Anda di halaman 1dari 17

Accelerat ing t he world's research.

Studi Inventarisasi Keanekaragaman


Tumbuhan Paku di Kawasan Wisata
Coban Rondo Kabupaten Malang
Wawan W. Efendi

Related papers Download a PDF Pack of t he best relat ed papers 

Cogit o Feb 2013.pdf


Tomy Michael

PEMANFAATAN PT ERIDOPHYTA KAWASAN HUTAN PACET TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) RADEN SOE…
Hanipa Imuy

GROUND COVER PLANT COMMUNIT Y COMPOSIT ION ON 1 HA PERMANENT PLOT OF MOUNT POHEN, B…
Sut omo Sut omo
ISSN 2089-9947

STUDI INVENTARISASI KEANEKARAGAMAN


TUMBUHAN PAKU DI KAWASAN WISATA
COBAN RONDO KABUPATEN MALANG

Wawan W. Efendi
Fitroh N.P. Hapsari
Zulaikhah Nuraini, S.Pd

Abstrak

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan kormophyta berspora yang mudah hidup di berbagai habitat.
Kelimpahan dan persebarannya sangat luas dikarenakan sporanya mudah terbawa angin maupun
medium peranta lainnya, dan mampu bertahan pada kondisi yang kurang optimal. Namun, menur ut
Suryana (2009)hingga sekarang data dasar tumbuhan paku tentang komposisi, keanekaragaman dan
distribusi belum banyak terungkap. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
tentang data tersebut di kawasan wisata Coban Rondo. Inventarisasi dilakukan menggunakan teknik
porposive samplingdengan plot berukuran 120 m x 50 m yang kemudian dibagi menjadi empat sub-
plot yang sama besar (30 m x 50 m). Tiap-tiap sub-plot tersebut diidentifikasi dan dihitung semua
jumlah individu yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan wisata Coban Rondo
terdapat 27 jenis paku yang terdiri dari 2 divisi (Pteridophyta dan Lycophyta), 3 kelas
(Polypodiopsida, Marattiopsida dan Lycopsida), 4 ordo (Polypodiales, Cyatheales, Marattiales dan
Selaginellales) dan serta 14 famili. Paku yang komposisi dan dominansi tertinggi adalah Athyrium
procumbens (Holtt.) Holtt.Sedangkan tingkat keanekaragamannya tergolong ke dalam kategori tinggi,
yaitu 8,87.

Kata kunci: tumbuhan paku, coban rondo, dan keanekaragaman.

A. Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki
keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna yang tinggi. Menurut Supeni (1994) di
dalam Suryana (2009) Diperkirakan dari seluruh jumlah flora dan fauna yang ada di dunia,
17% berada di Indonesia. Tingginya tingkat keanekaragaman hayati tersebut dikarenakan
Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat curah hujan yang tinggi. Sedangkan
menurut Nandika (2005), Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna dikarenakan
dari aspek geografis sumber daya hutannya terletak di sekitar garis khatulistiwa dan
tersebar di banyak kepulauan, serta berada di antara benua Asia dan Australia – sehingga
menyebabkan timbulnya ciri dan karakteristik tertentu pada sumber daya yang berupa
ekosistem hutan hujan tropis.
Hutan hujan tropis Indonesia dikenal sebagai hutan yang paling kaya akan jenis
tumbuhan dan memiliki ekosistem paling kompleks di dunia (Whitmore, 1984 dalam
Sidiyasaet al., 2006). Selain itu, menurut Groobridge (1992) dalam Suryana (2009)
keanekaragaman hayati Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia.

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 173


ISSN 2089-9947

Salah satu jenis keanekaragaman hayati dari kelompok flora yang ada di Indonesia
adalah tumbuhan paku (Sastrapradja, 1985 dalam Suryana, 2009) yang merupakan
tumbuhan kormophyta berspora yang dapat hidup dengan mudah di berbagai macam
habitat dan di mana saja baik secara epifit, terestrial maupun di air (Ewusie, 1990 dalam
Widhiastuti et al., 2006).
Kelimpahan dan penyebaran tumbuhan paku sangat tinggi terutama di daerah
hujan tropis. Tumbuhan paku juga banyak terdapat di hutan pegunungan (Ewusie, 1990
dalam Widhiastuti et al., 2006). Menurut Tjitrosomo et al. (1983) tumbuhan paku tersebar
luas dari tropika yang lembab hingga melampaui lingkaran Afrika. Sedangkan jumlah yang
teramat besar dijumpai di hutan-hutan tropika dan tumbuh dengan subur (di daerah
beriklim sedang, di hutan-hutan, padang rumput yang lembab, sepanjang sisi jalan dan
sungai).
Tumbuhan paku memiliki jenis yang heterogen, baik ditinjau dari segi habitus
maupun cara hidupnya (Tjitrosoepomo, 2005). Di permukaan bumi ini dilaporkan terdapat
13.000 jenis tumbuhan paku. Di kawasan Malesia yang terdiri dari hampir kepulauan
Indonesia, Filipina, Guinea dan Australia Utara diperkirakan terdapat 4.000 jenis paku
yang mayoritasnya adalah Filicinae (Whitten, 1995 dalam Lubis, 2009). Menurut Loveless
(1999) paku diwakili oleh kurang dari 10.000 jenis yang hidup, tetapi karena ukurannya
yang besar dan karakteristiknya yang khas, tumbuhan merupakan komponen vegetasi yang
menonjol. Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3.000 di antaranya
tumbuh di Indonesia).
Di sisi lain, tumbuhan paku juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi,
terutama pada keindahannya dan sebagai tanaman holtikultura, sebagai tanaman hias
(Polunim, 1994 dalam Daryanti, 2009). Sastrapradja et al. (1980) menjelaskan bahwa
tumbuhan paku juga dapat dimanfaatkan untuk sayuran dan obat-obatan tradisional.
Misalnya Helminthostachys zeylanica (Linn.) Hook. merupakan salah satu tumbuhan paku
yang telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional (Fitrya & Anwar,
2009). Sedangkan tumbuhan paku Cyathea mempunyai peranan yang besar bagi
keseimbangan ekosistem hutan antara lain sebagai pencegah erosi dan pengatur tata guna
air.
Penyebaran dan keanekaragaman tumbuhan paku memang sangat besar, begitu
pula dengan potensi dan manfaatnya yang cukup penting baik untuk tanaman hias, sayuran,
obat-obatan hingga peranannya sebagai keseimbangan ekosistem. Namun, data dasar

