Anda di halaman 1dari 9

RMK TEORI-TEORI KONSOLIDASI

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN II

KELOMPOK 1

MUH NUR IRFAN SYARIF (A031191127)

MOH GOFALDI (A031191138)

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN II KELAS E

TAHUN AJARAN 2021/2022


Bab sebelumnya telah membahas praktik yang digunakan dalam menyusun laporan
keuangan konsolidasi dan menjelaskan dasar pemikiran praktik-praktik tersebut. Konsep
dan prosedur yang dibahas pada bab-bab awal itu menggambarkan teori kontemporer
(contemporary theory) laporan konsolidasi. Teori kontemporer ini berkembang dari praktik
akuntansi, dan hal itu bukan merupakan pendekatan yang konsisten dalam membuat
laporan keuangan konsolidasi. Sebaliknya, teori kontemporer mencerminkan bagian dari
teori perusahaan induk (proprietary theory) dan teori entitas (entity theory).

Teori perusahaan induk (parent-comppany theory) mengasumsikan bahwa


lapran keuangan konsolidasi adalah perluasan dari laporan perusahaan induk dan harus
dibuat dari sudut pandang pemegang saham perusahaan induk. Menurut teori perusahaan
induk, laporan keuangan konsolidasi dibuat untuk kepentingan pemegang saham
perusahaan induk dan pemegang saham minoritas tidak dapat menerima manfaat yang
signifikan dari laporan tersebut. Laba bersih konsolidasi menurut teori perusahaan induk
merupakan ukuran laba bagi saham perusahaan induk.

Masalah tertentu dan inkonsistensi dapat saja terjadi dalam menerapkan prosedur
akuntansi menurut teori perusahaan induk pada kasus perusahaan anak yang dimiliki
kurang dari 100%. Sebagai contoh, hak minoritas merupakan kewajiban dari sudut pandang
pemegang saham perusahaan induk, dan laporan yang diterbitkan sering kali melaporkan
hak minoritas dalam bagian kewajiban pada neraca konsolidasi. Demikian pula, pendapatan
hak minoritas merupakan beban dari sudut pandang pemegang saham mayoritas. Akan
tetapi kepemilikan pemegang saham, entah mayoritas atau minoritas bukan merupakan
kewajiban menurut setiap konsep kewajiban yang lazim digunakan dan laba untuk
pemegang saham tidak memenuhi persyaratan pengakuan beban. Di sini masalahnya
terletak pada sudut pandang pemegang saham mayoritas.

Teori entitas (entity theory) merupakan pandangan lain dari konsolidasi. Teori ini
dikemukakan oleh Prof. Maurice Moonitz dan dipublikasikan oleh American Accounting
Association pada tahun 1944 dengan judul The Entity Theory of Consolidated Statements.
Pokok bahasan utama dari teori entitas adalah bahwa laporan konsolidasi merefleksikan
sudut pandang entitas usaha secara keseluruhan, di mana semua sumber daya yang
dikendalikan entitas dinilai secara konsisten. Menurut teori entitas, laba hak minoritas
merupakan

PERBANDINGAN TEORI KONSOLIDASI

Gambar 11-1 membandingkan perbedaan mendasar antara teori perusahaan induk,


teori entitas dan teori kontemporer. Teori perusahaan induk mengambil sudut pandang
pemegang saham induk sementara teori entitas berfokus pada entitas konsolidasi total.
Sementara itu, teori kontemporer memandang pemegang saham dan kreditor perusahaan
induk sebagai pengguna utama laporan keuangan konsolidasi, namun mengasumsikan
tujuan pelaporan posisi keuangan dan hasil operasi dari entitas bisnis tunggal. Jadi, sudut
pandang teori kontemporer, seperti yang tercantum dalam ARB No.51, merupakan
kompromi antara teori perusahaan induk dan teori entitas.

