Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ETIKA DAN AMDAL

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi

Dosen Pembimbing :
DESTULIADI, SH, MH

Oleh:
KELOMPOK 2

FRISKA ANANDA JOHAN :1910407662014

VIKRA ANGGRAINI : 1910407662006

AKADEMI AKUNTANSI (AKTAN) “BOEKITTINGGI”

BUKITTINGGI

2021/2022
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami rahmat dan rahimNya,
sehingga kami dapat menyusun makalah sebagai tugas mata kuliah Etika Profesi.
Shalawat serta salam tidak lupa kita panjatkan kehadirat Ulama Besar Nabi
Muhammad SAW. Berkat beliau kita mendapatkan kehidupan yang makmur dan
sejahtera seperti saat sekarang ini.
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini adalah agar kita dapat
memahami tentang Etika dan Amdal dan menerapkannya pada kehidupan sehari-
hari.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu saya menanti kritik dan saran dari
pembaca, agar di kemudian hari saya dapat memperbaiki kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Dan saya harap makalah ini dapat memberi manfaat.

Bukittinggi, November 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. ................................................................................. i

DAFTAR ISI. ................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN. ............................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian AMDAL ........................................................................ 3
B. Praktek Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL ...... 5
C. Faktor Penentu Mutu AMDAL. .................................................... 7
D. Penyusunan AMDAL ...................................................................... 9
E. Sanksi dalam AMDAL ................................................................... 11
F. Kualitas AMDAL yang Tidak baik.............................................. 13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................................ 15
B. Saran ................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat
AMDAL, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas
manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem
sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan
teknologi tinggi. Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL sebagai
suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian
dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyeleggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini
dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan
pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud
lingkungan hidup di sini adalah aspek fisik-kimia, ekologi, social-ekonomi,
sosial-budaya dan kesehatan masyarakat. Dasar hokum AMDAL adalah
Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang “Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup”.
Dokumen AMDAL terdiri dari :
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisi Dampak Lingkungan Hidup (KA-
ANDAL)
2. Dokumen Analisis Dampak LIngkungan Hidup (ANDAL)
3. Dokumen Rencana Michelangelo Lingkungan Hidup (RKL)
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) AMDAL
digunakan untuk :
a. Bahan bagi perencanaan pembanguna wilayah.
b. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan
lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

1
c. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana
usaha dan/atau kegiatan.
d. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup.
e. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan
dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah :


1. Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen
AMDAL
2. Pemrakarsa, orang atau badan hokum yang bertanggung jawab atas suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan dan
3. Masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas
segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian AMDAL?
2. Bagaimana Praktek Keterlibatan Masyarakat dalam AMDAL?
3. Apa saja Faktor Penentu Mutu AMDAL?
4. Bagaimana Penyusunan AMDAL?
5. Apa saja Sanksi dalam AMDAL?
6. Apa saja Kasus Kualitas AMDAL yang Tidak baik?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian AMDAL
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat
AMDAL, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas
manusia yang semakin meningkat.
Gerakan lingkungan adalah anti pembangunan dan anti teknologi
tinggi serta menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan pelaksana dan
perencana pembangunan. Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL
sebagai suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.
Dengan diundangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di
Amerika Serikat, yaitu National Environmental Policy Act (NEPA)
pada tahun 1969. NEPA mulai berlaku padatanggal 1 Januari 1970. Dalam
NEPA pasal 102 (2) (C) menyatakan, “Semua usulan legilasidan aktivitas
pemerintah federal yang besar yang akan diperkirakan akan mempunyai
dampak penting terhadap lingkungan disertai laporanEnvironmental Impact
Asessment (Analsis Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut”
AMDAL mulai berlaku di Indonesia tahun 1986 dengan
diterbitkannyaPeraturanPemerintah No. 29 Tahun 1086.
Karena pelaksanaan PP No. 29 th. 1986 mengalami beberapa
hambatan yang bersifat birokratis maupun metodologis, maka sejak tanggal
23 Oktober 1993 pemerintah mencabut PP No. 29 Tahun 1986 dan
menggantikannya dengan PP No. 51 Tahun1993 tentang AMDAL dalam
rangka efektivitas dan efisiensi pelaksanaan AMDAL. Dengan diterbitkannya
Undang-undang No. 23 Tahun 1997, maka PP No. 51 Tahun 1993 perlu
disesuaikan.Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1999, pemerintah
menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999. Melalui PP No. 27
Tahun 1999 ini diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat lebih
optimal.