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 174


ISSN 2089-9947

tumbuhan paku berkenaan dengan komposisi, keanekaragaman dan distribusi belum


banyak terungkap (Suryana, 2009). Bahkan laju kepunahan jenis akibat perbuatan manusia
saat ini telah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Diperkirakan bahwa hampir 140
jenis punah setiap harinya. Banyak jenis yang akan hilang sebelum diketahui keberadaan
dan potensinya bagi pertanian maupun kedokteran (Jhamtani, 1993 dalam Sunarmi &
Sarwono, 2004). Selain itu, kegiatan inventarisasi keanekaragaman flora di Indonesia
sudah dimulai sejak Rumphius pada tahun 1970, namun hingga sekarang belum selesai
dilaksanakan (Sunarmi & Sarwono, 2004).
Mempertimbangkan hal tersebut di atas tentang penyebaran, potensi dan manfaat
tumbuhan paku hingga belum lengkapnya data, hal tersebut berarti inventarisasi terhadap
tumbuhan paku belum selesai dilaksanakan bahkan masih banyak yang belum terungkap.
Oleh karena itu, perlu dilakukan inventarisasi tumbuhan paku sebagai kekayaan alam yang
dapat dikembangkan dan dilestarikan khususnya di kawasan-kawasan wisata yang ada di
Indonesia seperti Coban Rondo. Kawasan wisata ini terletak pada ketinggian 1135 m dpl,
dengan debit air 150 liter/detik saat musim hujan, sedangkan pada musim kemarau hanya
90 liter/detik (Anonymous, 2012) dengan curah hujan rata-rata 1.721 mm pertahun
sehingga memiliki kelembaban yang tinggi (Anonymous, 2012).
Berdasarkan letak geografis dan kondisi yang tersebut di atas, diperkirakan
kawasan wisata Coban Rondo memiliki kekayaan tumbuhan paku yang cukup tinggi.
Namun, hingga saat ini belum banyak data tentang keanekaragaman tumbuhan paku yang
dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman
tumbuhan paku yang meliputi jenis-jenis, komposisi, dominasi dan tingkat
keanekaragaman tumbuhan paku yang ada di kawasan wisata Coban Rondo.

B. Pembahasan
1. Kawasan Wisata Coban Rondo
Nama Coban Rondo tersebut berasal dari legenda sepasang pengantin yang baru
saja menikah, yaitu Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusumo dari
Gunung Anjasmoro. Diusia pernikahan mencapai 36 hari (selapan=bahasa Jawa), mereka
bersikeras untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro meskipun orangtuanya tidak
mengizinkan. Namun, ditengah perjalanan mereka dihadang oleh Joko Lelono yang tertarik
pada Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnay dari Raden Baron Kusumo.
Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, Sehingga Raden Baron Kusumo meminta pada

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 175


ISSN 2089-9947

pembantunya untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di tempat yang ada air terjunnya
(Coban=Bahasa Jawa). Perkelahian tersebut berlangsung menegangkan, hingga keduanya
sama-sama gugur. Dengan demikian Dewi Anjarwati menjadi Janda (Rondo=Bahasa
Jawa). Sejak itulah tempat Dewi Anjarwati bersembunyi di sebut dengan Coban Rondo
(Coban Rondo, 2012).
Kawasan wisata Coban Rondo terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon,
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dengan batas wilayah sesuai pengembangannya
adalah:
Sebelah Utara : Desa Sebaluh
Sebelah Selatan : Desa Paranggembang
Sebelah Barat : Desa Pujon Kidul
Sebelah Timur : Kecamatan Batu
Sedangkan menurut wilayah pengelolahan hutan, Coban Rondo masuk wilayah Kawasan
Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan
(BKPH) Pujon Resort Polisi Hutan (RPH) Pujon Selatan (Anonymous, 1999).
Secara geografis kawasan wisata Coban Rondo terletak pada koordinat 7° 53' 5"
Lintang Selatan, dan 112° 28' 36" Bujur Timur, yang berada pada ketinggian 1135 meter
dpl, dengan debit air 150 liter/detik saat musim hujan, sedangkan pada musim kemarau
hanya 90 liter/detik (Anonymous, 2012) dan curah hujan rata-rata 1.721 mm pertahun
sehingga memiliki kelembaban yang tinggi (Anonymous, 2012). Coban Rondo bentang
lahannya dicirikan oleh dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan yang terjal
(Rahadi et al. 2008).

2. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juli 2012 di kawasan wisata Coban Rondo
Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Penentuan
sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang menurut
Sugiyono (2010) adalah teknik penentuan sampel dengan mempertimbangkan suatu hal
tertentu. Maka dalam penelitian ini didasarkan pada keberadaan tumbuhan paku yang
dianggap mewakili kawasan wisata Coban Rondo, yaitu pada area dekat air terjun. Pada
lokasi penelitian dibuat petak plot berukuran 120m x 50m yang dimulai dari gapura masuk
air terjun Coban Rondo ke arah samping kanan dan ke samping kiri dengan panjang 50 m.
kemudian ditarik ke arah menuju air terjun sepanjang 120 m hingga membentuk persegi

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 176


ISSN 2089-9947

panjang. Kemudian plot tersebut dibagi menjadi empat bagian yang sama besar dengan
ukuran 30 m x 50 m.
Semua jenis tumbuhan paku yang ditemukan, diidentifikasi berdasarkan literatur-
literatur yang muktahir. Dilakukan pula pemotretan semua tumbuhan paku tersebut dari
kenampakan utuhnya hingga semua bagiannya terutama bagian yang merupakan ciri
utamanya. Setiap jenis paku dihitung jumlah individunya di dalam tiap-tiap plot. Selain
keanekaragamannya, dilakukan pengukuran faktor-faktor abiotiknya seperti; suhu,
kelembaban, pH tanah, kecepatan angin, dan intensitas cahaya.
Data yang telah diperoleh tersebut dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai
berikut (Indriyanto, 2006):
a. Kerapatan (K)

K suatu jenis = Jumlah individu dalam petak contoh


Total luas area petak contoh

b. Kerapatan Relatif (KR)

KR suatu jenis = Kerapatan suatu jenis X 100%


Kerapatan seluruh jenis

c. Frekuensi (F)

F suatu jenis = ∑ sub petak ditemukan suatu spesies


∑ petak contoh

d. Frekuensi Relatif (FR)

FR suatu jenis = F suatu jenis X 100%


F seluruh jenis

e. Indeks Nilai Penting (INP)

INP = KR+FR

f. Indeks Keanekaragaman
(s – 1)
d =
Log N
Keterangan:
d = Indeks keanekaragaman Margalef
s = Jumlah spesies
N = Jumlah individu

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 177


ISSN 2089-9947

Tabel 1
Hasil Identifikasi Tumbuhan Paku Di Kawasan Wisata
Coban Rondo
Banyak Jenis di
No. Divisi Kelas Ordo Famili Jenis Paku Dalam Plot ∑
I II III IV
1. Pterido- Polypodi- Polypodia- Adiantaceae Adiantum capillus-veneris - 27 - - 27
phyta opsida les L.
2. Adiantum diaphanum 6 18 - - 24
Blume
3. Adiantum hispidulum Sw. 1 2 1 4 8
Adiantum raddianum C.
4. Presl. - 2 - 5 7

Dryopteris sp.
5. Dryopteridaceae 3 - - - 3
Asplenium robustum Bl.
6. Aspleniaceae Asplenium perakense 8 15 24 9 56
7. Matthew & Christ. 5 8 10 7 30
Hymenasplenium sp.
8. - 1 - - 1
Athyrium procumbens
9. Athyriaceae (Holtt.) Holtt. 52 68 25 13 158

Davallia denticulata
10. Davalliaceae (Burm.) Mett. 4 26 17 6 53

Microlepia speluncae (L.)


11. Dennstaedtiaceae Moore. - 8 2 - 10
Orthiopteris kingii (Bedd.)
12. Holtt. 35 20 14 14 83

Nephrolepis hirsutula
13. Nephrolepidaceae (Forst.) Pr. 10 14 16 16 56

Belvisia revoluta (Bl.)


14. Polypodiaceae Copel. 8 14 23 3 48
Goniophlebium
15. subauriculatum (Bl.) Presl. 2 18 12 6 38
Loxogramme avenia (Bl.)
Presl.
16. Pteris biaurita L. 3 7 15 8 33
Pteris tripartita Sw.
17. Pteridaceae Cheilanthes tenuifolia 19 8 9 19 55
18. (Burm.) Sw. 1 - - - 1
19. - - 1 - 1
Tectaria angulata (Willd.)
C. Chr.
20. Tectariaceae - - - 1 1
Chingia clavipilosa Holtt.
Christella dentata (Forsk.)
21. Thelypteridaceae Brownsey & Jermy 1 - 1 1 3
22. 12 26 4 6 48
Cyathea contaminan
(Hook.) Copel.

23. Cyatheales Cyatheaceae Cyathea latebrosa (Wall. 6 4 5 5 20


ex Hook.) Copel.

24. Angiopteris evecta (Forst.) - - - 1 1


Hoffm.

25. Marattiop- Marattiales Marattiaceae Selaginella plana (Desv. 1 1 - - 2


sida ex Poir.) Hieron
Selaginella trisulcata
26. Lyco- Lycopsida Selaginellales Selaginellaceae Asplund - - 4 - 4
phyta
27. 5 15 35 26 81
Jumlah 852
Catatan: Identifikasi tersebut didasarkan pada taksonomi terbaru (Smith et al., 2006; Kinho, 2009;
dan Christenhusz et al., 2011).

