Anda di halaman 1dari 13

Nama : Windi Olivia Kawanga

Stambuk : 1618085

Tugas : Interaksi Obat dan makanan

1. Tugas bagi mahasiswa yang tidak hadir minggu lalu.

Sebutkan dan jelaskan mekanisme interaksi 5 obat antibiotik terhadap


antibiotik lain, makanan, obat-obatan lain (selain antibiotik), susu, dan
kontrasepsi.

Jawab :

1. Obat Ampisilin
 Mekanisme interaksi dengan antibiotik lain
Interaksi obat ampisilin dengan klavunalat dapat
menimbulkan efek yang merupakan jumlah dari efek
farmakologi masing-masing obat pada pasien memberikan
efek yang lebih besar terhadap bakteri/kuman.
 Interaksi antibiotik dengan makanan
Obat ampisilin di anjurkan di minum pada saat perut kosong,
karena makanan dapat mempengaruhi penyerapan obat
ampisilin sehinnga obat ampisilin tidak boleh berinteraksi
dengan makanan. Dengan kata lain makanan dapat
menurunkan tingkat absorbsi ampisilin sehingga
kemungkinan akan menurunkan kadar ampisilin.
 Interaksi dengan obat-obatan lain
 Penisilin dengan probenisid : probenisid akan
menghambat sekresi penisilin ditubuki ginjal sehinnga
meningkatkan kadarnya dalam plasma sehingga
meningkatkan efektifitasnya dalam terapi gonore.
 Kombinasi obat antihipertensi : meningkatkan
efektifitas dan mengurangi efek samping.
 Kombinasi obat anti tuberculosis: memperhambat
timbulnya resistensi kuman terhadap obat.
 Meningkatkan efek toksik : disulfiran dan probenesid
kemungkinan meningkatkan kadar ampisilin, warfarin
kemungkinan dapat meningkatkan kadar ampisilin,
secara teori jika diberikan dengan alupurinol dapat
meningkatkan efek ruam.
 Menurunkan efek : ampisilin jika iberikan dengan obat
kontrasepsi.
 Interaksi dengan susu
Obat ampisilin cukup diminum dengan air putih karena
absorbsi terjadi dilambung, bila diminum dengan susu maka
mineral valensi akan membentuk senyawa kompleks
ermolekul sehinnga obat sama sekali tidak terabsorbsi
sehingga tidak akan muncul efek farmakologi yang
diinginkan, kemungkinan besar terjadi kegagalan terapi.
 Interaksi dengan alkohol
Obat ampisilin cukup diminum dengan air putih, jika diminum
bersamaan dengan alkohol akan menimbulkan peningkatan
efek samping mengantuk dan mengurangi kewaspadaan,
serta meningkatkan efek toksik.
 Interaksi dengan kontrasepsi
Interaksi obat ampisilin dan obat kontrasepsi dapat
menurunkan efek farmakologi obat kontrasepsi oral.
2. Obat Tetrasiklin
 Interaksi terhadap antibiotik lain
Interaksi tetrasiklin dan kloramfenikol bersifat bakteriostatik
bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman
dan bakteri pada ribosomnya sehingga bakteri tidak dapat
berkembang biak. Kombinasi ini bertujuan untuk
memperluas spektrum antibakteri serta untuk mengatasi
adanya bakteri yang resisten.
 Interaksi dengan makanan
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam salura cerna.
Doksisiklin dan minosiklin iserap lebih dari 90%. Absorpsi
sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus.
Adanya makanan dalam lambung menghambat penyerapan,
kecuali minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam
derajat tertentu oleh pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu
kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar
diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan
magnesium yang biasanya terdapat dalam antasida, dan
juga ferum. Tetrasiklin diberikan sebelum makan atau 2 jam
sesudah makan.
 Interaksi dengan obat-obatan lain
Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluoran maka dapat
menyebabkan nefrotoksisk. Bila dikombinasikan dengan
penisilin maka aktivitas antimikrobanya dihambat.
 Interkasi dengan susu
Bila tetrasiklin digunakan bersamaan dengan produk susu
maka akan menurunkan absorpsinya karena membentuk