3
 Peranan AMDAL
Persoalan kerusakan lingkungan akibat industri dan rumah tangga,
khususnya di Negara berkembang seperti Indonesia sudah sangat kompleks
dan sudah mengkhawatirkan. Karena itu perlu kesadaran semua pihak untuk
turut menangani pencemaran lingkungan. Pemerintah melalui kebijakan dan
aturan harus mampu mengatur industri dalam pengolahan limbah baik cair,
kayu dan udara. Pihak industry pun harus menyadari peranan pencemarannya
yang sangat besar sehingga harus mau membangun pengolahan limbah.
Masyarakat pun harus mempunyai peranan yang sangat besar dalam
pengolahan limbah rumah tangga dan lingkungan sekitar sehingga kelestarian
lingkungan baik, udara, tanah maupun air dapat terjaga dengan baik. AMDAL
dilakukan untuk menjamin tujuan proyek-proyek pembangunan yang
bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat tanpa merusak kualitas lingkungan
hidup. AMDAL bukanlah suatu proses yang berdiri sendiri, tetapi merupakan
bagian dari proses AMDAL yang lebih besar dan lebih penting sehingga
AMDAL merupakan bagian dari beberapa hak berikut :
1. Pengelolaan lingkungan
2. Pemantauan Proyek
3. Pengelolaan proyek
4. Pengambilan keputusan
5 . Dokumen yang penting
 Tujuan AMDAL
1. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan
terutama yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup.
2. Mengidentifikasikan komponen-komponen lingkungan hidup yang akan
terkena dampak besar dan penting
3. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usahan dan atau kegiatan yang
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
4. Merumuskan RKL dan RPL.

4
B. Praktek Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL
Bagan 1. Proses AMDAL Dan Kesempatan Keterlibatan Masyarakat:

Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup, Buku Kecil Keterlibatan Masyarakat


Dalam AMDAL

Secara umum proses penyusunan kelayakan lingkungan dimulai dari


proses penapisan untuk menentukan studi yang akan dilaksanakan menurut
jenis kegiatannya, menyusun AMDAL atau UKL UPL. Pada Pasal 2 ayat 3
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05
Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Yang Wajib Memiliki
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebutkan :
Untuk menentukan rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), pemrakarsa melakukan penapisan sesuai dengan tata
cara penapisan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

5
Dalam tahapan penapisan akan ada pengumuman yang disampaikan
oleh Pemrakarsa. Pada tahap persiapan, Pemrakarsa wajib mengumumkan
rencana kegiatannya secara jelas dan lengkap. Pada pengumuman tersebut
warga masyarakat diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran,
pendapat dan tanggapan sampai batas waktu yang telah ditentukan yaitu 10
(sepuluh) hari sejak pengumuman dilaksanakan. Ketentuan mengenai tata
cara dan prosedur pengumuman pada tahap penapisan termuat dalam BAB II
huruf B Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat
Dalam Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup Dan Izin Lingkungan.
Pada saat penyusunan KA ANDAL,
Pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat
yang berkepentingan. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.
Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan
pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan
kepada komisi penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA ANDAL.
Pada tahap penilaian KA ANDAL warga masyarakat yang terkena dampak
berhak duduk sebagai Komisi Penilai AMDAL melalui wakil masyarakat
yang telah ditentukan.
Pada tahap penilaian ANDAL dan RKL RPL, warga masyarakat yang
terkena dampak berhak duduk sebagai Komisi Penilai AMDAL melalui wakil
masyarakat yang telah ditentukan. Warga masyarakat dapat menyampaikan
saran, pendapat serta tanggapan sesuai dengan ketentuan dalam persidangan
penilaian.
 Pentingnya Keterlibatan Masyarakat Dalam AMDAL
Diana Conyers mengemukakan 3 (tiga) alasan mengapa partisipasi
masyarakat begitu penting dibutuhkan, pertama, partisipasi masyarakat
merupakan suatu alat guna memperoleh suatu informasi mengenai kondisi
kebutuhan dan sikap masyarakat, karena tanpa kehadirannya program
pembangunan akan mengalami kegagalan; kedua, masyarakat akan lebih

