Anda di halaman 1dari 13

Nama : Kartika

Nim : 180301186
Kelas : Ilmu Tanah
TEMPERATUR DAN ALIRAN PANAS TANAH
Judul :
Pengaruh Jenis Mulsa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Kultivar Kentang
(Solanum tuberosum L.) yang Ditanam di Dataran Medium
Abstrak :
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pertumbuhan dan hasil dari
tiga kultivar kentang (Solanum tuberosum L.) yang ditanam di dataran medium
dengan berbagai jenis mulsa. Penelitian berlokasi di stasiun penelitian Fakultas
Pertanian, Universitas Padjajaran, Jatinangor, Sumedang pada ketinggian sekitar
680m. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan pola
factorial, terdiri dari dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah kultivar
kentang (Granola, Kennebec, dan Panda), dan faktor kedua adalah jenis mulsa, terdiri
dari tiga tingkatan yaitu tanpa mulsa, mulsa jerami, dan mulsa polietilen hitam perak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Panda memiliki berat kering tertinggi
(29,5 g/tanaman) dan luasa daun (2513,7 cm²), sementara kultivar Granola memiliki
jumlah umbi per tanaman tertinggi (15,17 knol/tanaman) dan bobot umbi tertinggi per
tanaman 650,6 g/tanaman (30,3 ton/ha). Mulsa polietilen hitam perak dan jerami
meningkatkan luas daun, berat kering, jumlah umbi per tanaman dan bobot umbi per
tanaman. Pengaruh interaksi antara kultivar kentang dan jenis mulsa adalah signifikan
pada tinggi tanaman. Kultivar Panda dan mulsa polietilen hitam perak menghasilkan
tinggi tanaman tertinggi (68,2 cm).
Pendahuluan :
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang
mendapat prioritas dalam pengembangannya karena kentang mempunyai daya saing
kuat dibandingkan sayuran lainnya. Usaha meningkatkan produksi kentang dapat
dilakukan selain melalui intensifikasi, maupun ekstensifikasi pada lahan yang sesuai.
Strategi yang harus ditempuh dalam upaya peningkatan pertanaman kentang
adalah pengembangan penanaman yang diarahkan ke dataran yang lebih rendah, yaitu
dataran medium (300 sampai 700 m di atas permukaan laut) yang arealnya tersedia
cukup luas di Indonesia. Masih belum adanya kultivar tanaman kentang yang sesuai
dengan faktor lingkungan, khususnya suhu dan kelembaban merupakan kendala
umum dalam pengembangan tanaman kentang di dataran medium. Oleh karena itu
perlu dicari kultivar baru yang sesuai dengan kondisi lingkungan untuk dataran
medium, yang dicirikan oleh temperatur tinggi dan kelembaban udara rendah.
Menurut Mahmood et al. (2002) suhu tanah berhubungan dengan proses
penyerapan unsur hara oleh akar, fotosintesis dan respirasi. Sedangkan menurut
Nonnecke (1989) apabila selama perkembangan umbi terjadi cekaman suhu tinggi,
umbi yang dihasilkan akan berbentuk abnormal karena terjadi pertumbuhan baru dari
umbi yang telah terbentuk sebelumnya yang disebut pertumbuhan sekunder.
Penggunaan mulsa merupakan salah satu modifikasi lingkungan perakaran tanaman
di dataran medium. Secara fisik mulsa mampu menjaga suhu tanah lebih stabil dan
mampu mempertahankan kelembaban di sekitar perakaran tanaman. Bahan yang
dapat digunakan sebagai mulsa di antaranya sisa-sisa tanaman (serasah dan jerami)
atau bahan plastik.
Manipulasi lingkungan tumbuh dengan cara teknik budidaya berbeda
pengaruhnya jika dilakukan pada tanaman kentang dengan kultivar yang berbeda,
begitu juga perbedaan jenis mulsa akan berbeda pengaruhnya terhadap perbedaan
lingkungan terutama suhu tanah sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman kentang
untuk tiap kultivar akan berbeda pula.
Bahan dan Metode :
Bahan : Umbi bibit tiga kultivar kentang (Granola, Kennebec, dan Panda), mulsa
polietilen hitam perak, jerami, pupuk kandang, pupuk Urea, SP-36, KCL, fungisida
Mankozeb dan insektisida Deltametrin.
