Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA MAMMAE

A. TINJAUAN TEORI
1. Anatomi Fisiologi
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi oleh hormon yang pertama
ialah, masa hidup anak melalui mulai dari masa pubertas, masa fertilitas sampai
klimakterium, dan menopouse. Perubahan yang kedua adalah perubahan sesuai
daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi, payudara menjadi lebih besar.
Terkadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari
menjelang menstruasi, payudara menjadi tegang dan nyeri. Perubahan yang ketiga
terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi besar karena
epitel duktus lobulus dan duktus alveolus berpoliferasi, serta tumbuh duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dan hopofisis anterior memicu laktasi. Air susu di
produksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui
duktus ke puting susu (Syaifuddin, 2016: 604).
a. Jaringan kelenjar, duktus, dan jaringan penyokong
Jaringan kelenjar terdiri dari 15-25 lobus yang tersebar radier
mengelilingi puting. Setiap segmen mempunyai satu aliran yang akan
berdilatasi begitu sampai di belakang areola atau yang disebut retro areola.
Pada retro areola ini, duktus yang berdilatasi itu menjadi lembut, kecuali
pada ibu yang dalam masa menyusui akan mengalami distensi. Masing-
masing duktus ini tidak berisi dan mempunyai satu bukaan ke arah puting
(duktus eksretorius). Setiap lobus dibagi menjadi 50-57 lobulus yang
bermuara ke dalam suatu duktus yang mengalirkan isinya ke dalam duktus
aksretorius lobus itu. Setiap lobus atas (sekelompok alveolus) yang
bermuara ke dalam laktiferus (saluran air susu) akan bergabung dengan
duktus lainnya untuk membentuk saluran yang lebih besar dan berakhir
dalam saluran sekretorik. Ketika saluran-saluran ini mendekati puting,
saluran tersebut akan membesar untuk wadah penampungan air susu (yang
disebut sinus laktiferus). Kemudian, saluran-saluran itu menyempit lagi,
menembus puting dan bermuara di atas permukaannya. Diantara kelenjar
susu dan fasia pektrolis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut, bisa jadi
terdapat jaringan lemak. Diantara lobuslus tersebut, ada jaringan ikat yang
disebut ligmentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan payudara
yang bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfungsi sebagai
struktur penyokong dan memberi rangka payudara.
b. Pembuluh darah atau vaskularisasi payudara
Pembuluh darah ialah bagian sistem sirkulasi dan berfungsi
mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Secara garis besar, pembuluh darah
yang ada di dalam tubuh manusia dibagi menjadi dua, yakni arteri dan
vena. Kedua pembuluh darah tersebut memegang peranan penting karena
bertugas membawa darah keluar atau masuk ke jantung. Pembuluh darah
arteri terbagi menjadi dua, yakni aorta yang tugasnya mengangkut oksigen
untuk disebar ke seluruh tubuh dan pumonalis yang bertugas membawa
darah yang suddah terkontaminasi karbon dioksida dari setiap bagian tubuh
menuju ke paru-paru. Untuk menjalankan kedua fungsi tersebut, pembuluh
arteri dibantu oleh empat kelenjar yang ada didalam pembuluh arteri yaitu,
arteri mammaria interna, arteri thorako-akromialis, arteri mammae
eksternal, dan arteri thoraka-dorsalis. Sedangkan pembuluh darah vena
adalah pembuluh yang membawa darah menuju jantung. Darahnya banyak
mengandung karbondioksia. Pembuluh darah vena terbagi menjadi dua,
yakni pembuluh vena kava anterior yang berasal dari bagian atas tubuh, dan
pembuluh vena kava pulmonalis yang berasal dari bagian bawah tubuh.
Pada daerah payudara terdapat tiga grup vena, yaitu cabang-cabang
perforantges vena mammaria interna, cabang-cabang vena aksilaris, dan
vena-vena kecil yang bermuara pada vena interkostalis.
c. Sistem limfa pada payudara
Sistem limfa atau limfatik pada payudara melibatkan kinerja kelenjar
getah bening, yakni suatu kelenjar yang memegang peranan penting dalam
mencegah penyebaran atau perkembangan sel-sel kanker. Diseminasi
limfatik dari 10 neoplasma ini ternyata berjalan mengikuti suatu gaya
aturan tertentu, sehingga menjadikan kelenjar getah bening itu sebagai
suatu sumber penyebaran jauh. Kelenjar getah bening terbagi menjadi tiga
yaitu, aksila, mammae interna, dan kelenjar getah bening di daerah tepi
medial kuadran medial bawah payudara.
d. Susunan saraf
Susunan saraf payudara berasal dari cabang yang berrnama
cutaneneous cervical dan saraf thoracic spinal. Cabang saraf ketiga dan
keempat cutaneus dari cervical plexus melewati bagian anterior dan
berakhir di jajaran tulang iga yang kedua. Cabang-cabang ini menyuplai
sensor ke bagian payudara atas, saraf thoracic spinal, T3, T6 yang
membentuk saraf intercostalis dan bercabang dari otot pectoralis major
dekat dengan sternum untuk menyuplai sensor ke bagian lateral payudara.
Percabangan T2 memasuki bagian atas tubuh saraf intercostobrachial dan
menyuplai sensor ke aksila. Susunan saraf areola dan puting susu disuplai
oleh saraf parikang thoracic yang bercabangcabang dengan bentuk
membulat. Namun, secara morfologi, anatomi payudara dibagi menjadi dua
yakni kalang payudara (areola mammae) letaknya mengelilingi puting susu
dan berwarna kegelapan. Selama kehamilan, warna akan menjadi lebih
gelap dan akan menetap untuk selanjutnya. Pada daerah ini terdapat
kelenjar keringat, kelenjar lemak dari montgomert yang membentuk
tubercle dan akan membesar selama kehamilan. Kelenjar lemak ini akan
menghasilkan suatu bahan dan dapat melicinkan kalang payudara selama
menyusui. Di kalang payudara terdapat duktus laktiferus yang merupakan
tempat 11 penampungan air susu. Yang kedua adalah puting susu, pada
tempat ini terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari duktus
laktiferus, ujung-ujung serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah
bening, dan serat-serat otot polos yang terusun secara sirkuler, sehingga
bila ada kontraksi duktus laktiferus akan padat dan menyebabkan puting
susu ereksi. Sedangkan, serat-serat otot yang longitudinal akan menarik
kembali puting susu tersebut (Syaifuddin, 2016: 604).

