Anda di halaman 1dari 62

JURNAL DIALOG

K E B I JA K A N P U B L I K
EDISI 36 2021

Dinamika Pembangunan dan Perubahan


Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
JURNAL DIALOG
K E B I JA K A N P U B L I K
EDISI 36 2021
TIM Peng arah
Johnny G. Plate

REDAKSI (Menteri Kominfo)

Penang g ung jawab


Usman Kansong
(Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik)

Pemimp in Redaksi
Nursodik Gunarjo
(Direktur Pengelolaan Media)

Read aktur Pelaksana


Farida Dewi Maharani

Tim Tenaga A hli


Sugeng Bayu Wahyono
Lambang Trijono
Murti Kusuma Wirasti

Penyunting/ Editor
Matroji
(Kasubdit Media Online)
Dimas Aditya Nugraha
(Kasubdit Audio Visual dan Media Sosial)

S ekretaris Redaksi
M. Taofik Rauf

Rep or ter
Ardi Timbul H.S.
Ignatius Yosua A.H.

D es ain Grafis
Danang Firmansyah

S ekret ar iat
Sarnubi
Elfrida
Wasi Andono
Monang Hutabarat

S umb er Foto
Antarafoto

iv
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

DAFTAR
ISI

Salam Redaksi vi

BERKAT KOMITMEN TINGGI PRESIDEN DAN GUBERNUR, SERTA 2
PARTISIPASI WARGA PAPUA PON XX PAPUA BERLANGSUNG
SUKSES
Wawancara khusus Dr. Septinus Saa, M.Si.
Koordinator Panitia Besar PON XX Bidang Sosial Budaya Provinsi Papua

DINAMIKA MOBILITAS SOSIAL MASYARAKAT PAPUA 7


PADA ERA OTONOMI KHUSUS
Oleh Dr. Avelinus Levaan

MENYOAL KONFLIK DAN PERDAMAIAN PAPUA 19


DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM
Oleh Dr. Constantein Ansanay

MEMBANGUN SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN 31


BERPERSPEKTIF HAM DI PAPUA PEDALAMAN
Oleh Dr. Yohanes Kore, OFM

MIGRASI DAN POLITIK DI PAPUA 49


Oleh Riwanto Tirtosudarmo

v
GALIH PRADIPTA /ANTARA FOTO
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

SALAM
REDAKSI

P
Pekan Olahraga Nasional masih seringnya Gerakan Papua Merdeka
(PON) XX diselenggarakan (OPM) muncul mencari perhatian dunia
pada awal Oktober 2021 internasional secara sporadis. Berbagai
di Papua, provinsi paling kasus konflik secara militer seperti
timur Indonesia yang baku tembak antara aparat keamanan
populer juga disebut sebagai Indonesia dengan gerombolan pengacau
bumi cenderawasih. Secara bersenjata masih saja terjadi di berbagai
eksplisit PON memang wilayah Papua, khususnya di daerah
tampak sekadar aktivitas olahraga biasa, pegunungan. Sementara itu gerakan yang
tetapi implisit PON memiliki dimensi oleh pemerintah disebut sebagai Kelompok
politik, ekonomi, dan sosial budaya. Kriminal Bersenjata (KKB) terus melakukan
Penunjukkan Papua sebagai penyelenggara aksi kekerasan terhadap warga sipil.
PON tentu bukan sekadar berdimensi teknis Pemerintahan Presiden Jokowi selama
keolahragaan, tetapi juga memiliki dimensi ini memiliki pendekatan berbeda, bukan
politik dan sosial budaya. Pemerintah mengutamakan pendekatan keamanan,
memilih Papua sebagai penyelenggara tetapi lebih memilih pendekatan
sekaligus itu merupakan bukti bahwa yang memprioritaskan pembangunan
pemerintah menaruh kepercayaan penuh infrastruktur di Papua. Sejak pemerintahan
terhadap pemerintah provinsi Papua, yang Jokowi, terdapat dua program utama
selama ini masih ada semacam prasangka yang memperhatiakan Papau, yaitu
bahwa pemerintah kurang memiliki pembangunan infrastruktur dan Tol Laut.
perhatian serius terhadap pembangunan di Di samping itu Jokowi dengan sepenuh
Papua. hati membangun Papua, dan bukan saja
Hubungan yang dilandasi prasangka infrastruktur tetapi juga Sumber Daya
semacam itu telah berkembang cukup Manusia (SDM).
lama di kedua belah pihak, terutama Pemerintahan Jokowi, dirinya mem-
terkait dengan hubungan politik antara prioritaska pembangunan infrastruktur
pemerintah pusat dan daerah. Oleh karena dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
itu selama ini di Papua terus menyodorkan unggul sebagai bagian dari sebuah
berbagai masalah konfliktual, seperti bentuk kerangka besar jawaban dari

vii
solusi permasalahan yang ada di Papua. Sementara itu di dalam ma-syarakat
Untuk pembangunan infrastruktur fisik Papua sendiri juga masih saja memiliki
misalnya, pembangunan Trans Papua potensi konflik besar, terutama terkait
yang sangat progresif dan transformatif, dengan konstruksi identitas yang
juga penyelesaian stadion Papua Bangkit etnosentrisme. Sudah sejak lama konflik
yang berstandard Internasional. Bahkan antaretnis yang sekaligus berbasis teritori,
sebuah jembatan Youtefa (sebelumnya antara Papua gunung dan Papua pantai
bernama Holtekamp) yang indah menawan senantiasa mewarnai dalam dinamika
meningkatkan produktivitas masyarakat konflik politik di Papua. Konflik
di Jayapura, serta infrastruktur lainnya primordialistik ini semakin marak ketika
menjadi fokus pemenuhan hak masyarakat era otonomi khusus, dan digunakan oleh
Papua di era Jokowi (Beritasatu.com, sejumlah elite Papua memerebutkan
7/12/2021). Niat pemerintah era Presiden kekuasaan. Pada setiap Pilkada Gubernur
Jokowi untuk membangun Papua sepenuh misalnya, isu politik identitas itu terus
hati itu juga mendapat respons positif dari mengemuka, sehingga sedikit banyak
kalangan Papua sendiiri. mengurangi kualitas demokrasi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Serba serbi persoalan Papua baik yang
mengharapkan Joko Widodo (Jokowi) pada kaitannya dengan pemerintah pusat maupun
periode kedua kepemimpinannya dapat antarelite Papua sendiri masih mewarnai
melanjutkan pembangunan infrastruktur dinamika pembangunan di Papua. Oleh
yang selama ini telah dilaksanakan di Bumi karena itu, bersamaan dengan momentum
Cenderawasih. Sekretaris Daerah (Sekda) PON di Papua, Jurnal Dialog Kebijakan
Provinsi Papua Hery Dosinaen, di Jayapura, Publik Kekokominfo edisi 36 kali ini akan
mengatakan pembangunan di bidang mengangkat Kebijakan pembangunan
infrastruktur yang selama ini dilaksanakan Papua sebagai tema utama. Berbagai kajian,
Jokowi seperti jalan Trans Papua terus analisis, dan kritik konstruktif diharapkan
berlanjut. “Pasalnya, dengan pembangunan akan bisa memberikan masukan konstruktif
infrastruktur ini sangat berdampak bagi kebijakan pemerintah pada satu sisi,
besar bagi peningkatan perekonomian dan pada sisi lain meningkatkan kualitas
masyarakat di Bumi Cenderawasih ini,” pembangunan di Papua itu sendiri secara
katanya (Bisnis.com, 1/7/20219). lebih substansial.
Akan tetapi pendekatan developmen- Dimulai dari tulisan Riwanto
talistik Presiden Jokowi juga menuai Tirtosudarmo, yang mengupas masalah
kritik konstruktif, terutama dari Lembaga migrasi dan politik di Papua. Melalui
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). tinjauan dari perspektif demografi politik,
Peneliti Tim Kajian Papua Lembaga Ilmu Riwanto melacak permasalahan migrasi
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri di Papua sejak era Orde Baru. Munculnya
Budiarti menilai pendekatan infrastruktur fenomena Orang Asli Papua (OAP)
yang kerap dilakukan Pemerintahan Joko merupakan salah dampak paling nyata
Widodo atau Jokowi di Papua tak menjadi dari migrasi penduduk dari luar Papua
solusi penyelesaian konflik. Ia menilai ke Papua. Kesenjangan ekonomi antara
pendekatan ini terlalu parsial untuk migran dan penduduk setempat yang
menjadi satu-satunya solusi. lebar merupakan fakta yang sulit dibantah

viii
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

yang merupakan the underlying factor mengatur dan mengendalikan kehidupan


dari munculnya perasaan terpinggirkan sosial bergantung pada kemampuan
dari sebagian warga masyarakat Papua. adapsinya dengan perubahan itu sendiri.
Menurut Riwanto migrasi di Papua tidak Tesis sosiologi hukum yang mengatakan
mungkin dilepaskan dari aspek etnisitas, bahwa daya adaptasi perangkat normatif
termasuk di dalamnya aspek agama. baik tradisional maupun modern seperti
Keadaan ini antara lain disebabkan oleh peraturan perundangan, dan kemampuan
konstruksi etnisitas yang ada di kalangan berstransformasi secara sosio kultural
penduduk setempat di Papua sendiri, warga Papua sendiri adalah kunci penting
yang karena situasi geografis dan interaksi untuk menciptakan situasi integratif
diantara penduduknya mendorong sedikit banyak terbukti di lapangan.
terbentuknya kelompok-kelompok yang Semakin memiliki daya adaptasi norma
memiliki identitas sosial dan kebudayaan adat terhadap perkembangan masyarakat,
tertentu. Tapi, apapun yang akan terjadi di maka semakin memiliki kemampuan
masa yang akan datang, satu hal yang pasti integrasi sosial di Papua, begitu pun
adalah sebuah kenyataan bahwa migrasi sebaliknya. Demikian pula produk hukum
memiliki sumbangan yang penting dalam dari pemerintah pusat juga harus adaptasi
sejarah sosial dan politik di Papua. terhadap dinamika perkembangan sosial
Masih dalam topik yang sama, budaya Papua.
Avelinus Lefaan menganalisis dinamika Sedangan Yohanes Kore menyoroti
mobilitas sosial warga Papua dalam era pentingnya pembangunan sumber
Otonomi Khusus. Menurut Ave mobilitas daya manusia (SDM), khususnya
warga Papua, khususnya warga Jayapura warga Papua pedalaman yang masih
motivasinya berbeda antara OAP dan sangat memprihatinkan. Kore melihat
warga Papua yang berasal dari pendatang. problem peningkatan SDM warga Papua
Mobilitas warga Papua asli relatif pedalaman melalui pendidikan dilihat
lebih bersifat politis, sementara warga dari perspektif Hak Asasi Manusia
pendatang lebih bervariasi. Pemberlakuan (HAM). Menurut Kore praksis pendidikan
otnomi khusus terbukti mampu membuka warga Papua di daerah pedalaman sangat
akses politik bagi warga Papua asli untuk memprihatinkan, hanya dijadikan sebagai
menempati jabatan-jabatan strategis seperti objek birokrasi yang mementingkan
kepala daerah dan jajaran eselon tinggi di formalitas, dan bukan substansial. Untuk
birokrasi pemerintahan. Sementara itu, itu Kore mengharapkan agar pemerintah
warga pendatang mengalami mobilitas memprioritaskan pembangunan SDM
vertikal maupun horizontal mengikuti warga Papua pedalaman dengan
dinamika kontestasi pada panggung mengkader tenaga pendidikan dari
ekonomi, sosial, dan adakalanya juga pedalaman sendiri. Pendidikan bagi warga
politik. Papua adalah merupakan hak asasi, karena
Sementara itu Costantein Ansanay itu strategi peningkatan kualitas SDM
mengupas topik tentang adanya konflik melalui layanan pendidikan memadai
dan perdamaian dari perspektif hukum. dari pemerintah, akan menyelesaikan
Menurut Ansanay kuat tidaknya sebuah persoalan krisis kemanusiaan di Papua
nilai dan tata aturan normatif dalam saat ini.
Selamat membaca.

1
WAWANCARA
KHUSUS

Berkat Komitmen Tinggi


Presiden dan Gubernur,
serta Partisipasi Warga
Papua PON XX Papua
Berlangsung Sukses

P
ekan Olahraga Nasional
(PON) XX di Papua
telah terselenggara
dengan lancar, semarak,
dan damai. Semua itu
mengindikasikan bahwa
penyelenggaraan PON
kali ini dapat dikatakan
berlangsung sukses besar. Mengapa?
Di tengah situasi sulit seperti pandemi
Covid-19, dan bersamaan dengan itu
banyak suara penuh keraguan, tetapi fakta
menunjukkan bahwa masyarakat Papua
berhasil menunjukkan kemampuannya Dr. Septinus Saa, M.Si.,
menyelenggarakan event olahraga berskala Koordinator Panitia Besar
besar. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, PON XX Bidang Sosial Budaya
masyarakat Papua telah menepis keraguan Provinsi Papua
banyak pihak yang meragukannya, dan

2
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

dengan bangga warga masyarakat Papua beberapa faktor yang ikut memberikan
bersama jajaran pemerintahan daerah kontribusi signifikan terhadap kesuksesan
menunjukkan bahwa mereka bisa. Bahkan penyelenggaraan PON XX di Papua.
di tengah konflik-konflik bernuansa politis Beberapa faktor itu antara lain ketersediaan
yang terus terjadi dalam setahun terakhir, anggaran, kerjasama antarpemangku
toh warga masyarakat Papua menunjukkan kepentingan, koordinasi antarsektoral,
bahwa PON berlangsung tertib, lancar, dan dan tentu saja yang tidak kalah penting
damai. adalah komitmen warga masyarakat Papua
Apa rahasia semua itu? Tentu ada sendiri yang bersama pemerintah daerah

3
yang ingin menunjukkan bahwa mereka Gubernur Papua, Lukas Enembe, bahwa
sebagai bagaian dari bangsa Indonesia apa pun yang terjadi pokoknya PON XX di
adalah mampu berbuat sesuatu yang besar Papua ini harus terselenggara. Presiden dan
tidak ubahnya dengan provinsi lain. Adalah Gubernur terus memberikan semangat dan
menjadi menarik untuk mengetahui penegasan bahwa PON harus dilaksanakan,
bagaimana pergulatan, proses jatuh-bangun, jadi ini semacam perintah yang tidak boleh
dan dinamika dalam penyelenggaraan ditolak, dan faktanya pemerintah pusat dan
PON XX Papua yang sukses itu. Untuk itu pemerintah provinsi Papua juga konsekuen
Jurnal Dialog Kebijakan Publik, yang kali ini dengan terus memberikan dukungan
diwakili Sugeng Bayu Wahyono, melakukan anggaran. Kedua, kami terus melakukan
wawancara khusus terhadap Dr. Septinus koordinasi antarpemengaku kepentingan
Saa, M.Si., Koordinator Panitia Besar PON dan antarsektoral, karena kami menyadari
XX Bidang Sosial Budaya Provinsi Papua. bahwa kunci keberhasilan adalah terletak
Berikut petikan wawancaranya: pada kemampuan managerial berbasis
Di tengah situasi sulit seperti pandemi koordinasi. Prinsip itu yang kami jaga dan
Covid-19, situasi keamanan yang kurang kami jalankan melalui skema kerjasama
kondusif, dan juga di tengah banyak keraguan, empat sisi, yaitu jajaran pemerintahan,
tetapi penyelenggaraan PON XX di Papua aparat keamanan dan pertahanan, pihak
berhasil dengan lancar dan sukses. Kira-kira apa swasta, dan lembaga swadaya masyarakat
yang menyebabkan semua itu? baik yang berbasis keagamaan maupun
Iya kami sebagai panitia memang komunitas. Ketiga, yang tidak kalah penting
menyadari bahwa menyelenggarakan PON adalah partisipasi warga masyarakat Papua
XX di Papua ini memang tidak mudah, sendiri yang terus mendukung dengan
terutama berada dalam situasi pandemi semangat tinggi dan rasa memiliki.
Covid-19. Bahkan karena pandemi ini Jadi antusiasme warga masyarakat Papua
pula, maka PON XX yang mestinya begitu tinggi terhadap penyelenggaraan PON
diselenggarakan tahun 2020, tetapi XX di Papua ini, kira-kira mengapa terjadi
kemudian harus kita undur menjadi tahun sedemikian hebat antusiasmenya?
2021. Bersamaan dengan itu juga terjadi Iya betul sekali, antusiasme warga
semacam peningkatan suhu politik karena Papua terhadap adanya PON XX di Papua
dalam setahun terakhir ini situasi keamanan ini begitu tinggi dan luar biasa. Warga
di Papua agak kurang kondusif. Tentu kami sangat senang dan mendukung, serta lebih
menyadari jika kemudian banyak yang dari itu warga Papua merasa mendapat
meragukan pada kami tentang kemampuan kepercayaan dari pemerintah pusat untuk
menyelenggarakan even olahraga besar menyelenggarakan perhelatan olahraga
berskala nasional seperti PON dalam situasi besar. Pemberian kepercayaan itulah yang
sulit. Akan tetapi kami tetap bertekat ingin juga kemudian juga menimbulkan rasa
menunjukkan bahwa kami warga masyarakat percaya diri di kalangan warga masyarakat
Papua bisa melakukannya. Setidaknya Papua, jadi semacam mendapat pengakuan
ada tiga faktor besar yang menyebabkan tulus bukan saja dari pemerintah pusat,
kesuksesan penyelenggaraan PON di Papua tetapi dengan warga masyarakat Indonesia
kali ini, yaitu: Pertama, adanya komitmen pada umumnya. Bahkan begitu ansiasnya
yang kuat Presiden RI, Joko Widodo, dan warga Papua hingga pasca PON pun masih

4
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

terasa euforia masyarakat terhadap situasi menarik. Tentu saja kami juga harus terus
PON. Antusiasme itu merupakan sumber membangun jaringan dengan pihak pebisnis
optimisme, dan optimisme itu merupakan atau swasta untuk sponsorship dalam upaya
energi positif di tengah situasi sulit seperti meningkatkan prestasi olahraga. Dengan
pandemi, karena itu warga Papua tetap cara itu tidak akan terjadi kasus-kasus
bersemangat mensukseskan PON. Warga fasilitas olahraga tidak terurus dan bahkan
Papua bahkan mendeklarasikan sebagai terkesan terbengkelai. Dengan betigu, kami
provinsi olahraga, dan olahraga merupakan bisa menyelenggarakan even-even berskala
bagian dari konstruksi identitas kepapuan. besar secara reguler, bahkan tidak berlebihan
Pada PON XX kemarin, talenta anak-anak jika nanti Indonesia mendapat giliran SEA
Papua ternyata bukan saja cabang olahragga GAME misalnya, diselenggarakan di Papua.
sepakbola saja sebagaimana dikonstruksikan Dalam mengelola pasca PON itu tentu
selama ini, tetapi juga ternyata mampu memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang
berprestasi level nasional cabang-cabang memadai, lalu bagaimana mengatasinya?
olahraga lain seperti hoky, sofball, dan Iya bebar, masalah SDM
dayung. adalah sangat penting sekali. Meskipun
Ok...menarik sekali bahwa ternyata warga infrastruktur dan fasilitas olahraga sudah
Papua juga melakukan semacam deklarasi bahwa ada dan memadai, akan tetapi jika masalah
Papua adalah provinsi olahraga, lalu apa ini ada SDM tidak diperhatikan semuanya akan
hubungannya dengan tata kelola pasca PON sia-sia. Harus kami akui bahwa dalam
terhadap infrastruktur dan fasilitas olahraga penyelenggaraan PON XX di Papua
yang begitu besar? kemarin bebrapa event organizer (EO)
Iya betul, kami di kalangan panitia sebagaian dari Jakarta dan juga daerah
PON dan juga Pemprov Papua sejak awal lain. Oleh karena itu kami ke depan harus
juga sudah memikirkan hal itu, yaitu tentang mempersiapkan SDM yang berkompeten
bagaiamana mengelola infrastruktur dan dalam mengelola infrastruktur dan berbagai
fasilitas olahraga yang begitu besar dan even olahraga dan rekreasi. Kami sedang
banyak pasca PON. Misalnya seperti stadiun mengusulkan pada Pemprov dan tentu saja
Lukas Enembe yang begitu besar dan pada pemerintah pusat agar memberikan
berstandar internasional, tentu memerlukan fasilitas untuk mengembangkan SDM ini
bukan saja dana besar tetapi juga kemampuan melalui pelatihan secara reguler. Kami telah
untuk mengelola agar fasilitas stadion itu berhasil menyelenggarakan PON XX di
bisa tersu melahirkan atlet-atlet berprestasi Papua secara lancar, semarak, dan damai,
pada tingkat nasional maupun internasional. tentunya layak diberi kepercayaan lagi untuk
Tentu ini tantangan yang tidak mudah. Akan menyelenggarakan berbagai even olahraga
tetapi dengan perubahan regulasi, misalnya di Papua. Dan itu tentu memerlukan SDM
menambah anggaran lebih besar pada Dinas yang memadai dan berkualitas. Karena
Olahraga dan Pemuda Pemprov Papua akan dengan PON XX di Papua kemarin telah
sangat membantu tata kelola infrastruktur terbukti bahwa olahraga bisa menjadi arena
pasca PON secara lebih produktif. Bahkan bukan saja arena menunjukkan prestasi,
kalau perlu dibentuk semacam lembaga tetapi lebih dari itu sekaligus bisa menjadi
khusus, misalnya komisi pengelola pasca arena bagi persatuan dan kesatuan menuju
PON dari pemerintah pusat adalah ide yang perdamaian sejati.