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 178


ISSN 2089-9947

3. Kekayaan Jenis Tumbuhan Paku


Hasil penelitian di kawasan wisata Coban Rondo telah ditemukan 27 jenis
tumbuhan paku yang terdiri dari 2 divisi (Pteridophyta dan Lycophyta), 3 kelas
(Polypodiopsida, Marattiopsida dan Lycopsida), 4 ordo (Polypodiales, Cyatheales,
Marattiales dan Selaginellales), dan 14 famili. Dari 3 kelas tersebut di atas, yang
ditemukan paling banyak adalah dari kelas Polypodiopsida (Tabel 1).
Divisi Pteridophyta yang ditemukan dengan jumlah anggota paling banyak adalah
kelas Polypodiopsida yang terdiri dari dua ordo yaitu (1) Polypodiales, dengan 11 famili
yaitu Adiantaceae, Aspleniaceae, Athyriaceae, Davalliaceae, Dennstaedtiaceae,
Dryopteridaceae, Nephrolepidaceae, Polypodiaceae, Pteridaceae, Tectariaceae, dan
Thelypteridaceae. (2) Cyatheales hanya 1 famili yaitu Cyatheaceae. Sedangkan kelas
Marattiopsida hanya ditemukan 1 ordo yaitu Marattiales dengan 1 famili yaitu
Maratiaceae. Selain Pteridophyta, ditemukan pula divisi Lycophyta yang hanya diperoleh
1 kelas yaitu Lycopodinae dengan 1 ordo yaitu Selaginellales yang hanya ada satu famili
yaitu Selaginellaceae (Tabel 1).
Berdasarkan data tersebut dan beberapa penjelasan diatas, jumlah jenis paku yang
ditemukan cukup banyak yaitu 27 jenis tumbuhan paku. Suatu komunitas dikatakan
memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi apabila komunitas tersebut disusun oleh
banyak spesies dengan banyak kelimpahan spesies yang sama maupun yang hampir sama
(Barbour et al., 1987; Krebs, 1989; Soegianto, 1994; Lubis, 2009). Sedangkan Odum
(1996) dalam Lubis (2009) juga menyatakan bahwa semakin banyak jumlah spesies, maka
semakin tinggi keanekaragamannya.
Tabel 2
Faktor Abiotik Di Kawasan Wisata Coban Rondo
Faktor Abiotik Angka
Suhu udara 20,4-24,0 ºC
Kelembaban udara 80%-90%
pH tanah 5,0-6,0
Intensitas cahaya 0,20-978 lux
Kecepatan angin 0,3-6,8 knots*
*1 knots = 1,8 km/jam

Terdapatnya keanekaragaman jenis paku yang tinggi di kawasan wisata Coban


Rondo dikarenakan oleh faktor-faktor lingkungan (abiotik) yang sesuai dengan kehidupan
berbagai jenis tumbuhan paku. Sebagaimana telah dipaparkan pada Tabel 2 bahwa di
kawasan wisata Coban Rondo memiliki suhu udara antara 20,4-24,0 ºC, kelembaban udara

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 179


ISSN 2089-9947

80%-90%, pH tanah 5,0-6,0, Intensitas cahaya 0,20-978 lux, dan Kecepatan angin 0,3-6,8
knots. Sedangkan debit air di kawasan wisata Coban Rondo adalah 150 liter/detik saat
musim hujan, sedangkan pada musim kemarau hanya 90 liter/detik (Anonymous, 2012)
dengan curah hujan rata-rata 1,721 mm pertahun (Anonymous, 2012). Menurut LIPI
(1980) dalam Lubis (2009), paku di hutan umumnya menyukai naungan dan terlindung
dari panas serta angin kencang. Sedangkan Sastrapradja et al. (1980) menjelaskan bahwa
umumnya di daerah pegunungan jumlah jenis paku lebih banyak dari pada di dataran
rendah, hal ini dikarenakan oleh kelembaban yang tinggi, banyaknya aliran air, dan adanya
kabut, serta banyaknya curah hujan.
Berdasarkan semua tumbuhan paku yang telah ditemukan, yang memiliki anggota
terbanyak adalah dari kelas Polypodiosida. Hal ini sesuai dengan penjelasan Smith et al.
(2006) dan Christenhusz et al. (2011) bahwa kelas dari tumbuhan paku yang memiliki
anggota terbanyak adalah Polypodiosida. Sedangkan famili dari tumbuhan paku yang
ditemukan di kawasan wisata Coban Rondo dengan jumlah jenis terbanyak adalah famili
Adiantaceae yang berjumlah empat jenis.
Keanekaragaman jenis paku yang tinggi tersebut dikarenakan oleh kondisi
lingkungan (Tabel 2) di kawasan wisata Coban Rondo memang sangat mendukung untuk
pertumbuhan dan kehidupan tumbuhan paku. Selain itu, ketinggian daerah (1135 m dpl)
juga mempengaruhi keanekaragan jenis paku tersebut. Sebagaimana telah dijelaskan oleh
Lubis (2009) bahwa hasil penelitiannya menyimpulkan pada ketinggian 1100-1300 m dpl
terdapat keanekaragaman yang paling tinggi dibandingkan ketinggian 1300-1500 m dpl
maupun 1500-1750 m dpl. Hal tersebut menurut Ewusie (1990) dapat terjadi karena
berkurangnya keanekaragaman dalam jumlah jenis berkaitan dengan meningkatnya
ketinggian dan curah hujan yang berkurang. Sedangkan vegetasi di daerah pengunungan
sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim pada ketinggian yang berbeda-beda.