Metode : Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Kelompok dengan pola faktorial dengan 3 ulangan. Percobaan terdiri atas dua faktor.
Faktor pertama adalah tiga kultivar kentang yang terdiri dari Granola, Kennebec, dan
Panda, sedang faktor kedua adalah jenis mulsa yaitu, tanpa mulsa, mulsa jerami, dan
mulsa plastik hitam perak (MPHP).
Hasil dan Pembahasan :
Perbedaan suhu tanah antara perlakuan tanpa mulsa dan mulsa jerami pada pagi
hari tidak berbeda, tetapi mulsa plastik hitam perak menunjukkan suhu tanah yang
lebih tinggi, sedangkan pada sore hari mulsa jerami menunjukkan suhu yang lebih
rendah dibandingkan dengan suhu tanah tanpa mulsa dan mulsa plastik hitam perak.
Penggunaan mulsa jerami mengakibatkan penurunan suhu tanah siang hari pada
kedalaman 5 cm sebesar 6°C lebih rendah dibandingkan tanpa mulsa, sedangkan pada
mulsa plastik hitam perak sebesar 3°C.
Interaksi antara kultivar dan jenis mulsa berpengaruh terhadap tinggi tanaman
pada umur 8MST. Kultivar Panda yang diberi mulsa plastik hitam perak
menunjukkan tinggi tanaman tertinggi, kultivar Kennebec juga menunjukkan tinggi
tanaman yang tinggi pada mulsa plastik hitam perak sedang kultivar Granola yang
ditanam dengan tanpa pemberian mulsa menunjukkan tinggi tanaman terendah.
Selanjutnya keadaan tersebut didukung oleh lingkungan suhu tanah pada pagi hari
pada perlakuan mulsa plastik hitam perak lebih tinggi bila dibanding dengan mulsa
jerami dan tanpa mulsa. Pada suhu tanah di atas 22°C bobot kering bagian atas
tanaman meningkat, karena suhu tanah yang tinggi dapat mengakibatkan peningkatan
tinggi tanaman kentang akibat perpanjangan ruas batang maupun peningkatan jumlah
ruas batang.
Interaksi antara kultivar dan jenis mulsa tidak berpengaruh terhadap luas daun
dan bobot kering, akan tetapi secara tunggal masing-masing menunjukkan pengaruh
yang nyata. Kultivar Panda menunjukkan luas daun dan bobot kering tertinggi dan
berbeda bila dibandingkan dengan kultivar Granola dan Kennebec. Penggunaan
mulsa jerami dan mulsa plastik hitam perak menunjukkan luas daun dan bobot kering
tanaman yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa mulsa.
Penggunaan mulsa jerami ternyata efektif untuk menurunkan suhu tanah
maksimum pada siang hari yaitu sebesar 6°C sedangkan mulsa plastik hitam perak
dapat menurunkan suhu 3°C dibandingkan dengan tanpa mulsa, sehingga
pengaruhnya pada luas daundan bobot kering tanaman kentang lebih tinggi bila
dibandingkan tanpa mulsa. Penggunaan mulsa plastik hitam perak selain dapat
menurunkan suhu tanah juga efektif dalam mempertahankan kelembaban tanah yaitu
rata-rata sebesar 62 - 65.5% kapasitas lapang dan berpengaruh dalam penekanan
pertumbuhan gulma.
Interaksi antara kultivar dan jenis mulsa tidak berpengaruh terhadap jumlah umbi
dan bobot umbi, akan tetapi secara mandiri masing-masing menunjukkan pengaruh
yang nyata. Kultivar Granola menghasilkan jumlah umbi dan bobot umbi pertanaman
tertinggi dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan kultivar Kennebec dan Panda.
Kultivar Granola pada percobaan ini memiliki luas daun yang rendah akan tetapi
menghasilkan bobot umbi pertanaman tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
kekuatan source dan kekuatan sink antara kultivar berbeda. Rata-rata suhu udara
maksimum selama percobaan adalah 32.0ºC dan rata-rata suhu udara minimum
20.5ºC, rata-rata suhu udara siang 24.4ºC dan rata-rata suhu udara malam 20.5ºC.
