Anda di halaman 1dari 8

1.

FAKTA

Fakta dapat diartikan sebagai suatu informasi atau data yang ada/terjadi dalam

kehidupan sehari-hari dan dikumpulkan dan dikajin oleh para ahli ilmu sosial yang

terjamin kebenarannya. Walaupun demikian fakta memiliki kekuatan yang terbatas

unutk menjelaskan suatu masalah. Fakta menunjuk pada kondisi yang khusus dan

keberlakuannya terbatas (kurang berlaku umum). Di bawah ini dikemukakan

beberapa contoh fakta sebagai berikut:

a) Penduduk Indonesia berkonsentrasi di Pulau Jawa, Bali, dan Madura.

b) Ikrar Sumpah Pemuda terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928.

c) Gunung Galunggung meletus pada tahun 1982.

d) Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

e) Bandung adalah Ibu Kota Propinsi Jawa Barat.

f) Orde Reformasi dimulai tahun 1998.

Pentingnya fakta dalam struktur susunan ilmu pengetahuan karena fakta dapat

membentuk suatu konsep dan generalisasi.

Menurut Savage dan Armstrong (1996:24) mengatakan bahwa: “Konsep tidak


dapat dipelajari dalam kekosongan, melainkan dicapai dalam suatu proses yang
melibatkan fakta-fakta yang khusus”. Dari beberapa fakta yang khusus dan saling
berkaitan satu sama lain, maka dapat membentuk suatu konsep atau pengertian.
Karena begitu banyaknya fakta dalam kehidupan sosial manusia, maka tidak mungkin
seorang guru dapat mengajarkan semua fakta tersebut. Oleh karena itu, guru harus
memilih fakta yang dapat membantu para siswa untuk mampu memahami konsep dan
generalisasi. Hubungan yang erat antara fakta dan konsep dapat dilihat pada ilustrasi
berikut. Sebagai contoh: Seorang anak berasal dari keluarga yang kurang mampu,
sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sudah berjuang keras untuk menyelesaikan
studinya. Waktu di SD ia pernah berjualan es untuk menambah uang jajan yang
diberikan oleh orang tuanya yang tidak memenuhi kebutuhan sekolahnya. Di SLTP ia
berjualan Koran dan di SLTA ia pernah bekerja di suatu percetakan buku sehabis
pulang sekolah. Sampai di Perguruan Tinggi ia bekerja di sebuah perusahaan
garment. Semua pekerjaan ia lakukan dengan serius dan tekun sehingga dapat
menyelesaikan studinya sampai menjadi seorang sarjana.

Fakta di atas tampak saling berkaitan dan membentuk suatu gagasan atau konsep

tentang cita-cita. Suatu cita-cita tidak dapat tercapai tanpa adanya perjuangan dan

pengorbanan. Siapa pun yang ingin mencapai cita-citanya ia harus berjuang dan

berkorban apakah itu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan. Sebenarnya

dari ilustrasi di atas terdapat tiga konsep perjuangan, pengorbanan, dan cita-cita. Atau

dengan kata lain suatu cita-cita akan tercapai bila disertai perjuangan dan

pengorbanan.

Dari contoh di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa beberapa fakta yang saling

berkaitan dapat membentuk suatu konsep. Contoh lain dari beberapa fakta yang

saling berkaitan untuk membentuk konsep adalah sebagai berikut:

Indonesia selama tiga setengah abad dijajah oleh bangsa Belanda. Sejak tahun

1908 bangsa Indonesia mulai berjuang untuk melawan penjajahan yang dikenal

dengan hari Kebangkitan Nasional. Dengan melalui perjalanan yang panjang dengan
pengorbanan tang tidak sedikit, bangsa Indonesia menyatakan bebas dari penjajahan

pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia terus

berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya. Setelah merdeka bangsa

Indonesia merasa kedudukannya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh

karena itu, bangsa Indonesia ingin menentukan nasib dan masa depannya sendiri.

