Anda di halaman 1dari 3

Soal 1

1. Peran Negosiator
menjadi perantara atau pihak ketiga yang berada ditengah-tengah kedua belah pihak yang
bersangkutan dalam hal bernegosiasi. Negosiator bertugas dalam melakukan proses tawar-
menawar dengan mengambil jalan bermusyawarah atau merundingkan jalan keluar guna
mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak lain baik antar individu, kelompok,
atau organisasi.
2. Peran Negosiator Dalam Penyelesaian Sengketa Non Litigasi
penyelesaian sengketa non litigasi dapat juga dilakukan dengan cara alternatif penyelesaian
sengketa atau alternative dispute resolution (ADR). Alternatif penyelesaian sengketa adalah
suatu bentuk penyelesaian sengketa diluar pengadilan berdasarkan kata sepakat (konsensus) yang
dilakukan oleh para pihak yang bersengketa baik tanpa ataupun dengan bantuan para pihak
ketuga yang netral. Menurut Undang-Undang nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa, pada pasal 1 angka 10, alternatif penyelesaian sengketa adalah
lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak,
yakni penyelesaian diluar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau
penilaian ahli.
3. Peran Negosiator Dalam Penyelesaian Sengketa Litigasi
Sepanjang penelusuran kami, tidak ditemukan definisi litigasi secara eksplisit di peraturan
perundang-undangan. Namun, Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (“UU 30/1999”) berbunyi:
Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif
penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian
secara litigasi di Pengadilan Negeri.

Soal 2
Dalam proses negosiasi terdapat beberapa tahapan proses yang akan dilakukan oleh seorang
negosiator agar berjalan dengan lancar dan sesuai dengan keinginan. Untuk mencapai suatu
kesepakatan dan hasil yang diinginkan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis dan
terstruktur dalam bernegosiasi.
1. Tahap Persiapan
Tahapan pertama yang perlu dilakukan oleh negosiator, adanya persiapan yang dilakukan dalam
proses negosiasi. Sebelum melakukan negosiasi, para pihak perlu melakukan penetapan lokasi
dan waktu pertemuan serta siapa yang harus menghadiri pertemuan negosiasinya. Pembatasan
jangka waktu pelaksanaan negosiasi juga dapat membantu untuk mencegah perselisihan yang
berkelanjutan.
2. Tahap Penyusunan
Dalam tahap ini, perlu adanya penyusunan atau langkah-langkah dari tahap awal dan akhir yang
dapat mempengaruhi kualitas negosiasi tersebut. Sehingga akan ada panduan yang bisa
digunakan masing-masing pihak ketika proses negosiasi akan berlangsung.
3. Tahap Pengumpulan data/Mengklarifikasikan tujuan
Pengumpulan data terkait dengan kepentingan dan sudut pandang dari kedua pihak yang
berselisih yang telah didiskusikan bersama perlu diklarifikasikan. Seorang negosiator harus
mampu membaca karakteristik seseorang dari masing-masing kedua belah pihak sehingga dapat
mengetahui gaya pembicaraan dan sudut pandangnya. Hal itu dimaksudkan agar dimungkinkan
untuk membangun landasan bersama.
4. Pilihan strategi untuk Win-win Outcome
Keempat adalah pilihan strategi. Tahap ini berfokus pada apa yang disebut sebagai hasil “win-
win solution” yang mana saran akan strategi alternatif dan kompromi perlu dipertimbangkan
pada poin ini. Kedua belah pihak merasa telah memperoleh sesuatu yang positif melalui proses
negosiasi dan kedua belah pihak juga merasa bahwa sudut pandang mereka telah
dipertimbangkan.
5. Perjanjian
Perjanjian dapat dicapai setelah pemahaman tentang sudut pandang dan kepentingan kedua belah
pihak telah dipertimbangkan. Sangat penting bagi semua orang yang terlibat untuk tetap
berpikiran terbuka untuk mencapai solusi yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang memiliki
perbedaan. Kesepakatan apa pun harus dibuat sangat jelas sehingga kedua belah pihak tahu apa
yang telah diputuskan.
6. Menerapkan Kesepakatan dari Hasil Perjanjian
Yang terakhir adalah menerapkan perjanjian yang telah disepakati bersama, sehingga nantinya
tidak akan ada masalah dibelakang karena telah ada kesepakatan baik tertulis ataupun tidak
tertulis dalam sebuah negosiasi.

Soal 3
Penyelesaian sengketa dengan menggunkan lembaga arbitrase akan menghasilkan Putusan
Arbitrase. Menurut undang-undang nomor 30 tahun 1999, arbiter atau majelis arbitrase untuk
segera menjatuhkan putusan arbitrase selambat-lambatnya 30 hari terhitung sejak selesainya
pemeriksaan sengketa oleh arbiter. Jika didalam putusan yang dijatuhkan tersebut terdapat
kesalahan administratif, para pihak dalam waktu 14 hari terhitung sejak putusan dijatuhkan
diberikan hak untuk meminta dilakukannya koreksi atas putusan tersebut. Putusan arbitrase
merupakan putusan pada tingkat akhir (final) dan langsung mengikat para pihak. Putusan
arbitrase dapat dilaksanakan setelah putusan tersebut didaftarkan arbiter atau kuasanya ke
panitera pengadilan negeri. Setelah didaftarkan, ketua pengadilan negeri diberikan waktu 30 hari
untuk memberikan perintah pelaksanaan putusan arbitrase.
Selain melalui proses arbitrasi, penyelesaian sengketa non litigasi dapat juga dilakukan dengan
cara alternatif penyelesaian sengketa atau alternative dispute resolution (ADR). Alternatif
penyelesaian sengketa adalah suatu bentuk penyelesaian sengketa diluar pengadilan berdasarkan
kata sepakat (konsensus) yang dilakukan oleh para pihak yang bersengketa baik tanpa ataupun
dengan bantuan para pihak ketuga yang netral. Menurut Undang-Undang nomor 30 tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, pada pasal 1 angka 10, alternatif
penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui
prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian diluar pengadilan dengan cara
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

Anda mungkin juga menyukai