Anda di halaman 1dari 56

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

RMK DAN REVIEW ARTIKEL PERTEMUAN KE-2

“PERILAKU ETIS DALAM AKUNTANSI DAN TEORI ETIKA”

Dosen: Dr. Dra. Gayatri, M.Si., Ak., CA., ACPA

OLEH:
KELOMPOK 2

1. Komang Tri Utariyani (1981621005)


2. Ni Kadek Alit Agustini Witari (1981621009)
3. Ni Nyoman Kosi Syanuri (1981621011)
4. Cintya Purnama Sari (1981621020)

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2021
PERILAKU ETIS DALAM AKUNTANSI

Skandal etika dalam profesi akuntansi berlimpah. Pada Maret 2009, David
Friehling, auditor Bernard Madoff, ditangkap oleh jaksa penuntut federal atas tuduhan
penipuan, diduga karena menandatangani laporan keuangan yang mengandung
kecurangan. Pada Januari 2000, New York Times melaporkan bahwa SEC menemukan
bahwa mitra dan karyawan di PricewaterhouseCoopers secara rutin melanggar aturan
yang melarang kepemilikan saham mereka di perusahaan yang mereka audit. Investigasi
mengidentifikasi 8.064 pelanggaran di perusahaan tersebut, yang memecat lima mitra.
Pada bulan Oktober 2001 Enron mengambil biaya $ 1,1 miliar terkait dengan penurunan
nilai investasi, beberapa di antaranya dikaitkan dengan kemitraan yang dijalankan oleh
Andrew Fastow, kepala kantor keuangan. Pada bulan Desember, Enron mengajukan
pailit dalam kasus kebangkrutan terbesar dalam sejarah di pengadilan kebangkrutan
New York. Menurut Nanette Byrnes, ini adalah “kasus besar”. Pada tahun 2005, KPMG
didakwa karena mempromosikan tempat penampungan pajak yang kejam. Pada tahun
2007, perusahaan CPA BDO Seidman LLP ditemukan sangat lalai oleh juri Florida
karena gagal menemukan kecurangan dalam audit yang mengakibatkan kerugian Bank
Portugis sebesar $ 170 juta. Putusan tersebut membuka kesempatan bagi bank untuk
menuntut ganti rugi yang bisa melebihi $ 500 juta.
Ada banyak cerita tentang perilaku yang dipertanyakan atau “tidak etis” oleh
akuntan. Ini tidak berarti bahwa semua akuntan atau perusahaan akuntansi bertindak
tidak etis. Pada umumnya, kebanyakan bertindak dengan hormat di sebagian besar
waktu, atau seluruh struktur akan runtuh. Kisah-kisah seperti di atas merupakan indikasi
bahwa diperlukan kepekaan etika dan perilaku etis yang lebih besar dalam profesi
akuntan. Selama seperempat abad terakhir, lebih banyak perhatian diarahkan pada etika
dan moral serta perlunya menerapkan prinsip-prinsip etika dalam bisnis.

I. Apa Itu Etika?


Kata “etika” dan “moral” memiliki sejumlah arti. Kamus Kolegiat Webster
memberikan empat arti dasar dari kata “etika” yaitu sebagai berikut:
1. Disiplin berurusan dengan apa yang baik dan buruk dan dengan tugas dan
kewajiban moral.
2. Seperangkat prinsip atau nilai moral.

1
3. Teori atau sistem nilai moral.
4. Prinsip perilaku yang mengatur individu atau kelompok.
Etika, dalam segala bentuknya, berkaitan dengan benar atau salah, baik atau
buruk. Ini adalah seperangkat prinsip yang dianut oleh individu atau kelompok
atau disiplin yang mempelajari prinsip-prinsip etika tersebut. Tugas disiplin adalah
menganalisis dan mengevaluasi tindakan dan praktik manusia. Misalnya, menurut
beberapa orang, bunuh diri dengan bantuan dapat diterima secara etis. Disiplin
etika meneliti apa artinya “bunuh diri yang dibantu” (analisis) dan alasan apa yang
dapat diberikan untuk mendukung atau menentang praktik (evaluasi).

II. Etika: Perusahaan Intelektual


Setiap orang memiliki seperangkat keyakinan etis atau prinsip etika.
Misalnya, kebanyakan orang memiliki keyakinan tentang apakah praktik seperti
eutanasia, aborsi, hukuman mati, dan perzinahan itu baik atau buruk, benar atau
salah, dapat diterima atau tidak dapat diterima. Kebanyakan orang menganggap
menipu dan mencuri itu salah, janji harus ditepati, dan lain sebagainya. Masing-
masing pendapat ini merupakan keyakinan moral.
Setiap keyakinan etis mengandung dua elemen. Ia memiliki apa yang para
ahli logika sebut sebagai subjek dan predikat. Subjek adalah tentang keyakinan itu.
Subjek biasa dalam etika adalah tindakan atau praktik seperti hukuman mati,
perzinahan, berbohong, dan lain sebagainya. Predikat adalah apa yang dikatakan
tentang subjek. “Salah,” tentu saja, adalah predikat etis. Begitu pula istilah-istilah
seperti “tidak adil”, “buruk”, “baik”, “harus dilakukan”, “hal yang benar untuk
dilakukan”, dan seterusnya. Oleh karena itu, bagi orang yang percaya bahwa
bunuh diri terbantu itu salah, “bunuh diri terbantu” adalah subjek keyakinannya
dan “salah” adalah predikat etisnya. Dalam penilaian (penghakiman di sini berarti
ungkapan keyakinan kita) “memasak buku itu salah”, “memasak buku” adalah
tindakan atau praktik. Subjek keyakinan etis biasanya berupa tindakan atau
praktik, tetapi terkadang berupa sistem atau institusi.

III. Praktek Sosial, Lembaga dan Sistem


Tindakan manusia bukan satu-satunya pokok bahasan etika. Selain tindakan,
etika memeriksa dan mengevaluasi praktik sosial. Sedangkan tindakan adalah

2
aktivitas individu, seperti John mencuri dalam situasi tertentu, praktik sosial
adalah kelas tindakan individu. Saat kita berkata, “mencuri itu salah”, kita
mengevaluasi praktik sosial dan bukan tindakan spesifik. Jadi, tindakan mencuri
individu John adalah contoh dari praktik umum mencuri. Perdagangan orang
dalam adalah praktik umum. Tindakan Tom menggunakan informasi orang dalam
untuk membeli saham tertentu adalah tindakan individu, yang merupakan contoh
praktik umum penggunaan informasi orang dalam.
Etika juga mengevaluasi organisasi, institusi, dan bahkan sistem sosial,
politik, dan ekonomi. Sebagai contoh, kita dapat mengevaluasi praktek-praktek
organisasi seperti American Institute of Certified Public Accountants (AICPA),
sebuah perusahaan seperti perusahaan akuntansi Big Four seperti Ernst and
Young, seluruh profesi akuntansi, atau bahkan sistem seperti sistem ekonomi
perusahaan bebas kita, yang menekankan pada pertukaran pasar bebas dan
perolehan laba. Orang-orang yang berkata, “kapitalisme adalah sistem yang
korup”, sedang mengevaluasi suatu sistem. Baru-baru ini, seruan reformasi dalam
profesi akuntansi menyiratkan bahwa praktiknya tidak memadai dan perlu
ditingkatkan. Ini, setidaknya secara implisit, merupakan penilaian etis.

IV. Mengapa Belajar Etika?


Seorang akuntan harus terlibat dalam studi etika ini karena tentunya setiap
akuntan sudah memiliki seperangkat keyakinan moral yang diikutinya. Meski
begitu, ada beberapa alasan untuk mempelajari etika:
1. Beberapa keyakinan moral yang dianut seseorang mungkin tidak mencukupi
karena itu adalah keyakinan sederhana tentang masalah yang kompleks. Studi
tentang etika dapat membantu individu menyelesaikan masalah kompleks ini
dengan melihat prinsip apa yang bekerja dalam kasus tersebut.
2. Dalam beberapa situasi, mungkin sulit untuk menentukan apa yang harus
dilakukan karena prinsip etika yang bertentangan. Dalam kasus ini, penalaran
etis dapat memberikan wawasan tentang bagaimana memutuskan antara
prinsip-prinsip yang saling bertentangan dan dapat menunjukkan mengapa
tindakan tertentu lebih diinginkan daripada yang lain. Studi tentang etika dapat
membantu mengembangkan keterampilan penalaran etis.

3
3. Individu mungkin memiliki keyakinan yang tidak memadai atau berpegang
teguh pada nilai-nilai yang tidak memadai. Menundukkan keyakinan atau
nilai-nilai pada analisis etika kritis mungkin menunjukkan
ketidakmampuannya. Beberapa contoh sebagai berikut:
a. Banyak manajer percaya bahwa memecat seseorang dengan alasan yang
sedikit atau tanpa alasan bisa diterima. Setelah perenungan dan
pemeriksaan etis yang mendorong kita untuk menjadi lebih
berpengetahuan dan teliti dalam masalah moral praktik itu sekarang
tampaknya dipertanyakan. Meskipun manajer memiliki kewajiban kepada
pemegang saham untuk tidak mempertahankan karyawan yang tidak
dibutuhkan, tetapi manajer juga memiliki kewajiban kepada mereka yang
dipecat.
b. Di masa lalu, prinsip peringatan emptor “biarkan pembeli berhati-hati”
adalah praktik yang dapat diterima. Sekarang, secara umum diyakini,
dalam banyak kasus, bahwa pabrikan memiliki kewajiban untuk memberi
tahu pembeli tentang cacat yang berpotensi membahayakan. Caveat emptor
telah menjadi penjual peringatan “biarkan penjual berhati-hati.”
c. Bertahun-tahun yang lalu, para akuntan menganggap tidak dapat diterima
untuk beriklan. Saat ini, ini adalah praktik yang dapat dibenarkan. Ini juga
digunakan untuk menjadi keyakinan yang diterima bahwa sebuah
perusahaan akuntansi memenuhi ketentuan hukum hanya dengan
mengikuti prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Namun, setelah
refleksi etis, apakah perusahaan memiliki kewajiban etis untuk mendorong
gambaran keuangan yang lebih realistis, bahkan jika itu berarti melampaui
GAAP?
4. Alasan keempat dan sangat penting untuk mempelajari etika adalah untuk
memahami apakah dan mengapa pendapat kita layak dipegang. Socrates
berfilsafat hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani.
5. Alasan terakhir untuk mempelajari etika adalah untuk mengidentifikasi
prinsip-prinsip dasar etika yang dapat diterapkan dalam tindakan. Prinsip-
prinsip ini akan memungkinkan untuk menentukan apa yang harus dilakukan
dan untuk memahami mengapa. Ketika kita dihadapkan pada keputusan

4
tentang apa yang harus dilakukan dalam situasi sulit, ada gunanya memiliki
daftar pertanyaan atau pertimbangan dasar yang dapat diterapkan untuk
membantu menentukan seperti apa hasilnya. Dalam rekayasa, kita harus
mempelajari prinsip-prinsip konstruksi agar dapat diterapkan pada kegiatan
tertentu. Dalam akuntansi, kita harus mempelajari prinsip akuntansi sehingga
kita dapat menerapkannya pada situasi tertentu. Begitu pula dalam etika, kita
harus mempelajari prinsip-prinsip etika, yang mengatur perilaku manusia,
sehingga kita dapat menerapkannya pada situasi etika sulit yang kita hadapi.
Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa kita telah memeriksa masalah
tersebut secara memadai, menggunakan semua prinsip etika yang tersedia.
Studi tentang etika dapat membuat kita menyadari prinsip-prinsip yang
digunakan dalam menentukan apa yang harus kita lakukan dalam situasi yang
melibatkan masalah etika. Kita harus memahami struktur yang mendasari
penalaran etis untuk membantu kita menavigasi etika karena masalah etika
tumbuh semakin kompleks di dunia yang semakin kompleks.