Pelaporan Laba
Laba bersih konsolidasi merupakan ukuran laba bagi pemegang saham perusahaan
induk menurut teori perusahaan induk maupun teori kontemporer. Namun, teori entitas
mengharuskan perhitungan laba bagi semua pemegang saham, yang disebut sebagai "total
laba bersih konsolidasi". Menurut teori entitas, total laba bersih konsolidasi kemudian
dibebankan ke pemegang saham minoritas dan mayoritas, serta diungkapkan secara
memadai pada laporan keuangan. Laba bersih konsolidasi dalam praktik yang ada
menggambarkan teori perusahaan induk. Ini dibuktikan dalam praktik pelaporan pendapatan
hak minoritas sebagai beban dan ekuitas pemegang saham minoritas sebagai kewajiban.
Namun, praktik akuntansi yang lebih disukai menurut teori kontemporer menunjukkan
pendapatan hak minoritas sebagai pengurang terpisah dalam menentukan laba bersih
konsolidasi, dan melaporkan ekuitas pemegang saham minoritas sebagai jumlah tunggal
dalam klasifikasi ekuitas pemegang saham konsolidasi.
Dalam diskusinya mengenai konsolidasi, Financial Accounting Standards Board
(FASB) memutuskan bahwa hak minoritas dalam perusahaan anak harus ditandai serta
ditampilkan sebagai komponen terpisah ekuitas pada neraca konsolidasi. Kemudian, laba
yang dapat diatribusikan ke hak minoritas bukan merupakan beban atau kerugian, tetapi
merupakan pengurang laba bersih konsolidasi dalam menghitung laba yang dapat
diatribusikan ke hak minoritas. Laporan laba rugi konsolidasi harus mengungkapkan baik
bagian laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan ke hak mayoritas dan bagian yang
dapat diatribusikan ke hak minoritas.' Seperti dinyatakan dalam buku, FASB tidak
mengeluarkan keputusan akhir tentang masalah ini.

Penilaian Aktiva
Perbedaan mencolok antara teori perusahaan induk dan entitas adalah dalam
menilai aktiva bersih perusahaan anak. Teori perusahaan induk, pada awalnya
mengkonsolidasi aktiva perusahaan anak pada nilai bukunya, ditambah bagian perusahaan
induk atas setiap. kelebihan nilai wajar aktiva terhadap nilai buku. Dengan kata lain, aktiva
perusahaan anak hanya akan dinilai kembali sebatas aktiva bersih (termasuk goodwill) yang
diakuisisi oleh perusahaan induk. Hak minoritas dalam aktiva bersih perusahaan anak
dikonsolidasikan pada nilai bukunya. Walaupun pendekatan ini mencerminkan prinsip biaya
(cost principle) dari sudut pandang perusahaan induk, hal itu menyebabkan perlakuan yang
inkonsisten atas hak mayoritas dan minoritas dalam laporan keuangan konsolidasi serta
pada penilaian neraca yang tidak mencerminkan baik biaya historis maupun nilai wajar.
Teori entitas mengkonsolidasikan aktiva dan kewajiban perusahaan anak pada nilai
wajarnya, dan memperhitungkan hak minoritas serta mayoritas atas aktiva bersih tersebut
secara konsisten. Namun, perlakuan yang konsisten ini diperoleh melalui praktik yang masih
dipertanyakan, yaitu penilaian perusahaan anak berdasarkan harga yang dibayar
perusahaan induk untuk memperoleh kepemilikan mayoritasnya. Secara konseptual,
pendekatan penilaian ini memiliki alasan yang kuat jika perusahaan induk mengakuisisi
semua saham perusahaan anak secara tunai. Alasan tersebut menjadi lemah apabila
perusahaan induk mengakuisisi sebagian dari mayoritas saham perusahaan anak yang
beredar dengan aktiva nonkas atau melalui pertukaran saham. Investor mungkin saja ingin
membayar premi atas hak untuk mengendalikan investee (investasi di atas 50%), tetapi
tidak ingin membeli sisa saham pada harga yang lebih tinggi.
Masalah lainnya sehubungan dengan penilaian perusahaan anak menurut teori
entitas muncul setelah perusahaan induk mendapatkan kepemilikannya. Begitu perusahaan
induk dapat mengendalikan secara penuh perusahaan anak, saham yang dimiliki oleh
pemegang saham minoritas tidak lagi mencerminkan kepemilikan ekuitas dalam pengertian
umum. Pada umumnya, saham perusahaan anak akan dihapus dari daftar (delisted) setelah
penggabungan usaha, sehingga perusahaan induk menjadi satu-satunya pembeli saham
minoritas. Pada kasus ini, pemegang saham minoritas dikendalikan oleh perusahaan induk.
Bagian minoritas tidak memiliki karakteristik ekuitas yang sama dengan bagian mayoritas.
Teori kontemporer selaras dengan praktik perusahaan induk dalam mengkonsolidasi
aktiva dan kewajiban perusahaan anak. Meskipun secara konseptual teori entitas lebih baik,
tetap ada kelemahannya. Harga yang dibayar oleh perusahaan induk untuk memperoleh
kepemilikan mayoritasnya tidak lagi dipandang sebagai dasar yang valid bagi penilaian hak
minoritas. Bahkan praktik pengukuran saat ini atas ekuitas pemegang saham minoritas pada
nilai bukunya dikritik karena cenderung menilai terlalu tinggi hak minoritas (terutama karena
hak minoritas terbatas pasarannya).

