Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No.

2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108

PENGARUH PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATIONS TERHADAP


KUALITAS TIDUR DAN KADAR GLUKOSA DARAH DI DESA
HULU KECAMATAN PANCUR BATU KABUPATEN DELI
SERDANG
Magda Siringo-ringo1, Imelda Sirait2, Lindawati Simorangkir3
1
Program Studi D3 Keperawatan, STIKes Santa Elisabet Medan
2,3
Program Studi Ners, STIKes Santa Elisabet Medan
Email : magda_siringoringo@yahoo.com, 2imeldasirrait16@gmail.com,
1
3
lindasimorangkir79@gmail.com

ABSTRAK
Diabetes melitus mengakibatkan mekanisme pengontrolan kadar glukosa dalam tubuh relative. Apabila
tidak terkontrol, menimbulkan potensial komplikasi yaitu hiperglikemia. Hiperglikemia kondisi dapat
ditemukan pada pasien diabetes mengalami kecemasan, strees hebat berkepanjangan dan kurang
aktifitas/exercise sehingga berdampak kualitas tidur tidak adekuat, akhirnya menimbulkan meningkatkan
kadar glukosa darah setiap sistem tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh
progressive muscle relaxations terhadap kualitas tidur dan penurunana kadar glukosa darah. Metode
pendekatan kuantitatif dan nonquivalent control group design, sampel dalam penelitian berjumlah 32
masyarakat yang mengalami diabetes. Analisis data dengan uji statistik Wilcoxon Sign Range Test dan
Mann Whitney U. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh Progresive Muscle Relaxation
dengan peningkatan kualitas tidur yang sangat signifikan dimana perbedaan intervensi pertama (1) pada
diabetes p=0.695(<0.05), dan kelompok intervensi kedua (2) p=0.00(p<0.05), dan adanya pengaruh
yang sangat signifikan. Progresive Muscle Relaxation terhadap penurunan glukosa darah dengan
perbedaan sebelum dan setelah intervensi pertama (1) pada diabetes p=0.627 (p>0.05), dengan
intervensi kelompok kedua (2) diabetes p=0.00 (p<0.05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
progressive muscle relaxation sangat efektif dalam mempertahankan kadar gula darah dan meningkatkan
kualitas tidur penderita diabetes. Estimasi ataupun referensi bagi petugas pelayanan kesehatan agar
dapat memberikan terapi non farmakologik pada kasus-kasus diabetes melitus. Saran kepada pasien
diabetes upanya selalu aktif melakukanan relaksasi otot progresive (Progresive Muscle Relaxation)
secara teratu dan terukur setiap hari, dalam mengurangi ketenganan otot, kecemasan strees
menstabilkan kadar glukosa darah serta meningkatkan kualitas tidur dalam pilar mengendalikan
komplikasi diabetes.

Kata Kunci: Relaksasi Otot Progresif, Kualitas Tidur, Kadar Glukosa Darah, Diabetes.

ABSTRACT
Diabetes mellitus results in a mechanism for controlling glucose levels in the body relative. If not
controlled, it can lead to potential complications, namely hyperglycemia. Hyperglycemia conditions can
be found in diabetic patients experiencing anxiety, prolonged severe stress and lack of activity / exercise
so that it affects inadequate sleep quality, eventually causing increased blood glucose levels in every body
system. The purpose of this study was to identify the effect of progressive muscle relaxations on sleep
quality and decrease in blood glucose levels. Methods of quantitative approach and nonquivalent control
group design, the sample in this study amounted to 32 people with diabetes. Data analysis with statistical
test Wilcoxon Sign Range Test and Mann Whitney U. The results of this study indicate the effect of
Progressive Muscle Relaxation with a very significant increase in sleep quality where the difference in
the first intervention (1) in diabetes p = 0.695 (<0.05), and the intervention group second (2) p=0.00
(p<0.05), and there is a very significant effect. Progressive Muscle Relaxation on decreasing blood
glucose with differences before and after the first intervention (1) in diabetes p=0.627 (p>0.05), with the
second group intervention (2) diabetes p=0.00 (p<0.05) Conclusions; The results of this study indicate
that Progressive muscle relaxation is very effective in maintaining blood sugar levels and improving
sleep quality for diabetic patients. An estimate or reference for health care workers in order to provide
non-pharmacological therapy in cases of erupting diabetes. Suggestions to diabetic patients are to always
actively perform progressive muscle relaxation (Progressive Muscle Relaxation) regularly and
measurably every day, in reducing muscle tension, stress anxiety, stabilizing blood glucose levels and
improving sleep quality in the pillars of controlling diabetes complications.
Keywords: Progressive Muscle Relaxation, Sleep Quality, Blood Glucose Levels, Diabetes.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 170
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
1. PENDAHULUAN 2010); Bowden, et. all, 2012), dan
Diabetes tipe 2 adalah kondisi di mana menurunkan kadar glukosa darah, tekanan
kadar gula dalam darah melebihi nilai darah pada pasien diabetes melitus dan
normal. Kadar glukosa darah yang tinggi hipertensi. Relaksasi otot menyeluruh bekerja
disebabkan tubuh tidak menggunakan dengan pengaturan hormon kortisol dan
hormon insulin secara normal. Hormon hormon stres lainnya. Menurut (National
insulinmembantu glukosa masuk ke dalam sel Safety Council, 2004), posisi berbaring
tubuh untuk diubah menjadi energi. Diabetes memungkinkan gravitasi untuk mendukung.
relative mengakibatkan potensial komplikasi Posisi duduk memiliki keuntungan lebih
hiperglikemia yang disebabkan kenaikan praktis, mudah ekonomis, tak membutuhkan
penurunan insulin atau resisten insulin yang perlengkapan secara khusus serta dapat
diproduksi pankreasi. Data diabetes di dilakukan kapan, dimana saja.
Amerika Serikat berkisar 8,3% Cina 3,9%, Berdasarkan latar belakang diatas dalam
Indonesia berada menduduki ranking ke 4 meningkatnya komplikasi diabetes upaya
terbesar di dunia. Penyandang diabetes mengendalikan pengelolaan empat pilar yaitu
melitus pada tahun 2014 berjumlah 387 juta edukasi, pola makan,
sebanyak (8,3%) dan diperkirakan akan olahraga/exercise/aktifitas fisik/pergerakan
meningkat menjadi 592 juta tahun 2035 tubuh dan farmokologik dalam menstabilitasi
(International Diabetes Federation (IDF, kadar glukosa darah, maka dalam penelitian
2006 dalam Soegondo, et al., 2009). tertarik untuk menerapkan pilar
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Deli olahraga/exercise Progressive muscle
Serdang Propinsi Sumatera Utara Medan, relaxation pada diabetes di Desa Hulu
kunjungan pasien diabetes melitus sebayank Kecamatan Pancur Batu.
13.459 kunjungan penyait tidak menular
diabetes melitus dan hipertensi tahun 2018, 2. METODE
sedangkan kunjungan pemeriksaan kesehatan Penelitian ini menggunakan metode
kontrol gula darah ke Puskesmas Pancur Batu quasi eksperimen pre dan post pada pasien
terdiagnosis diabetes melitus berkisar diabetes yang berjumlah 32 penderita
(4,71%.) penyakit tidak menular dengan diabetes. Sampel yang digunakan dalam
urutan peringkat kedua. penelitian yaitu menggunakan teknik
Glukosa adalah karbohidrat yang paling consecutive sampling. Pengumpulan data
sederhana diserap ke dalam cairan darah menggunakan pendekatan observatif
melalui sistem pencernaan. Pengendalian intervensi relaxation progressive muscle pada
mencegah potensial komplikasi diabetes diabetes, menggunakan lembar observasi
sangat diperlukan strategi pengelolaan standar operasional prosedur terdiri dari 15
pengontrolan kadar glukosa darah dalam gerakan yang dilakukan untuk mengamati
tubuh melaksanakan empat pilar yaitu, pelaksanaan Progressive muscle relaxation
edukasi, pola makan, olahraga (PMR) setiap 3 kali dalam 1 minggu yaitu
/exercise/aktifitas fisik dan farmakologik. dengan membuat tanda checliks pada kolom
Pengontrolan kadar glukosa darah dalam “ya: jika teknik Progressive Muscle
tubuh terdapat beberapa teknik yaitu; Relaxation (PMR) responden dengan duduk
relaksasi otot progresif (Progresive Muscle di kursi, pakaian yang longgar, lingkungan
Relaxation) nafas dalam, relaksasi autogenik, yang aman dan stopwatch.
Benson (Moyad & Hawks, 2009). Tehnik Pengukuran kadar glukosa darah Pre dan
relaksasi dapat dilakukan dengan gerakan dan Post Intervensi dilaksanakan dengan
instruksi yang lebih sederhana, yaitu dengan menggunakan glukometer data kadar gula
posisi berbaring, duduk dikursi dan duduk darah responden menunjukkan 80-144 mg/dl
bersandar yang memungkinkan klien dapat tergolong nornal, skala (149-179 mg/dl)
melakukannya dimana saja tanpa menyita sedang dan skala (≥ 180 mg/dl) kadar glukosa
banyak waktu adalah relaksasi autogenik darah dalam keadaan buruk. Pengukuran
(Greenberg, 2012). kualitas tidur Pre dan Post Intervensi
Penelitian tentang relaksasi autogenik dilaksanakan dengan menggunakan sleeping
dapat menurunkan kecemasan dalam masalah index atau Pittsburgh Sleep Quality Index
tidur dan penurunan kecemasan pada (PSQI) data diabetes menggunakan skala 1-7
mahasiswa keperawatan (Kanjia, et al., atau ≤ 5 menyatakan bahwa kualitas tidur