Tabel 3
Nilai K, KR, F, FR INP Dan Indeks Keanekaragaman Dari Paku-Pakuan Di
Kawasan Wisata Coban Rondo
Cara ∑
Spesies K KR % F FR % INP % d
Hidup Individu
Adiantum capillus-veneris L. + 27 45,00 3,17 0,25 1,33 4,50 8,87
Adiantum diaphanum Blume + 24 40,00 2,82 0,5 2,67 5,49
Adiantum hispidulum Sw. + 8 13,33 0,94 1 5,33 6,27
Adiantum raddianum C. Presl. + 7 11,67 0,82 0,5 2,67 3,49
Angiopteris evecta (Forst.) + 2 3,33 0,23 0,5 2,67 2,90
Hoffm.

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 180


ISSN 2089-9947

Asplenium robustum Bl. - 56 93,33 6,57 1 5,33 11,90


Asplenium perakense Matthew - 30 50,00 3,52 1 5,33 8,85
& Christ.
Athyrium procumbens (Holtt.) + 158 263,33 18,54 1 5,33 23,87
Holtt.
Belvisia revoluta (Bl.) Copel. - 48 80,00 5,63 1 5,33 10,96
Cheilanthes tenuifolia (Burm.) + 1 1,67 0,12 0,25 1,33 1,45
Sw.
Chingia clavipilosa Holtt. + 3 5,00 0,35 0,75 4,00 4,35
Christella dentata (Forsk.) + 48 80,00 5,63 1 5,33 10,96
Brownsey & Jermy
Cyathea contaminan (Hook.) + 20 33,33 2,35 1 5,33 7,68
Copel.
Cyathea latebrosa (Wall. ex + 1 1,67 0,12 0,25 1,33 1,45
Hook.) Copel.
Davallia denticulata (Burm.) ± 53 88,33 6,22 1 5,33 11,55
Mett.
Dryopteris sp. + 3 5,00 0,35 0,25 1,33 1,68
Goniophlebium subauriculatum - 38 63,33 4,46 1 5,33 9,79
(Bl.) Presl.
Hymenasplenium sp. + 1 1,67 0,12 0,25 1,33 1,45
Loxogramme avenia (Bl.) Presl. - 33 55,00 3,87 1 5,33 9,20
Microlepia speluncae (L.) + 10 16,67 1,17 0,5 2,67 3,84
Moore.
Nephrolepis hirsutula (Forst.) + 56 93,33 6,57 1 5,33 11,90
Pr.
Orthiopteris kingii (Bedd.) + 83 138,33 9,74 1 5,33 15,07
Holtt.
Pteris biaurita L. + 55 91,67 6,46 1 5,33 11,79
Pteris tripartita Sw. + 1 1,67 0,12 0,25 1,33 1,45
Selaginella plana (Desv. ex - 4 6,67 0,47 0,25 1,33 1,80
Poir.) Hieron
Selaginella trisulcata Asplund + 81 135,00 9,51 1 5,33 14,84
Tectaria angulata (Willd.) C. + 1 1,67 0,12 0,25 1,33 1,45
Chr.
Jumlah 852 1420 100 18,75 100 200 8,87
Keterangan:
K = Kerapatan KR = Kerapatan Relatif INP = Indeks Nilai Penting
F = Frekuensi FR = Frekuensi Relatif d = Indeks Keanekaragaman Margalef
+ = Terestrial - = Epifit ± = Terestrial dan Epifit

4. Komposisi Tumbuhan Paku


Menurut Widhiastuti et al. (2006) untuk mengetahui komposisi tumbuhan paku,
dapat dilihat berdasarkan keberadaan dan jumlah individu suatu jenis yang menempati
suatu wilayah. Lubis (2009) menjelaskan bahwa komposisi tumbuhan paku dapat diketahui
berdasarkan nilai kerapatan relatif (KR) dari tumbuhan paku tersebut. Sedangkan
Indriyanto (2006) menerangkan bahwa kerapatan atau densitas merupakan jumlah individu
per unit luas atau per unit volume atau per satuan ruang.
Berdasarkan Tabel 3, bahwa jenis atau spesies tumbuhan paku yang memiliki nilai
Kerapatan Relatif tertinggi adalah Athyrium procumbens (Holtt.) Holtt. sebesar 18,54%
kemudian disusul, Orthiopteris kingii (Bedd.) Holtt. dengan nilai KR 9,74%, dan
Selaginella trisulcata Asplund dengan nilai KR 9,51%. Hal tersebut berarti tiga spesies di
atas yang memiliki tingkat komposisi tertinggi. Sedangkan yang tingkat komposisinya