Perlakuan jenis mulsa memberikan pengaruh terhadap jumlah umbi dan bobot
umbi pertanaman. Mulsa jerami memberikan jumlah umbi dan bobot umbi
pertanaman lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa mulsa, akan tetapi tidak
berbeda dengan mulsa plastik hitam perak. Pemberian mulsa pada percobaan ini
dapat menurunkan suhu tanah rata-rata 3-6 ºC pada siang hari.
Kesimpulan :
Kultivar Panda memberikan luas daun dan bobot kering tanaman tertinggi
berturut turut 2513.76 cm² dan 29.51 g/tanaman, sedangkan kultivar Granola
memberikan jumlah umbi tertinggi yaitu 15.2 butir/tanaman dan bobot umbi tertinggi
yaitu 650.6 g/tanaman (setara dengan 30.3 ton/ha). Mulsa jerami dan mulsa plastik
hitam perak memberikan pengaruh dapat meningkatan luas daun, bobot kering
tanaman, jumlah umbi dan bobot umbi pertanaman. Namun demikian tidak ada
perbedaan antara perlakuan mulsa. Interaksi antara kultivar dan jenis mulsa hanya
terjadi pada peubah tinggi tanaman kentang pada umur 8 minggu setelah tanam,
sedangkan pada peubah lainnya menunjukkan tidak terjadi interaksi. Kultivar Panda
dengan mulsa plastik hitam perak memperlihatkan memperlihatkan tinggi tanaman
tertinggi (68.2 cm) pada umur 8 MST.
Judul :
Pemberian Mulsa dalam Budidaya Cabai Rawit di Lahan Kering: Dampaknya
terhadap Hasil Tanaman dan Aliran Permukaan
Abstrak :
Permasalahan yang sering dijumpai pada budidaya tanaman di lahan kering
dengan kemiringan >15° adalah tingginya erosi yang dapat mengakibatkan laju
sedimentasi yang tinggi di bagian hilir daerah aliran sungai (DAS). Salah satu upaya
mengatasinya adalah dengan penggunaan mulsa. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mempelajari pengaruh pemberian mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan aliran permukaan. Penelitian dilakukan
pada bulan Januari 2010 sampai dengan Juni 2011 di DAS mikro Selopamioro,
Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Percobaan
menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak terdiri atas 4 perlakuan mulsa
(jerami, serasah, plastik, dan tanpa mulsa) dengan 4 ulangan. Variabel yang diamati
yaitu tinggi tanaman, kadar air tanah, suhu tanah, dan hasil tanaman (jumlah dan
bobot tanaman cabai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mulsa tidak
berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan hasil tanaman cabai, tetapi dapat
meningkatkan jumlah buah cabai. Mulsa terbaik bagi tanaman cabai di lahan kering
adalah mulsa jerami yang memberikan jumlah buah tertinggi, sehingga berdampak
terhadap hasil tanaman cabai. Penggunaan mulsa sebagai salah satu bentuk
konservasi tanah dapat menurunkan koefisien runoff, sedangkan penurunan debit dan
perpanjangan waktu respon hanya terjadi pada curah hujan < 21 mm.
Pendahuluan :
Keterbatasan ketersediaan air merupakan permasalahan budidaya tanaman
hortikultura yang sering dijumpai di lahan kering. Menurut Sumarni et al. (2006)
selain defisit air, permasalahan lain yang sering dijumpai di lahan kering, yaitu
pengikisan lapisan atas tanah (erosi tanah) dan pencucian hara akibat aliran air di
permukaan. Cabai rawit merupakan tanaman hortikultura tahunan yang mudah
dibudidayakan di berbagai tempat baik pada musim hujan maupun kemarau. Menurut
Noorhadi (2003), tanaman cabai rawit mempunyai sistem perakaran yang agak
dalam, tetapi sangat peka terhadap kekurangan air. Jika kekurangan air maka tanaman
cabai akan kurus, kerdil, layu, dan mati.
Peningkatan kelembaban tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman antara
lain dapat dilakukan dengan menggunakan mulsa. Selain mulsa plastik, mulsa yang
digunakan juga dapat berasal dari sisa-sisa tanaman atau jenis lain yang ada di
lapangan maupun yang didatangkan dari tempat lain, seperti mulsa jerami. Selain itu
sisa tanaman dengan cara disebar dapat melindungi tanah dari panas yang berlebihan
sehingga kehilangan air dapat dikurangi dan lebih dapat menjamin ketersediaan air
sehingga tanaman dapat tumbuh dan berproduksi lebih baik.