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 171
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
istirahat penderita diabetes melitus dalam secara univariat dan bivariat menggunakan
keadaan baik, dan skala (≥ 5–21) menyatakan uji statistik Wilcoxon Sign Range Test dan
kualitas tidur istirahat buruk. Analisis data Mann Whitney U.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Diabetes Melitus di Desa Hulu Kecamatan Pancur Batu
Kabupaten Deli Serdang
Karakteristik Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol
Jumlah (f) Persentase (%) Jumlah (f) Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki-Laki 9 28,1 12 37,5
Perempuan 23 71,9 20 62,5
Jumlah 32 100,0 32,0 100,0
Umur (thn)
<50 5 15.6 2 6,3
51-60 16 50.0 16 50,0
>61 11 34.4 14 43,7
Jumlah 32,0 100.0 32.0 100,0
Pendidikan
SD - - 2 6,3
SMP 12 37,5 16 50,0
SMA 14 43,8 14 43,7
PT 6 18,8 - -
Jumlah 32,0 100,0 32 100,0
Pekerja
Tak Kerja - - 7 21,9
Buruh 12 37,5 14 43,7
Wiraswasta 14 43,8 1 3,1
PNS/Pensiun 6 18,8 10 21,9
Jumlah 32,0 100,0 32,0 100,0
Penghasilan Juta/bln
1-3 4 12,5 13 40,6
4-5 10 31,3 6 18,8
>5 18 56,3 13 40,6
Jumlah 32,0 100,0 32,0 100,0
Status
Tidak 3 9,4 - -
Menikah 26 81,3 30 93,8
Janda 3 9,4 2 6,3
Jumlah 32,0 100,0 32,0 100,0
Lama
1- 10 19 59,7 17 53,1
11-20 12 37,5 15 46,9
>21 1 3,1
Jumlah 32,0 100.0 32,0 100,0
Sumber: Data Desa Hulu, 2019
Tabel diatas menunjukkan status wiraswasta sebesar 14 orang (43,7%) baik
mayoritas (93%) menikah kelompok kontrol kelompok perlakuan dan kontrol, dengan
(81,3%). Jenis kelamin perempuan kelompok demikian dari segi penghasilan sebagian
perlakuan (71,9%) sedangkan kontrol sebesar besar lebih lima juta perbulan kelompok
(62,5%). Umur antara kelompok perlakuan perlakuan 18 orang (56,7%) dan kontrol 13
dan kontrol berkisar 51-60 tahun sebesar orang (40,6%), lama menderita penyakit
(50,0%), Pendidikan kelompok kontrol diabetes melitus berkisar 1-10 tahun
lulusan SMP, perlakuan 6 orang perguruan kelompok perlakuan 19 orang (59,7%),
tinggi (18,8%), pekerjaan sebagian besar kontrol 17 orang (53,1%).

