Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

“FRAKTUR COLLUM FEMUR”

DI RUANG ST. ANNA RUMAH SAKIT PANTI NIRMALA MALANG


Di Susun Sebagai Salah Satu Syarat Tugas Profesi Departemen Surgical

Oleh:
ENY DWI OKTAVIANI
NIM: 150070300011020

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
1. DEFINISI FRAKTUR COLLUM FEMUR
Fraktur kolum femur adalah fraktur intrakapsuler yang terjadi di femur proksimal pada
daerah yang berawal dari distal permukaan artikuler caput femur hingga berakhir di
proksimal daerah intertrokanter (FKUI-RSCM, 2008).

Fraktur kolum femur

Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang
disebabkan oleh kekerasan (E. Oerswari, 1989:144). Fraktur femur adalah rusaknya
kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung,
kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis (Long,
1985). Sedangkan fraktur kolum femur merupakan fraktur intrakapsular yang terjadi
pada bagian proksimal femur, yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian
distal permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter.

2. KLASIFIKASI FRAKTUR COLLUM FEMUR


Klasifikasi kolum femur menurut anatomis dapat dibagi tiga. Fraktur kolum femur
terbagi menjadi tiga tipe yaitu subkapital, trans atau mid-servikal, dan basicervikal. Tipe
yang paling sering adalah subkapital pada pasien lanjut usia dan basicervikal pada
pasien dewasa muda (Greenspan, 2000).
Klasifikasi fraktur femur menurut Garden berdasarkan pengerasan fraktur dapat
dibagi menjadi empat derajat yaitu (Greenspan, 2000) :
- Derajat 1 : Fraktur inkomplit impaksi kolum femur.
- Derajat 2 : Fraktur komplit tidak bergeser.
- Derajat 3 : Fraktur komplit dengan pergeseran moderat.
- Derajat 4 : Fraktur bergeser total.
Staging Garden fraktur kolum femur subkapital adalah :
1. Stage I : imkomplit (abduksi atau impaksi). Sudut trabekula medial antara kaput
femur dan kolum femur > 180 derajat.
2. Stage II : komplit tampa pergeseran. Sudut trabekula medial antara kaput femur
dan kolum femur – 180 derajat.
3. Stage III: komplit dengan pergeseran parsial. Trabekula medial kaput femur
tidak segaris dengan trabekula pelvis.
4. Stage IV : komplit, pergeseran total. Trabekula medial kaput segaris dengan
trabekula pelvis.
Meskipun klasifikasi ini memiliki keterbatasan, namun sering dipakai untuk fraktur
kolum femur pada pasien lanut usia.

3. MEKANISME CEDERA
Fraktur kolum femur dapat disebabkan baik karena energi rendah maupun energi
tinggi. Fraktur ini pada umumnya terjadi pada pasien usia lanut akibat trauma energi
rendah, seperti jatuh pada saat berdiri. Menurut frankel, fraktur kolum femur terjadi
akibat gaya asial melebihi gaya bending. Gangguan dinamika otot dapat meningkatkan
risiko fraktur kolum femur pada usia lanut. Energi akibat jatuh akan terserap oleh otot
pada pasien usia muda, namun tidak adapat diserap dengan baik oleh otot yang lemah
pada psien usia lanjut. Mekanisme lainnya adalah akibat gaya yang berlebihan
kontraksi otot pada tulang saat upaya mendapatkan kestabilan setelah jatuh.
Mekanisme lain yang juga bisa menyebabkan fraktur adalah akibat jatuh mengenai
panggul sehingga gaya langsung mengenai trokanter mayor menimbulkan gaya aksial
sepanjang kolum femur dan menyebabkan fraktur impaksi (FKUI-RSCM, 2008 )
Beberapa peneliti menduga bahwa ekstremitas bawah dalam posisi rotasi
eksterna saat jatuh. Saat rotasi eksterna yang ekstrim kolum femur menekan bibir
acetabulum posterior, dan berlaku seperti fulcrum sehingga konsentrasi tekanan terjadi
pada daerah ini. Kombinasi gaya aksial dan rotasi menimbulkan fraktur. Mekanisme ini
dapat menerangkan bahwa kominusi kolum femur posterior pada fraktur ini
(Swiontkowski, 2008 ).

4. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO FRAKTUR COLUM FEMUR

Fraktur collum femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering
pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan
dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh
trauma langsung, yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah
trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan
oleh trauma tidak langsung, yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai
bawah.
Penyebab fraktur secara umum dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Cedera traumatik
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba – tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh
dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan.
Cedera traumatik pada tulang dapat dibedakan dalam hal berikut, yakni:
1) Cedera langsung, berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2) Cedera tidak langsung, berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan.
b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini, kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit akibat berbagai
keadaan berikut, yakni:
1) Tumor tulang (jinak atau ganas), dimana berupa pertumbuhan jaringan baru
yang tidak terkendali dan progresif.
2) Infeksi, misalnya osteomielitis, yang dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut
atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif,
3) Rakhitis, merupakan suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet, biasanya disebabkan
oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan
absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan, dimana disebabkan oleh stress atau tegangan atau tekanan pada
tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di
bidang kemiliteran.

5. PATOFISIOLOGI FRAKTUR COLLUM FEMUR


Terlampir

6. MANISFESTASI KLINIS FRAKTUR COLLUM FEMUR


Tanda dan gejala yang terdapat pada pasien dengan fraktur femur, yakni:
1) Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya.
Perubahan keseimbangan dan kontur terjadi, seperti:
a. rotasi pemendekan tulang;
b. penekanan tulang.
2) Bengkak (edema)
Bengkak muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravasasi darah dalam jaringan
yang berdekatan dengan fraktur.
3) Ekimosis dari perdarahan subculaneous
4) Spasme otot (spasme involunters dekat fraktur)
5) Tenderness
6) Nyeri
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot, perpindahan tulang dari tempatnya dan
kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
7) Kehilangan sensasi
8) Pergerakan abnormal
9) Syok hipovolemik
10) Krepitasi (Black, 1993:199).

Pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada
penderita usia tua biasanya hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan
fraktur collum femur. Penderita tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada
panggul. Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya
pemendekakan dari tungkai yang cedera. Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi serta
eksorotasi.pada palpasi sering ditemukan adanya hematom di panggul. Pada tipe
impacted, biasanya penderita masih dapat berjalan disertai rasa sakit yang tidak begitu
hebat. Posisi tungkai tetap dalam keadaan posisi netral.
Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan menyebabkan
deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada fraktur tanpa
pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran
fraktur yang terjadi, kebanyakan pasien akan mengeluhkan nyeri bila mendapat
pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan.

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK FRAKTUR COLLUM FEMUR


Pemeriksaan sinar – X yang diminta adalah pelvis dan panggul AP dan femur
proksimal cross-table lateral. Jika fraktur tidak terlihat jelas, proyeksi panggul AP dilakukan
dengan traksi aksial dan internal rotasi panggul. Jika penilaian dengan sinar – X tidak
menunjukkan abnormalitas, namun terdapat kecurigaan fraktur kolum femur (nyeri panggul
pada saat pergerakan atau diberi gaya aksial), maka dapat dimintakan pemeriksaan MRI.
Pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya fraktur kolum femur yang occult. Pemeriksaan
sinar – X lain juga perlu dilakukan pada derah yang ekimosis, nyeri atau bengkak untuk
menyingkirkan cidera penyerta. Radigrafi dada diminta bila terapi pembedahan
direncanakan (Koval et. all, 2004).
Evalusi diagnostik lainnya meliputi elektrokardiogram, urinalisis dan pemeriksaan
darah, seperti darah lengkap, kadar elektrolit, dan profil koagulasi (masa protrombin dan
tromboplastin parsial). Pemeriksaan skrining juga sebagai antisipasi tindakan operasi.
Adanya dehidrasi dan anemia akibat perdarahan fraktur intrakapsuler atau asupan nutrisi
tidak adekuat dapat dikomfirmasi dengan pemeriksaan darah tersebut. Pada pasien dengan
penyakit kardiopulmoner, debilitasi fungsional atau demensia, analisi gas darah perlu
dilakukan,. Pada pasien usia lanjut, penyakit kardiopulmoner merupakan determinan utama
apakah pasien mampu tirah baring lama, menjalani operasi dan mengikuti program
rehabilitasi (Koval et. all, 2004).