Keuntungan dan Kerugian yang Belum Direalisasi


Perbedaan antara teori perusahaan dan teori entitas juga terjadi pada perlakuan
keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi dari transaksi antarperusahaan (lihat
gambar 11-1). Meskipun terdapat kesepakatan umum bahwa 100% keuntungan dan
kerugian yang belum direalisasi dari penjualan downstream harus dieliminasi, keuntungan
dan kerugian dari penjualan upstream diperlakukan berbeda menurut teori perusahaan
induk dan teori entitas. Menurut teori perusahaan induk, keuntungan dan kerugian yang
belum direalisasi dari penjualan upstream dieliminasi sebatas persentase kepemilikan
perusahaan induk dalam perusahaan anak. Bagian dari keuntungan dan kerugian yang
belum direalisasi yang tidak dieliminasi terkait hak minoritas dan, dari sudut pandang
perusahaan induk, akan direalisasi oleh pemegang saham minoritas.
Total keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi akan dieliminasi ketika
menentukan total laba bersih konsolidasi menurut teori entitas. Namun, dalam kasus
penjualan upstream, jumlah yang dieliminasi akan dialokasikan antara laba untuk pemegang
saham minoritas dan pemegang saham mayoritas sesuai dengan persentase kepemilikan
masing-masing.
Pengeliminasian keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi menurut teori
kontemporer mengikuti pola dan konsistensi teori entitas. Semua keuntungan dan kerugian
yang belum di realisasi harus dieliminasi menurut ARB No.51, paragraf 13, tetapi
“pengeliminasian laba dan rugi antarperusahaan harus dialokasikan secara proporsional
antara hak mayoritas dan minoritas". Pembebanan semua jumlah keuntungan dan kerugian
yang belum direalisasi ke hak mayoritas juga dapat diterima menurut ARB No.51.
Pendekatan terakhir ini tidak digunakan pada bab-bab sebelumnya karena
ketidakkonsistenannya untuk tujuan konsolidasi dan karena kegunaannya tidak sesuai
dengan syarat-syarat dalam akuntansi metode ekuitas. Jika keuntungan dan kerugian yang
belum direalisasi dari penjualan upstream tidak dialokasikan di antara hak mayoritas dan
minoritas, laba dan ekuitas perusahaan induk tidak akan sama dengan laba bersih dan
ekuitas konsolidasi kecuali ketidakkonsistenan yang sama juga terjadi metode ekuitas.

