Anda di halaman 1dari 71

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA NY.

N DENGAN
HPERTENSI DIJORONG SARUASO UTARA KECAMATAN
TANJUNG EMAS KABUPATEN TANAH DATAR

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

DOSEN PEMBIMBING: CI KLINK:

Ns. Rahmat Syukri, S.Kep, M.KM Ns.Widya Francisca,S.Kep ,M.Kep

OLEH :
ILMA FITRIANTI S.KEP

NIM.2014191091

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN


PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS
FORT DE KOCK BUKITTINGI
TAHUN 2021-2022
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang...................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Keluarga...............................................................................6
1. Pengertian Keluarga....................................................................6
2. Tipe Keluarga..............................................................................7
3. Fungsi Keluarga..........................................................................9
4. Tahap Perkembangan Keluarga..................................................11
5. Tingkat Kemandirian Keluarga...................................................15
6. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan..................................16
7. Peran Perawat Keluarga..............................................................19
B. Konsep Hipertensi.............................................................................21
1. Pengertian....................................................................................21
2. Etiologi........................................................................................21
3. Patofisiologi................................................................................22
4. Manifestasi Klinis.......................................................................23
5. Penatalaksanaan..........................................................................24

BAB III Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Hipertensi


1. Pengkajian ..................................................................................................... 29
2. Perumusan Diagnosa Keperawatan Keluarga...................................................36
3. Intervensi Keperawatan Keluaarga...................................................................38
4. Implementasi Keperawatan keluarga................................................................42
5. Evaluasi Keperawatan Keluarga.......................................................................44

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan.......................................................................................63
B. Saran..................................................................................................64
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi dan

kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,

meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari individu-individu

untuk mencapai tujuan bersama (Friedman,2019). Keluarga merupakan sentral

pelayanan keperawatan karena keluarga merupakan sumber kritikal untuk pemberian

pelayanan keperawatan, intervensi yang dilakukan pada keluarga merupakan hal penting

untuk pemenuhan kebutuhan individu. Disfungsi apapun yang terjadi pada keluarga

akan berdampak pada satu atau lebih anggota keluarga atau keseluruhan keluarga.

Adanya hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan setiap anggota

keluarga, sangat memerlukan peran keluarga pada saat menghadapi masalah yang terjadi

pada keluarga (Komang Ayu, 2019).

Masalah-masalah yang terjadi pada keluarga tidak lepas dari tugas keluarga dalam

pemeliharan fisik keluarga dan para anggotanya. Keluarga sebagai kelompok yang dapat

menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah kesehatan yang ada.

Kondisi lingkungan yang tidak terjaga, pola hidup keluarga yang tidak sehat, kondisi

keuangan yang tidak stabil, stress dalam keluarga berkepanjangan masalah ini dapat

timbul dalam keluarga yang menyebabkan masalah kesehatan. Semua hal tersebut dapat

1
memicu timbulnya penyakit, salah satu penyakit yang sering muncul dikeluarga yaitu

hipertensi (Friedman, 2018).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang melebihi >140 mmHg untuk tekanan

sistolik dan >90 mmHg untuk tekanan diastolik. Terdapat beberapa faktor resiko yang

menyebabkan hipertensi, usia, riwayat hipertensi dalam keluarga, obesitas, nutrisi yang

tidak seimbang, pola hidup yang tidak sehat dan jarang berolahraga. Makanan secara

langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap kestabilan tekanan darah.

Kandungan zat gizi seperti lemak dan natrium memiliki kaitan yang erat dengan

munculnya hipertensi (Julianti, 2015).

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia

pada tahun 2013, menyebutkan bahwa prevalensi penderita hipertensi yang berada di

Indonesia mencapai angka 25,8% (Riskesdas, 2015). Di Sulawesi Tenggara hipertensi

menempati urutan pertama dari sepuluh penyakit tidak menular terbesar dalam tahun

2016, prevalensi penderita hipertensi disulawesi tenggara melebihi persentase prevalensi

nasional (Dinkes Sultra, 2013). Dari hasil pengambilan data awal, data yang didapatkan

dari Puskesmas Tanjung Emas hipertensi juga termasuk dalam sepuluh besar penyakit

kunjungan tertinggi yang menempati urutan pertama. Penderita hipertensi cenderung

meningkat seiring dengan gaya hidup yang jauh dari prilaku hidup sehat (Suoth Meylin

dkk, 2014)

Perubahan gaya hidup yang merupakan bagian dari penatalaksanaan hipertensi dapat

menurunkan tekanan darah, meningkatkan efektivitas obat antihipertensi, dan

menurunkan risiko kardiovaskular. Modifikasi pola asupan

2
makanan sehari-hari merupakan salah satu komponen perubahan gaya hidup yang

mempunyai peran paling besar dalam menurunkan tekanan darah. Modifikasi pola

asupan makanan dimaksud adalah mengikuti pedoman umum gizi seimbang misalnya

dengan Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH) (Kumala, 2014)

Diet berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada penderita hipertensi.

Diet yang sangat direkomendasikan untuk penderita hipertensi adalah diet DASH

singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertention, diet ini berfokus untuk

mengurangi asupan natrium dan lemak dengan cara meningkatkan asupan protein, serat,

serta memastikan kecukupan vitamin dan mineral (Hartono, 2016).

Peran perawat dalam keperawatan keluarga adalah memberikan asuhan keperawatan

kesehatan keluarga melalui pengenalan kesehatan, pemberi pelayanan pada anggota

keluarga yang sakit, pendidikan kesehatan, penyuluh dan konseling khususnya pada

keluarga yang mengalami masalah kesehatan (Padila, 2012).

Berdasarkan Latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan studi kasus

dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Ny.N dengan Hipertensi di Jorong

Saruaso Utara”

3
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti uraikan diatas, maka rumusan masalah

studi kasus ini adalah bagaimana “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Hipertensi” di

Jorong Saruaso Utara wilayah kerja puskesmas Tanjung Emas.

C. Tujuan Studi Kasus

1. Tujuan umum

Mampu mendeskripsikan “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Hipertensi” di Jorong

Saruaso Utara wilayah kerja puskesmas Tanjung Emas.

2. Tujuan khusus

Mengidentifikasi efektifitas perencanaan tindakan keperawatan pendidikan kesehatan

dalam “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Hipertensi” di Jorong Saruaso Utara

wilayah kerja puskesmas Tanjung Emas.

D. Manfaat Studi Kasus

Studi kasus ini, diharapkan memberikan manfaat bagi :

1. Bagi puskesmas dan keluarga

Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran diaplikasikan dan

menambah wawasan ilmu pengetahuan serta kemampuan penulis dalam menerapkan

asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi” di Jorong Saruaso Utara wilayah kerja

puskesmas Tanjung Emas.

4
2. Penulis:

Laporan kasus ini dapat diaplikasikan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan serta

kemampuan penulis dalam menerapkan asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi”

di Jorong Saruaso Utara wilayah kerja puskesmas Tanjung Emas

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP KELUARGA

A. Pengertian Keluarga

Menurut Depkes RI (2000) keluarga adalah unit terkecil dari

masyarakat yang terdiri kepala keluarga dan beberapa orang yang

berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam

keadaan saling kebergantungan (Nadirawati, 2018).

Reiner (1980) dalam Maria H Bakri (2017) mendefinisikan

bahwa keluarga adalah kelompok yang terdiri dari dua orang atau

lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang

terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek dan nenek.

B. Tipe Keluarga

Secara umum tipe keluarga dibagi menjadi dua, yaitu

keluarga tradisional dan keluarga modern (non tradisional) (Maria H.

Bakri, 2017).

1) Tipe Keluarga Tradisional

Tipe keluarga tradisional menunjukkan sikap-sikap

homogen, yaitu keluarga yang memiliki struktur tetap dan utuh.

Beberapa tipe keluarga tradisional adalah sebagai berikut :

a) Keluarga Inti (Nuclear Family)

Keluarga inti merupakan keluarga kecil dalam satu

rumah. Dalam keseharian keluarga inti ini hidup bersama

6
dan saling menjaga. Mereka adalah ayah, ibu dan anak-

anak.

b) Keluarga Besar (Extended Family)

Keluarga besar merupakan gabungan dari beberapa

keluarga inti yang bersumbu dari suatu keluarga inti.

c) Keluarga Bentukan Kembali (Dyad Family)

Keluarga baru yang baru menikah tetapi belum

dikarunia anak atau keduanya sepakat untuk tidak memiliki

anak dulu.

d) Orang Tua tunggal (Single Parent Family)

Keluarga yang terdiri dari salah satu orang tua dengan

anak-anak akibat perceraian atau ditinggal pasangannya.

e) Keluarga Bujang Dewasa (Single Adult Family)

Keluarga yang mengambil jarak jauh atau berpisah

sementara waktu untuk kebutuhan tertentu.

2) Tipe Keluarga Modern (Non Tradisional)

Keberadaan keluarga modern merupakan bagian

perkembangan sosial di masyarakat. Salah satu faktor yang

melatarbelakangi munculnya keluarga modern adalah kebutuhan

berbagi dan berkeluarga yang tidak hanya sebatas keluarga inti.

Beberapa tipe keluarga modern (non tradisional) adalah sebagai

berikut :

7
a) The Unmarried Teenage Mother

Keluarga atau pasangan yang melakukan hubungan

seks tanpa pernikahan atau seorang ibu yang hidup dengan

anaknya tanpa pernikahan.

b) Reconstituded Nuclear

Sebuah keluarga yang tadinya berpisah, kemudian

kembali membentuk keluarga inti melalui perkawinan

kembali. Mereka tinggal dan hidup bersama anaknya, baik

dari perkawinan sebelumnya, maupun hasil dari perkawinan

baru.

c) The Stepparent Family

Sepasang suami istri yang mengadopsi anak, baik

yang sudah memiliki anak maupun belum atau kehidupan

anak dengan orang tua tirinya.

d) Commune Family

Keluarga yang hidup dalam penampungan atau

memiliki kesepakatan bersama untuk hidup dalam satu atap.

Mereka tidak memiliki hubungan darah, namun

memutuskan untuk bersama dalam satu rumah, satu fasilitas

dan pengalaman yang sama.

e) The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan

perkawinan karena beberapa alasan tertentu.

8
f) Gay and Lesbian family

Seseorang dengan jenis kelamin yang sama

menyatakan hidup bersama sebagai pasangan suami istri

(marital partners).

g) Cohibiting Couple

Dua orang atau lebih yang mempunyai kesepakatan

untuk tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan dengan

alasan beragam.

h) Group Marriage Family

Beberapa orang dewasa menggunakan alat-alat rumah

tangga bersama dan mereka merasa sudah menikah,

sehingga berbagi sesuatu termasuk seksual dan

membesarkan anak bersama.

i) Group Network Family

Keluarga inti yang dibatasi oleh aturan atau nilai-nilai,

hidup bersama atau berdekatan satu sama lainnya dan saling

menggunakan barang-barang rumah tangga bersama,

pelayanan dan tanggung jawab membesarkan anak.

j) Faster Family

Seorang anak yang kehilangan orang tuanya,

kemudian ada sebuah keluarga yang bersedia

menampungnya dalam kurun waktu tertentu sampai anak

tersebut bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.