5
MAULANA SURYA /ANTARA FOTO
EDISI 36 2021

DINAMIKA MOBILITAS
SOSIAL MASYARAKAT PAPUA
pada Era Otonomi Khusus

A. Pendahuluan Oleh Dr. Avelinus Lefaan


Otonomi Khusus (Otsus) oleh berbagai kalangan
selama ini dianggap titik kunci penting untuk Dosen Program Studi Ilmu Sosial

menetapkan status politik baik bagi pemerintah Pascasarjana n Universitas Cenderawasih


Jayapura
maupun masyarakat Papua. Sebagaimana diketahui,
melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus, Papua telah diberi
kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri
berdasarkan peraturan perundangan. Dengan
Otonomi khusus, pemerintah pusat menghendaki
agar gerakan-gerakan separatis dapat segera
menghentikan aktivitasnya, dan Papua tetap menjadi
bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Implikasi lebih lanjut adalah bahwa
perdamaian di Papua akan terus terjaga, tanpa ada
pergolakan politik yang ingin memerdekakan diri.
Sementara itu, era otonomi khusus juga menjadi
infrastruktur sosial yang mendorong Papua menjadi
wilayah yang terbuka. Kucuran dana Otsus yang
semakin meningkat dalam jumlah trilyunan rupiah,
menjadi salah satu faktor penting meningkatnya
pembangunan infrastruktur fisik di Papua, mulai dari
sarana gedung pemerintahan, fasilitas jalan, bandara,
dan pelabuhan. Bersamaan dengan itu, dinamika
perekonomian pun mengalami kondisi pasang yang
signifikan. Gairah perekonomian terus terjadi, dan
perekonomian modern terus berkembang semakin
ekspansif yang membawa berbagai implikasi sosial
seperti perubahan gaya hidup dan munculnya kelas
menengah baru.
7
Papua menjadi semakin menarik, karena “madu” ekonomi Papua, baik dalam bentuk
daerah ini kaya dengan Sumber Daya pembangunan infrastruktur maupun SDA.
Alam (SDA), terutama sektor kehutanan Sektor informal tumbuh pesat mengiringi
maupun pertambangan. Berbagai investor dinamika perekonomian Papua, seperti
baik asing maupun swasta nasional banyak penjual makanan, pedagang kaki lima, dan
berdatangan melakukan eksplorasi SDA toko-toko klontong. Hampir semua pelaku
melalui negosiasi politik baik di pusat bisnis di sektor informal ini merupakan
maupun daerah. Di sektor pertambangan, warga Papua yang datang dari berbagai
bukan saja PT Freeport yang memang daerah di luar Papua, seperti dari Jawa,
sudah sejak awal Orde Baru berada di Sulawesi, NTT, NTB, Padang, Sumatera,
Timika, tetapi juga perusahaan asing yang Ambon, dan lain-lain.
datang dari Jepang, China, Australia, dan Oleh karena itu, Papua pada era Otonomi
sejumlah negara Eropa terus berdatangan Khusus semakin menjadi masyarakat yang
melakukan eksplorasi SDA. Sementara itu, plural dan multikultural baik dilihat dari
beberapa perusahaan swasta nasional terus latar belakang etnis, agama, dan kebudayaan.
berdatangan ikut terlibat dalam eksplorasi Dari sisi tingkat pendidikan pun semakin
SDA, dan sekaligus membuka beberapa bervariasi mulai dari warga berpendidikan
pabrik pengolahan hutan maupun industri sekolah dasar, hingga perguruan tinggi.
manifatur lainnya. Berbagai varian sosial budaya itu menjadikan
Era otonomi khusus Papua semakin persoalan mobilitas sosial pada masyarakat
mendorong maraknya mobilitas sosial, karena Papua menjadi semakin kompleks namun
masyarakat Papua, terutama di kota Jayapura berlangsung secara dinamis. Di situlah
berkembang kian kompleks dan pembagian fenomena mobilitas sosial pada masyarakat
kerja semakin terspesialisasi. Terjadi Papua, khususnya kota Jayapura, memiliki
perubahan karakter dari masyarakat apa relevansi dan urgensi untuk diteliti dari
yang disebut Emile Dhurkeim bersolidaritas perspektif sosiologis. Pergulatan dan
mekanik menjadi masyarakat bersolidaritas dinamika mobilitas sosial yang terus
organik. Berbagai jenis pekerjaan baru berproses sejak pemberlakuan otonomi
bermunculan mengikuti perkembangan khusus menyodorkan berbagai fenomena
karakter masyarakat kota Jayapura yang menarik yang berpotensi melahirkan konsep
menyediakan fasilitas modern. Tentu saja dan teori baru.
perubahan jenis pekerjaan baru yang modern Berangkat dari latar belakang di
ini mensyaratkan kualifikasi pendidikan atas, penelitian ini mengajukan berapa
yang lebih tinggi, dan berketerampilan. permasalahan, setidaknya terdapat tiga
Oleh karena tuntutan kualifikasi itu tidak pertanyaan yang menarik untuk dijawab:
semuanya bisa segera dipenuhi oleh warga (1) Bagaimana dinamika mobilitas sosial
Papua asli, maka semakin banyak warga masyarakat kota Jayapura di kalangan
pendatang menyerbu Jayapura mengisi warga Papua asli dan warga pendatang
permintaan tenaga kerja baru yang semakin pada era otonomi khusus?; (2) faktor apa
industrial. Implikasi demografisnya, jumlah saja yang menyebabkan terjadinya mobilitas
warga pendatang semakin meningkat secara sosial masyarakat Papua pada era otonomi
signifikan selama era otonomi khusus. khusus?; dan (3) bagaimana implikasi sosial-
Terjadi mobilitas besar-besaran dari warga politik mobilitas sosial masyarakat Papua
pendatang luar Papua yang tertarik oleh

8
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

terhadap pembentukan identitas kepapuan involves moving from one social level to
di masa depan? another. A promotion in rank in the Army
is an example of upward mobility, while a
B. Kajian Teori Mobitas Sosial demotion in rank is downward mobility.
Telah banyak kajian teoretik dan • Intragenerational mobility, also
konseptual yang berupaya menjalaskan termed career mobility, refers to a change
fenomena mobilitas sosial yang melihatnya in an individual’s social standing, especially
dari berbagai perspektif. Dalam literatur in the workforce, such as occurs when an
sosiologi, terutama sosiologi arus utama, individual works his way up the corporate
mobilitas sosial telah menjadi pembahasan ladder.
dan mengundang perdebatan antara • Intergenerational mobility
satu perspektif dan lainnya. Awalnya refers to a change in social standing across
pembahasan teori mobilitas sosial berkisar generations, such as occurs when a person
di seputar isu bergerak ke atas maupun from a lower‐class family graduates from
menurun, tetapi kemudian banyak teoretisi medical school.2
mengajukan berbagai tawaran teoretik
dan konseptual yang mengikuti dinamika Oleh karena mobilitas berkaitan dengan
perkembangan masyarakat itu sendiri. status sosial, terutama di Amerika Serikat
Meskipun teori dan konsep mobilitas telah ada usaha untuk memberikan skor
sosial itu terus mengalami perkembangan pada beberapa jenis pekerjaan. Sebagaimana
yang mengundang perdebatan, tetapi diuraikan oleh James W. Vander Zanden
terdapat kesepakatan bahwa pengertian sebagai berikut.
mobilitas itu sendiri telah terjadi di kalangan Social mobility can take a number of
para perumus teori. Pengertian umumnya forms. Mobility may be vertical or horizontal.
adalah bahwa social mobility refers to the Vertical mobility involves movement from
movement of individuals, families, or groups one social status to another of higher or
among stratified social positions.1 Jadi mobilitas lower rank. Americans differ in the prestige
sosial merujuk pada pergerakan posisi sosial ratings of various occupations. If an auto
yang terjadi pada individu, keluarga, atau mechanic (prestige score 37) became a bank
kelompok-kelompok. officer (score 72), this shift would constitute
Mobilitas sosial itu memiliki upward mobility. On the other hand, if the
berbagai pola yang mungkin terjadi atau auto mechanic became garbage collector
several patterns of social mobility are (score 17), this change would involve
possible: downward mobility. If the auto mechanic
• Horizontal mobility involves took a job as a restaurant manager (score
moving within the same status category. 39), this shift would represent horizontal
An example of this is a nurse who leaves mobility. Horizontal mobility entails
one hospital to take a position as a nurse at movement from one social status to another
another hospital. that is approximately equivalent in rank
• Vertical mobility, in contrast, (Zanden, 1996: 191).
1 Steven Rytina. http://www.oxfordbibliographies.com/
view/document/obo-9780199756384/obo-9780199756384-0049.xml. 2 Houghton Mifflin H. http://www.cliffsnotes.com/
Diunduh 26 April 2015. sciences/sociology/social-and-global-stratification/social-mobility.
Diunduh pada tanggal 25 April 2015.

9
Sementara itu, di antara para sosiolog meningkatkan sirkulasi manusia menaiki
selama ini telah berusaha mengembangkan dan menuruni hierarki tersebut, sehingga
konsep mobilitas sosial ke ranah yang lebih dunia modern semakin atau kurang
luas, bukan sebagaimana dirumuskan oleh berpindah. Beberapa berpendapat bahwa
sosiologi arus utama. Perluasan konsep sirkulasi ekstra hanya dihasilkan dari
itu bukan sekadar membahas tentang perubahan jumlah posisi-posisi puncak dan
perpindahan manusia, tetapi juga barang. bukan dalam meningkatnya pergerakan di
Sebagaimana diuraikan oleh Jain (2002) antara mereka (Goldthorpe, 1980, dalam
terminologi mobilitas digunakan dalam Turner, 2012: 801).
empat cara utama. Pertama, penggunaan Keempat, mobilitas sebagai migrasi
kata berpindah untuk menunjukkan sesuatu atau jenis lain perpindahan geografis semi-
yang berpindah atau dapat berpindah, permanen. Hal ini adalah pemahaman
seperti telepon genggam, rumah, dapur, horizontal tentang “berpindah,” mengacu
rumah sakit yang dapat berpindah, dan pada perpindahan negara atau benua yang
sebagainaya. Mobilitas adalah milik benda sering kali untuk mencari “kehidupan yang
dan manusia. lebih baik” atau untuk melarikan diri dari
Kedua, pemahaman tentang berpindah kekeringan, penindasan, perang, kelaparan,
pada sekumpulan orang, suatu keramian dan lainnya. Meskipun diduga bahwa
yang bising atau sulit dikendalikan. masyarakat kontemporer memerlukan
Sekumpulan orang ini dianggap tidak banyak mobilitas seperti ini , terutama
teratur terutama karena sifatnya berpindah, melalui perjalanan diasporik (Cohen, 1997),
tidak sepenuhnya berada dalam batasan budaya sebelumnya juga memungkinkan
sehingga perlu diikuti dan diatur secara adanya sejumlah perpindahan, serperti dari
sosial. Dunia masa kini tampaknya Eropa ke negara-negara jajahan kekaisaran
melahirkan sejumlah kumpulan orang mereka terdahulu atau kemundian ke
baru, termasuk sekumpulaN orang pintar Amerika Utara (Urry, 2012, dalam Turner,
yang menciptakan pemerintahan sendiri, 2012: 801).
sistem perhitungan fisik dan/atau elektronik Memperhatikan empat cara penggunaan
yang baru dan meluas, serta peraturan dan kata mobilitas untuk menunjukkan berbagai
perbaikan di tempat-tempat yang dikenal peristiwa sosial tersebut, menjadi semakin
atau batasan tertentu (Hardt dan Negri 2000; jelas bahwa konsep mobilitas sosial bukan
Rheingold 2002; Turner 2007). saja berkait dengan ruang padat, tetapi juga
Ketiga, terdapat pemahaman tentang ruang maya yang lebih cair. Pergerakan orang
mobilitas yang digunakan dalam sosiologi baik secara individual maupun kolektif,
ilmu pengetahuan sosial arus utama. bukan saja berada dalam masyarakat off
Pemahaman ini adalah mobilitaS sosial naik line, tetapi juga masyarakat yang telah
atau turun. Diduga bahwa terdapat hierarki berkembang menjadi masyarakat on line.
vertikal yang relatif jelas dan bahwa semua Karena itu yang termasuk berpindah adalah
orang dapat ditempatkan berdasarkan juga perpindahan gambar dan informasi di
perbandingan terhadap posisi orang tuanya berbagai media, serta perpindahan maya
atau dengan posisi permulaannya sendiri di mana komunikasi dilakukan antara
dalam hierarki tersebut. Terdapat perbedaan satu orang dengan orang lain, antara satu
tentang apakah masyarakat kentemporer orang dengan banyak orang, dan antara

10
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

sekumpulan orang dengan sekumpulan juga berkembang dalam struktur birokrasi


lainnya melalui komputer berjaringan. politik, sejak era otonomi daerah semakin
Akan tetapi dalam penelitian ini lebih banyak warga Papua asli duduk dalam
banyak menggunakan teori mobilitas jabatan tinggi di jajaran pucuk pimpinan
sosiologi arus utama, yaitu yang berkaitan partai politik, mulai dari Partai Golkar,
dengan perpindahan orang dari tempat PDI-P, Partai Demokrat, Partai Gerinda,
geografis tertentu dan berkaitan dengan Partai Keadilan Sejahtera, dan partai-partai
perpindahan status sosial baik secara vertikal lainnya. Melalui birokrasi itulah kemudian
maupun horizontal. Pertimbangannya menjadi sarana mobilitas vertikal warga
adalah, masyarakat kota Jayapura Papua, Papua asli, dan fenomena itu terasa begitu
meskipun juga sudah mulai terambah terasa hingga jajaran kepegawaian pada
berbagai media komunikasi baru, tetapi umumnya. Jika pada era Orde baru, jumlah
secara umum perkembangannya masih PNS dari warga Papua asli persentasenya
menyodorkan berbagai karakteristik masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah
perubahan sosial secara konvensional. penduduk warga Papua asli, tetapi sekarang
persentasenya semakin meningkat.
C. Mobilitas Sosial Warga Demikian pula dalam jajaran kepartaian,
Papua Asli semakin banyak warga Papua asli mengalami
Secara politik, otonomi khusus membuka mobilitas vertikal dengan menjadi pengurus
peluang dan akses seluas-luasnya bagi teras dalam partai-partai politik. Implikasinya
warga asli masuk dalam struktur politik adalah semakin banyak pula warga Papua
baik pada birokrasi partai politik maupun asli yang menjadi wakil rakyat setelah
birokrasi pemerintah. Perubahan struktur melalui Pemilu Legislatif. Artinya bahwa
politik seperti sistem pilihan kepala daerah perubahan sistem politik ke demokratis yang
(Pilkada) secara langsung sangat membuka kemudian mendapat penekanan lagi adanya
peluang bagi warga Papua asli untuk pemberian otonomi khusus, telah membuka
tampil menjadi pimpinan daerah. Bahkan akses warga Papua asli masuk dalam
sejak pemberlakuan otonomi khusus, struktur politik pemerintahan maupun
Majelis Rakyat Papua (MRP) mengeluarkan politik kepartaian. Dengan demikian, sistem
dokumen politik yang berisi ketentuan politik demokrasi dan pemberian otonomi
bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur harus khusus secara politik telah menjadi faktor
orang Papua asli sebagaimana tertuang penting terjadinya mobilitas sosial bagi
dalam Perdasus Provinsi Papua Nomor warga Papua asli. Suatu fenomena yang
6 Tahun 2011 Tentang Pemilihan Umum tidak terjadi ketika era Orde Baru, di mana
Gubernur dan Wakil Gubrnur. jajaran birokrasi pemerintahan lebih banyak
Ketentuan ini telah berlaku secara efektif didominasi oleh warga pendatang.
sejak pemberlakuan otonomi khusus, dan Sementara itu dari aspek ekonomi,
hingga sekarang Gubernur dan Wakil munculnya elite politik baru yang berasal
Gubernur adalah orang Papua asli. Situasi dari kalangan warga Papua asli tentu saja
memiliki implikasi terhadap semakin berpengaruh terhadap kekuatan basis
meningkatnya jumlah jabatan dalam struktur ekonominya. Tingkat kesejahteraan mereka
birokrasi pemerintahan yang dipegang oleh
warga Papua asli. Fenomena yang sama

11
secara ekonomi mengalami peningkatan terjadi pada warga Papua asli dari kalangan
cukup signifikan, terlihat pada indikator Papua pantai. Sementara itu dari kalangan
seperti kepemilikan rumah, alat transportasi Papua gunung sebegitu jauh masih belum
seperti mobil dan sepeda motor, perabotan menunjukkan tanda-tanda peningkatan
rumah tangga, dan juga barang investasi secara cukup signifikan terjadinya
lainnya. Beberapa kawasan perumahan mobilitas vertikal. Rendahnya tingkat
elite seperti ….. mulai banyak dihuni oleh pendidikan, belum terjadinya transformasi
warga Papua asli, terutama mereka yang secara kultural, serta masih terbatasnya
berada dalam jajaran struktur birokrasi infrastruktur, baik bangunan fisik maupun
pemerintahan. Tentu saja tingkat penghasilan jaringan telekomunikasi, menjadi penyebab
rata-rata mereka juga mengalami kenaikkan utama lambatnya mobilitas sosial secara
signifikan jika dibandingkan ketika era vertikal di kalangan warga Papua gunung.
Orde Baru. Era otonomi khusus terbukti Meskipun demikian, naikknya Lucas Enembe
menciptakan kelas sosial baru di kalangan menjadi Gubernur adalah momentum bagi
warga Papua asli, terutama yang memiliki warga Papua gunung terjadinya mobilitas
akses politik pemerintahan, dan mereka ini sosial secara vertikal. Selama pemerintahan
sebagian juga memiliki harta kekayaan yang Lucas Enembe, cukup banyak warga Papua
cukup melimpah. gunung yang menduduki jabatan strategis
Sedangkan dari aspek sosial, era otonomi di jajaran birokrasi pemerintahan di tingkat
khusus juga berpengaruh terhadap terjadinya provinsi.
mobilitas sosial, dalam arti semakin banyak Demikian pula, sejak memasuki era
warga Papua asli mengalami peningkatan otonomi khusus, sejumlah tokoh adat
tingkat pendidikan. Warga Papua asli dari mengalami kenaikkan status sosialnya,
tahun ke tahun semakin meningkat tingkat karena terakomodir oleh berkembangnya
pendidikannya, bahkan tingkat pendidikan struktur sosial-politik yang membuka akses
sarjana dan pascasarjana juga terus tokoh adat dan tokoh tradisional memasuki
bertambah. Peningkatan itu disebabkan oleh struktur birokrasi modern. Pembentukan
beberapa faktor baik struktural maupun Majelis Rakyat Papua misalnya, menyediakan
kultural. Dari aspek struktural, semakin beberapa posisi penting bagi tokoh adat
banyaknya warga Papua asli duduk di jajaran yang kebanyakan dari warga Papua gunung
pemerintahan, maka mereka mengeluarkan untuk menduduki jabatan dalam struktur
kebijakan dan bahkan regulasi yang birokrasi, di samping anggota MPR itu sendiri
membuka fasilitas pendidikan bagi warga sudah merupakan kelompok elite. Naiknya
Papua asli, seperti beasiswa ke perguruan status sosial melalui jalur pemerintahan dan
tinggi di Pulau Jawa, dan bahkan juga ke lebislatif itu sedikit banyak telah menjadi
luar negeri. Sementara itu secara kultural, faktor penyebab penting terjadinya proses
semakin banyak warga Papua asli yang mobilitas sosial bagi warga Papua gunung.
menyadari betapa pentingnya pendidikan, Akan tetapi sekali lagi, jika dilihat dari
sehingga perubahan pandangan hidup ini komposisi penduduk yang jauh lebih banyak
membawa implikasi pergerakan mobilitas warga Papua gunung, maka percepatan
sosialnya juga semakin cepat. mobilitas sosial masih jauh ketinggalan
Namun demikian harus diakui, bahwa dibandingkan warga Papua pantai yang
mobilitas sosial secara vertikal lebih banyak memang memiliki rata-rata tingkat