Fisiologi Payudara Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi oleh


hormon. Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa
pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas
pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon
hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus. Perubahan
kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan
menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum menstruasi
berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang
nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi
tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin
dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena
kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara
menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan
tumbuh duktus baru. Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu
laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian
dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.

2. Pengertian
Kanker adalah kondisi kelainan pada jaringan organ tubuh berupa tumbuhnya
sel-sel abnormal secara cepat, dan akhirnya mengganggu kinerja sel-sel normal.
Sel yang mengalami abnormalitas ini bisa jadi sel organ dalam, sel jaringan otot,
sel tulang, sel otak, bahkan sel darah. Tidak ada satu sel pun di dalam tubuh yang
tidak memiliki kemungkinan terserang kanker. Bahkan yang lebih mengerikan sel
yang sudah mengalami penyimpangan atau disebut sel kanker, dapat berpindah
tempat mengikuti aliran darah dan cairan limfa. Sehingga banyak kasus kanker
yang menyerang di berbagai tempat di tubuh manusia, bahkan berpindah tempat
dalam waktu singkat. (Nurcahyo, 2010).
Kanker payudara atau istilah medisnya Carsinoma Mammae adalah pembunuh
kedua bagi kaum wanita Indonesia setelah kanker rahim (Nurcahyo, 2010).
Kanker payudara terjadi karena terganggunya system pertumbuhan di dalam
jaringan payudara. Carcinoma mammae merupakan gangguan dalam
pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel-sel
normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah.
(Nurarif & Kusuma, 2015). Kanker payudara merupakan penyakit keganasan
yang paling banyak menyerang wanita. Penyakit ini disebabkan karena terjadinya
pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur sehingga pertumbuhan sel tidak
dapat dikendalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor (kanker) (Wijaya &
Putri, 2013).

3. Etiologi
Tidak ada satupun penyebab spesifik dari kanker payudara, sebaliknya
serangkaian factor genetic, hormonal dan kemungkinan kejadian lingkungan
dapat menunjang terjadinya kanker ini. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun
untuk tumbuh dari satu sel menjadi massa. Hormone steroid yang dihasilkan oleh
ovarium juga berperan dalam pembentukan kanker payudara (estradiol dan
progesterone mengalami perubahan dalam lingkungan seluler). (Nurarif &
Kusuma, 2015). Faktor-faktor risiko timbulnya Ca Mammae menurut Brunner
dan Sudarth (2015) :
a. Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Risiko mengalami kanker
payudara sebelahnya meningkat hampir 1% setiap tahun.
b. Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga langsung) dari
wanita dengan kanker payudara. Risikonya meningkat dua kali jika ibunya
terkena kanker sebelum berusia 60 tahun, risiko meningkat 4 sampai 6 kali
jika kanker payudara terjadi pada dua orang saudara langsung.
c. Menarke dini. Risiko kanker payudara meningkat pada wanita yang
mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun.
d. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang
mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai risiko dua kali
lipat untuk mengalami kanker payudara dibanding dengan wanita yang
mempunyai anak pertama mereka pada usia 20 tahun.
e. Menopause pada usia lanjut. Menopause setelah usia 50 tahun meningkatkan
risiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang
telah menjalani ooferoktomi bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai
risiko sepertiganya.
f. Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara
disertai perubahan epitel proliferative mempunyai risiko dua kali lipat untuk
mengalami kanker payudara, wanita dengan hyperplasia tipikal mempunyai
risiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini.
g. Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia
30 tahun berisiko hampir dua kali lipat.
h. Obesitas-risiko terendah diantara wanita pascamenopause. Bagaimanapun,
wanita gemuk yang didiaganosa penyakit ini mempunyai angka kematian
lebih tinggi yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat.
i. Kontrasepsi oral. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral berisiko tinggi
untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun, risiko tinggi ini menurun
dengan cepat setelah penghentian medikasi.
j. Terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang
menggunakan estrogen suplemen dan menggunakannya untuk jangka
panjang (lebih dari 10 sampai 15 tahun) dapat mengalami peningkatan risiko.
Sementara penambahan progesterone terhadap penggantian estrogen
meningkatkan insidens kanker endometrium, hal ini tidak menurunkan
kanker payudara.
k. Masukan alkohol. Sedikit peningkatan risiko ditemukan pada wanita yang
mengonsumsi bahkan dengan hanya sekali minum dalam sehari. Di Negara
dimana minuman anggur dikonsumsi secara teratur misal Prancis dan Itali,
angkanya sedikit lebih tinggi. Beberapa temuan riset menunjukkan bahwa
wanita muda yang minum alkohol lebih rentan untuk mengalami kanker
payudara pada tahun-tahun terakhirnya. Beberapa factor risiko seperti usia
dan ras, tidak dapat diganggu gugat.
l. Perokok berat. Rokok merupakan salah satu faktor risiko kanker payudara
pada perempuan, rokok mengandung zat-zat kimia yang dapat
mempengaruhi organ – organ tubuh. Menurut penelitian WHO menyatakan
setiap jam tembakau rokok membunuh 560 oranng di seluruh Dunia.
Kematian tersebut tidak terlepas dari 3800 zat kimia yang sebagian besar
merupakan racun dan karsinogen (zat pemicu kanker).
Namun, beberapa risiko dapat dimodifikasi khususnya yang berkaitan
dengan lingkungan dan perilaku. Seperti kebiasaan merokok, minum alkohol dan
pengaturan pola makan. Risiko seorang wanita menderita kanker payudara dapat
berubah seiring dengan waktu. (Astrid Savitri, dkk.,2015).