9
k) Institusional

Anak atau orang dewasa yang tinggal dalam suatu

panti. Entah alasan dititpkan oleh keluarga atau memang

ditemukan dan kemudian ditampung oleh panti atau dinas

sosial.

l) Homeless Family

Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai

perlindungan yang permanen karena krisis personal yang

dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem

kesehatan mental.

C. Struktur Keluarga

Struktur keluarga menyatakan bagaimana keluarga disusun

atau bagaimana unit-unit data dan saling terkait satu sama lain.

Menurut Friedman (2003) dalam Nadirawati (2018) menggambarkan

struktur keluarga adalah sebagai berikut :

1) Pola dan Proses Komunikasi

Komunikasi merupakan suatu proses simbolik,

transaksional untuk menciptakan dan mengungkapkan

pengertian dalam keluarga.

2) Struktur Kekuatan

Struktur keluarga yang dapat diperluas dan dipersempit

tergantung pada kemampuan keluarga tersebut untuk merespons

stresor yang ada dalam keluarga.

10
3) Struktur Peran

Peran meunjukkan pada beberapa set perilaku yang

bersifat homogen dalam sosial tertentu. Peran lahir dari interaksi

sosial. Peran biasanya menyangkut posisi dan mengidentifikasi

status atau tempat seseorang dalam suatu sistem sosial tertentu.

4) Struktur Nilai

Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang

mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu. Sedangkan

norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan

sosial tertentu.

D. Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga menurut Denham (2003) dalam Maria H.

Bakri (2017), fungsi keluarga juga terdapat pada setiap individu

dalam keluarga. tidak hanya didalam rumah, melainkan juga

interaksinya dengan lingkungan yang dinamis. Fungsi pokok

keluarga dikelompokkan sebagai berikut :

1) Fungsi Reproduktif Keluarga

Fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga

kelangsungan keluarga terkait pola reproduksi.

2) Fungsi Sosial Keluarga

Fungsi yang mengembangkan dan melatih anak untuk

hidup bersosial sebelum meninggalkan rumah dan berhubungan

dengan orang lain. Anggota keluarga belajar disiplin, norma-

11
norma, budaya dan perilaku melalui interaksi dengan anggota

keluarganya sendiri.

3) Fungsi Afektif Keluarga

Fungsi keluarga yang saling mendukung, menghormati,

dan saling asuh. Anggota keluarga berhubungan secara dekat,

sehingga anggota keluarga mendapatkan perhatian, kasih

sayang, dihormati, mendapatkan kehangatan dan sebagainya.

4) Fungsi Ekonomi

Faktor ekonomi menjadi hal penting dalam sebuah

keluarga. ekonomi yang stabil akan menjamin kebutuhan

anggota keluarga sehingga bisa menjalankan peran dan

fungsinya dengan baik.

5) Fungsi Perawatan Keluarga

Keluarga merupakan perawat primer bagi anggotanya.

Fungsi perawatan keluarga penting untuk mempertahankan

keadaan kesehatan anggota keluarga agar memiliki produktivitas

tinggi.

E. Peran Keluarga

Adapun peran masing-masing anggota keluarga

didiskripsikan sebagai berikut :

1) Peranan Ayah

Ayah memiliki peran yang sangat penting dan strategis

dalam keluarga. Posisi ayah sering memberi rujukan anggota

12
keluarga dalam menentukan perilaku dan arah hidup keluarga.

Ayah memiliki peran sebagai pemimpin/kepala keluarga pencari

nafkah dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota

masyarakat dari lingkungannya.

2) Peranan Ibu

Dalam masyarakat peranan ibu tidak kalah penting

dengan peranan ayah. Ibu cenderung menjadi teman dan

pendidik bagi anak. Selain mengurus wilayah domestik

keluarga, ibu juga berperan sebagai salah satu anggota

kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota

masyarakat dari lingkungannya. Bahkan ibu dapat pula berperan

sebagai pencari nafkah tambahan dalam kelaurga.

3) Peranan anak

Anak menjadi objek sekaligus subjek. Anak yang

dibentuk oleh keluarga pada saat bersamaan juga memiliki

perannya sendiri. Dalam tradisi masyarakat kita, anak

melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat

perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

F. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan

Pada dasarnya menurut Friedman (2018) ada 5 yang terkait dengan

pelaksanaan asuhan keperawatan jika diterapkan pada keluarga

hipertensi yaitu :

13
1) Mengenal masalah kesehatan setiap keluarga yang terkena

penyakit.

2) Mengambil keputusan untuk tindakan keperawatan yang tepat

bagi anggota keluarga.

3) Memberikan perawatan bagi anggota keluarga.

4) Memodifikasi lingkungan rumah yang memenuhi syarat

kesehatan.

5) Menggunakan fasilitas kesehatan yaitu untuk mengetaui sejauh

mana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas/pelayanan

kesehatan masyarakat.

G. Tahap Perkembangan Keluarga

Menurut dalam Nadirawati Friedman. (2018), tahap

perkembangan keluarga adalah sebagai berikut (Nadirawati, 2018) :

1) Tahap Pasangan Baru (Beginning Family).

Keluarga dengan pasangan yang baru menikah, berawal

dari perkawinan dan membentuk keluarga baru. Tugas

perkembangan keluarga tahap ini adalah :

a) Membangun perkawinan yang saling memuaskan.

b) Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.

c) Mendiskusikan rencana memiliki anak (menjadi orang tua).

14
2) Tahap Keluarga Sedang Mengasuh Anak (Child Bearing).

Keluarga dengan kelahiran anak pertama berlanjut

sampai anak pertama berusia dari 30 bulan. Tugas

perkembangan keluarga tahap ini adalah:

a) Persiapan menjadi orang tua

b) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga : peran,

interaksi, hubungan seksual dan kegiatan.

c) Mempertahankan hubungan yang memuaskan pasangan.

3) Tahap Keluarga dengan Anak Usia Prasekolah

Tahap dimulai saat kelahiran anak pertama usia 2,5

tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas

perkembangan keluarga tahap ini adalah :

a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan

tempat tinggal, privasi dan rasa aman.

b) Membantu anak bersosialisasi.

c) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara

kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.

d) Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam

maupun diluar keluarga.

e) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.

f) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

g) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak.

15
4) Tahap Keluarga dengan Anak Sekolah

Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia

enam tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Tugas

perkembangan keluarga tahap ini adalah :

a) Membantu sosialisasi anak.

b) Mempertahankan keintiman dengan pasangan.

c) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin

meningkat termasuk kebutuhan untuk meningkatkan

kesehatan anggota keluarga.

5) Tahap Keluarga dengan Anak Remaja

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13

tahun dan berakhir 6-7 tahun kemudian. Tugas pekembangan

keluarga tahap ini adalah :

a) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung

jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan

meningkat otonominya.

b) Mempertahankan hubungan intim dalam keluarga.

c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan

orang tua, menghindari perdebatan, permusuhan dan

kecurigaan.

d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh

kembang keluarga.

16
6) Tahap Keluarga dengan Anak Dewasa

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama terakhir kali

meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak terakhir

meninggalkan rumah. Tugas perkembangan keluarga tahap ini

adalah :

a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.

b) Mempertahankan keintiman pasangan.

c) Membantu orang tua suami/istri yang sedang sakit dan

memasuki masa tua.

d) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.

e) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

7) Tahap Keluarga Usia Pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat seorang anak terakhir kali

meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau salah

satu dari pasangan meninggal. Tugas perkembangan keluarga

tahap ini adalah:

a) Mempertahankan kesehatan.

b) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan

teman sebaya dan dan anak-anak.

c) Meningkatkan keakraban pasangan.

8) Tahap Keluarga Usia Lanjut

Tahap ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun,

berlanjut salah satu pasangan meninggal sampai keduanya

meninggal. Tugas perkembangan keluarga tahap ini adalah :

17
a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

b) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman,

kekuatan fisik dan pendapatan.

c) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.

d) Mempertahankan hubungan dengan anak dan masyarakat

sosial.

e) Melakukan life review.

H. Peran Perawat Keluarga

Menurut Maria H. Bakri (2017), peran perawat keluarga

adalah sebagai berikut :

1) Pendidik

Peran perawat menyalurkan informasi berkenaan dengan

kasus tertentu dan kesehatan keluarga pada umumnya. Perawat

juga melakukan aktivitas pembelajaran dalam keluarga agar

keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan keluarga

secara mandiri dan bertanggung jawab terhadap masalah

kesehatan keluarga.

2) Koordinator

Perawat kesehatan keluarga bertindak sebagai

koordinator dalam melakukan perawatan kepada pasien.

Koordinasi diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau

terapi agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan serta

memudahkan perawatan.

18
3) Pelaksana

Perawat langsung memberikan perawatan kepada

pasiennya. Perawat dapat mendemonstasikan kepada keluarga

asuhan keperawatan yang diberikan dengan harapan anggota

keluarga yang sehat dapat memberikan asuhan langsung kepada

anggota keluarga yang sakit.

4) Pengawas kesehatan

Perawat kesehatan wajib melaksanakan home visite atau

kunjungan rumah secara teratur sebagai cara untuk mengontrol

pasien.

5) Konsultan

Perawat harus bersedia sebagai narasumber bagi

keluarga pasien, atau ketika keluarga meminta saran atau

nasehat.

6) Kolaborasi

Perawat harus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan

keluarga pasien, memiliki komunitas atau jejaring dengan

perawat lain atau pelayanan rumah sakit.

7) Fasilitator

Perawat wajib mengetahui sistem layanan kesehatan

seperti sistem rujukan, biaya kesehatan, dan fasilitas kesehatan

lainnya.

19
8) Peneliti

Perawat harus dapat berperan mengidentifikasi kasus

yang ada pada keluarga dan temuan-temuan baru untuk

kesehatan masyarakat.

9) Modifikasi lingkungan

Perawat menyampaikan kepada keluarga dan

masyarakat sekitar jika ada beberapa bagian dilingkungannya

menjadi penyebab datangnya penyakit.

I. Keluarga Rentan dan Keluarga Risiko Tinggi

1) Definisi Kelompok Rentan

Kelompok rentan merupakan kelompok yang mengalami

masalah kesehatan. Populasi ini mempunyai kemungkinan besar

terjadi penyakit daripada kelompok lainnya (Nadirawati, 2018).

