tahun
Tahapan Penanggung jawab
2010 2011 2012 2013 2014

Tahap Persiapan

Pengembangan pendekatan penanganan sanitasi


berbasis masyarakat yang sistematis dan terpadu
melalui program STBM

 Pembentukan/penguatan kelembagaan koordinasi Ditjen Bina Bangda, dan


16 17
Nasional, dan provinsi (termasuk Tim Pembina STBM - 16 Provinsi 17 Provinsi Pokja AMPL Nasional
Provinsi Provinsi
Nasional dan Provinsi)

Kemenkes dan Pokja AMPL


 Penguatan sekretariat STBM Nasional Kegiatan rutin tahunan
Nasional

Pemutakhiran Kemenkes dan KemenPu


 Pengembangan pedoman umum, petunjuk
 - Pedoman - - didukung oleh Pokja AMPL
pelaksanaan dan petunjuk teknis program STBM
STBM Nasional

Pemutakhiran Kemenkes
 Pengembangan MPA-PHAST STBM  - dokumen MPA- - -
PHAST

 Pengembangan materi promosi/kampanye STBM      Kemenkes dan Kemen PU

 Pengembangan pilihan teknologi sanitasi berbasis Kemen PU dan Kemenkes


    
masyarakat di daerah sulit

8
Tahun
Tahapan Penanggung jawab
2010 2011 2012 2013 2014

Pemutakhiran Kemenkes, KemenPU dan


dokumen Pokja AMPL Nasional/TTPS
 Pengembangan konsep Sanitation Marketing  - - -
Sanitation
Marketing

Tahap Pelaksanaan

Peningkatan kampanye publik sanitasi dengan Kemenkes,Kemen PU dan


pelibatan media massa untuk mempengaruhi Pokja AMPL Nasional dan
    
masyarakat dan pengambil keputusan di TTPS
pemerintahan

Kemenkes dan Pokja AMPL


Pelatihan fasilitator STBM tingkat Nasional     
Nasional

Kemenkes,Kemen PU,
Advokasi dan sosialisasi program STBM kepada 16 17
- 16 Provinsi 17 Provinsi Kemendagri dan Pokja AMPL
seluruh provinsi di Indonesia Provinsi Provinsi
Nasional/TTPS

Kemenkes dan Pokja AMPL


Pertemuan koordinasi nasional program STBM Nasional
    

Peningkatan kapasitas kelembagaan terkait


pelaksanaan program STBM di tingkat provinsi

 Peningkatan kapasitas kelembagaan/materi dasar Pokja AMPL Nasional


(Kepokjaan dan Tim Pembina STBM, rencana 16 17 16 Provinsi 17 Provinsi
-
strategis AMPL, monitoring dan evaluasi, dan Provinsi Provinsi (orientasi) (orientasi)
pengelolaan pengetahuan STBM)

9
Tahun
Tahapan Penanggung jawab
2010 2011 2012 2013 2014

 Peningkatan kapasitas penunjang/materi penunjang Ditjen PMD dan Pokja AMPL


16 17 16 Provinsi 17 Provinsi
(keterampilan dasar fasilitasi, strategi komunikasi - Nasional
Provinsi Provinsi (orientasi) (orientasi)
STBM, MPA-PHAST, CLTS, Sanitation Marketing)

 Peningkatan kapasitas pelaksanaan pilar 16 17 16 Provinsi 17 Provinsi Kemenkes dan Kemen PU,
-
STBM/materi initi STBM Provinsi Provinsi (orientasi) (orientasi) Pemda

Pemutakhiran Pokja AMPL Nasional,


Fasilitasi pengembangan roadmap STBM tingkat 16 17
- - roadmap STBM Kemenkes, Kemen PU,
Provinsi Provinsi Provinsi
Provinsi Kemendagri

Peningkatan alternatif pendanaan pembangunan Kemenkes, Kemen PU,


    
sanitasi Kemendagri, Bappenas

10
Tabel 2

Estimasi Kebutuhan Pendanaan Roadmap STBM


Tahun
Tahapan Penanggung jawab
2010 2011 2012 2013 2014

Tahap Persiapan

Pengembangan pendekatan penanganan sanitasi


berbasis masyarakat yang sistematis dan terpadu
melalui program STBM

 Pembentukan/penguatan kelembagaan koordinasi Ditjen Bina Bangda, dan


Nasional, dan provinsi (termasuk Tim Pembina STBM 1M 1M - 1M 1M Pokja AMPL Nasional
Nasional dan Provinsi)