khelat tetrasiklin dengan ion kalsium yang tidak dapat
diabsorpsi.
 Interaksi dengan alkohol
Bila diminum bersamaan dengan alkohol dapat
menimbulkan efek toksik.
 Interaksi dengan kontrasepsi
Penggunaan secara bersamaan tetrasiklin dengan obat
kontrasepsi oral mengakibatkan gagalnya terapi kontrasepsi,
yaitu kemungkinan dapat terjadi kehamilan, mekanisme tidak
dimengerti dijelaskan sebagai supresi/penekanan bakteri
intestinal yang hasilnya pada penurunan kadar kontrasepsi
serum. Oleh karena itu, kadar normal untuk bekerja tidak
tercapai sehingga efek kontrasepsi berkurang.
3. Obat kloramfenikol
 Interaksi terhadap antibiotik lain
Interaksi kloramfenikol dan ampisilin bekerja dengan jalan
menghambat sintesis protein pada bakteri. Yang dihambat
adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai
katalisator umtuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada
proses sintesis protein bakteri.
 Interaksi dengan makana
Makana dapat mengganggu penyerapan obat sehingga obat
kloramfenikol dianjurkan diminum saat perut kosong (1 jam
sebelum makan atau 2 jam setelah makan).
 Interaksi dengan obat-obatan lain
 Kloramfenikol menghambat enzim sitokrom P450
irreversibel   memperpanjang T½ (dicumarol,
phenytoin, chlorpopamide, dan tolbutamide).
 Mengendapkan berbagai obat lain dari larutannya,
merupakan antagonis kerja bakterisidal penisilin dan
aminoglikosida.
 Phenobarbital dan rifampin mempercepat eliminasi
dari kloramfenikol.
 Interaksi dengan susu
Jika Mengonsumsi obat kloramfenikol dengan susu maka
akan mengakibatkan kalsium yang terdapat dalam susu
akan mengikat obat sehingga membuatnya tidak larut dalam
usus dan mencegah penyerapan obat tersebut ke dalam
jaringan sel tubuh, sehingga kerja obat tergangu dan bakteri
penginfeksi akan tetap berkembang.
 Interaksi dengan alkohol
Obat kloramfenikol cukup diminum dengan air putih, jika
diminum bersamaan dengan alkohol akan menimbulkan
peningkatan efek samping mengantuk dan mengurangi
kewaspadaan, serta meningkatkan efek toksik.
 Interaksi dengan kontrasepsi
Pemberian antibakteri berspektrum luas seperti
kloramfenikol akan mengubah flora normal usus sehingga
akan meningkatkan efektifitas anti koagulan oral yang
diberikan secara bersama-sama, mengurangi efektifitas
sulfasazin, meningkatkan bioavaibilitas levodopa dan
mengurangi efektifitas kontrasepsi oral sehingga terjadi
kegagalan pada kontrasepsi oral (terjadi kehamilan).
4. Obat Rifampisin
 Interaksi terhadap antibiotik lain
rifampisin mempercepat metabolisme kloramfenikol
(menurunkan konsentrasi plasma) dengan cara
meningkatkan konsentrasi rifabutin dalam plasma dan
meningkatkan risiko uveitis .
 Interaksi dengan makanan
Untuk mrnghssilkan absorpsi yang optimal, rifampisin harus
diberikan pada perut kosong (1jam sebelum atau 2 jam
setelah makan). Jika diberikan bersamaan dengan makanan
akan meningkatkan toleransi gastrointestinal. Sehingga tidak
boleh diberukan bersamaan dengan makanan.
 Interaksi dengan obat-batan lain
 antikoagulan untuk mengencerkan darah, contohnya
warfarin.
 obat anti-inflamasi (kortikosteroid) contohnya
prednisolon.
 obat yang digunakan setelah transplantasi organ,
contohnya siklosporin, sirolimus; obat tacrolimus untuk
mengobati kondisi jantung contohnya. digoxin, digitoxin,
quinidine, Disopiramid, mexiletine, propafenone,
tocainide, calcium channel blockers (diltiazem, nifedipin,
verapamil, nimodipin, isradipin, nicardipine, nisoldipin).
 obat untuk menurunkan tekanan darah, contohnya
bisoprolol, propranolol, losartan, enalapril.
 diuretik (tablet air), seperti eplerenon.
 obat antidiabetes, contohnya klorpropamid, tolbutamid,
gliklazid, rosiglitazone.
 antiepileptik, contohnya fenitoin.