2) Jenis Kelompok Rentan

a) Orang lanjut usia

b) Anak-anak

c) Fakir miskin

d) Perempuan rentan

e) Penyandang cacat

f) Kelompok minoritas

3) Masalah-Masalah pada Kelompok Rentan

a) Anak : pelanggaran hak asasi (abuse, eksploitasi, dan

diskriminasi)

20
b) Perempuan : Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

c) Penyandang cacat : diskriminasi pekerjaan, perhatian

terhadap keterbatasan yang masih kurang.

d) Kelompok minoritas : diskriminasi politik, ekonomi, sosial

dan budaya.

4) Keluarga Risiko Tinggi

Menurut Valanis (1992) dalam Nadirawati (2018) risiko

adalah suatu kondisi dari aspek psikolagi dan lingkungan

termasuk perilaku seseorang, lingkungan sosial yang

kemungkinan besar dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Risiko merupakan kemungkinan munculnya suatu kejadian

seperti status kesehatan seseorang yang terpapar oleh faktor

tertentu maka ia akan menderita suatu penyakit

tertentu.keluarga-keluarga yang tergolong risiko tinggi dalam

bidang kesehatan menurut Departeman Kesehatan antara lain :

a) Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur

dengan masalah sebagai berikut :

(1) Tingkat sosial ekonomi yang rendah

(2) Keluarga kurang tau dan tidak mampu mengatasi

masalah kesehatan sendiri

(3) Keluarga dengan keturunan yang kurang baik atau

keluarga dengan penyakit keturunan

b) Keluarga dengan ibu berisiko tinggi kebidanan, yaitu :

(1) Umur ibu (16 tahun / lebih 35 tahun)

21
(2) Menderita kekurangan gizi (anemia)

(3) Menderita hipertensi

(4) Primipara atau multipara

(5) Riwayat persalinan atau komplikasi

c) Keluarga dengan anak menjadi risiko tinggi karena :

(1) Lahir prematur (Bblr)

(2) Berat badan sukar naik

(3) Lahir dengan cacat bawaan

(4) ASI kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi

(5) Ibu menderita penyakit menular yang dapat

mengancam bayi

(6) Anak yang tidak pernah dikehendaki atau mencoba

untuk digugurkan

(7) Tidak ada kesesuaian pendapat anatar anggota keluarga

dan sering timbul cekcok dan ketegangan

(8) Ada anggota keluarga yang sering sakit

(9) Salah satu anggota keluarga (suami atau istri)

meninggal, cerai atau lari meninggalkan rumah.

22
a. Konsep Hipertensi

a. Pengertian

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur paling tidak

pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum, sesorang dianggap mengalami

hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Elizabeth j. Corwin,

2009 (dikutip dari Medikal Bedah). Hipertensi sering juga diartikan sebagai suatu

keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih

dari 80 mmHg. Arif Muttaqin, 2009. (dikutip dari Medikal Bedah).

b. Etiologi

insulin, hipertiroidisme dan pemakaian obat-obatan seperti kontasepsi oral.

23
i. Hipertensi Primer

Hipertensi primer atau esensial adalah tidak dapat diketahuin penyebabnya. Hipertensi

esensial biasanya dimulai sebagai proses labil (intermiten) pada individu pada akhir 30-

an dan 50-an dan secara bertahap “ menetap “ pada suatu saat dapat juga terjadi

mendadak dan berat, perjalanannya dipercepat atau “maligna“ yang menyebabkan

kondisi pasien memburuk dengan cepat. Penyebab hipertensi primer atau esensial

adalah gangguan emosi, obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, pola makan tidak

seimbang, kopi, obat – obatan, faktor keturunan (Brunner & Suddart, 2015). Sedangkan

menurut Robbins (2007), beberpa faktor yang berperan dalam hipertensi primer atau

esensial mencakup pengaruh genetik dan pengaruh lingkungan seperti, stress,

kegemukan, merokok, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi garam dalam jumlah

besar dianggap sebagai faktor eksogen dalam hipertensi.

ii. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder adalah kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu seperti

penyempitan arteri renalis, penyakit parenkim ginjal, berbagai obat, disfungsi organ,

tumor dan kehamilan (Brunner & Suddart, 2015). Sedangkan menurut Wijaya& Putri

(2013), penyebab hipertensi sekunder diantaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor,

diabetes, kelainan adrenal, kelainan aorta, kelianan endokrin lainnya seperti obesitas,

resistensi

24
b. Patofisiologi

Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer (periphral

resistance). Tekanan darah membutuhkan aliran darah melalui pembuluh darah yang

ditentukar oleh kekuatan pompa jantung (cardiac output) dan tahanan perifer.

Sedangkan cardiac output dan tahanan perifer dipengaruhi oleh faktor-faktor yang

saling berinteraksi yaitu natrium, sttress, obesitas, genetik, dan faktor risiko hipertensi

lainnya.

Menurut Anies 2006 (dikutip dari trend desease) peningkatan tekanan darah melalui

mekanisme :

i. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan darah lebih

banyak cairan setiap detiknya.

ii. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga

tidak dapat mengembang saat jantung memompa darah melalui

arteri tersebut.

iii. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi dapat meningkatkan tekanan

darah.

c. Manifestasi Klinis

Menurut Ardiansyah (2012). Sebagian manifestasi klinis timbul setelah penderita

mengalami hipertensi selama bertahun-tahun. Gejalanya berupa:

25
i. Nyeri kepala saat terjaga, terkadang disertai mual dan muntah

akibat peningkatan tekanan darah interakranium.

ii. Penglihatan kabur karena terjadi kerusakan pada retina sebagai

dampak dari hipertensi.

iii. Ayunan langkah yang tidak mantap karena terjadi kerusakan

susunan saraf pusat.

iv. Nokturia (sering berkemih dimalam hari) karena adanya

peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomelurus.

v. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan

kapiler.

d. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan menurut Ardiansyah (2012). Terapi obat pada penderita hipertensi

dimulai dengan salah satu obat berkut :

i. Terapi Farmakologi

1. Hidroklorotiazid (HCT) 12,5-25 mg per hari dengan dosis

tunggal pada pagi hari (pada hipertensi dalam kehamilan, hanya

digunakan bila disertai hemokonsentrasi/udem paru).

2. Reserpin 0,1 - 0,25 mg sehari sebagai dosis tunggal.

3. Propanolol mulai dari 10 mg dua kali sehari yang dapat

dinaikkan 20 mg dua kali sehari (kontraindikasi untuk penderita

asma).

26
4. Kaptopril 12,5-25 mg sebanyak dua sampai tiga kali sehari

(kontraindikasi pada kehamilan selama janin hidup dan untuk

penderita asma).

ii. Terapi Non Farmakologi

Langkah awal biasanya adalah dengan mengubah pola hidup penderita, yakni dengan

cara :

1. Menurunkan berat badan sampai batas ideal.

2. Mengubah pola makan mengikuti program diet pada penderita

diabetes, kegemukan, atau kadar kolesterol darah tinggi.

3. Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram

natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai

dengan asupan kalsium, magnesium, dan kalsium yang cukup).

4. Mengurangi mengkonsumsi alkohol.

5. Berhenti merokok

6. Olahraga aerobik yang tidak terlalu berat (penderita hipertensi

esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan

darahnya terkendali).

b. Diet DASH

DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang didirikan oleh National Health,

Lung, and Blood Institute menyarankan untuk mengkonsumsi makanan yang banyak

mengandung kalium, kalsium, magnesium, rendah lemak, dan tinggi serat. Contoh

makanan yang disarankan DASH untuk diet penyakit hipertensi adalah serealia dan

produknya, sayur, buah, susu rendah lemak, dan olahannya, daging dan ikan,

27
serta kacang-kacangan dan umbi-umbian. Diet yang disarankan DASH ini

merekomendasikan untuk lebih banyak mengkonsumsi sayur dan buah, dari aspek gizi,

buah dan sayur banyak mengandung mineral penting, seperti kalium, magnesium, dan

serat yang mampu menjaga tekanan darah tetap stabil. Dengan cukup mengkonsumsi

kalium, konsentrasi ion Na+ dalam tubuh dapat dikontrol secara hati-hati (Julianti 2005).

Pola makan yang sesuai merupakan suatu penatalaksanaan yang perlu diperhatikan oleh

penderita hipertensi, hal tersebut akan sangat membantu mengendalikan tekanan darah.

Oleh karena itu terapi diet dapat dilakukan untuk menormalkan hipetensi. Berikut ini

hal-hal yang dapat dilakukan.

a. Kurangi konsumsi natrium (Na)

Batasi penggunaan garam dalam masakan, jangan lebih bahkan lebih baik kurang dari 1

sendok teh (tidak lebih dari 2.400 mg/hari). Kandungan natrium yang terlalu tinggi

dikeluarkan melalui urin bersama kalium dalam jumlah besar. Kondisi ini bukan sesuatu

yang baik bagi jantung. Pasalnya, kalium sangat diperlukan jantung untuk aktivitasnya.

Semakin lama, kehilangan kalium dalam jumlah besar memperberat kerja jantung yang

pada akhirnya terjadi peningkatan tekanan darah. Selain itu, natrium yang berlebihan

menimbulkan pengendapan kalsium dalam persendian dan tulang belakang serta

menarik dan menahan air dalam tubuh.

b. Kurangi konsumsi energi dalam bentuk karbohidrat dan lemak

Konsumsi kalori dalam bentuk karbohidrat dan lemak akan meningkatkan aktivitas

sistem saraf simpatik yang akhirnya akan menyebabkan hipertensi. Peningkatan tekanan

darah terutama terjadi jika fleksibilitas

28
pembuluh darah menurun akibat adanya aterosklerosis, yaitu penumpukan lemak dan

kolesterol pada pembuluh darah hal ini juga yang memicu terjadinya penyakit jantung

dan obesitas. Dari total energi yang dibutuhkan, penuhi 50%--65% dari karbohidrat dan

kurang dari 30% dari lemak.

c. Batasi konsumsi pangan hewani dan tingkatan konsumsi pangan nabati

Selain memiliki kandungan lemak tinggi, umumnya panganan hewani

juga memiliki kandungan natrium tinggi.

d. Tingkatkan konsumsi bahan makan yang banyak mengandung mineral

kalium (K) dan kalsium (Ca)

Tabel 2.1 Penurunan tekanan darah berdasarkan modifikasi gaya hidup yang berkaitan

dengan diet

Perubahan Rekomendasi Estimasi Penurunan


Gaya Hidup Tekanan
Darah Sistole
Penurunan Dipertahankan BB normal 50-20 mmHg/10 kg
berat badan (IMT=18,5 – 24,9 kg/m2) penurunan berat
badan
Perencanaan Konsumsi banyak sayuran, 18 – 14 mmHg
makan DASH buah dan hasil olahan susu
rendah lemak, dan
mengurangi asupan lemak
jenuh dan kolesterol
Mengurangi Asupan natrium khlorida 2 – 8 mmHg
asupan natrium antara 1500 – 2400 mg
natrium atau 3,8 – 6 gram
NaCl per hari
Meningkatkan Meningkatkan asupan kalium 4 – 9 mmHg
asupan kalium sampai sampai 120
mm.mol/hari (4,7 gram