Upaya untuk meningkatkan dan memelihara produktivitas lahan skala DAS
Mikro adalah dengan menerapkan pola usaha tani konservasi yang dapat
meningkatkan produktivitas lahan. Pemanfaatan mulsa sebagai penutup tanah adalah
salah satu teknik konservasi yang mudah dilakukan. Penggunaan mulsa dapat
mencegah hilangnya air yang berlebihan melalui penguapan tanah, menekan
pertumbuhan gulma serta melindungi tanah dari daya kikis aliran permukaan,
sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman cabai rawit di lahan kering.
Bahan dan Metode :
Bahan : Bibit cabai rawit, jerami dan seresah (sisa tanaman kacang tanah dan
jagung), mulsa plastik hitam perak, pupuk kamdang (kotoran sapi), pupuk Urea, SP-
36, KCL, ZA, insektisida Profenofos dan fungisida Mancozeb.
Rancangan : Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok
Lengkap Teracak dengan 4 perlakuan mulsa, yaitu mulsa jerami padi varietas IR64,
serasah terdiri atas campuran sisa tanaman kacang tanah dan jagung, mulsa plastik
hitam perak/MPHP dengan ketebalan 0,04 mm, dan tanpa mulsa. Masing-masing
perlakuan diulang empat kali.
Hasil dan Pembahasan :
Secara umum pemberian mulsa pada tanaman cabai rawit tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap air tersedia, kecuali mulsa jerami. Air tersedia pada
perlakuan mulsa jerami lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa mulsa (kontrol). Hal
ini disebabkan oleh sifat mulsa yang dapat mengurangi evaporasi serta dapat
memperbesar kapasitas tanah menahan air, karena penguapan dari tanah akan tertahan
oleh mulsa sehingga air akan jatuh kembali lagi ke tanah.
Hasil pengukuran suhu di lapangan menunjukkan bahwa pada pagi hari suhu
tanah meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini dikarenakan pada malam
hari permukaan tanah telah kehilangan panas, sehingga suhu di atas permukaan tanah
lebih rendah dari pada suhu pada lapisan tanah dibawahnya. Saat sore hari mulsa
jerami menghasilkan suhu tanah yang lebih rendah dibandingkan dengan suhu tanah
tanpa mulsa dan mulsa plastik hitam perak. Penggunaan mulsa jerami mengakibatkan
penurunan suhu tanah siang hari pada kedalaman 5 cm sebesar 6°C lebih rendah
dibandingkan tanpa mulsa, sedangkan pada mulsa plastik hitam perak sebesar 3°C.
Pemberian mulsa pada tanaman cabai rawit tidak berpengaruh terhadap tinggi
tanaman maksimum cabai rawit. Berdasarkan hasil rata-rata tinggi tanaman
maksimum, perlakuan tanpa mulsa (kontrol) menunjukkan nilai tertinggi
dibandingkan dengan perlakuan mulsa.Jumlah buah pada perlakuan mulsa jerami
lebih tinggi dibandingkan pada mulsa serasah, plastik dan kontrol. Mulsa jerami
memiliki sifat menurunkan suhu dan tidak menyerap seluruh radiasi yang diterima,
sedangkan sifat dari warna hitam pada mulsa plastik cenderung meningkatkan suhu
tanah, karena radiasi yang diterima sebagian besar diserap.