Keuntungan dan Kerugian Kontruktif


Pola akuntansi untuk keuntungan dan kerugian konstruktif dari akuisisi utang
antarperusahaan menurut ketiga teori tersebut sesuai dengan pola akuntansi untuk
keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi (lihat Gambar 11-1). Keuntungan dan
kerugian atas penarikan konstruktif utang menurut teori kontemporer diperlakukan dengan
cara yang sama seperti menurut entitas.
Beberapa persyaratan menyangkut teori konsolidasi kontemporer dijelaskan dalam
Standar Akuntansi FASB. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, persyaratan tersebut tidak
memuat teori laporan keuangan konsolidasi yang interkonsisten, melainkan berisi unsur-
unsur teori perusahaan induk dan teori entitas. Meskipun teori konsolidasi kontemporer tidak
memiliki konsistensi internal, teori ini tetap sejalan dengan komponen lain dari teori
akuntansi, seperti prinsip biaya dan unsur dasar laporan keuangan.

Konsep Unit Ekonomi – Pembelian Goodwil


Pada Bab 3 telah di bahas prosedur akuntansi untuk penggabungan usaha yang
melaporkan aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi perusahaan anak, selain
goodwill, pada nilai wajarnya. Hanya goodwill yang benar-benar dibeli oleh perusahaan
induk yang dicatat. Metode ini, yang dinamakan "konsep unit ekonomi–pembelian goodwill",
diuraikan dalam memorandum diskusi FASB "An Analysis of Issues Related to
Consolidation Policy and Procedures." Pendukung metode ini berpendapat bahwa tidaklah
tepat mengkonsolidasi bagian hak mayoritas atas aktiva dan kewajiban perusahaan anak
pada nilai wajar dan bagian hak minoritas pada nilai buku. Menurut metode ini, aktiva dan
kewajiban yang dapat diidentifikasi perusahaan anak dinilai secara konsisten pada nilai
wajarnya dalam proses konsolidasi penggabungan usaha.
Namun, keinginan agar konsisten itu tidak merembet ke goodwill. Para pendukung
pendekatan ini mengakui bahwa demi memperoleh kendali atas perusahaan lain, meskipun
premi tersebut tidak berhubungan dengan nilai wajar perusahaan anak. Jadi, tidak ada
perhitungan nilai goodwill yang harus dilakukan dan hanya goodwill yang benar-benar
dibayar yang dilaporkan pada laporan konsolidasi. (Lihat Bab 3 untuk ilustrasi).
Pada bulan Oktober 1995, FASB menerbitkan exposure draft "Laporan Keuangan
Konsolidasi: Kebijakan dan Prosedur," yang mensyaratkan akuisisi perusahaan anak meng-
gunakan metode konsep unit ekonomi-pembelian goodwill. Namun, exposure draft ini tidak
diadopsi sebagai FASB statement. Sejak itu, FASB telah memutuskan bahwa pembelian
goodwill memenuhi definisi aktiva dan harus dinilai sebagai selisih antara nilai wajar
pembelian dan nilai wajar aktiva bersih yang diperoleh. Pandangan ini dikemukakan dalam
FASB Statement No. 141 dan konsisten dengan persyaratan APB Opinion No. 16 yang
menggantikannya. FASB, dalam FASB Statement No. 142, juga mengharuskan bahwa
goodwill direview secara periodik menyangkut penurunan nilainya. Jika standar FASB
didasarkan pada teori entitas atau konsep unit ekonomi-metode pembelian goodwill akan
digunakan, schingga menjadi bagian dari teori kontemporer. Teori kontemporer akan terus
berevolusi bersama dengan perubahan standar akuntansi. ahaan induk akan mau
membayar premi yang cukup besar