3. Manifestasi Klinik
Tanda Ca Mammae kini mempunyai ciri fisik yang khas, mirip pada tumor
jinak, massa lunak, batas tegas, mobile, bentuk bulat dan elips. Gejala carcinoma
kadang tak nyeri, kadang nyeri, adanya keluaran dari puting susu, puting
eritemme, mengeras asimetik, inversi, gejala lain nyeri tulang, berat badan turun
dapat sebagai petunjuk adanya metastase. (Nurarif & Kusuma, 2015). Beberapa
gejala kanker payudara yang dapat terasa dan terlihat cukup jelas menurut Astrid
Savitri, dkk. (2015) antara lain :
a. Munculnya benjolan pada payudara
Benjolan di payudara atau ketiak yang muncul setelah siklus
menstruasi seringkali menjadi gejala awal kanker payudara yang paling
jelas. Benjolan yang berhubungan dengan kanker payudara biasanya tidak
menimbulkan rasa sakit, meskipun kadang-kadang dapat menyebabkan
sensasi tajam pada beberapa penderita.
b. Munculnya benjolan di ketiak (aksila)
Kadang-kadang benjolan kecil dan keras muncul di ketiak dan bisa
menjadi tanda bahwa kanker payudara telah menyebar hingga kelenjar
getah bening. Benjolan ini terasa lunak, tetapi seringkali terasa menyakitkan
dan nyeri.
c. Perubahan bentuk dan ukuran payudara
Bentuk dan ukuran salah satu payudara mungkin terlihat berubah. Bisa
lebih kecil atau lebih besar daripada payudara sebelahnya. Bisa juga terlihat
turun.
d. Keluarnya cairan dari puting (Nipple Discharge)
Jika puting susu ditekan, secara umum tubuh bereaksi dengan
mengeluarkan cairan. Namun, apabila cairan keluar tanpa menekan putting
susu, terjadi hanya pada salah satu payudara disertai darah atau nanah
berwarna kuning sampai kehijauan, mungkin itu merupakan tanda kanker
payudara.
e. Perubahan pada puting susu
Puting susu terasa seperti terbakar, gatal dan muncul luka yang
sulit/lama sembuh. Selain itu puting terlihat tertarik masuk ke dalam
(retraksi), berubah bentuk atau posisi, memerah atau berkerak. Kerak, bisul
atau sisik pada puting susu mungkin merupakan tanda dari beberapa jenis
kanker payudara yang jarang terjadi.
f. Kulit payudara berkerut
Muncul kerutan-kerutan seperti jeruk purut pada kulit payudara. Selain
itu kulit payudara terlihat memerah dan terasa panas.
g. Tanda-tanda kanker telah menyebar Pada stadium lanjut bisa timbul tanda-
tanda dan gejala yang menunjukkan bahwa kanker telah tumbuh membesar
atau menyebar ke bagian lain dari tubuh lainnya. Tanda-tanda yang muncul
seperti nyeri tulang, pembengkakan lengan atau luka pada kulit,
penumpukan cairan disekitar paru-paru (efusi pleura), mual, kehilangan
nafsu makan, penurunan berat badan, penyakit kuning, sesak napas, atau
penglihatan ganda.

4. Klasifikasi
a. Karsinoma duktal menginfiltrasi
Merupakan tipe histologis yang paling umum, merupakan 75% dari semua
jenis kanker payudara. Kanker ini sangat jelas karena keras saat dipalpasi.
Kaker jenis ini biasanya bermetastatis di nodus aksila. Prognosisnya lebih
buruk dibanding dengan tipe kanker lainnya.
b. Karsinoma lobular menginfiltrasi
Tipe ini jarang terjadi, merupakan 5% sampai 10% kanker payudara.
Tumor ini biasanya terjadi pada suatu area penebalan yang tidak baik pada
payudara bila dibandingkan dengan tipe duktal menginfiltrasi. Tipe ini lebih
umum multisentris, dengan demikian dapat terjadi penebalan beberapa area
pada salah satu atau kedua payudara. Karsinoma duktal menginfiltrasi dan
lobular menginfiltrasi mempunyai keterlibatan nodus aksilar yang serupa,
meskipun tempat metastatisnya berbeda. Karsinoma duktal biasanya
menyebar ke tulang, paru, hepar atau otak, sementara karsinoma lobular
biasanya bermetastatis ke permukaan meningeal atau tempat-tempat tidak
lazim lainnya.
c. Karsinoma medular
Tipe ini menempati 6% dari kanker payudara dan tumbuh dalam
kapsul di dalam duktus. Tipe tumor ini dapat menjadi besar tetapi meluas
dengan lambat, sehingga prognosisnya seringkali lebih baik.
d. Kanker musinus
Tipe ini menempati 3% dari kanker payudara. Penghasil lendir, juga
tumbuh dengan lambat sehingga kanker ini mempunyai prognosis yang lebih
baik dari lainnya.
e. Kanker duktal tubular
Tipe ini jarang terjadi, menempati hanya sekitar 2% dari kanker.
Karena metastatis aksilaris secara histologi tidak lazim, maka prognosisnya
sangat baik.
f. Karsinoma inflamatori
Merupakan tipe kanker payudara yang jarang (1% sampai 2%) dan
menimbulkan gejala-gejala yang berbeda dari kanker payudara lainnya. Kulit
diatas tumor ini merah dan agak hitam. Sering terjadi edema dan retraksi
puting susu. Gejala-gejala ini dengan cepat berkembang memburuk dan
biasanya mendorong pasien mencari bantuan medis lebih cepat dibanding
pasien wanita lainnya dengan massa kecil pada payudara. Penyakit dapat
menyebar dengan cepat pada bagian tubuh lainnya. Radiasi dan pembedahan
biasanya juga digunakan untuk mengontrol penyebaran.