6
mempercayai proyek atau program pembangunan jika mereka merasa
dilibatkan, mulai dari proses persiapan, perencanaan, dan pelaksanaannya. Hal
ini akan menimbulkan perasaan memiliki terhadap proyek-proyek atau
pembangunan tersebut; ketiga, mendorong adanya partisipasi umum di banyak
negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokratis bila
masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat itu sendiri.
Sementara Gunding mengemukaan beberapa dasar bagi partisipasi
masyarakat dalam rangka tindakan perlindungan lingkungan, yakni dalam hal-
hal seperti berikut :
1. Memberikan informasi kepada pemerintah.
2. Meningkatkan kesediaan masyarakat untuk menerima keputusan.
3. Membuat perlindungan hukum.
4. Mendemokratisasikan pengambilan keputusan.

 Masyarakat Yang Dilibatkan Dalam AMDAL


Berdasarkan BAB II huruf A Lampiran Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2012 tentang
Pedoman Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses Analisis Dampak
Lingkungan Hidup Dan Izin Lingkungan disebutkan bahwa masyarakat yang
dilibatkan dalam proses penyusunan AMDAL mencakup masyarakat:
1. Masyarakat terkena dampak
2. Masyarakat pemerhati lingkungan
3. Masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses
AMDAL

C. Faktor Penentu Mutu AMDAL


Hal–hal yang dikaji dalam proses AMDAL adalah aspek fisik-kimia,
ekologi, sosial-ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai
pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Analisis
mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi
kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, di sisi
lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin

7
melakukan usaha dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui
secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, baik
dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau
kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak
negatif dan mengembangkan dampak positif.
Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut
di antaranya digunakan kriteria mengenai :
1. Besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha
dan/atau kegiatan.
2. Luas wilayah penyebaran dampak.
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.
4. Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak.
5. Sifat kumulatif dampak.
6. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

Penilaian Dokumen AMDAL Mutu penilaian dokumen AMDAL


dipengaruhi oleh empat faktor, yakni:
1. Kompetensi teknis anggota Komisi Penilai AMDAL.
2. Integritas anggota Komisi Penilai.
3. Tersedianya panduan penilaian dokumen AMDAL.
4. Akuntabilitas dalam proses penilaian AMDAL.

Dari empat faktor tersebut, integritas penilai merupakan faktor moral


yang sulit dioperasionalkan ketika menempatkan seseorang untuk duduk di
dalam keanggotaan Komisi Penilai AMDAL. Namun demikian, faktor ini
dapat efektif dikontrol dan ditegakkan melalui tiga faktor yang lainnya, yakni
peningkatan terus menerus kompetensi teknis anggota, tersedianya panduan,
prosedur dan kriteria penilaian dokumen AMDAL yang efektif untuk
digunakan, dan akuntabilitas proses penilaian AMDAL. Tiga faktor ini
merupakan faktor yang dapat terus ditingkatkan, dikembangkan dan
difasilitasi oleh pemerintah agar mutu penilaian AMDAL meningkat secara
bertahap.

8
D. Penyusunan AMDAL
Prosedur Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang
sering dikenal dengan sangat dibutuhkan oleh berbagai perusahaan yang
mengupayakan adanya pelestarian lingkungan. Secara umum penyusunan
dokumen AMDAL dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
1. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
Proses Penapisan (screening) wajib AMDAL Proses penapisan
atau kerap juga disebut proses seleksi wajib AMDAL adalah proses untuk
menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau
tidak. Di Indonesia, proses penapisan dilakukan dengan sistem penapisan
satu langkah. Ketentuan apakah suatu rencana kegiatan perlu menyusun
dokumen AMDAL atau tidak dapat dilihat pada Peraturan Menteri Negara
LH Nomor 15 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL.
2. Proses pengumuman
Proses Pengumuman Setiap rencana kegiatan yang diwajibkan
untuk membuat AMDAL wajib mengumumkan rencana kegiatannya
kepada masyarakat sebelum pemrakarsa melakukan penyusunan AMDAL.
Pengumuman dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan
pemrakarsa kegiatan. Tata cara dan bentuk pengumuman serta tata cara
penyampaian saran, pendapat dan tanggapan diatur dalam PerMen LH No
17 Tahun 2012 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan
Informasi dalam Proses AMDAL.
3. Proses pelingkupan (scopping)
Proses Pelingkupan (scopping) Pelingkupan merupakan suatu
proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan
mengidentifikasi dampak penting (hipotetis) yang terkait dengan rencana
kegiatan. Tujuan pelingkupan adalah untuk menetapkan batas wilayah
studi, mengidentifikasi dampak penting terhadap Iingkungan, menetapkan
tingkat kedalaman studi, menetapkan lingkup studi, menelaah kegiatan

