Anda di halaman 1dari 7

PERSIAPAN

Hewan coba : 2 ekor anjing

Alat : sungkup eter, serbet (kain lap), kapas, penggaris

Obat-obatan : Larutan eter tehnis

Atropin 0.5 mg/ml

Morfin 10 mg/ml

Tiopental

Dosis obat : Eter secukupnya

Atropin 1 mg/anjing IM

Morfin 1 mg/kgBB IM

Tiopental 20 mg/kgBB IM

TATALAKSANA

A. Percobaan Anestesi Umum Tanpa Medikasi Preanestesi Dan Induksi

1) Sebelum percobaan dimulai, anjing yang akan diberi anestesi umum, diperiksa
dulu, refleksnya dengan cara menarik kakinya, rasa nyeri dengan menarik
telinganya, juga ukur lebar pupil matanya, frekuensi denyut jantung dan
frekuensi nafas serta jenis pernafasan.
2) Baringkan anjing tadi diatas meja laboratorium, lalu pasanglah sungkup eter
yang telah dibalut dengan kain lap dan diberi lapisan kapas di dalam dan
dasar sungkup.
3) Berikanlah eter tetes demi tetes, yang pada permulaan agak cepat, agar anjing
dapat menghirup uap eter dan segera masuk dalam stadium anestesi.
4) Perhatikanlah anjing yang tidak diberi medikasi preanestesi dan induksi ini,
akan lama masuk dalam stadia berikutnya, jadi anjing akan meronta-ronta,
melolong, dan banyak sekresi liurnya karena iritasi eter yang diberikan.
5) Selanjutnya perhatikan baik-baik stadi yang terjadi, I, II, III, dengan
mengamati diameter pupil, frekuensi nafas, jenis nafas, frekuensi denyut
jantung, gerak bola mata dan tonus otot.

B. Percobaan Anestesi Umum Dengan Medikasi Preanestesi Dan Induksi

1) Serempat jam sebelum praktikum dimulai, anjing disuntik dengan atropine dan
morfin sesuai dosis yang disepakati secara IM, sebagai medikasi preanestesi.
Jelaskan guna kedua medikasi preanestesi yang diberikan ini.
2) Lakukan observasi yang sama pada anjing tadi, kemudian baringkanlah anjing
itu diatas meja laboratorium.
3) Saat sebelum penetesan eter pada sungkup, suntikkan larutan thiopental IV
pada vena di tungkai anjing, ini akan menginduksi stadium II (delirium),
sehingga anjing akan segera masuk dalam stadium III, lalu teteskan eter sperti
diatas.
4) Lakukan observasi yang sama dengan diatas dan perhatikan perbedaan yang
tampak pada anjing yang diberi dan tanpa medikasi premedikasi atau induksi.

PEMERHATIAN

Pada stadium 1, terlihat anjing tanpa medikasi dan induksi meronta-ronta dan
kelihatan takut apabila diapasang sungkup eter manakala anjing dengan medikasi dan
induksi kelihatan lebih tenang dan kurang meronta-ronta semasa pemasangan.
Diameter pupil kedua-dua anjing tidak banyak perbedaan. Frekuensi nafas pada
kedua-dua anjing juga normal dan menunjukkan pernafasan torako-abdominal. Gerak
bola mata mengikut stimulus dan tonus otot normal pada kedua-dua anjing.

Pada stadium 2, terlihat anjing tanpa medikasi dan induksi hipersalivasi mula
meronta-ronta dengan lebih kencang. Anjing itu juga BAK dan BAB sedikit pada
stadium ini. Manakala anjing dengan medikasi dan induksi kelihatan lebih tenang dan
relaks. Diameter pupil anjing tanpa medikasi dan induksi sedikit lebih midriasis
dibanding dengan anjing denagn medikasi dan induksi. Frekuensi dan amplitud nafas
anjing tanpa medikasi dan induksi mula meningkat dengan signifikan manakala pada
anjing denagn medikasi dan induksi meningkt sedikit sahaja. Pernafasan pada kedua-
dua anjing masih torako-abdominal. Mata kedua-dua anjing mula nystagmus dan
pergerakan involunter otot dapat dilihat. Anjing tanpa medikasi dan induksi kelihatan
lebih lama di stadium ini.