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 181


ISSN 2089-9947

terrendah adalah Cheilanthes tenuifolia (Burm.) Sw., Cyathea latebrosa (Wall. ex Hook.)
Copel., Hymenasplenium sp., Pteris tripartita Sw. dan Tectaria angulata (Willd.) C. Chr.
yang semuanya memiliki nilai KR sebesar 0,12%.
Tinggi dan rendahnya nilai tersebut di atas disebabkan oleh banyaknya individu
dari masing-masing jenis. Sedangkan pertumbuhan paku yang subur pada kawasan wisata
Coban Rondo salah satunya disebabkan oleh faktor abiotik yang sangat mendukunng,
dimana terdapat banyak pohon memiliki tajuk yang banyak dan cukup luas sehingga
memiliki kelembaban yang tinggi yaitu antara 80%-90%. Selain itu, kondisi pH tanah yang
berkisar antara 5-6, intensitas cahaya 0,20-978 lux, dan kecepatan angin 0,3-6,8 knots juga
sangat mendukung pertumbuhan serta kehidupan tumbuhan paku.
Komposisi jenis sangat dipengaruhi oleh terutama waktu-waktu pemencaran buah
atau spora dan perkembangan bibit pada daerah tertentu. Selain itu komposisi jenis
berkaitan erat dengan ciri-ciri habitatnya seperti tanah dan topografi (Anwar et al., 1987;
Lubis, 2009). Sementara itu, pada suatu komunitas dapat dilihat adanya perbedaan jenis
penyusunnya secara vertikal, seperti perbedaan bentuk hidup serta tingkatannya (Suin,
2002). Untuk mengetahui komposisi tumbuhan paku tersebut di atas, dapat dilihat
berdasarkan keberadaan dan jumlah individu suatu jenis yang menempati kawasan wisata
Coban Rondo.
Tiga tumbuhan paku yang menempati komposisi tertinggi yaitu Athyrium
procumbens (Holtt.) Holtt., Orthiopteris kingii (Bedd.) Holtt. dan Selaginella trisulcata
Asplund dikarenakan banyaknya jumlah individu dari masing-masing jenis tersebut yang
ditemukan. Berikut jumlah indivudunya secara berturut-turut sebesar 263,33/ha, 138,33/ha,
dan 135,00/ha. Selain itu, sesuainnya kondisi lingkungan (faktor abiotik) menyebabkan ke-
3 tumbuhan paku tersebut dapat tumbuh dengan baik dan cepat. Menurut Mackinon et al.
(2000) dalam Lubis (2009) pada umumnya semakin ekstrim kondisi lingkungan, baik
karena iklim, tanah atau ketinggian tempat yang bertambah, maka akan semakin berkurang
keragaman komposisi jenis vegetasi dan satu atau dua jenis akan semakin dominan.

5. Dominansi Tumbuhan Paku


Cara mengetahui jenis tumbuhan paku yang dominan di kawasan wisata Coban
Rondo dapat diperoleh dari nilai INP. Sebagaimana menurut Indriyanto (2006) bahwa
indeks nilai penting merupakan parameter kuantitatif untuk menyatakan dominansi (tingkat
penguasaan) spesies-spesies di dalam suatu komunitas tumbuhan. Spesies-spesies yang

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 182


ISSN 2089-9947

dominan dalam suatu komunitas tumbuhan akan memiliki nilai INP yang tinggi. sehingga
spesies yang paling dominan akan mempunyai nilai INP yang paling besar dibandingkan
dengan yang lainnya.
Menurut Lubis (2009) nilai INP menyatakan kepentingan suatu jenis tumbuhan
serta memperlihatkan peranannya dalam komunitas. Sedangkan nilai INP tersebut
diperoleh dari penjumlahan nilai KR dengan FR. Berdasarkan Tabel 3, tampak bahwa
tumbuhan paku yang memiliki nilai INP terbesar adalah Athyrium procumbens (Holtt.)
Holtt. sebesar 23,87%, kemudian Orthiopteris kingii (Bedd.) Holtt. 15,07% dan Selaginella
trisulcata Asplund sebesar 14,84%. Ketiga tumbuhan paku tersebut adalah yang dominan
di kawasan wisata Coban Rondo, sedangkan yang paling dominan adalah Athyrium
procumbens (Holtt.) Holtt.

15,07%
23,87% Athyrium procumbens

Orthiopteris kingii
18,84%
Selaginella trisulcata

Bagan 1
Tiga Tumbuhan Paku Dominan Di Kawasan
Wisata Coban Rondo

Tumbuhan paku yang memiliki nilai INP terendah adalah Hymenasplenium sp.,
Cheilanthes tenuifolia (Burm.) Sw., Cyathea latebrosa (Wall. ex Hook.) Copel., Pteris
tripartita Sw. dan Tectaria angulata (Willd.) C. Chr. yang semuanya memiliki nilai 1,45%.

1,45% 1,45%
Hymenasplenium Sp.
1,45% Cheilanthes tenuifolia
1,45%
Cyathea latebrosa
1,45% Pteris tripartita
Tectaria angulata