29
perhari)
Membatasi Bagi yang minum alkohol 2 – 4 mmHg
asupan alkohol
Sumber: Sientific Statment from AHA (American Heart Association) 200

Berikut gambaran pola makan dan menu harian diet DASH berdasarkan hitungan 2000

kalori/hari :

Tabel 2.2 Perencanaan Makan dengan DASH 2000 kalori/hari

Kelompok Makanan Jumlah Ukuran Porsi


Porsi
Produk gandum 6-8 / hari 1 helai roti
½ mangkuk sedang nasi, pasta,
atau sereal
*diutamakan memilih produk
whole grain
Daging, unggas, dan ≤6 / hari 30 gram daging, unggas, ikan
ikan 1 butir telur
Sayuran 4-5 / hari 1 mangkuk sayur mentah
½ mangkuk sayur matang
½ gelas sayuran
Buah-buahan 4-5 / hari 1 buah segar
½ mangkuk buah kalengan
½ gelas jus buah segar
Produk susu rendah 2-3 / hari 1 gelas susu
lemak 40 gram keju

30
Lemak dan minyak 2-3 / hari 1 sendok teh margarin
1 sendok makan mayonnaise
2 sendok makan salad dressing
Kacang-kacangan 4-5 / hari 40 gram kacang-kacangan
2 sendok makan selai kacang
Sumber: Julianti:”Bebas Hipertensi dengan Terapi Jus”2005

Tabel 2.3 Contoh menu sehari dengan kombinasi jus buah dan sayur Kandungan gizi:

kalori ±2054,4 kkl, Protein ±75,52 g, Lemak ±47,63 g, Karbohidrat ±333,54 g, Natrium

±472,99 mg, Kalium ±3618,31 mg,

Kalsium ±1095,56 mg

Waktu Jenis Makanan Ukuran


Nasi 7 sdm munjung*
Omlet sayuran 1 potong (1 butir telur,
20 g wortel, 20 g
Makan pagi
bawang daun)
Tomat Susu 2 iris
skim 1 gelas
Makan selingan Jus kacang kedelai 1 gelas (20 g kacang
(pukul 10.00) kedelai kering, ½ gelas
susu skim bubuk)
Makan siang Nasi 10 sdm munjung*
Ikan kakap bakar 1 potong sedang
Tumis kacang panjang 1 mangkok
Jus wortel nanas 1 gelas (50 g wortel, 100
g nanas, ½ gelas air
matang)
Makan selingan Jus belimbing 1 gelas (1 buah blimbing
(17.00) manis, 2 sdm susu skim

31
bubuk, 1 sdm jeruk
nipis).

Makan malam Nasi 10 sdm munjung


Ayam goreng tepung 1 potong sedang
Sayur bayam bening 1 mangkok sedang
Jus apel seledri 1 gelas ( 2 buah apel, 20
g seledri, ½ gelas air
matang dingin).
Sumber: Julianti:”Bebas Hipertensi dengan Terapi Jus”2005

c. Konsep Asuhan keperawatan Keluarga dengan Hipetensi

a. Pengkajian
Proses pengakajian keluarga ditandai dengan pengumpulan informasi terus menerus dan

keputusan professional yang mengandung arti terhadap informasi yang dikumpulkan.

Pengumpulan data keluarga berasal dari berbagai sumber : wawancara, observasi rumah

keluarga dan fasilitasnya, pengalaman yang dilaporkan anggota keluarga. Pengkajian

keluarga dengan anggota keluarga hipertensi Format pengkajian keluarga model

Friedman yang diaplikasikan ke kasus dengan masalah utama Hipertensi menurut

Friedman (2010), meliputi :

i. Data umum

Menurut Friedman (2010), data umum yang perlu dikaji adalah :

Nama kepala keluarga dan anggota keluarga, alamat, jenis kelamin, umur, pekerjaan dan

pendidikan. Pada pengkajian pendidikan diketahui bahwa pendidikan atau pengetahuan

berpengaruh pada kemampuan dalam mengatur pola makan dan pentingnya diet pada

penderita hipertensi. Sedangkan pekerjaan yang terlalu sibuk dapat mengakibatkan

kurangnya perhatian bagi penderita hipertensi (Raihan, 2014).

32
1. Tipe keluarga

Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang

terjadi dengan jenis/tipe keluarga yang mengalami hipertensi.

2. Suku bangsa

Identifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan. Biasanya keluarga

dengan penderita hipertensi mempunyai budaya tidak terlalu memperhatikan menu

makanan bagi penderita

3. Status sosial ekonomi keluarga

Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga

maupun dari anggota keluarga lainnya. Pada pengkajian status sosial ekonomi

diketahui bahwa tingkat status sosial ekonomi berpengaruh pada tingkat kesehatan

seseorang. Dampak dari ketidakmampuan keluarga membuat seseorang tidak bisa

mencukupi kebutuhan nutrisi keluarga (Padila, 2012). Biasanya keluarga dengan

hipertensi tidak mengenal tingkatan ekonomi semua kalangan berpotensi mengalami

kejadian tersebut.

ii. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

33
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti.

Biasanya keluarga dengan hipertensi berada pada tahap perkembangan usia

pertengahan (40 – 60 tahun) (Friedman,2010).

1) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi oleh

keluarga serta kendala-kendala yang dialami (Padila, 2012). Biasanya keluarga belum

mampu mempertahankan kesehatan keluarga.

2) Riwayat keluarga inti

Menjelaskan riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga inti, upaya

pencegahan dan pengobatan pada anggota keluarga yang sakit, serta pemanfaatan

fasilitas kesehatan yang ada. Biasanya keluarga dengan hipertensi tidak menyadari

kondisi tanda dan gejala pada penderita.

iii. Pengkajian Lingkunga

a. Karakteristik rumah

Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat tipe rumah, jumlah ruangan, jenis

ruang, jumlah jendela, jarak septic tank dengan sumber air, sumber air minum yang

digunakan, tanda cat yang sudah mengelupas, serta dilengkapi dengan denah rumah

(Friedman, 2010). Kondisi lingkungan yang tidak stabil dan jauh dari prilaku hidup

bersih dan sehat dapat menimbulkan stress berkepanjangan yang merupakan salah satu

faktor terjadinya hipertensi.

iv. Fungsi Keluarga

34
1. Fungsi afektif

Hal yang perlu dikaji seberapa jauh keluarga saling asuh dan saling mendukung,

hubungan baik dengan orang lain, menunjukkan rasa empati, perhatian terhadap

perasaan (Friedman, 2010). Ketidak mampuan keluarga melakukan fungsi afektif

membawa pengaruh besar terhadap anggota keluarga yang mengalami hipertensi.

2. Fungsi sosialisasi

Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota

keluarga belajar disiplin, penghargaan, hukuman, serta memberi dan menerima cinta

(Friedman, 2010).

1. Fungsi perawatan kesehatan

a) Keyakinan, nilai, dan prilaku kesehatan : menjelaskan nilai yang

dianut keluarga, pencegahan, promosi kesehatan yang dilakukan

dan tujuan kesehatan keluarga (Friedman, 2010). Biasanya

keluarga tidak mengetahui pencegahan yang harus dilakukan

terhadap penderita hipetensi.

b) Status kesehatan keluarga dan kerentanan terhadap sakit yang

dirasa : keluarga mengkaji status kesehatan, masalah kesehatan

yang membuat kelurga rentan terkena sakit dan jumlah kontrol

kesehatan (Friedman, 2010). Bisanya keluarga tidak mampu

mengkaji status kesehatan anggota keluarga yang mengalami

c) hipertensi.

35
d) Praktik diet keluarga : keluarga menegtahui sumber makanan

yang dikonsumsi, cara menyiapkan makanan, banyak makanan

yang dikonsumsi perhari dan kebiasaan mengkonsumsi

makanan kudapan (Friedman, 2010). Biasanya keluarga tidak

terlalu memperhatikan menu makanan, sumber makanan dan

banyak makanan yang tersedia untuk penderita hipertensi.

e) Peran keluarga dalam praktik keperawatan diri : tindakan yang

dilakukan dalam memperbaiki status kesehatan, pencegahan

penyakit, perawatn keluarga dirumah dan keyakinan keluarga

dalam perawatan dirumah (Friedman, 2010). Biasanya keluarga

dengan hipertensi tidak tau cara pencegahan penyakit dan

mengenal penyakit.

f) Tindakan pencegahan secara medis : kepatuhan terapi obat,

pemeriksaan riwayat kesehatan. Biasanya keluarga tidak

memperhatikan kepatuhan terapi pengobatan pada penderita

hipertensi.

1. Fungsi sosialisasi

Pada kasus penderita hipertensi, dapat mengalami gangguan fungsi sosial baik

didalam keluarga maupun didalam komunitas sekitar keluarga (Padila, 2012).

2. Fungsi reproduksi

Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah : berapa jumlah anak,

apa rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga .

36
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. Pengkajian Keluarga

I. Data Umum

1. Nama KK (inisial) : Ny.N

2. Alamat : Jorong Saruaso Utara

3. Pekerjaan : Petani

4. Pendidikan : SLTP

5. Komposisi Keluarga :2

N Nam Jk Hub Umu Pddk Status Imunisasi Ket


BCG Polio DPT Hepatitis Campak
o a Dg r
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
Kk
1 Ny.N P KK 64 SLTP - - - - - - - - - - - -

2 Ny.A P Ibu 74 SD - - - - - - - - - - - -
Skema 1.1 Genogram Keluarga

NY.A
X

X
NY.N

Ket :

: Laki-Laki x : Meninggal

: Perempuan : Pasien

: yang tinggal serumah

Kesimpulan :Di dalam keluarga Ny.N mempunyai 2 orang anak, satu laki-laki dan

Satu perempuan, tetapi anaknya sudah menikah dan tidak tinggal serumah dengan

Ny.N. dan suami dari Ny.N sudah meninggal sejak lebih kurang 12 tahun yang lalu.

Ny. N Tinggal berdua dengan Orang tuanya ( Ibunya ) Ny.A

6. Tipe Keluarga

Tipe keluarga Ny.N Adalah single Family ( keluarga janda ) yang terdiri dari Ny.N

dan orang tuanya (ibunya ) Ny. A


7. Suku Bangsa

Suku bangsa Ny.N ,Ny.A merupakan suku Minang ,bahasa yang digunakan sehari

hari adalah bahasa minang.Ny,N Mengatakan tidaka da budaya khusus terkait

kesehatan yang berhubungan dengan suku bangsanya.

