Anda di halaman 1dari 9

Nama : Edwin Sitinjak

NIM : 190301174

Kelas : TNH 19

SIFAT FISIKA ULTISOL DI BAWAH TEGAKAN KELAPA SAWIT


(Elaeis giuneensis Jacq.) YANG BERBEDA UMUR DAN KAITANNYA
DENGAN PEMADATAN TANAH

Penulis : Fany Juliarti Panjaitan , Wawan , Islan

Ringkasan:

Pada lahan perkebunan kelapa sawit yang sudah berumur 20 tahun lebih

seringkali terjadi adanya pemadatan tanah. Hal tersebut dikarekan oleh faktor umur

tanaman dimana aktivitas pemeliharaan tanaman kelapa sawit dilakukan secara

berkelanjutan seperti penggunaan pupuk kimia. Pemadatan tanah tersebut ditandai

dengan kerusakan struktur tanah yang menyebabkan poripori tanah tertutup sehingga

bobot isi tanah (bulk density) dan penetrasi tanah meningkat yang menyebabkan

dampak buruk bagi perkembangan perakaran tanaman kelapa sawit.

Pemadatan tanah erat hubungannya dengan penetrasi akar dan produksi

tanaman. Jika terjadi pemadatan tanah, maka air dan udara akan sulit disimpan dan

ketersediaannya tidak banyak atau terbatas dalam tanah sehingga mengakibadkan

terhambatnya pernafasan akar tanaman dan penyerapan air oleh akar serta memiliki

kandungan unsur hara yang rendah karena aktivitas organisme tanah yang rendah

juga (Hakim et al., 1986).


Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Adapun parameter

pengamatan dalam penelitian ini meliputi sifat fisik tanah, antara lain: kemantapan

agregat tanah, bobot isi tanah, kerapatan partikel tanah, total ruang pori tanah,

permeabilitas tanah, laju infiltrasi, kadar air kapasitas lapang, dan penetrasi tanah,

sedangkan parameter pengamatan tambahannya adalah tekstur tanah. Data hasil

pengamatan di lapangan dan di laboratorium disajikan dalam grafik yang kemudian

dianalisis secara statistik deskriptif tentang hasil yang diperoleh.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa semakin bertambah umur tegakan

kelapa sawit, maka pemadatan tanah semakin menurun pada gawangan hidup,

gawangan mati, dan piringan baik di kedalaman 0 – 20 cm maupun 20 – 40 cm. Hal

ini terkait dengan bobot isi tanah, total ruang pori tanah, dan ketahanan penetrasi

tanah. Semakin tinggi bobot isi tanah dan ketahanan penetrasi tanah, serta rendahnya

total ruang pori tanah, maka pemadatan tanah semakin meningkat. Bobot isi tanah,

total ruang pori tanah, dan ketahanan penetrasi tanah penting artinya dalam penilaian

kepadatan atau kegemburan tanah.

Daftar Pustaka

Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. R. Saul, Go Ban Hong, N.

H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung.

Lampung.
PENGARUH PEMADATAN TANAH DAN CARA PENEMPATAN PUPUK
TERHADAP PERTUMBUHAN PADI SAWAH DAN EFISIENSI
PEMUPUKAN P
Penulis : Idawati dan Haryanto

Ringkasan :
Dalam pengolahan lahan sawah, setelah pencangkulan/pembajakan, dilakukan

perotoran dan penggaruan untuk memecah agregat tanah menjadi fraksi yang halus.

Hal ini dimaksudkan untuk menurunkan volume, meningkatkan retensi air,

menciptakan lingkungan anaerobik, dan menurunkan redoks potensial yang

menghasilkan peningkatan ketersediaan hara. Kondisi lahan yang demikian dapat

dicapai secara efektif, praktis, dan ekonomis dengan cara pemadatan tanah.

