Anda di halaman 1dari 14

Assignment Method  75

BAB IV
METODE PENUGASAN
(ASSIGNMENT METHOD)

TUJUAN BELAJAR
Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa memahami tentang :
1. Pengertian Model Penugasan;
2. Masalah Minimisasi;
3. Langkah-langkah Penyelesaian Metode Penugasan;
4. Jumlah Karyawan Tidak Sama Dengan Jumlah Pekerjaan;
5. Jumlah Pekerjaan Lebih besar Dari Jumlah Tenaga Kerja;
6. Masalah Maksimisasi;
7. Langkah-langkah Dalam Menyelesaikan Kasus Maksimisasi;
8. Masalah-masalah Penugasan Tambahan.

4.1 Pengantar

Dalam dunia usaha (bisnis) dan industri, manajemen sering menghadapi


masalah-masalah yang berhubungan dengan penugasan optimal dari bermacam-
macam sumber yang produktif atau personalia yang mempunyai tingkat efisiensi
yang berbeda-beda untuk tugas yang berbeda-beda.
Metode Hungarian adalah salah satu dari beberapa teknik-teknik pemecahan
yang tersedia untuk masalah-masalah penugasan. Metode ini mula-mula
dikembangkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Hungaria yang
bernama D. Konig dalam tahun 1916.
Untuk menerapkan metode Hungarian ini ada beberapa asumsi, yaitu :
1. Jumlah sumber (tenaga kerja) harus sama dengan jumlah jenis pekerjaan (job);
2. Setiap sumber (tenaga kerja) hanya bisa ditugaskan pada satu jenis pekerjaan
(job);
Sehingga masalah penugasan ini dapat mudah dijelaskan dengan
menggunakan matrik segi empat (matrik bujur sangkar), di mana baris-barisnya
menunjukkan sumber dan kolomnya menunjukkan tugas-tugas (jenis pekerjaan).
Masalah penugasan dapat dinyatakan dalam secara matematis dalam bentuk Linear
programming sebagai berikut :
m n
Z =   Cij Xij

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  76

I=1 j=1

Dengan batasan

m n
 Xij =  Xij = 1
I=1 j=1

dan Xij  0 (Xij = X2 ij )


4.2 Masalah Minimisasi

MASALAH MINIMISASI

Contoh :
Bagian produksi perusahaan mempunyai 3 jenis pekerjaan yang berbeda
untuk diselesaikan oleh 3 karyawan. Ketiga karyawan tersebut mempunyai tingkat
ketrampilan, pengalaman kerja, latar belakang pendidikan dan latihan yang berbeda.
Karena sifat pekerjaan dan kemampuan karyawan yang berbeda, maka biaya
penyelesaian pekerjaan berbeda (lihat Tabel 1)
Tabel 4.1 : Matrik Biaya (Ribuan Rupiah)
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3
Karyawan

A1 20 27 30
A2 10 18 16
A3 14 16 12

Dari tabel 1 tersebut dapat dijelaskan, contoh karyawan A1 dapat


menyelesaiakan jenis pekerjaan D1 dengan biaya Rp. 20.000,- ; pekerjaan D2
dengan biaya sebesar Rp. 27.000,- dan seterusnya.
Atas dasar data diatas, maka bagaimana skedul penugasan masing-masing
tenaga kerja agar biayanya minimal ?. Untuk menyelesaikan masalah penugasan ini
ada beberapa langkah yang harus dilalui.

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  77

4.3 Langkah-langkah Penyelesaian Metode Penugasan


LANGKAH-LANGKAH DALAM MENYELESAIKAN
METODE PENUGASAN KASUS MINIMISASI

1. Menentukan matrik “total opportunity cost”. Langkah pertama ini dimulai


dengan merubah matrik biaya menjadi matrik opportunity cost, yaitu dengan jalan
memilih elemen terkecil pada setiap baris dari matrik biaya mula-mula untuk
mengurangi seluruh elemen (bilangan) pada setiap baris, sehingga paling sedikit
akan diperoleh satu bilangan yang bernilai nol pada setiap baris. Matrik dengan
bilangan-bilangan baris yang telah dikurangi bilangan yang terkecil pada setiap
baris disebut Reduce Cost Matrix. Contoh : elemen terkecil dari baris A1 adalah
20, yang berarti bahwa karyawan A1 paling efisien melaksanakan pekerjaan D1,
oleh karena itu opportunity pemaduan antara A1 dengan D1 adalah 0 (20-20 = 0).
Di pihak lain apabila kita akan memadukan A1 dengan D2, maka akan diperoleh
opportunity cost sebesar Rp. 7.000,- (27 – 20 = 7), demikian seterusnya.
Adapun hasil dari Reduce Cost Matrik dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 4.2 : Reduce Cost Matrix
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3
Karyawan

A1 0 7 10
A2 0 8 6
A3 2 4 0

2. Memilih bilangan terkecil pada setiap kolom dalam Reduce Cost Matrix untuk
mengurangi seluruh bilangan dalam kolom tersebut, sehingga diperoleh Total
Opportunity Cost Matrix.
Catatan : apabila pada langkah 1 (satu) telah diperoleh minimal satu angka 0
pada setiap kolom maka langkah ke 2 (dua) ditiadakan.