8. Agama

Ny.N,Ny.A beragama Islam serta anak beragama yang sama, setiap hari Ny.N

melaksanakan Sholat 5 waktu berjamaah dimusholah dekat rumahnya,sedangkan

Ny.A Sholat sendiri dirumah.Ny.N mengatakan dirinya juga mengikuti pengajian

dikampungnya.

9. Status Sosial Ekonomi Keluarga

Sumber pendapatan di peroleh dari Anak Ny.N yang selalu mengirimkan uang

setiap bulannya. Ditambah hasil sawahnya sekali 4 bulan.

10. Aktivitas Rekreasi Keluarga

Rekreasi digunakan untuk mengisi kekosongan waktu dengan menonton televisi

dan mendengarkan radio.rekreasi keluar rumah yaitu rekreasi ke luar kota tempat

Anak anak Ny.N.

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

11. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini

Tahap perkembangan keluarga Ny.N merupakan Tahap perkembangan usia

pertengahan atau lansia

12. Tugas Perkembangan Keluarga Yang belum Terpenuhi yaitu dalam memberikan

perawatan pada anggota keluarga yang sakit.membantu orang tua lanjut usia dan

sakit sakitan.
13. Riwayat Kesehatan Keluarga Inti

Pada saat melakukan pengkajian Ny.N mengatakan mempunyai riwayat

penyakit hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, Ny.N mengatakan jika tekanan

darahnya naik kepala terasa pusing ,terasa sakit dan menjalar ke punggung

dengan skala nyeri 4 ,kaki dan tangan kesemutan,sulit beraktifitas .Ny.N

mengatakan masih mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak

garam ,berlemak dan bersantan,sedangkan Ny.A tidak memiliki sakit

apapun hanya saja karena sudah tua dan lansia biasanya .

Saat pengkajian :

TD : 199/113 mmhg S : 36,9 celcius BB : 57 Kg

N : 91 x/m R : 22 x/m TB : 153 cm

14. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya

Ny.N mengatakan memiliki riwayat penyakit keturunan dari bapaknya yaitu

hipertensi,sedangkan Ny.A tidak memiliki riwayat penyakit keturunan apapun.

III. Pengkajian Lingkungan

15. Karakteristik Rumah

Memiliki sirkulasi udara yang baik, memiliki sistem sanitasi yang baik, dan

memiliki sistem penerangan ruang yang baik.Satu Rumah yang ditempati keluarga

Ny. N adalah rumah pibadi dengan luas ± 10 x15 m² dengan tipe rumah

permanen , lantainya keramik didalam rumah ada dua kamar tidur, satu ruang tamu,

satu gudang, satu ruang keluarga, satu dapur, satu ruang makan dan satu kamar

mandi, memiliki ventilasi yang baik untuk pertukaran udara dan diruangan yang

lain sudah memiliki ventilasi juga.Sumber air di keluarga ini adalah PDAM,

kualitas air bersih tidak berbau tidak berasa dan tidak berwarna. WC / jamban

( leher angsa) keluarga ada dalam rumah. .


Di depan rumah Ny. N ada halaman yang cukup luas yang terlihat tertata

dengan di tanami beberapa macam bunga oleh Ny. N keluarga tidak memiliki

kandang hewan dekat rumah. Untuk sarana penerangan Ny.N menggunakan listrik.

Sedangkan untuk limbah rumah tangganya seperti sampah basah dan kering

dibuang. Serta untuk limah air mandi, air cucian piring, baju dan lain-lain dialirkan

ke got perumahan.

Skema 1.2 Denah Rumah

Dapur Gudang

Kamar
Kamar Ruang mandi

mandi Nonton

Kamar 1

Ruang
tamu
Kamar 2

Pintu depan

Teras

Halaman rumah

Berdasarkan denah rumah diatas menjelaskan bahwa rumah tersebut terdiri dari 2 buah

kamar tidur, 1 buah kamar mandi, 1 ruang tamu, 1 ruang nonton tv atau keluarga , dan 1

dapur untuk tempat memasak keluarga dan terdapat satu buah gudang.

16. Karakteristik Tetangga Dan Komunitas

Keluarga Ny.N tingggal dilingkungan yang berpenduduk padat ,mayoritas

penduduknya bersuku minang,tetangga ada yang petani,wiraswasta,PNS, dan


lainnya.Hubungan antar tetangga saling membantu, bila ada tetangga yang

mengadakan acara atau pesta dikerjakan saling membantu, dan jika ada pengkajian

Ny.N selalu ikut pengajian di mushola jika tidak sakit. Saat covid 19 penduduk

sekitar keluarga Ny.N banyak melakukan aktivitas dirumah untuk pemutusan rantai

penularan covid 19

17. Mobilitas Geografis Keluarga

Keluarga Ny.N sudah lama tinggal dirumah tersebut dimana rumah tersebut

merupakan peninggalan suaminya untuk anak anaknya .rumah keluarga Ny.N

jaraknya 30 meter dari jalan raya ,jenis kendaraan yang digunakan biasanya seoeda

motor.

18. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Komunitas

Didalam masyarakat Ny.N mengikuti perkumpulan bersama masyarakat

,keluarga Ny.N juga mengikiti pengajian dilingkungannya disamping

bersosialisasi keluarga juga melakukan pekerjaan rumahnya.

19. Sistem Pendukung Keluarga

Keluarga Ny.N memiliki kartu BPJS dan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan

yaitu Puskesmas.

IV. Struktur Keluarga

20. Pola Komunikasi Keluarga

Anggota keluarga menggunakan bahasa minang dan indonesia dalam

berkomunikasi sehari-harinya, berkomunikasi dengan keluarga yang jauh

menggunakan handphone dengan menelphone atau videocall.

21. Struktur Kekuatan Keluarga


Ny.N selalu memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Ny.N memiliki

kakak yang selalu mengingatkanya untuk selalu kontrol tentang penyakitnya ke

bidan desa dan puskesmas di sekitar rumahnya

22. Struktur Peran (formal dan informal)

Ny.N sebagai Ibu dari anak anaknya dan sejak suaminya meninggal yang

memenuhi segala kebutuhan Ny.N adalah anak anak nya karna Ny.N tidak mampu

bekerja lagi dan suami dan anaknya sudah meninggal.

23. Nilai atau Norma Keluarga

Nilai-nilai norma dari keluarga tersebut mempunyai nilai kekeluargaan sesuai

dengan agama islam dan sehingga tidak ada masalah.

V. Fungsi Keluarga

24. Fungsi Afektif

Hubungan antara keluarga baik, semua anggota keluarga selalu melindungi dan

menyayangi.

25. Fungsi Sosialisasi

Kadang keluarga berkumpul di rumah, hubungan dalam keluarga baik dan selalu

mentaati norma yang baik.

26. Fungsi Perawatan Keluarga

a. Praktik diit keluarga

Penyediaan makanan selalu dimasak terdiri komposisi, nasi, lauk pauk, dan sayur

dengan frekuensi 3 kali sehari, , Anggota keluarga memiliki aktifitas yang padat
pada siang harinya.Namun bila ada anggota keluarga yang sakit keluarga merawat

dan mengantarkan ke rumah sakit atau kepuskesmas langsung. Dalam merawat

Ny.N keluarga memberi makanan yang sama dengan anggota keluarga yang lain.

Ny.N jarang mengkonsumsi buah.

b. Kebiasaan tidur dan istirahat

Ny.N selalu tidur cukup yaitu dari pukul 21.00 sampai pukul 04.00 ,dan Ny.N

selalu tidur siang kurang lebih 1 jam,yaitu dari sebelum zuhur sampai setelah

zhuhur

c. Latihan fisik dan rekreasi

Ny.A selalu berolaraga dengan jalan pagi setiap subuh setelah sholat subuh,dan

pergi

Ke rumah keluarganya jika lagi suntuk.

d. Kebiasaan pengunaan obat obat penenang

Ny.A tidak pernah mengkonsumsi obat penenang

e. Peran keluarga dalam praktik perawatan diri

Keluarga

f. Praktik perawatan gigi

g. Pelayan perawatan gawat darurat

h. Sumber pembiayaaan

VI. Stres dan Koping Keluarga

27. Stresor jangka Pendek dan Jangka Panjang

Stresor jangka pendek : Ny.N harus meminum obat rutin setiap hari.

Stresor jangka panjang : Ny.N karena tekanan darahnya tinggi dan dampak dari

meminum obat rutin terus menerus.


28. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap Situasi/ Stresor

Keluarga tenang dalam menghadapi masalah jika ada anggota keluarganya yang

sakit langsung di bawa ke puskesmas atau kerumah sakit untuk berobat. Dan

keluarga saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan dan makan secara teratur.

29. Strategi Koping Konstruktif yang digunakan

Anggota keluarga selalu bermusyawarah jika ada masalah dan menyelesaikannya

bersama-sama.

30. Strategi Adaptasi Disfungsional

Tidak pernah terdapat perselisihan antara anggota keluarga dalam mengambil suatu

keputusan.

Dan jika Ny. N merasa sakit kepala dan terasa berat di tekuk Ny.N selalu minum

air rebusan alpokat.

VII. Pemeriksaan Fisik

No Pemeriksaan Ny.N Ny.A


1 Vital sign Cukup baik Baik

2 Kepala TD : 179/110 mmHg TD : 120/80 mmHg


N : 91X/i N : 83X/i
S : 36,9 c S : 36,8 c
RR : 22X/i RR : 21X/i

3 Mata Inspeksi : Inspeksi :


simetris, rambut bersih dan lurus,
penyebaran rambut rata, muka tidak
simetris, rambut bersih pucat, lesi (-), jejas (-)

hitam dan keriting, Palpasi:


pembengkakan (-), nyeri tekan
(-)
penyebaran rambut rata,
muka tidak pucat, lesi (-),

jejas (-)

Palpasi:

pembengkakan (-), nyeri

tekan (-)
4 Hidung Inspeksi : Inspeksi :

konjungtiva merah muda, konjungtiva merah muda, sklera putih,

sklera  putih,  pupil  isokor, pupil isokor, Ny.A tidak mengunakan

Ny.N menggunakan  kacam kacamata ketika membaca, mata bersih

ata ketika membaca, mata tidak ada kotoran.

bersih tidak ada kotoran.