Pemberian mulsa pada tanaman cabai rawit tidak memberikan pengaruh yang
nyata terhadap produktivitas tanaman cabai rawit. Produktivitas tanaman cabai rawit
pada perlakuan mulsa jerami menunjukkan hasil sebesar 4.6 kg plot-1 yang diikuti
dengan mulsa plastik, kontrol, dan serasah. Tidak terlihat adanya penurunan debit
puncak dan perpanjangan waktu respon pada curah hujan lebih dari 20 mm. Walau
demikian, terdapat penurunan aliran permukaan (runoff) dan koefisien runoff (Kr)
pada episode hujan MH 2010/2011 dibandingkan dengan tahun 2001/2002 berturut-
turut antara 14-75 dan 17-74%
Kesimpulan :
Pemberian mulsa jerami pada tanaman cabai rawit nyata meningkatkan kadar
terhadap air tersedia dan jumlah buah cabai rawit, sedangkan perlakuan mulsa serasah
dan plastik tidak berpengaruh terhadap air tersedia, tinggi tanaman, dan produktivitas
cabai rawit. Rata-rata jumlah buah pada perlakuan mulsa jerami lebih tinggi
dibandingkan dengan pada perlakuan mulsa lain. Aplikasi mulsa dapat
mempengaruhi karakteristik hidrologi, yaitu terdapat penurunan debit puncak antara
64-69% dan perpanjangan waktu respon 6 menit pada curah hujan kurang dari 21
mm, dan penurunan aliran permukaan dan koefisien aliran permukaan antara 14-75
dan 17-74%.
Judul :
Dampak Penggunaan Naungan Plastik terhadap Profil Iklim Mikro pada
Budidaya Kentang Bibit (Solanum tuberosum L.) Varietas Granola Kelompok G0
Abstrak :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui profil iklim mikro pada
naungan plastik dengan warna plastik berbeda dan (2) mengetahui warna plastik
untuk naungan yang sesuai terhadap peningkatan kualitas kentang varietas granola
G0. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap masing-masing terdiri dari
empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan tanpa naungan, perlakuan naungan
plastik warna bening, perlakuan naungan plastik warna biru dan perlakuan naungan
plastik warna merah. Untuk pengukuran iklim mikro digunakan alat temperature and
humidity meter dan light meter. Pengukuran iklim mikro dilakukan seminggu sekali
yaitu setiap pukul 12.00 WITA. Analisis data intensitas cahaya matahari dilakukan
membuat gambar dalam naungan menggunakan metose garis kontur, sedangkan data
hasil pengukuran suhu udara, suhu tanah, kelembaban dan variabel kualitas yang
diperoleh diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel untuk
memperoleh grafik, lalu dianalisis dengan metode deskiptif, dan dilanjutkan analisis
menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil penelitian intensitas cahaya
matahari menunjukkan kontur profil saat tanaman berusia 2 minggu profil sebaran
naungan warna bening 975-1025 lux, naungan warna merah 675-725 lux, naungan
warna biru 575-595 lux, sedangkan pada tanaman berusia 8 minggu naungan warna
bening 100-800 lux, naungan warna merah 100-700 lux, dan naungan warna biru
100-400 lux. Rata-rata suhu udara tanpa naungan 26,2°C, naungan bening 26,8°C,
naungan merah 26,6°C, naungan biru 26,2°C. Rata-rata kelembaban tanpa naungan
76%, naungan bening 77%, naungan merah 78%, naungan biru 79%. Perlakuan
naungan bening menunjukkan kualitas terbaik yaitu rata-rata 4,4 umbi per pohon,
rata-rata berat 257,6 gram per pohon dan rata-rata 1 umbi per pohon.
Pendahuluan :
Pertumbuhan tanaman membutuhkan kondisi iklim mikro yang sesuai dengan
syarat tumbuh tanaman yang akan membuat tanaman dapat berkembang secara
optimal, khusunya untuk menghasilkan kentang bibit yang sehat dan memenuhi
ukuran standar. Teknik budidaya kentang bibit dibawah naungan merupakan salah
satu teknik budidaya yang mampu meningkatkan hasil yang berkualitas.
Menurut Hamid dan Hobir (2004), pada naungan plastik kondisi mikrolimat
seperti cahaya, suhu dapat dimanipulasi agar optimal bagi tanaman. Sementara
menurut Milselet (2005), naungan menyebabkan kelembaban udara dan
evapotranspirasi menjadi maksimal sehingga ketersedia air bagi tanaman lebih
optimal. Pembuatan naungan plastik dengan penggunaan warna plastik yang tidak
sesuai dapat berakibat tidak terkendalinya iklim mikro di dalam naungan.
Berdasarkan hal tersebut pengaruh warna naungan perlu diketahui, mulai dari
intensitas cahaya matahari yang diterima naungan, suhu udara, suhu tanah dan
kelembaban udara di dalam naungan.