Pemadatan tanah selalu disertai dengan peningkatan resistansi tanah terhadap

penetrasi. Namun, pengairan dengan sistem penggenangan lahan dalam budidaya padi

sawah dapat mengurangi resistansi sehingga memperkecil kesulitan penetrasi akar

tanaman dalam tanah. Kepadatan tanah yang melebihi batas toleransi akar tanaman

dapat mengganggu tumbuh kembang akar tanaman yang dapat mengganggu aktivitas

penyerapan hara oleh akar yang akhirnya dapat mengganggu tumbuh kembang

tanaman secara keseluruhan.

Data diperoleh dengan melakukan sebuah percobaan pot di rumah kaca Pusat

Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR), Badan Tenaga

Nuklir Nasional (BATAN). Percobaan diatur menurut Rancangan Acak Lengkap dan

merupakan percobaan factorial yang melibatkan dua faktor, yaitu: kepadatan tanah
(D1, D2, D3) dan penempatan pupuk (P1 = sebar dan P2 = benam). Setiap percobaan

diulang empat kali.

Tanah yang digunakan dalam percobaan ini adalah dari jenis Aluvial Kelabu

yang berasal dari Kebun Percobaan Pusakanegara. Tanah termasuk dalam kategori

bertekstur medium, dengan rincian: kadar pasir 25,9%, debu 24,4%, dan liat 49,7%.

Penyiapan tanah percobaan dilakukan sebagai berikut:

a. Tanah dengan kepadatan normal (D1). Enam kilogram tanah kering angin yang

telah dihaluskan ditimbang dan dimasukkan ke dalam pot plastik. Tanah lalu

digenangi air beberapa hari hingga diperoleh volume tetap (6,3 liter). Dengan

demikian diperoleh bobot isi sebesar 0,94 kg tanah kering angin/liter.

b. Tanah dengan kepadatan 15% di atas kepadatan normal (D2). Tanah ditimbang

sebanyak 6,9 kg, kemudian dilembabkan hingga sekitar 2/3 kapasitas lapang. Tanah

lembab diisikan ke dalam pot sambil dipadatkan hingga tercapai volume 6,3 liter atau

bobot isi sebesar 1,10 kg tanah kering angin/liter.

c. Tanah dengan kepadatan 30% di atas kepadatan normal (D3). Tanah ditimbang

sebanyak 7,8 kg, kemudian dilembabkan hingga sekitar 2/3 kapasitas lapang. Tanah

lembab diisikan ke dalam pot sambil dipadatkan hingga tercapai volume 6,3 liter atau

bobot isi sebesar 1,24 kg tanah kering angin/liter

Pada hasil penelitian yang memuat data pertumbuhan komponen dan

keseluruhan tanaman padi yang diukur sebagai bobot kering (BK) pada pengamatan

40 hari setelah tanam (HST) dan 80 HST. Terlihat bahwa pemadatan tanah tidak
mengganggu pertumbuhan tanaman padi, bahkan terlihat kecenderungan kenaikkan

BK akibat pemadatan tanah pada pengamatan 80 HST. Pemadatan tanah yang

dicobakan ternyata masih berada pada tingkat toleransi bagi akar tanaman padi.

Kemampuan beradaptasi terhadap tanah yang dipadatkan bertambah seiring dengan

membesarnya tanaman padi, sehingga perbaikan kondisi fisik (retensi air) dan kimia

tanah akibat pemadatan dapat dimanfaatkan oleh tanaman padi yang diperlihatkan

oleh kecenderungan peningkatan BK pada pengamatan 80 HST.


PERTUMBUHAN SEMAI SENGON DAN MANGIUM PADA TANAH PADAT

Penulis : Juang Rata Matangaran, Cahyo Wibowo dan Ujang Suwarna

Nama Jurnal : Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 15 No.3

Ringkasan :

Pendahuluan

Pemadatan tanah pada pemanenan kayu di hutan umumnya terjadi karena

bekerjanya alat berat berupa traktor penyarad kayu. Tapak traktor penyarad kayu

umumnya traktor berban ulat (rupsban/crawler/track tractor) atau beroda karet (wheel

skidder/rubber tired skidder) yang dilengkapi dengan pisau (blade) dan winch , secara

umum disebut bulldozer. Bulldozer bergerak mendorong tanah dan membuat jalan

sarad kemudian menyarad kayu keluar dari tunggak ke Tpn/landing. Bergeraknya alat

berat tersebut di atas permukaan tanah hutan menyebabkan kerusakan berupa

hilangnya lapisan permukaan tanah (topsoil) berupa erosi (erosion) dan limpasan

permukaan (run off) yang besar serta bergeraknya partikel tanah menjadi bertambah

padat dengan berkurangnya porositas tanah (Matangaran dan Kobayashi, 1999).