9
lain yang terkait dengan rencana kegiatan yang dikaji. Hasil akhir dan
proses pelingkupan adalah dokumen KA-ANDAL. Saran dan masukan
masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam proses pelingkupan
4. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL
Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL Setelah KA-ANDAL
selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi
Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu
maksimal penilaian KA- ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang
dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki / menyempurnakan kembali
dokumennya.
5. Penyusunan dan penilaian ANDAL,RKL dan RPL
Penyusunan dan penilaian ANDAL,RKL dan RPL Penyusunan
ANDAL, RKL & RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL
yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL). Setelah selesai
disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai
AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal
penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang
dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali
dokumennya.

6. Persetujuan Kelayakan Lingkungan


Penyusun AMDAL Dokumen AMDAL harus disusun oleh
pemrakarsa suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi
menimbulkan dampak penting dan belum memiliki kepastian pengelolaan
lingkungannya. Ketentuan apakah suatu rencana kegiatan perlu menyusun
dokumen AMDAL atau tidak dapat dilihat dalam bagian Prosedur dan
Mekanisme AMDAL. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa
dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan AMDAL. Penyusun
dokumen AMDAL diharapkan telah memiliki sertifikat Kompetensi dari
Lembaga Pemberi Lisensi Penyusun AMDAL. Berbagai pedoman
penyusunan yang lebih rinci dan spesifik menurut tipe kegiatan maupun

10
ekosistem yang berlaku juga diatur dalam berbagai Keputusan Kepala
Bapedal.
E. Sanksi dalam AMDAL
1. Sanksi Administrasi
Sanksi administratif tertuang dalam Pasal 76 ayat (1) : “Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota menerapkan sanksi administratif kepada
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika dalam pengawasan
ditemukan pelanggaran terhadap izin lingkungan”.
Jenis sanksi administratif tertuang dalam Pasal 76 ayat (2): ”Sanksi
administratif terdiri atas:
a. teguran tertulis.
b. paksaan pemerintah.
c. pembekuan izin lingkungan.
d. pencabutan izin lingkungan.

Pengenaan sanksi administratif tertuang dalam Pasal 79 :”


Pengenaan sanksi administratif berupa pembekuan atau pencabutan izin
lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) huruf c dan
huruf d dilakukan apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak
melaksanakan paksaan pemerintah.” Bentuk paksaan pemerintah tertuang
dalam Pasal 80 ayat (1) :” Paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 76 ayat (2) huruf b berupa:
a. penghentian sementara kegiatan produksi;
b. pemindahan sarana produksi;
c. penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;
d. pembongkaran;
e. penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan
pelanggaran;
f. penghentian sementara seluruh kegiatan; atau
g. tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan
tindakan memulihkan fungsi lingkungan hidup.”