12
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

pendidikan lebih tinggi. di sinilah kemudian Memperhatikan tabel di atas,


yang sering menjadi pemicu terjadinya mengindikasikan bahwa dari tahun ke tahun
konflik antara warga Papua gunung dan jumlah warga pendatang di kota Jayapura
pantai, baik ketika terjadi momentum politik terus bertambah. Mereka ini tentu tenaga
seperti Pilkada maupun dalam pergaulatan produktif yang secara kultural memiliki
sosial sehari-hari. Tidak jarang konflik itu mentalitas kuat karena telah mengalami
berkembang sedemikian rupa sehingga seleksi sosial. Siapa pun yang menjadi
disertai tindak kekerasan seperti perusakan perantau adalah mereka yang memiliki
fasilitas publik di kota Jayapura, dan bahkan kemauan kuat untuk meningkatkan kualitas
beberapa kali pernah terjadi bentrok secara hidup. Para perantau ini datang dari berbagai
fisik. daerah dengan kualifikasi pendidikan yang
bervariasi, dari tingkat sekolah menengah
D. Mobilitas Sosial Warga Pendatang pertama hingga perguruan tinggi. Di sektor
Era otonomi khusus Papua juga jasa mereka bergerak baik sektor formal
menyodorkan fakta terjadinya mobilitas seperti menjadi pegawai negeri, tenaga
sosial bukan saja di kalangan warga Papua profesional di sektor pertambangan dan
asli, tetapi juga di kalangan warga pendatang. pengolahan hasil hutan, buruh pabrik,
Meningkatnya anggaran Pemprov Papua maupun informal seperti jasa pariwisata,
sejak pemberlakukan otonomi khusus, jasa transportasi, jasa buruh bangunan,
membuat pembangunan darah baik fisik dan pedagang kaki lima. Di sektor industri
maupun sumber daya manusia (SDM) mereka ini adalah penggerak utama dalam
semakin bergairah. Arus perdagangan yang unit-unit produksi barang kebutuhan rumah
semakin meningkat tajam, sektor keuangan tangga, dan sebagian ada yang bergerak
yang terus berkembang, dan tumbuhnya disektor pertanian, terutam mereka yang
beberapa sektor riil membuat dinamika datang melalui program transmigrasi.
pembangunan di Papau, khususnya di kota Kehadiran kaum pendatang itu menjadi
Jayapura, semakin eskalatif. Situasi inilah tulang punggung penyangga perekonomian
yang menjadi daya tarik bagi warga di luar di kota Jayapura, karena mereka itu berada
Papua yang ramai-ramai datang ke kota di berbagai sektor perekonomian dari hulu
Jayapura. Jumlah warga pendatang sejak hingga hilir. Dalam bidang perekonomian
pemberlakuan otonomi khusus mengalami modern, mereka lebih maju dan lebih
peningkatan cukup signifikan sebagaimana berkompeten apabila dibandingkan
dapat dilihat dalam tabel berikut. warga Papua asli. Rata-rata mereka itu
lebih berketerampilan dan telah memiliki
Peningkatan migran di kota Jayapura keinginan untuk meningkatkan pendapatan
Tahun Jumlah Pendatang melalui berbagai usaha baik di bidang jasa
maupun produksi barang. Kemampuan
2009 1.626 Jiwa
berdagang mereka juga lebih bergerak di
2010 1.858 Jiwa sektor perekonomian modern, ketimbang
2011 2.158 Jiwa warga Papua asli yang lebih banyak bergerak
2012 2.315 Jiwa pada sektor pertanian tradisional dengan
komoditas terbatas seperti buah pinang,
2013 2.412 Jiwa
daun sirih, sagu, dan berbagai ubi-ubian.
Sumber: Jayapura Town Tahun 2014

13
Gelombang mobilitas sosial kalangan Etos kerja keras, keberanian mengambil
warga pendatang merupakan fenomena risiko, dan keinginan untuk maju adalah
mobilitas spasial karena disebabkan karakter utama para warga pendatang
oleh faktor pendorong dan penarik. selama era otonomi khusus Papua. Mereka
Beberapa faktor pendorong antara lain itu tidak pernah memilih jenis pekerjaan itu
adalah sulitnya mencari peluang untuk kasar atau halus, apa pun jenis pekerjaan
meningkatkan kualitas hidup baik karena mereka bersedia menjalaninya sehingga
tingkat kesuburan tanah daerah asal yang tingkat produktivitasnya tinggi. Begitulah,
rendah maupun tingkat pemilikan tanah kedua faktor pendorong dan penarik,
yang rata-rata hanya di bawah 0,5 hektar. serta aspek kultural kalangan pendatang
Kasus pendatang dari NTT misalnya, itulah yang menjadikan masyarakat Papua
daerah ini sebagian besar merupakan menjadi semakin plural baik dilihat dari segi
tanah tandus dan kurang produktif untuk etnis, agama, maupun kebudayaan. Bahkan
pertanian. Sementara itu di Jawa meskipun pluralitas itu bukan saja di kota Jayapura,
cukup luas tanah yang memiliki tingkat akan tetapi juga tampak di kota-kota kecil
kesuburan tinggi, tetapi tingkat kepemilikan seperti Sentani, dan Merauke.
tanahnya sangat rendah, rata-rata di bawah Arena untuk mobilitas vertikal kaum
0,5 hektar tanah pertanian. Oleh karena itu, pendatang lebih bervariasi, menyebar
banyak warga pendatang Papua berasal dari ke berbagai sektor baik pemerintahan
daerah tersebut, yang bergerak di sektor maupun swasta. Tidak sedikit warga
pertanian, perdagangan, transportasi, dan pendatang yang duduk dalam struktur
jasa keamanan. birokrasi yang meskipun itu merupakan
Faktor pendorong lain adalah tingkat konsekuensi logis pemerintahan otoriter
pengangguran di daerah asal yang terus dan sentralistik era Orde Baru, tetapi selama
meningkat dari tahun ke tahun, termasuk pemberlakuan otonomi khusus juga banyak
pengangguran terdidik. Jenuhnya sektor riil warga pendatang yang mengisi jabatan-
di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, jabatan strategis birokrasi pemerintahan
Medan, Makasar, dan Bandung misalnya Papua. Sementara itu pada bidang non-
menjadi pendorong penduduk bermigrasi pemerintahan menjadi sarana utama warga
ke Papua untuk mencari peluang baru. pendatang untuk mobilitas sosialnya, baik
Memang gelombang migrasi itu tidak sebesar sektor perdagangan, industri, pariwisata,
ke luar negeri, tetapi fenomena semakin pertanian, dan bahkan sektor informal.
meningkatkan warga pendatang Papua
adalah faktual. Sementara itu, faktor penarik E. Implikasi sosial-politik
mobilitas sosial adalah makin banyaknya mobilitas sosial
kebutuhan akan tenaga kerja terdidik di Dalam suatu dinamika masyarakat,
Papua, pertumbuhan ekonomi yang terus mobilitas sosial senantiasa hadir mengikuti
meningkat baik karena meningkatnya danan dan melekat dalam dinamika itu sendiri.
Otsus maupun semakin meningkatnya Ketika terjadi perubahan struktur dan
investor berbisnis di Papua. kultur baik pada ranah politik, ekonomi, dan
Sedangkan dilihat dari aspek kultural, sosial-budaya dalam sebuah masyarakat,
warga pendatang memang memiliki maka mobilitas sosial juga terjadi dalam
pandangan hidup yang terus berkembang. perubahan-perubahan tersebut. Artinya,

14
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

posisi mobilitas sosial dalam perubahan masyarakat Papua berkembang semakin


struktural maupun kultural yang terjadi plural.
dalam sebuah masyarakat, berposisi sebagai Implikasi atas perubahan karakter
dependen atas perubahan sosial. Sebaliknya, ke arah yang semakin plural itu, maka
mobilitas itu sendiri bisa beralih poisi hubungan-hubungan sosial pun semakin
sebagai faktor independen yang membawa kompleks. Sebagai sebuah panggung sosial,
implikasi terhadap aspek politik, ekonomi, kota Jayapura kemudian menjadi arena
dan sosial budaya. Proses seperti itu juga kontestasi warganya baik secara politik
terjadi pada masyarakat Papua. Fakta maupun sosial-budaya. Gesekan-gesekan
menunjukkan bahwa terjadinya mobilitas sosial sering terjadi baik antarwarga
sosial baik vertikal maupun horisontal pendatang dengan Papua asli, antarwarga
dalam masyarakat Papua pada era Otomi pendatang, an antarwarga Papua asli sendiri.
khusus, memiliki implikasi sosial-politik Pemicunya bisa bermula dari persoalan
signifikan dalam perkembangan hubungan- kecil, tetapi kemudian berkembang ke
hubungan sosial yang berlangsung. konflik yang lebih luas yang bersifat politik.
Terkait dengan pertanyaan implikasi Di antara isu yang paling sensitif adalah soal
sosial, berlangsungnya mobilitas sosial perbedaan agama, etnis, dan status sosial.
mempunyai implikasi terhadap karakteristik Hubungan-hubungan sosial pun mengalami
masyarakat kota Jayapura yang berkembang pasang-surut, terkadang meninggi ketika
menjadi masyarakat plural, hubungan- ada konflik, tetapi kemudian mereda
hubungan sosial makin kompleks, dan terjadi kembali mengikuti irama dinamika sosial-
pembentukan identitas makin membeku dan politiknya. Oleh karena itu, konflik sosial
sekaligus mencair. Sebelum berlangsungnya terus hidup laten, sebagai implikasi logis
Otonomi Khusus, masyarakat Papua boleh adanya mobilitas sosial yang berlangsung
dikatakan masih relatif homogen, baik terus-menerus.
dilihat dari variasi etnis, agama, maupun Dalam ranah politik, kompetisi
status sosial-ekonomi. Akan tetapi begitu politik sering mengalami peningkatan
memasuki era Otsus, masyarakat Papua terutama terjadi momen seperti Pilkada
semakin menunjukkan heterogenitasnya atau peringatan hari-hari besar nasional
sebagai implikasi atas meningkatnya daya maupun hari penting kelompok Organisasi
tarik Papua secara ekonomi. Kucuran Papua Merdeka (OPM). Setiap kali Pilkada,
dana Otsus berjumlah trilyunan rupiah kompetisi politik mengalami pasang, dan isu
menambah Papua ibarat gula yang semakin primordial kembali muncul seperti dikotomi
menarik semut dari berbagai wilayah. pendatang-asli dan Papua gunung-pantai.
Proses pembangunan infrastruktur dan Etnosentrisme sering tidak terhindarkan,
fasilitas publik lain, serta potensi sektor karena dengan mudah dimanfaatkan oleh
kehutanan dan pertambangan, merupakan elite untuk mobilisasi massa guna mencapai
beberapa faktor yang menarik para investor kepentingannya.
dan sekaligus tenaga kerja dari luar daerah Begitulah, mobilitas sosial yang terjadi
Papua. Mereka yang datang itu kebetulan di Papua, khususnya di kota Jayapura,
memiliki latar belakang budaya, agama, berlangsung secara eskalatif, dinamis,
dan etnis yang berbeda, dan sebagian dan berimplikasi terhadap pembentukan
besar menetap di kota Jayapura, sehingga identitas masing-masing. Identitas itu

15
adakalanya membeku ketika terjadi konflik kepala daerah dan jajaran eselon tinggi di
politik yang berimbas pada meningkatnya birokrasi pemerintahan. Sementara itu, warga
ketegangan hubungan-hubungan pendatang mengalami mobilitas vertikal
sosial. Akan tetapi adakalanya identitas maupun horizontal mengikuti dinamika
primordialnya mengalami pemudaran kontestasi pada panggung ekonomi, sosial,
ketika masyarakat kota Jayapura tampak dan adakalanya juga politik.
integratif. Kedua, terjadinya mobilitas sosial
Bagaimana implikasi mobilitas sosial di kota Jayapura disebabkan oleh beberapa
itu terhadap masa depan kota Jayapura faktor, yaitu politik, ekonomi, dan sosial.
dan masyarakat Papua pada umumnya? Faktor politik seperti perubahan sistem
Semuanya akan sangat bergantung di Pilkada secara langsung, menyebabkan
samping pada bagaimana kondisi makro mobilitas vertikal bagi warga Papua
politik, yaitu antara hubungan pemerintah asli meraih kekuasaan dan sekaligus
pusat dan masyarakat sipil Papua; akan memperbesar akses ke sumber-sumber
tetapi juga bergantung seberapa mampu ekonomi. Di kalangan warga Papua asli
masyarakat kota Jayapura mengelola sendiri, terutama Papua gunung, situasi
pembentukan identitasnya. Jika terdapat itu menyebabkan terjadinya eksodus
upaya-upaya demokratis yang diikuti oleh warga Papua gunung ke kota Jayapura.
peningkatan kualitas hidup secara ekonomi Faktor ekonomi seperti meningkatnya
dan sosial budaya, apresiasi terhadap anggaran pemerintah, eksplorasi sumber
hak-hak adat, makin pudarnya identitas daya alam khususnya sektor kehutanan
primordial, maka masa depan Papua dapat dan pertambangan, menjadi penyebab
berkembang ke arah yang lebih baik. terjadinya mobilitas sosial horizontal yang
menarik bagi kalangan warga di luar Papua.
F. Kesimpulan Sementara itu, otonomi khusus yang terus
Berdasarkan uraian di atas meningkatkan pelayanan pendidikan,
beberapa kesimpulan dapat ditarik sebagai mendorong terjadinya mobilitas sosial baik
berikut. Pertama, terkait dengan pertanyaan bagi warga Papua asli maupun pendatang.
bagaimana dinamika mobilitas sosial Ketiga, terjadinya mobilitas sosial
masyarakat kota Jayapura di kalangan warga di kota Jayapura membawa implikasi
Papua asli dan warga pendatang pada era sosial-politik yaitu bahwa masyarakat kota
otonomi khusus, yang terjadi adalah bahwa Jayapura berkembang ke arah yang lebih
arena mobilitas warga Papua asli relatif plural. Makin pluralnya masyarakat kota
lebih bersifat politik, sementara warga Jayapura membawa implikasi hubungan
pendatang lebih bervariasi. Pemberlakuan sosial makin komplieks, konflik sosial-
otnomi khusus terbukti mampu membuka politik semakin dinamik, dan pembentukan
akses politik bagi warga Papua asli untuk identitas kepapuan kadang membeku tetapi
menempati jabatan-jabatan strategis seperti sekaligus juga mencair.

16
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

DAFTAR PUSTAKA

Goldthorpe. J.H. 1980. Social Mobility and Calss Struture in Modern


Briain. Oxford: Clarendon Press.

Hart, M. dan Negri, A. 2000. Empire. Cambridge, MA: Harvard


University Press.

Rheingold, H. 2002. Smart Mobs: The Next Social Revolution.


Cambridge, MA: Basic Books.

Turner, Bryan S. 2009. The New Balckwell Compnion to Social Theory.


Edited by Bryan S. Turner. Malden USA: Balckwell Publishing Ltd.

____________ 2007. “Enclave Society: Towards a Sociology of the


Immobility Regime.” European Journal of Social Theory 10(2): 287-303.

Ulrry. John. 2012. Mobilitas dan Teori Sosial. dalam Teori Sosial
dari Klasik Sampai Postmodern. Editor Bryan S. Turner. Terjemahan
Setiyawati dan Shufiyati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zanden, James W. Vander. 1996. Sociology the Core. Fourth Edition.


New York: McGraw-Hill Inc.

17
RYIADHI/ INFOPUBLIK
EDISI 36 2021

Menyoal Konflik dan


Perdamaian Papua dari
Perspektif Sosiologi Hukum

A. Pendahuluan Oleh Dr. Costantein Ansanay


Mendiskusikan masalah Papua, tentu tidak lepas
dari persoalan konflik dan perdamaian, terutama Mantan Kejaksaan Tinggi Samarinda,
alumnus Ilmu Sosial Pascasarjana Universitas
pada masa pasca Orde Baru. Ketika sistem politik
Cenderawasih, sekarang Pengurus YPPK dan
lebih longgar, maka berbagai kekuatan masyarakat
tinggal di Jayapura
memiliki kesempatan berekspresi, sehingga
sedikit-banyak dinamika konflik juga mengalami
peningkatan signifikan. Bersamaan dengan itu
upaya mencari perdamaian juga terus diupayakan
melalui berbagai pendekatan. Namun dinamika
konflik itu sendiri memang mengikuti karakter
sistem politiknya.
Di Papua pada masa Orde Baru juga sering
terjadi konflik antarsuku baik antara pendatang
dengan orang asli Papua (OAP), maupun antarsuku
orang asli Papua1 sendiri. Sementara itu konflik
antaragama lebih banyak kontestatif, dalam arti
kurang begitu menjurus ke konflik fisik, tetapi
lebih pada persaingan dalam cerita-cerita tutur
dalam pergaulan sosial. Sementara itu konflik
yang bersumber pada soal distribusi sumber daya
ekonomi, juga pada akhirnya sering menimbulkan

1 Terminologi orang asli Papua (OAP) ini bergantung


dari perspektif yang digunakan. Jika menggunakan perspektif
esensialis terhadap konsep etnisitas maka mengacu pada ciri-ciri
tubuh, tetapi apabila menggunakan perspektif konstruktivistik
maka menggunakan konsep etnisitas lebih bersifat cair tidak
berdasarkan karakter biologis. Akan tetapi dalam kenyataan-
nya, istilah orang asli Papua lebih bersifat relasional dalam arti
ketika berelasi dengan kalangan ‘pendatang’ maka persepektif
esensialis lebih sering digunakan oleh warga Papua.

19
konflik sosial bernuansa SARA, terutama terasa semakin besar yang tidak pelak lagi
yang berkaitan dengan eksplorasi tambang, juga diikuti oleh berbagai peristiwa konflik
seperti Freeport di Timika, dan pengolahan sosial di sejumlah titik. Situasi konfliktual
hutan, yang tentu saja berkaitan dengan hak itu semakin terasa ketika pemerintah pusat
adat orang asli Papua. (Jakarta) tetap ingin mempertahankan
Memasuki era reformasi, konflik sosial Papua sebagai bagian dari Indonesia. Proses
yang terjadi secara substansial belum negosiasi terus berlangsung yang diwakili
berubah, yaitu di seputar isu primodialisme oleh sejumlah delegasi Papua yang terdiri dari
SARA. Akan tetapi oleh karena kebebasan sejumlah tokoh adat, politik, tokoh agama,
berekspresi lebih leluasa, maka konflik sosial dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
yang terjadi lebih sering konflik identitas, Proses negosiasi ini berlangsung secara alot
terutama antara identitas Papua pantai masing-masing pihak mempertahankan
dan Papua gunung. Di samping itu juga tuntutannya. Akhirnya terjadi kesepakatan
banyak yang bersumber pada kegagalan kompromistik, yaitu Papua diberi otonomi
dalam pengelolaan Dana Otsus, sehingga khusus oleh pemerintah pusat sebagaimana
gagal dalam memberikan pelayanan baik terjadi di Provinsi Aceh. Kesepakatan
dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan itu kemudian diberi ketetapan hukum
pemberdayaan masyarakat adat. sebagaimana terwujud dalam dokumen
Konflik karena perbedaan SARA sangat politik, yaitu Undang Undang Nomor 21
berpotensi kuat. Masyarakat Papua yang Tahun 2001, tentang Otonomi Khusus.
heterogen terdiri dari 250-an suku, bahasa Dengan UU Otsus pemerintah Republik
dan adat istiadatnya berpotensi besar Indonesia berjanji dan berkomitmen bahwa
menyulut konflik. Peristiwa perang suku di Pemerintah Provinsi Papua mengatur dan
Timika yang terus menerus bergolak selama mengurus kepentingan penduduk asli Papua
ini, dan peristiwa penyerangan kampung menurut prakarsa sendiri berdasarkan
Yoka Sentani Jayapura oleh sekelompok aspirasi dan hak-hak dasar Penduduk Asli
masyarakat Pegunungan Tengah 10 Papua. Orang asli Papua juga diberikan
November 2010, merupakan contoh konkret ruang untuk memebtuk Majelis Rakyat
bahwa masalah SARA di Papua sangat rawan Papua (MRP) untuk melindungi hak-hak
menimbulkan konflik. Perbedaan pandangan orang asli Papua. Penduduk asli Papua
antara sesama orang Papua sendiri, diberikan kesempatan untuk mempunyai
yaitu Papua gunung dan pantai maupun bendera kultural sebagai lambang kebaggaan
Papua Utara dan Selatan masih diwarnai penduduk asli Papua. Penduduk asli Papua
dalam pergulatan kepentingan politik dapat mempertahankan adat-istiadat yang
lokal, sehingga semangat primordialisme merupakan warisan leluhur yang bernilai
kesukuan semakin kuat dalam kehidupan sepiritual dan slodaritas. Pendudi asli Papua
bermasyarakat. Hal itu juga berimplikasi dapat membentuk partai politik lokal untuk
pada pertimbangan kebijakan politik lokal menyalurkan aspirasi politik (Yoman, 2012:
oleh penguasa lokal (Kossay, 2011: 118). 124).
Begitulah, sejak berakhirnya era Orde Sebagaimana tercantum dalam Bab
Baru, menyusul tumbangnya pemerintahan I Ketuntuan Umum UU No. 21 tentang
rezim militer pimpinan Soeharto pada Mei Otonomi Khusus pasal 1 ayat (b): “Otonomi
1998, gelombang gerakan Papua Merdeka khusus adalah kewenangan khusus yang