V. Bersikap Etis: Bagaimana Menentukan, Apa yang Harus Dilakukan?


Akuntan memiliki sejumlah tanggung jawab etis untuk diri mereka sendiri,
keluarga mereka, profesi mereka, dan klien serta perusahaan tempat mereka
bekerja. Akuntan secara implisit berjanji untuk melakukan pekerjaan mereka saat
memasuki profesinya, dan janji harus ditepati. Melakukan pekerjaan mencakup
berbagai tanggung jawab khusus. Tanggung jawab ini dijabarkan dalam deskripsi
pekerjaan, buku pegangan karyawan, buku panduan manajerial, kode etik
perusahaan, dan/atau terakhir, kode etik atau etika profesi. Dengan demikian, kode
etik profesi dan/atau uraian tugas menetapkan standar. Misalnya, kode etik AICPA
dengan jelas mengamanatkan jenis perilaku tertentu dalam tujuh prinsipnya,
sebagai berikut:
1. Dalam melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai profesional, anggota
harus menerapkan penilaian profesional dan moral yang sensitif dalam semua
aktivitas mereka.
2. Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak dengan cara yang akan
melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme.

5
3. Untuk memelihara dan memperluas kepercayaan publik, anggota harus
melaksanakan semua tanggung jawab profesional dengan rasa integritas
tertinggi.
4. Seorang anggota harus menjaga objektivitas dan bebas dari konflik
kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawab profesional.
5. Anggota dalam praktik publik harus independen dalam fakta dan penampilan
saat memberikan audit dan layanan pengesahan lainnya.
6. Seorang anggota harus mengamati standar teknis dan etika profesinya,
berusaha terus menerus untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas layanan,
dan melaksanakan tanggung jawab profesional dengan kemampuan terbaik
dari anggota tersebut.
7. Seorang anggota dalam praktik publik harus mematuhi Prinsip-Prinsip Kode
Perilaku Profesional dalam menentukan ruang lingkup dan sifat layanan yang
akan disediakan.
Menurut prinsip pertama, anggota harus “menggunakan penilaian
profesional dan moral yang sensitif dalam semua aktivitas mereka.” Jika kita dapat
menentukan bagaimana penilaian moral dibangun, kita dapat menemukan cara
untuk membenarkan keyakinan moral kita, cara untuk memastikan jawaban yang
benar (atau jawaban yang paling memadai) tentang apa yang harus dilakukan
dalam situasi yang sangat sulit. Etika memberi kita alat yang ampuh untuk
mengadili konflik etika dan menyelesaikan masalah etika.
Keyakinan bahwa “orang harus melakukan pekerjaan mereka” mungkin ada
dalam keyakinan moral. Prinsip kedua menetapkan bahwa anggota harus
“menerima kewajiban untuk bertindak dengan cara yang akan melayani
kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen terhadap profesionalisme.” Jadi, meskipun kita setuju bahwa orang
harus melakukan pekerjaan mereka, ada kalanya hal itu menimbulkan masalah.
Bisa ada konflik dalam pekerjaan, bisa juga ada konflik antara pekerjaan, profesi,
dan kehidupan pribadi individu. Etika melibatkan analisis dan evaluasi keyakinan
atau penilaian moral. Kami mencatat bahwa analisis keyakinan atau penilaian
moral mungkin melibatkan menentukan apa arti salah satu kata dalam keyakinan
atau penilaian. Analisis keyakinan moral melibatkan penentuan dengan tepat apa

6
yang ditegaskan keyakinan itu, apakah tindakan di bawah pengawasan adalah
tindakan yang akan dilakukan oleh seseorang yang berintegritas.
Setelah analisis, bisa beralih ke evaluasi, penentuan apakah keyakinan itu
benar. Banyak orang berpikir bahwa keyakinan moral itu subjektif. Mereka
berpikir bahwa hanya memegang keyakinan moral saja sudah cukup untuk
membuatnya benar. Penilaian moral tidak seperti penilaian faktual, yang
mengekspresikan keyakinan tentang apa adanya. Akibatnya, keyakinan moral
tidak dapat diverifikasi atau dibenarkan seperti keyakinan faktual. “Bumi itu
bulat” adalah kepercayaan faktual. Kita bisa membenarkan keyakinan itu melalui
observasi dan teori ilmiah. “Hujan” dapat diverifikasi hanya dengan melihat ke
luar ruangan. “Sinar cahaya membengkok saat bergerak mengelilingi matahari”
dapat diverifikasi melalui spekulasi yang diinformasikan menggunakan metode
deduktif hipotetis. Tapi kita tidak bisa membenarkan atau memverifikasi
keyakinan moral seperti itu. Keyakinan moral melibatkan nilai dan nilai yang
tidak dapat dilihat atau disentuh, mereka juga melibatkan emosi, keinginan, dan
preferensi subjektif. Itulah sebabnya banyak orang menyimpulkan bahwa
keyakinan setiap individu adalah “benar” untuk individu itu. Setiap orang harus
menilai, tetapi terkadang penilaian itu benar dan terkadang salah. Dalam banyak
kasus, memiliki prosedur yang sangat lugas untuk mengevaluasi keyakinan moral
yaitu tanyakan apakah ada alasan bagus mengapa tindakan tertentu dapat diterima
secara moral atau alasan bagus mengapa tidak.
Keyakinan tersebut dapat dibenarkan jika ada alasan bagus untuk
menerimanya. Alasan yang baik membenarkan keyakinan moral sebagaimana
observasi membenarkan keyakinan faktual. Lebih jauh, alasan-alasan yang baik ini
menjadi dasar dari prinsip-prinsip etika dan merupakan inti dari teori etika. Apa
yang menjadi ciri nalar yang baik didasarkan pada ajaran moralitas umum yang
kita pelajari saat tumbuh dewasa yaitu berbuat baik, jangan merugikan, jangan
bohong, jangan curang, jangan mencuri, adil, hormati orang lain. Perlakukan
orang lain sebagaimana kita akan diperlakukan sendiri. Ikuti hati nurani. Tepati
janji atau kata-kata. Jadi, jika seseorang memalsukan rekening pengeluaran, kita
setuju bahwa apa yang dilakukan orang itu salah karena itu merupakan
kebohongan atau pencurian.

7
Terdapat dua jenis alasan untuk membenarkan keyakinan moral kita yaitu
alasan yang membenarkan melakukan sesuatu dan alasan yang membenarkan
tidak melakukan sesuatu. Jauh lebih sulit untuk mengambil tindakan positif
daripada melarang tindakan, karena mengambil tindakan positif akan membuka
sejumlah pilihan yang tidak terbatas. Jauh lebih jelas untuk melarang suatu
tindakan, karena jika kita tahu bahwa suatu tindakan akan merugikan orang lain,
kita hanya perlu menghindarinya. Oleh karena itu, seringkali kita jelas tentang apa
yang tidak boleh kita lakukan (perintah negatif) tetapi tidak jelas tentang apa yang
harus kita lakukan (tugas afirmatif).
Alasan yang sangat bagus untuk melakukan sesuatu adalah bahwa tindakan
itu baik untuk kita, untuk kepentingan kita atau menguntungkan kita. Alasan bagus
lainnya adalah bahwa tindakan tersebut baik untuk atau menguntungkan
masyarakat. Alasan bagus lainnya adalah bahwa tindakan itu adil atau karena itu
adalah sesuatu yang kita janjikan untuk dilakukan selama apa yang kita janjikan
tidak akan merugikan seseorang. Ada juga alasan untuk tidak melakukan sesuatu,
dan itu adalah aturan moralitas yang lebih umum. Kita tidak boleh melakukan
sesuatu karena melakukan itu akan merugikan orang atau menggunakan orang kita
tidak boleh menipu, berbohong, atau mencuri. Kita tidak boleh melakukan sesuatu
yang merugikan orang lain atau diri kita sendiri, kita tidak boleh bersikap tidak
adil atau kita tidak harus mengingkari janji. Orang harus melakukan pekerjaan
mereka karena pertama-tama, melakukan pekerjaan biasanya menguntungkan
orang tersebut, dengan memberinya gaji dan pekerjaan yang berarti. Jadi,
melakukan pekerjaan itu baik untuk individu itu. Kedua, karena pembagian kerja
menyediakan cara yang paling efisien bagi masyarakat untuk beroperasi,
pekerjaan merupakan roda penggerak yang diperlukan dalam roda kemajuan, dan
melakukannya akan menguntungkan masyarakat. Akhirnya, dalam mengambil
suatu pekerjaan, individu tersebut setidaknya membuat janji implisit untuk
melakukannya, dimana janji harus ditepati.