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 172
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
Tabel 2. Distribusi Progressive Muscle Relaxation/PMR Terhadap Kualitas Tidur Diabetes Di
Desa Hulu Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang
Kualitas Tidur Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol
Pre Post Pre Post Intervensi
f % f % f % f %
SB 0 0 6 18,7 4 12,6 6 18,7
CB 18 56,2 26 81,3 27 84,3 26 81,3
CB 14 43,8 1 3,1
SB
Jlh 32 100 32 100 32 100 32 100
Wilcoxon Signed P=0,000 P=0,408
rank Test
Menney Whitnney P=0,000
Sumber: Data Desa Hulu, 2019
Tabel diatas bahwa perbedaan hasil signifikan. Dari data tersebut diatas pada
antara pre-test dan post-test dari setiap kelompok perlakuan terjadi peningkatan
masing-masing kelompok. Hasilnya adalah kualitas tidur pada diabetes sebelum dan
ada peningkatan kualitas tidur yang dapat sesudah dilakakukanya tindakan latihan
dilihat dengan uji statistik Wilxocon Signed progresive otot relaksasi pada diabetes. Hasil
Rank Test sangat signifikan nilai p=0,000, uji Mann Whitnney Test dalam mengetahui
dengan demikian bahwa dilakukannya perbedaan score kualitas tidur antara
tindakan relaksasi otot progresif adanya kelompok perlakuan dan kontrol setelah
peningkatan kualitas tidur pada kelompok dilaksanakannya progresive otot relaksasi
perlakuan, hal ini ditunjukan dengan nilai pada diabetes, hal ini, dapat ditunjukan
p=0,000, sedangkan kelompok kontrol dengan nilai p=0,000, berarti adanya
ditemukan ditemukan nilai p=0,408 sehingga perbedaan skore paling signifikan antara
tidak terjadi peningkatan kualitas tidur tidak kelompok kontrol dengan perlakuan.

Tabel 3. Distribusi Progressive Muscle Relaxation/PMR Terhadap Kadar Glukosa Darah


Sewaktu Pada Diabetes Di Desa Hulu Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang
Kadar Glukosa Darah Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol
Sewaktu Pre Post Pre Post
f % f % f % F %
Baik 15 46,8 10 31,2 0 0 2 6,2
Sedang 17 53,2 22 68,8 28 87,5 21 65,6
Buruk - - - - 4 12,5 8 25
Jlh 32 100 32 100 32 100 32 100
Wilcoxon Signed rank Test P=0,000 P=0,695
Menney Whitnney P=0.000
Sumber: Data Desa Hulu, 2019
Tabel diatas menunjukan bahwa kadar glukosa darah sewaktu tidak signifikan
mengalami perbedaan hasil antara pre-test dari data tersebut diatas pada kelompok
dan post-test dari setiap masing-masing perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa
kelompok.hasil pre-test dan post-tes darah pada diabetes sebelum dan sesudah
perlakuan serta kelompok kontrol dilakakukanya tindakan latihan progresive
menunjukkan terjadi penurunan kadar gula otot relaksasi pada diabetes. Hasil uji Mann
darah sewaktu yang dapat dilihat uji statistik Whitnney Test dalam mengetahui perbedaan
Wilxocon Signed Rank Test signifikan score kualitas tidur antara kelompok
p=0,000, adanya kestabilan penurunan kadar perlakuan dan kontrol setelah
gulukosa darah pada kelompok perlakuan, hal dilaksanakannya progresive otot relaksasi
ini ditunjukan dengan nilai p=0,000, pada diabetes, hal ini, dapat ditunjukan
sedangkan kelompok kontrol dilakukan uji dengan nilai p=0.000 yang berarti adanya
statistik dengan Paired T–test didapatkan perbedaan score paling signifikan antara
p=0,679 sehingga tidak terjadi penurunan kelompok kontrol dengan perlakuan.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 173
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
Tabel 4. Hasil Kadar Glukosa Darah Sebelum dan Setelah Progresive Otot Relaksasi Pada
Diabetes di Desa Hulu Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang
Variabel (n) Statistik Mean Median SD Min Max
Kadar Gula Pre 32 136,50 274,7 138,5 155,42 114 164
Darah I Post 32 140,84 169,4 150,2 155,42 114 174
Kadar Gula Pre 32 136,50 274,7 138,07 155,42 114 168
Darah II Post 32 140,84 265,4 139,50 150,12 115 174
Sumber: Data Desa Hulu, 2019
Tabel 4 diatas menunjukkan rerata tertinggi 174 mg/dl. Sedangkan intervensi
kadar gulukosa darah diabetes sebelum yang ketiga terhadap relaksasi otot progresive
intervensi relaksasi otot progresive kelompok penurunan kadar darah sewaktu dengan rerata
pertama 174,7 mg/dl dengan stadar deviasi terendah 114 mg/dl dan nilai tertinggi 174
155,42 mg/dl. Dengan demikian dengan nilai mg/dl. Sedangkan intervensi yang ketiga
terendah 114 mg/dl dan nilai tertinggi 174 terhadap relaksasi otot. Hasil analisis uji
mg/dl. Sedangkan nilai rerata intervensi normalitas data kadar glukosa darah sebelum
kedua kadar gula darah penurunan kadar dan setelah relaksasi otot progresive
glukosa darah sewaktu pada diabetes setelah kelompok perlakuan satu dan dua Uji
dilaksanakan relaksasi otot progresive 265,4 normalitas data dilakukan dengan uji Shapiro
mg/dl dengan standar deviasi 150,12 mg/dl Wilk.
dengan nilai terendah 114 mg/dl dan nilai