Palpasi :

Palpasi :
Pembengkakan (-)

Pembengkakan (-)
5 Telinga Inspeksi : Inspeksi :

Simetris, nyeri (-), luka (-), Simetris, nyeri (-), luka (-), benjolan (-),

benjolan (-), Penciuman Penciuman (+)

(+)  dapat  mencium  maka
Dapat  mencium  makanan
nan dan membedakan bau-
dan  membedakan  bau -baunya.
baunya.
Palpasi :
Palpasi :
Nyeri (-)
Nyeri (-)
6 Mulut Inspeksi : Inspeksi :
dan
Gigi Keadaan mulut bersih, Keadaan mulut bersih, mukosa bibir
mukosa bibir lembab, lembab,karies gigi (-) dan gigi tidak

karies gigi (-) dan gigi lengkap. Gangguan menelan (-).

lengkap tidak ada yang

ompong,  gangguan

menelan (-)

Palpasi :
Palpasi :

Bengkak (-), Nyeri (-)


Bengkak (-), Nyeri (-)
7 Leher Inspeksi: Inspeksi:

Pendengaran masih baik, Pendengaran masih baik, luka (-), kotoran

luka (-), kotoran yang yang keluar (-).

keluar (-).
Palpasi :

Palpasi :
Nyeri  tekan  (-), pembengkakan (-)

Nyeri  tekan (-),

pembengkakan (-)
8 Dada Inspeksi : Inspeksi :

Bentuk normal, Bentuk normal,

Palpasi : Palpasi :

Pembesaran kelenjer tiroid Pembesaran kelenjer tiroid (-), kelenjer

(-), Kelenjer Limfa (-), Limfa (-), Vena jugularis (+), Nyeri tekan

Vena jugularis (+), Nyeri (-).

tekan (-).

ROM :
ROM :
Ny.A dapat melakukan
Ny. N dapat melakukan
menoleh kekiri dan kekanan
menoleh kekiri dan
(right lateral dan left lateral),
kekanan (right lateral dan
left rolation dan right rolation,
left lateral), left rolation
Fleksi, ekstensi dan
dan right rolation, Fleksi,
hiperektensi.
ekstensi dan hiperektensi
9 Jantung Jantung Jantung

inspeksi : inspeksi :

letus cardis tidak tampak. letus cardis tidak tampak.

Palpasi : Palpasi :

ictus kordis teraba di ics 5 ictus kordis teraba di ics 5 sinistra

sinistra midclavikula midclavikula

Perkusi : Perkusi :

Batas kiri jantung bagian Batas kiri jantung bagian atas : Sinistra

atas : Sinistra intra intra costa(SIC) II kiri di linea

costa(SIC) II kiri di linea parastrenalis kiri .

parastrenalis kiri .
Batas kiri jantung bagian bawah : Sinistra

Batas kiri jantung bagian intra Costa (SIC) V kiri agak ke

bawah : Sinistra intra Costa medial  lineal midklavikularis kiri.

(SIC) V kiri agak ke


Batas kanan jantung bagian bawah :
medial  lineal
Di sekitar ruang interkostal III-IV kanan,
midklavikularis kiri. di linea parasternalis kanan. Bagian kiri

jantung bagian atas : ruang interkostal II


Batas kanan jantung bagian
kanan lineal parasternalis kanan.
bawah :

Pekak pada area jantung.


Di sekitar ruang interkostal

III-IV kanan, di linea Auskultasi:

parasternalis kanan. Bagian


Bunyi normal s1 dan s2, tidak ada bunyi
kiri jantung bagian atas :
tambahan.
ruang interkostal II kanan
Reguler
lineal parasternalis kanan.

HR : 91
Pekak pada area jantung.

Auskultasi:

PARU :
Bunyi normal s1 dan s2,

tidak ada bunyi tambahan. Inspeksi :

Reguler Dada  simetris  menggunakan otot bantu

nafas tidak ada (-).


HR : 91

Palpasi :
PARU :

Kesimetrisan paru dengan menggunakan


Inspeksi :
telapak tangan, taktil premitus sama.
Dada  simetris  menggunak
Perkusi :
an otot bantu nafas tidak

ada (-). Sonor pada area paru

Palpasi : Auskultasi :
Kesimetrisan paru dengan Vesikuler, suara lapang paru kiri dan

menggunakan telapak kanan sama, Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-),

tangan, taktil premitus RR :21X/i

sama.

Perkusi :

Sonor pada area paru

Auskultasi :

Vesikuler, suara lapang

paru kiri dan kanan sama,

Wheezing (-/-), Ronkhi

(-/-), RR :22X/i

10 Abdomen Inspeksi : Inspeksi :

Simetris, lesi (-), jejas (-), Simetris, lesi (-), jejas (-), benjolan (-)

benjolan (-)
Palpasi :

Palpasi :
nyeri tekan (-) nyeri lepas (-), massa (-)

nyeri tekan (-) nyeri lepas


Perkusi :
(-), massa (-)
tympani pada daerah abdomen dan
Perkusi :
terdengar pekak di daerah hati

tympani pada daerah


Auskultasi:
abdomen dan terdengar
Bising usus (+): 5-10x/i searah jarum
pekak di daerah hati
Auskultasi: jam

Bising usus (+):5-10x/i

searah jarum jam

11 Ekstremitas Ekstremitas atas : Ekstremitas atas :

tidak ada keluhan pada tidak ada keluhan pada ekstremitas atas

ekstremitas atas
Ekstremirtas bawah :

Ekstremitas bawah :
Tidak ada keluhan pada ekstremitas

Tidak ada keluhan pada bawah.

ekstremitas bawah.
Kekuatan otot : penuh

Kekuatan otot : penuh


555 555

555 555
555 555

555 555
VIII. Harapan Keluarga

Keluarga berharap semoga Ny.N selalu diberi kesehatan dan semangat

dalam menjalani hidup, dan Ny. N berharap semoga anaknya sukses dan jadi

orang yang berguna, dan keluarga juga berharap pada petugas kesehatan untuk

membantu mengatasi masalah penyakit pada Ny. N.

1. Data Fokus

Tabel 3.3 Data Fokus

Data Subjektif Data Objektif


- Keluarga Ny.N mengatakan ingin - Vital Sign
mengetahui lebih jauh cara - TD : 179 /110 mmHg
perawatan kesehatan dengan - Nadi : 90 x/i
hipertensi. - Suhu : 36,7 °C
- Ny. N mengatakan kurang - RR : 22 x/i
mengetahui bagaimana cara - BB : 50 Kg
merawat hipertensi. - Skala nyeri 4
- Ny. N mengatakan saat tekanan - Ny. N tampak gelisah
darahnya naik kepala pusing, - Keluarga Ny. N tampak
terasa sakit dan menjalar sampai masih kurang memahami
ke punggung, kaki dan tangan tentang penyakit yang
kesemutan, sulit beraktivitas. diderita
- Ny. N mengatakan pergi ke - Keluarga Ny. N tampak
puskesmas apabila sakit saja menunjukkan minat untuk
- Ny. N mengatakan mempunyai meningkatkan kesehatan
riwayat hipertensi yang dia dapat keluarganya dengan bertanya
dari Bapaknya tentang perilaku hidup bersih
- Ny.N mengatakan memiliki dan sehat serta perawatan
riwayat hipertensi ± 5 tahun - Keluarga tampak antusias
yang lalu dengan pembahasan
- Ny. N mengatakan tidak mampu mengenai peningkatan
melakukan aktivitas yang berat kesehatannya
- Ny. N mengatakan ia sering - Keluarga Ny.N tampak
mengalami pusing berupaya mengatasi masalah
- Keluarga Ny. N mengatakan yang sedang dihadapi
masih mengkosumsi makanan dengan mencari informasi
yang mengandung lemak dan ketetangga sebagai bantuan
bersantan - Keluarga masih bingung
-Keluarga Ny. N mengatakan akan dengan perawatan hipertensi
mengupayakan pengobatan, dengan raut wajah / kening
pencegahan, dan perawatan yang mengkerut dan pada
kesehatan keluarga. saat ditanya keluarga hanya
- Keluarga Ny. N mengatakan diam
sudah mengurangi makanan yang - Keluarganya jarang
mengandung banyak garam memeriksakan kesehatan ke
- KeluarganNy.N jarang pelayanan kesehatan, hanya
melakukan kegiatan olahraga dan ketika sakit saja ke
kegiatan lainnya yang dapat pelayanan kesehatan
meningkatkan status kesehatan - Ny. N tampak meminum
- Keluarga Ny.N mengatakan obat rutin hipertensi
pengelolaan sampah dengan cara - Tugas kesehatan keluarga
dibakar yang belum terpenuhi
- Ny.N mengatakan ia berharap seperti berperilaku hidup
agar penyakitnya dapat sembuh bersih dan sehat.
dengan segera. - Tampak adanya bekas
- Keluarga mengatakan akan pembakaran sampah di
menerapkan perilaku hidup sehat: halaman rumah
mencuci tangan dengan sabun,
memakai masker, dan menjaga
jarak

2. Analisa Data

Tabel 3.4 Analisa Data

No Analisa Data Masalah


1. DS : Pemeliharaan
- Ny. N mengatakan memiliki riwayat Kesehatan Tidak
hipertensi ± 1 tahun yang lalu Efektif (D.0117)
- Ny. N mengatakan saat tekanan
darahnya naik kepala pusing, terasa
sakit dan menjalar sampai ke
punggung, kaki dan tangan kesemutan,
sulit beraktivitas.
- Ny. N mengatakan tidak mampu
melakukan aktivitas yang berat
- Ny. N mengatakan ia sering mengalami
pusing
- Ny. Nmengatakan kurang mengetahui
bagaimana cara merawat hipertensi
- Ny. J mengatakan pergi ke puskesmas
apabila sakit saja

DO :
- Ny. N tampak gelisah
- Keluarga Ny.N tampak masih kurang
memahami tentang penyakit yang
diderita
- Skala nyeri 4
- TD : 179 /110 mmHg
- Nadi : 90 x/i
- Suhu : 36,7 °C
- RR : 22 x/i
- BB : 50 Kg
2 DS : Perilaku Kesehatan
- Keluarga Ny.N mengatakan masih Cenderung Beresiko
mengkonsumsi makanan yang (D.0099)
mengandung lemak, bersantan dan
makanan yang mengadum banyak
garam
- Keluarga Ny.N jarang melakukan
kegiatan olahraga dan kegiatan lainnya
yang dapat meningkatkan status
kesehatan
- Keluarga Ny.N mengatakan
pengelolaan sampah dengan cara
dibakar
DO :
- Tampak adanya bekas pembakaran
sampah di halaman rumah
- Keluarga masih bingung dengan
perawatan hipertensi dengan raut
wajah/kening yang mengkerut dan
pada saat ditanya keluarga hanya diam
- Keluarganya jarang memeriksakan
kesehatan ke pelayanan kesehatan,
hanya ketika sakit saja ke pelayanan
kesehatan
- Tugas kesehatan keluarga yang belum
terpenuhi seperti berperilaku hidup
bersih dan sehat.
3 DS : Kesiapan
- Keluarga Ny.N mengatakan akan Peningkatan Koping
mengupayakan pengobatan, Keluarga
pencegahan, dan perawatan kesehatan (D.0090)
keluarga.
- Ny. N mengatakan ia berharap agar
penyakitnya dapat sembuh dengan
segera.
- Keluarga mengatakan akan
menerapkan perilaku hidup sehat:
mencuci tangan dengan sabun,
memakai masker, dan menjaga jarak.
DO :
- Keluarga Ny.N tampak menunjukkan
minat untuk meningkatkan kesehatan
keluarganya dengan bertanya tentang
perilaku hidup bersih dan sehat serta
perawatan.
- Keluarga tampak antusias dengan
pembahasan mengenai peningkatan
kesehatannya
- Keluarga Ny.N tampak berupaya
mengatasi masalah yang sedang
dihadapi dengan mencari informasi
sebagai bantuan
3. Skoring