8
TEORI ETIKA

Teori etika kontemporer dapat memberikan prinsip-prinsip utama yang digunakan


untuk memecahkan suatu dilema. Kaum utilitarian mengganggap bahwa alasan utama
yang dapat membenarkan suatu tindakan yaitu bahwa tindakan tersebut lebih
menguntungkan banyak orang daripada merugikan. Sedangkan, deontolog beranggapan
bahwa keadilan, hak dan komitmen serta menganjurkan untuk melakukan hal yang benar
apa pun akibatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Jika kita hanya mempertimbangkan
apa yang baik untuk diri kita sendiri dan memprioritaskan perhatian pada apa yang baik
untuk diri kita sendiri daripada apa yang baik dan adil untuk orang lain, maka kita
mengadopsi teori egois yang menyatakan bahwa seorang individu harus selalu bertindak
untuk kepentingan terbaiknya sendiri.

I. Egoisme
Prinsip egoisme yang berpendapat bahwa seseorang harus selalu bertindak
untuk kepentingan dirinya sendiri pada dasarnya dipandang tidak etis. Perlu
dijelaskan perbedaan antara keegoisan dan kepentingan pribadi. Perilaku tidak etis
muncul ketika seseorang mengejar kepentingan sendiri dengan mengorbankan
orang lain. Karena perilaku egois adalah perilaku tidak etis maka egoisme bukan
merupakan teori etika yang layak. Hal ini didukung oleh beberapa alasan antara
lain: (1) egoisme tidak sesuai dengan banyak aktivitas manusia, (2) egoisme juga
tidak sesuai dengan banyak aktivitas bisnis, (3) egoisme tidak dapat
dipublikasikan, diajarkan atau bahkan diucapkan dengan lantang dan (4) egoisme
didasarkan pada pandangan egosentris yang menyimpang tentang alam semesta.
Seseorang yang selalu bertindak untuk kepentingannya sendiri disebut
egoisme psikologis, yang dimana teori ini menjelaskan tentang bagaimana orang
berperilaku. Perbedaan antara egoisme psikologis dengan egoisme etis yaitu
egoisme psikologis menggambarkan bagaimana kita sebenarnya berperilaku,
sedangkan egoisme etis menentukan bagaimana kita harus berperilaku.

II. Utilitarianisme
Utilitarianisme diungkapkan dengan melakukan tindakan yang akan
mendatangkan kebaikan terbesar bagi sebagian besar orang. Utilitarianisme sangat

9
berbeda dengan egoisme karena konsekuensi yang digunakan untuk menilai suatu
tindakan tidak hanya konsekuensi bagi agen tetapi juga mencakup konsekuensi
bagi setiap orang yang berkepentingan yang dipengaruhi oleh tindakan tersebut.
Egoisme etis melihat dari sudut pandang individu sedangkan utilitarianisme
melihat dari sudut kepentingan orang banyak. Utilitarianisme dikatakan lebih
sesuai dengan kepekaan moral kita daripada egoisme dengan mencerminkan apa
yang kita lakukan ketika kita menemukan alasan untuk membenarkan suatu
tindakan atau praktik.
Seorang utilitarian untuk membenarkan suatu tindakan dapat menghitung
manfaat dan kerugian konsekuensi bagi semua orang yang terkena dampak. Jika
tindakan itu membawa lebih banyak kebahagiaan daripada ketidakbahagiaan bagi
banyak orang, maka tindakan tersebut dapat dibenarkan. Namun, jika tindakan
tersebut menyebabkan lebih banyak ketidakbahagiaan bagi banyak orang, maka
tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Jadi, utilitarianisme merupakan teori
etika yang menggunakan pendekatan biaya-manfaat. Beberapa masalah yang dapat
muncul dengan adanya prinsip-prinsip utilitarian yaitu:
1. Masalah utama yang akan timbul yaitu masalah distribusi, dimana ungkapan
bahwa kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbesar bersifat ambigu.
Manfaat merupakan konsep yang sangat luas sehingga dalam kenyataan
praktis dapat menimbulkan kesulitan yang dikarenakan persepsi dari manfaat
itu sendiri berbeda-beda bagi setiap orang.
2. Masalah lain dari utilitarianisme adalah memutuskan apa yang dianggap
sebagai suatu hal yang baik. Seorang utilitarian perlu menentukan hal-hal yang
bagaimana yang dapat dikatakan sebagai hal yang serta perlu memahami betul
antara apa yang kita butuhkan dengan apa yang kita inginkan.
3. Masalah lebih lanjut terkait utilitarianisme adalah memprediksi masa depan
dan memutuskan apakah suatu tindakan benar dengan melihat konsekuensinya.
Ketidakmampuan memprediksi secara akurat dapat menimbulkan beberapa
masalah. Kaum utilitarian bertindak sesuai dengan apa yang menurut mereka
akan menghasilkan kebaikan. Perspektif utilitarian memandang bahwa tujuan-
tujuan dapat membenarkan cara, meskipun cara tersebut dianggap tidak
bermoral.

10
III. Kant dan Deontologi
Teori dontologis berpandangan bahwa masalah etika berkaitan dengan
tindakan itu sendiri yang melarang tindakan tersebut, terlepas dari
konsekuensinya. Deontologist berasal dari kata Yunani “deontos,” yang berarti
apa yang harus dilakukan atau diterjemahkan juga sebagai kewajiban. Salah stau
deontolog yang terkemuka pada abad ke-18 yaitu Immanuel Kant yang
menggambarkannya sebagai rasa kewajiban moral dan membandingkannya
dengan kecenderungan atau keinginan. Kant berpendapat bahwa, jika seseorang
bertindak hanya karena kecenderungan atau keinginan, maka orang tersebut sama
sekali tidak bertindak secara moral.
Menurut Kant, kemampuan manusia untuk bertindak pada tingkat moral
yang melampaui naluri dan kecenderungan hewan merupakan hal yang istimewa,
sehingga membuat manusia menjadi bermoral dan memberi kita martabat dan hak.
Manusia memiliki kecenderungan dalam mengejar hal-hal yang diinginkan dan
memiliki dua kemampuan yang tidak dimiliki oleh hewan lain yaitu:
1. Kemampuan untuk memilih di antara cara alternatif atau cara untuk mencapai
tujuan yang kita inginkan. Kemampuan ini tidak begitu melihatkan perbedaan
yang signifikan antara manusia dengan hewan lainnya. Manusia dapat
memiliki pilihan tentang bagaimana untuk memenuhi kecenderungannya.
2. Kebebasan untuk mengesampingkan tujuan atau kecenderungan tersebut dan
bertindak dengan motif yang lebih tinggi. Perbedaan kedua antara manusia dan
hewan lainnya, yang menurut Kant sangat signifikan yaitu manusia dapat
bertindak melawan kecenderungan mereka demi tugas.

IV. Etika Deontologis


Kant berpendapat bahwa semua penilaian praktis yaitu penilaian tentang apa
yang harus kita lakukan merupakan suatu keharusan. Seseorang membuat
keputusan berdasarkan kewajiban yang memenuhi syarat, yang menentukan baik
atau buruknya yaitu apakah keputusan tersebut mencapai tujuannya atau tidak.
Oleh karena itu, menurut Kant, jika seseorang melakukan sesuatu hanya untuk
memenuhi keinginannya, maka orang tersebut tidak bertindak atas dasar motif
moral. Untuk bertindak secara moral, kita melakukan sesuatu hanya karena itu

11
adalah hal moral yang harus dilakukan. Kant menyajikan beberapa rumus terkait
imperatif kategoris dalam membuat keputusan, dua diantaranya yaitu:
1. Bertindaklah sehingga Anda dapat mencapai tingkat maksimum tindakan
Anda untuk menjadi hukum universal.
2. Bertindak sedemikian rupa agar tidak pernah memperlakukan makhluk
rasional lain hanya sebagai sarana.

V. Etika Kebajikan (Virtue Ethics)


Pendekatan etika kebajikan atau karakter merupakan pendekatan selain
utilitarian dan perspektif deontologi. Pendekatan ini membahas pertanyaan tentang
bagaiman menjadi seseorang, daripada pertanyaan tentang apa yang harus
dilakukan seseorang. Kata virtue berasal dari bahasa Latin yaitu “virtus”, yang
berarti kekuatan atau kapasitas, dan virtus digunakan untuk menerjemahkan kata
Yunani arête, yang artinya sangat baik. Bagi filsuf Yunani kuno, terutama
Aristoteles, kehidupan yang baik (kehidupan yang sejahtera) adalah kehidupan di
mana seseorang melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya yang luar biasa
atau aktivitas sesuai dengan kebajikan.
Beberapa pertimbangan teoretis dapat diterapkan untuk menyelesaikan
konflik-konflik yang terjadi. Pertimbangan ini memberi kita pendekatan etis yang
dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai praktik akuntansi. Teori etika dapat
dilihat dalam dua cara berbeda yaitu sebagai penyedia prinsip yang digunakan
dalam menyelesaikan masalah etika, atau sebagai penyaji prinsip dasar yang
menginformasikan proses pengambilan keputusan etis. Prinsip etika
memungkinkan kita untuk menganalisis dan mengevaluasi perasaan dan intuisi
serta dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan akuntansi, seperti penentuan
standar perilaku profesional dan kode etik AIPCA.

12
REFERENSI

Duska, Ronald, B.S. Dusca, J. Ragatz. 2011. Accounting Ethics. United Kingdom:
Wiley-Blackwell.