Tabel 5. Hasil Normalitas Kadar Glukosa Darah Diabetes Sebelum Setelah Relaksasi Otot
Progresive di Desa Hulu Kecasmatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang
Kel pk Statistik df Shapiro-Wilk Statistik Kolmogoro-Smirnov
Sig Sig
Pre 1 0.1230.124 32 .502 0.154 0.031
Post 1 32 592 0.152 0.032
Pre II 0.121 32 .402 0.238 0.00
Post II 0.135 32 135 0.122 0.20
Sumber: Data Desa Hulu, 2019
Tabel 5 diatas menunjukkan dapat
bahwa setelah dilakukan uji normalitas 3.2 Pembahasan
Shpiro-Wilk pada kadar glukosa darah 1. Pengaruh Relaksasi Otot Progresive
sewaktu diabetes pada tahap pertama terhadap Kualitas Tidur Diabetes di Desa
diperoleh nilai p= 0,502 (p>0,05), berarti Hulu Kecamatan Pancur Batu
kadar glukosa darah diabetes intervensi tahap Penelitian menunjukkan pengaruh
pertama ini berdistribusi normal. Hal serupa relaksasi otot progresive terhadap kualitas
dengan kadar gula darah diabetes setalah tidur pada diabetes sangat signifikan dengan
intervensi relaksasi otot progresive fase ke penerapan, relaksasi otot progresive
dua dengan nilai p=0,402 (p>0,05) dan tahap mengendalikan masalah komplikasi pada
intervensi ketiga p=0,135 (p= >0,05), dengan diabetes yaitu gangguan tidur (insomnia),
analisis kesimpulan uji statistik Shapiro-Wilk dimana teknik latihan mengarah kangerakan
berdistibusi normal kadar glukosa darah mengencangkan dan melemaskan bagian
diabetes uji Kolmogorov-Smirnovhasil sistem otot tubuh dimana efektifitasnya
intervensi pertama p=0,031, tahap kedua memberikan perasaan rileks progresive.
p=0,000 dan tahap ketiga p=0,020. Berarti Gerakan yang mengencangkan melemaskan
adanya perbedaan skore paling signifikan metode Continous, Intensitas, Durasi,
antara kelompok perlakuan secara bertahap Rhytmical. Frequency Progresif, Endurance
dengan tindakan relaksasi otot progresive (CIDRFEP) durasi 15-30 menit dalam waktu
penurunan kadar glukosa darah sewaktu 3 kali perminggu selama sebulan pada
diabetes meletus. diabetes meletus mengalami gangguan tidur
diabetes.
Pada saat melaksanakan relaksasi otot
progresive prosedur salah satu persiapan yang
dibutuhkan adanya kepercayaan, perasaan,

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 174
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
pikiran yang diarahkan dalam intervensi akhir pemeriksaan menunjukkan
membandingkan bagaimana perasaan yang terendah 114 mg/dl. Sedangkan dalam
dialami saat waktu kelompok sistem otot penelitian ini, dengan wawancara pada
tubuh dikencangkan dilemaskan kondisi responden bahwa kualitas tidur terganggu
tegang (Malassiolis, et.al. 2002, Smiltzer et.al dampaknya dalam pelaksanaan relaksasi otot
2013 dalam Nawa dan Kusnanto Utami, yang akan dilaksanakan pagi sore dengan
2018). Dalam penelitian ini penderita pendampingan tim peneliti pikiran,
diabetes ditemukan bahwa rerata kualitas kecemasan. Faktor penyebab kualitas tidur
tidur yang sangat buruk yang sering disebut antara lain strees, kecemasan, kondisi fisik
insomnia. Seorang pasien yang tidurnya dan gaya hidup. Hal ini sesuai dengan
kurang dapat menyebabkan beberapa penelitian yang dilakukan (Sohat, 2014). Hal
gangguan pada respon imun, endokrin dan serupa penelitian sebagai faktor kualitas tidur
fungsi kardiovaskuler (Erlina E., Haroen, H., penderita diabetes salah satu faktor
Susanti, RD., 2012 dalam Gay, 2010 & Caple psikologis, gangguan medis umum, gaya
& Grose,2 011). hidup, faktor lingkungan fisik dan faktor
Hal sama juga penelitian (Purnanto, lingkungan sosial.
2009) rerata pasien diabetes insomia. Sebagai Dari hasil wawancara reponden juga
faktor pencetus pemicu kualitas tidur tidak mengatakan bahwa mereka sulit memulai
cukup baik bagi penderita diabetes dimana tidur dan sering terbangun dimalam hari dan
sebagai gejala tanda klasik diabetes salah satu sulit untuk tidur kembali, meskipun tertidur
nucturia merupakan kontribusi insiden kembali harus menunggu beberapa menit atau
insomnia pada malam hari, meskipun masih beberapa jam. Pada penderita diabetes juga
ada faktor pencetus lain yang berhubungan terjadi perubahan pada irama sirkardian tidur
dengan gangguan hormonal seperti normal yaitu penurunan kualitas tidur
peningkatan kosticostiroid dalam tubuh. dikarenakan adanya efek dari terapi relaksasi
Sebagian pengidap diabetes mellitus akan otot progresif. Hal tersebut sesuai dengan
mengalami gangguan tidur di malam hari. teori (Ramdhani, 2006) dalam Triyanto,
Dalam penelitian ini menunjukkan rerata 2014) bahwa teknik relaksasi semakin sering
kadar gulukosa darah diabetes sebelum dilakukan terbukti efektif mengurangi
intervensi relaksasi otot progresive kelompok ketegangan, depressi, strees, kecemasan
pertama 174.7 mg/dl dengan stadar deviasi dengan intervensi pada kualitas tidur yang
155.42 mg/dl. Dengan demikian dengan nilai menurun pada penderita diabetes. Hal itu juga
terendah 114 mg/dl dan nilai tertinggi 174 sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
mg/dl. Sedangkan nilai rerata intervensi (Greenberg, 2002) yang dikutip Mashudi,
kedua kadar gula darah penurunan kadar gula 2012) mengatakan relaksasi otot-otot
darah sewaktu pada diabetes setelah progresive akan memberikan hasil setelah
dilaksanakan relaksasi otot progresive 265.4 dilakukan sebanyak dua kali setiap hari pagi
mg/dl dengan standar deviasi 150.12 mg/dl sore secara terus menerus dan teratur Latihan
dengan nilai terendah 114 mg/dl dan nilai mandiri berkelompok menunjukkan
tertinggi 174 mg/dl, Sedangkan intervensi efektifitas yang tinggi bukan sementara saja
yang ketiga terhadap relaksasi otot progresive harus berlangsung selama siklus kehidupan.
penurunan kadar darah sewaktu dengan rerata (Soewondo, 2012) menyebutkan
terendah 114 mg/dl dan nilai tertinggi 174 relaksasi otot progresive rangka menjemen
mg/dl, Sedangkan intervensi yang ketiga pengelolaan dalam intervensi terhadap
terhadap relaksasi otot. penderita diabetes yang mengalami gejala
Hal sama dengan penelitian ini bahwa strees, kecemasan ketegangan kualitas tidur
diabetes, ketiga hal tersebut dapat disebabkan kurang sangat buruk (Bernstein, Borkovek &
oleh kadar gula darah yang terlalu tinggi atau Hazlett-Stevens, 2000) dalam (Soewondo.
terlalu rendah. Perubahan tidur yang dapat 2012) mengemukakan bahwa latihan
dialami penderita diabetes nucturia, relaksasi otot progresive terutama adalah
hipoglikemia nokturia, sindrom kaki, untuk penderita diabetes yang mengalami
kegelisahan/kecemasan, neuropati perifer dan ketegangan otot tinggi. Merupakan indikasi
sleep apnea (Surani,et, al, 2015). Yang absolut pada diabetes tingkat ketegangan
dikaitkan dengan penelitian ini bahwa hasil tinggi yang berdampak mengganggu kinerja
kadar gula darah terendah kelompok dan perilaku lain dampak kualitas tidur