Pada stadium 3, planar 1, kedua-dua anjing semakin tenang. Pupil kedua-dua anjing
sedikit miosis berbanding stadium 2. Pernafasan teratur dan spontan dan masih
torako-abdominal. Nystagmus pada kedua-dua anjing makin hebat. Pergerakan
involunter semakin bekurang.

Pada planar 2, pupil kedua-dua anjing mdriasis sedikit. Pernafasan teratur denagn
frekuensi mengecil dan torako-abdominal. Gerakan pada bola mata berhenti. Otot-otot
kedua-dua anjing lebih relaks.

Pada planar 3, pupil kedua-dua anjing semakin midriasis. Pernafasan abdominal lebih
dominan pada kedua-dua anjing. Otot-otot ralaksasi sempurna dan gerakan bola mata
negatif pada kedua-dua anjing.

Anjing dipertahankan pada stadium 3 planar 3. Apabila anestesi dihentikan, kelihatan


anjing denagn medikasi dan induksi lebih cepat pulih.

PEMBAHASAN

Tindakan anestesi dilakukan dengan menghilangkan nyeri secara sentral disertai


hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible.

Trias Anestesi :

1.hipnotik
2.analgesik
3.relaksasi
4. stabilisasi otonom

Tujuan Medikasi Preanestesi Dan Induksi:

1. Meredakan kecemasan dan ketakutan


2. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
3. Mengurangi mual dan muntah pasca bedah
4. Mengurangi isi cairan lambung
5. Membuat amnesia
6. Memperlancar induksi anestesi
7. Meminimalkan jumlah obat anestesi
8. Mengurangi reflek yang membahayakan

Persiapan Sebelum Anestesi:


Dalam melakukan anestesi harus diperhatikan beberapa faktor antara lain: kondisi
hewan, lokasi pembedahan, lama pembedahan, ukuran tubuh/jenis hewan, kepekaan
hewan terhadap obat anestetik dan penyakit-penyakit yang diderita hewan.Sebelum
anestesi sangat perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan, karena kadang-kadang
anestesi umum mempunyai resiko yang jauh lebih besar dibandingkan pembedahan
yang dijalankan.

Semua zat anestetik umum menghambat susunan syaraf pusat secara bertahap, mula-
mula fungsi yang kompleks akan dihambat dan paling akhir dihambat ialah medula
oblongata dimana terletak pusat vasomotor dan pusat pernapasan yang vital.

Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter menjadi 4 stadium:

1. Stadium I (analgesia) yaitu stadium mulai dari saat pemberian zat anestesi
hingga hilangnya kesadaran. Pada stadium ini anjing masih bisa mengikuti
perintah tetapi rasa sakit sudah hilang
2. Stadium II (delirium/eksitasi) yaitu hilangnya kesadaran hingga permulaan
stadium pembedahan. Pada stadium ini terlihat jelas adanya eksitasi dan
gerakan yang tidak menurut kehendak, seperti melolong, berteriak, gerakan
pernafasan yang tak teratur, takikardia, hipertensi hingga terjadinya kematian,
sehingga harus segera dilewati
3. Stadium III (surgical)yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernafasan
hingga hilangnya pernafasan spontan. Stadium ini ditandai oleh hilangnya
pernafasan spontan, hilangnya refleks kelopak mata dan dapat digerakkannya
kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah. Stadium ini dibagi lagi menjadi 4
tingkat yaitu
a. Tingkat I : pernafasan teratur, spontan, gerakan bola mata tak teratur,
miosis, pernafasan dada dan perut seimbang. Belum tercapai relaksasi otot
lurik yang sempurna
b. Tingkat II : pernafasan teratur tetapi kurang dalam dibandingkan tingkat I,
bola mata tak bergerak, pupil melebar, relaksasi otot sedang, refleks laring
hilang.
c. Tingkat III: pernafasan perut lebih nyata daripada pernafasan dada karena
otot interkostal mulai mengalami paralisis, relaksasi otot lurik sempurna,
pupil lebih lebar tetatpi belum maksimal
d. Tingkat IV: pernafasan perut sempurna karena kelumpuhan otot interkostal
sempurna, tekanan darah mulai menurun, pupil sangat lebar dan refleks
cahaya menghilang.
4. Stadium IV (Paralisis mediula oblongata) yaitu stadium dimulai dengan
melemahnya pernafasan perut dibanding stadoium III tingkat 4, tekanan darah
tak terukur, jantung berhenti berdenyut dan akhirnya anjing mati.