Fakta-fakta tersebut di atas tampak saling berhubungan untuk membentuk suatu

konsep atau gagasan berupa kemerdekaan. Suatu bangsa dan Negara yang ingin

merdeka berani berkorban untuk memperjuangkan dan mempertahankan

kemerdekaannya, bebas menentukan nasibnya sendiri, kedudukan sederajat dengan

bangsa lain. Jika siswa membaca keadaan suatu bangsa lain seperti itu, maka dalam

pikirannya akan terbentuk suatu pengertian atau konsep tentang “kemerdekaan”.

Dari beberapa contoh dan ilustrasi di atas dapat dikatakan bahwa fakta

merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang pernah terjadi atau pernah ada dan

memberikan informasi yang bermakna bagi manusia, sehingga dapat membentuk

sebuah konsep.
2. KONSEP

Terdapat dua makna yang dapat ditangkap bila mendengar istilah atau kata

“konsep”. Untuk membedakan kedua makna tentang kata konsep dapat dicontohkan

dengan dua kalimat berikut:

Pertama: Mahasiswa PPL itu belum selesai membuat konsep laporan praktek

mengajar.

Kedua: Saya belum mengerti tentang konsep IPS yang diterangkan oleh dosen.

Pengertian atau makna kata konsep pada kalimat pertama berarti “rancangan” atau

draff. Sedangkan pengertian atau makna kata konsep pada kalimat kedua berarti

gagasan atau ide, pokok-pokok pikiran dalam pelajaran IPS.

Yang akan dijelaskan dalam uraian berikut ini adalah pengertian konsep pada kalimat

kedua. Konsep secara sederhana dapat diartikan sebagai penamaan (pemberian label)

untuk sesuatu yang membantu seseorang mengenal, mengerti, dan memahami tentang

sesuatu tersebut.

Konsep adalah suatu kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu dan merupakan

alat intelektual yang membantu kegiatan berpikir dan memecahkan masalah. Apabila

diperoleh sejumlah informasi misalnya; ada sebuah benda yang dibuat dari kayu,

memiliki empat buah kaki, ada bidang datar di atas kaki tersebut yang dipergunakan

untuk menulis; maka dengan kemampuan mental kita, informasi atau fakta tersebut

kita sederhanakan dengan cara memberi nama atau label yaitu “meja tulis”.
Menurut S. Hamid Husen (1995) mengemukakan bahwa: “Konsep adalah

pengabstraksian dari sejumlah benda yang memiliki karakteristik yang sama”. Setiap

benda yang memiliki roda 4 buah terbuat dari besi dan kayu, memiliki bensin,

berjalan di darat dan dipakai untuk angkutan penumpang dan barang, maka benda-

benda yang memiliki karakteristik seperti itu dinamakan atau diabstraksian sebagai

“mobil”.

Selanjutnya More dalam Skell (1995:30) bahwa: “Konsep itu adalah sesuatu yang

tersimpan dalam benak atau pikiran manusia berupa sebuah ide atau sebuah gagasan”.

Sedangkan Parker menyatakan bahwa: “Konsep itu adalah gagasan-gagasan tentang

sesuatu”. Konsep dapat dikatakan sebagai gagasan yang ada melalui contoh-contoh.

Dari contoh di atas menggambarkan bahwa seseorang harus terlibat dalam proses

berpikir, karena ia sedang memikirkan tentang contoh-contoh konsep. Proses berpikir

itu sering disebut dengan istilah “konseptualisasi”, yaitu suatu yang terus menerus

yang berlangsung apabila seseorang sedang memikirkan contoh-contoh baru dari

suatu konsep. Oleh karena itu, kesan mental (mental image) dari seseorang tentang

suatu konsep akan berbeda karena tergantung kepada latar belakang pengetahuan,

ilmu yang dimiliki dan budaya orang melakukan konseptualisasi.

Konsep dapat dinyatakan dalam sejumlah bentuk konkrit atau abstrak, luas atau

sempit, satu kata atau frase. Beberapa konsep yang bersifat konkrit misalnya;

manusia, gunung, lautan, daratan, rumah, Negara, barang konsumsi, pakaian, pabrik,

dan sebagainya.
Kata-kata tersebut di atas merupakan benda-benda konkrit yang dapat dilihat, diraba,

dan dirasakan. Sementara itu konsep yang bersifat abstrak adalah; demokrasi,

kejujuran, kesetiaan, keadilan, kebebasan, tanggung jawab, hak, pertimbangan,

sistem hukum, dann lain-lain.