Konsolidasi Pada Saat Akuisisi


Gambar 11-2 membandingkan kertas kerja konsolidasi Pedrich Corporation dan
Perusahaan Anak menurut teori perusahaan induk dan teori entitas. Dalam mempelajari
kertas kerja itu, ingatlah kembali bahwa teori kontemporer sama dengan teori perusahaan
induk dalam hal yang menyangkut dengan konsolidasi awal aktiva dan kewajiban
perusahaan anak.
Kertas kerja komparatif pada Peraga dimulai dengan neraca terpisah perusahaan
afiliasi dan penggunaan prosedur ditetapkan untuk mengkonsolidasikan neraca terpisah itu.
Walaupun kertas kerja itu dapat dimodifikasi menurut teori perusahaan induk untuk
merefleksikan hak minoritas di antara kewajiban, modifikasi ini tidak diperlukan. Perbedaan
klasifikasi seperti ini dapat dicerminkan dalam laporan konsolidasi tanpa mengubah
prosedur kertas kerja.
Teori perusahaan induk mengalokasikan 90% dari kelebihan nilai wajar atas nilai
buku aktiva bersih yang dapat diidentifikasi ke aktiva dan kewajiban yang dapat
diidentifikasi, dan mengalokasikan kelebihan biaya investasi atas nilai wajarnya sebesar
$58.500 ke goodwill. Hak minoritas sebesar $12.000 menurut teori perusahaan induk sama
dengan 10% nilai buku aktiva bersih Sandy pada saat akuisisi sebesar $120.000.
Teori entitas membebankan semua kelebihan nilai wajar atas nilai buku ke aktiva
bersih yang dapat diidentifikasi, dan mencantumkan kelebihan nilai yang tersirat atas nilai
wajar sebagai goodwill. Hak minoritas sebesar $22.000 merupakan 10% dari nilai aktiva
bersih Sandy yang tersirat.
Aktiva konsolidasi menurut teori perusahaan induk terdiri dari nilai buku aktiva
gabungan ditambah 90% kelebihan nilai wajar aktiva Sandy terhadap nilai bukunya. Menurut
teori entitas, aktiva konsolidasi terdiri dari nilai buku aktiva Pedrich ditambah nilai wajar
aktiva Sandy. Meskipun teori entitas mengkonsolidasikan semua aktiva Sandy pada nilai
wajarnya menurut kedua teori total aktiva konsolidasi tidak mencerminkan nilai wajar karena
aktiva perusahaan induk tidak pernah dinilai kembali pada saat penggabungan usaha
dilakukan.

Konsolidasi Setelah Akuisisi


Perbedaan antara teori perusahaan induk dan teori entitas dapat dijelaskan lebih lanjut
dengan mengamati kegiatan operasi Pedrich Corporation dan Sandy Corporation selama
tahun 20xx. Asumsi-asumsi berikut ini telah dibuat:
1) Laba bersih dan dividen Sandy untuk tahun 20xx masing-masing adalah $35.000
dan $10.000
2) Kelebihan nilai wajar terhadap nilai buku piutang usaha dan persediaan Sandy pada
tanggal 1 Januari 20xx direalisasi selama tahun 20xx.
3) Aktiva tetap Sandy telah disusutkan pada tingkat 5% per tahun dan goodwill dari
konsolidasi belum diamortisasi.