Pengaruh penggunaan alat berat dalam penyaradan kayu berupa meningkatnya

kerapatan massa tanah (bulk density), berkurangnya total ruang pori, berkurangnya

laju infiltrasi, berkurangnya permeabilitas tanah, berkurangnya kapasitas tampung air,

berubahnya struktur butir tanah (Diazjunior, 2003). Pemadatan tanah terjadi karena

dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berhubungan dengan keadaan tanah dan gaya
luar yang bekerja pada tanah tersebut. Hal yang penting diperhatikan adalah besarnya

ground pressure yang terjadi, lapisan serasah, tekstur tanah, struktur dan kadar air

selama proses pemadatan berlangsung (Marsili et al., 1998).

Metode Penelitian

Metode penelitian dilakukan dengan cara penelitian lapangan di areal Hutan

Tanaman Industri di Sumatera Selatan. Penelitian lapangan dilakukan dengan

mengukur kepadatan tanah areal bekas operasi forwarder dan harvester serta respon

pertumbuhan anakan yang telah bertumbuh 6 bulan di areal tersebut. Penelitian

laboratorium dilakukan di Laboratorium Pemanenan Hutan Fakultas Kehutanan IPB

dengan cara membuat simulasi kepadatan tanah dengan alat proctor test dan uji sifat

fisik tanah. Pengujian respon pertumbuhan Sengon dan Mangium dilakukan di rumah

kaca Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB.

Hasil dan Pembahasan

Pada hasil penelitian tersebut, tingkat kepadatan tanah dilapangan

disimulasikan di laboratorium dengan menggunakan proctor test. Dilakukan

penambahan kadar air tanah untuk mendapatkan kepadatan maksimum. Hasil

menunjukkan bahwa tanah dapat dipadatkan maksimum pada kadar air 23 % dengan

jumlah pukulan standar yaitu sebanyak 25 kali pukulan proctor. Pada kondisi kadar
air tanah 23 % tersebut dicari jumlah pukulan proctor yang memberi kepadatan sesuai

kepadatan di lapangan yang diinginkan yaitu : 0,9 g/cm3 ; 1,0 g/cm3 ; 1,1 g/cm3 ;1,2

g/cm3 ;1,3 g/cm3 . Nilai 0,9 g/cm3mewakili kondisi tanah asal yg tidak terpadatkan

(undisturb) sedangkan 1,0 g/cm3 sampai 1,3 g/cm3 mewakili kepadatan tanah akibat

penyaradan kayu oleh forwarder dan harvester.

Respon pertumbuhan tinggi semai pada bulan ke 6 setelah bertumbuh pada

tanah padat menunjukkan perubahan. Perubahan terjadi pada tanah yang sangat padat

saja yaitu tingkat kepadatan tanah 1,3 g/cm3 , sedangkan tingkat kepadatan lainnya

tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Semai sengon dan mangium memberikan

respon negatif terhadap kepadatan tanah pada tingkat 1,3 g/cm3 . Kedua jenis ini

menunjukkan respon pertumbuhan tinggi semai yang cenderung menurun pada

tingkat kepadatan 1,3 g/cm3. Jenis Sengon dan Mangium adalah jenis yang lebih

rentan terhadap kepadatan tanah. Perubahan kepadatan tanah menjadi lebih padat

menyebabkan akar kedua jenis tersebut terganggu pertumbuhannya.

Kesimpulan

Jenis Paraserianthes falcataria (Sengon) dan Acacia mangium (Mangium)

tidak tumbuh baik pada tanah padat, terutama pada tingkat kepadatan tanah lebih dari

1,3 g/cm3 .