Anda di halaman 1dari 6

Kuliner di wilayah di yogyakarta menjadi salah satu lini usaha berkembang pesat,

hal ini karena banyaknya mahasiswa dan pendatang yang tertarik untuk tinggal di wilayah

di yogyakarta. Beragam jenis kuliner muncul untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dan

masyarakat yang memiliki selera dan preferensi yang beragam terhadap kuliner.

Tercatat menurut dinas pariwisata diy pada 2020 terdapat 100,200 rumah makan dan

1.007 restoran diseluruh wilayah di yogyakarta.

(http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/data_dasar/index/218-restoran-dan-rumah-

makan?id_skpd=23) jumlah mahasiswa dan penduduk di wilayah di yogyakarta merupakan

ceruk pasar yang bagus untuk bisnis kuliner.

Pendapat ini diperkuat dengan data bps pada tahun 2019 terdapat 37.514 mahasiswa

(https://yogyakarta.bps.go.id/statictable/2020/07/27/137/jumlah-perguruan-tinggi-

mahasiswa-dan-tenaga-pendidik-negeri-dan-swasta-di-bawah-kementerian-agama-

menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-diyogyakarta-2018-dan-2019-.html) di wilayah di

yogyakarta serta jumlah penduduk di yogyakarta yang mencapai 3.668.719 menurut data

bps 2019. (http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/data_dasar/index/361-jumlah-penduduk-

diy?id_skpd=29).
Hal ini membuat kebutuhan mahasiswa dan penduduk di yogyakarta terhadap

makanan atau kuliner meningkat dari waktu ke waktu serta munculnya banyak pelaku bisnis

kuliner. Persaingan bisnis yang ketat merupakan konsekuensi dari munculnya banyak

pelaku usaha bidang kuliner di wilayah di yogyakarta.

Persaingan yang tinggi membutuhkan tim yang kuat dengan sdm yang memiliki

kinerja baik untuk memenangkan persaingan. Sebab dalam dunia bisnis, perusahaan

karyawan atau sumber daya manusia merupakan salah satu aspek yang paling penting dan

berharga. Karyawan berfungsi sebagai roda penggerak perusahaan. Sebab karyawan

merupakan sumber daya yang mampu menggerakkan seluruh aktifitas perusahaan

disepanjang kehidupan. Target – target yang ingin dicapai ataupun direncanakan merupakan

bagian dari strategi perusahaan untuk menghadapi persaingan bisnis yang semakin hari

semakin luas dan berat. Karena ketatnya kompetisi bisnis, maka karyawan dituntut untuk

mampu berkinerja dengan baik.

Jason dkk (2015) mendefinisikan kinerja sebagai perilaku dan istilah "hasil" atau

"hasil kinerja pekerjaan" untuk menggambarkan hasil dari perilaku tersebut. Artinya kinerja

merupakan nilai dari seperangkat perilaku karyawan yang berkontribusi, baik secara positif

maupun negatif, untuk mencapai tujuan organisasi. Kinerja karyawan merupakan hasil kerja

karyawan baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh karyawan dalam periode

tertentu sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.


Robin (dalam kasmir, 2015) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang

mempengaruhi kinerja karyawan yaitu kemampuan (ability), motivasi (motivation) dan

kesempatan (opportunity). Salah satu dari faktor tesebut adalah motivasi (motivation).

Dimana motivasi merupakan sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja,

baik karena dorongan dari dalam dirinya atapun dari luar (dari perusaahaan). Contoh bentuk

motivasi dari luar (dari perusahaan) yang mampu membantu karyawan mencapai kinerja

yang efektif salah satunya adalah sebuah reward atau penghargaan.

Reward adalah ganjaran, hadiah penghargaan, atau imbalan yang bertujuan agar

sesorang menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja

yang telah dicapai (kamsir, 2004: 133). Pemberian reward pada seseorang harus disesuaikan

dengan hak dan kewajibannya. Selain itu besar kecilnya reward yang diperoleh tentu

disesuaikan dengan keadaan dan peraturan perusahaan.

Dewasa ini megatrend tentang spiritual di tempat kerja (workplace spirituality)

sedang berkembang dan mulai banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan. Beratnya

persaingan bisnis saat ini membuat perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan

kualitas sumber daya manusia, tapi juga pengembangan spiritualitas di tempat kerja.