Kemenkes dan Pokja AMPL


 Penguatan sekretariat STBM Nasional 400 jt 400 jt 400 jt 400 jt 400 jt
Nasional

Kemenkes dan KemenPu


 Pengembangan pedoman umum, petunjuk
300 jt - 50 jt - - didukung oleh Pokja AMPL
pelaksanaan dan petunjuk teknis program STBM
Nasional

 Pengembangan MPA-PHAST STBM 50 jt - 25 jt - - Kemenkes

 Pengembangan materi promosi/kampanye STBM 250 jt 250 jt 250 jt 250 jt 250 jt Kemenkes dan Kemen PU

 Pengembangan pilihan teknologi sanitasi berbasis Kemen PU dan Kemenkes


100 jt 100 jt 100 jt 100 jt 100 jt
masyarakat di daerah sulit

Kemenkes, KemenPU dan


 Pengembangan konsep Sanitation Marketing 150 jt - 25 jt - -
Pokja AMPL Nasional/TTPS

11
Tahun
Tahapan Penanggung jawab
2010 2011 2012 2013 2014

Tahap Pelaksanaan

Peningkatan kampanye publik sanitasi dengan Kemenkes,Kemen PU dan


pelibatan media massa untuk mempengaruhi Pokja AMPL Nasional dan
100 jt 100 jt 100 jt 100 jt 100 jt
masyarakat dan pengambil keputusan di TTPS
pemerintahan

Kemenkes dan Pokja AMPL


Pelatihan fasilitator STBM tingkat Nasional 100 jt 100 jt 100 jt 100 jt 100 jt
Nasional

Kemenkes,Kemen PU,
Advokasi dan sosialisasi program STBM kepada
1,6 M 1,7 M - 1,6 M 1,7 M Kemendagri dan Pokja AMPL
seluruh provinsi di Indonesia
Nasional/TTPS

Kemenkes dan Pokja AMPL


Pertemuan koordinasi nasional program STBM 1M 1M 1M 1M 1M Nasional

Peningkatan kapasitas kelembagaan terkait


pelaksanaan program STBM di tingkat provinsi

 Peningkatan kapasitas kelembagaan/materi dasar Pokja AMPL Nasional


(Kepokjaan dan Tim Pembina STBM, rencana
24 M 25,5 M - 24 M 25,5 M
strategis AMPL, monitoring dan evaluasi, dan
pengelolaan pengetahuan STBM)

 Peningkatan kapasitas penunjang/materi penunjang Ditjen PMD dan Pokja AMPL


(keterampilan dasar fasilitasi, strategi komunikasi 24 M 25,5 M - 24 M 25,5 M Nasional
STBM, MPA-PHAST, CLTS, Sanitation Marketing)

12
Tahun
Tahapan Penanggung jawab
2010 2011 2012 2013 2014

 Peningkatan kapasitas pelaksanaan pilar Kemenkes dan Kemen PU,


24 M 25,5 M - 24 M 25,5 M
STBM/materi initi STBM Pemda

Pokja AMPL Nasional,


Fasilitasi pengembangan roadmap STBM tingkat
1M 1M 1M 1M 1M Kemenkes, Kemen PU,
Provinsi
Kemendagri

Peningkatan alternatif pendanaan pembangunan Kemenkes, Kemen PU,


- - - - -
sanitasi Kemendagri, Bappenas

Total kebutuhan pelaksanaan roadmap STBM 2010-2014 adalah: Rp. 325 milliar

13
3. Penutup

Dokumen roadmap STBM ini diharapkan menjadi acuan dalam pembangunan


sanitasi nasional. Mulai dari persiapan dan pelaksanaan oleh pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah.

Dalam pelaksanaannya, dokumen ini dapat dikembangkan kembali secara


berkala mengikuti perkembangan pelaksanaan pembangunan sanitasi nasional.

14