Klasifikasi Kanker Payudara menurut stadium dan harapan hidup: (National


Cancer Institute-surveilance, Epidemiology and Result (SEER), 2001 dalam
NANDA, 2015).
1. Stadium 0
Tidak terbukti adanya tumor primer, tidak ada tumor dalam kelenjar
getah bening region, tidak ada metastase ke bagian lain, dan memeiliki
harapan hidup 99% selama 5 tahun kedepan.
2. Stadium I
Tumor berukuran kurang atau sama dengan 2 cm, tidak ada tumor
dalam kelenjar getah bening region, tidak ada metastase jauh dan memiliki
harapan hidup 92% selama 5 tahun kedepan.
3. Stadium IIA
Tumor tidak ditemukan pada payudara, tetapi sel-sel kanker ditemukan
di kelenjar getah bening di ketiak yang terletak di bawah lengan dapat
berpindahpindah, tidak mengalami metastase jauh dan memiliki harapan
hidup 82% selama 5 tahun kedepan.
4. Stadium IIB
Tumor berukuran lebih besar dari 2 cm tidak lebih dari 5 cm, sel-sel
kanker ditemukan di kelenjar getah bening di ketiak yang terletak di bawah
lengan dapat berpindah-pindah dan tidak mengalami metastase jauh.
5. Stadium IIIA
Tumor tidak ditemukan di payudara, tetapi ditemukan di kelenjar getah
bening melekat bersama atau pada struktur yang lain, tidak ada metastase
jauh dan memiliki harapan hidup 47% selama 5 tahun kedepan.
6. Stadium IIIB
Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan
pembengkakan, juga terdapat luka bernanah di payudara atau didiagnosis
sebagai inflammatory breast cancer, menyebar ke kelenjar getah bening dan
memiliki harapan hidup 44% selama 5 tahun kedepan.
7. Stadium IV
Ukuran tumor sudah tidak dapat ditentukan dan telah menyebar atau
bermetastasis ke lokasi yang jauh, seperti tulang, paru-paru, liver, tulang
rusuk, atau organ-organ tubuh lainnya dan memiliki harapan hidup 15%
selama 5 tahun kedepan

5. Patofisologi dan Pathway


Untuk dapat menegakkan diagnosa kanker dengan baik, terutama untuk
melakukan pengobatan yang tepat, diperlukan pengetahuan tentang proses
terjadinya kanker dan perubahan strukturnya. Tumor atau neoplasma merupakan
kelompok sel yang berubah dengan ciri proliferasi yang berlebihan dan tak
berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliferasi abnormal
sel kanker akan mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan
memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di
dalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam
intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami
transformasi 11 maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas di antara sel
normal (Wijaya dan Putri, 2013). Sel kanker dapat menyebar melalui aliran
pembuluh darah dan permeabilitas kapiler akan terganggu sehingga sel kanker
dapat berkembang pada jaringan kulit. Sel kanker tersebut akan terus
menginfiltrasi jaringan kulit, menghambat dan merusak pembuluh darah kapiler
yang mensuplai darah ke jaringan kulit. Akibatnya jaringan dan lapisan kulit akan
mati (nekrosis) kemudian timbul luka kanker. Jaringan nekrosis merupakan media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri, baik bakteri aerob atau anaerob. Bakteri
tersebut akan menginfeksi dasar luka kanker sehingga menimbulkan bau yang
tidak sedap. Selain itu, sel kanker dan proses infeksi itu sendiri akan merusak
permeabilitas kapiler kemudian menimbulkan cairan luka (eksudat) yang banyak.
Cairan yang banyak dapat menimbulkan iritasi sekitar luka dan juga gatal-gatal.
Pada jaringan yang rusak dan terjadi infeksi akan merangsang pengeluaran
reseptor nyeri sebagai respon tubuh secara fisiologis, akibatnya timbul gejala
nyeri yang hebat. Sel kanker itu sendiri juga merupakan sel imatur yang bersifat
rapuh dan merusak pembuluh darah kapiler yang menyebabkan mudah
pendarahan. Adanya luka kanker, bau yang tidak sedap dan cairan yang banyak
keluar akan menyebabkan masalah psikologis pada pasien. Akhirnya, pasien
cenderung merasa rendah diri, mudah marah atau tersinggung, menarik dini dan
membatasi kegiatannya. Hal tersebut yang akan menurunkan kualitas hidup
pasien kanker (Astuti, 2013).