20
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

diakui dan diberikan kepada Provinsi terwujudnya akselerasi pembanunan dan


Papua untuk mengatur dan mengurus peningkatan kesejahteraan rakyat di Papua
kepentingan masyarakat setempat menurut secara luas, serta semakin memperkukuh
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi integritas Negara Kesatuan Republik
dan hak-hak dasar measyarakat Papua”. Indonesia (NKRI).
Ayat (g) berbunyi: Majelis Rakyat Papua, Akan tetapi kenyataan menunjukkan
yang selanjutnya disebut MRP, adalah bahwa ketika kebijakan Otsus Papua
representasi kultural orang asli Papua, yang memasuki tahun ke-12, ternyata masih
memiliki wewenang tertentu dalam rangka belum terlihat adanya perubahan secara
perlindungan hak-hak orang asli Papua cukup signifikan. Meskipun harus diakui
dengan berlandaskan pada penghormatan bahwa pemberlakuan kebijakan Otsus
terhadap adat dan budaya, permberdayaan Papua telah mendorong meningkatnya
perempuan, dan pemantapan kerukunan transfer anggaran Pemerintah pusat dalam
hidup beragama sebagaiamana diatur dalam jumlah trilyunan, dan dari tahun ke tahun
Undang-undang ini. terus bertambah, akan tetapi hasilnya secara
Sedangkan pemerintah Provinsi Papua umum belum bisa dirasakan rakyat Papua
diberikan kewenangan oleh pemerintah secara merata. Masih terbatas pada kalangan
pusat melalui UU Otonomi Khusus dalam elite politik, tokoh masyarakat, dan orang-
bab IV tentang kewenangan daerah pasal 4 orang yang memiliki akses kekuasaan.
ayat 1 mempunyai pesan tegas. Pemerintah Meskipun uang trilyunan digolontorkan
mempunyai otoritas dalam seluruh bidang terus ke bumi Papua, tetapi ironisnya hingga
pemerintahan. Sementara yang tidak fase perkembangannya sekarang, wilayah
menjadi kewenangan daerah ada lima Papua masih dikategorikan sebagai daerah
bidang meliputi: (1) politik luar negeri; (2) termiskin di Indonesia. Menurut data di BPS
pertahanan keamanan; (3) moneter dan tahun 2010, tingkat kemiskinan Provinsi
fiskal; (4) agama; dan (5) peradilan. Dalam Papua berada pada ranking 32 dari 34
UU Otonomi Khusus pemerintah provinsi provinsi di Indonesia. Fakta menunjukkan
Papua diberi kesempatan seluas-luasnya bahwa kasus-kasus kurang gizi dan masih
untukmenjalankan pemerintahannya sendiri banyaknya penyakit busung lapar sering
dan menguru sumber pendapatan provinsi terjadi di bumi Cenderawasih.
Papua secara mandiri pula, tanpa mendapat Dalam kaitan dengan isu konflik
banyak campur tangan pemerintah pusat. sosial, dengan UU Otsus ini rakyat Papua
Pemberlakuan Undang-Undang No. 21 memiliki kesempatan untuk membangun
Tahun 2001 tentang Otsus Papua merupakan bumi Cenderawasih itu dengan seoptimal
peristiwa monumental bagi seluruha rakyat mungkin demi kesejahteraan rakyat. Dengan
Indonesia, khususnya rakyat Papua dalam demikian maka konflik sosial politik akan
upaya bersama memasuki Indonesia bisa diminimalisir untuk menuju tanah
baru yang damai, sejahtera, berkeadilan Papua yang damai, dan bersamaan dengan
dan bermartabat. Diyakini jika substansi proses pembangunan secara mandiri terus
Undang-undang tersebut dilakuka secara berlangsung sehingga tercipta kesejahteraan
konsisten dan konsekuen, maka kita rakyat Papua. Setelah lebih dari tigabelas
dapat menyaksikan terselenggaranya tahun sejak pemberlakuan UU Otsus ini,
pemerintahan di Papua secara efektif, tujuan utamanya masih belum dapat dicapai,

21
banyak terjadi peyimpangan, dan terkesan akar persoalan masih maraknya konflik
lebih banyak dinikmati oleh kalangan elite sosial di Papua selama pemberlakuan Otsus
lokal. ini. Bukan saja dilihat dari sisi hubungan
Kebijakan afirmatif dan pemberlakuan antara pemerintah pusat dan Pemkab serta
Otsus sebenarnya dapat merintis jalan Pemprov saja, tetapi lebih dari itu bagaimana
keluar untuk berbagai persalan itu. kesiapan secara sosio-kultural dari warga
Kebijakan ini dianggap sebagai terobosan Papau sendiri dalam arus dinamika sosial
baru bagi pembanugnan, sekaligus politik Indonesia kontemporer, khususnya
penyelesaian berbagai persoalan di Papua yang berkait dengan politik lokal Papua.
Namun implentasinya, yang kini memasuki Karena itu menarik untuk dikaji secara lebih
tigabelas tahun terakhir, tetap menyisakan mendalam melalui serangkaian aktivitas
sejumlah masalah. Akibatnya, sampai kini akademik dengan menempatkan kasus-
akar persoalan konflik sosial politik di Papua kasus konflik sosial di Papua sebagai fokus
belum tertangani secara memadai (Dale & kajian sosiologis. Sedangkan dari aspek
Djonga, 2011: x). hukum, sejak pemberlakuan Otsus ini
Berbagai konflik sosial dan politik juga menyodorkan berbagai persolan yang
yang terjadi di tanah Papua tersebut menarik untuk dikaji. Pertanyaan mengapa
mengindikasikan bahwa sejak pemberlakuan Otsus kurang berjalan mulus sesuai dengan
Otsus tidak secara efektif mampu mengurangi harapan, boleh jadi ada sejumlah persoalan
konflik-konflik yang terjadi. Justru pada era hukum dalam proses pelaksanaannya.
Otsus konflik sosial terus semakin meluas Sebagai ilustrasi, prinsip penerapan
dan lebih beragam dimensinya. Bukan saja pelaksanaan perundang-undangan sektoral
dimensi politik antara pemerintah pusat dan bersifat umum yang diberlakukan di
gerakan OPM, tetapi juga berdimensi sosial wialayah Papua tidak disesuaikan dengan
yang melibatkan antarwarga, antarsuku, semangat Otsus yang sudah berlaku di
antargolongan, dan antarwarga yang Papua, sehingga menimbulkan implikasi
mengklaim sebagai penduduk pribumi buruk dalam kebijakan ketika dilaksanakan
Papua itu sendiri. Konflik sosial selama di lapangan. Hal itu merupakan bukti adanya
pemberlakuan Otsus ini menjadi lebih luas inkonsistensi terhadap implementasi Otsus,
skala dan dimensinya, bergerak pada aspek seperti ketika UU Otsus sudah jelas hanya
sosial ekonomi di seputar isu kesenjangan menyebut satu provinsi, tetapi realitas
sosial, aspkek sosial budaya yang terkait politiknya di Papua terdapat dua provinsi,
dengan masyarakat adat, dan tentu saja dua MRP, dan dua DPRD. Fakta ini memiliki
aspek hukum yang berkaitan dengan implikasi serius dalam tatanan hukum dan
berbagai hak warga Papua serta pelanggaran politik yang bagaimanapun pada akhirnya
HAM di tanah Papua. juga orang Papua sendiri yang menanggung
Munculnya berbagai konflik tersebut akibatnya, yaitu terjadinya konflik-konflik
mengindikasikan bahwa pemberlakuan sosial politik yang tidak henti-hentinya.
Otsus masih banyak menyodorkan Kondisi kelemahan itu sebenarnya
persoalan konfliktual, sehingga Otsus sudah mendapat respons dari pemerintah
tetap saja problematis. Terdapat berbagai pusat, yaitu telah dikaji baik oleh Pusat
persoalan sosial yang perlu dikaji dalam Kajian Kebijakan dan Hukum Sekretariat
koteks ini, yaitu apa yang sekiranya menjadi Jenderal DPD-RI yang menyatakan bahwa

22
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

kelemahan yang ada dalam materi UU No. mengintegrasikan sosiologi dan hukum
21 Tahun 2001, karena dalam banyak pasal dalam melihat berbagai persolan sosial
dinyatakan pembentukan perdasi atau politik di masyarakat. Sebagaimana
perdasus harus berpedoman pada peraturan dikatakan oleh Bryan Turner bahwa secara
perundang-undangan yang berlaku. Karena implisit, sosiologi adalah studi tentang
jika seperti ini, maka sesusngguhnya tidak tugas-tugas atau kewajiban-kewajiban
ada kekhususan dalam UU No. 21 taun (adat-istiadat, moral, norma-norma dan
2001, sebab pada akhirnya tidak ada yang nilai-nilai) yang penting dalam membentuk
lex specialis dari UU Otsus tersebut (Kossay, masyarakat. Pemisahan antara sosiologi dan
2012: 6). hukum di universitas-universita modern
Begitulah,menilik kompleksnya sudah lama menimbulkan dampak negatif
persoalan konflik di Papua tidak bisa terhadap sosiologi, karena kajian sosiologis
didekati secara parsial tetapi harus lebih tentang norma-norma, lembaga-lembaga,
komprehensif, karena itu sosiologi hukum dan tindakan sosial kini berlangsung di
menjadi tawaran menarik untuk melihat ranah yang sangat terpisah dari ranah
persoalan konflik di Papua ini, dan sekaligus kajian hukum. Pemisahan institusional
berpotensi memberi solusi secara lebih antara nalar hukum dan nalar sosiologi
subtansial. Lebih dari itu ini juga sekaligus ini bukanlah karakteristik dari, misalnya,
menjadi kecenderungan baru ketika selama konteks intelektual dari sosiologi klasik.
ini antara sosiologi dan hukum sebagai ilmu Dalam bidang terkait, kajian tentang hak-hak
mengalami keterpisahan. sebagian besar telah menjadi perhatian ilmu
Isu keterpisahan antara sosiologi dan hukum dan filsafat politik; kajian tentang
hukum sebagaimana kecenderungan dalam tugas-tugas atau kewajiban-kewajiban -atau
pergurutan tinggi modern dalam beberada lembaga-lembaga normatif- sudah menjadi
dekade ini juga menjadi pertimbangan tugas sosiologi, tetapi seseorang tidak dapat
utama studi ini. Dengan spirit interdisipliner, memiliki sejumlah hak tanpa kewajiban-
studi ini sejak awal akan melihat fenomena kewajiban demikian sebaliknya, dan tidak
konflik sosial di Papua dari perspektif mungkin seseorang memiliki filsafat politik
sosiologi hukum. Cara melihat persoalan tanpa sosiologi (Turner, 2009: xii).
sosial dan politik di Papua yang selama Begitulah, dengan pendekatan
ini parsial seperti itu sedikit banyak juga interdisipliner ini, bagi sosiologi sendiri akan
menjadi penyebab mengapa konflik sosial di berguna bagi upaya memberikan kontribusi
tanah Papua semakin sulit tertangani secara teoretik dengan mengangkat isu-isu
efektif. Solusi yang ditawarkan praktis juga bukan saja ketidaksetaraan, tetapi juga isu
parsial, berjalan sendiri-sendiri, bahkan ketidakadilan. Sementara bagi ilmu hukum
kesan egosektoral masih sangat terasa. sendiri tidak terjebak dalam kubangan
Oleh karena itu, studi ini sejak awal akan normatif, yang melihat berbagai persoalan
mencoba melihat fenomena konflik sosial hanya dari deretan peraturan-peraturan,
dan politik di Papua lebih komprehensi, tetapi pada ranah empirik (kenyataannya)
yaitu pendekatan sosiologi hukum. justru sebaliknya. Obsesi pendekatan
Dalam pada itu, pada aspek hukum yang terlalu normatif, biasanya akan
perkembangan sosiologi itu sendiri, berisiko menjadi tidak realistik, dan sangat
sekarang ada kecenderungan berusaha memaksakan. Dalam melihat persolan

23
konflik sosial di Papua misalnya, jika pertanyaan siapakah aktor dan pemegang
terlalu normatif maka hanya akan membuat otoritas deferensial yang terlibat dalam
frustasi, karena pada kenyataan di lapangan konflik sosial politik selama pemberlakuan
masih jauh dari apa yang diidealkan Otonomi Khusus di Papua? Mengikuti
sebagaimana terumus dalam sejumlah logika teoretik Dahrendorf maka dalam
ketentuan normatif. Lebih dari itu, produk penelitian ini konflik yang terjadi di kota
hukum yang tidak berangkat dari realitas Jayapura dapat dijelaskan bahwa dalam
sosiologi yang ada, sering kali terlalu ideal hal konflik antara orang asli Papua dengan
sehingga sulit diimplementasikan. Oleh warga pendatang, bersumber pada aktor
karena itu melalui studi dengan pendekatan yang memiliki otoritas. Akan tetapi aktor
interdisipliner ini akan memiliki urgensi di sini bukan bersifat individual, melainkan
atau arti penting yang tinggi bagi upaya sebuah struktur, yaitu pejabat negara dengan
mendorong masyarakat Papua yang damai seperangkat aturan dan kewenangan.
dan sejahtera. Demikian pula konflik sosial-ekonomi antara
Beberapa pertanyaan bisa diajukan orang asli Papua dengan pedagang kaki lima
dalam tulisan ini antara lain: (1) Adakah yang kemudian menawarkan solusi Pasar
pemegang otoritas deferensial yang Mama-mama Papua jika menggunakan
terlibat dalam konflik sosial politik selama teori konflik Dahrendorf lebih merupakan
pemberlakuan Otonomi Khusus di Papua?; konflik antarpemegang otoritas deferensial.
(2) bagaimana pola-pola konflik sosial terjadi Bagi orang asli Papua banyaknya pedagang
sejak diberlakukannya Otonomi Khusus di yang notabene adalah sektor informal tidak
Papua?; (3) mengapa dan faktor-faktor apa lain karena adanya kebijakan pemerinah
saja yang menyebabkan munculnya konflik pusat dan juga pemerinah daerah yang tidak
sosial di Papua pada era Otonomi Khusus?; membatasi kehadiran para pendatang.
dan (4) aktor-aktor yang terlibat dalam Jadi aktor yang terlibat dalam konflik di
konflik sosial politik pada era Otonomi Kota Jayapura era Otsus adalah melibatkan
Khusus di Papua dari kalangan mana? warga masyarakat pada umumnya dan para
pemegang otoritas, baik otoritas di bidang
B. Tidak Berdiri Sendiri pemerintahan, maupun pemilik otoritas
Konflik-konflik sosial dan politik pada lembaga adat. Setiap kali terjadi
senantiasa mewarnai pergulatan dinamika konflik, entah itu dalam skala kecil maupun
sosial di kota Jayapura, antara lain seperti besar, senantiasa melibatkan pemegang
konflik antara orang asli Papua dan warga otoritas deferensial yang memiliki dan
pendatang, serta konflik identitas, yaitu kemudian mempertahankan kepentingan
antara orang asli Papua gunung dan pantai. masing-masing.
Konflik itu tidak berdiri sendiri tetapi Kedua, menyangkut pertanyaan
berkait satu sama lain atau berdimensi bagaimana pola-pola konflik sosial terjadi
sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan, sejak diberlakukannya Otonomi Khusus di
serta agama. Karena itu konflik yang terjadi kota Japura, salah satu jawaban berdasarkan
di Jayapura tidak bisa dikategorikan secara temuan studi ini adalah, bahwa pola konflik
ketat, misalnya konflik sosial saja tanpa ada senantiasa mengikuti hubungan relasi
kaitannya dengan dimensi politik, ekonomi, kuasa, antara yang mendominasi dan yang
kebudayaan, dan agama. Terkait dengan tersubordinasi. Pola konflik hubungan

24
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

relasi kuasa ini mengkerangkai konflik baik era Otonomi Khusus, dan para elite Papua
konflik antara orang asli Papua dan warga sendiri juga ikut bermain dan mengambil
pendatang, serta konflik identitas Papua keuntungan dalam dinamika konflik itu.
gunung dan pantai. Setiap konflik antara Pola konflik yang dikerangkai oleh relasi
orang asli Papua dan warga pendatang kuasa antara pusat dan daerah ini juga
baik berdimensi politik, ekonomi, maupun memiliki akar historis, sehingga melahirkan
ideologi agama, senantiasa mengikuti penafsiran yang berbeda terhadap
pola hubungan relasi kuasa. Pola konflik eksistensi Papua. Perbedaan penafsiran itu
dalam konteks relasi kuasa itu dikerangkai menyangkut status politik Papua, mulai dari
oleh hubungan pusat dan daerah, di mana realita politik terbentuknya negara Papua
posisi pemerintah pusat tetap mendominasi Barat 1 Desember 1961, proses integrasi
meskipun dalam era Otonomi Khusus. Papua ke dalama NKRI 1 Mei 1963, dan
Oleh karena itu karakter konflik lebih proses PEPERA 1969. Perbedaan penafsiran
bersifat struktural daripada individual, historis itu juga sering menjadi salah satu
sehingga pola konflik di kota Jayapura akar konflik sosial di kota Jayapura dan
lebih mirip dengan penjelasan Dahrendorf Papua pada umumnya dalam era Otonomi
yang bersifat struktural. Meskipun pada Khusus.
level peristiwa yang tampak adalah konflik Pola konflik yang bersifat relasi kuasa
bersifat individual, misalnya bentrok antara itu juga dapat menjelaskan peristiwa
pedagang kaki lima yang melibatkan orang konflik identitas Papua gunung dan pantai.
asli Papua dan pendatang, tetapi secara Meskipun posisinya berganti-ganti, tetapi
struktural konflik itu merupakan imbas hubungan dominatif itu tetap mewarnai
dari kebijakan pemerintah pusat yang tetap konfli-konflik yang terjadi di kota Jayapura
mendominasi. pada era Otsus. Sebelum pucuk pimpinan
Ketiga, terkait erat dengan pertanyaan pemerintah Provinsi Papua di pegang
mengapa dan faktor-faktor apa saja yang oleh orang gunung, posisi orang gunung
menyebabkan munculnya konflik sosial berada pada pihak yang disubordinasikan,
di Papua pada era Otonomi Khusus, juga sementara orang asli Papua pantai
berhubungan dengan pola-pola konfliknya. mendominasi. Begitu sebaliknya, ketika
Pola konflik relasi kuasa yang dikerangkai orang gunung menduduki pucuku pimpinan
oleh hubungan pusat dan daerah itu juga maka posisi terbalik, orang pantai yang
bersumber pada adanya kesenjangan terdominasi sehingga dalam berbagai hal
pembangunan Papua dengan daerah lain tidak berdaya. Pola relasi kuasa ini tercermin
yang dilakukan oleh dominasi pemerintah dalam berbagai peristiwa konflik politik
pusat selama ini, dan ini sekaligus menjadi seperti Pilkada, juga konflik sosial dalam
akar konflik. Fakta adanya kesenjangan kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
tersebut tidak lepas dari adanya konflik Konflik yang terjadi di kota Jayapura
kepentingan para pendatang di tanah ternyata tidak berdimensi tunggal, tetapi
Papua, kebijakan pusat yang diskriminatif, lebih menunjukkan adanya multi dimensi.
dan eksploitasi sumber daya alam yang Artinya, setiap terjadi peristiwa konflik
melibatkan berbagai kelompok kepentingan terbukti tidak berdiri sendiri, senantiasa
yang terus bermain. Ironisnya pola berkait dengan dimensi lain. Jadi konflik
semacam itu masih berlangsung juga pada ekonomi atau bahkan hanya konflik