Tabel 3.5
Skor Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan

No Kriteria Bobot Nilai Pembenaran


1 Sifat Masalah : Keluarga kurang
Skala : mampu
 Tidak/ Kurang sehat/Aktual (3) 3 1 3/3 x 1 memelihara
 Ancaman Kesehatan/Resiko (2) =1 kesehatan
 Keadaan Sejahtera/Potensial (1)

2 Kemungkinan Masalah dapat Masalah dapat


diubah diubah sebagian
Skala : dengan keinginan
 Mudah (2) 2 2 2/2 x 2 keluarga untuk
 Sebagian (1) =2 mencapai
 Tidak Dapat (0) kesehatan yang
baik
3 Potensial Masalah untuk Dicegah Keinginan
Skala : keluarga untuk
 Tinggi (3) 3 1 3/3 x 1 mencari tahu cara
 Cukup (2) =1 pemeliharaan
 Rendah (1) kesehatan agar
terhindar dari
penyakit cukup
baik
4 Menonjolnya Masalah Keluarga
Skala : menyadari
 Masalah berat, harus 2 1 2/2 x 1 masalah dan
segera ditangani (2) =1 menangani agar
 Ada masalah tetapi masalah
tidak perlu ditangani (1) kesehatan dapat
 Masalah tidak dirasakan (0) teratasi
Jumlah 10 5
Tabel 3.6
Skor Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko

No Kriteria Bobot Nilai Pembenaran


1 Sifat Masalah : Keluarga kurang
Skala : mampu
 Tidak/ Kurang sehat/Aktual (3) 3 1 3/3 x 1 menjalankan
 Ancaman Kesehatan/Resiko (2) =1 perilaku hidup
 Keadaan Sejahtera/Potensial (1) sehat
2 Kemungkinan Masalah dapat Masalah dapat
diubah diubah sebagian
Skala : 1 2 1/2 x 2 dengan
 Mudah (2) =1 keinginan
 Sebagian (1) keluarga untuk
 Tidak Dapat (0) mencapai
kesehatan yang
baik
3 Potensial Masalah untuk Dicegah Keinginan
Skala : keluarga untuk
 Tinggi (3) 2 1 2/3 x 1 mencari tahu
 Cukup (2) = 2/3 perilaku hidup
 Rendah (1) sehat untuk
terhindar dari
penyakit cukup
baik
4 Menonjolnya Masalah Keluarga
Skala : 2 1 2/2 x 1 menyadari
 Masalah berat, harus =1 masalah dan
segera ditangani (2) menangani agar
 Ada masalah tetapi masalah
tidak perlu ditangani (1) kesehatan dapat
 Masalah tidak dirasakan (0) teratasi
Jumlah 8 3 2/3
Tabel 3.7
Skor Kesiapan Peningkakan Koping Keluarga

No Kriteria Bobot Nilai Pembenaran


1 Sifat Masalah :
Skala : Adanya
 Tidak/ Kurang sehat/Aktual (3) ancaman
 Ancaman Kesehatan/Resiko (2) 1 1/3 × 1 1/3 kesehatan tetapi
 Keadaan Sejahtera/Potensial (1) tidak perlu
ditangani
segera
2 Kemungkinan Masalah dapat diubah Membawa
Skala : keluarga ke
 Mudah (2) pelayanan
 Sebagian (1) 2 1/2 × 2 1 kesehatan untuk
 Tidak Dapat (0) mendapatkan
pengobatan dan
perawatan
3 Potensial Masalah untuk Dicegah Pencegahan bisa
Skala : dilakukan
 Tinggi (3) 1 2/3 × 1 2/3 dengan menjaga
 Cukup (2) pola hidup dan
 Rendah (1) pola makan

4 Menonjolnya Masalah
Skala : Keluarga bisa
 Masalah berat, harus menerima
segera ditangani (2) 1 1/2 × 1 1 keadaan saat ini
 Ada masalah tetapi meskipun belum
tidak perlu ditangani (1) stabil
 Masalah tidak dirasakan (0)

Total skor 5 3

4. Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga

a. Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif

b. Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko

c. Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga


B. Intervensi Keperawatan

Tabel 3.8 Intervensi Keperawatan

Data SDKI SLKI SIKI

Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi


DS : D.0117 Pemeliharaan Keluarga mampu Keluarga mampu
- Ny. N mengatakan memiliki kesehatan tidak mengenal masalah : mengenal masalah :
riwayat hipertensi ± 1 tahun efektif L.12111 Tingkat pengetahuan I.12444 Edukasi: proses
yang lalu penyakit
- Ny. N mengatakan saat
tekanan darahnya naik kepala
pusing, terasa sakit dan
Keluarga mampu Keluarga mampu
menjalar sampai ke
memutuskan: memutuskan:
punggung, kaki dan tangan
L.12104 Manajemen kesehatan I.12525 Pelibatan keluarga
kesemutan, sulit beraktivitas.
- Ny. N mengatakan tidak
mampu melakukan aktivitas
yang berat
Keluarga mampu Keluarga mampu
- Ny. N mengatakan ia sering
merawat: merawat:
mengalami pusing
L.12110 Tingkat kepatuhan I.12442 Edukasi prosedur
- Ny. N mengatakan kurang
tindakan
mengetahui bagaimana cara
“Pemberian rebusan
merawat hipertensi
seledri (Mariyona,
- Ny. N mengatakan pergi ke
2020)
puskesmas apabila sakit saja
“Terapi Akupresur
(Sukmadi, 2021)”
DO :
“Teknik relaksasi
- Ny. N tampak gelisah
meditasi Murrotal Al-
- Keluarga Tn. Y tampak masih qur’an (Heni, 2021)”
kurang memahami tentang Keluarga mampu Keluarga mampu
penyakit yang diderita memodifikasi memodifikasi
- Skala nyeri 4 lingkungan: lingkungan :
- TD : 179 /110 mmHg L.12107 Perilaku kesehatan I.12463 Manajemen perilaku
- Nadi : 90 x/i
- Suhu : 36,7 °C
- RR : 22 x/i
- BB : 50 Kg
Keluarga mampu Keluarga mampu
memanfaatkan fasilitas memanfaatkan fasilitas
kesehatan: kesehatan :
L.12106 Pemeliharaan kesehatan I.12473 Rujukan

DS : D.0099 Perilaku Keluarga mampu I.12439 Keluarga mampu


- Keluarga Ny.N mengatakan kesehatan mengenal masalah: mengenal masalah:
masih mengkonsumsi cenderung L.12105 Manajemen kesehatan Edukasi pola perilaku
makanan yang mengandung beresiko keluarga kesehatan
lemak, bersantan dan Keluarga mampu Keluarga mampu
makanan yang mengadum memutuskan: memutuskan:
banyak garam L.12106 Pemeliharaan kesehatan I.09267 Dukungan
- Keluarga Ny.N jarang pengambilan
melakukan kegiatan olahraga keputusan
dan kegiatan lainnya yang
dapat meningkatkan status Keluarga mampu Keluarga mampu
kesehatan merawat: merawat:
- Keluarga Ny.N mengatakan L.12107 Perilaku kesehatan I.12463 Manajemen perilaku:
pengelolaan sampah dengan Hidup bersih dan sehat
cara dibakar serta berolahraga
Keluarga mampu Keluarga mampu
DO : memodifikasi memodifikasi
- Tampak adanya bekas lingkungan: lingkungan :
pembakaran sampah di L.12107 Perilaku kesehatan I.12439 Edukasi pola perilaku
halaman rumah kesehatan
- Keluarga masih bingung Keluarga mampu Keluarga mampu
dengan perawatan hipertensi memanfaatkan fasilitas memanfaatkan
dengan raut wajah/kening kesehatan: fasilitas kesehatan :
yang mengkerut dan pada saat L.12106 Pemeliharaan kesehatan Konseling
ditanya keluarga hanya diam Bimbingan sistem
- Keluarganya jarang kesehatan
memeriksakan kesehatan ke
pelayanan kesehatan, hanya
ketika sakit saja ke pelayanan
kesehatan
- Tugas kesehatan keluarga
yang belum terpenuhi seperti
berperilaku hidup bersih dan
sehat.
DS : D.0090 Kesiapan Keluarga mampu Keluarga mampu
- Keluarga Ny.N mengatakan peningkatan mengenal masalah : mengenal masalah :
akan mengupayakan koping Promosi kesehatan Pendidikan kesehatan
pengobatan, pencegahan, dan keluarga tentang Covid 19
perawatan kesehatan
keluarga. Keluarga mampu Keluarga mampu
- Ny. N mengatakan ia memutuskan: memutuskan:
berharap agar penyakitnya Ketahanan keluarga : Dukungan
dapat sembuh dengan segera. “dukungan kemandirian Pengambilan
- Keluarga mengatakan antar keluarga” keputusan
akan menerapkan perilaku
hidup sehat: mencuci tangan Keluarga merawat Keluarga mampu
dengan sabun, memakai anggota keluarga merawat:
masker, dan menjaga jarak. untuk Fasilitasi pembelajaran
akan menerapkan perilaku meningkatkan atau :
hidup sehat: mencuci tangan memperbaiki mengajarkan cuci
dengan sabun, memakai kesehatan tangan, etika batuk,
masker, dan menjaga jarak. Pengetahuan: Perilaku dan
DO : kesehatan cara menggunakan
- Keluarga Ny.N tampak masker yang benar.
menunjukkan minat untuk
meningkatkan kesehatan Keluarga mampu Keluarga mampu
keluarganya dengan bertanya memodifikasi memodifikasi
tentang perilaku hidup bersih lingkungan: lingkungan :
dan sehat serta perawatan. Kesiapan perawatan di Bantuan modifikasi
- Keluarga tampak antusias rumah diri
dengan pembahasan
mengenai peningkatan Keluarga mampu Keluarga mampu
kesehatannya memanfaatkan fasilitas memanfaatkan
- Keluarga Ny.N tampak kesehatan: fasilitas
berupaya mengatasi masalah Perilaku pencarian kesehatan :
yang sedang dihadapi dengan kesehatan Bimbingan sistem
mencari informasi sebagai kesehatan
bantuan