8. PENATALAKSANAAN MEDIS FRAKTUR COLLUM FEMUR


a. Austin Moore Prothese (AMP) adalah merupakan salah satu tindakan operasi
dengan mengganti Caput femoris yang asli dengan prothese yaitu dengan bahan
bisa dari logam atau plastik. (Charnley, 1979).Austin Moore Prothese (AMP)
merupakan prothese yang ditemukan oleh Austin Moore untuk menggantikan caput
femur. Sedangkan prothese sendiri berdasarkan kamus kedokteran yang berarti alat
yang menggantikan bagian tubuh tertentu (Dorland,2002).
b. Bipolar Hemiarthroplasty adalah penggantian total sendi. Penggantian sendi total
pinggul adalah prosedur operasi dengan mana tulang rawan (cartilage) dan tulang
yang berpenyakit (rusak) dari sendi pinggul secara operasi diganti dengan materi-
materi buatan. Sendi pinggul yang normal adalah sendi bola dan socket (rongga).
Socket (rongga) adalah tulang pelvis yang "berbentuk mangkok" yang disebut
acetabulum. Bola adalah kepala dari tulang paha (femur). Penggantian total sendi
pinggul melibatkan pengeluaran dari bola dan socket yang berpenyakit (rusak)
secara operasi dan menggantikan mereka dengan bola dan batang metal yang
dimasukan kedalam tulang femur dan socket mangkok plastik buatan. Bola dan
batang metal buatan dirujuk sebagai "prosthesis". Setelah pemasukan prosthesis
kedalam pusat inti dari femur, ia dipastikan dengan semen tulang yang disebut
methylmethacrylate. Secara alternatif, prosthesis "tanpa semen" digunakan yang
mempunyai pori-pori microscopik yang mengizinkan pertumbuhan tulang kedalam
dari femur yang normalkedalam batang prosthesis. Pinggul "tanpa semen" ini
dirasakan mempunyai durasi yang lebih panjang dan terutama dipertimbangkan
untuk pasien-pasien yang lebih muda.
9. KOMPLIKASI FRAKTUR COLLUM FEMUR
Komplikasi awal
a. Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah
eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal kejaringan
yang rusak.
b. Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk
kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan
kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan
memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran
darah.
c. Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan
dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa
disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gips atau balutan yang menjerat
ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan
sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi, cidera remuk).
Komplikasi lambat
a. Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang lebih
lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan)
b. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan.
c. Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu
semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.

10. PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR


Untuk penyembuhan fraktur diperlukan immobilisasi. Imobilisasi dilaksanakan
dengan cara:
1. Pembidaian Physiologik
Pembidaian semacam ini terjadi secara alami karena menjaga pemakaian
dan spasmus otot karena rasa sakit pada waktu digerakkan.
2. Pembidaian secara orthopedi eksternal
Ini digunakan dengan gips dan traksi.
3. Fiksasi internal
Pada metode ini, kedua ujung tulang yang patah dikembalikan kepada posisi
asalnya dan difiksasi dengan pelat dan skrup atau diikat dengan kawat.