25
insidental yang dipicu oleh masalah sepele, Masyarakat kota Jayapura adalah
tetap pada akhirnya berkaitan dengan sebuah kesatuan lembaga pemerintahan,
masalah politik, ideologi, dan etnis. Konflik- artinya kota ini adalah di samping terdiri
konflik sosial yang terjadi itu pun juga dari warga yang terus berinteraksi sosial,
sering menunjukkan karakter relasionalnya, tetapi mereka dalam interaksinya itu harus
dalam arti tergantung isu apa yang menjadi mengikuti aturan negara. Oleh karna
faktor konflik. Di situ konflik tidak harus itu dalam argumen perspekti f konflik,
antara orang asli Papua dengan pendatang, kota Jayapura sebagai sebuah unit sosial,
tetapi di antara mereka yang sendiri juga dinamika interaksi sosialnya senantiasa
berkonflik, termasuk konflik sesama warga terdapat konflik. Sebagaimana temuan
pendatang. penelitian ini, bahwa konflik-konflik sosial
Jadi konflik senantiasa menjadi niscaya dan politik senantiasa mewarnai pergulatan
atau sesuatu yang imperatif mengikuti dinamika sosial di kota Jayapura, antara lain
dinamika sosial politik, ekonomi, dan sosial- seperti konflik antara orang asli Papua dan
budaya masyarakat itu sendiri. Fakta itu warga pendatang, serta konflik identitas,
sesuai argumen teori konflik bahwa antara yaitu antara orang asli Papua gunung dan
integarasi sosial dan konflik adalah dua pantai. Konflik itu tidak berdiri sendiri
sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. tetapi berkait satu sama lain atau berdimensi
Artinya, tidak ada dalam suatu masyarakat sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan,
akan terus terjadi kedamaian tanpa konflik, serta agama. Karena itu konflik yang terjadi
tetapi semuanya bersifat dinamis mengikuti di Jayapura tidak bisa dikategorikan secara
gerak dan hukum sosial. Jika terjadi integrasi ketat, misalnya konflik sosial saja tanpa ada
sosial yang kuat, itu merupakan kondisi kaitannya dengan dimensi politik, ekonomi,
sementara menujuk proses dinamika kebudayaan, dan agama.
selanjutnya yang konfliktual. Sementara Dari sisi sosiologi hukum, situasi konflik
itu kondisi konfliktual itu juga merupakan sering dijelaskan secara normatif dengan
proses menuju ke arah terjadinya integrasi tujuan terkendalinya suatu masyarakat
sosial, dan begitu seturus. sehingga tidak terjadi konflik. Secara teoretik
Dengan kata lain, dalam perspektif ini merupakan argumen esensialistik
konflik, pada prinsipnya bukan pretensi dalam arti mengandaikan bahwa nilai
untuk menjadikan masyarakat damai dan aturan itu bersifat baku dan tetap,
penuh keteraturan, tetapi ingin menjelaskan karena itu tindakan sosial warganya harus
bahwa konflik itu sendiri adalah bagian menyesuaikan nilai dan tata aturan tersebut.
atau senantiasa melekat dalam dinamika Berbagai aturan untuk mencegah konflik,
masyarakat. Tidak mungkin masyarakat mulai dari norma yang ada dalam keluarga
itu ada tanpa proses konflik, dan bahkan hingga institusi negara yang menjalankan
upaya mempertahankan masyarakat adalah fungsi dan tugasnya berdasarkan undang-
melalui jalan konflik. Pada setiap unit atau undang, berusaha mengontrol tindakan
satuan sosial senantiasa ada interaksi sosial, warga masyarakatnya. Akan tetapi sebegitu
dan karena itu dalam proses interaksi sosial jauh, lahirnya berbagai produk hukum
akan ada konflik, entah itu pada lembaga terbukti tidak menghilangkan adanya
sosial seperti keluarga, atau terlebih lagi konflik. Bahkan sejumlah aturan itu sendiri
lembaga politik dan lembaga negara. menjadi sumber konflik, termasuk Undang-

26
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

undang No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi terhadap temuan-temuan studi ini, beberapa
Khusus Papua. Artinya sejumlah perangkat teori konflik yang digunakan terbukti ada
undang-undang entah itu berubah tata nilai yang berkesuaian dengan fakta empiriknya,
dan aturan adat maupun hukum modern tetapi sebagian tidak cocok dengan argumen
seperti undang-undang tertulis, tetapi saja teori yang digunakan. Tidak satu pun teori
dituntut untuk menyesuaikan diri dengan yang digunakan dalam studi ini argumennya
dinamika perkembangan masyarakatnya. bersifat mutlak ketika didialogkan dengan
Inilah arti penting dan urgensi sosiologi faktor empiriknya. Pada kenyataannya,
hukum dalam dinamika konflik. penjelasan secara intertektualitas atau
Oleh karena itu, salah satu argumen antarteori terbukti lebih mampu menjelaskan
sosiologi hukum yang mengatakan bahwa fakta empiriknya.
setiap atura harus bersumber pada tata Argumen teori konflik Dahrendorf (1959)
nilai masyarakat adalah perlu mendapat misalnya, bahwa konflik bersifat struktural
perhatian. Akan tetapi tidak berhenti di situ terbukti di lapangan dengan ketika konflik-
saja, melainkan juga mengikuti argumen konflik yang terjadi di Jayapura melibatkan
sosiologi hukum yang lain, yaitu bahwa aktor-aktor yang memiliki otoritas
setiap aturan itu jika ingin tetap eksis dan deferensial. Perbedaan otoritas di antara
efektif dalam menciptakan kondisi tertib yang berkonflik itu menyebabkan terjadi
dan damai dalam suatu masyarakat, maka konflik terus terjadi. Akan tetapi dalam hal
perangkat normatif itu sendiri juga harus tertentu, konflik yang terjadi mirip dengan
adaptif terhadap perkembangan. Ini yang penjelasan Collins (1975) yang lebih bersifat
sering disebut argumen konstruktivistik yang individual, seperti konflik dalam pergaulan
berbeda dengan argumen esensialistik. sosial, hubungan ekonomi, dan juga konflik
Dalam pandangan sosiologi hukum identitas. Meskipun lebih merupakan
yang menganut paradigma konstruktivistik, faktor pemicu, tetapi dalam skala tertentu
setiap nilai dan tata hukum normatif tidaklah faktor-faktor individual memiliki peran
bersifat baku dan tetap.Akan tetapi senantiasa menentukan. Argumen Collins cukup
berubah, dan mengandaikan warganya terus terbukti bahwa setidaknya tidak seperti
mampu menjadi agen dalam mengubah nilai Dahrendorf yang lebih diterminisme
dan memproduksi aturan itu sesuai dengan struktural, tetapi Collins menunjukkan
dinamika masyarakatnya. Jadi sejumlah bahwa dalam interaksi sosial tidak ada
nilai adat misalnya, perlu lebih terbuka yang bersifat mutlak hanya berjalan secara
menyesuaikan dengan perkembangan agar searah. Adakalanya individu juga mampu
tetap memiliki legitimasi dalam mengatur menunjukkan kemampuannya memgubah
warganya. Demikian pula, sejumlah produk struktur dalam upaya perubahan sosial
perundangan seperti UU Otsus misalnya, melalui jalan konflik.
juga harus menyediakan diri untuk bersedia Demikian pula argumen Coser (1956),
direvisi demi legitimasinya dalam mengatur ketika dikonfirmasikan dengan fakta
kehiduapan politik, ekonomi, dan sosial empiriknya untuk sebagian sesuai dengan
kebudayaan. teorinya, tetapi untuk peristiwa konflik
tertentu tidak terbukti. Coser sangat
C. Refleksi Konseptual menentang anggapan bahwa tiadanya
Sebagaimana diuraikan dalam analisis konflik dapat dipakai sebagai indikator dari

27
kekuatan dan stabilitas suatu hubungan. bersifat dualisme. Relasional artinya, bahwa
Justru sebaliknya, menurut Coser konflik tidak ada fenomena konflik berlangsung
mampu memperkuat struktur yang ada, dan menetap di antara warga dari berbagai latar
ini terbukti pada peristiwa konflik di kota belakang sosial, etnis, maupun agama, tetapi
Jayapura. Konflik-konflik yang terjadi pada semuanya relasional. Jika peristiwa konflik
era Otsus cenderung mendapat ruang untuk antara pendatang dan OAP maka isu yang
manifes dan dalam faktanya menunjukkan menguat adalah perbedaan etnis dan agama,
tidak ada gejolak yang cukup signifikan tetapi jika konflik identitas Papua gunung
yang menimbulkan disintegrasi. dan pantai, maka faktor agama dan etnis
Hanya saja di Papua berbeda dengan tidak berperan, yang lebih berperan adalah
asumsi Coser, proses konflik antara perbedaan kultural. Bersifat dualitas artinya,
pendatang maupun konflik identitas konflik yang terjadi tidak dipengaruhi oleh
Papua gunung dan pantai, meskipun tidak satu faktor penentu bersifa mutlak, tetapi
menimbulkan disintegrasi, tetapi secara lebih merupakan interaksi di antara faktor
sosial ekonomi mengalami perubahan penentunya.
struktur. Untuk konflik dengan warga Sementara itu dari perspektif sosiologi
pendatang, di Kota Jayapura, khususnya hukum, kuat tidaknya sebuah nilai dan
konflik ekonomi terbukti semakin tata aturan normatif dalam mengatur dan
menghasilkan perubahan struktur dan mengendalikan kehidupan sosial bergantung
stratifikasi sosial. Para pendatang yang pada kemampuan adapsinya dengan
mampu menguasai sektor perekonomian, perubahan itu sendiri. Tesis sosiologi hukum
terbukti mengalami mobilitas sosial yang yang mengatakan bahwa daya adaptasi
cepat dengan menempati pada level kelas perangkat normatif baik tradisional maupun
menengah. Dengan status sosial ekonominya modern seperti peraturan perundangan, dan
yang baru itu, posisi warga pendatang kemampuan berstransformasi secara sosio
juga semakin menguat untuk kemudian kultural warga Papua sendiri adalah kunci
memberikan kontribusi pula bagi terjadinya penting untuk menciptakan situasi integatif
konflik, atau setidaknya ketegangan. sedikit banyak terbukti di lapangan. Semakin
Dalam level teoretik, polanya juga memiliki daya adaptasi norma adat terhadap
mengikuti fakta empiriknya dalam arti perkembangan masyarakat, maka semakin
tidak bisa sebuah fenomena konflik hanya memiliki kemampuan integrasi sosial di
bisa dijelaskan secara tunggal melalui satu Papua, begitu pun sebaliknya. Demikian
teori saja. Bahwa semua dinamika konflik pula produk hukum dari pemerintah pusat
di Jayapura pada era Otsus harus dilihat juga harus adaptasi terhadap dinamika
secara relasional dan dualitas, bukan perkembangan sosial budaya Papua.

28
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

Daftar Pustaka

Collins, Randal. 1975. Conflict Sociology: Toward an Explanatory


Science. New York: Academic Press.

Coser, Lewis. 1956. The Functions of Social Conflict. New York:


Academic Press Inc.

Dahrendorf, Ralf. 1959. Class and Class Conflict in Industrial


Society. Satanford, Calif: Stanford Univesity Press.

Dale, Cypri & John Djonga. 2011. Paradoks Papua. Jayapura:


Forum Kerjasama LSM Papua (Foker LSM).

Kosay, Paskalis. 2012. Evaluasi 10 Tahun Pelaksanaan Otonomi


Khusus Papua. Jakarta: Tollegi.

____________. 2011. Konflik Papua: Akar Masalah dan Solusi.


Jakarta: Tollegi.

Yoman, Socratez Sofyan . 2012. Otonomi Khusus Papua telah


Gagal. Jayapuran: Cenderawasih Press.

29
MUHAMMAD IQBAL/ ANTARAFOTO
EDISI 36 2021

MEMBANGUN SUMBER DAYA


MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN
BERPERSPEKTIF HAM
DI PAPUA PEDALAMAN

A. PENDAHULUAN Oleh Dr. YOHANES KORE, OFM


Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)
tidak bisa terlepas dari pendidikan. Gutek, Gerald L. Pastor di Keuskupan Agats-Asmat Papua,
memperoleh gelar Doktor Ilmu Sosial
(1988), mengatakan dalam arti luas pendidikan adalah
pada Program Pascasarjana Universitas
keseluruhan proses sosial yang dapat membawa
Cenderawasih
seseorang kepada kehidupan yang beradab. Pendidikan
membuat manusia mengikuti perkembangan sains
dan teknologi, serta meningkatkan kualitas peradaban
manusia pada umumnya.
Oleh karena itu, mendiskusikan pembangunan
SDM Papua yang unggul, tidak bisa lepas dari upaya
memajukan pendidikan di tanah Papua. Namun
sudah menjadi rahasia umum bahwa manusia Papua
selama bergabung dengan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI), sebagian orang Papua merasa
kurang dibangun, pendidikannya kurang mendapat
perhatian serius. Sudah triliunan rupiah habis setiap
tahunnya, hanya diprioritaskan pada berbagai proyek
yang kurang berorientasi pada peningkatan kualitas
SDM Papua. Manusia Papua selama ini terasa dalam
posisi sebagai obyek dalam proses pembangunan,
bukan sebagai subjek aktif yang berpartipasi dalam
pembangunan baik fisik maupun non-fisik terkait
dengan SDM. Pendidikan yang merupakan bagian
dari Hak Asasi Manusia kurang dimiliki oleh warga
Papua di pedalaman.
Di wilayah Papua pedalaman, pendidikan sering
dijadikan sebagai proyek fiktif, manipulasi data

31
pencapaian pendidikan, jual beli ijazah, solusi adalah pembangunan SDM, bukan
adalah isu yang sering muncul dalam praktik mengeksploitasi sumber daya alam (SDA)
pendidikan. Akibatnya, meskipun siswa Papua yang memang melimpah.
naik kelas dan kemudian lulus, tetap belum
bisa membaca, menulis dan berhitung. B. KONDISI LAYANAN
Melihat persoalan seperti itu, apa yang perlu PENDIDIKAN DI PAPUA
dilakukan untuk menyelamatkan hak orang PEDALAMAN
Papua atas pendidikan? Jika masalah ini Pada bagian ini penulis akan menguraikan
tidak dicarikan alternatif melalu kebijakan hasil temuannya tentang penyelenggaraan
yang adil, maka 10-20 tahun mendatang pendidikan di Papua yang dapat
orang Papua akan terhempit dan terhempas dikategorikan sebagai kurang menghargai
oleh globalisasi, mereka tidak bisa survive, Hak Asasi Manusia, seperti fakta ada gedung
tidak bisa berkompetitif, sehingga fenomena sekolah, tetapi tidak ada kegiatan belajar
kemiskinan akan melanda di atas kekayaan mengajar (KBM); sekolah fiktif; guru tidak
tanah Papua yang melimpah. Warga Papua betah di tempat tugas; rendahnya kesadaran
pedalaman akan semakin tertinggal dalam orangtua akan pentingnya pendidikan anak;
penguasaan atas sains dan teknologi, dan pendidikan cenderung sebagai sekadar
sehingga kualitas SDM-nya akan terus proyek.
berada pada titik rendah. Sebaliknya, apabila Beberapa daearah pedalaman di
manusia pedalaman Papua dapat meguasai Papua, secara umum diketahui bahwa ada
sains dan teknologi seperti warga negara di gedung sekolah yang dibangun, namun
daerah lain, maka akan terjadinya percepatan tidak digunakan untuk proses kegiatan
transformasi masyarakat dalam berbagai belajar mengajar bagi anak-anak yang ingin
bidang kehidupan, sehingga terjadilah bersekolah. Gedungnya dibangun dengan
kesetaraan manusia Papua dengan warga biaya yang besar tetapi tidak difungsikan
masyarakat Indonesia pada umumnya. untuk kegiatan belajar anak-anak usia
Oleh karena itu, Pemerintah perlu sekolah. Di beberapa tempat gedung sekolah
mengutamakan pendidikan sebagai hanya menjadi tempat bermain anak-anak.
upaya peningkatkan SDM warga Papua Mengapa demikian? Karena guru selalu
pedalaman. Dengan demikian, satu hal ada di kota, guru lebih focus mengurusi
yang paling mendasar untuk menyelesaikan kepentinganya sendiri daripada mengajar
masalah kebodohan, ketertinggalan, dan anak-anak pedalaman.
kemiskinan yang ada di Papua pedalaman Sebenarnya, meskipun tidak ada guru
kuncinya adalah pembangunan Sumber yang mengajar, anak-anak usia sekolah
Daya Manusia. Sebab titik sentral yang selalu datang ke sekolah, anak-anak itu
menjadi kunci berhasil atau tidaknya suatu berharap ada guru yang untuk mengajar
daerah atau bangsa dalam membangun mereka. Sambil menunggu guru, para
negaranya, tergantung pada kualitas siswa hanya bermain di halaman sekolah
sumber daya manusianya. Oleh karena itu hingga mereka kembali ke rumah masing-
strategi peningkatan sumber daya manusia masing. Penulis menemukan bahwa jika ada
berkualitas akan menyelesaikan persoalan guru, itupun hanya satu orang guru saja.
krisis kemanusiaan di Papua saat ini, Kemudian guru tersebut hanya mengajar 1
dengan demikian prioritas utama sebagai jam di kelas 1 yang digabung dengan kelas

32
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

2, kemudian anak-anak disuruh pulang setiap tahunnya.


ke rumah, dan guru yang sama mengajar Nasib anak-anak Kurima, masih sedikit
kelas 3 dan 4 selama satu jam, setelah itu lebih baik, dibandingkan dengan anak-anak
siswanya dipulangkan, kemudian guru di Watdangku. Pada tahun 2018, penulis
tersebut mengajar 1 jam lagi untuk anak merayakan Paskah di Watdangku, sambil
kelas 5 dan 6. Begitulah dari hari ke hari guru mengobservasi aktivitas belajar di SD
itu mengajar semua kelas, dan sekaligus Negeri. Sekolah ini sudah lebih dari 10 tahun
mengelola semua kelas di sekolahnya. tidak beroperasi, sehingga banyak anak
Apabila guru yang setia itu berhalangan, usia sekolah yang tidak bersekolah. Jarak
maka para siswa hanya bermain di sekitar sekolah dari pusat Distrik di Kurulu-Jiwika-
sekolah sampai waktu pulang sekolah. Hal Kabupaten Jayawijaya Wamena sekitar 15
ini terjadi di Kurima, salah satu Distrik KM, jalan aspal. Namun tidak ada seorang
dari Kabupaten Jayawijaya-Wamena, jarak guru pun yang datang untuk membuka
sekolah ini dengan kota Kabupaten sekitar dan mengoperasikan sekolah tersebut.
17 Km. Jalan aspal sekitar 10 km, dan jalan Menurut keterangan masyarakat setempat,
pengerasan sekitar 7 km, dengan beberapa kepala sekolah SD Watdangku adalah putra
bagian tanah longsor, dan jembatan putus daerah setempat, tetapi hidupnya tidak
karena banjir. Hampir semua guru tinggal fokus mengurus sekolah, malah adakalanya
di kota Kabupaten, kecuali pak Philipus terlibat dalam minuman keras.
Matuan yang setia mengajar seorang diri Persoalan laporan fiktif tentang
di SD Negeri Kurima tersebut. Hasil kegiatan belajar mengajar juga sudah
pengamatan penulis pada tahun 2017, menjadi pengetahuan umum di Papua
Philipus Matuan adalah putra daerah yang pedalaman. Hal tersebut tidak hanya terjadi
mengabdikan dirinya untuk ratusan siswa di Watdangku-Kurulu-Wamena, tetapi juga
di sekolah tersebut. terjadi di Bade, kabupaten Bovendigul.
Padahal nama-nama guru terdaftar Seorang teman misionaris yang bertugas
lengkap dengan gelar akademik dan NIP- di Bade (Tito, 2017) melaporkan bahwa di
nya pada papan struktur organisasi sekolah Bade ada sekolah yang tidak mengadakan
tersebut. Struktur organisasinya lengkap, kegiatan belajar mengajar, tetapi setiap tahun
tetapi yang aktif mengajar hanya Phlipus meluluskan siswa dengan memberikan
Matuan. Kapan para guru ini mengajar? ijazah kepada puluhan siswa. Bagaimana
Seminggu menjelang ujian kenaikan kelas hal ini terjadi? Bagaimana pengawasan dari
atau ujian kelulusan. Jika waktu ujian pemerintah (Dinas Pendidikan Kabupaten)?
tinggal seminggu, para guru baru datang Inilah sekolah sim sala bim keluarlah
di sekolah, dan semua anak naik kelas dan ijazah. Fakta itu mengindikasikan ada
semua anak lulus. Bagaimana bisa naik kerjasama negatif antara kepala sekolah
kelas dan lulus, menurut keteranga Philipus dan guru dengan orang dinas pendidikan
Matuan, karena memang dinaikkan atau sehingga semua administrasinya rapi, dan
diluluskan., walaupun anak belum bisa yang penting sekadar formalitas yang bisa
membaca, menulis dan berhitung. Pokoknya menyerap anggaran negara.
yang penting semua anak naik kelas dan Ada kasus lain yang mirip dengan yang
lulus, karena para orangtua siswa maunya terjadi di Bade-Bovendigul yaini di salah
anak-anaknya harus naik kelas atau lulus satu SD YPPK (Sekolah Dasar Katolik) di