Tabel 4.3 : Total Opportunity Cost Matrix


Jenis Pekerjaan

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  78

Karyawan D1 D2 D3

A1 0 3 10
A2 0 4 6
A3 2 0 0

3. Menentukan apakah penugasan sudah optimal atau belum ( Test for


Optimality), dengan cara :
a. Memlih baris atau kolom yang hanya memiliki satu angka nol sebagai alokasi
penugasan;
b. Memberi tanda pada baris yang memiliki angka nol, tetapi tidak mempunyai
alokasi penugasan;
c. Memberi tanda pada kolom yang mempunyai angka 0 (nol) dari baris yang
diberi tanda;
d. Memberi tanda pada baris yang mempunyai alokasi penugasan berdasarkan
pada kolom yang diberi tanda;
e. Memberi garis penutup pada baris yang tidak mempunyai tanda dan kolom
yang mempunyai tanda.
Adapun hasil dari Test of Optimality adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4 : Total Opportunity Cost Matrix &


Test for Optimality

Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3
Karyawan

A1 0 3 10
A2 0 4 6
A3 2 0 0

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  79

4. Merevisi Total Opportunity Cost Matrix, yaitu memilih bilangan terkecil yang tidak
terliput garis untuk mengurangi seluruh bilangan yang tidak terliput garis dan
menambahkan dengan jumlah yang sama (nilai bilangan yang terkecil) hanya
pada bilangan-bilangan dalam dua garis peliput yang saling bersilangan.
Masukkan nilai revisi-revisi ini ke dalam matrik, sehingga kita mendapatkan total
opportunity matrix yang telah direvisi. Kemudian kita melakukan test for optimality
lagi sampai alokasi skedul penugasan optimal.
Tabel 4.5 : Resived Total Opportunity Cost Matrix &
Test for Optimality
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3
Karyawan

A1 0 0 7
A2 0 1 3
A3 5 0 0

Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa karena masing-masing pekerja sudah


mempunyai tugas masing-masing, artinya satu tenaga kerja sudah memegang satu
jenis pekerjaan, maka skedul penugasan ini dapat dikatakan sudah optimal dan
biayanya minimum. Adapun perincian skedul penugasannya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6 : Skedul Penugasan


Skedul Penugasan Biaya (Rp.)
A1 – D2 27.000
A2 – D1 10.000
A3 – D3 12.000
JUMLAH 49.000

4.4 Jumlah Karyawan Tidak Sama Dengan Jumlah Pekerjaan


JUMLAH KARYAWAN TIDAK SAMA DENGAN

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  80

JUMLAH PEKERJAAN

Dalam praktek, sering ditemui kasus dimana jumlah karyawan tidak sama
dengan jumlah pekerjaan, sehingga metode Hungarian tidak dapat diterapkan. Untuk
mengatasi hal tersebut maka :
1. Jika jumlah jenis pekerjaan  (lebih besar) dari jumlah karyawan, maka
diperlukan tambahan karyawan semu (dummy worker);
2. Jika jumlah jenis pekerjaan  (lebih kecil) dari jumlah karyawan, maka diperlukan
tambahan jenis pekerjaan semu (dummy job).
3. Biaya penugasan untuk karyawan atau pekerjaan yang semu adalah sama
dengan nol, karena tidak akan terjadi biaya bila suatu pekerjaan ditugaskan
kepada karyawan semu, atau karyawan diberi tugas untuk mengerjakan
pekerjaan semu. Dengan kata lain, sebenarnya pekerjaan tersebut tidak
dilakukan atau sebaliknya karyawan menganggur.