Bahan dan Metode :
Bahan : Bahan utama adalah kentang varietas granola G0, pupuk organik
(kompos kotoran ayam terfermentasi), pupuk NPK, pestisida, mulsa plastik hitam
perak (MPHP), sprayer, tali, kayu, bambu, air irigasi. Untuk bangunan naungan
menggunakan kerangka dari pipa PVC ukuran 2,2 cm, dan plastik yang digunakan
yaitu, plastik warna bening dengan ketebalan 0,66 mm, plastik warna merah dengan
ketebalan 0,03 mm, dan plastik warna biru dengan ketebalan 0,03 mm.
Rancangan : Perlakuan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
masing-masing terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan.
P0 = Perlakuan Tanpa Naungan (Kontrol)
P1 = Perlakuan Naungan Plastik Warna Bening
P2 = Perlakuan Naungan Plastik Warna Merah
P3 = Perlakuan Naungan Plastik Warna Biru
Dasar pertimbangan menggunakan plastik warna merah adalah karena warna
merah mudah menyerap panas dan untuk plastik warna biru karena mudah menyerap
zat kimia.
Hasil dan Pembahasan :
Hasil penelitian intensitas cahaya matahari menunjukkan kontur profil saat
tanaman berusia 2 minggu profil sebaran naungan warna bening 975-1025 lux,
naungan warna merah 675-725 lux, naungan warna biru 575-595 lux, sedangkan pada
tanaman berusia 8 minggu naungan warna bening 100-800 lux, naungan warna merah
100-700 lux, dan naungan warna biru 100-400 lux.
Perlakuan naungan bening memiliki profil sebaran paling besar dibandingkan
perlakuan naungan merah dan naungan biru, hal ini dikarenakan warna bening
memiliki sifat mudah ditembus cahaya matahari sehingga intensitas cahaya matahari
yang masuk ke dalam naungan bening lebih besar dari perlakuan naungan merah dan
naungan biru sehingga mempengaruhi ketersediaan energi cahaya yang akan diubah
menjadi energi panas, perbedaan warna naungan akan mempengaruhi serapan cahaya
yang masuk kedalam naungan.
Rata-rata suhu udara tanpa naungan 26,2°C, naungan bening 26,8°C, naungan
merah 26,6°C, naungan biru 26,2°C. Pada perlakuan tanpa naungan memiliki rata-
rata suhu udara yang rendah dikarenakan faktor angin yang menyebabkan terjadi
perpindahan panas yang lebih cepat. Perlakuan naungan bening memiliki rata-rata
suhu udara tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya dikarenakan intensitas cahaya
matahari yang masuk ke dalam naungan bening lebih besar dibandingkan perlakuan
lainnya sehingga semakin besar intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam
naungan akan semakin tinggi suhu udara. Perlakuan menggunakan plastik warna biru
juga memiliki rata-rata suhu udara terendah dikarenakan setiap warna pada naungan
memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda sehingga cahaya yang
diteruskan ke dalam naungan mempengaruhi ketersediaan energi cahaya yang akan
diubah menjadi energi panas, sehingga perbedaan warna naungan akan
mempengaruhi suhu udara yang terjadi dalam naungan.
Rata-rata suhu tanah tanpa naungan 27,4°C, naungan bening 27,4°C, naungan
merah 27,3°C, naungan biru 27,1°C. Perlakuan naungan warna bening menunjukkan
nilai rata-rata tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, kondisi ini dipengaruhi oleh
intensitas cahaya matahari yang diteruskan kedalam naungan pada warna bening
lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya dan mempengaruhi ketersediaan energi
cahaya yang akan diubah menjadi energi panas, perbedaan warna naungan akan
mempengaruhi suhu tanah yang terjadi dalam naungan sehingga semakin banyak
intensitas cahaya matahari yang masuk akan menambah panas pada permukaan tanah.
Rata-rata kelembaban tanpa naungan 76%, naungan bening 77%, naungan merah
78%, naungan biru 79%. Pada perlakuan tanpa naungan memiliki tingkat kelembaban
paling rendah dibandingkan perlakuan lainnya, karena pada perlakuan tanpa naungan
dipengaruhi oleh angin. Perlakuan menggunakan plastik warna biru memiliki nilai
rata-rata kelembaban tertinggi diantara perlakuan lainya, kondisi ini berbanding
terbalik dengan suhu udara. Kelembaban udara mengalami peningkatan setiap
minggunya, karena semakin tingginya kelembaban dipengaruhi transpirasi pada
tanaman, semakin besar ukuran tumbuhan maka akan menghasilkan uap air dari
permukaan tanah yang dengan sendirinya akan meningkatkan kelembaban ruangan
dalam naungan.