33
Kabupaten Jayawijaya-Wamena, yakni para ditugaskan di tempat masing-masing. Hal
guru bersepakat untuk menggelembungkan yang menjadi kendala adalah di daerah
jumlah siswa supaya mendapatkan dana pelosok/pedalaman tidak ada listrik, sarana
BOS yang besar. Menurut salah seorang komunikasi yang tidak ada, internet tidak
teman misionaris yang bertugas paga tahun ada, sementara banyak hal yang harus
2016-2018, hal semacam itu sudah menjadi dikerjakan dengan menggunakan internet
semacam perilaku budaya. Namun menjadi (Dapodik), biaya transportasi sangat mahal,
masalah ketika menjelang ujian kelulusan. biaya hidup mahal, bahan makanan terbatas,
Dalam data (Dapodik) siswa kelas 6 yang sementara gaji guru tidak seberapa dan habis
akan ujian, ternyata jumlah riil siswanya untuk kredit konsumtif. Belum lagi ancaman
hanya 12 orang, namun dalam dapodik kesehatan seperti rawan terkena malaria
siswanya 27 orang. Di mana 15 siswa yang dan selalu terancam dengan penyakit yang
lain? Untuk menggenapkan kekuarangan mematikan itu, tidak ada sarana kesehatan
siswa ini, para guru memungut anak-anak dan jaminan kesehatan bagi para guru, dan
yang tidak bersekolah yang sementara keamanan tidak kondusif menjadi masalah
bermain di perempatan jalan, atau di sudut menakutkan bagi petugas pendidikan bagi
kampung dan mereka diberi pakaian anak-anak Papua pedalaman. Oleh karena
seragam, kemudian diikutkan untuk ujian. itu bisa dipahami jika kemudian guru tidak
Hasilnya semua siswa lulus, nama siswa betah di tempat tugasnya. Guru lebih memilih
yang baru ‘dipungut’ disesuaikan dengan tinggal di pusat kota kabupaten untuk
nama yang ada di Dapodik, sehingga nama membuat laporan dengan menggunakan
di Ijazah berbeda dengan nama asli dari internet. Dengan alasan ini, guru harus
anak tersebut. Siswa bisa mendapatkan berlama-lama di kota, tentu juga alasan-
ijazahnya untuk melanjutkan ke SMP. Jika alasan lain seperti yang diuangkapkan di
siswa tidak mau melanjutkan ke tingkat atas membuat guru tidak betah di tempat
sekolah berikutnya, maka ijazahnya dijual, tugasnya. Dengan demikian kegiatan belajar
bisa laku 20 juta rupiah per ijazah. mengajar di sekolah tidak akan terlaksana,
Praktik seperti yang diuraikan di atas namun setiap tahun harus ada ujian kenaikan
rasanya cuku fenomenal di daerah pedalaman kelas dan ujian kelulusan, maka terjadilah
Papua. Sebab berdasarkan pengalaman praktik formalisasi sekolah, siswa naik kelas
penulis, praktik seperti ini sudah lebih dari atau lulus meskipun aktivitas pembelajaran
20 tahun, dan masih terjadi hingga hari ini. minim dan bahkan tidak ada.
Penulis masih bergelut dengan masalah Masalah lain yang tidak kalah penting
dunia pendidikan, dan setiap tahun penulis adalah bahwa orangtua kurang mendukung
selalu menemukan lebih dari 10 siswa yang anaknya untuk bersekolah. Pendidikan
masih tidak bisa membaca, menulis, dan anak usia dini dan Taman Kanak-kanak
menghitung, meskipun sudah berada pada diabaikan, dianggap belum menjadi
tingkat SMP dan bahkan SMA. kebutuhan. Padahal sebuah pendidikan
Salah satu tantangan bagi para guru di yang baik pada masyarakat harus dimulai
daerah pedalaman Papua adalah medan sejak usia dini. Hal ini menunjukkan bahwa
tugas yang berat. Letak geografis dari kesadaran orangtua akan pendidikan masih
setiap daerah di pedalaman Papua menjadi rendah dan bahkan belum tumbuh pada
masalah tersendiri bagi setiap guru yang masyarakat. Masalah ini juga ditambah

34
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

oleh kondisi sosial budaya masyarakatnya merasa mereka mendapatkan pendidikan


yang baru mengenal peradaban dari luar dari para misionari lebih bermutu dalam
melalui para misionaris yang datang ke kaitan dengan pembentukan kepribadian,
wilayah Papua. Sebagai contoh, masyarakat mental spiritual dan pengetahuan akademik
Asmat kurang lebih enam puluh tahun yang unggul. Hal ini pun didapatkan di
lalu mulai mengenal peradaban melalui sekolah kampong atau sekolah peradaban.
para misionaris yang mendirikan “sekolah Menurut pengakuan beberapa orangtua,
peradaban” di kampung tertentu, atau pengabdian para guru zaman duluh sangat
yang lebih populer dikenal dengan sebutan jauh berbeda dengan pengabdian para
“Sekolah Kampung”. Kemudian datang juga guru zaman sekarang. Guru zaman dahulu
pemerintah kurang lebih sekitar 25 tahun tingga bersama masyarakat di kampong
yang lalu. Dengan demikian, masyarakat dan mendidik anak-anak dengan baik.
Asmat juga mulai tersentuh oleh pelayanan Hal ini terjadi karena guru tidak banyak
pemerintahan dengan pembangunan mengurusi administrasi kenaikan gaji,
di daerah kawasan penduduk yang kenaikan pangkat/golongan, semuanya
domisilinya terpencar-pencar dan terisolasi. ditangani oleh yayasan, para guru bisa
Walaupun demikian, sampai saat ini masih mendapatkan gajinya yang sedikit, namun
banyak kampung yang belum tersentuh pada waktunya. Sementara sekarang para
pembangunan pendidikan memadai. guru mendapat gaji yang lebih besar, dan
Menjadi masalah tersendiri juga adalah menghabiskan waktunya hanya untuk
pola hidup masyarakatnya masih sangat mengurusi administrasi daripada mengajar
terikat oleh kearifan budaya setempat. Siklus siswa di kelas.
kehidupan budayanya sangat kental dengan Demikianlah uraian beberapa masalah
apa yang dikenal sebagai 3 S (Sampan, sebagai bagian dari masalah pembangunan
Sungai, Sagu). Oleh karena lingkungan pendidikan di Papua pedalaman. Berbagai
alamiahnya masih seperti itu, maka siklus praktik formalistik penyelenggaraan
aktivitas hidupnya keluar dari rumah turun pendidikan masih cukup marak, bersamaan
ke sampan menyusuri sungai - cari ikan, lalu dengan itu dedikasi guru yang rendah,
pergi ke hutan memangkur sagu, disamping kesadaran orangtua yang juga rendah,
berburu dan mengumpulkan hasil alam keterbatasan sarana prasarana, minimnya
lainnya untuk memenuhi kehidupannya hari infrastruktur, dan kondisi alam yang keras
ini. Siklus hidup seperti itu bisa dilakukan dan masih terpencil, menambah persoalan
secara berpindah-pindah untuk kurun waktu pembangunan SDM warga Papua pedalaman
sampai dua mingguan, bahkan lebih, maka melalui pendidikan masih kompleks dan
anak-anak yang usia sekolah saat itu tidak rumit.
bisa sekolah. Akibatnya tingkat drop-out
sangat tinggi justru berasal dari kampung- C. PENDIDIKAN
kampung pesisir pantai dan kawasan BERPERSPEKTIF HAM
pedalaman yang telah disebutkan di atas. Dalam dokumen Konsili Vatikan II
Pembangunan sumber daya manusia tentang Pendidikan Kristen, para Bapa
melalui pendidikan sudah dimulai sejak Konsili memandang perlu untuk mengatakan
Misionaris memasuki daerah Papua. bahwa PENDIDIKAN SANGAT PENTING
Sampai hari ini, orangtua-tua yang dahulu dalam hidup manusia. Dikatakan demikian

35
karena menurut para misionaris, pendidikan (sekunder) yang didukung oleh langkah-
sangat besar pengaruhnya terhadap hidup langkah untuk membuatnya dapat diakses
manusia. Pendidikan membuat manusia oleh semua anak. Untuk hal ini, Pemerintah
menyadari martabatnya, dan sekaligus Indonesia menetapkan kebijakan wajib
membuatnya bertanggungjawab atas belajar 9 tahun, artinya diharapkan bahwa
kehidupan sosial, ekonomi dan politik. semua warga negara Indonesia dapat
Lebih dari itu, para Bapa Konsili menempuh pendidikan sekurang-kurangnya
merumuskan secara jitu bahwa “semua 9 tahun yang dapat dikategorikan sebagai
orang dari suku, kondisi atau usia manapun pendidikan dasar. Pendidikan merupakan
juga, berdasarkan martabat mereka selaku hak Asasi maka pemerintah tidak hanya
pribadi mempunyai hak yang tidak dapat menyediakan pendidikan dasar bagi warga
diganggu-gugat atas pendidikan” (Dok. negaranya, tetapi pemerintah juga perlu
Konsili Vatikan II, 1993: 293). Oleh karena menyediakan pendidikan tinggi yang dapat
pendidikan merupakan hak asasi manusia, diakses oleh setiap individu. Sebab sesuai
“maka dengan sangat Konsili meminta dengan tujuannya, pendidikan dibutuhkan
agar supaya siapa saja yang menjabat untuk mendewasakan dan memajukan
kepemimpinan atas bangsa-bangsa atau pribadi manusia, memperkuat perhormatan
berwewenang di bidang pendidikan, terhadap Hak Asasi dan Kebebasan
mengusahakan supaya jangan sampai Manusia, sekaligus meningkatkan kualitas
generasi muda tidak terpenuhi haknya hidup manusia. Dalam hubungan dengan
yang asasi itu. Selain itu, Konsili juga hal ini, orang yang berpendidikan dapat
menganjurkan supaya putra-putri Gereja memungkinkannya untuk berpartisipasi
dengan jiwa yang besar menyumbangkan secara aktif daan efektif dalam masyarakat,
jerih payah mereka di seluruh bidang dan mempromosikan pengertian,
pendidikan, terutama dengan maksud persahabatan, dan toleransi. Dengan cara
buah hasil pendidikan dan pengajaran inilah manusia dapat menghilangkan
sebagaimana mestinya selekas mungkin diskrimasi terhadap siapapun di semua
terjangkau oleh siapa pun di seluruh dunia” tingkat dan sistem pendidikan. Selaian itu
(Dok. Konsili Vatikan II, 1993) juga pendidikan dibutuhkan oleh semua
Sementara itu Perserikatan Bangsa orang untuk pemenuhan hidup manusia di
Bangsa (PBB) mendeklarasikan Hak dalam bidang sipil, politik, ekonomi dan hak
Asasi Manusia pada tahun 1948 dengan social (A Human Rights-Based Approach to
menyatakan bahwa pendidikan merupakan EDUCATION FOR ALL, UNICEF, 2007:7)
hak asasi manusia. Selain itu juga terdapat
perjanjian-perjanjian yang dari UNESCO D. PEMBANGUNAN SDM DAN
(1960), juga Konvensi Internasional tentang GURU BERKUALITAS
Ekonomi, Sosial dan Hak Budaya (1966), Pemerintah Indonesia telah bekerja
dan Konvensi tentang Penghapusan semua keras untuk membangun Papua dari segi
bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan infrastrukturnya atau pembangunan fisiknya.
(1981). Perjanjian menetapkan hak atas Hal ini sangat terlihat dalam kepemimpinan
pendidikan dasar yang wajib dan gratis bagi Presiden Jokowi. Biaya pembangunan di
semua anak. Selain itu diwajibkan untuk bidang pendidikan tidak sedikit, bahkan
mengembangkan pendidikan tahap kedua ditegaskan dalam Undang Undang Nomor

36
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

21 Tahun 2001 tentang Otonomi khusus bagi masih banyak anak-anak usia sekolah
Provinsi Papua mengalokasikan dana 20 % masih belum bisa membaca, menulis, dan
untuk pendidikan. Namun, warga Papua berhitung. Walaupun demikian, ada hal
merasa belum dibangun, banyak warga positif yang mereka miliki kelebihan yaitu
Papua di daerah pedalaman masih sangat mereka memiliki kemampuan berbahasa
tertinggal, mayoritas SDM Papua masih daerah, mengetahui budaya, dan menetap
sangat jauh dari harapan. Jika berbicara di daerah itu.
tentang sumberdaya manusia yang Mengapa pendidikan selama ini
berkualitas, Ndaraha (1999) mengatakan tidak menghasilkan SDM yang unggul?
bahwa sumber daya manusia yang Pertanyaan ini dapat dijawab dengan uraian
menciptakan bukan saja nilai komparatif panjang tentang masalah pendidikan di
tetapi juga nilai kompetitif generatif-inovatif atas. Oleh karena itu, menurut penulis,
dengan menggunakan energi tertinggi pemerintah sebagai penyelenggara
seperti: intelligence, creativity dan imagination; pendidikan perlu memiliki otoritas dan
tidak lagi semata-mata menggunakan energi kapasitas untuk memenuhi kewajibannya
kasar, seperti bahan mentah, lahan air, terkait pendidikan sebagai hak bagi setiap
tenaga, otot dan sebagainya. warga masyarakatnya. Inilah kuncinya.
Dari definisi sumber daya manusia di Sebab jika tidak, maka kasus pendidikan
atas, penulis yang melihat situasi Papua dari yang diuraikan panjang lebar di atas, akan
dekat, berkeliling dari satu daerah ke daerah terulang, dan terus berulang, sebab kasus
yang lain, maka penulis mengatakan bahwa yang terjadi di Papua merupakan akibat
pembangunan Sumber Daya Manusia di dari masih belum optimalnya kemampuan
Papua masih dapat dikatakan jauh dari managerial pemerintah daerah dalam
harapan. Oleh karena itu, pembangunan mengelola sumber daya – keuangan
sumber daya manusia Papua perlu dimulai dan masyarakatnya. Hal inilah yang
dengan menyiapkan guru yang berkapasitas membuat orang Papua tetap tertinggal dan
dan berkualitas unggul. mendapatkan stigma stereotip oleh warga
Selain itu, geografis Papua yang sangat masyarakat di luar Papua.
berat bagi kebanyakan guru yang datang Sebitu jauh masih berkembang
dari daerah luar Papua,menjadi sebuah persepsi dalam masyarakat Papua bahwa
masalah serius. Dengan demikian satu hal pembangunan SDM di Papua pedalaman
yang perlu diberi perhatian khusus adalah masih belum berhasil karena pendekatannya
menyiapkan putra daerah Papua menjadi top-down dan sekadar berorientasi proyek.
guru yang berkapasitas dan berkualitas Semua pembangunan dikelola dalam bentuk
unggul. Hal ini penting karena di banyak proyek, sekadar formalitas, dan rawan
tempat atau kampung, tidak ada guru, maka penyelewengan anggaran, sehingga kurang
banyak anak daerah atau anak kampung menghasilkan sesuatu yang berkualitas, dan
berijazah SMA yang mengajar sebagai guru inilah yang membuat warga Papua tetap
di sekolah. Tentu kualitas mereka sangat jauh menjadi miskin dan tertinggal. Kekayaan
dari guru yang memiliki kapasitas sebagai alam Papua dieksploitasi, tetapi kurang
guru. Dalam arti tertentu para guru tamatan berdampak terhadap pembangunan SDM.
SMA memang cukup membantu, tetapi Inilah yang menjadi sumber dari kekecewaan
hasilnya masih kurang memadai, terbukti masyarakat Papua, sehinga sering muncul

37
konflik politis, dan tidak membuat bumi keterampilan, pengetahuan, nilai dan sikap
Papua damai. Oleh karena itu, pemerintah yang menjadikan mampu bertanggung
perlu melakukan strategi pembangunan jawab dan aktif.
yang benar-benar bisa meyakinkan orang Tekanan untuk mencapai target seperti
Papua agar mereka bisa merasakan bahwa Tujuan Pembangunan Milenium mungkin
Sumber Daya Manusianya dibangun. mengarah pada strategi yang dirancang
Menurut penulis, pembangunan yang untuk memberikan hasil langsung, meskipun
mendesak sekarang adalah Pendidikan, yaitu masih belum berhasil berinvestasi dalam
pendidikan yang sesuai dengan konteks jangka panjang sehingga berkontribusi
sosio-kultural daerah Papua, khususnya di terhadap perubahan sosial yang lebih
wilayah pedalaman. baik dan adil. Misalnya, peningkatan
Di Papua ada tiga kelompok peradaban jumlah tempat sekolah dan guru mungkin
masyarakat yang perlu dilayani dalam menyebabkan tingkat partisipasi yang lebih
bidang pendidikan secara berbeda. Ketiga tinggi, tetapi itu hanya mencapai target
kelompok itu adalah kelompok peramu atau kuantitatif seperti pengurangan angka
kelompok adat terpencil (remote education), putus sekolah. Memastikan kehadiran,
kelompok masyarakat kampong pedalaman penyelesaian dan pencapaian pembelajaran,
(rural education), dan kelompok masyarakat layanan konsultasi dengan anak-anak dan
urban-perkotaan (Madouw, James, 2013: orang tua; kebijakan untuk mengatasi
115). Dengan mengacu pada ketiga kategori kemiskinan; pengembangan kurikulum yang
sosio-kultural tersebut, maka layanan relevan; dan penghormatan terhadap hak-
pendidikan perlu dirancang menyesuaikan hak anak di sekolah, termasuk penghapusan
kondisi dan kebutuhan masing-masing hukuman fisik adalah persoalan yang harus
kategori tersebut. bisa diselesaikan bagi layanan pendidikan
Pengembangan pendekatan pendidikan berkualitas di Papua pedalaman.
berbasis hak asasi manusia membutuhkan Dengan demikian, untuk membangun
kerangka kerja yang membahas hak akses ke layanan pendidikan pada wilayah
pendidikan, hak atas pendidikan berkualitas pedalaman Papua, membutuhkan
dan penghormatan terhadap hak asasi pendidikan yang dikembangkan atas dasar
manusia dalam pendidikan. Dimensi ini suatu analisis situasi yang mengidentifikasi
adalah saling bergantung dan saling terkait, masalah prioritas, serta berbagai persoalan
dan pendidikan berbasis hak membutuhkan mendasar perlu ditangani secara kolaboratif
realisasi ketiganya. dan sistematis. Dengan cara pendekatan
Hak atas pendidikan membutuhkan pendidikan komprehensif seperti itu, maka
komitmen untuk memastikan akses penyebab kemiskinan, ketidaksetaraan,
universal, termasuk mengambil semua dan ketidakadilan yang bersumber dari
tindakan yang diperlukan untuk menjangkau rendahnya pendidikan dapat diatasi.
anak-anak yang paling terpinggirkan. Tapi Pendidikan di Papua pedalaman tidak hanya
mendorong anak ke sekolah saja belum membutuhkan guru yang berkapasitas
cukup; itu tidak menjamin pendidikan dan berkualitas, tetapi juga guru yang
yang memungkinkan individu mencapai harus memperhitungkan hak asasi anak,
tujuan sosial dan ekonominya, serta belum remaja dan peserta didik lainnya. Hak
tentu memnjamin anak memperoleh atas pendidikan merupakan sarana untuk

38
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

mengurangi disparitas dan kemiskinan pendidikan berbasis hak asasi, anak-anak


antara masyarakat di kampung dan daerah dan peserta didik lainnya, termasuk mereka
urban. Oleh karena itu, program pendidikan yang miskin, adalah subjek aktif dan bukan
harus mengartikulasikan keterkaitan yang hanya sekadar dijadikan sebagai objek.
eksplisit antara program dan aksi yang Karena itu, program pendidikan berbasis hak
diusulkan dengan program pengurangan harus mengembangkan kapasitas anak-anak,
kesenjangan sosial dan pengurangan remaja, orang tua dan peserta didik lainnya
kemiskinan, serta ketidakadilan. untuk mengklaim hak mereka. Pendidikan
Pendekatan pendidikan berbasis hak asasi hak asasi manusia merupakan instrumen
membutuhkan komitmen untuk mengakui penting dalam memberdayakan masyarakat
dan menghormati hak asasi manusia untuk memahami, mengklaim dan
bagi anak-anak saat mereka di sekolah mewujudkan hak-hak mereka memperoleh
- termasuk menghormati identitas, hak layanan pendidikan berkualitas.
pilih, dan integritas. Ini akan berkontribusi
pada peningkatan tingkat retensi dan juga KESIMPULAN
membuat proses pemberdayaan pendidikan Pendidikan merupakan Hak Asasi
menuju pembangunan partisipatif, Manusia yang tidak dapat diganggu gugat,
transparan dan akuntabel. Pendidikan yang harus dimiliki oleh setiap manusia
yang berkualitas tidak dapat dicapai tanpa dalam keadaan dan kondisi apapuan. Oleh
memperhatikan hak anak atas kesehatan karena itu, pemerintah perlu mengutamakan
dan kesejahteraan. Anak-anak tidak bisa pendidikan sebagai upaya peningkatkan
mencapai perkembangan optimal mereka Sumber Daya Manusia Papua pedalaman.
ketika mereka mengalami kekurangan gizi, Selain itu, salah satu hal yang paling
mengalami hukuman atau pelecehan fisik mendasar untuk menyelesaikan masalah
yang mempermalukan anak. Kerangka pendidikan yang ada di Papua adalah
konseptual ini menyoroti perlunya pembangunan Sumber Daya Manusia. Sebab
pendekatan pendidikan yang holistik, titik sentral yang menjadi kunci berhasil atau
mencerminkan universalitas dan tak tidaknya suatu daerah atau bangsa dalam
terpisahkan dari semua hak asasi manusia. membangun negaranya, tergantung pada
Jika guru terus-menerus tidak hadir atau kualitas sumber daya manusianya. Oleh
gagal mengajar, orang tua dan masyarakat karena itu strategi peningkatan kualitas
perlu mengetahui bahwa anaknya memiliki sumber daya manusia melalui layanan
hak atas pendidikan dan bahwa mereka harus pendidikan memadai dari pemerintah, akan
bergabung bersama untuk mencari resolusi menyelesaikan persoalan krisis kemanusiaan
masalah seperti itu. Dalam pendekatan di Papua saat ini.