Bagan 2
Lima Tumbuhan Paku Coban Rondo Dengan
Nilai INP Terendah

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 183


ISSN 2089-9947

Tiga tumbuhan paku dominan yang tersebut di atas adalah sama dengan yang
menempati tiga komposisi tertinggi. Sedangkan lima tumbuhan paku dengan nilai INP
terendah juga merupakan paku yang menempati lima komposisi terendah. Hal tersebut
dikarenakan nilai INP adalah berbanding lurus dengan nilai KR dan juga FR. Semakin
tinggi nilai KR dan FR, maka akan menyebabkan nilai INP semakin tinggi pula, dan begitu
juga sebaliknya.
Tingginya nilai INP pada tumbuhan paku dikarenakan besarnya keberadaan jenis
paku tersebut, dan juga dikarenakan rendahnya keberadaan tumbuhan paku yang lainnya.
Dua hal tersebut dikarenakan kemampuan tumbuh dengan pengaruh faktor abiotik yang
baik. Menurut Pramono (1992) pertumbuhan selain dipengaruhi oleh faktor genetik, juga
sangat dipengaruhi oleh interaksinya dengan lingkungan, seperti kondisi tanah, iklim,
mikroorganisme, dan juga kompetisi dengan organisme yang lain.
Menurut Mackinon et al. (2000) dalam Lubis (2009) umumnya semakin ekstrim
kondisi lingkungan, baik karena iklim, tanah atau ketinggian tempat yang bertambah, maka
akan semakin berkurang keragaman komposisi jenis vegetasi dan satu atau dua jenis akan
semakin dominan. Indrawan (1978) di dalam Lubis (2009) menjelaskan bahwa tumbuh-
tumbuhan yang mempunyai adaptasi tinggilah yang bisa hidup bahkan mendominasi di
suatu daerah. Selain itu dipengaruhi pula oleh pertumbuhan dari bibit atau kecambah dari
suatu jenis.

6. Tingkat Keanekaragaman Tumbuhan Paku


Keanekaragman jenis atau spesies merupakan ciri tingkatan komunitas berdasarkan
organisasi biologinya. Keanekaragaman spesies dapat digunakan untuk menyatakan
struktur komunitas. Dapat pula digunakan untuk mengukur stabilitas komunitas, yaitu
kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan
terhadap komponen-komponennya (Soegianto, 1994 dalam Indriyanto, 2006).
Keanekaragaman spesies yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas
memiliki kompleksitas yang tinggi, karena interaksi speses yang terjadi dalam komunitas
itu sangat tinggi. Indriyanto (2006) menjelaskan bahwa indeks keanekaragaman digunakan
untuk menyatakan tingkat keanekaragaman spesies pada suatu wilayah tertentu.
Nilai indeks keanekaragaman tumbuhan paku yang ada di Kawasan Wisata Coban
Rondo adalah sebesar 8,87 sebagaimana terdapat pada Tabel 3.

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 184


ISSN 2089-9947

Tabel 4
Kisaran dan Pengelompokan Indeks
Keanekaragaman
Indeks Keanekaragaman Kesimpulan
<1 Rendah
1–3 Sedang
>3 Tinggi
Sumber: Mason, 1980 dalam Daryanti, 2009

Berdasarkan Tabel 4 maka tingkat keanekaragaman tumbuhan paku di Kawasan


Wisata Coban Rondo adalah tergolong ke dalam kelompok keanekaragaman yang tinggi.
Odum (1996) menjelaskan bahwa semakin banyak jumlah spesies, maka akan semakin
tinggi keanekaragamannya. Namun sebaliknya, jika nilainya kecil maka komunitas
tersebut hanya didominasi oleh satu atau sedikit jenis. Keanekaragaman jenis dipengaruhi
oleh pembagian penyebaran individu dalam tiap jenisnya, karena suatu komunitas
walaupun banyak jenisnya tetapi penyebaran individunya tidak merata maka
keanekaragamannya rendah. Selain itu, umumnya jenis yang dominan adalah jenis-jenis di
dalam suatu komunitas dengan produktivitas yang besar dan sebagian besar mengendalikan
arus energi.

C. Penutup
1. Natijah
a. Kawasan wisata Coban Rondo memiliki kekayaan tumbuhan paku yang tinggi, hal
tersebut dibuktikan dengan Ditemukan dua puluh tujuh jenis tumbuhan paku yang
terdiri dari dua divisi (Pteridophyta dan Lycophyta), tiga kelas (Polypodiopsida,
Marattiopsida dan Lycopsida), empat ordo (Polypodiales, Cyatheales, Marattiales
dan Selaginellales) dan empat belas famili (Adiantaceae, Dryopteridaceae,
Aspleniaceae, Athyriaceae, Davalliaceae, Dennstaedtiaceae, Nephrolepidaceae,
Polypodiaceae, Pteridaceae, Tectariaceae, Thelypteridaceae, Cyatheaceae,
Marattiaceae, Selaginellaceae).
b. Polypodiopsida merupakan kelas yang anggotanya ditemukan paling banyak di
kawasan wisata Coban Rondo.
c. Paku yang menempati komposisi tertinggi dan yang paling mendominasi adalah
Athyrium procumbens (Holtt.) Holtt. Sedangkan yang terendah ada lima paku dengan
jumlah yang sama yaitu Hymenasplenium sp., Cheilanthes tenuifolia (Burm.) Sw.,

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 185


ISSN 2089-9947

Cyathea latebrosa (Wall. ex Hook.) Copel., Pteris tripartita Sw. danTectaria


angulata (Willd.) C. Chr.
d. Keanekaragaman tumbuhan paku di kawasan wisata Coban Rondo termasuk ke
dalam kategori yang tinggi karena nilai indeks keanekaragamannya sebesar 8,87.
2. Saran
Diharapkan penelitian ini dapat mendorong para peneliti lain untuk lebih jauh
meneliti tentang kondisi dan keberadaan keanekaragaman tumbuhan paku di kawasan
wisata Coban Rondo berdasarkan musim yang ada. Selain itu, diharapkan hasil penelitian
ini dapat memberikan informasi serta rujukan terpercaya bagi praktisi, akademisi, peneliti
hingga masyarakat umum tentang keanekaragaman tumbuhan paku.