13
REVIEW ARTIKEL INTERNASIONAL

Judul Artikel : What is the ‘goog’ forensic accountant? A virtue ethics perspective
Penulis : Bryan Howieson
Publikasi : Dipublikasikan oleh Pasific Accountinc Review
Vol. 30 Issue 2, pp. 155 – 167, 2018

1. GENERAL REVIEW
A. Area of interest
Artikel ini mengeksplorasi bagaimana etika kebajikan dapat menginformasikan
pemahaman kita tentang apa merupakan praktek "baik" dalam akuntansi
forensik. Secara khusus, makalah ini membahas konsep phronesis (atau
kebijaksanaan praktis) sebagai dasar untuk memandu penerapan pertimbangan
profesional dalam praktek akuntansi forensik.
B. Phenomena
Praktek dan pendidikan anggota profesi telah semakin menderita dari
kecenderungan yang berkembang menuju budaya instrumentalisme dan
penekanan berlebihan pada penerapan aturan dan pengembangan "kompetensi"
teknis (disebut pembelajaran berbasis keterampilan). Instrumentalisme didorong
oleh meningkatnya dominasi sebuah logika komersial yang meresap ke dalam
praktek akuntansi profesional (Greenwood dan Suddaby, 2006, Lander et al.,
2013) dan datang dengan mengorbankan salah satu definisi karakteristik
profesional, yaitu pelaksanaan penilaian profesional atau, lainnya kata,
phronesis.
C. Theoretical Foundation
Beberapa tinjauan literatur yang berdasarkan teori dan penelitian-peneitian
terdahulu, sebagai berikut:
1. Van Akkeren dkk. (2016) telah mengakui kompleksitas etika yang
menantang akuntan forensik karena sifat multi-disiplin layanan mereka.
Yang lain telah mengidentifikasi lingkungan hukum dan peraturan sebagai
komponen penting program pendidikan akuntansi forensik (Curtis, 2008).
Keterbatasan etika berbasis aturan disisihkan, beberapa komentator

14
menyarankan bahwa ada masalah yang lebih mendasar yang menantang
etika profesional. Lail dkk. (2015) berpendapat bahwa kerusakan
kepercayaan publik pada profesi (O’Neill, 2002) adalah akibat dari
perubahan motif profesional dan hilangnya identitas profesional dari logika
pelayanan publik menjadi logika komersial. Lalu bagaimana akuntan
forensik mengembangkan jenis disposisi etis yang sesuai yang akan
meningkatkan kepercayaan publik dan keunggulan dalam layanan mereka?
Di sini disarankan bahwa etika kebajikan menawarkan jawaban untuk
pertanyaan ini.
2. Etika kebajikan ditelusuri ke Aristoteles (1953) dan dalam waktu yang relatif
baru-baru ini telah ditemukan kembali dengan pendukung dan penafsir
modern termasuk Foot (1978) dan MacIntyre (2007). Aristoteles
memandang etika sebagai tentang pengembangan karakter-sifat dan disposisi
("kebajikan") yang memungkinkan manusia untuk mencapai eudaimonia
yaitu kebajikan adalah karakteristik yang memungkinkan manusia untuk
mencapai atau mencapai keunggulan (Oakley dan Cocking, 2001). Fokus
dalam etika kebajikan adalah pada karakter pelaku moral daripada kepatuhan
terhadap beberapa aturan eksternal. Praktisi yang kompeten bercita-cita
menuju cita-cita Aristoteles dalam melakukan hal yang benar kepada orang
yang tepat pada waktu yang tepat dengan cara yang benar dan untuk alasan
yang benar (Sellman, 2012, h.127).
3. Studi yang berusaha untuk mengidentifikasi kebajikan intelektual dan moral
akuntan forensik termasuk DiGabriele (2008), Davis et al. (2010), Van
Akkeren et al. (2013) dan Van Akkeren et al. (2016). Dalam survei akuntansi
forensik mereka di Australia, Van Akkeren et al. (2013) menemukan lima
keterampilan berbasis kerja yang paling penting adalah komunikasi,
pemikiran kritis, keterampilan interpersonal, keterampilan akuntansi teknis
dan perhatian terhadap detail. Bagi Aristoteles, orang tidak dilahirkan
berbudi luhur melainkan menjadi berbudi luhur melalui praktek dan
pengulangan kebiasaan. Hanya dengan mempraktikkan kebajikan yang
menjadi bagian integral dari karakter seseorang yang pada gilirannya akan
mengarah pada perilaku yang lebih bajik (Cassidy, 2006). Aristoteles (1953,

15
I.13) mengidentifikasi dua kategori kebajikan, kebajikan intelektual
(termasuk kebijaksanaan teoretis, pengetahuan teknis dan kebijaksanaan
praktis) dan kebajikan moral (termasuk kemurahan hati, keberanian,
kejujuran dan pengendalian diri). Orang yang berbudi luhur adalah orang
yang dapat bertindak dalam situasi tertentu dengan cara terbaik menerapkan
kebajikan intelektual dan moral. Meskipun ini adalah salah satu kebajikan
intelektual Aristoteles, phronesis adalah "kebajikan khusus" (Sellman, 2012,
p. 115) karena membimbing orang yang berbudi luhur tentang cara terbaik
menggabungkan kebajikan intelektual dan moral dalam setiap situasi
tertentu. Phronesis adalah "keunggulan dalam musyawarah" (Prior, 1991, p.
179) dan seperti yang dijelaskan oleh Kinsella dan Pitman (2012a, p.2) itu:
[...] adalah kebajikan intelektual yang menyiratkan etika. Ini melibatkan
musyawarah yang didasarkan pada nilai-nilai, berkaitan dengan penilaian
praktis, dan diinformasikan melalui refleksi. Ini pragmatis, variabel,
tergantung konteks, dan berorientasi pada tindakan.
4. Sellman (2012) mengidentifikasi implikasi yang menarik dari pertimbangan
peran phronesis dalam praktek profesional. Berbagai survei keterampilan
dan atribut akuntan forensik berkonsentrasi pada jenis pengetahuan (teknis)
apa yang perlu dimiliki oleh akuntan forensik. Namun, Sellman (2012)
mencatat bahwa seorang profesional yang telah menguasai phronesis dan
yang secara konsekuen terus-menerus merenung dan sadar diri juga akan
mengenali apa yang tidak dia ketahui. Artinya, dia akan sadar akan
keterbatasannya sendiri dan berkomitmen untuk menemukan cara untuk
mengatasi ketidaktahuannya dan mengurangi batasan dalam rangkaian
keahliannya. Kemmis (2012) memperluas ide-ide ini untuk mengeksplorasi
pentingnya phronesis dalam konteks ketidakpastian (seperti yang biasa
dihadapi oleh akuntan forensik). Dia mencatat bahwa para profesional
membawa ke setiap masalah baru yang tidak pasti apa yang telah mereka
pelajari dari hasil masalah sebelumnya. Dalam menghadapi setiap masalah
baru dengan ketidakpastian yang menyertainya, situasinya unik dan
karenanya tidak dapat dengan mudah diselesaikan dengan semacam solusi
atau metode standar. Kemmis (2012) mengakui bahwa perkembangan

16
phronesis tentunya tidak akan menghilangkan ketidakpastian atau
melengkapi akuntan forensik dengan semua atribut yang diperlukan untuk
menghadapi tantangan masa depan tetapi akan menciptakan kesiapan
akuntan forensik untuk mengambil tindakan dalam situasi ketidakpastian dan
untuk mengeksploitasi apa yang telah dipelajari dari pengalaman.
Mengembangkan dan mempromosikan kesadaran yang lebih besar dari
phronesis memiliki implikasi penting untuk pengajaran, penelitian dan
praktek akuntansi forensik.
Research Gap
Penerapan konsep phronesis belum memadai dieksplorasi dalam literatur
akuntansi sebelumnya (lihat, misalnya, Lehman (2014) di mana penerapan
phronesis terutama terbatas pada implikasinya pada akademi akuntansi, daripada
praktek akuntansi forensik).
Research Question (Statement)
Artikel ini mengeksplorasi mengapa akuntansi forensik sangat terpapar risiko
mengadopsi perspektif legalis dan instrumentalis sebagai sebuah dasar untuk
perilaku dan pendidikan praktisi. Etika kebajikan, dan khususnya, kebajikan
phronesis kemudian secara singkat dijelaskan diikuti dengan diskusi tentang
bagaimana relevansi phronesis akuntan forensik. Pertanyaan-pertanyaan tentang
apakah phronesis dapat diajarkan dan bagaimana itu bisa diajarkan dampak pada
pelaksanaan penelitian akuntansi forensik dieksplorasi.
D. Methodology
Artikel ini menggunakan tinjauan literatur yang relevan. Dalam artikel ini tidak
menjelaskan mengenai metodologi yang digunakan. Artikel ini menggunakan
objek penelitian yaitu konsep phronesis (atau kebijaksanaan praktis) sebagai
dasar untuk memandu penerapan pertimbangan profesional dalam praktek
akuntansi forensik.
E. Data and Method
Artikel ini menggunakan beberapa literatur dari peneliti-peneliti sebelumnya
yang relevan. Dari literatur yang relevan tersebut dibuatkan alur pemikirannya
sehingga menjadi sebuah perspektif atas etika utama terkait definisi akuntan
forensik yang “baik”.

17
F. Findings
Lingkungan multi-disiplin yang kompleks tempat praktek akuntan forensik
mengharuskan mereka untuk menangani masalah tidak terstruktur yang selalu
berubah yang ditandai dengan ketidakpastian fakta dan hasil. Akuntan forensik
juga sering beroperasi di bidang hukum konteks di mana mereka harus memiliki
pengetahuan yang baik tentang hukum, proses hukum dan peraturan dan regulasi
lainnya. Selain pengetahuan hukum, akuntan forensik juga diharapkan memiliki
keterampilan teknis yang kuat dalam akuntansi keuangan, penilaian, dan alat
serta proses teknis serupa. Profesi secara umum juga dianggap semakin didorong
oleh tujuan komersial dan hal ini mengancam kepercayaan publik bahwa
anggota profesi tersebut bertindak untuk kepentingan publik. Semua faktor ini
dapat mendorong akuntan forensik untuk merespons dengan mengadopsi solusi
teknis berbasis aturan yang sempit, tetapi pendekatan semacam itu membatasi
kebebasan akuntan forensik untuk menerapkan penilaian profesional mereka.
G. Conclusions
Artikel ini menunjukkan bahwa akuntan forensik dapat menumbuhkan dan
mempertahankan kualitas dan kepercayaan publik dalam layanan mereka dengan
mengadopsi pendekatan etika kebajikan untuk praktik mereka. Etika moralitas
menunjukkan bahwa akuntan forensik yang "baik" tidak hanya akan kompeten
dalam pengetahuan dan keterampilan teknis dan memiliki kebajikan moral
seperti keberanian dan pengendalian diri, tetapi yang paling penting akan
mengembangkan kebajikan dari phronesis atau kebijaksanaan praktis. Phronesis
membantu akuntan forensik untuk melakukan "hal yang benar kepada orang
yang tepat pada waktu yang tepat dengan cara yang benar untuk alasan yang
benar" (Sellman, 2012, p. 127). Etika moralitas mensyaratkan bahwa akuntan
forensik bertindak sebagai akuntan forensik yang baik akan bertindak daripada
harus mematuhi beberapa aturan universal. Mengembangkan phronesis (seperti
semua kebajikan) membutuhkan pelatihan kebiasaan di pihak akuntan forensik
yang harus belajar dari setiap pengalaman tentang strategi dan tanggapan mana
yang berhasil dan mana yang tidak.