6. Komplikasi
Karsinoma payudara bisa menyebar ke berbagai bagian tubuh. Karsinoma
payudara bermetastase dengan penyebarab langsung ke jaringan sekitarnya, dan
juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Tempat yang paling sering untuk
metastase yang jauh atau sistemik adalah paru paru, pleura, tulang (terutama
tengkorak, vertebra dan panggul), adrenal dan hati. Tempat yang lebih jarang
adalah otak, tiroid, leptomeningen, mata, perikardium dan ovarium.( Irianto ,
2015). Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit kanker payudara stdium
lanjut atau pasca mastektomi yaitu, metastase ke organ lain seperti tulang rusuk
menjadi kanker tulang, terjadi limfederma karena saluran limfe untuk menjamin
aliran balik limfe ke sirkulasi umum tidak berfungsi dengan adekuat karena nodus
eksilaris dan sistem limfe diangkat.

8. Penatalaksanaan Medis
Brunner dan Suddarth (2018) mengatakan berbagai pilihan penatalaksanaan
tersedia. Pasien dan dokter dapat memutuskan pembedahan, terapi radiasi,
kemoterapi atau terapi hormonal atau kombinasi terapi.
a. Pembedahan
Pada sebagian besar pasien, terapi bedah bertujuan untuk mengangkat
tumor, (meminimalkan resiko rekurensi lokal) dan untuk menentukan
stadium dari tumor. Ada 3 cara pembedahan atau operasi payudara yaitu :
1) Mastektomi radikal (lumpektomi) yang dimodifikasi mencakup
pengangkatan seluruh jaringan payudara, termasuk kompleks puting-
aerola dan bagian nodus limfe aksila. Operasi ini harus selalu diikuti
dengan pemberian-pemberian terapi. Biasanya lumpektomi
direkoendasikan pada orang yang tumornua besar tidak lebih dari 2cm
dan pada letaknya selalu di pinggir payudara
2) Mastektomi total mencakup pengangkatan seluruh isi payudara dan
kompleks puting-aerola tetapi tidak mencakup diseksi nodus limfe
aksila (axillary lymph node dissection, ALND).
3) modified mastekromi radikal, operasi yang dilakukan untuk
pengangkatan seluruh isi payudara dan jaringan payudara di atas tulang
dada, seluruh selangka tulang iga dan juga benjolan yang di sekitar
ketiak.
b. Biopsi nodus limfe sentinel : dianggap sebagai standar asuhan untuk terapi
kanker payudara stadium dini.
c. Terapi radiasi sinar eksternal : biasanya radiasi dilakukan pada seluruh
payudara, tetapi radiasi payudara parsial (radiasi ke tempat lumpektomi
saja) kini sedang dievaluasi di beberapa institusi pada pasien tertentu
secara cermat. biasanya juga digunakan sebagai alat terapi yng kuratif
dengan cara mempertahankan mammae dan bisa juga sebagai alat terapi
tambahan atau terapi paliatif.
d. Kemoterapi merupakan tarapi sistematik yang selalu digunakan apabila
adanya penyebaran sistemik dan sebagian terapi ajuvan, yang kemoterapi
ajuvan ini diberikan kepada pasien pemeriksaan histopatolik pasca bedah
mastektomi ditemukan suatu metastasis di suatu atau di beberapa kelenjar
e. Terapi hormonal
Yaitu sebuah Pertumbuhan pada kanker payudara yang sangat
bergantung kepada suatu suplai hormone estrogen, dan juga oleh karena
itu terapi ini adalah tindakan berfungsi untuk mengurangi dalam
pembentukan hormone yang dapat menghambat laju dari perkembangan
semua sel kanker itu, akan tetapi terapi hormonal itu biasanya disebut juga
dengan sebuah terapi anti estrogen karna terapi ini system kerjanya terapi
ini sangat menghambat atau juga dapat menghentikan kemampuan dari
hormone estrogen yang sudah ada di dalam menstimulus perkembangan
kanker payudara.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan upaya
untuk mengumpulkan data pasien secara lengkap dan sistematis mulai dari
pengumpulan data, identitas pasien, dan validasi status kesehatan pasien.
Pengkajian kanker payudara berfokus pada hal-hal berikut: berapa lama muncul
massa, penebalan massa atau gejala kanker lain dan apakah telah mengalami
perubahan payudara, karakteristik nyeri payudara, rabas dari puting, adanya
ruam, atau eksem pada puting, riwayat trauma pada payudara, dan riwayat
keluarga memiliki penyakit kanker (Martin dan Griffin, 2014). Pengkajian dalam
proses keperawatan meliputi:

a. Anamnesis

Anamnesis atau wawancara merupakan metode pengumpulan data


secara langsung antara perawat dan pasien. Data wawancara merupakan
semua ungkapan perasaan yang dirasakan pasien atau orang lain yang
berkepentingan termasuk keluarga pasien, teman dan orang terdekat pasien.
Data yang mencakup wawancara meliputi:

1) Identitas pasien Identitas pasien mencakup nama pasien, tanggal


lahir/usia, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal
masuk rumah sakit, jam masuk rumah sakit, nomor rekam medik dan
diagnosa medis.

2) Keluhan utama Keluhan utama terbagi menjadi dua yaitu keluhan


utama saat masuk rumah sakit dan keluhan saat pengkajian. Keluhan
utama pada pasien dengan kanker payudara dapat nerupa adanya massa
tumor di payudara, rasa sakit di payudara, keluar cairan pada puting,
kemerahan pada payudara, payudara terasa restraksi.