 obat penghilang rasa sakit yang kuat, contohnya morfin,
metadon.
 sedatif (obat tidur) atau obat untuk kegelisahan,
contohnya amobarbital, diazepam, zopiclone, zolpidem.
 obat penghambat, contohnya tamoxifen, toremifene,
gestrinon.
 suplemen yang mengandung hormon seperti estrogen,
progesteron, contohnya kontrasepsi hormonal. Jika Anda
mengambil kontrasepsi oral untuk mencegah kehamilan
saat Anda mengonsumsi rifampicin, kontrasepsi mungkin
tidak akan efektif.
 obat tiroid, contohnya levothyroxine.
 obat untuk gangguan mental, contohnya haloperidol,
aripiprazole.
 antidepresan, contohnya amitriptyline, nortriptyline.
 antibiotik untuk mengobati infeksi, contohnya dapson,
kloramfenikol, klaritromisin, doxycycline, ciprofloxacin,
telitromisin.
 obat anti-jamur, contohnya flukonazol, itraconazole,
ketoconazole, vorikonazol.
 obat anti-virus, contohnya saquinavir, ritonavir, indinavir,
efavirenz, amprenavir, nelfinavir, atazanavir, lopinavir,
nevirapine.
 praziquantel, untuk infeksi cacing.
 obat untuk menurunkan kadar lemak (kolesterol,
trigliserida) dalam darah, contohnya simvastatin,
clofibrate.
 obat kanker, contohnya irinotecan, imatinib.
 kina, sering digunakan untuk kram.
 riluzole, digunakan dalam penyakit motor neuron (MND).
 teofilin, untuk asma.
 anti-emetic, contohnya ondansetron.
 atovakuon, untuk malaria atau pneumonia.
 antasida, digunakan untuk gangguan pencernaan.
Gunakan Rifampicin setidaknya 1 jam sebelum
mengonsumsi antasid.
 obat-obatan lain yang digunakan untuk TBC, seperti
asam isoniazid atau p-aminosalisilat (PAS). PAS dan
Rifampicin harus dikonsumsi terpisah dengan interval
minimal 8 jam.
 Interaksi dengan susu
Rifampisin tidak boleh diminum bersamaan dengan susu
karena dapat mempengaruhi absorbsi obat dalam tubuh.
 Interaksi dengan alkohol
Mengonsumsi alkohol atau tembakau dengan obat rifampisin
dapat menyebabkan interaksi terjadi, seperti terjadinya efek
toksik.
 Interaksi dengan kontrasepsi
Penggunaan obat rifampisin bersamaan dengan obat
kontrasepsi seperti pil KB dapat mengakibatkan
berkurangnya efek pil KB dan dapat menimbulkan gangguan
menstruasi, hal ini dikarenakan rifampisin adalah induser
yang poten terhadap enzym sitokrom P450, sehingga
meingkatkan proses metabolisme etinil estradiol menjadi
senyawa tak aktif, yang menyebabkan berkurangnya
kosentrasi pil KB tersebut dalam tubuh dan memyebabkan
efeknya menjadi berkurang.
5. Obat Amoxicillin
 Interaksi dengan antibiotik lain
Kombinasi amoxicillin dengan tetrasiklin bekerja dengan aktif
melawan bakteri gram positif dan gram negatif dan bersifat
bakteriostatik.
 Interaksi dengan makanan
 Makanan berserat menyebabkan penurunan absorbsi
dari amoxicillin.
 Mengurangi volume cairan perut bila diminum
bersama makanan.
 Makanan yang mengandung vitamin C dapat
menyebabkan inaktivitas penisilin.
 Interaksi dengan obat-obatan lain
 Penisilin dengan probenisid : probenisid akan
menghambat sekresi penisilin ditubuki ginjal sehinnga
meningkatkan kadarnya dalam plasma sehingga
meningkatkan efektifitasnya dalam terapi gonore.
 Kombinasi obat antihipertensi : meningkatkan
efektifitas dan mengurangi efek samping.
 Kombinasi obat anti tuberculosis: memperhambat
timbulnya resistensi kuman terhadap obat.
 Interaksi dengan susu
Jika amoxicillin digunakan bersamaan dengan produk susu
maka akan menurunkan absorpsinya karena membentuk
khelat tetrasiklin dengan ion kalsium yang tidak dapat
diabsorpsi
 Interaksi dengan alkohol
Bila diminum bersama dengan alkohol akan menimbulkan
efek toksik bagi tubuh.
 Interaksi dengan kontrasepsi
Amoxicillin dapat berinteraksi dengan pil kontrasepsi yang
akan mengurangi efektifitasnya.
Nama : windi Olivia kawangan