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 175
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
sangat buruk yang disebabkan ketegangan pengaruh yang signifikan Progressive Muscle
otot dan pikiran kacau. Menurut (Davis, Relaxation terhadap kadar glukosa darah
2010) dalam Purwaningtyas & Pratiwi (2010) pada pasien. Penelitian ini juga menunjukkan
mengemukakan dimana latihan relaksasi adanya penurunan kadar gula darah diabetes
progresif teknik terbukti program terapi sebelum setelah intervensi rerata intervensi
ketegangan otot mampu mengatasi keluhan pertama 274,7 mg/dl setelah intervensi 165,4
ansietas, insomnia, kelelahan, kram otot, mg/dl. Perbedaannya skore antara sebelum
nyeri leher dan pinggang, tekanan darah setelah kolompok intervensi membandingkan
tinggi, fobi ringan dan gagap. relaksasi otot progresive dengan kelompok
kontrol.
2. Pengaruh Relaksasi Otot Progresive Dari hasil penelitian (Mashudi, 2011)
terhadap Kadar Glukosa Darah Pada jelas bahwa relaksasi otot progresive dapat
Diabetes di Desa Hulu Kecamatan Pancur menurunkan kadar glukosa darah diabetes
Batu dengan memunculkan kondisi rileks. Pada
Kadar glukosa darah merupakan kondisi ini terjadi perubahan impuls saraf
sejumlah glukosa terdapat pada plasma darah pada jalur aferen ke otak dimana aktivasi
(Dorlan, 2010). Pemantauan kadar glukosa manjadi inhibisi. (Yildirim & Fadiloglu,
darah secara primer dibutuhkan dalam 2016) dari hasil penelitiannya menyebutkan
menentukan diagnosis penyakit diabetes bahwa relaksasi otot progresive menurunkan
melitus, hasil pemeriksaan kadar glukosa kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup
darah sewaktu > 200 mg/dl sedangkan kadar pada diabetes yang menjalani dialisis.
glukosa darah puasa >126 mg/dl (Waspadji, Penelitian yang dilakukan oleh (Sheu, et al,
2013). Konsumsi karbohidrat terlalu banyak 2013) memperlihatkan bahwa PMR
terutama makanan yang mengandung menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik
karbohidrat sederhana dapat meningkatkan dan diastolik pada pasien hipertensi di
kadar glukosa dalam darah. Kadar gula darah Taiwan. Penelitian (Maryani, 2008),
responden sebelum dan sesudah relaksasi otot menyebutkan relaksasi otot progresive
progresif. Hasil penelitian ini diketahui mengurangi kecemasan yang berimplikasi
bahwa kadar gula darah sebelum latihan pada penurunan mual dan muntah pada
relaksasi otot progresif didapatkan nilai rata- pasien yang menjalani kemoterapi. Haryati
rata 274,7 mg/dL, dan sesudah melakukan (2009), menyebutkan bahwa relaksasi otot
relaksasi otot progresif didapatkan penurunan progresive meningkatkan status fungsional
kadar gula darah dengan nilai rata-rata pasien kanker dengan kemoterapi di RS. Dr
sebesar 265.4 mg/dl. Wahidin Sudirohusodo. Selanjutnya relaksasi
Menurut (Junaidin, dalam Ayu Henny, otot progresif efektif menurunkan tekanan
2018) di Puskesmas Woha mendapatkan darah pada pasien hipertensi primer di Kota
perbedaan rata-rata yang signifikan sebelum Malang (Hamarno, 2010). Dalam penelitian
dan setelah dilakukan latihan relaksasi otot ini responden melaporkan bahwa pada saat
progresif. Rata-rata kadar gula darah sebelum melakukan relaksasi otot progresive ada dua
latihan 238,40 mg/dl dan rata-rata setelah sensasi yang berbeda yaitu merasakan
latihan mengalami penurunan menjadi 125,68 ketegangan otot ketika bagian otot-otot
mg/dl dengan demikian ada penurunan kadar tubuhnya ditegangkan dan merasakan sesuatu
gula darah setelah dlaksanakan relaksasi otot yang rileks, nyaman, enak, dan santai ketika
progresif hal ini sebagai efektif terhadap otot-otot tubuh yang sebelumnya ditegangkan
tubuh rileks. Sistem parasimpatis merangsang tersebut direlaksasikan.
hipotalamus menurunkan sekresi Menurut penelitian (Setyoadi, 2011)
corticotrophin releasing hormone (CRH). teknik relaksasi otot progresif merupakan
Penurunan CRH akan mempengaruhi sekresi teknik relaksasi otot tidak memerlukan
adreno corticotropik hormone (ACTH). imajinasi, kekuatan, atau sugesti dan harus
Keadaan ini dapat menghambat korteks berdasarkan keyakinan bahwa tubuh manusia
adrenal untuk melepaskan hormon kortisol adanya warning kecemasan kejadian yang
penurunan/menghambat proses dirangsang pikiran menimbulkan ketegangan
gluconeogenesis sehingga meningkatkan otot. Teknik relaksasi otot progresif
pemakaian glukosa oleh sel, sehingga kadar memusatkan perhatian terhadap aktivitas otot
gula darah kembali dalam batas normal. Ada dalam melakukan teknik relaksasi untuk