Setelah immobilisasi dilaksanakan, tulang akan beradaptasi pada kondisi


tersebut, yaitu mengalami proses penyembuhan dan perbaikan tulang. Faktor tersebut
dapat diperbaiki tetapi prosesnya agak lambat, karena melibatkan pembentukan tulang
baru. Proses tersebut terjadi empat tahap yaitu:
1. Pembentukan prokallus/Hematoma
Hematoma akan terbentuk pada 42 jam sampai 72 jam pertama pada daerah
fraktur yang disebabkan karena adanya perdarahan yang terkumpul di sekitar fraktur
yaitu darah dan eksudat, kemudian akan diserbu oleh kapiler dan sel darah putih
terutama netrofil, kemudian diikat oleh makrofag, sehingga akan terbentuk jaringan
granulasi. Pada saat ini masuk juga fibroblast dan osteoblast yang berasal dari
lapisan dalam periosteum dan endosteum.
2. Pembentukkan Kallus
Selama 4 – 5 hari osteoblas menyusun trabekula di sekitar ruang-ruangan
yang kelak menjadi saluran harvest. Jaringan itulah yang dinamakan kallus yang
berfungsi sebagai bidai yang terbentuk pada akhir minggu kedua.
3. Osifikasi
Dimulai pada dua sampai tiga meinggu setelah fraktur jaringan kallus
akhirnya akan diendapi oleh garam-garam mineral dan akan terbentuk tulang yang
akan menghubungkan kedua sisi yang patah.
4. Kallus Formation
a. Osteoblast terus membuat jala untuk membangun tulang.
b. Osteoblast merusakkan tulang mati dan membantu mensintesa tulang baru.
c. Collagen menjadi kuat dan terus menyatu dengan deposit kalsium.
5. Remodeling
Callus yang berlebihan diabsorbsi dan tulang trabecular terbentuk pada garis
cedera.
Faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan callus:
1. Penyambungan yang lambat
Bila patah tulang tidak sembuh dalam periode penyembuhan.
Penyebab:
1) Callus putus atau remuk karena aktifitas berlebihan.
2) Edema pada lokasi fraktur, menahan penyaluran nutrisi ke lokasi.
3) Immobilisasi yang tidak efisien.
4) Infeksi terjadi pada lokasi.
5) Kondisi gizi pasien buruk.
2. Non union
Penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu lama.
Penyebab antara lain :
1) Terlalu banyak tulang yang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang
menjembatani fragmen.
2) Terjadi nekrosa tulang karena tidak ada aliran darah.
3) Anemi endoceime imbalance (ketidakseimbangan endokrim atau penyebab
sitemik yang lain).
Faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang yaitu:
1. Faktor lokal
a. Sifat luka atau berat utama
Derajat pembentukan formasi selama penyembuhan.
b. Jumlah tulang yang hilang
c. Tipe tulang yang cedera
d. Derajat imobilisasi yang terkena
e. Infeksi lokal yang dapat memperlambat penyembuhan.
f. Nekrosis tulang yang menghalangi aliran darah ke daerah fraktur.
2. Faktor klien
a. Usia klien
b. Pengobatan yang sedang dijalani.
c. Sistem sirkulasi.
d. Gizi
e. Riwayat penyakit.

11. ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR COLLUM FEMUR


Pengkajian
1.      Anamnesa
a.       Data biografi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan,
alamat, suku bangsa, status perkawinan, sumber biaya, sumber informasi.
b.      Riwayat kesehatan masa lalu: Riwayat kecelakaan, Dirawat dirumah sakit,
Obat-obatan yang pernah diminum
c.       Riwayat kesehatan sekarang: Alasan masuk rumah sakit, Keluhan utama,
Kronologis keluhan
d.      Riwayat kesehatan keluarga: penyakit keturunan
e.       Riwayat psikososial: Orang terdekat dengan klien, Interaksi dalam keluarga,
Dampak penyakit terhadap keluarga, Masalah yang mempengaruhi klien,
Mekanisme koping terhadap penyakitnya, Persepsi klien terhadap penyakitnya,
Sistem nilai kepercayaan :
f.       Pola kebersihan sehari- hari sebelum sakit dan selama sakit: Pola nutrisi, Pola
eliminasi, Pola Personal Hygiene, Pola Istirahat dan Tidur, Pola aktifitas dan latihan,
Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan.

2.      Dasar Data Pengkajian Pasien


a.       Aktifitas
Keterbatasan/ kehilangan pada fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera,
fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri).
b.      Sirkulasi
1)      Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri atau
ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)
2)      Takikardia (respon stress, hipovolemia)
3)      Penurunan/ tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera; pengisian kapiler
lambat, pusat pada bagian yang terkena.
4)      Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera.
c.       Neurosensori
1)      Hilang gerakan/ sensasi, spasme otot
2)      Kebas/ kesemutan (parestesia)
3)      Deformitas lokal: angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi
berderit ) Spasme otot, terlihat kelemahan/ hilang fungsi.
4)      Agitasi (mungkin badan nyeri/ ansietas atau trauma lain)

d.      Nyeri/ kenyamanan


1)      Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan / kerusakan tulang pada imobilisasi), tak ada nyeri akibat kerusakan saraf
2)      Spasme/ kram otot
e.       Keamanan
1)      Laserasi kulit, avulsi jaringan, pendarahan, perubahan warna
2)      Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
f.       Penyuluh/ pembelajaran
Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
1)      Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur
2)      Scan tulang, tomogram, CT-scan / MRI: Memperlihatkan fraktur dan
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak
3)      Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multipel). Peningkatan sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma.
4)      Kreatinin: Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
2.3.2 Diagnosa keperawatan
a.       Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas
tulang (fraktur)
b.      Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/ immobilisasi
c.       Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak ada kuatnya
pertahanan primer: kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkugan,
prosedur invasif, traksi tulang