Spiritualitas di tempat tempat kerja (workplace spirituality) memberikan kemampuan

karyawan untuk dapat memaknai pekerjaannya demi terciptanya komitmen dan kinerja yang

baik.
Karakas (2010) mengemukakan bahwa workplace spirituality mempunyai peran

penting dalam beberapa sudut pandang, yakni sudut pandang manajemen sumber daya

manusia dan filosofi. Sudut pandang manajemen sumberdaya manusia memandang

spiritualitas dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup karyawan. Pada sudut

pandang ini spiritualitas dapat meningkatkan moralitas, produktivitas (kinerja), dan

komitmen pada organisasi. Peningkatan moralitas, produktivitas dan komitmen akan

melahirkan sosok yang profesioanl. Sosok professional bukan terlahir karena daya tarik

duniawi melainkan terlahir karena dorongan ruhiyah yang menggerakkan untuk bekerja

bersungguh - sunggguh. Tedapat dalil yang menjelaskan agar manusia bekerja bersungguh

–sungguh dan menjaga komitmen yaitu:

“dan katakanlah: dan bekerjalah kamu, maka allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga

rasul-nya dan orang – orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (allah) yang

maha mengetahui yang ghaib dan nyata. Lalu diberitakan-nya kepada kamu apa yang telah

kamu kerjakan” (Qs.9:105)

“dan sungguh beruntung orang – orang yang memelihara amanat – amanat dan janjinya.”

(qs. Al-mu’minun : 8 )

Sebaliknya ketiadaan spiritualitas di tempat kerja (workplace spirituality) dapat

membuat karyawan menjadi stress, tingkat kehadiran rendah dan kelelahan fisik maupun

mental akibatnya karyawan tidak berkinerja dengan baik. Spiritualitas di tempat kerja

(workplace spirituality) akan tumbuh dan berkembang dengan baik bila mendapat dukungan

(support) dari budaya organisasi yang diterapkan oleh perusahaan itu sendiri.

Selanjutnya, sudut pandang filosofi memandang spiritualitas di tempat kerja akan

memberikan karyawan perasaan terdalam tentang tujuan dan makna dalam pekerjaan.
Karyawan tidak lagi berorientasi pada uang atau materi dalam bekerja, sehingga kreatifitas

akan meningkat ketika karyawan menemukan makna dari pekerjaan itu sendiri.

Workplace spirituality dijelaskan lebih lanjut oleh robbins (2008: 282) bahwa”

spiritualitas di tempat kerja menyadari bahwa manusia memiliki kehidupan batin yang

tumbuh dan ditumbuhkan oleh pekerjaan yang bermakna yang berlangsung dalam konteks

komunitas. Organisasi yang mendukung kultur spiritual mengakui bahwa manusia memiliki

pikiran dan jiwa berusaha mencari makna dan tujuan dalam pekerjaan mereka, hasrat untuk

berhubungan dengan orang lain, serta menjadi bagian dari komunitas”

Waroeng steak and shake merupakan salahsatu bisnis kuliner yang yang berdiri pada

tahun 2000 di yogyakarta. Warung ini memiliki konsep berbeda dengan resto steak lainnya

yaitu makan steak bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah.

Perjalanan bisnis warung steak & shake tidaklah mulus. Jatuh bangun membangun

perusahaan dialami oleh sang pemilik bisnis. Persaingan ketat berkompetisi dengan warung

– warung lainnya juga dilalui. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2005 waroeng steak

and shake melakukan perubahan pada pola bisnis yang dijalankan. Bila semula aktivitas

bisnisnya masih berpola konvesional kini mulai dirubah ke arah penerapan nilai nilai islami.

Mulai dari akad-akad yang dijalankan, sampai pemberian reward kepada karyawan (berupa

umroh atau dan lain – lain bergantung kebijakan perusahaan) bagi yang memiliki kinerja

baik, hingga menanamkan spiritualitas di tempat kerja (workplace spirituality) seperti sholat

5 waktu berjamaah bagi karyawan, dan pengajian rutin mingguan untuk karyawan dan

masyarakat sekitar outlet..

Perubahan – perubahan yang telah dijalankan tentu memiliki pengaruh terhadap

sumber daya manusia yang ada di dalamnya baik secara langsung maupun tidak langsung
sehingga mampu membuat waroeng steak and shake mampu bertahan dalam persaingan

yang ketat.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut guna untuk

mengetahui lebih dalam tentang “pengaruh reward dan workplace spirituality terhadap

kinerja karyawan di waroeng steak and shake yogyakarta ”