3) Riwayat penyakit

(1) Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit yang dialami pasien


dari penjelasan sebelum terjadinya keluhan utaman sampai terjadi
keluhan utama dan hingga pada saat pengkajian. Riwayat kanker
payudara dari tanda gejala munjul, penetapan biopsi, keluhan yang
paling dirasakan hingga penanganan yang sudah diberikan untuk
menangani keluhan tersebut.

(2) Riwayat penyakit terdahulu Riwayat penyakit dahulu adalah riwayat


penyakit yang pernah di derita oleh pasien dan berhubungan dengan
penyakit yang sekarang ini.

(3) Riwayat penyakit keluarga Riwayat penyakit kelurga adalah berisi


tentang semua anggota kelurga pasien yang memiliki penyakit kronis,
menular, menurun dan menahun seperti penyakit jantung, hipertensi,
diabetes melitus, TBC, HIV, hepatits B, penyakit kelamin, dan apakah
kelurga ada yang memiliki riwayat kanker payudara.

(4) Perilaku yang mempengaruhi kesehatan Prilaku yang


mempengaruhi kesehatan berisi tentang aktivitas atau prilaku sebelum
pasien sakit yang dapat mempengaruhi kesehatan pasien, seperti
peminum alkohol atau tidak, merokok atau tidak, ketergantungan obat-
obatan atau tidak, dan bagaimana dengan aktivitas berolahraga.

4) Data pisikososial

Data pisikososial diperlukan untuk mengetahui koping yang dimiliki


pasien, persepsi pasien tentang penyakitnya dan untuk mengetahaui
apakah terjadi gangguan konsep diri pada pasien.

5) Personal hygine

Data personal hygine diperlukan untuk mengetahui frekuensi mandi,


kramas, menyikat gigi, memotong kuku dan ganti pakaian dalam sehari.

6) Pengkajian spiritual

Pengkajian spiritual dapat ditanyakan bagaimana kebiasaan beribadah


selama sebelum sakit dan sesudah sakit ini. Biasanya pada pasien yang
mengalami penyakit kronis akan lebih mendekatkan diri kepada tuhan
guna untuk mencari ketenangan hidupnya.

b. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara melihat


kondisi pasien maupun lingkungan sekitar pasien atau respon pasien
dengan penyakit kanker, biasanya terdapat nyeri sehingga respon pasien
terlihat meringis menahan nyeri.
1) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik merupakan proses pemeriksaan
fisik dengan menggunakan metode head to toe yaitu dari ujung
rambut hingga ujung kaki untuk menemukan tanda tanda klinis atau
kelainan pada suatu sistem. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan
dengan teknik inspeksi, palpasi, auskutasi dan perkusi: Pemeriksaan
fisik meliputi: Keadaan umum berupa keadaan kesadaran pasien,
apakah pasien dalam keadaan sadar, apatis, somnolen, sopor atau
koma. Pemeriksaan tanda-tanda vital untuk mendapatkan data
objektif dari keadaan pasien, pemeriksaan ini meliputi tekanan
darah, suhu, respirasi, dan jumlah denyut nadi. Pada pemeriksaan
pertama di mulai dari kepala sampai leher meliputi pemeriksaan
bentuk kepala, penyebaran rambut, warn arambut, struktur wajah ,
warna kulit, kelengkapan dan kesimetrisan mata, kelopak mata,
kornea mata, konungtiva dan sklera, pupil dan iris, ketajaman
penglihatan, lapang pandang penglihatan, keadaan lubang hidung,
kesimetrisan septum nasal, ukuran telinga kanan dan kiri, ketajaman
pendengaran, keadaan bibir, keadaan gusi dan gigi, keadaan lidah,
keadaan platum dan orofaring, posisi trakea, apakah ada tiroid,
kelenjar limfe, apakah ada penonjolan vena jugularis, dan cek denyut
nadi karotis. Pada payudara meliputi inspeksi (biasanya terjadi
perubahan pigmentasi kulit seperti kemerahan,papila mamae tertarik
kedalam, hiperpigmentasi aerola maame, ada atau tidak pengeluaran
cairan pada puting susu, ada atau tidak oedem, dan ansimetris
payudara serta apakah terlihat adanya ulkus pada bagian payudara).
Jika terdapat ulkus pada payudara lakukan pengkajian luka meliputi
jenis luka, panjang luka, lebar luka, kedalaman luka, warna luka.
Palpasi hasil (biasanya teraba ada massa pada payudara, ada atau
tidak pembesaran kelenjar getah bening, kemudian disertai dengan
pengkajian nyeri tekan). Pada pemeriksaan dada atau torak meliputi
ispeksi (bentuk payudara simetris atau tidak, apakah terlihat
mempergunakan otot bantu pernafasan dan lihat bagaimana pola
nafas), plapasi (penilaian vokal premitus), perkusi (melakukan
perkusi di semua lapang paru), auskultasi (penilaian suara nafas,
suara uacapan suara). Pada pemeriksaan kardiovaskuler meliputi
inspeksi dan palpasi melihat bagaimana bentuk dada, mengamati
pulsasi dan ictus cordis, dan palpasi menentukan batas-batas jantung
untuk mengetahui ukuran jangtung, auskultasi mendengarkan bunyi
jantung, bunyi jantung tambahan ada atau tidak. Cantumkan juga
apakah pasien menggunakan alat bantu pernapasan Pemeriksaan
abdomen meliputi inspeksi (melihat bentuk abdomen, ada atau tidak
benjolan, ada atau tidak bayangan pembuluh darah), auskultasi
(bising usus dengan hasil yang normal 5-35x/menit), palpasi (teraba
ada atau tidak massa, ada atau tidak pembesaran limfe dan line serta
ada atau tidak nyeri tekan) dan perkusi (penilaian suara abdomen
suara normalnya berupa timpani dan jika abdomen terlihat
membesar lakukan pemeriksaan shifting dullnes). Pemeriksaan
genetalia dan perkemihan meliputi pemeriksaan bagian-bagian
genetalia apakah ada kelainan atau tidak, kebersihan genetalia,
kemempuan berkemih, intake dan output cairan serta menghitung
belance cairan. Pemeriksaan muskuloskeletal meliputi pemeriksaan
kekuatan otot, kelainan pada tulang belakang, dan kelainan pada
ekstremitas. Pemeriksaan integumen meliputi kebersihan kulit,
warna kulit, kelembaban, turgor kulit, apakah ada lesi dan apakah
ada penyekit kulit serta berapa hasil penilaian resiko dekubitus.
Sistem persyafan meliputi pemeriksaan glasgow coma scale and
score (GCS) cantum kan hasil pemeriksaan hasil eye, verbal, dan
best motor, pemeriksaan ingatan memory, cara berkomunikasi,
kognitif, orientasi (tempt,waktu,orang), saraf sensori (nyeri tusuk,
suhu, san senetuhan), pemeriksaan syaraf otak (NI-NXII), fungsi
motorik dan sensorik, serta pemeriksaan ferleks fisiologis.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah sebuah gambarkan respon manusia
mengenai keadaan kesehatan pada individu atau klompok (Martin dan Griffin,
2014). Diagnosa keperawatan sejalan dengan diagnosa medis karena saat
mengumpulkan data-data untuk menegakan diagnosa keperawatan ditinjau
dari keadaan penyakit dalam diagnosa medis. Setelah melakukan pengkajian
keperawatan dan timbul diagnosa yang tepat. Menurut Martin dan Griffin
(2014), diagnosa keperawatan pada pasien kanker payudara meliputi:
defisiensi pengetahuan berhubugan dengan tes yang dilakukan dan
penanganan yang dipilih, gangguan citra tubuh berhubungan dengan
kemungkinan kehilanga bagian tubuh atau fungsi tubuh, gangguan harga diri
berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh atau feminitas, kecemasan
berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, nyeri berhubungan
dengan insisi bedah pascaoperasi, ketidakberdayaan berhubungan dengan
penyakit yang berpengaruh pada aktivitas, gangguan proses keluarga
berhubungan dengan dampak penyakit pada keluarga dan perubahan pola
seksualitas berhubungan dengan ketakutan akan penolakan dari pasangan.
Menurut Nurarif (2015), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien
kanker payudara yaitu:
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan deformitas dinidng dada,
hambatan upaya nafas (misalny nyeri saat bernafas).
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologi.
c. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrien ke jaringan..
d. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan faktor mekanik
(penekanan massa kanker).
e. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur/bentuk
tubuh.
f. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap kematian
g. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, kurang kontrol tidur
h. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
i. Resiko infeksi berhubugan dengan faktor resiko tindakan invasif.

3. Rencana Keperawatan
No. Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor pola nafas
napas berhubungan keperawatan diharapkan (frekuensi, kedalaman,
dengan deformitas masalah keperawatan usaha nafas)
dinidng dada, hambatan ketidakefektifan pola 2. Monitor saturasi oksigen
upaya nafas (misalny napas berkurang dengan 3. Posisikan semi fowler
nyeri saat bernafas) kriteria hasil : atau fowler Berikan
 RR dalam batas normal oksigen
(16 – 24x/menit)
 Jalan nafas paten
 Suara nafas vasikuler
 Pola nafas normal,
irama nafas reguler,
tidak ada suara nafas
tambahan
2. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi lokasi,
dengan agen cedera keperawatan diharapkan karakteristik, durasi,
fisiologi masalah keperawatan frekuensi, kualitas,
nyeri akut berkurang intensitas nyeri
dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi respon nyeri
 Skala nyeri berkurang non verbal
(skala nyeri 2-3) 3. Berikan analgesik sesuai
 Klien mampu terapi
mengontrol nyeri 4. Ajarkan teknik
dengan manajemen nonfarmakologis untuk
nyeri non farmakologi mengurangi nyeri
 Klien mampu
menyatakan nyaman
setelah nyeri berkurang
3. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi status nutrisi
nutrisi : kurang dari keperawatan diharapkan 2. Monitor asupan makanan
kebutuhan tubuh masalah keperawatan 3. Monitor berat badan
berhubungan dengan ketidakseimbang nutrisi 4. Monitor hasil
ketidakmampuan dapat teratasi dengan pemeriksaan
mengabsorbsi nutrien kriteria hasil : laboratorium
ke jaringan.  Tidak terjadi 5. Berikan medikasi
penurunan berat badan sebelum atau sesudah
 Adanya peningkatan makan
berat badan
 Tidak ada mual dan
muntah
 Mampu menghabiskan
porsi makannya
4. Gangguan integritas Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor karakteristik
kulit/jaringan keperawatan diharapkan luka (mis. drainase,
berhubungan dengan masalah keperawatan warna, ukuran, bau)
faktor mekanik Gangguan integritas kulit 2. Monitor tanda-tanda
(penekanan massa dapat teratasi dengan infeksi
kanker). kriteria hasil : 3. Pertahankan teknik steril
 Menunjukan proses saat melakukan
penyembuhan luka perawatan luka
 Kebersihan dan 4. Ajarkan prosedur
kelembapan kulit perawatan luka secara
terjaga mandiri
 Kehangatan kulit
merata
5. Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi kemampuan
berhubungan dengan keperawatan diharapkan yang dimiliki
perubahan masalah keperawatan 2. Monitor frekuensi
struktur/bentuk tubuh. Gangguan citra tubuh pernyataan kritik
dapat teratasi dengan terhadap diri sendiri
kriteria hasil : 3. Anjurkan keluarga
 Body image positif terlibat untuk
 Mampu memotivasi pasien
mengidentifikasi 4. Diskusikan perubahan
kekuatan persona tubuh dan fungsinya
6. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikas penyebab
dengan ancaman keperawatan diharapkan ansietas
terhadap kematian masalah keperawatan 2. Berikan terapi relaksasi
ansietas dapat teratasi 3. Anjurkan keluarga
dengan kriteria hasil : untuk tatap bersama
klien mampu pasien
mengidentifikasi dan 4. Jelaskan prosedur,
mengungkapkan prasaan termasuk sensasi yang
cemas serta dapat akan dialami
mengontrol cemas
7. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi faktor
berhubungan dengan keperawatan diharapkan pengganggu tidur
nyeri, kurang kontrol masalah keperawatan 2. Monitor kuantitas dan
tidur Gangguan pola tidur dapat kualitas tidur pasien
teratasi dengan kriteria 3. Modifikasi lingkungan
hasil : (mis. kebisingan)
 Jumlah jam tidur dalam 4. Anjurkan menepati
batas normal 6-8 waktu tidur
jam/hari 5. Jelaskan pentngnya
 Perasaaan segar setelah waktu tidur
bangun tidur