2.3.3 Intervensi dan evaluasi keperawatan


Dx. 1 Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas
tulang (fraktur)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam trauma dapat
berkurang atau tidak terjadi
Kriteria hasil : mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur
Intervensi:
Mandiri
a. Pertahankan tirah baring/ ekstremitas sesuai indikasi
R/ meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi/
penyembuhan
b. Sokong fraktur dengan bantal/ gulungan selimut
R/ mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan posisi
c. Pertahankan posisi/ integritas traksi
R/ traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur tulang
Kolaborasi
Kaji ulang foto/ evaluasi
R/ memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/ proses penyembuhan
untuk menentukan tingkat aktivitas
Evaluasi : Trauma tidak terjadi
Dx 2 Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/ immobilisasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri dapat
berkurang atau terkontrol.
Kriteria hasil :
a. Nyeri berkurang atau hilang
b. Skala nyeri 1
c. Klien menunjukkan sikap santai
d. Klien dapat mendemonstrasikan tehnik relaksasi napas dalam
e. TD : 120 /90 mmHg
f. N : 60-80 x/mnt
g. S : 36-37 oC
h. P : 16-20 x/mnt
Intervensi :
Mandiri
a. Observasi tanda-tanda vital setiap 8 jam
R/ Peningkatan nadi menunjukan adanya nyeri
b. Evaluasi skala nyeri, karakteristik dan lokasi
R/ Mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi
c. Atur posisi kaki yang sakit (abduksi) dengan bantal
R/ Meningkatkan sirkulasi yang umum, menurunkan area tekanan lokal dan
kelelahan otot
d. Ajarkan dan dorong tehnik relaksasi napas dalam
R/ Dengan tehnik relaksasi dapat mengurangi nyeri

Kolaborasi
Kolaborasi berikan obat sesuai program
R/ Diberikan untuk menurunkan nyeri dan / spasme otot
Evaluasi : Klien menunjukkan nyerinya hilang/ berkurang
Dx. 3 Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak ada kuatnya
pertahanan primer: kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkugan,
prosedur invasif, traksi tulang
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam resiko infeksi
tidak terjadi
Kriteria hasil :
a. Balutan luka bersih
b. Tidak ada rembesan
c. Tidak ada pembengkakan pada pemasangan infus
d. Warna urine kuning jernih
e. Leukosit dalam batas normal (5000-10.000 ul)
f. TD : 110/70- 130/90 mmhg
g. N : 60-80 x/mnt
h. S : 36-37 oC
i. RR : 16-20 x/mnt
Intervensi :
Mandiri
a. Ukur tanda-tanda vital setiap 8 jam.
R/ Dapat mengetahui peningkatan suhu secara dini merupakan indikasi adanya
infeksi.
b. Observasi sekitar luka terhadap tanda-tanda infeksi
R/ Mengidentifikasi timbulnya infeksi
c. Lakukan perawatan luka setiap 1 hari sekali
R/ Dapat mencegah kontaminasi silang dan menghindari dampak infeksi yang lebih
dalam
d.Lakukan perawatan kateter setiap hari
R/ Mencegah mikroorganisme masuk kea alat invasife
e.Ganti kateter setiap 1 minggu sekali
R/ Mencegah terjadinya infeksi
Kolaborasi
Kolaborasi terhadap pemeriksaan laboratorium (leukosit, led)
R/ Lekositosis menandakan proses terjadinya infeksi
Evaluasi : Infeksi tidak terjadi
DAFTAR PUSTAKA

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ).
Philadelpia, F.A. Davis Company.

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process
Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.

Apley. A. Graham. 1995. Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. Edisi 1. Jakarta : EGC.

Brunner and Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 3. Volume 8.
Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2.
Jakarta : EGC .

Donges, Marilyn B, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Lukman and Sorensen’s. 1993. Medical Surgical Nursing. 4th Edition buku 11. USA : WB
Sunder Company.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. FKUI. Media
Aesculapius.

Price, Slyvia A Dan Laraine M. Wilson.1995. Patofisiologi. Buku I . Edisi 4. Jakarta : EGC.

Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang Lamupate.

Smetzer, Suzanna. C. dkk. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth.
Edisi 8, vol 3. Jakarta : EGC.