18
H. Recommendations
Praktisi akuntansi forensik individu (dan profesi secara kolektif) dapat
meningkatkan keandalan dan relevansi bukti yang mereka hasilkan dan sajikan
dengan mengenali bahwa phronesis mengharuskan praktisi untuk
mengidentifikasi apa yang mereka ketahui dan memiliki kesadaran bahwa ada
hal-hal yang mungkin tidak mereka sadari. Dengan mengetahui keterbatasan
pengetahuan dan keterampilan mereka, praktisi dapat mengadopsi strategi yang
mengarah pada peningkatan berkelanjutan. Disarankan di sini bahwa manfaat
dari phronesis bersifat universal terlepas dari apakah akuntan forensik beroperasi
dalam common law atau sistem civil law karena menuntut penerapan tindakan
bajik dalam konteks tertentu. Akibatnya, phronesis adalah keterampilan yang
berharga bagi semua akuntan forensik.
I. Further Researchers
Tampaknya tidak ada literatur sebelumnya dalam akuntansi forensik yang
mengeksplorasi penerapan etika kebajikan dalam bidang ini. Selain itu,
meskipun etika kebajikan telah menjadi subjek beberapa penelitian sebelumnya
makalah dalam akuntansi, pentingnya phronesis sebagai dasar untuk memahami
sifat dan penerapan penilaian profesional belum ditangani.

2. CRITICAL REVIEW
Strong Points
a. Dilihat dari sisi penulisan
1. Penulis sudah menyajikan abstrak dalam artikel ini. Di mana abstrak sudah
disampaikan secara ringkas, padat, jelas serta mencakup materi yang ditulis
dalam artikel.
2. Informasi terkait publikasi pada jurnal disajikan dengan jelas yaitu nama
jurnal, volume, tanggal dan halaman.
3. Latar belakang telah dipaparkan oleh penulis sesuai dengan judul dari artikel
ini sehingga diketahui area of interest dari penulis.
4. Dalam penulisan artikel ini ketentuan sudah dipatuhi antara lain dilengkapi
dengan referensi yang ditulis berurutan berdasarkan abjad, semua artikel

19
yang dikutip referensinya sudah dicantumkan serta peneliti telah memenuhi
aturan dengan tidak mencantumkan gelar akademik.
b. Dilihat dari sisi materi/isi
1. Temuan dalam penelitian berkontribusi literatur mengenai pemahaman
tentang etika kebajikan dan terutama keutamaan “phronesis” atau
kebijaksanaan praktis yang akam membantu akuntan forensik menjaga
kepercayaan publik dan kualitas layanan mereka dan memberikan bimbingan
praktis tentang latihan penilaian profesional. Di mana identifikasi terkait
akuntan forensik “baik” belum diselidiki sampai sekarang. Literatur yang
tersedia saat ini lebih menunjukkan keunggulan dalam literatur akuntan
forensik adalah praktek logika komersial, kompetensi teknis dan risiko
kepatuhan hukum yang lambat laun merusak kemampuan akuntan forensik
untuk melatih penilaian profesional dalam situasi terstruktur yang kompleks
sehingga etika moralitas dianggap tepat untuk memenuhi tantangan ini.
2. Dalam artikel sudah dijelaskan teori yang digunakan sebagai tinjauan
literatur dalam penelitian ini baik dari teori yang digunakan maupun dari
para peneliti-peneliti sebelumnya. Penulis menjelaskan dari latar belakang
atau gambaran mengenai alasan terkait pengakuan akan kebutuhan profesi
akuntansi forensik untuk secara kolektif mengembangkan phronesis yang
akan menegakkan kembali keunggulannya dalam mempertahankan
kepercayaan publik dan kualitas dalam layanan akuntansi forensik. Penulis
menjelaskan teori terkait yang digunakan dalam menggali pandangannya
serta membuat kesimpulan yang jelas sehingga pembaca mudah memahami
maksud dari penelitiannya.
Points to be Improved
a. Dilihat dari sisi penulisan
1. Tidak ada bukti statistik tentang jumlah akuntan forensik yang selama ini
melakukan pelanggaran terkait ketentuan yang mengarah kepada definisi
akuntan forensik yang tidak “baik”. Data ini akan mempertajam penulis
dalam memberikan gambaran mengenai latar belakang penulis mengambil
pandangan mengenai akuntan forensik yang “baik”.

20
2. Dalam penulisan referensi artikel ini masih terdapat keterbatasan seperti tidak
ada referensi mengenai metode penelitian yang digunakan oleh penulis
sehingga tidak diketahui referensi yang dirujuk dalam penelitian ini.
3. Penulisan judul artikel tidak seragam dalam referensi karena masih terdapat
judul artikel yang diketik tidak menggunakan huruf miring (dalam bahasa
inggris).
b. Dilihat dari sisi materi/isi
1. Dalam penelitian ini belum dijelaskan secara dalam mengenai perlunya
mengetahui pandangan tentang pengembangan phronesis dalam
meningkatkan kompetensi profesional akuntan forensik yang nantinya akan
memperjelas definisi mengenai profesi akuntan forensik yang “baik”.
Keterbatasan ini dikarenakan penulis tidak melakukan penelitian terhadap
kajian literatur yang sudah dikumpulkan. Penulis mengumpulkan dari bukti-
bukti empiris yang dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya dalam
memberikan pandangan terkait profesi akuntan forensik yang “baik” ini.
2. Dalam artikel ini peneliti tidak memberi penjelasan mengenai cara untuk
mengolah data pada metodologi penelitian sehingga pembaca tidak
memahami dan mengerti pengujian apa yang digunakan untuk pengolahan
data.

21
REVIEW ARTIKEL NASIONAL

Judul : Pengaruh Independensi Auditor, Emotional Intelligence,


Spiritual Intelligence Terhadap Perilaku Etis Auditor dan Kinerja Auditor
Penulis : Parmin Ishak
Publikasi : ATESTASI: Jurnal Ilmiah Akuntansi, Vol. 1 No. 1 hal 85-98.
Gorontalo, September. 2018. ISSN: 2621-1505

1. GENERAL REVIEW
A. Area of Interest
Di Indonesia, isu mengenai pelanggaran etik terkait profesi akuntan berkembang
seiring dengan adanya pelanggaran etika baik yang dilakukan oleh akuntan publik,
akuntan intern, maupun akuntan pemerintah. Mengingat banyaknya pihak yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, maka dalam
penyampaiannya laporan keuangan haruslah andal dan dapat dipercaya dan tidak
menyesatkan bagi pemakainya. Persoalan independensi auditor dan maraknya
manipulasi akuntansi korporat membuat kepercayaan para pemakai laporan
keuangan auditan mulai menurun, sehingga para pemakai laporan keuangan seperti
investor dan kreditur mempertanyakan eksistensi akuntan publik sebagai pihak
independen. Dalam profesi akuntan, seorang auditor dituntut untuk memiliki
integritas, dan kejujuran agar mampu obyektif. Auditor bisa saja tidak jujur karena
mendapat honor lebih dari klien. Akuntan yang cerdas secara intelektual belum tentu
dapat memberikan kinerja yang maksimal terhadap tempat mereka bekerja, namun
akuntan yang cerdas secara emosional dan spiritual tentunya akan menampilkan
kinerja yang lebih baik untuk tempat dimana mereka bekerja. Penelitian ini bertujuan
untuk mengukur pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung perilaku etis
auditor dan kinerja auditor yang ditinjau dari independensi auditor, emotional
intelligence, dan spiritual intelligence pada Inspektorat dan BPKP Provinsi
Gorontalo.
B. Phenomena
Munculnya kasus laporan keuangan Enron Corporation yang sebelumnya dinyatakan
wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Arthur Anderson, secara

22
mengejutkan dinyatakan pailit. Kepailitan tersebut diakibatkan karena Arthur
Anderson memberikan dua jasa sekaligus, yakni sebagai auditor dan konsultan
bisnis.
C. Theoritical Foundation
Teori dasar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penjelasan kajian pustaka
dalam setiap variabel penelitian yang digunakan seperti independensi auditor,
kecerdasan emosional (emotional intelligence), dan kecerdasan spiritual (spiritual
intelligence).
D. Methodology
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuanttitatif (Quantitative Approach), melaui
prosedur analisis data dengan peralatan statistic untuk menguji hipotesis dengan
model analisis jalur.
E. Data and Method
a. Data Collection Method
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer. Populasi dalam
penelitian ini adalah auditor pemerintah pada Inspektorat Daerah Provinsi
Gorontalo dan BPKP Provinsi Gorontalo berjumlah 107 auditor. Teknik
penarikan sampel menggunakan teknik sampling total atau sensus yang
menjadikan seluruh populasi menjadi sampel, yang bertujuan untuk
menggeneralisasi kesalahan yang sangat kecil.
b. Data Analysis Method
Data penelitian dianalisis dengan melakukan uji validitas, uji reliabilitas,
Analisis data penelitian ini menggunakan analisis jalur (Path Anlisis) untuk
menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi secara langsung dan secara
tidak langsung (Riduan dan Engkos 2014). Diagram jalur ini terdiri atas tiga
persamaan struktural, di mana X1, X2, dan X3 adalah variabel eksogen dan Y
serta Z adalah variabel endogen.
F. Findings
Hasil perhitungan pengujian pertama (sub struktur 1), secara simultan variabel
independensi auditor, emotional intelligence dan spiritual intelligence mampu
memberikan pengaruh secara simultan terhadap perilaku etis audit. Secara parsial
hasil pengujian hipotesis pertama (H1) dinyatakan bahwa independensi auditor

23
berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku etis auditor. Hasil pengujian
hipotesis kedua (H2) dinyatakan bahwa emotional intelligence berpengaruh secara
signifikan terhadap perilaku etis auditor. Sedangkan hasil pengujian hipotesis ketiga
(H3 ) dinyatakan bahwa spiritual intelligence tidak mampu memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap perilaku etis auditor dan memberikan efek negatif atau
memberikan pengaruh yang negatif. Hasil pengujian kedua (Sub struktur 2)
memberikan gambaran bahwa independensi audit, emotional intelligence, spiritual
intelligence dan perilaku etis auditor secara simultan dapat memberikan pengaruh
terhdap kinerja auditor. Namun secara parsial hasil pengujian koefisien jalur sub
struktur 2, ditemukan bahwa (H4) variabel independensi tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja auditor. Sedangkan untuk variabel spiritual intelligence
(H6) diperoleh hasil yang signifikan terhadap kinerja auditor dan pengaruhnya
positif, artinya semakin tinggi kecerdasan spiritual dari seorang auditor maka akan
memberikan kinerja audit yang sangat baik. Hasil pengujian hipotesis (H7)
dinyatakan bahwa perilaku etis auditor berpengaruh secara signifikan terhadap
kinerja audit. Artinya semakin baik perilaku etis yang ditunjukkan oleh auditor maka
kinerja auditor juga akan semakin meningkat.
G. Conclusions
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa independensi auditor, emotional
intelligence dan spiritual intelligence berpengaruh secara simultan terhadap perilaku
etis auditor. Secara parsial ditemukan bahwa variabel independensi auditor dan
emotional intelligence berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku etis auditor,
namun variabel spiritual intelligence berpengaruh negatif terhadap perilaku etis
auditor. Hal ini disebabkan karena kurangnya kepedulian sosial yang terjadi pada
auditor. Hasil pengujian kedua dalam penelitian ini, menemukan bahwa variabel
independensi auditor, emotional intelligence, spiritual intelligence dan perilaku etis
auditor memberikan pengaruh secara simultan terhadap kinerja auditor. Namun
secara parsial penelitian ini menemukan bahwa variabel independensi auditor dan
emotional intelligence tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja auditor.
Sedangkan variabel spiritual intelligence dan perilaku etis auditor berpengaruh
signifikan terhadap kinerja auditor.