4.5 Jumlah Pekerjaan  Dari Jumlah Tenaga Kerja.

Tabel 4.7 : Matrik Biaya (Dalam ribuan rupiah)


Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 20 27 30 32
A2 10 18 16 20
A3 14 16 12 15

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  81

Atas dasar data diatas, maka bagaimana skedul penugasan masing-masing


tenaga kerja agar biayanya minimal ?.
Jawaban :

Tabel 4.8 : Total Opportunity Cost Matrik &


Test for Optimality

Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 0 7 10 12
A2 0 8 6 10
A3 2 4 0 3
Dummy A4 0 0 0 0

Tabel 4.9 : Revised I Total Opportunity Cost Matrik &


Test for Optimality
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 0 1 4 6
A2 0 2 0 4
A3 8 4 0 3
Dummy A4 6 0 0 0

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  82

Tabel 4.10 : Revised II Total Opportunity Cost Matrik &


Test for Optimality
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 0 0 4 5
A2 0 1 0 3
A3 8 3 0 2
Dummy A4 7 0 1 0

Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa karena masing-masing pekerja sudah


mempunyai tugas masing-masing, artinya satu tenaga kerja sudah memegang satu
jenis pekerjaan, maka skedul penugasan ini dapat dikatakan sudah optimal dan
biayanya minimum. Adapun perincian skedul penugasannya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.11 : Skedul Penugasan


Skedul Penugasan Biaya (Rp.)
A1 – D2 27.000
A2 – D1 10.000
A3 – D3 12.000
Dummy – D4 0
JUMLAH 49.000

4.6 Masalah Maksimisasi

MASALAH MAKSIMISASI

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  83

Pemecahan masalah maksimisasi dalam penugasan optimal tenaga kerja


juga dapat dilakukan dengan metode Hungarian. Perbedaannya dengan masalah
minimisasi adalah bilangan-bilangan dalam matrik tidak menunjukkan biaya, tetapi
menunjukkan tingkat laba (indek produktivitas).
Sebagai contoh, kita ambil masalah penugasan suatu perusahaan yang akan
menugaskan 4 karyawan yang berbeda kemampuannya untuk 4 pekerjaan yang
berbeda pula. Data terperinci tentang kontribusi laba masing-masing karyawan dapat
dilihat pada tabel 1.

Tabel 4.12 : Matrik Kontribusi Laba (Dalam ribuan rupiah)


Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 12 14 12 10
A2 16 12 11 17
A3 11 10 9 10
A4 15 17 10 18

Atas dasar data diatas bagaimana skedul penugasan masing-masing tenaga


kerja agar diperoleh keuntungan yang maksimal ?.

4.7 Langkah-langkah dalam Menyelesaikan Kasus Maksimisasi


LANGKAH-LANGKAH DALAM MENYELESAIKAN
METODE PENUGASAN KASUS MAKSIMISASI

1. Merubah matrik kontribusi laba menjadi matrik opportunity loss, dengan cara
mengurangi seluruh bilangan dalam setiap baris dengan bilangan yang bernilai
maksimem. Bilangan-bilangan ini sebenarnya bernilai negatif, tetapi untuk
mempermudah perhitungan maka tanda negatif dihilangkan. Dalam masalah ini
A1 memberikan kontribusi laba tertinggi (Rp. 14.000) bila ditugaskan pada
pekerjaan D2. Oleh karena itu, bila A1 dialokasikan ke pekerjaan D1 (dengan
konribusi laba sebesar Rp. 12.000) ada opportunity loss sebesar Rp. 2.000,- dan
seterusnya.

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  84

Tabel 4.13 : Matrik Opportunity Loss


Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 2 0 2 4
A2 1 5 6 0
A3 0 1 2 1
A4 3 1 8 0

2. Meminimemkan opportunity loss untuk memaksimemkan kontribusi laba.


Langkah ini dilakukan dengan jalan mengurangi seluruh bilangan dalam setiap
kolom dengan bilangan terkecil dari kolom tersebut.

Catatan : langkah ke dua ini ditiadakan apabila pada langkah ke satu telah
menghasilkan semua kolom minimem sudah mengandung satu nilai
nol.
Tabel 4.14 : Matrik Total Opportunity Loss
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 2 0 0 4
A2 1 5 4 0
A3 0 1 0 1
A4 3 1 6 0

3. Kemudian kita lakukan tes optimalitas untuk matrik total opportunity loss dengan
cara yang sama dengan maalah minimisasi.

Tabel 4.15 : Matrik Total Opportunity Loss &


Test for Optimality
Jenis Pekerjaan

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  85

Karyawan D1 D2 D3 D4

A1 2 0 0 4
A2 1 5 4 0
A3 0 1 0 1
A4 3 1 6 0

4. Merevisi Total Opportunity Loss, kemudian melakukan Test for Optimality dengan
cara yang sama dengan kasus minimem.

Tabel 4.16 : Revised Total Opportunity Loss &


Test for Optimality
Jenis Pekerjaan
D1 D2 D3 D4
Karyawan

A1 2 0 0 5
A2 0 4 3 0
A3 0 1 0 2
A4 2 0 5 0

Catatan : dalam mementukan alokasi yang pertama dasar yang kita pakai adalah
alokasi yang memberikan kontribusi laba yang terbesar. Hal ini kita
lakukan karena masing-masing baris maupun kolom mempunyai lebih dari
satu angka nol (sesuai dengan tujuan kita yaitu maksimisi kontribusi
keuangan). Sehingga alokasi pertama kita pilih karyawan A4 harus
mengerjakan jenis pekerjaan ke D4.