11
2. Sanksi Perdata
Menurut Pasal 1655 KUHPerdata : ”Para pengurus badan hukum,
bila tidak ditentukan lain dalam akta pendiriannya, dalam surat perjanjian
atau dalam reglemen berkuasa untuk bertindak demi dan atas nama badan
hukum itu, untuk mengikatkan badan hukum itu kepada pihak ketiga atau
21 sebaliknya, dan untuk bertindak dalam sidang pengadilan baik sebagai
penggugat maupun sebagai tergugat” Menurut pasal tersebut sanksi bagi
badan usaha harus dipertanggungjawabkan oleh para pengurus badan
usaha tersebut dengan segala jenis sanksinya namun hanya terbatas pada
kepemilikan harta badan usaha tersebut dengan kata lain tidak dapat
mengikutsertakan kepemilikan pribadi para pengurusnya. Pertanggung
jawaban perdata dalam konteks penegakan hukum lingkungan merupakan
instrumen hukum perdata untuk mendapatkan ganti kerugian dan biaya
pemulihan lingkungan akibat pencemaran dan atau perusakan lingkungan.
Pertanggung jawaban perdata tersebut mengenal 2 (dua) jenis
pertanggung jawaban, yaitu :
a. Pertanggung jawaban yang mensyaratkan adanya unsur kesalahan
(Fault based liability).
b. Pertanggung jawaban mutlak/ketat (Strict liability) suatu pertanggung
jawaban tanpa harus dibuktikan adanya unsur kesalahan (fault).
3. Sanksi Pidana
Sanksi dalam hukum pidana terbagi atas dua yaitu : sanksi pidana
dan sanksi tindakan. Sanksi pidana sesungguhnya bersifat reaktif 26
terhadap suatu perbuatan, sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat
antisipatif terhadap pelaku perbuatan tersebut. Fokus sanksi pidana
ditujukan pada perbuatan salah yang telah dilakukan seseorang melalui
pengenaan penderitaan agar yang bersangkutan menjadi jera. Fokus sanksi
tindakan lebih terarah pada upaya memberi pertolongan pada pelaku agar
ia berubah. Jadi sanksi pidana lebih menekankan unsur pembalasan
(pengimbalan) dan merupakan penderitaan yang sengaja dibebankan
kepada seorang pelanggar. Sedangkan sanksi tindakan bersumber dari ide

12
dasar perlindungan masyarakat dan pembinaan atau perawatan si pembuat.
Atau seperti dikatakan J.E.Jonkers bahwa sanksi pidana dititikberatkan
pada pidana yang diterapkan untuk kejahatan yang dilakukan, sedangkan
sanksi tindakan mempunyai tujuan yang bersifat sosial (Jonkers, 1987).
Proses penegakan hukum pidana yang diatur dalam UU-PPLH meliputi
tahap-tahap sebagai berikut :
1. Tahap penyelidikan.
2. Tahap penyidikan.
3. Tahap eksekusi atau penuntutan.
4. Tahap peradilan.
5. Tahap eksekusi.
F. Kasus Kualitas AMDAL yang Tidak baik
Permasalahan AMDAL terus menyeruak akhir-akhir ini. Bukannya
semakin hilang namun semakin tampak ketidaktransparanannya. Dokumen
AMDALterkesan dibuat dengan asal-asalan dan tidak memperhatikan dampak
negatif dari berbagai kerusakan lingkungan.
CONTOH KASUS AMDAL DI INDONESIA
Pelaku usaha dan pemerintah daerah dinilai masih mengabaikan masalah
lingkungan. Hal ini terlihat dari masih adanya kawasan industri di Semarang yang
beroperasi tanpa terlebih dahulu memenuhi kewajiban stu di Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (Amdal). Selain itu, sejumlah industri di Semarang juga
masih banyak yang belum secara rutin, yaitu enam bulan sekali, menyampaikan
laporan kepada Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda)
Semarang. "Kalau sebuah kawasan industri sudah beroperasi sebelum melakukan
studi Amdal, Bapedalda tidak bisa berbuat apa -apa. Kami paling hanya bisa
mengimbau, tapi tidak ada tindakan apa pun yang bisa kami lakukan. Terus
terang, Bapedalda adalah instansi yang mandul," kata Mohammad Wahyudin,
Kepala Sub -Bidang Amdal, Bapedalda Semarang, Kamis (1/8), di Semarang.
Wahyudin menceritakan, kawasan industri di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan
Ngaliyan, Kota Semarang, misalnya, sejak beroperasi dua tahun lalu hingga saat
ini bel um mempunyai Amdal.