24
H. Recommendations
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman baru bagi
para auditor agar dapat meningkatkan kinerjanya, ditinjau dari sisi spritualnya
utamanya adalah pada aspek kepedulian sesama yang mampu mendorong
terciptanya kinerja audit yang baik.
I. Further Researches
Penelitian selanjutnya diharapkan agar melakukan metode wawancara dari beberapa
auditor.

2. CRITICAL REVIEW
Strong Points
a. Dilihat dari sisi penulisan
1. Peneliti sudah menjelaskan point-point penting yang mencakup bagian dari
penelitan tersebut, sehingga pembaca lebih mudah memahami isi dari
penelitian tersebut.
2. Penulisan referensi sudah sesuai dengan tata cara penulisan daftar referensi
yang benar.
b. Dilihat dari sisi materi/isi
1. Topik yang dibahas dalam penelitian ini terbilang cukup baru karena dilihat
dari penjelasan peneliti yang dijelaskan dalam penelitian ini dikatakan bahwa
belum pernah ada penelitian yang menggabungkan variabel independensi,
kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap perilaku etis auditor
dan dampaknya terhadap kinerja auditor.
2. Materi/isi dan fenomena yang disajikan dalam penelitian ini sudah sesuai
dengan topik yang diangkat dalam penelitian.
3. Pembahasan dari hasil penelitian sudah dijelaskan dengan baik oleh peneliti
sehingga pembaca dapat memahami hasil dari penelitian tersebut.
Points to be Improved
a. Dilihat dari sisi penulisan
1. Terdapat kata-kata dan tanda baca yang masih kurang tepat yang digunakan
dalam penulisannya.
b. Dilihat dari sisi materi/isi

25
1. Fenomena yang dimunculkan dalam penelitian ini kurang dijelaskan secara
detail.
2. Teori utama dalam penelitian ini tidak dicantumkan.
3. Research GAP dan research question dalam penelitian ini tidak dicantumkan.
4. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini tidak
dijelaskan secara lebih rinci, hanya dijelaskan secara singkat di bagian
abstrak.
5. Keterbatasan dalam penelitian ini tidak dijelaskan secara detail oleh peneliti.

26
Pacific Accounting Review
What is the ‘good’ forensic accountant? A virtue ethics perspective
Bryan Howieson,
Article information:
To cite this document:
Bryan Howieson, (2018) "What is the ‘good’ forensic accountant? A virtue ethics perspective", Pacific
Accounting Review, Vol. 30 Issue: 2, pp.155-167, https://doi.org/10.1108/PAR-01-2017-0005
Permanent link to this document:
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

https://doi.org/10.1108/PAR-01-2017-0005
Downloaded on: 02 July 2018, At: 12:01 (PT)
References: this document contains references to 37 other documents.
To copy this document: permissions@emeraldinsight.com
The fulltext of this document has been downloaded 99 times since 2018*
Users who downloaded this article also downloaded:
(2017),"Forensic accounting: a blend of knowledge", Journal of Financial Regulation and Compliance,
Vol. 25 Iss 1 pp. 73-85 <a href="https://doi.org/10.1108/JFRC-05-2016-0043">https://doi.org/10.1108/
JFRC-05-2016-0043</a>
(2018),"Exploring evidence to develop a nomenclature for forensic accounting", Pacific Accounting
Review, Vol. 30 Iss 2 pp. 135-154 <a href="https://doi.org/10.1108/PAR-12-2016-0117">https://
doi.org/10.1108/PAR-12-2016-0117</a>

Access to this document was granted through an Emerald subscription provided by emerald-
srm:512739 []
For Authors
If you would like to write for this, or any other Emerald publication, then please use our Emerald
for Authors service information about how to choose which publication to write for and submission
guidelines are available for all. Please visit www.emeraldinsight.com/authors for more information.
About Emerald www.emeraldinsight.com
Emerald is a global publisher linking research and practice to the benefit of society. The company
manages a portfolio of more than 290 journals and over 2,350 books and book series volumes, as
well as providing an extensive range of online products and additional customer resources and
services.
Emerald is both COUNTER 4 and TRANSFER compliant. The organization is a partner of the
Committee on Publication Ethics (COPE) and also works with Portico and the LOCKSS initiative for
digital archive preservation.
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

*Related content and download information correct at time of download.


The current issue and full text archive of this journal is available on Emerald Insight at:
www.emeraldinsight.com/0114-0582.htm

What is the ‘good’ forensic Virtue ethics


perspective
accountant? A virtue
ethics perspective
Bryan Howieson 155
Business School, University of Adelaide, Adelaide, Australia

Abstract
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

Purpose – The aim of this paper is to explore how virtue ethics might inform our understanding about what
constitutes “good” practice in forensic accounting. In particular, the paper explores the concept of phronesis
(or practical wisdom) as a basis for guiding the application of professional judgement in forensic accounting
practice.
Design/methodology/approach – The paper draws on a review of relevant literature.
Findings – Prior literature has identified a number of technical and personal characteristics and attributes
that are desirable in forensic accounting practitioners. Although being ethical is identified as an important
characteristic, the question of what constitutes a “good” forensic accountant has not hitherto been
investigated. Because of the profession’s multi-disciplinary and highly technical nature, forensic accountants
are significantly at risk of conflating ethics with compliance with the law. The paper suggests that an
understanding of virtue ethics and especially the virtue of “phronesis” or practical wisdom will help forensic
accountants maintain public confidence and quality in their services and provide practical guidance on the
exercise of professional judgement.
Practical implications – The paper suggests that the primacy currently given in forensic accounting
literature and practice to a commercial logic, technical competencies and legal compliance risks damaging the
professional standing of forensic accountants and, over time, reduces the ability of forensic accountants to
exercise professional judgement in complex unstructured situations. Virtue ethics can act as a useful counter
point to these threats.
Social implications – A recognition of the need for the forensic accounting profession to collectively
develop phronesis would re-establish the primacy of the profession’s public interest logic and maintain public
trust and quality in forensic accounting services.
Originality/value – There appears to be no prior literature in forensic accounting which explores the
application of virtue ethics in this field. In addition, although virtue ethics has been the subject of some prior
papers in accounting per se, the importance of phronesis as a basis for understanding the nature and
application of professional judgement has not been addressed.
Keywords Virtue ethics, Forensic accounting, Phronesis, Professional judgement
Paper type Viewpoint

Introduction
What is the “good” forensic accountant? This short but complex question could be debated
from various perspectives such as technical competence, knowledge or ethical behaviour.
These perspectives are not, of course, independent – the ethical forensic accountant will,
among other things, be technically competent. Often, however, the forensic accounting
literature tends to treat the answer to this question in a piecemeal fashion. Surveys of the
Pacific Accounting Review
Vol. 30 No. 2, 2018
pp. 155-167
The author wishes to thank Michael Jones and two anonymous referees for their insightful comments © Emerald Publishing Limited
0114-0582
and feedback. DOI 10.1108/PAR-01-2017-0005
PAR desired attributes of forensic accountants usually concentrate on the necessary technical
30,2 knowledge and application skills with scant attention to the ethical dimensions of what it
means to be a professional forensic accountant (DiGabriele, 2008, Davis et al., 2010, Van
Akkeren et al., 2013). For instance, in their survey of CPAs, attorneys and academics for the
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), Davis et al. (2010) identify that
the second or third highest ranked essential trait or characteristic of forensic accountants is
156 that they should be ethical but, in the survey’s list of core forensic accounting skills, ethics is
notable by its absence. As noted below, many papers in forensic accounting also seem to
conflate ethics with the law and codes of conduct. Such a body of literature risks conveying
the image that ethics is in some way downgraded or simply assumed in forensic accounting.
Rather, a conscious and continuous integration of ethics into all aspects of professional life is
essential for promoting excellence in forensic accounting practice.
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