Senarai Bacaan

Anonymous, 1999. Coban Rondo. http://digilib.petra.ac.id. Diakses tanggal 12 Mei 2012.


__________, 2012. Air Terjun Coban Rondo. http://sitr.jatimprov.go.id. Diakses tanggal
20 September 2012.
__________, 2012. Coban Rondo. http://kalamata.me. Diakses tanggal 20 September
2012.
Christenhusz, M. J. M., X. C. Zhang, & H. Schneider, 2011, A Linear Sequence of Extant
Families ang Genera of Lycophyta and Ferns. PHYTOTAXA 19.
Coban Rondo, 2012. Legenda Coban Rondo. Malang, Coban Rondo.
Daryanti, 2009, Keanekaragaman Paku-pakuan Terestrial di Taman Wisata Alam Deleng
Lancuk Kabupaten Karo, Tesis, Medan, Universitas Sumatera Utara.
Ewusie, J. Y, 1990, Pengantar Ekologi Tropika, Bandung,. ITB.
Fitrya & L. Anwar. 2009. Uji Aktivitas Antikanker Secara In Vitro dengan Sel Murine P-
388 Senyawa Flavonoid dari Fraksi Etilasetat Akar Tumbuhan Tunjuk Langit
(Helmynthostachis Zeylanica (Linn) Hook). JURNAL PENELITIAN SAINS No.
1(C) Vol. 12. Januari 2009.
Hasairin, A, 2003, Taksonomi Tumbuhan Rendah (Thalophyta dan Kormophyta Berspora),
Medan, UNIMED.
Holttum, R. E, 1968, A Risived Flora of Malaya. Vol. II; Fern of Malaya, Singapore,
Government Printing Office.
Indriyanto, 2010, Ekologi Hutan, Jakarta, Penerbit Bumi Aksara.
Leksono, A. S, 2011, Keanekaragaman Hayati, Malang, UB Press.

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 186


ISSN 2089-9947

Kinho, J, 2009, Mengenal Beberapa Jenis Tumbuhan Paku di Kawasan Hutan Payahe
Taman Nasional Aketajawe Lolobata Maluku Utara, Penerbit Balai Penelitian
Manado.
Lovelles, A. R, 1999, Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2, Jakarta,
PT. Gramedia.
Lubis S. R, 2009, Keanekaragaman dan Pola Distribusi Tumbuhan Paku di Hutan Wisata
Alam Taman Eden Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara. Tesis,
Medan, Universitas Sumatera Utara.
Nandika, D, 2005, Hutan Bagi Ketahanan Nasional, Surakarta, Muhammadiyah University
Press.
Odum, P. E, 1996, Dasar-dasar Ekologi, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Partanto, P. A. & Barry, M. D, 1994, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya, Penerbit Arkola.
Piggott. A. G, 1988, Ferns of Malaya in Colour, Malaysia, Tropical Press SDN.
Polunin, N, 1994, Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun.
Yogyakarta, Gadjahmada University Press.
Pramono, H. A, 1992, Tataguna Lahan dan Deforestasi di Indonesia, Jakarta, Yayasan
Obor Indonesia.
Prastowo, A, 2011, Memahami Metode-metode Penelitian, Yogyakarta, Penerbit Ar-ruzz
Media.
Rahadi, B., E. Nurhayati, E. Purwanti & E. Suhartanto, 2008, Penilaian Tingkat Bahaya
Erosi Dengan Mempergunakan ARC VIEW GIS. JURNAL TEKNOLOGI DAN
KEJURUAN Vol. 31 No. 1 Februari 2008.
Sastrapradja, S., J. J. Afriastini, D. Darnaedi & Elizabeth, 1980, Jenis Paku Indonesia.
Bogor, Lembaga Biologi Nasional.
Smith, A. R., K. M. Pryer, E. Schuettpelz, P. Korall, H. Schneider & P. W. Wolf, 2006. A
Classification For Extant Ferns. TAXON 55 (3), Agustus 2006.
Sugiyono, 2009, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung, Penerbit Alfabeta.
Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung, Penerbit
Alfabeta.
Suin, N. M, 2002, Metoda Ekologi, Padang, Universitas Andalas.
Sunarmi & Sarwono, 2004, Inventarisasi Tumbuhan Paku di Daerah Malang. Jurnal Berk.
Penel. Hayati Vol. 10.
Suryana, 2009, Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Paku Terestrial dan Epifit di Kawasan
PLTP Kamojang Kab. Garut Jawabarat. Jurnal Biotika, No. 1 Vol. 7 Juni 2009.
Tjitrosomo, S. Sutarmi, H. Sudarnadi & A. Zakaria, 1983, Botani Umum 3. Bandung,
Penerbit Angkasa.

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 187


ISSN 2089-9947

Tjitrosoepomo, G, 2005, Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta,


Pteridophyta), Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Widhiastuti, R., T. A. Aththorick & W. D. P. Sari, 2006, Struktur dan Komposisi
Tumbuhan Paku-pakuan di Kawasan Hutan Gunung Sinabung Kabupaten Karo.
Jurnal Biologi Sumatera, No. 2 Vol. 1 Juli 2006.

Cogito Ergo Sum, Vol. 2, No. 3, Februari 2013 188