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  86

Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa karena masing-masing pekerja sudah


mempunyai tugas masing-masing, artinya satu tenaga kerja sudah memegang satu
jenis pekerjaan, maka skedul penugasan ini dapat dikatakan sudah optimal dan
kontribusi keuntungannya adalah maksimal. Adapun perincian skedul penugasannya
adalah sebagai berikut :

Tabel 4.17 : Skedul Penugasan


Skedul Penugasan Biaya (Rp.)
A1 – D2 14.000
A2 – D1 16.000
A3 – D3 9.000
A4 – D4 18.000
JUMLAH 57.000

4.8 Masalah-masalah Penugasan Tambahan


Masalah-masalah Penugasan Tambahan
Dalam masalah-masalah penugasan di muka, seluruh elemen matrik diketahui
konstan. Bagaimanapun juga, kadang-kadang beberapa elemen matrik tidak
diketahui. Ada sejumlah alasan mengapa terdapat elemen-elemen yang tidak
diketahui. Dalam masalah penugasan personalia, sebagai contoh, seorang karyawan
tertentu tidak dapat ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu karena tidak
memenuhi persyaratan ketrampilan yang diperlukan, latihan yang tidak tepat,
ketidakmampuan phisik, dan sebagainya. Penugasan untuk keadaan tersebut bisa
tidak mungkin dilakukan, atau tidak menguntungkan bila dilakukan.
Untuk pemecahan suatu masalah penugasan yang tidak mungkin dilakukan,
kita hanya menandai setiap elemen penugasan yang tidak mungkin dengan suatu
nilai sangat besar yang tidak diketahui yaitu M (yaitu M untuk masalah minimisasi
dan –M untuk masalah maksimisasi).
Langkah pemecahan selanjutnya persis sama dengan prosedur metode
Hungarian yang telah dibahas di muka, hanya perlu diperhatikan bahwa penugasan

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  87

seorang karyawan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu yang elemennya diberi


tanda M harus dihindari.

CONTOH SOAL METODE KUANTITATIF UNTUK BISNIS

1. Lembaga Manajemen Bisnis Indonesia (LMBI), merupakan sebuah lembaga


Jasa konsultan untuk penelitian, pengembangan dan penerapan masalah
Ekonomi, Keuangan dan Industri Perusahaan-perusahaan. Pada saat ini LMBI
menerima pesanan proyek dari sebuah Bank Pemerintah, BUMN, dan Bank
Swasta untuk meneliti dan mengeveluasi feasibilitas proyek KIK/KMKP, PIR dan
VIP Trveleller Cheques. Proyek semacam ini sudah sering dilakukan oleh LMBI
sehingga secara teknis tidak ada masalah. Tetapi akhir-akhir ini LMBI dihadapkan
pada masalah terbatasnya tenaga staf senior karena beberapa diantara staf
senior yang ada sekarang mengikuti work shop di luar negeri. Untuk menjaga
kredibilitas lembaga, pimpinan LMBI berupaya untuk menerima ketiga proyek
tersebut. Dari tenaga staf yang ada, pimpinan LMBI menyusun suatu daftar
tentang waktu penyelesaian pekerjaan untuk setiap proyek. Meskipun untuk
proyek yang sama, waktu penyelesaian pekerjaan diantara staf tidak sama, hal ini

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.
Assignment Method  88

disebabkan kecepatan bekerja dan keahlian setiap staf adalah tidak sama.
Perkiraan waktu penyelesaian tugas tiap-tiap proyek (3 buah proyek), untuk
kelima staf LMBI tampak pada Tabel di bawah ini.

Waktu Penyelesaian Tugas Staf LMBI


Proyek - proyek
Bank Pemerintah BUMN Bank Swasta
Staf LMBI
Achmad 15 hari 20 hari 24 hari
Budi 17 hari 19 hari 23 hari
Chandra 16 hari 24 hari 20 hari
Darma 18 hari 23 hari 22 hari
Edwad 14 hari 22 hari 21 hari

Berdasarkan permasalahan di atas, formulasikan ke dalam model linear


programming agar LMBI dapat mengatur stafnya yang harus bekerja menyelesaikan
proyek dan bertugas di kantor LMBI.

Metode Kuantitatif untuk Bisnis, disusun oleh : Dr. Imam Suroso, SE., M.Si.

Anda mungkin juga menyukai