This paper seeks to demonstrate how ethics can be integrated into forensic accounting
practice by exploring what it means to be a “good”[1] forensic accountant through the lens of
Aristotle’s virtue ethics (Aristotle, 1953). It will be argued that an understanding of what
constitutes the virtuous forensic accountant provides useful and practical guidance to
forensic accounting practitioners in the delivery of their services and it offers insights for the
education of both neophyte and experienced practitioners. In particular, the paper discusses
the importance of the need for forensic accountants to develop the key virtue of phronesis
(phronēsis), or “practical wisdom”[2], if they wish to achieve excellence in their profession. It
is acknowledged that much of the commentary that follows could apply equally to other
accounting sub-disciplines but the focus here reflects the forensic accounting context of this
special issue of the journal. There have been prior discussions of virtue ethics in the
accounting literature before (Doucet and Doucet, 2004, Howieson, 2005, Mintz, 2006,
Howieson, 2013, West, 2016) but I am not aware of any applications to forensic accounting.
More importantly, the application of the concept of phronesis has not been adequately
explored in the prior accounting literature (see, for instance, Lehman (2014) where the
application of phronesis is primarily limited to its implications for the accounting academy,
rather than forensic accounting practice).
In this paper, phronesis is viewed as the equivalent to the forensic accountant’s exercise
of professional judgement. Although it is an ancient concept, a reinstatement of the central
role of phronesis in the practice of forensic accounting (and other) professionals is more
timely than ever. Kinsella and Pitman (2012a), Sellman (2012) and Lail et al. (2015), for
example, have all argued that the practice and education of members of the professions have
increasingly suffered from a growing tendency towards a culture of instrumentalism and an
overemphasis on the application of rules and the development of technical “competencies”
(so-called skills-based learning). Instrumentalism is driven by the increasing dominance of a
commercial logic that permeates professional accounting practices (Greenwood and
Suddaby, 2006, Lander et al., 2013) and has come at the expense of one of the defining
characteristics of professionals, namely the exercise of professional judgement or, in other
words, phronesis. Lail et al. (2015, p. 8) suggest that the common regulatory response to
external shocks such as high profile corporate scandals is yet more “narrow, compliance-
focused legalism” which “perpetuate[s] the illusion of control [. . .] without necessarily
inducing real change” in the moral character of professionals. An increasing commercialism
of the professions (Lail et al., 2015), including accounting, and demands that universities
produce technically “competent” graduates (Sellman, 2012) threaten the profession’s and
community’s means of producing people who can effectively exercise professional
judgement. As Sellman (2012, p. 128) warns:
Thus, we have a modern paradox. Current technicist-driven institutions expect competent Virtue ethics
practitioners but are unwilling to provide the environments in which competent practice can
thrive. This failure to invest in suitable practice and educational environments represents a
perspective
myopic perspective blind to the detrimental long-term effects of short-term efficiency gains; but
just so long as the political imperatives continue to drive the cost-cutting consequences of policy
dictates, so the pool of professionals aspiring toward phronesis [(professional judgement)] will
diminish. If the triumph of technical rationality becomes complete, then the danger to which
Schön (1983) was alerting us will leave us with few competent practitioners, and, as a result, we 157
will all be impoverished.
The remainder of this paper proceeds by first exploring why forensic accounting is
particularly exposed to the risk of adopting legalist and instrumentalist perspectives as a
basis for practitioner behaviour and education. Virtue ethics, and in particular, the virtue of
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

phronesis is then briefly described followed by a discussion of how phronesis is relevant to


forensic accountants. The questions of whether phronesis can be taught and how it might
impact on the conduct of forensic accounting research are then explored. Finally, some
concluding observations are offered.

Law, ethics and forensic accounting


As a professional, the forensic accountant is expected to act ethically and in the public
interest. Van Akkeren et al. (2016) have recognised the ethical complexities that challenge
forensic accountants because of the multi-disciplinary nature of their services. For example,
out of all the sub-disciplines of accounting, the practice of forensic accounting is the most
intertwined with law (Van Akkeren et al., 2016). Not only must forensic accountants have
knowledge of relevant laws but they work closely with legal practitioners, gather evidence
and act as expert witnesses in legal proceedings. Several studies investigating the required
skills of forensic accountants have repeatedly stressed the importance to forensic
accountants of having considerable knowledge of relevant laws and competence in legal
processes such as the gathering and presentation of evidence (DiGabriele, 2008, Davis et al.,
2010). Others have identified the legal and regulatory environment as essential components
of forensic accounting education programs (Curtis, 2008). The interweaving of so much of
forensic accounting practice with the law, combined with the growth in the influence of
commercial instrumentalism and the demand for technical competencies, creates the real
risk that the behaviour of forensic accountants becomes dominated by a focus upon
compliance with legal and technical rules. That this outcome may already be the case can be
evidenced by the forensic accounting literature. As an illustration, in his description of a
model curriculum for a course in forensic accounting, Curtis (2008) devotes approximately
eight of the paper’s nine pages to training in legal rules and process. Approximately half a
page is spent on ethics and even that discussion is primarily rules-based, as it recommends
that forensic accountants should be educated to avoid “a violation of the corporate code of
conduct or a crime” (Curtis, 2008, p. 543). Of course, too much should not be made of one
example but a reading of the various studies and surveys into the recommended attributes
of forensic accountants reveals a heavy weighting given to the perceived importance of rules
in governing the behaviour of forensic accountants (DiGabriele, 2008, Davis et al., 2010, Van
Akkeren et al., 2013)[3].
Despite the importance of rules (the law, technical standards) and codes of conduct as
useful statements of community and professional expectations, they cannot be the sole
arbiter of what constitutes a “good” forensic accountant. There are a number of reasons for
this including the following:
PAR  Rules are a feature of all communities, including corrupt ones. As Russell (1963)
30,2 noted, even bands of marauding pirates have a code of conduct about how a “good”
pirate should behave.
 Rules-based thinking can be dogmatic and consequently too inflexible to deal with
the uncertainty and ambiguity faced in the context of many professional services.
 Although rules appear objective because they are derived from some authority
158 external to the individual, they still need to be interpreted and this requires the
exercise of judgement.
 If in a given situation a rule is not available or its interpretation is ambiguous, a
rules-based thinker can be locked in a form of moral paralysis. A similar situation
arises when two or more rules have conflicting requirements (Doucet and Doucet,
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

2004).
 As the newspapers regularly remind us, the existence of rules does not guarantee
compliance with them[4].

The limitations of rules-based ethics aside, some commentators have suggested that there
are more fundamental problems that challenge professional ethics. Lail et al. (2015) argue
that the damage to public trust in the professions (O’Neill, 2002) is the result of a change in
the professional motives and a loss of professional identity away from a public service logic
to a commercial logic[5]. Jennings (1991) has argued that the ethical challenges facing
professionals are not really about whether the professionals know what is actually right or
wrong but rather getting them to embrace a disposition to act:
(T)he problem is more one of how to create the commitment to the right thing within the psyches
and self-identities of moral agents [. . .]. Professional ethics has to address the challenge of
teaching professionals how to see the right, and it also has to figure out how to motivate the right
conduct [. . .]. Talking about taking bribes is really not an interesting ethical question because
there is no interesting argument in favor of taking bribes. There must be more to professional
ethics than that.
How then are forensic accountants to develop the appropriate sorts of ethical dispositions
that would promote public trust and excellence in their services? It is suggested here that
virtue ethics offers an answer to this question.

Virtue ethics
Virtue ethics is traced to Aristotle (1953) and has in relatively recent times been rediscovered
with modern proponents and interpreters including Foot (1978) and MacIntyre (2007).
Aristotle viewed ethics as being about the development of character-traits and dispositions
(“virtues”) that allowed human beings to achieve eudaimonia – that is, virtues are those
characteristics that allow humans to flourish or achieve excellence (Oakley and Cocking,
2001)[6]. The focus in virtue ethics is upon the character of the moral agent rather than, for
example, compliance with some external rule. Rather than asking the question, “What
should I do?” virtue ethics argues that the moral agent should ask, “What kind of person
should I be?” The answer is that the moral agent should be of good and virtuous character
who acts in a way that is consistent with that character. In other words, a good person is one
who acts consistently with virtues that promote human flourishing or excellence. More
importantly, the moral agent acts in this way because it is the “right” way to act. The
virtuous person is motivated to achieve excellence because eudamonia is intrinsically
valued as the ultimate goal of the “good life”. As virtue ethics is focused on the actions of Virtue ethics
moral agents, it is context specific: perspective
The competent practitioner aspires toward the Aristotelean ideal of doing the right thing to the
right person at the right time in the right way and for the right reason (Sellman, 2012, p. 127).
For Aristotle, people are not born virtuous but rather they become virtuous through habitual
practice and repetition. It is only by practising the virtues that they become integral to a
person’s character which in turn will lead to more virtuous behaviour (Cassidy, 2006). 159
Aristotle (1953, I.13) identified two categories of virtues, intellectual virtues (including
theoretical wisdom, technical knowledge and practical wisdom) and moral virtues (including
generosity, courage, truthfulness and self-control)[7]. The virtuous person is one who can act
in a given situation in a way that best applies both the intellectual and moral virtues.
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

Although it is one of Aristotle’s intellectual virtues, phronesis is “a special virtue” (Sellman,


2012, p. 115) because it guides the virtuous person in how to best combine the intellectual
and moral virtues in each specific situation. Phronesis is “excellence in deliberation” (Prior,
1991, p. 179) and as described by Kinsella and Pitman (2012a, p. 2) it:
[. . .] is an intellectual virtue that implies ethics. It involves deliberation that is based on values,
concerned with practical judgement, and informed by reflection. It is pragmatic, variable, context-
dependent, and orientated toward action.

The virtues of forensic accounting


With its focus on the context-specific acts of moral agents, virtue ethics has much to offer
forensic accountants. DiGabriele (2008) has noted that the practice of forensic accounting
differs from many other sub-disciplines in accounting because the diversity of services and
situations encountered by forensic accountants (Van Akkeren et al., 2013) more often
requires a flexible, improvised approach to decision-making and problem-solving rather
than some type of structured plan. The focus in virtue ethics on identifying virtues
(characteristics or attributes) that promote excellence is also directly relevant and
meaningful to all professionals.
Prior literature in forensic accounting has explored the nature of forensic accountants’
intellectual and moral virtues, although the discussion of these virtues has usually been
couched in language such as “work-based skills” and “personal attributes” (Van Akkeren
et al., 2013). Studies which have sought to identify the intellectual and moral virtues of
forensic accountants include DiGabriele (2008), Davis et al. (2010), Van Akkeren et al. (2013)
and Van Akkeren et al. (2016). In their survey of forensic accounting in Australia, Van
Akkeren et al. (2013) found the top five most essential work-based skills to be
communication, critical thinking, interpersonal skills, technical accounting skills and
attention to detail. The top five most desired personal attributes of forensic accountants
were interpersonal, analytical, inquisitive, intelligent/intuitive and engaging/confident. In
the USA, the survey conducted by Davis et al. (2010) found that the top five “core skills”
ranked by forensic accounting CPAs were critical/strategic thinking, effective written
communication, effective oral communication, investigative abilities and investigative
intuitiveness. The same survey found the top five desired “essential traits and
characteristics” of forensic accountants as ranked by CPAs to be analytical, inquisitive,
detail-oriented and ethical (both equally ranked), scepticism and intuitive. An additional set
of “enhanced skills” was also identified with a strong emphasis on technical knowledge and
capabilities including analysing and interpreting financial statements, interviewing skills,
fraud detection, testifying and general knowledge of rules of evidence and civil procedure.
PAR Not surprisingly, findings such as these provide some evidence that the perceived
30,2 categories of work-based attributes and personal attributes of forensic accountants bear a
correspondence to Aristotle’s characterisation of the virtues as intellectual and moral.
However, these listings of forensic accounting virtues are usually presented from an
instrumentalist perspective in which they are viewed as necessary means for allowing
forensic accountants to provide their services. This is because the place of phronesis in
160 forensic accounting is left unclear and at best implicit. For example, it is possible that the
skill of “critical thinking” that is identified in these surveys may be akin to phronesis but it
is not possible to tell as these skills are left largely undefined and unexplained. In the Davis
et al. (2010) study, it is tempting to perceive the core forensic accounting skill of
“investigative intuitiveness” as being equivalent to phronesis but the term is never
explained in that paper.
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