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 176
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
mendapatkan perasaan relaks. Menurut anterior juga diinhibisi sehingga ACTH yang
(Sucipto, 2014) relaksasi otot progresif menyebabkan sekresi kortisol menurun
mengarahkan perhatian penderita diabetes sehingga proses glukoneogenesis,
dapat membedakan perasaan dialami saat katabolisme protein dan lemak yang berperan
kelompok otot dilemaskan. Relaksasi otot meningkat kadar gula darah menurun
progresif ini mengarahkan perhatian pasien (Sudoyo, et al, 2006).
untuk membedakan perasaan yang dialami Beberapa penelitian mengenai terapie
saat kelompok otot dilemaskan dan Relaksasi otot progresif/PMR, menunjukkan
dibandingkan dengan ketika otot dalam bahwa manfaat dalam mengatasi masalah
kondisi tenang, relaksasi otot progresif kesehatan antara lain; mengurangi ansietas
bermanfaat untuk menurunkan resistensi atau kecemasan dan berkurangnya kecemasan
perifer dan menaikkan elastisitas pembuluh ini akan mempengaruhi berbagai macam
darah. Maka ada pengaruh signifikan gejala psikologis dan kondisi medis.
Progressive Muscle Relaxation (PMR) Menurut (Yildirim & Fadiloglu, 2006)
terhadap kadar glukosa darah pada pasien bahwa hasil penelitiannya menyebutkan
diabetes. dimana terapi relaksasi otot progresif/PMR
Relaksasi otot progresif, sebagai pilar menurunkan kecemasan dan meningkatkan
pengelolaan nonfarmakologik yang dapat kualitas hidup pasien yang menjalani dialisis.
diberikan kepada pasien diabetes untuk Penelitian yang dilakukan (Ardia Putra,
meningkatkan relaksasi dan kemampuan 2014) memperlihatkan relaksasi otot
pengelolaan diri. Dimana mekanisme progresif PMR menurunkan rata-rata tekanan
Relaksasi otot progresif dalam menurunkan darah sistolik dan diastolik pada pasien
nilai kadar gula darah pada pasien diabetesi hipertensi di Taiwan. (Maryani, 2008),
erat kaitannya potensial komplikasi stres menyebutkan relaksasi otot progresif
yang dialami pasien baik fisik maupun mengurangi kecemasan yang berimplikasi
psikologis. Selama stres, hormone-hormon pada penurunan mual dan muntah pada
mengarah pada peningkatan kadar gula darah pasien yang menjalani kemoterapi. (Haryati,
seperti epineprin, kortisol, glukagon, ACTH, 2009), menyebutkan bahwa relaksasi otot
kortikosteroid, tiroid akan meningkat. Selain progresif meningkatkan status fungsional
itu dampak beberapa peristiwa kehidupan pasien kanker dengan kemoterapi di RS. Dr
yang penuh stres sehingga akan mengganggu Wahidin Sudirohusodo.
kualitas tidur dan juga dikaitkan perawatan Selanjutnya relaksasi otot progresif
diri yang buruk seperti pola makan, latihan efektif menurunkan tekanan darah pada
dan penggunaan obat-obatan (Smeltzer & pasien hipertensi primer di Kota Malang
Bare, 2008; Price & Wilson, 2010). Stres (Hamarno, 2010). Dalam penelitian ini
fisik maupun emosional mengaktifkan sistem responden melaporkan bahwa pada saat
neuroendokrin dan sistem saraf simpatis melakukan relaksasi otot progresif /PMR ada
melalui hipotalamus pituitari-adrenal (Price dua sensasi yang berbeda yaitu merasakan
& Wilson, 2006; Smeltzer, 2002; DiNardo, ketegangan otot ketika bagian otot-otot
2009). tubuhnya diteganggkan dan merasakan
Perbedaannya dengan penelitian ini sesuatu yang rileks, nyaman, enak dan santai
adalah, pada penelitian tersebut peneliti ketika otot-otot tubuh yang sebelumnya
membandingkan relaksasi otot progresif ditegangkan tersebut direlaksasikan.
dengan kelompok kontrol pada pasien Kemungkinan lain adalah kemampuan
diabetes untuk mengukur kadar gula darah, responden melaksanakan relaksasi otot
64 sampel dibagi dalam dua kelompok, progresif dengan tepat benar. Meskipun
kelompok intervensi diberikan latihan responden dapat melakukan semua prosedur
relaksasi otot progresif oleh peneliti selama atau langkah-langkah relaksasi otot progresif
dua kali sehari pagi sore selama selama 3 namun bila yang bersangkutan tidak mampu
minggu selama 15 meit. Hasilnya kelompok memusatkan pikiran dalam melaksanakan
intervensi relaksasi otot progresif relaksasi otot progresif menimbulkan
menunjukkan penurunan kadar gula darah efektifitas kurang membawa hasil yang
secara signifikan minggu pertama dan kedua maksimal, karena relaksasi otot progresif
nilai (p= 0,001), sedangkan kelompok kontrol merupakan salah satu bentuk mind-body
kadar gula darah nilai (p=0,507). Hipofisis therapy. Pengaruh relaksasi otot progresive