Terdapat beberapa konsep yang begitu luas dan atau abstrak sehingga sulit untuk

dirumuskan. Oleh karena itu harus diuraikan agar dapat dipahami, misalnya saja

konsep tentang kebudayaan, kasih sayang, dan lain-lain. Sementara itu ada konsep

yang sangat sempit, mudah dipahami, dapat dilihat dan dirasakan dan penggunaannya

pun terbatas, misal; “rumah”. Konsep dapat pula terdiri dari satu kata, misalnya

“kerja”, namun bisa pula berupa frase seperti pembagian kerja, lapangan kerja dan

lain-lain.

Konsep begitu penting bagi manusia, karena konsep dapat membantu seseorang untuk

mengorganisasikan informasi atau data yang mereka hadapi. Konsep dapat

menempatkan informasi dalam kategori-kategori atau kelompok-kelompok dan

mempertimbangkan hubungan antar data. Dalam menentukan kerangka konseptual,

seseorang perlu memiliki sifat keterbukaan untuk menempatkan informasi baru yang

sedang dihadapi. Berbeda dengan fakta yang terbatas pada situasi khusus, konsep

mempunyai penerapan yang luas dan dapat multi interpretasi (banyak penafsiran).

Konsep dapat diperoleh seseorang dengan harus mengenal, memahami, dan

merumuskan data-data yang menjadi ciri/atribut dari suatu konsep. Pengalaman


sebelumnya sangat diperlukan untuk menghadapi bermacam konsep dalam situasi

yang berbeda.

Konsep dapat berupa sejumlah fakta yang memiliki keterkaitan dengan makna atau

definisi yang ditentukan. Konsep diberi label atau nama berupa kata-kata.

Karakteristik atau ciri-ciri konsep disebut atribut, misalnya konsep tentang “sepeda

motor” dapat dijelaskan dengan atribut berikut: (1) Kendaraan beroda dua, (2)

digerakkan dengan mesin, (3) berbahan bakar bensin. Dalam ilmu-ilmu sosial banyak

konsep yang sulit dimaknai karena konsep tersebut bersifat abstrak, seperti

demokrasi, kebudayaan, keadilan, kesetiaan, dan lain-lain.

3. GENERALSASI

Generalisasi berasal dari kata “general” yang berarti umum atau menyeluruh.

Oleh karena itu, generalisasi merupakan pengambilan kesimpulan secara umum dari

suatu gejala informasi yang kita terima yang didukung oleh data dan fakta yang ada.

Fakih Samlawi (1998:9) mengemukakan bahwa: “Generalisasi merupakan sejumlah

konsep yang memiliki karakteristik dan makna. Generalisasi adalah pernyataan

tentang hubungan diantara konsep. Generalisasi mengungkapkan sejumlah besar

informasi”. Kebenaran suatu generalisasi ditentukan oleh rujukan pembuktian.

Beberapa generalisasi yang kita terima hari ini, mungkin pada masa yang akan datang

harus diperbaiki, sehingga diperlukan bukti-bukti yang baru pula.

Savage dan Armstrong (1996:26) dalam menyatakan: “Ketika angka pengangguran

di suatu negara meningkat, maka kejahatan dan kriminal pun meningkat pula.”
Dari generalisasi di atas terdapat berupa konsep yaitu: konsep pengangguran, konsep

negara, konsep kejahatan, dan konsep kriminal. Para siswa sangat perlu memahami

konsep-konsep tersebut sebelum ia dapat menangkap makna dari generalisasi di atas.

DAFTAR PUSTAKA

Fakih Samlawi dan Bunyamin Maftuh. 1998/1999. Konsep Dasar IPS. Jakarta:

Dekdikbud. Ditjen. Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Savage, V.T. dan Armstrong, G.D. (1996). Effective Teaching in Elementary Social

Studies. (Third Edition). Englewood Cliffs, New Yersey: Prentice-Hall, Inc.

Skeel, Dorothy J. (1995), Elementery Sosial Studies: Challenges for Tomorrow’s

World. Orlando, Florida : Harcourt Brace & Company.