Stambuk : 16118085

Tugas : Interaksi obat

1. Mekanisme interaksi, contoh obat dan cara penggunaannya

 Obat dan makanan


 Obat dan susu
 Obat dan protein
 Obat dan asam
 Obat dan lemak
 Obat dan alkohol

Jawab :

1) Obat dan makanan


 Mekanisme interaksi obat dan makanan
Mekanisme interaksi obat dengan makanan terhadap
absorbsi Interaksi obat dengan makanan/minuman (Food
drug interaction) Sifat fisika kimia obat menentukan tempat
absorpsi obat. Obat biasanya bersifat asam lemah atau basa
lemah. Obat asam lemah akan diserap di lambung (jika
diberikan secara oral dengan diminum, bukan di bawah lidah
atau di dinding mulut bucal), sementara yang bersifat basa
lemah akan diserap di usus yang lingkungannya memang
lebih basa dibandingkanlambung.Kecepatan pengosongan
lambung juga tak kalah penting untuk absorpsi obat secara
oral. Semakin cepat pengosongan lambung, bagi obat
bersifat asam akan merugikan karena hanya sejumlah kecil
obat yang terserap, namun menguntungkan obat bersifat
basa lemah karena segera mencapai tempat absorpsi di
usus, segera terjadi proses penyerapan.Selain terkait sifat
obat dan tempat absorpsi, makanan/minuman akan
mempengaruhi bentuk obat. Obat seharusnya berbentuk
molekul kecil untuk bisa terabsorpsi dengan baik. Maka perlu
dilakukan uji disolusi/pelarutan obat saat dilakukan formulasi
obat. Namun, hal lain yang perlu diwaspadai adalah adanya
interaksi obat dengan makanan/minuman atau nutrien
tertentu, sehingga terbentuk senyawa kompleks bermolekul
besar yang menghalangi obat diabsorpsi. Zat-zat dalam
makan dapat juga berinteraksi dengan obat sehingga
menimbulkan efek yang tidak diinginkan, zat-zat makanan
dapat menyebabkan berkurangnya efek obat atau
meningkatkannya efek obat serta dapat menimbulkan alergi
atau efek toksik bagi tubuh.
 Contoh obat dan cara penggunaannya
1. obat jantung β bloker
- tenormin : digunakan 2 jam setelah makan untuk

Mengurangi nyeri pada lambung saat

Mengonsumsi obat.

- Lopresor : digunakan 2 jam setelah makan


- Bisiprolol : dapat dikonsumsi sebelum atau
Sesudah makan 1 atau 2 jam
- Metoprolol : digunanakan saat makan atau sesudah
Makan
2. obat diuretik
- Furosemid :digunakan dengan atau tanpa makanan
- Spironolacton : digunakan 2 jam setelah makan
3. antibiotik
- Ampisillin,amoxicillin,tertrasiklin: digunakan 2 jam
seteiah makan