DAFTAR PUSTAKA
Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta-KAWI, 1993
Gutek, Gerald L. 1988. Philosophical and ideological perspectives on education. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Ndraha, T. 1987. Pembangunan Masyarakat Memapersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. Jakarta : Bina Aksara.
Undang Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua,

39
MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS/ ANTARAFOTO
EDISI 36 2021

Migrasi dan Politik


di Papua1
1 Tulisan ini semula merupakan bagian dari sebuah laporan panjang tentang sejarah migrasi di
Papua untuk Direktorat Sejarah Kemendikbud (2020)

Pengantar: Migrasi dan Lahirnya OAP


Lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan
pada tanggal 21 Mei 1998 telah membuka peluang
Oleh Riwanto Tirtosudarmo’
politik bagi berbagai kelompok dalam masyarakat Peneliti Senior di Pusat Penelitian
yang selama ini tertekan. Periode pasca-Suharto yang Masyarakat dan Budaya LIPI, serta Peneliti
Sosial Independent
diberi label periode reformasi merupakan periode
yang dipenuhi oleh berbagai perubahan politik yang
penting. Salah satu perubahan politik yang sangat
signifikan adalah berakhirnya sentralisasi politik
dan monopoli kekuasaan oleh pemerintah pusat di
Jakarta. Timor Timur pada bulan Agustus 1999 secara
resmi melepaskan diri dari “NKRI” setelah melalui
jajak pendapat (referendum) yang diawasi oleh PBB.
Aceh dengan mediator sebuah LSM internasional
yang dipimpin oleh Marti Athissari, bekas presiden
Finlandia, memasuki tahap negosiasi baru antara
perwakilan GAM dan pemerintah Indonesia, yang
menghasilkan kesepakatan damai. Sementara itu
tuntutan berbagai kelompok masyarakat di Papua,
mendapatkan tanggapan dari pemerintah pusat,
berupa paket otonomi khusus. Reformasi juga
menghasilkan propinsi baru di Papua, yaitu provinsi
Papua Barat yang terbentuk pada tahun 2003. Dalam
kaitan dengan migrasi, pemerintah daerah di Papua
secara tegas meminta kepada pemerintah pusat untuk
menghentikan program pengiriman transmigran
ke Papua. Persoalannya, meskipun secara resmi
pengiriman transmigran ke Papua dihentikan, migrasi

41
penduduk yang masuk Papua secara spontan dua provinsi ini membuat migrasi masuk
tidak mungkin dicegah. Migrasi masuk ke ke kedua propinsi memiliki pengaruh yang
Papua terus berlangsung dan inilah yang sangat signifikan bagi tanah Papua. Antara
kemudian menimbulkan diskursus baru tahun 2000-2010 provinsi Papua mengalami
tentang apa yang disebut sebagai Orang Asli pertambahan penduduk sebesar 5, 39
Papua (OAP). persen, sementara di provinsi Papua Barat
Munculnya istilah OAP sangat erat 3,71 persen. Antara tahun 2005-2010 migrasi
hubungannya dengan apa yang terjadi pada neto ke provinsi Papua mencapai 5,6 persen,
era Orde-Baru, ketika penduduk setempat sementara di provinsi Papua Barat hanya
merasa terdesak oleh membanjirnya 1,1 persen. Aris Ananta et.al. (2016) secara
migran yang masuk ke Papua, baik melalui sistematis melakukan analisis tentang
program transmigrasi maupun secara etnisitas di Papua berdasarkan data Sensus
spontan karena adanya peluang ekonomi. Penduduk 2010, memperlihatkan bahwa di
Dengan terbukanya ruang politik pasca provinsi Papua 51, 49 persen dan di provinsi
lengsernya Soeharto, berbagai tuntutan Papua Barat 76,31 persen, merupakan
dari penduduk setempat – yang kemudian penduduk yang berlatar belakang etnis
mengidentifikasi diri sebagai OAP – mulai Papua. Terdapat dua kabupaten di provinsi
muncul ke permukaan. Fenomena OAP Papua Barat dan lima kabupaten di provinsi
merupakan salah dampak paling nyata dari Papua yang penduduknya mayoritas
migrasi penduduk dari luar Papua ke Papua. berlatarbelakang etnis non-Papua, dimana
Kesenjangan ekonomi antara migran dan yang terbesar berlatarbelakang etnis Jawa.
penduduk setempat yang lebar merupakan Keadaan ini memperlihatkan bahwa
fakta yang sulit dibantah yang merupakan keberagaman penduduk Papua akan semakin
the underlying factor dari munculnya meningkat sejalan dengan berjalannya
perasaan terpinggirkan dari sebagian warga waktu, terutama akibat migrasi masuk
masyarakat Papua. Penggunaan istilah OAP yang tidak mungkin dicegah mengikuti
menjadikan Orang Papua yang secara etnis semakin baiknya transportasi dan tinnginya
sesungguhnya sangat beragam. Data tentang dorongan untuk mencari penghidupan yang
etnisitas penduduk Indonesia, termasuk lebih baik dari orang-orang di luar Papua,
di Papua, sejak tahun 2000 dikumpulkan terutama dari Jawa.
dalam Sensus Penduduk yang dilakukan 10 Di provinsi Papua Barat, kabupaten
tahun sekali. Trambrauw dan Maybrat penduduk dengan
Pasca-Orde Baru, Papua dimekarkan latar belakang etnis Papua mencapai 95
menjadi dua propinsi, Papua dengan persen. Di kabupaten Trambrauw etnis
ibukota Jayapura dan Papua Barat dengan Karon merupakan mayoritas (73,19 persen),
ibukota Manokwari. Berdasarkan hasil sementara etnis Biak-Numfor merupakan
sensus penduduk tahun 2010 penduduk etnis terbesar kedua (19,42 persen), etnis
propinsi Papua berjumlah 2,7 juta jiwa; terbesar ketiga adalah etnis pendatang yaitu
dan penduduk propinsi Papua Barat hanya Bugis (1, 41 persen). Di kabupaten Maybrat,
berjumlah 753.399 jiwa. Total penduduk di etnis terbesar adalah Ayfat (74,05 persen),
kedua propinsi ini berjumlah 3,39 juta jiwa, etnis kedua Arfak (21,16 persen), dan etnis
hanya 1,51 persen dari seluruh penduduk ketiga adalah Orang Mare (3,20 persen) yang
Indonesia. Kecilnya jumlah penduduk di merupakan migran dari kepulauan Maluku.

42
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

Kecuali di Kabupaten Fakfak dan Sorong seperti Orang Jawa, dengan presentase
serta di Kota Sorong, kabupaten-kabupaten yang terbesar (20 persen) diikuti oleh suku-
lainnya di provinsi Papua Barat lebih dari 50 suku pendatang yang jumlahnya lebih kecil
persen penduduknya merupakan penduduk seperti Orang Bugis, Orang Makasar, Orang
yang sukunya merepresentasikan Orang Asli Toraja, Orang Ambon, Orang Buton dan
Papua (OAP). Di Kabupaten Fakfak OAP Orang Minahasa. OAP yang tinggal di Kota
kurang dari 50 persen (47.61 persen), terdiri Jayapura yang terbanyak berasal dari Suku
dari Orang Baham 32.39 persen, Orang Iha Yape, Biak Numfor dan Dani. Penghitungan
5.77 persen, Onin 2.42 persen, disamping yang dilakukan oleh Ananta et.al (2016)
yang berasal dari seku-suku lain yang memperlihatkan perbedaan dominasi etnik
jumlahnya kecil. Jika di lihat OAP maupun yang berbeda antara provinsi Papua dan
suku-suku pendatang, yang terbesar adalah Papua Barat. Jika di provinsi Papua Barat,
Orang Baham, kemudian Orang Buton 10.15 Orang Jawa merupakan kelompok etnis
persen, Orang Jawa 8.58 persen dan Orang yang paling dominan, hampir 15 persen;
Kei 7.25 persen. Besarnya penduduk yang sementara di provinsi Papua, Orang Dani,
berasal dari luar Papua dapat dimengerti 23,3 persen, merupakan kelompok etnik
karena Fakfak merupakan kota pelabuhan. yang terbesar. Seperti telah diperlihatlkan
Sementara itu di Kota Sorong penduduk diatas, terdapat perbedaan komposisi etnik
terbesar berasal dari Suku Jawa 41.46 persen antar kabupaten di tanah Papua – yang sekali
dan penduduk OAP sebesar (36.07 persen. lagi menunjukkan ketepatan pengamatan
Perbedaan komposisi etnis antarkabupaten bapak antropologi Indonesia yang sudah
merupakan hal yang wajar karena migran sejak tahun 1995 menekankan pentingmya
memiliki kebebasan untuk memilih dimana melihat masyarakat Papua sebagai sebuah
mereka akan tinggal. Daerah perkotaan, masyarakay majemuk. Kemajemukan latar
biasanya menjadi tujuan migran karena di belakang etnis, menurut Koencaraningrat
daerah perkotaanlah peluang ekonomi dan (1994), harus menjadi pertimbangan yang
kesempatan kerja tersedia dibandingkan di sangat penting dalam membangun Papua.
daerah yang masih tergolong pedesaan.
Berbeda dengan propinsi Papua Barat, Pemekaran dan Politik Elit
kebanyakan kabupaten di propinsi Papua Papua, mengalami beberapa kali
mayoritas penduduknya berasal dari Papua, pergantian nama seiring dengan
bahkan ada 16 kabupaten yang penduduknya perkembangan politik yang melintasinya.
lebih dari 90 persen merupakan OAP. Pada saat menjadi koloni Belanda disebut
Kabupaten di propinsi Papua yang tertinggi sebagai Dutch West Papua atau Papua
penduduk OAP-nya adalah Kabupaten Barat, setelah menjadi bagian dari Republik
Lanny Jaya, mereka berasal dari Suku Dani Indonesia 1969 diganti oleh Presiden
(97, 62 persen; diikuti oleh Kabupaten Intan Soekarno menjadi Irian Barat dan saat
Jaya 99.91 persen, mereka berasal dari Orde Baru diganti menjadi Irian Jaya, yang
Suku Moni (74.29 persen), Woda (12.43 kemudian oleh Presiden Abdulrahman
persenent), Dauwa (8.55 persen) dan Dani Wahid, tahun 2000, untuk menghargai
(4.34 persen). OAP merupakan minoritas Orang Papua diganti menjadi Papua. Papua
di Kota Jayapura karena besarnya jumlah seperti tempat-tempat lain di luar Jawa, tidak
penduduk yang berasal dari luar Papua, terbebas dari “demam pemekaran wilayah”

43
menyusul diimplementasikannya UU of which has disappeared
Otonomi Daerah Tahun 1999. Sebagai sebuah through corruption. Both
provinsi yang secara geografis sangat luas provinces remain at or near
Papua memiliki masalah untuk memenuhi the bottom of the country’s
salah satu persyaratan untuk di mekarkan, Human Development
yaitu jumlah penduduk yang kecil. Namun Index (HDI), despite
setelah melalui proses politik yang cukup huge wealth from various
panjang pada tahun 1999 bersamaan dengan extractive industries and,
mulai diundangkannya Otonomi Daerah, increasingly, palm oil.
Papua berhasil dimekarkan menjadi dua
propinsi: Papua dengan ibukota Jayapura, Ngurah Suryawan (2015) dalam
dan Papua Barat dengan ibukota Manokwari. disertasinya tentang politik lokal di Papua,
Papua berdasarkan Sensus Penduduk tahun memberikan hasil pengamatan yang menarik
2010 berpenduduk 2,7 juta jiwa, sementara tentang fenomena pemekaran wilayah di
Papua Barat hanya berpenduduk 753.399 Papua, sebagai berikut:
jiwa.
Pada tahun 2001 pemerintah Indonesia Genealogi fragmen-
memberikan status otonomi khusus (OTSUS) fragmen pemekaran
pada Papua, menurut Cilian Nolan, Sidney daerah yang tumbuh subur
Jones dan Solahudin (2014: 410) alasan di Tanah Papua sebenarnya
yang melatarbelakanginya adalah harapan berawal dari keinginan
pemberian OTSUS ini akan memperlemah pemerintah pusat
gerakan kemerdekaan. (Jakarta) untuk membagi
…but whatever good will Pulau Papua yang luas
might have emerged from tersebut dengan beberapa
this intiative was destroyed daerah administratif baik
two years later when, itu provinsi maupun
without consultation, kabupaten baru. Kata
the government divided pemekaran digunakan
the province first into dengan argumentasi
three, then back into two, bahwa sebuah wilayah
provinces. In the decade akan diperluas secara
since special autonomy administrafif menjadi
came into force, there has distrik, kabupaten atau
been limited progress provinsi baru yang
on devolving political memungkinkan pelayanan
powers that would be kepada masyarakat
significantly greater than menjadi maksimal. Tapi
those enjoyed by other realitas yang terjadi
Indonesian provinces, adalah wilayah dipecah-
the main impact has been pecah sesuai dengan
to flood Papua and West kebijakan pemekaran
Papua with cash, much berdasarkan undang-

44
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

undang. Sementara yang diperlukan untuk memenuhi syarat


masyarakat yang telah pemekaran dapat dipenuhi. Keinginan
terhubung satu dengan untuk memekarkan wilayah hamper selalu
yang lainnya berdasarkan digerakkan oleh elite politik lokal yang
jaringan kekerabatan pada umumnya merupakan Orang Papua
dan perkawinan Asli. Manipulasi statistik penduduk yang
menjadi terpecah-belah didesakkan oleh para elite politik lokal
berdasarkan administrasi mengakibatkan masalah tersendiri bagi
pemekaran daerah. Kantor Dinas Statistik di Papua.2 Ancaman
dan aksi teror terhadap Kantor Dinas
Dimanakah letak hubungan antara Statistik di Papua sering terjadi jika angka
pemekaran wilayah dengan migrasi statistik suatu wilayah dianggap terlalu kecil,
penduduk? Salah satu persyaratan sebuah dibawah yang dibayangkan oleh para elit
daerah dapat dimekarkan adalah adanya lokal.3 Tekanan politik yang sering dialami
jumlah penduduk yang mencukupi. terhadap Kantor Dinas Statistik menjadikan
Nah, disinilah faktor demografi, dimana angka statistik penduduk yang ada di Papua
didalamnya terdapat komponen migrasi diragukan keakuratannya.
penduduk, menjadi sebuah isu yang Seperti telah dikemukakan pada
sangat krusial di Papua, karena secara bagian terdahulu, migrasi masuk ke Papua
demografis penduduk Papua yang masih memberikan sumbangan yang sangat besar
sedikit. Sedikitnya penduduk Papua bagi peningkatan jumlah penduduk di
menjadikan migrasi masuk menjadi faktor Papua. Salah satu dampak migrasi adalah
sosial yang bisa sangat sensitive karena terbentuknya kawasan-kawasan yang
dampaknya bersifat signifikan terhadap memiliki konsentrasi penduduk non-Papua
komposi penduduk Papua dan non-Papua. yang besar. Ketika elite politik local Papua
Sejarah sosial di berbagai belahan dunia menginginkan pemekaran wilayah, mereka
membuktikan terganggunya keseimbangan segera menyadari terdapatnya wilayah-
komposisi penduduk antara pendatang wilayah yang mayoritas penduduknya
dan penduduk setempat seringkali menjadi merupakan penduduk yang berasal dari
pemicu ketegangan konflik sosial. luar Papua. Sebagaimana dikemukakan oleh
Dalam kaitan dengan pemekaran Cillian Nolan, Sydney Jones and Solahudin
wilayah, ada dua strategi yang biasanya (2014: 430):
dilakukan untuk memberikan legitimasi Proposal for further
tentang tercukupinya jumlah penduduk provinces are nonetheless
sebagai salah syarat untuk dapat menjadikan likely to continue to
sebuah kawasan sebagai unit administrasi resurface, and without
2 Kantor Dinas Statistik, berbeda dengan kantor-kantor
yang baru. Strategi pertama adalah dinas lainnya yang sejak otonomi daerah menjadi bagian dari Pe-
merintah Daerah, masih tetap berinduk pada Badan Pusat Statistik
melakukan manipulasi statistic tentang (BPS) yang berada di Jakarta dan bersifat nasional. Urusan statistik
jumlah penduduk di suatu wilayah atau kependudukan masih disentralisasi untuk menjaga keakuratan data
penduduk secara nasional.
kawasan. Sementara strategi kedua, adalah
3 Menjelang dilakukannya Sensus Penduduk 2010,
dengan berusaha menarik migrasi masuk ke penulis diminta untuk melakukan pengamatan jalannya persiapan
peaksanaan Sensus Penduduk di Kota Sorong. Dalam kegiatan
wilayah yang ingin dimekarkan, sehingga pengamatan ini berbagai cerita pengalaman buruk yang dialami
petugas Kantor Dinas Statistik diceritakan kepada penulis.
saat terjadi penghitungan jumlah penduduk

45
clearer parameters and wilayah administrasi yang mendapatkan
controls on how the otonomi. Otonomi memberikan dampak
process should work, yang positif jika dilihat semakin besarnya
the issue may become jumlah Orang Papua yang menjadi pejabat-
increasingly fraught. The pejabat pada berbagai tingkatan pemerintah
question of Central papua daerah meskipun kajian mendalam yang
poses the greatest potential dilakukan oleh Ngurah Suryawan (2015)
for conflict. The proposed memperlihatkan dengan jelas dorongan
area is home to some of untuk menduduki jabatan-jabatan yang
the most lucrative mining terbuka itu telah melahirkan persaingan
areas in Papua, including politik yang penuh intrik dan tipu-muslihat
the Freeport mine but also yang berakibat pada terabaikannya
other emerging mining tujuan pemekaran untuk meningkatkan
areas in Mimika and kesejahteraan masyarakat.
Nabire. Importantly, the Sebuah dilema yang dihadapi oleh elit
proposed province would politik Papua sejalan dengan tingginya
be home to a significant dorongan untuk membentuk wilayah
non-Papuan population, administrasi baru melalui pemekaran
both Mimika and Nabire adalah terdapatnya calon-calon kabupaten
are over 50 per cent non- dan provinsi yang jika dijadikan daerah
Papuan. Conflict is likely administrasi baru akan menjadi konsentrasi
between Timika, Nabire penduduk non-Papua sebagai akibat dari
and Biak over which of the migrasi masuk yang tinggi ke Papua.
three should be the capital, Seperti telah diperlihatkan oleh Ananta
although Timika would et.al. (2015) terdapat kabupaten-kabupaten,
probably have the edge. terutama di daerah pantai dan perkotaan;
seperti Jayapura dan Sorong, dominasi
Pemekaran wilayah sebagai gejala etnis pendatang, terutama Jawa, semakin
fragmentasi geografis di Papua, meskipun meningkat. Sulit untuk dibantah, meskipun
pada awalnya merupakan bagian dari strtategi secara total, penduduk asli Papua masih
pemerintah pusat untuk melemahkan merupakan mayoritas, namun hampir
gerakan kemerdekaan, dan dimaksudkan bisa dipastikan bahwa semakin banyak
untuk mendekatkan pelayanan publik agar kabupaten-kabupaten yang mayoritas
terjangkau oleh lapisan masyarakat Papua pendudunya berasal dari luar Papua. Jika
yang terpencar-pencar; namun seperti bisa tidak diantisipasi dengan baik, terganggunya
diduga telah mendorong elit politik local keseimbangan komposisi etnis yang terjadi
Papua sendiri untuk memperluasnya lebih bisa menjadi masalah yang serius karena
lanjut. Bukanlah rahasia lagi bahwa motivasi dominasi etnis pendatang akan selalu diikuti
untuk mendapatkan alokasi dana-dana oleh dominasi ekonomi, dan keadaan ini
yang berasal dari pusat merupakan tujuan akan memicu persepsi terdapatnya ketidak
yang mungkin terbesar dari dorongan adilan bagi penduduk Papua yang merasa
untuk membuat daerah administrasi yang berhak memiliki tanah Papua.
baru, terutama kabupaten yang merupakan