13
Padahal, menurut Wahyudin, salah satu syarat agar sebuah kawasan
industri bisa beroperasi ialah dipenuhinya kewajiban melaksanakan studi Amdal.
"Bapedalda berkali -kali menelpon pengelola kawasan industri tersebut,
menanyakan kelengkapan dokumen Amdal mereka. Namun, 16 sampai sekarang,
jangankan memperoleh jawaban berupa kesiapan membuat studi Amdal, bertemu
pemilik kawasan itu saja belum pernah," ujarnya. Wahyudin menyayangkan sikap
pihak berwenang yang tetap memberikan izin kepada suatu usaha industri atau
kawasan industri untuk beroperasi walau belum menjalankan studi Amdal.
Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa bukan saja pengusaha yang
tidak peduli terhadap masalah lingkungan, melainkan juga pemerintah daerah.
Sikap tidak peduli terhadap masalah lingkungan juga ditunjukkan sejumlah
pemilik usaha industri ataupun kawasan industri dengan tidak menyampaikan
laporan rutin enam bulan sekali kepada Bapedalda. Wahyudin mengatakan,
kawasan industri di Terboyo, misalnya, tidak pernah menyampa ikan laporan
perkembangan usahanya, terutama yang diperkirakan berdampak pada
lingkungan, kepada Bapedalda. Hal serupa juga dilakukan pengelola lingkungan
industri kecil (LIK) di Bugangan Baru. Keadaan tersebut, menurut Wahyudin,
mengakibatkan Bapedalda ti dak bisa mengetahui perkembangan di kedua
kawasan industri tersebut. Padahal, perkembangan sebuah kawasan industri sangat
perlu diketahui oleh Bapedalda agar instansi tersebut dapat memprediksi
kemungkinan pencemaran yang bisa terjadi. Ia menambahkan, indu stri kecil,
seperti industri mebel, sebenarnya berpotensi menimbulkan pencemaran
lingkungan. Namun, selama ini, orang terlalu sering hanya menyoro ti industri
berskala besar

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Amdal adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk
pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No.27 tahun
1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
AMDAL sendiri merupakan suatu kajian mengenai dampak positif dan negatif
dari kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah
suatu kegiatan/proyek Iayak atau tidak Iayak Iingkungan. Kajian dampak
positif dan negatif tersebut biasanya disusun dengan mempertimbangkan
aspek fisik, kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial ¬budaya dan kesehatan
masyarakat.
Amdal, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat
aktivitas manusia yangsemakin meningkat.Amdal dilakukan untuk menjamin
tujuan proyek-proyek pembangunan yang bertujuan untuk kesejahteraan
masyarakat tanpa merusak kualitas lingkungan hidup.Amdal bukanlah suatu
proses yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari prosesAmdal yang
lebih besar dan lebih penting sehingga Amdal merupakan bagian dari
beberapa hak.
B. Saran
AMDAL sangat penting dan harus diperhatikan, karena mempengaruhi
kenyamanan hidup masyarakat sekita.Siapapun yang hendak melakukan
pembangunan , seyogyanya menerapkan prinsip AMDAL agar tidak ada pihak
yang dirugikan .Memperhatikan dampak dari pembangunan bagi lingkungan
sekitar. Semoga AMDAL (Analisis Mengenai DampakLingkungan)
ini dapat dijadikan secaraoptimal dalam pengambilan suatu keputusan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Arens-James k, Alvin A. 1995. Auditing Suatu Pendekatan Terpadu. Jakarta :


Erlangga

Boyton, William C. , dkk. 2001. Modern Auditing jilid I. Jakarta : Erlangga.

Hartadi, Bambang. 1990. Auditing Edisi 1. Yogyakarta : BPFE-YOGYAKARTA.

http://ariesta-riris.blogspot.com/2012/11/etika-dalam-kantor-akuntan-publik.html.

Sihotang, K. 2016. Etika Profesi Akuntansi. Yogyakarta: kanisiusmedia.

Blogger.Pengertian AMDAL (Analisis mengenai Dampak Lingkungan).

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/04/polusi_air_tanah_akibat

limbah_industri.pdf.

http://en.wikipedia.org/wiki/Water_polutionwww.menlh.go.id/i/art/pdf_10388863

32.pdf.

http://www.theceli.com/dokumen/produk/pp/1999/41-1999.htm.

16

Anda mungkin juga menyukai