4. antihiprtensi

- Katopril : digunakan dalam keadaan perut kosong 1


Jam setelah makan.
2) Obat dan susu
 Mekanisme interaksi obat dan susu
Susu diketahuai mengandung xantin oksidase (XO) yang
tinggi sekitar 30% obat berubah menjadi asam 6-thiouric
(metabilik tak aktif). Intraksi susu dan obat termasuk dalam
interaksi farmakonetik pada fase metabolisme karena susu
memiliki potensi untuk mengurangi bioavaibilitas dari obat.
 Contoh obat dan cara penggunaannya
- Mercaptopurine : digunakan 1 atau 2 jam setelah
Makan
- Tetrasiklin : digunakan 1 jam setelah makan
3) Obat dan protein
 Mekanisme interaksi obat dan protein
Interaksi obat dan protein terjadi pada interaksi yang terjadi
proses distribusi, interaksi ini terjadi karena pergeseran
protein plasma jika obat memiliki indeks ikatan protein
sebesar ≥ 85% volume distribusi (Vd) obat ≤0,15% dan
memiliki batas kemampuan sempit, obat presipitan berikatan
dengan albumin pada tempat ikatan (binding site) yang
sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk
menempati dan menjenuhkan binding-site nya pada saat
prosese distribusi.
 Contoh obat dan cara penggunaannya
- Fenofibrate : digunakan 1 jam setalah makan
- Talbutamid : digunakan 1 jam setelah makan
4) Obat dan asam
 Mekanisme interaksi obat dan asam
pH cairan saluran cerna mempengaruhi laju absorbsi
obat yang bersifat asam atau basa lemah.Pada pH cairan
saluran cerna yang alkalis obat asam terionisasi, kurang
terabsorbsi, misalnya akibat adanya antasid, akan
meningkatkan kelarutan obat yang bersifat asam yang sukar
larut dalam saluran cerna, misalnya aspirin. Dengan
demikian dipercepatnya disolusi aspirin oleh basa akan
mempercepat absorpsinya. Akan tetapi, suasana alkalis di
saluran cerna akan mengurangi kelarutan beberapa obat
yang bersifat basa (misalnya tetrasiklin) dalam cairan
saluran cerna, sehingga mengurangi absorpsinya.
Berkurangnya keasaman lambung oleh antasida akan
mengurangi pengrusakan obat sehingga
meningkatkanbioavailabilitasnya.Ketokonazol yang diminum
per oral membutuhkan medium asam untuk melarutkan
sejumlah yang dibutuhkan sehingga tidak memungkinkan
diberikan bersama antasida, obat antikolinergik,
penghambatan H2, atau inhibitor pompa proton (misalnya
omeprazol). Jika memang dibutuhkan, sebaiknya abat-obat
ini diberikan sedikitnya 2 jam setelah pemberian
ketokonazol. Interaksi obat dan asam biasanya terjadi pada
absorpsi gastrointestinal oada saliran pencernaan.
 Contoh obat dan cara penggunaannya
- Antasida : digunakan 1 jam sebelum makan
- Tetrasiklin : digunakan 1 jam setelah makan
- Glibenclamide: digunakan 1 jam setelah sarapan
5) Obat dan lemak
 Mekanisme interaksi obat dan lemak
Interaksi obat dan lemak terjadu pada proses absorpsi.
Absorpsi obat secara transport aktif lebih cepat dari pada
secara tansport pasif. Obat dalam bentuk tak-terion larut
lemak dan mudah berdifusi melewati membran sel,
sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan
tidak dapat berdifusi. Di bawah kondisi fisiologi normal
absorpsinya agak tertunda tetapi tingkat absorpsinya
biasanya sempurna. Hal ini yang menyebabkan kebanyakan
obat bila berinteraksi dengan lemak tidak dapat berdifusi.
 Contoh obat dan cara oenggunnannya
- Vitamin A : dikonsumsi sebelum atau sesudah
Makan dalam jangka waktu 1 jam
- Vitamin D : dikonsumsi dengan makanan
6) Obat dan alkohol
 Mekanisme interaksi obat dan alkohol
interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik yang terjadi
antara alkohol dan obat. Ketika alkohol dikonsumsi, sekitar
10% mengalami first-pass metabolisme di lambung, usus,
dan hati. Salah satu enzim utama yang terlibat dalam
metabolisme alkohol adalah alkohol dehidrogenase (ADH),
yang mengubah alkohol menjadi asetaldehida, suatu
senyawa beracun yang selanjutnya dimetabolisme oleh
aldehida dehidrogenase (ALDH) ke asetat. Setelah fisrt-pass
metabolisme, alkohol didistribusikan ke berbagai jaringan
tubuh dan memberikan dampaknya. Alkohol diangkut
kembali ke hati untuk metabolisme dan eliminasi. Selain
metabolisme lebih lanjut oleh ADH dalam hati, alkohol juga
dimetabolisme oleh enzim sitokrom450 (CYP 450).
Asupan alkohol dapat mengubah farmakokinetik obat,
termasuk penyerapan dan metabolismenya. Sebaliknya,
farmakokinetik alkohol juga dapat diubah oleh obat-obatan.
Hati merupakan tempat paling utama terjadinya
metabolisme, baik terhadap alkohol maupun obat. Proses
metabolisme tersebut ditangani oleh enzim sitokrom P450,
terutama CYP2E1.
Alkohol merupakan substrat CYP2E1, dan tergantung pada
frekuensi asupan alkohol, juga dapat berupa induser atau
inhibitor dari CYP2E1. Pada pengkonsumsi alkohol berat,
mengakibatkan aktivitas CYP2E1 terinduksi, sedangkan
jangka pendek konsumsi berat aktivitas CYP2E1 terhambat
oleh persaingan alkohol dengan substrat lain.
Salah satu bentuk interaksi antara alkohol-obat yang
melibatkan organ hati sebagai situs utama terjadinya
metabolisme adalah merupakan jenis dari interaksi
farmakokinetik (dalam hal ini alkohol mengganggu
metabolisme obat). Gangguan ini dapat berupa dua bentuk,
sebagai berikut:

• Penghancuran dan Eksresi obat tertunda, karena obat


harus bersaing dengan alkohol untuk diproses sitokrom
P450. Proses interaksi tersebut telah dideskripsikan
sebagian besar sebagai reaksi metabolisme yang
melibatkan CYP2E1, yang juga mungkin melibatkan
CYP3A4 dan CYP1A2 (Salmela et al. 1998).

• Metabolisme obat dipercepat, karena alkohol meningkatkan


aktivitas sitokrom memetabolisme obat. Ketika Alkohol tidak
hadir bersaing dengan obat untuk memperoleh penanganan
sitokrom, sitokrom cenderung meningkatkan rate eliminasi
obat.

Mekanisme Interaksi Alkohol-Obat pada tingkatan golongan


bukan peminum alkohol, hanya peminum ringan hingga
peminum berat yang mabuk serta terintoksikasi.

(A) Dengan tidak adanya alkohol dalam tubuh, aktivitas CYP


relatif rendah. CYP memecah obat, dan produk yang
dihasilkan (yaitu, metabolit) dikeluarkan.

(B) Setelah mengkonsumsi alkohol (moderat), CYP


memetabolisme alkohol di samping pengobatan tersebut.
Sebagai hasil dari kompetisi untuk CYP antara alkohol
danobat, metabolisme obat berkurang serta produksi
metabolit berkurang karena penurunan ekskresi, sehingga
tingkat obat lebih tinggi dalam tubuh. Selain itu, interaksi
antara alkohol dan obat dapat terjadi pada sistem saraf
pusat (SSP).

(C) Dalam peminum berat kronis yang mabuk, aktivitas CYP


meningkat. Akibatnya, kerusakan obat dimetabolisme oleh
peningkatan CYP, dan tingkat metabolit serta ekskresi
meningkat, mungkin mengakibatkan tingkat obat cukup
dalam tubuh. Selanjutnya, metabolit toksik dapat
terakumulasi.

(D) Dalam peminum berat kronis yang terintoksikasi, CYP


diaktifkan, namun sebagian besar enzim terlibat dalam
metabolisme alkohol. Akibatnya, CYP-dependent
metabolisme obat lain berkurang, sehingga level metabolit
dan ekskresi menurun. Selain farmakokinetik, interaksi
alkohol-obat juga dapat terjadi secara farmakodinamik, yaitu
alkohol mempengaruhi efek obat tanpa mempengaruhi
konsentrasi obat dalam darah, tidak melibatkan enzim
penghambatan atau aktivasi, melainkan merujuk pada efek
aditif dari alkohol dan obat-obatan tertentu. Sering terjadi
paling umum dalam sistem saraf pusat (SSP), misalnya
pada obat penenang. Contoh interaksi farmakodinamik yang
melibatkan alkohol dan obat-obatan adalah peningkatan
risiko kejadian efek samping obat atau peningkatan
kerentanan terhadap efek obat '. Selain itu, asupan alkohol
bisa memainkan peran negatif dalam kondisi penyakit
tertentu seperti diabetes mellitus.
 Contoh obat dan cara penggunaannya
- Antibitik
 Ampisillin,amoxicillin : digunakan 2 jam setelah
makan
- Antidepresan
 Paroxetine, duloxetin : diminum dengan atau
tanpa makananan dalam jangka waktu 1 jam
- Antihistamin
 Cyproheptadine, promethazine : diminum 1 jam
setelah makan

Anda mungkin juga menyukai