Prosedur Konsolidasi
Laba bersih konsolidasi menurut teori perusahaan induk sama seperti laba itu
dialokasikan ke pemegang saham perusahaan induk menurut teori entitas. Karena itu,
perbedaan antara teori perusahaan induk dan teori entitas hanya terletak pada cara
mengkonsolidasi laporan keuangan perusahaan induk dengan perusahaan anak dan pada
pelaporan posisi keuangan serta hasil operasi dalam laporan keuangan konsolidasi. Kertas
kerja konsolidasi Pedrich Corporation dan Perusahaan Anak menurut teori perusahaan
induk pada Peraga 11-3 dan menurut teori entitas pada Peraga 11-4 mencerminkan
perbedaan tersebut. Sekali lagi, prosedur kertas kerja belum dimodifikasi untuk
mencerminkan perbedaan klasifikasi laporan keuangan. Perbedaan penyajian laporan
keuangan untuk Pedrich Corporation dan Perusahaan Anak diilustrasikan pada Peraga 11-
5 dan Peraga 11-6, yang memperlihatkan laporan kcuangan yang disusun dari kertas kerja.
Dalam membandingkan kertas kerja konsolidasi menurut teori perusahaan induk
pada Peraga 11-3 dengan menurut teori entitas pada Peraga 11-4, perhatikan bahwa ayat
jurnal penyesuaian dan eliminasi kertas kerja memiliki pos-pos debet dan kredit yang sama,
tetapi jumlah semua ayat jurnal kertas kerja itu berbeda, kecuali ayat jurnal a. Akuntansi
untuk investasi dalam perusahaan anak menurut metode ekuitas adalah yang sama bagi
kedua teori konsolidasi itu. sehingga ayat jurnal untuk mengeliminasi pendapatan investasi
dan dividen antarperusahaan, dan untuk menyesuaikan akun investasi dengan saldo awal
periodenya (ayat jurnal A) baik menurut teori perusahaan induk maupun teori entitas.

Perbandingan Laporan Laba Rugi


Menurut teori perusahaan induk teori kontemporer. Pelaporan laba menurut teori
entitas memperlihatkan jumlah akhir "total laba bersih konsolidasi" sebesar $107.750 dan
pendistribusian laba tersebut ke pemegang saham minoritas dan pemegang perusahaan
induk. Meskipun jumlah yang disajikan untuk Pedrich Corporation dan Perusahaan Anak
menurut teori perusahaan induk identik dengan jumlah yang disajikan menurut teori
kontemporer, kesamaan ini tidak akan tercapai jika terdapat laba yang belum direalisasi atas
penjualan upstream atau kerugian/keuntungan konstruktif dari pembelian utang
antarperusahaan perusahaan anak. Prosedur konsolidasi untuk pos-pos tersebut adalah
sama, baik menurut teori kontemporer maupun teori entitas.
Format laporan menurut ketiga teori konsolidasi agak berbeda, tetapi mungkin saja
bermanfaat untuk mencatat hubungan berikut ini:
1) Jika investasi perusahaan anak dilakukan pada nilai buku dan nilai buku aktiva serta
kewajiban individu sama dengan nilai wajarnya, jumlah yang tertera pada laporan
laba rugi harus sama, baik menurut teori entitas maupun teori kontemporer.
2) Jika tidak ada transaksi antarperusahaan, jumlah yang tertera pada laporan laba rugi
harus sama baik menurut teori perusahaan induk maupun teori kontemporer.
3) Jika tidak ada hak minoritas, jumlah yang tertera dalam laporan laba rugi harus
menurut ketiga teori itu.

Pandangan Lain Tentang Hak Minoritas


Beberapa akuntan percaya bahwa hak minoritas boleh disajikan sebagai pos
terpisah dalam laporan keuangan konsolidasi. Salah satu saran untuk mengeliminasi hak
minoritas dari laporan konsolidasi adalah untuk melaporkan total laba konsolidasi pada
bagian bawah laporan laba rugi konsolidasi, dengan pengungkapan catatan kaki terpisah
tentang hak minoritas dan mayoritas atas laba tersebut. Perlakuan yang konsisten dalam
neraca konsolidasi akan mengharuskan total ekuitas konsolidasi dilaporkan sebagai pos
tunggal, dengan pengungkapan catatan kaki terpisah tentang ekuitas hak mayoritas dan hak
minoritas,
Saran lain untuk mengeluarkan hak minoritas dalam laporan keuangan konsolidasi
adalah hanya untuk mengkonsolidasikan bagian yang dimiliki hak mayoritas atas
pendapatan, beban, aktiva, dan kewajiban perusahaan anak yang dimiliki kurang dari 100%.
Konsolidasi yang proporsional akan dibahas pada bab ini menurut akuntansi untuk joint
ventures.

Anda mungkin juga menyukai