8. Defisit pengetahuan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tingkat pengetahuan


berhubungan dengan keperawatan diharapkan pasien mengenai
kurang terpapar masalah keperawatan penyakitnya
informasi. defisit pengetahuan dapat 2. Jelaskan patofisiologis
teratasi dengan kriteria dari penyakit dengan
hasil : cara yang tepat
 Pasien dan keluarga 3. Jelaskan tanda dan
menyatakan gelaja penyakit
pemahamannya tentang 4. Jelaskan kepada
penyakit, prognosisi keluarga mengenai cara
dan pengobatan skrining penyakit
 Pasien dan keluarga 5. Sediakan informasi
dapat menjelaskan mengenai kondisi
kembali apa yang dengan cara yang tepat
dijelaskan oleh perawat
9. Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda dan gejala
berhubugan dengan keperawatan diharapkan infeksi lokal dan
faktor resiko tindakan masalah keperawatan sistemik
invasif. resiko infeksi dapat 2. Berikan perawatan luka
teratasi dengan kriteria 3. Berikan antibiotik sesuai
hasil : terapi
 Pasien terbebas dari 4. Cuci tangan sesudah dan
tanda dan gejala infeksi sebelum kontak pasien
 Menunjukan proses dan lingkungan.
penyembuhan luka 5. Jelaskan tanda dan gejala
 Menunjukan infeksi
kemampuan untuk

4. Implementasi Keperawatan
Setelah renacana keperawatan disusun, selanjutnya menerapkan rencana
keperawatan dalam suatu tindakan keperawatan dalam bentuk nyata agar hasil
yang diharapkan dapat tercapai, sehingga terjalin interaksi yang baik antara
perawat, klien dan keluarga. Implementasi merupakan tahap keempat dari proses
dari keperawatan dimana yangrencana keperawatansudah dilaksanakan : yaitu
melaksanakan intervensi/aktivitas atauyang telah ditentukan, dan pada tahap ini
para perawat siap untuk melaksanakan intervensi juga dan aktivitas yang sudah
telah dicatat dalam melakukan rencana perawatan pada klien. Agar implementasi
dan perencanaan dapat yang tepat waktu dan juga efektif terhadap biaya, yang
pertama-tama harus juga mengidentifikasi prioritas padaperawatan klien,
lalukemudian bila ada perawatan telah dilaksanakan, juga memantau dan
mencatan untuk respons pasien terhadap setiap parainervensi dan
dapatmengkomunikasikan informasijeas ini kepada yangpenyedia perawatandan
kesehatan lainnya. makaKemudian, dengan yaitumenggunakan data,akan dapat
mengevaluasi danjuga revisi rencana padaperawatan dalam tahap sebuahproses
keperawatan yang berikutnya (Ratna Kalijana, 2009).

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap paling akhir darisemua proses keperawatan yaitu
menilai efektifitas rencana yang telah dibuat, strategi dan pelaksanaan dalam
asuhan keperawatan serta menentukan perkembangan dan kemampuan pasien
mencapai sasaran yang telah diharapkan. Tahapan dalam evaluasi menentukan
kemajuan pasien juga tehadap pencapaianpada hasil yang diinginkan juga dan
respons pasien yangterhadap dan juga keefektifan intervensi keperawatan
dankemudian mengganti padarencana perawatan jika itu diperlukan. padaTahap
akhir

DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta


Johnson, M.,et all, 2002. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition, IOWA
Intervention Project
Mosby.Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second
Edition,IOWA Intervention Project, Mosby.
NANDA, 2012,Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Smeltzer, Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Brunner & Suddart. Edisi
8.Volume 2. Jakarta, EGC