46
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

Diskursus Migrasi pengamat, melihat dari sudut pandangnya


Dalam diskursus ilmu-ilmu masing-masing, dan di latarbelakangi
sosial dan politik tentang Papua, migrasi apa yang menjadi perhatian atau agenda
mendapatkan perhatian penting dari para politiknya masing-masing.
pengamat asing, terutama di Australia. Pada awal tulisan ini, dikutip pendapat
Fenomena migrasi di Papua, dilihat oleh dari Edward Aspinnal (2006) yang
para ahli tersebut dalam spectrum yang mengatakan bahwa memang benar jika
cukup luas, mulai dari yang melihat kedatangan para pendatang berlangsung
migrasi sebagai strategi untuk melakukan bersamaan dengan adanya ketidakpedulian,
genosida, sampai yang melihat migrasi salah urus dan peminggiran penduduk
sebagai hal yang memberikan sumbangan setempat, atau OAP, yang pada gilirannya
positif pada perkembangan masyarakat di mengakibatkan rasa teralienasi dan
Papua. Fenomena migrasi di Papua tidak mendorong nasionalisme dari Orang Papua.
mungkin dilihat dalam sebuah perspektif Apa yang dikatakan oleh Aspinall di atas
yang tunggal. Sebagai contoh saja, untuk menjadi menarik karena, meskipun Papua
pengamat asing yang sangat kritis terhadap secara resmi baru menjadi bagian wilayah
pemerintah Indonesia, lihat misalnya tulisan Republik Indonesia pada tahun 1969,
John Wing dan Peter King (2006) yang artinya 24 tahun setelah wilayah Indonesia
berjudul Genocide in West Papua?: The role yang lain terbebas dari penjajahan Belanda,
of the Indonesian state apparatus and a current tidaklah berarti Orang Papua tidak tersentuh
needs assessment of the Papuan people.4 Contoh oleh jejak kebangsaan dan nasionalisme
yang lain, Jim Elmslie (2007) West Papua: Indonesia. Dalam buku hasil kajian Tim
Genocide, Demographic Change, the Issue of LIPI yang berjudul Jejak Kebangsaan: Kaum
‘Intent’, and the Australia-Indonesia Security Nasionalis di Manokwari dan Boven Digul,
Treaty.5 Untuk tulisan yang netral, lihat terbit 2004, digambarkan secara jelas
misalnya Stuart Upton (2009) The Impact of bahwa Kota Manokwari dan Boven Digul
migration on the people of Papua. Indonesia: A telah menjadi tempat pembuangan para
historical demographic analysis.6 Atau, tulisan nasionalis Indonesia generasi pertama
Edward Aspinall (2006) “Selective outrage seperti Haji Misbach dan Hatta bersama
and acknowledged fantasies: re-thinking Papua, ratusan para nasionalis lain setelah terjadi
Indonesia and Australia”.7 Beberapa contoh pemberontakan PKI tahun 1926 di Banten
tulisan dari para pengamat asing yang dan Sumatra Barat. Manokwari dan
telah disebutkan diatas memperlihatkan terutama Boven Digul telah menjadi jejak
bahwa fenomena migrasi dan isu demografi sejarah kebangsaan dan nasionalisme
di Papua merupakan sebuah tema yang Indonesia. Dalam periode selanjutnya, jejak
bisa sangat kontroversial, setiap ahli atau kebangsaan ini ikut berpengaruh terhadap
tokoh-tokoh politik Papua, seperti Frans
4 Lihat, John Wing with Peter King, West Papua
Project, Centre for Peace and Conflict Studies, University of Sydney, Kaisiepo dan Lukas Papare; sekedar untuk
2006.
5 Lihat, Indonesian Solidarity and the West Paper Proj- menyebut beberapa nama, yang kemudian
ect Conference: West Papua: Paths to Justice and Prosperity. Sydney
University, August 9-10, 2007. sangat berperan dalam proses kemerdekaan
6 Unpublished PhD thesis, Department of History and
Philosophy, University of New South Wales, Auastralia.
Indonesia dan proses integrasi Papua ke
Republik Indonesia. Pembuangan para
7 Australian Policy Forum, 06-15, May.
nasionalis ke Boven Digul dan Manokwari

47
memperlihatkan sebuah bentuk “forced dengan cara mendeklarasikan diri sebagai
migration” yang dilakukan oleh pemerintah Papua yang merdeka dan berdaulat,
colonial Belanda dengan alasan yang bersifat pada tanggal 1 Desember 1969, menjadi
politik, yaitu mencegah para nasionalis ini benih konflik politik yang tidak mudah
untuk melakukan aktifitas politiknya di diselesaikan hingga hari ini.
Jawa. Para nasionalis yang diasingkan di
Boven Digoel kembali mengalami “forced DOM, OPM dan “Forced Migration”
migration” ketika mereka harus diungsikan Organisasi Papua Merdeka (OPM)
ke Australia oleh Belanda karena Papua dan sudah ada sejak tahun 1964, berawal dari
Indonesia jatuh ke tangan tentara Jepang. dibentuknya semacam Dewan Perwakilan
Barangkali inilah bentuk “forced migration” Rakyat, yang disebut sebagai West New
pertama di Papua di awal abad ke-20. Guinea Council, yang 22 dari 24 anggotanya
Jika “forced migration” diartikan merupakan Orang Papua, yang dalam
sebagai perpindahan yang bersifat terpaksa, keptusannya pada tanggal 1 Desember
maka gelombang pemulangan orang-orang 1961 bersepakat untuk mengganti nama
Belanda setelah PEPERA tahun 1969 – karena Netherlands New Guinea menjadi Papua
Papua dinayatakan oleh PBB sebagai bagian Barat, dan menyatakan bahwa lagu “Hai
dari wilayah kedaulatan Republik Indonesia Tanahku Papua” sebagai lagu kebangsaan,
– merupakan “forced migration” keluar dari dan bendera Bintang Kejora sebagai bendera
Papua. Selain orang-orang Belanda yang kebangsaan Orang Papua.8 Betapapun
terpaksa harus meninggalkan Papua, ikut kecilnya pengikut OPM ketika proses
serta orang-orang Papua yang karena alasan- penyerahan kedaulatan dari Belanda ke
alasan tertentu memilih dan diperbolehkan Indonesia dilakukan, setelah dilakukannya
untuk ikut pindah ke Belanda. Proses Pepera 1969, gagasan untuk merdeka
dekolonisasi selalu merupakan konteks yang secara resmi dideklarasikan pada
yang bersifat sosial-politik dari terjadinya 1 Juli 1971 oleh Seth Rumkorem, sebagai
“forced migration”. Orang-orang Papua Negara yang berdiri sendiri, terbukti terus
terbelah dalam mengambil sikap politik, hidup, dan seperti mendapatkan dorongan
mengikuti Belanda pindah ke Belanda dan untuk diwujudkan tatkala berbagai janji
menjadi warganegara Belanda, atau tetap yang diberikan oleh pemerintah Indonesia
tinggal di Papua dan menjadi warganegara dianggap semakin jauh dari kenyataan.OPM
Indonesia. Keterbelahan sikap politik menjadi organisasi perlawanan terhadap
akibat proses dekolonisasi – setelah Pepera pemerintah Indonesia yang kemudian
tahun 1969 – adalah sebuah peristiwa yang memilih untuk melakukan operasi-operasi
kompleks, untuk sebagian Orang Papua militer untuk menyelesaikan konflik politik
bahkan bisa bersifat traumatis. Trauma yang terjadi. OPM yang oleh pemerintah
dekolonisasi terbukti terus membekas pada Indonesia sebagai gerakan separatis diberi
ingatan kolektif Orang Papua, kususnya berbagai label, antara lain sebagai GPL
generasi yang hidup pada tahun 1970an, 8 Referensi tentang OPM diambil
ketika mereka harus mulai hidup dalam dari bab 1 (Speaking historically about West
alam kemerdekaan Indonesia. Adanya Papua) dari buku Permissive Residence:
sekelompok orang Papua yang menyatakan West Papuans Refugese Living in Papua New
tidak ikut Belanda dan tidak ikut Indonesia Guinea, Diana Glazebrook, Monograph in
Anthropological series, ANU E-Press, 2008.

48
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

(Gerakan Pengacau Liar) atau GPK (Gerakan dengan PNG, tetapi juga para pengungsi
Pengacau Keamanan) dan akhir-akhir yang berasal dari tepat-tempat yang jauh,
ini disebut sebagai Kelompok Kriminal bahkan harus berpindah-pindah sebelum
Bersenjata. akhirnya tertampung di East Awin. Migrasi
Akibat yang tidak diperhitungkan terpaksa (forced migration) dari Orang
dengan menjadikan Papua sebagai DOM Muyu, yang merupakan pengungsi terbesar
(Daerah Operasi Militer) yang dilakukan sebagai dampak dari operasi militer
oleh pemerintah Indonesia untuk untuk menumpas OPM, memperlihatkan
menumpas habis OPM adalah terjadinya fenomena yang menarik, karena kemiripan
“forced migration”, dalam bentuk kebiasaan hidup yang ada antara Orang
gelombang pengungsi dari Orang Papua ke Muyu dengan Oran PNG yang menjadi
PNG atau ke Australia dan Negara-negara tetangganya. Bagi Orang Muyu adanya garis
lainnya, maupun Orang Papua yang harus batas wilayah antara Papua yang menjadi
tercerai berai di dalam tanah Papua sendiri. bagian dari Indonesia dan PNG samasekali
Dibandingkan tempat lain di Indonesia, tidak menjadi perhatian mereka. Melintasi
Papua merupakan sebuah wilayah yang garis perbatasan antarnegara itu bagi Orang
memiliki sejarah “forced migration” yang Muyu tidak ada bedanya dari pengalaman
terpanjang. “Forced migration” di Papua melintasi batas antar dusun saja. . Menurut
merupakan dampak dari ketidakstabilan catatan Gereja Katolik (Glazebook, 2008: 67)
politik yang terus terjadi akibat dari antara April 1984 sampai Juli 1985, sekitar
proses dekolonisasi dan integrasi yang 9500 Orang Muyu meninggalkan rumah dan
masih menyisakan “unresolved issues” dusunnya, sekitar 2000 orang dari jumlah ini
selain trauma politik yang terus menerus menjadi terserak di berbagai tempat di Papua
membayangi perjalanan sejarah Papua. sebagai “internally displaced persons”,
“Forced migration” migration juga terjadi sementara sisanya yang lain menjadi
akibat apa yang disebut sebagai Operasi pengungsi (refugees) karena melintasi
Koteka, sebuah program yang dilakukan batas wilayah negara dan menyeberang
militer sejak tahun 1970an bertujuan untuk ke PNG. Berdasarkan wawancara yang
mengajarkan berbagai cara hidup yang dilakukan terhadap para pengungsi ini,
baru, karena cara hidup Orang Papua, Diana Glazebook menunjukkan bahwa
terutama di wilayah pegunungan, dianggap penyebab “forced migration” ini tidak
masih terbelakang. Eksodus keluar Papua, hanya operasi militer yang dilakukan oleh
sebagai bentuk “forced migration” paling tentara Indonesia, namun juga ancaman
banyak berupa “international cross border dan intimidasi dari OPM yang dialami oleh
migration” ke PNG. Orang Muyu, agar mereka meninggalkan
Diana Glazebrook (2008) dusunnya.
menggambarkan dengan menarik Selain gelombang pengungsi yang
bagaimana para pengungsi dari Papua diakibatkan oleh kerapnya dilakukan operasi
yang menyeberang ke wilayah PNG, militer oleh tentara Indonesia, gelombang
dan ditampung di East Awin, dibawah pengungsi juga terjadi akibat serangan
pengawasan UNHCR. Sebagian besar balik yang dilakukan oleh OPM yang
pengunsi itu adalah Orang Muyu, yang menimbulkan ketakutan pada komuntas-
desa asalnya tidak jauh dari perbatasan komunitas migran yang berasal dari luar

49
Papua. Peristiwa Wamena yang belum lama Penutup: Masa Depan Yang Tak
ini terjadi memperlihatkan dengan jelas Terbayangkan
bagaimana para migran, sebagian besar Migrasi di Papua tidak mungkin
yang berasal dari Jawa, memilih untuk dilepaskan dari aspek etnisitas, termasuk
meninggalkan Wamena dan kembali ke Jawa didalamnya aspek agama. Keadaan ini
karena tidak adanya jaminan keamanan antara lain disebabkan oleh konstruksi
terhadap diri mereka jika masih tinggal di etnisitas yang ada di kalangan penduduk
Wamena. Eksodus para migran, kebanyakan setempat di Papua sendiri, yang karena
dari Jawa, terutama dari Wamena, kembali situasi geografis dan interaksi diantara
ke Jawa, kebanyakan ke Jawa Timur; penduduknya mendorong terbentuknya
merupakan dampak dari kerusuhan yang kelompok-kelompok yang memiliki
meluas di kota-kota di Papua, awalnya identitas sosial dan kebudayaan tertentu.
sebagai protes terhadap perlakuan yang Berkelindannya etnisitas dan agama di
dianggap rasialis terhadap mahasiswa Papua Papua menjadikan migrasi sebagai bagian
yang tinggal di Jawa, terutama Surabaya, penting dalam dinamika politik dan
akibat anggapan bahwa para mahasiswa ekonomi yang berlangsung di Papua.9
Papua ini telah melakukan perbuatan yang Sebagai sebuah wilayah yang paling akhir
anti Indonesia, menjelang peringatan hari terintegrasi kedalam Republik Indonesia,
kemeredekaan RI 17 Agustus 2019. Protes Papua menyisakan persoalan hasil proses
berupa aksi pembakaran gedung DPR dekolonisasi yang belum tuntas. Adanya
dan perkantoran serta perusakan bandara gerakan yang sejak awal ingin menjadikan
sebagai reaksi terhadap perlakuan yang Papua sebagai negara yang berdiri sendiri
dinilai rasialis ini dimulai pada tanggal 19 terlepas dari Belanda maupun Indonesia,
Agustus di Manokwari, 19-20 Agustus 2019 menjadi masalah tersendiri ketika
di Sorong, 20 Agustus 2019 di Fak-Fak, 21 dibawah pemerintahan Indonesia keadaan
Agustus 2019 di Timika, dan 28 Agustus kesejahteraan sebagian besar Orang Papua
2019 di Deiyei dan Jayapura. Hampir ternyata masih rendah. Operasi militer untuk
sebulan setelah rangkaian kerusuhan ini, menunpas perlawanan bersenjata dari OPM
kerusuhan merebak di Wamena, diawali terbukti menimbulkan gelombang migrasi
oleh salah paham yang sepele antara guru terpaksa (forced migration) dari Orang
dan murid pada tanggal 18 September 2019, Papua, sebagian di Papua sendiri sebagian
memuncak menjadi amuk masa, intimidasi lainnya ke luar negeri terutama ke Papua
dan serangan terhadap warga pendatang New Guinea.
oleh orang-orang sejauh ini belum berhasil Sebagai sebuah wilayah yang
diidentifikasi secara jelas, dugaan pihak memiliki potensi ekonomi yang besar,
keamanan, kerusuhan ini dirancang oleh Papua memiliki daya tarik tersendiri bagi
OPM, bahkan mereka yang berada di luar para migran yang memutuskan mencari
negeri, seperti Benny Wenda yang sekarang penghidupan yang lebih baik di Papua.
bermukim di Inggris. Dampak dari Selain para pendatang yang masuk ke
kerusuhan Wamena ini lebih dari 30 orang Papua atas inisiatif sendiri, pemerintah juga
tewas, dan lebih dari 10 ribu orang terpaksa
9 Kaitan antara migrasi, dan demografi pada umum-
mengungsi. nya, dengan politik, khususnya konflik, bisa dibaca di Tirtosu-
darmo (2014).

50
Dinamika Pembangunan dan
Perubahan Sosial Papua pada Era Otonomi Khusus
EDISI 36 2021

memindahkan penduduk melalui program tidak jarang berkobar menjadi api yang
transmigrasi. Migrasi masuk yang tinggi sulit dikendalikan. Sejarah migrasi di Papua
menimbulkan adanya kekhawatiran dari pada akhirnya adalah sejarah interaksi
berbagai kalangan, terutama di luar negeri, antara penduduk dari berbagai latar
akan semakin tersingkirnya Orang Papua belakang, dan seperti kata Ben Anderson
sebagai penduduk minoritas di rumahnya (2001) yang dikutip dalam awal tulisan ini,
sendiri. Dalam situasi dimana kesenjangan What will come out of these migrations—what
sosial ekonomi antara pendatang dan Orang identities are being and will be produced—are
Asli Papua semakin meningkat; sementara hugely complex, and largely still unanswerable,
itu, residu proses dekolonisasi masih questions. Tapi, apapun yang akan terjadi di
melekat dengan kuat dalam bentuk gerakan masa yang akan datang, satu hal yang pasti
yang ingin menjadikan Papua negara adalah sebuah kenyataan bahwa migrasi
merdeka terlepas dari Indonesia maupun memiliki sumbangan yang penting dalam
Belanda, ketegangan dan konflik politik sejarah sosial dan politik di Papua.
tidak selalu dapat dihindarkan, bahkan

Daftar Pustaka

Ananta, et.al. 2016, “Statistics on Ethnic Diversity in the Land of Papua”, Asia and the Pacific
Policy Studies, Vol. 3, No. 3, pp. 458-474.

Anderson, Benedict, 2001, “Western Nationalism and Eastern Nationalism”, New Left Review,
9 (May-June).

Aspinall, Edward, 2006, “Selective outrage and acknowledged fantasies: re-thinking Papua,
Indonesia and Australia”. Australian Policy Forum, 06-15, May.

Elmslie, Jim (2007) “West Papua: Genocide, Demographic Change, the Issue of ‘Intent’, and
the Australia-Indonesia Security Treaty”, Indonesian Solidarity and the West Paper
Project conference: West Papua: Paths to Justice and Prosperity. Sydney University,
August 9-10, 2007.

Glazebrook, Diana, 2008, Permissive Residence: West Papuans Refugese Living in Papua New
Guinea, , Monograph in Anthropological series, ANU E-Press, 2008.

Koentjaraningrat (ed.), 1994, Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: Penerbit
Jambatan.

Nolan, Cillian, Sydney Jones and Solahudin, 2014, “The political impact of carving up
Papua”, in Hal Hill (ed.) Regional Dynamics in a decentralized Indonesia, pp. 409-432. Singapore
ISEAS.

51
Suryawan, I Ngurah, 2015, “Siasat Elit Mencuri Kauasa Negara di Kabupaten
Manokwari Selatan Provinsi Papua Barat”, Tesis Doktor di Jurusan Antropologi,
Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Tirtosudarmo, Riwanto, 2013, “Boven Digoel dan Migrasi Politik Kaum


Nasionalis, 1920-1950”, dalam Soewarsono dkk, Jejak Kebangsaan: Kaum Nasionalis
di Manokwari dan Boven Digoel, hal. 199-220. Jakarta: Penerbit Obor.

Tirtosudarmo, Riwanto, 2014, “The political demography of conflicts in Papua”,


The Jakarta Post, 10 February.

Tirtosudarmo, Riwanto, 2018, The Politics of Migration: Indonesia and Beyond.


Singapore: Springer and LIPI Press.

Upton, Stuart, 2009, “The Impact of migration on the people of Papua. Indonesia:
A historical demographic analysis”. Unpublished PhD thesis, Department of
History and Philosophy, University of New South Wales.

Wing, John and Peter King, 2006, Genocide in West Papua? : The role of the Indonesian
state apparatus and a current needs assessment of the Papuan people. West Papua
Project, Centre for Peace and Conflict Studies, University of Sydney.

52
BIOGRAFI
PENULIS

Dr. Avelinus Lefaan


Dosen Program Studi Ilmu Sosial Pascasarjana n
Universitas Cenderawasih Jayapura

Dr. Costantein Ansanay


Mantan Kejaksaan Tinggi Samarinda, alumnus Ilmu
Sosial Pascasarjana Universitas Cenderawasih,
sekarang Pengurus YPPK dan tinggal di Jayapura

Dr. Yohanes Kore, OFM


Pastor di Keuskupan Agats-Asmat Papua,
memperoleh gelar Doktor Ilmu Sosial pada Program
Pascasarjana Universitas Cenderawasih

Riwanto Tirtosudarmo
Peneliti Senior di Pusat Penelitian Masyarakat dan
Budaya LIPI, serta Peneliti Sosial Independent