Obat-obatan anestetik yang diberikan pada hewan akan membuat hewan tersebut tidak
peka terhadap rasa sakit sehingga hewan menjadi lebih tenang, dengan demikian
pembedahan dapat dilaksanakan lebih aman dan lancar.

a. Analgesia narkotik untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan, mengurangi


rasa sakit dan menghindari takipneu. Misalnya morfin atau derivatnya misalnya
oksimorfin dan fentanil
b. Barbiturat biasanya diguankan untuk menimbulkan sedasi. Misalnya
pentobarbital dan sekobarbital.
c. Antikolinergik untuk menghindari hipersekresi bronkus dan kelenjar liur
terutama pada anestesi inhalasi. Obat yang dapat digunakan misalnya sulfas
atropin dan skopolamin.
d. Obat penenang digunakan untuk efek sedasi, antiaritmia, antihistamin dan enti
emetik. Misalnya prometazin, triflupromazin dan droperidol

OBAT PREMEDIKASI PADA PERCOBAAN:

Atropin

Atropin dapat mengurangi sekresi dan merupakan obat pilihan utama untuk
mengurangi efek bronchial dan kardial yang berasal dari perangsangan parasimpatis,
baik akibat obat atau anestesikum maupun tindakan lain dalam operasi. Disamping itu
efek lainnya adalah melemaskan tonus otot polos organ-organ dan menurunkan
spasme gastrointestinal.

Setelah penggunaan obat ini (golongan baladona) dalam dosis terapeutik ada perasaan
kering dirongga mulut dan penglihatan jadi kabur. Karena itu sebaiknya obat ini tidak
digunakan untuk anestesi regional atau lokal. Atropin tersedia dalam bentuk atropin
sulfat dalam ampul 0,25 mg dan 0,50 mg. Diberikan secara suntikan subkutis,
intramuscular

Morfin

Morfin paling mudah larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja
analgesinya cukup panjang (long acting).Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada
umumnya) relatif selektif, yakni tidak begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu
rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran ; bahakan persepsi nyeri
pun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi.

Efek analgesi morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ;

 morfin meninggikan ambang rangsang nyeri


 morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi
yang timbul dikorteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks
serebri dari thalamus
 morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri
meningkat.

OBAT INDUKSI DALAM PERCOBAAN:

Tiopentol

Merupakan obat anestesi umum barbiturat short acting.Tiopentol dapat mencapai otak
dengan cepat dan memiliki onset yang cepat (30-45 detik). Dalam waktu 1 menit
tiopenton sudah mencapai puncak konsentrasi dan setelah 5 – 10 menit konsentrasi
mulai menurun di otak dan kesadaran kembali seperti semula. Dosis yang banyak atau
dengan menggunakan infus akan menghasilkan efek sedasi dan hilangnya
kesadaran.Walaupun terdapat beberapa barbiturat dengan masa kerja ultra singkat ,
tiopental merupakan obat terlazim yang dipergunakan untuk induksi anasthesi dan
banyak dipergunakan untuk induksi anestesi.

Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat akan


menyebabkan hambatan pada reseptor GABA pada sistem saraf pusat, barbiturat
menekan sistem aktivasi retikuler, suatu jaringan polisinap komplek dari saraf dan
pusat regulasi, yang beberapa terletak dibatang otak yang mampu mengontrol
beberapa fungsi vital termasuk kesadaran. Pada konsentrasi klinis, barbiturat secara
khusus lebih berpengaruh pada sinap saraf dari pada akson. Barbiturat menekan
transmisi neurotransmitter inhibitor seperti asam gamma aminobutirik (GABA).
Mekanisme spesifik diantaranya dengan pelepasan transmitter (presinap) dan interaksi
selektif dengan reseptor (postsinap).