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 177
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
Jacobson terhadap kadar gula darah diabetes glukosa darah pada kelompok perlakuan fase
kelompok intervensi. minggu 2 menggunakan uji Paired-T-test
Hasil penelitian ditemukan bahwa rata- p=0.000 (p<0.05) adanya perbedaan
rata kadar gula darah penderita diabetes signifikan. Menurut (Smeltzer & Bare, 2008
sebelum dilakukan relaksasi otot progresive Sherwood, 2014) menyatakan bahwa
274,.7mg/dl dan setelah dilakukan Progresive mekanisme Progresive Mucsle Relaxation
Mucsle Relaxation menjadi nilai kadar gula dapat menurunkan kadar glukosa darah erat
darah sebesar 165,7 mg/dl. Dengan demikian kaitannya kualitas tidur dan istirahat yang
bahwa terdapat rata-rata penurunankadar gula dialami diabetes. Selama penderita diabetes
darah berkisar antara 43,50 mg/dl. Analisis mengalami insomnia hormon-hormon yang
selanjutnya dengan menggunakan uji Paired menimbulkan pada peningkatan kadar
T-test diperoleh nilai p=,0.003 yang artinya glukosa darah seperti epineprin kortisol,
ada perbedaan secara signifikan antara kadar glukogan, ACTH kortikosteroid semuanya
gula darah diabetes sebelum dan setelah hal ini akan meningkatkan konversi asam
dilaksanakan Progressive Muscle Relaxation. amino, laktat dan piruvat hati menjadi
Pengaruh Progressive Muscle Relaxation glukosa melalui proses glukoneogenesis,
terhadap terdapat penurunan kadar gula darah dengan demikian akan terjadi insomnia,dan
yaitu terjadi saat otot-otot bagian tubuh strees akan meningkatkan glukosa darah
sedang aktif walau kebutuhan otot akan (Smeltzer & Bare, 2008).
glukosa meningkat, tetapi tidak disertai Sistem saraf simpatis dan meningkatan
peningkatan insuline, ini dapat disebabkan akan membutuhkan energe, akan memicu
dimana meningkatnya osmolaritas reseptor sirkulasi darah ke otot-otot muscle skeletal,
insuline di otot dan akan bertambahnya meningkatkan detak jantung dan kadar
volume junlah reseptor insuline aktif waktu glukosa (Sherwood, 2013). Kortisol
melakukan aktifitas fisik, latihan/olahraga, memecahkan simpanan lemak, protein yang
dimana saat waktu beraktifitas fisik/latihan berbarengan memperbanyak simpanan
gerakan-gerakan otot bagian tubuh blood flow karbohidrat dan meningkatkan penyediaan
(BFP) reaktif meningkat ini disebabkan glukosa darah, akan terjadi peningkatan
dimana lebih banyak kapiler-kapiler cadangan glukosa darah, asam amina (AA)
pembuluh darah terbuka sehingga lebih asam lemak dipergunakan dalam kebutuhan
banyak reseptor insuline yang tersedia aktif tubuh (Sherwood, 2013). Sistem saraf
hal inilah yang berpengaruhi penurunan kadar simpatis dan epinefrine disekresikan
glukosa darah pada penderita diabetes. keduanya memblokir insuline dan
Hal ini disebabkan menurut penelitian menstimulasi glukagon, perubahan hormon
(Ocbrivianita, et al, 2012) yang menyatakan ini bersamaan dalam meningkatkan kadar
bahwa Progresive Mucsle Relaxation yang glukosa, asam lemak. Epinefrine dan
dilakukan penderita diabetes lebih efektif glokagon kadarnya dalam darah yang
dalam penurunan kadar glukosa darah, dan meningkat saat insommnia kualitas tidur
penelitian (Wati Widia, 2012) menyebutkan istirahat tidak terjaga akan mendorong
adanya pengaruh Progresive Mucsle glikogenolisis hati dan kortisol,
Relaxation terhadap penurunan kadar glukosa glukogenolisis hati, bahwa insuline
darah dimana permiabilitas membrane sekresinya tertekan saat kualitas tidur tidak
terhadap glukosa meningkat dengan terjaga dalam menghambat pemecahan
berkontraksinya otot-otot pada saat aktifitas simpanan glikogen hati. Semua efek akan
fisik berolahraga secara resistensi insuline membantu meningkatkan konsentrasi glukosa
meningkat, hal ini akan menyebabkan darah (Sherwood, 2013).
insuline pada penderita diabetes berkurang,
reaksi hanya terjadi jika setiap kali 4. KESIMPULAN
berolahraga/beraktifitas fisik dengan gerakan- Adapun kesimpulan yang dapat diambil
gerakan bagian tubuh, tidak merupakan efek yaitu:
yang permanen atau berlangsung lama, oleh 1. Ada perbedaan yang sangat signifikan
karena itu bahwa beraktifitas fisik/latihan antara kualitas tidur diabetes pada
jasmani harus dilaksanakan secara intermitten intervensi pertama dengan p=0.695
dan teratur (Ilyas, 2013). Pengaruh terapi (p>0.05) dan kelompok intervensi kedua
Progresive Mucsle Relaxation terhadap kadar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 178
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
terjadi peningkatan kualitas tidur diabetes Kedokteran dan Kesehatan. Edisi 3.
sangat signifikan p=0.00 (p=<0.05)2. Jakarta : Salemba Medika.
2. Ada pengaruh perbedaan yang sangat Davis. (2010). Panduan Relaksasi dan
signifikan antara kadar glukosa darah Reduksi Stres Edisi III. Jakarta.
diabetes sebelum dan setelah intervensi Erliana, E., Haroen, H., & Susanti, R. D.
relaksasi otot progresive pada kelompok (2008). Perbedaan tingkat insomnia
dengan p=0.627 (p>0.05) dengan lansia sebelum dan sesudah latihan
perbedaan yang signifikan antara kadar relaksasi otot progresif (progressive
glukosa darah diabetes sebelum dan muscle relaxation) di BPSTW Ciparay
setelah relaksasi otot progresive kelompok Bandung. Perbedaan Tingkat Insomnia
intervensi II p=0.000 (p<0.05). Lansia Sebelum Dan Sesudah Latihan
Relaksasi Otot Progresif (Progressive
SARAN Muscle Relaxation) Di BPSTW Ciparay
Kepada pasien diabetes upayakan selalu Bandung, 10.
aktif melakukanan relaksasi otot progresive pustaka.unpad.ac.id/wp.../07/perbedaan_
(Progressive Muscle Relaxation), secara tingkat_insomnia_lansia.pdf
teratur tepat terukur setiap hari, dalam Ernawati, Syauqy, A., & Haisah, S. (2017).
mengurangi ketenganan otot, kecemasan Gambaran Kualitas Tidur dan
