Anda di halaman 1dari 2

NAMA : HITCHA CHRISTIAN M PARDEDE

NIM : 04325963

PRODI : S1-ILMU KOMUNIKASI

TUGAS 3 SISTEM HUKUM INDONESIA

Mengapa  rekaman Closed Circuit Television  (CCTV) dapat dijadikan sebagai alat bukti di persidangan
dan mempunyai kekuatan pembuktian, mengingat bahwa alat bukti dalam hukum acara pidana telah
ditentukan secara limitatif pada Pasal 184 KUHAP. Jelaskan pendapat Anda.

Jawaban :

Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) dapat dijadikan alat bukti karena CCTV memiliki suatu bukti
yang kuat karena CCTV merekam semua kejadian secara jelas dan konkrit tanpa ada dibuat-buat. Karena
dalam suatu CCTV merupakan suatu kejadian yang direkam, yang bisa menjadi alat bukti yang sah. Dan
Alat bukti sah yang tercantum pada Pasal 184 Ayat 1 (satu) adalah untuk membuktikan kebenaran
materil terdakwa apakah ia bersalah atau tidak. Para penegak hukum akan lebih mudah membuktikan
apabila saksi dapat membuktikan atau menunjukan kesalahan terdakwa yang telah melakukan
kejahatan tindak pidana tersebut. Tetapi sebaliknya, apabila saksi tidak dapat membuktikan atau
menunjukan kesalahan terdakwa telah melakukan kejatahatan tindak pidana tersebut, maka aparat
penegak hukum akan lebih sulit untuk menelusuri dan membuktikan kebenaran materil tersebut. Oleh
karena itu CCTV menjadi saksi lain yang dapat membantu penegak hukum dalam membuktikan
kebenaran materil.

CCTV merupakan alat bukti dalam hukum acara pidana di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Putusan Mahkamah
Konstitusi No. 20/PUU-XIV/2016 tanggal 7 September 2016. CCTV masuk dalam pengertian informasi
elektronik dan dokumen elektronik tertulis pada Pasal 1 angka 1 dan 4 UU ITE dan yang dimana CCTV
merupakan alat bukti yang sah dalam hukum acara yang berlaku, sehingga dalam hukum acara pidana
dapat dipergunakan sebagai alat bukti dalam proses penyidikan, penuntutan dan persidangan
sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) dan (2) serta Pasal 44 UU ITE Sebagaimana bahwa status alat
bukti elektronik ini pengaturanya tidak terdapat didalam ketentuan yang telah diatur oleh KUHAP, akan
tetapi yang mana pengaturannya terdapat pada beberapa ketentuan perundang-undangan yang bersifat
kusus, sebagaimana cerminan dari asas Lex Specialis Derogat Legi Generalli dan pengaturan hukum yang
dikeluarkan oleh Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itu putusan Mahkamah Konstitusi ini yang
dipandang sebagai dasar untuk membatasi penggunaan CCTV sebagai alat bukti dalam hukum acara
pidana.

Sumber :

https://business-law.binus.ac.id/2016/11/22/kedudukan-cctv-sebagai-alat-bukti-hukum-pidana-pasca-
putusan-mk-2016/

http://ejournal.uki.ac.id/index.php/tora/article/download/1700/1518/
https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/analogihukum/article/view/1749/1309

Anda mungkin juga menyukai