C. Implementasi (Catatan Perkembangan)

Tabel 3.8 Catatan Perkembangan


Diagnosa 1. Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan

Hari/tangga Jam Implementasi Evaluasi Paraf


l
Jumat/ 14.00 WIB Setelah dilakukan interaksi selama 1 x 45 S:
15 Oktober menit diharapkan keluarga mampu Keluarga Ny.N mengatakan sudah mulai
2021 mengenal masalah kesehatan keluarga dan mengerti dengan penyakit hipertensi dan
keluarga dapat memutuskan untuk juga cara perawatannya.
meningkatkan atau memperbaiki kesehatan
keluarga. O:
TUK 1 : Edukasi proses penyakit. Keluarga Ny.N tampak sudah paham dengan
1. Mengidentifikasi kesiapan dan penkes yang diberikan, hal ini terbukti
kemampuan menerima informasi. dengan keluarga dapat mengulangi kembali
2. Menjelaskan pengertian hipertensi tentang penyakit hipertensi dan juga
3. Menjelaskan penyebab hipertensi perawatannya.
4. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi
5. Menjelaskan pengobatan atau A:
penatalaksanaan hipertensi Keluarga dapat mengenal masalah
6. Memberikan kesempatan kepada Hipertensi.
keluarga untuk bertanya dan mengulang
kembali apa saja yang telah dijelaskan. P:
Intervensi dilanjutkan ke TUK 2
TUK 2: Pelibatan Keluarga S:
1. Mengidentifikasi kesiapan keluarga Keluarga mengatakan akan terlibat
untuk terlibat dalm perawatan perawatan hipertensi pada Ny. N
2. Menganjurkan keluarga terlibat dalam
perawatan O:
3. Memfasilitasi keluarga membuat Keluarga tampak mengerti dan berpatisipasi
keputusan dalam pengambilan keputusan

A:
Keluarga dapat memutuskan untuk
memperbaiki kesehatan keluarga teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan ke TUK 3
Setelah dilakukan pertemuan 1 x 40 menit S :
keluarga dapat merawat anggota keluarga Keluarga mengatakan sudah sedikit paham
dengan masalah hipertensi. dengan cara perawatan hipertensi dan akan
TUK 3 : Edukasi prosedur tindakan mengusahakan untuk menerapkannya dalam
Terapi komplementer : Rebusan seledri, kehidupan sehari-hari.
Akupresur dan Murattal Al-quran.
1. Mengidentifikasi kesiapan dan O :
kemampuan keluarga menerima - Keluarga mampu mendemonstrasikan
informasi langkah-langkah apa yang telah
2. Menjadwalkan pendkes sesuai diajarkan
kesepakatan. - Ny. J mengkonsumsi rebusan seledri,
3. Menjelaskan pada keluarga tujuan dan melakukan akupresur dan murattal Al-
manfaat perawatan pada penderita quran
hipertensi dengan obat tradisional - TTV Ny. J sebelum meminum jus
“rebusan seledri” saledri TD: 150/90 mmHg.
4. Menjelaskan langkah-langkah
perawatan dengan pemberian rebusan A :
seledri Keluarga dapat merawat hipertensi teratasi
- Siapkan 100 gram seledri sebagian
- 2 gelas air (400 ml).
- Rebus sampai mendidik (±15 P :
menit) hingga menjadi 1 gelas (200 Intervensi pemberian rebusan seledri dan
ml). murattal Al-quran dilanjutkan
- Setelah dingin, bagi untuk 2 kali
minum, pagi ½ gelas (50 ml) dan
malam hari ½ gelas (50 ml).
- Lakukan selama 5 hari.
Setelah dilakukan pertemuan via telepon S :
1x15 menit keluarga dapat merawat anggota - Ny. N mengatakan telah minum rebusan
keluarga dengan masalah hipertensi. seledri pukul 07.30 WIB setelah sarapan
TUK 3 : dan 20.00 WIB setelah makan malam.
Terapi komplementer : Rebusan seledri, - Ny. N mampu menyebutkan cara
Murattal Al-quran. pembuatan rebusan seledri.
- Ny. N mengatakan melakukan terapi
relaksasi meditasi murattal Alqur’an
setelah isya.

O : Terlaksana

A:
Keluarga dapat merawat hipertensi teratasi
sebagian

P:
Intervensi pemberian rebusan seledri dan
murattal Al-quran dilanjutkan
Setelah dilakukan pertemuan via telepon S :
1x15 menit keluarga dapat merawat anggota - Ny. N mengatakan telah minum rebusan
keluarga dengan masalah hipertensi. seledri pukul 07.00 WIB setelah sarapan
TUK 3 : dan 19.00 WIB setelah makan malam.
Terapi komplementer : Rebusan seledri, dan - Ny. N mengatakan melakukan terapi
Murattal Al-quran. relaksasi meditasi murattal Alqur’an
setelah isya.

O : Terlaksana
A:
Keluarga dapat merawat hipertensi teratasi
sebagian

P:
Intervensi pemberian rebusan seledri dan
murattal Al-quran dilanjutkan
Setelah dilakukan pertemuan via telepon S :
1x15 menit keluarga dapat merawat anggota - Ny. N mengatakan telah minum rebusan
keluarga dengan masalah hipertensi. seledri pukul 07.10 WIB setelah sarapan
TUK 3 : dan 19.15 WIB setelah makan malam.
Terapi komplementer : Rebusan seledri, dan - Ny. J mengatakan melakukan terapi
Murattal Al-quran. relaksasi meditasi murattal Alqur’an
setelah isya.

O : Terlaksana

A:
Keluarga dapat merawat hipertensi teratasi
sebagian

P:
Intervensi pemberian rebusan seledri dan
murattal Al-quran dilanjutkan
TUK 3 : S:
Terapi komplementer : Rebusan seledri, dan - Ny. N mengatakan mengkonsumsi
Murattal Al-quran. rebusan seledri serta menerapkan teknik
relaksasi meditasi murattal Al-quran
- Ny. N mengatakan tidak merasakan
pusing
- Ny. N mengatakan sudah mampu
melakukan aktivitas ringan

O:
- Ny. N tampak membersihkan rumah
- TD : 148 /80 mmHg
A:
Pemeliharaan kesehatan tidak efektif teratasi

P:
Tugas keperawatan keluarga merawat
anggota keluarga untuk meningkatkan atau
memperbaiki kesehatan dihentikan karena
keluarga sudah mandiri
Setelah dilakukan pertemuan 1 x 30 menit S:
keluarga dapat memodifikasi lingkungan Keluarga mengatakan memodifikasi
yang sesuai dengan masalah kesehatan lingkungan dengan melakukan relaksasi
keluarga. meditasi murattal Al-quran
TUK 4: Manajemen perilaku
1. Mengidentifikasi harapan keluarga O:
untuk mengendalikan perilaku Keluarga dapat menyebutkan dan tampak
2. Menciptakan dan mempertahankan sudah mulai memodifikasi lingkungan
lingkungan dan kegiatan perawatan sekitarnya
konsisten setiap pertemuan
3. Menginformasikan keluarga bahwa A:
keluarga sebagai dasar pembentukan Keluarga dapat memodifikasi lingkungan
kognitif yang sesuai teratasi sebagian

P:
Intervensi dilanjutkan
TUK 5: Rujukan S:
1. Mengidentifikasi indikasi rujukan Keluarga mengatakan bahwa fasilitas
2. Memberikan kesempatan pasien dan kesehatan yang akan di kunjungi adalah
keluarga untuk bertanya dan puskesmas, karena puskesmas tersebut
mendapatkan jawaban terkait rujukan merupakan tempat yang paling dekat
(tujuan dan waktu rujukan) melayani kesehatan anggota keluarga.
a. Puskesmas (setiap hari senin –
kamis pukul 07.30 s/d 14.30 WIB, O:
jumat pukul 07.30 s/d 11.30 WIB, Keluarga memilih fasilitas kesehatan
dan sabtu pukul 07.30 s/d 13.00 terdekat yaitu puskesmas
WIB )
b. Bidan Pustu/Poskesri (setiap hari A:
24 jam) Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur kesehatan teratasi
rujukan
P:
Intervensi di hentikan
Tabel 3.8 Catatan Perkembangan
Diagnosa 2. Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko

Hari/tanggal Jam Implementasi Evaluasi


Jumat/ 14.00 Setelah dilakukan interaksi selama 1 x 45 S:
15 WIB menit diharapkan keluarga mampu - Keluarga mengatakan paham dengan
Oktober memperbaiki kesehatan keluarga. perilaku hidup yang bersih dan sehat
2021 TUK 1-5 : dan akan berusaha memperbaiki agar
Edukasi pola perilaku kebersihan kesehatan keluarganya terjaga
1. Pendidikan kesehatan tentang - Keluarga mengatakan akan berusaha
perilaku hidup bersih dan sehat menciptakan perilaku hidup bersih
2. Mengidentifikasi kemampuan dan sehat : tidak membakar sampah
menjaga kebersihan diri dan dan mengurangi konsumsi garam
lingkungan serta makan makanan berlemak
3. Memberikan kesempatan bertanya - Keluarga mengatakan akan berusaha
4. Mengajarkan cara kebersihan diri menerapkan terapi minuman herbal
dan lingkungan sebagai tindakan agar tidak semakin
Dukungan pengambilan keputusan parah dan anggota lain tidak beresiko
1. Mengidentifikasi persepsi mengenai terkena hipertensi
masalah - Keluarga mengatakan akan berusaha
2. Memfasilitasi pengambilan menciptakan lingkungan yang baik
keputusan untuk menjaga kesehatan keluarga
3. Memberikan informasi yang - Keluarga mengatakan bahwa fasilitas
diminta kesehatan yang akan di kunjungi
Manajemen perilaku adalah puskesmas, karena puskesmas
1. Mengidentifikasi harapan keluarga tersebut yang terdekat
untuk mengendalikan perilaku
2. Menciptakan dan mempertahankan O:
lingkungan dan kegiatan perawatan - Keluarga tampak mulai menerapkan
konsisten setiap pertemuan perilaku hidup bersih dan sehat
3. Menginformasikan keluarga bahwa - Keluarga bisa mendemonstrasikan
keluarga sebagai dasar cara pembuatan rebusan seledri
pembentukan kognitif - Keluarga tampak sudah mulai
Edukasi pola perilaku kebersihan memodifikasi lingkungan sekitarnya
1. Mengidentifikasi kemampuan walaupun belum sempurna
menjaga kebersihan diri dan - Tampak tidak ada lagi bekas
lingkungan pembakaran sampah
2. Mempraktikan bersama keluarga - Keluarga memilih fasilitas kesehatan
cara menjaga kebersihan diri dan terdekat yaitu puskesmas
lingkungan
3. Mengajarkan cara menjaga A:
kebersihan diri dan lingkungan Masalah teratasi
Bimbingan sistem kesehatan
1. Mengidentfifikasi masalah P:
kesehatan keluarga Intervensi dihentikan
2. Memfasilitasi pemenuhan
kebutuhan kesehatan