Anda di halaman 1dari 2

1.

Jelaskan 3 level konsep model perubahan menurut Lewin yang di dalamnya termasuk struktur,
sistem dan individu!.
 Proses Mencairkan (Unfreezing) Prilaku individu menurut lewin dapat menjadi penggerak
ataupun penghambat perubahan (Lewin dalam Burnes, 2004). Dalam kondisi ini
memungkinkan organisasi menghadapi karyawan yang sulit mengkonfirmasi sistem dalam
tahap unfreezing tersebut sehingga menolak perubahan (Cummings & Worley, 2005).
Dengan demikian pada tahapan ini focus utama adalah bagaimana menjaga prilaku
organisasi berada pada kondisi saat ini. Banyak organisasi mengalami kegagalan dalam
melakukan perubahan pada tahap awal karena organisasi mengabaikan pentingnya prilaku
dan kepercayaan karyawan yang menjadi sumber utama kesuksesan perubahan organisasi
(Schein, 1999).
 Tahap Perubahan (Movement)
Model Lewin lebih menekankan perubahan sebagai proses transisi dan bukan aktivitas.
Tahap kedua pada model ini terjadi pada saat organisasi melakukkan perubahan atau transisi.
Pola pikir individu-individu organisasi dalam tahap ini sudah berubah dari pola pikir yang
lama dan sudah memiliki motivasi serta siap untuk perubahan yang berlaku. Dalam tahap ini
penting bagi organisasi untuk dapat mengurangi rasa takut, kekhawatiran serta
ketidakyakinan individu didalamnya akan perubahan yang akan dilakukan. Karena tidak
mudah dan bukan waktu yang tepat bagi anggota organisasi untuk mempelajari dan
memahami perubahan sehingga perlu diberikan waktu untuk mengerti, memahami dan
berdiri bersama-sama anggota organisasi menghadapi perubahan.
 Tahap Membekukan Kembali (Refreezing)
Tahapan ini lebih kepada membangun stabilitas begitu perubahan telah sepenuhnya
ditegakkan dan tertanam dalam individu-individu di organisasi. Disini perubahan telah
diterima secara sepenuhnya dan menjadi norma serta status quo yang baru untuk dijadikan
standar kerja. Individu-individu pada kondisi ini membentuk hubungan baru dan sudah
merasa nyaman dengan rutinitas baru mereka. Model Lewin pada tahap ini mengindikasikan
bahwa organisasi harus distabilisasi dan dilembagakan dalam bentuk yang baru setelah tahap
pergerakan atau “movement”. Status quo yang baru dalam kondisi ini harus diperkuat secara
institusional serta proses institusionalisasi perubahan inilah yang merupakan langkah akhir
yang menentukan keberhasilan keberlanjutan perubahan (Kotter, 1995).

2. Jelaskan tentang pimpinan sebagai Pembina (Coach)! Dikaitkan dengan wacana tentang PT POS
Pemimpin pada dasarnya terbagi menjadi 2, yaitu pemimpin sebagai superior yang
kerjanya hanya memberi perintah, selalu menyalahkan dan menjaga jarak dengan anak buahnya.
Ada juga pemimpin sebagai coach dan mentor yang lebih banyak mendengarkan masukan dari
anak buahnya, fokus pada solusi dan selalu memegang komitmen.
Untuk membangun keterampilan dasar sebagai coach dan mentor sebenarnya cukup mudah dan
bisa dipelajari. Prinsipnya, hanya perlu melihat bahwa setiap orang memiliki potensi dan sumber
daya dalam dirinya. Dengan prinsip tersebut, setiap orang pasti bisa sukses asalkan dia menyadari
potensi yang dimilikinya. Pemimpin harus bisa melihat hal tersebut dan memanfaatkannya untuk
keberhasilan perusahaan.
3. Kepemimpinan transformasional ditunjukkan melalui tiga faktor perilaku: konsiderasi individual,
stimulasi intelektual, serta karisma. Gambarkan faktor-faktor kepemimpinan transformasional!
Dikaitkan dengan wacana tentang PT POS di atas, bagaimana implementasi kepemimpinan
transformasional di PT POS, jelaskan!
Transformasi dapat terjadi karena didasari oleh dua hal, yaitu dari lingkungan internal
organisasi dan faktor dari lingkungan eksternal organisasi. Transformasi pada lingkungan internal
organisasi dilakukan dengan menanamkan mind set ke masing-masing individu agar skill, nilai-
nilai, sikap dan perilaku karyawan menjadi lebih siap dan kompeten menghadapi perubahan
eksternal. Selain itu, juga dengan melakukan perubahan pada stuktur dan sistem organisasi
termasuk di dalamnya sistem imbalan, sitem pelaporan, desain kerja, dan sebagainya uang
semuanya berbasis kinerja. Adapun gaya kepemimpinan yang bersifat membina organisasi ke
arah iklim yang berbasis good corporate governance. Yaitu praktik pengelolaan perusahaan
secara amanah dan prudensial dengan mempertimbangkan keseimbangan pemenuhan
kepentingan seluruh stakeholders.

Contoh kepemimpinan tranformasional terkini dilakukan Faizal Rochmad Djoemadi, Direktur


Utama Pos Indonesia yang meraih Penghargaan CEO Terbaik Driving Transformation 2021
dalam ajang Anugerah BUMN 2021. Dalam kemepimpinan transformasionalnya, yaitu
menggerakkan PT POS di era pandemi antara lain dengan cara melakukan transformasi model
bisnis dan mengembangkan digitalisasi secara massif dan cepat. Dalam tiga tahun ke depan, tujuh
program transformasi yang dicangkan adalah transformasi bisnis, transformasi produk dan
chanel, transformasi proses, transformasi teknologi, transformasi human capital, transformasi
budaya dan transformasi organisasi. Ketujuh program transformasi tersebut menurutnya sangat
diperlukan untuk mewujudkan Visi Pos Indonesia “Menjadi Postal Operator Penyedia Jasa Kurir,
Logistik dan Keuangan Paling Kompetitif”.

Anda mungkin juga menyukai