Perlakuan naungan bening menunjukkan kualitas terbaik yaitu rata-rata 4,4 umbi
per pohon, rata-rata berat 257,6 gram per pohon dan rata-rata 1 umbi per pohon. Nilai
rata-rata yang berbeda pada setiap perlakuan, untuk perlakuan tanpa naungan
menghasilkan rata-rata 4,4 umbi per pohon, untuk perlakuan naungan bening
menghasilkan rata-rata 6,8 umbi per pohon, untuk perlakuan naungan merah
menghasilkan rata-rata 5,5 umbi per pohon, dan untuk perlakuan naungan biru
menghasilkan rata-rata 4,7 umbi per pohon.
Pada perlakuan tanpa naungan menghasilkan rata-rata berat umbi per pohon
sebesar 167,6 gram, perlakuan naungan warna bening menghasilkan rata-rata berat
umbi per pohon sebesar 257,6 gram, perlakuan naungan warna merah menghasilkan
rata-rata berat umbi per pohon sebesar 163,7 gram, dan untuk perlakuan naungan
warna biru menghasilkan rata-rata berat umbi per pohon sebesar 160,7 gram.
Pada perlakuan tanpa naungan didapatkan rata-rata umbi rusak yaitu 1,7,
perlakuan naungan warna bening didapatkan rata-rata umbi rusak yaitu 1,0, perlakuan
naungan warna merah didapatkan rata-rata umbi rusak yaitu 1,1, dan untuk perlakuan
naungan warna biru didapatkan rata-rata umbi rusak yaitu 1,3. Perlakuan tanpa
naungan menghasilkan umbi rusak paling banyak dibandingkan dengan perlakuan
lainnya, hal ini dikarenakan tanaman yang tanpa naungan mendapatkan kondisi
lingkungan yang ekstrim sehingga tidak sesuai untuk pertumbuhan yang optimal
untuk tanaman kentang dan menyebabkan pertumbuhan pada umbi kentang menjadi
terganggu.
Kesimpulan :
Hasil penelitian intensitas cahaya matahari menunjukkan kontur profil saat
tanaman berusia 2 minggu profil sebaran naungan warna bening 975-1025 lux,
naungan warna merah 675-725 lux, naungan warna biru 575-595 lux, sedangkan pada
tanaman berusia 8 minggu naungan warna bening 100-800 lux, naungan warna merah
100-700 lux, dan naungan warna biru 100-400 lux. Rata-rata suhu udara tanpa
naungan 26,2°C, naungan bening 26,8°C, naungan merah 26,6°C, naungan biru
26,2°C. Rata-rata kelembaban tanpa naungan 76%, naungan bening 77%, naungan
merah 78%, naungan biru 79%. Perlakuan naungan bening menunjukkan kualitas
terbaik yaitu rata-rata 4,4 umbi per pohon, rata-rata berat 257,6 gram per pohon dan
rata-rata 1 umbi per pohon.
Daftar Pustaka:
Ardika, I. P. T., Setiyo, Y., dan Sumiyati. 2019. Dampak Penggunaan Naungan
Plastik terhadap Profil Iklim Mikro pada Budidaya Kentang Bibit (Solanum
tuberosum L.) Varietas Granola Kelompok G0. Jurnal Beta (Biosistem dan
Teknik Pertanian) 7 (1) : 135 - 143.

Hamdani, J. S. 2009. Pengaruh Jenis Mulsa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga
Kultivar Kentang (Solanum tuberosum L.) yang Ditanam di Dataran
Medium. J. Agron. Indonesia 37 (1) : 14 – 20.

Heryani, N., Kartiwa, B., Sugiarto, Y., dan Handayani, T. 2013. Pemberian Mulsa
dalam Budidaya Cabai Rawit di Lahan Kering: Dampaknya terhadap Hasil
Tanaman dan Aliran Permukaan. J. Agron. Indonesia 41 (2) : 147 - 153.