strees dan menstabilkan kadar glukosa darah Gangguan Tidur Pada Lansia di Panti
serta meningkatkan kualitas tidur, oleh Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Kota
karena metode relaksasi otot progresive Jambi. 2(disitasi 2019 Maret 6), 5.
sederhana, mudah, ekonomis tidak http://repository.unja.ac.id/2381/1/JURN
membutuhkan ruangan khusus dan tutorial, AL.pdf
namun kemauan optimisme klien diabetes Federation, I. D. (2013). Sixth edition.
hidup sehat bahagia masa depan, tetap patuh Guyton dan Hall. 2008. Aktivitas Otak
kontrol gula darah sewaktu imbangi diet Tidur,Gelombang Otak, Epilepsi,
sehat seimbang sebagai pilar mengendalikan Psikosis.Buku Ajar Fisiologi
komplikasi diabetes. Kedokteran. EGC. Jakarta. Hal 777
Hamarno, Rudi. (2006). Pengaruh Latihan
REFERENCES Relaksasi Otot Progresif Terhadap
ADA. (2019). American Diabetes Penurunan Tekanan Darah Klien
Association Standards Of Medical Care Hipertensi Primer Di Kota Malang.
In Diabetes-2019 Guidelines Update. (Tesis). Perpustakaan FKUI..
44. Handayani. (2012). Modifikasi gaya hidup
https://www.piedmont.org/media/file/PA dan intervensi farmakologis dini untuk
R-CME-Diabetes-Blair-ADA-Update- pencegahan penyakit diabetes mellitus
2019.pdf tipe II. Media Gizi Masyarakat
Ayu Henny. 2015 dengan judul “Pengaruh Indonesia Vol.1, 65-70.
Progressive Muscle Relaxation Dan Hasaini, A. (2015). Efektifitas progressive
Senam Diabetes Terhadap Gula Darah muscles relaxation (PMR) terhadap
Penderita DM Tipe 2 di Wilayah kerja kadar gula darah pada kelompok
Puskesmas penderita diabetes mellitus Tipe II di
Bali.http://iosrjournals.org/iosr- Puskesmas Martapura. Caring Vol. 2,
jdms/papers/Vol13- No. 1, 16-27.
issue2/Version1/H013212528.pdf. Hijriana, I., Suza, D. E., & Ariani, Y. (2016).
diakses tanggal 10 November 2019 Pengaruh latihan pergerakan sendi
Buysse, D. J., Reynolds, C. F., Monk, T. H., ekstremitas bawah terhadap nilai Ankle
Berman, S. R., & Kupfer, D. J. (1989). Brachial Index (ABI) pada Pasien DM
PSQI - Escala Avaliação Sono. In Tipe 2. Idea Nursing journal Vol. VII,
Psychiatry Research: Vol. 28(2) (Issue No. 2, 32-39. Hoe, J., Koh, W., Jin, A.,
28, pp. 193–213). Sum, C., Lim, S., & Tavintharan, S.
https://www.psychiatry.pitt.edu/sites/def (2012).
ault/files/inline-files/PSQI Article.pdf Hilman, A. (2017). Progressive Muscle
Dahlan, S. 2010. Besar Sampel dan Cara Relaxation. The SAGE Encyclopedia of
Pengambilan Sampel dalam Penelitian Abnormal and Clinical Psychology.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 179
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda Vol. 7, No. 2, September 2021
http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108
https://doi.org/10.4135/9781483365817. Rahmadiliyani, N., & Muhlisin, A. (2008).
n1072 Komplikasi Pada Penderita Diabetes
Ilyas. 2009. Olahraga pasien Diabetes. Melitus Dengan Di Wilayah Kerja
Agromedia Pustaka: Jakarta. Puskesmas I Gatak Sukoharjo. Berita
Indrawati, L. (2018). Pengaruh Relaksasi Ilmu Keperawatan, 1(2), 63–68.
Otot Progresif terhadap Insomnia pada Rustam. 2008, Faktor-faktor yang
Lansia di PSTW Budhi Dharma Bekasi Berhubungan dengan Kadar Gula Darah
2014. Jurnal Ilmu Kesehatan, 6(2), 140. pada Pasien Diabetes Mellitus di RSU
https://doi.org/10.32831/jik.v6i2.168 Panglima Sebaya Kabupaten Kalimantan
Kementrian Kesehatan, RI. (2010). Petunjuk Timur.
Teknis Pengukuran Faktor Risiko Safitrie, A., & Ardani, M. H. (2013). Studi
Diabetes Mellitus. Jakarta: KEMENKES Komparatif Kualitas Tidur Perawat Shift
RI. dan Non Shift di Unit Rawat Inap dan
http://perpustakaan.kemkes.go.id. Unit Rawat Jalan. Prosiding Konferensi
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019 Nasional PPNI Jawa Tengah, 17–23.
Mashudi. (2011). Pengaruh Progressive Setiyawati Andina. (2010). Pengaruh
Muscle Relaxation Terhadap Kadar Relaksasi Otogenik Terhadap Kadar
Glukosa Darah Pasien Diabetes Melitus Gula Darah Dan Tekanan Darah Pada
Tipe 2 Di R.S.U.D Raden Mattaher, Klien Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan
(tesis). Perpustakaan FIKUI. Hipertensi Di Instalasi Rawat Inap
Maghfirah, S., Sudiana, I. K., & Widyawati, Rumah Sakit Di D.I.Y dan Jawa Tengah,
I. Y. (2015). Relaksasi otot progresif (tesis). Perpustakaan FIKUI.
terhadap stres psikologis dan perilaku Sherwood, L. (2014). Fisiologi Manusia :
perawatan diri pasien diabetes mellitus Dari Sel Ke Sistem Edisi 8. Jakarta :
tipe II. Jurnal Kesehatan Masyarakat EGC.
Vol. 10, No. 2, 137-146. Smeltzer & Bare. (2008). Textbook of
PERKENI. (2011). Konsensus pengendalian Medical Surgical Nursing Vol.2.
dan pencegahan diabetes mellitus tipe II Philadelphia: Linppincott William &
di Indonesia. Diperoleh tanggal Wilkins.
04 Oktober 2019, dari: Soegondo, S. (2011). Diagnosis dan
http://www.perkeni.org Klasifikasi Diabetes Melitus Terkini.
Polit, D. F., & Beck, C. T. (2014). Essentials Dalam: Soegondo, S.
of Nursing Research Seventh Edition Soewondo, P. Subekti, I. Editor. Panduan
Appraising Evidence for Nursing Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Practice. In Lippincott Williams & Terpadu bagi Dokter dan Edukator.
Wilkins.Potter Perry. 2010. Fundamental Jakarta: Balai Penerbit FKUI
of Nursing. Buku 1 Edisi 7. Jakarta : Sukardji, 2009 : Penatalaksanaan Diabetes
Salemba Medika. Mellitus Terpadu. Edisi II Cetakan Ke-7.
R, Boedisantoso, A. (2013). Komplikasi Akut Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
Diabetes Melitus dalam Soegondo, S., Sumadibrata, 2006 : Buku Ajar Ilmu
Soewondo, P., & Subekti, I. Ed. Penyakit Dalam edisi ke IV, Jakarta
Penataksanaan Diabetes Melitus Fakultas Kedokteran Uiversitas
Terpadu (hlm 163-185). Jakarta : FKUI. Inndonesia.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. 180