If the forensic accounting profession is to build and maintain public trust in its services,
if it is to improve the education of its members, and if it is to promote excellence in its
practices, then it will need to move beyond the rather fuzzy discussion of its intellectual and
moral virtues that is currently found in the relevant literature. In particular, a more explicit
recognition and explanation of phronesis (practical wisdom) would be helpful in promoting
the flourishing of the profession because it will increase forensic accountants’ awareness of
the need to combine both the intellectual and moral virtues of forensic accounting rather
than, for example, overemphasise, through the demands of commercialism, the technical
(intellectual) virtues at the expense of the public interest[8]. As noted earlier, phronesis, as a
form of professional judgement, sets professions apart from other occupations. The exercise
of professional judgement could be improved if forensic accountants engaged in an explicit
conversation about what professional judgement is and how it is developed and applied.
This would be helpful too to educators who could develop pedagogical approaches that
might better prepare neophyte forensic accountants for professional practice (both in terms
of what pedagogical techniques might be adopted and in acknowledging the limits of the
classroom setting as a context for effectively teaching professional judgement (phronesis)).

Phronesis and forensic accounting


Van Akkeren et al. (2016) have noted that forensic accountants typically face complex work
environments. They must work with other types of professionals, investigate and analyse
incomplete data and thus deal with uncertainty using improvised approaches to problem-
solving (DiGabriele, 2008). Resolving complex scenarios requires more than slavish
adherence to technical conventions. Forensic accounting professionals respond by
developing their professional judgement through an on-going process of self-reflection and
self-awareness (Schön, 1983). Schön (1983) recognised that professionals identify and apply
solutions to complex, unstructured problems not only by using relevant technical
knowledge but also they draw upon what they have learned from experiencing similar
situations in the past. The recognition that professionals develop their professional
judgement by conscious reflection on their prior experiences sits well with Aristotle’s claim
that phronesis or practical wisdom is acquired through habitual training and reflection on
prior acts (Aristotle, 1953, II.1):
The craftsman has to learn how to make things, but he learns in the process of making them. So
men become builders by building, harp players by playing the harp. By a similar process we
become just by performing just actions, temperate by performing temperate actions, brave by
performing brave actions.
Sellman (2012) identifies an interesting, and I would suggest often overlooked, implication of Virtue ethics
a consideration of the role of phronesis in professional practice. The various surveys of perspective
forensic accountants’ skills and attributes concentrate on what types of (technical)
knowledge the forensic accountant needs to possess. However, Sellman (2012) notes that a
professional who has acquired phronesis and who is consequently continuously reflective
and self-aware will also recognise what it is that she doesn’t know. That is, she will be aware
of her own limitations and be committed to finding ways to overcome her ignorance and
reduce the limitations in her skill set. The forensic accountant who has nurtured phronesis 161
will thus avoid complacency and be constantly on a path to self-improvement and excellence
in forensic accounting practices.
Kemmis (2012) extends these ideas to explore the importance of phronesis in contexts of
uncertainty (as regularly faced by forensic accountants[9]). He notes that professionals bring
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

to each new uncertain problem what they have learned from the outcomes of prior problems.
In the face of each new problem with its attendant uncertainties, the situation is unique and
so cannot be easily resolved by some sort of standardised solution or method. The forensic
accountant must deliberate as to what the nature of the problem is and, based on what
worked or didn’t work in the past, derive a set of actions in response. Kemmis (2012, p. 155)
observes that:
(T)he wise are aware and acknowledge that they must act in uncertainty. What distinguishes
these wise people from others is that, more often than not, they avoid both haste and indecision,
both excitability and detachment, and they act as best they can for the good (not just in ways that
are convenient or self-serving). What also distinguishes the action of the wise is that they act in
ways that avoid some of the traps and pitfalls that less experienced people do not see—especially
if the less experienced are misled by appearances so that a situation appears to be of one sort, but
turns out to have other faces that may be more important or involve trickier judgements about
what action is best to take.
Learning from experience requires the forensic accountant to actively reflect on those
experiences, to be open to new experiences and to have a willingness to accept that each
situation will be different. Kemmis (2012) acknowledges that the development of phronesis
will not, of course, remove uncertainty or equip the forensic accountant with all the
necessary attributes to confront future challenges but it will create a readiness in the
forensic accountant to take action in situations of uncertainty and to exploit what has been
learnt from experience. Developing and promoting greater awareness of phronesis has
important implications for the teaching, research and practice of forensic accounting and
these implications are explored below.

Can phronesis be taught?


The discussion above indicated that phronesis develops through a habitual process of self-
reflection and self-awareness associated with a forensic accountant’s experiences in practice.
Aristotle held to the belief that virtues are acquired through training by performing virtuous
acts that would be performed by virtuous people. As Prior (1991, p. 157) observes, “if I wish
to become virtuous, I must find a virtuous person and imitate his actions”. Kemmis (2012) is
of the view that phronesis is something that can only be acquired by experience. He states
that it can’t be taught or understood through “book knowledge” but he is prepared to
concede that it can be learned indirectly by providing opportunities for professionals to
learn from each other. All of this suggests that mentors and role models are an important
means by which phronesis can be inculcated into forensic accountants. All current members
of the forensic accounting profession thus have a responsibility to actively and
systematically mentor their colleagues.
PAR Among accounting academics, Melé (2005) and Mintz (2006) for example have argued
30,2 that ethical education in accounting should incorporate pedagogical activities such as case
studies and reflective journals that would expose students to phronesis. Howieson (2005), in
an auditing context, has argued that some degree of phronesis can be developed in students
and professionals by training them in the practical skills of individual, organisational and
professional values clarification, decision-making and organisational policy setting. Such
162 efforts should be encouraged, as they may be helpful in sensitising students to the fact that
forensic accounting practice is not simply the application of technical rules and algorithmic
processes. However, the abstract nature of the classroom setting must be acknowledged as
always acting as a notable limitation on the ability of universities to expose students to the
lessons of practical experience (Howieson et al., 2014). Nonetheless, as implied by Melé
(2005), academics can act as ethical role models in that their behaviour sends signals to
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

students that encourage and reinforce ethical motivations and dispositions.

Phronesis and forensic accounting research


Stone and Miller (2012) are critical of the dominance of large-scale quantitative research
methods within the accounting academy. They fear that this dominant body of research is
inadequate for providing research that is relevant and insightful for the purposes of
understanding and improving forensic accounting practice. They explicitly promote the
view that researchers should adopt a phronetic approach to the acquisition of knowledge
when researching forensic accounting issues. This is because they believe that no one
financial fraud[10] is like another and that each fraud must be understood within its
particular context, thus making forensic accounting issues less amenable to the application
of large scale quantitative methods whose findings reflect the average. Consequently, just as
virtue ethics demands that ethical behaviour must be seen within context, Stone and Miller
(2012) argue that forensic accounting researchers must adopt methods that reflect the
context-specific circumstances of forensic accounting practice.

Phronesis and the forensic accounting profession


With its focus upon the virtues and dispositions of the moral agent, virtue theory and
phronesis may appear to have relevance only to individuals but, in the context of a
profession such as forensic accounting, there are collective considerations as well. A
profession’s claim to status is built on public trust that the members of that profession will
act in the public interest, not the members’ self-interest. Virtue ethics is predicated on the
need for a moral agent to act for the “right” reasons, that is, to act for virtuous reasons, and
so serves as a reminder to forensic accountants that their ultimate ethical obligations go
beyond commercial objectives.
As Jennings (1991) and Lail et al. (2015) have identified, the difficulty in promoting public
trust in the professions is a problem of how to motivate professionals to commit to acting
virtuously. This is a particularly challenging issue in an environment where a commercial
logic dominates the work of forensic accountants, accounting training emphasises the
acquisition of technical competencies and skills and forensic accountants operate in a multi-
disciplinary context in which compliance with laws and legal process is necessary. Kemmis
(2012) suggests that a collective phronesis is possible within a profession but it requires the
professional community to commit itself to good practice. Public confidence in the forensic
accounting profession can only be achieved, for instance, if its members publicly
demonstrate their commitment to excellence rather than relying on references to codes of
conduct. It is possible to think of self-interested reasons why the forensic accounting
profession might commit itself to phronesis – for example, increased quality in services can
lead to higher economic and social rewards – but this would be inconsistent with virtue Virtue ethics
ethics because the “good” actions are undertaken for the profession’s self-interest rather perspective
than because the profession intrinsically wanted to do the right thing (MacIntyre, 2007).
Commitment to a collective phronesis will require the forensic accounting community to
engage in internal and public debate about its responsibilities and accountabilities. Kinsella
and Pitman (2012b) suggest this requires an epistemic community[11] with shared values,
goals and ideals. As a still emerging sub-discipline within accounting[12], leadership by
senior members of the forensic accounting community may be required to develop an 163
epistemic community of forensic accountants.

Conclusions
The complex, multi-disciplinary environment in which forensic accountants practise
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

requires them to deal with ever changing unstructured problems that are characterised by
uncertainty of facts and outcomes. Forensic accountants also frequently operate in legal
contexts in which they must possess a sound knowledge of laws, legal process and other
rules and regulations. In addition to legal knowledge, forensic accountants are also expected
to have strong technical skills in financial accounting, valuation and similar technical tools
and processes. The professions more generally have also been perceived to be increasingly
driven by commercial objectives and this has in turn threatened public confidence that the
members of those professions act in the public interest. All of these factors can encourage
forensic accountants to respond by adopting narrow rules-based technical solutions, but
such an approach restricts the freedom of forensic accountants to apply their professional
judgement.
This paper suggests that forensic accountants can grow and maintain the quality of and
public confidence in their services by adopting a virtue ethics approach to their practices.
Virtue ethics suggests that the “good” forensic accountant will not only be competent in
technical knowledge and skills and possess moral virtues such as courage and self-control
but, most importantly will develop the virtue of phronesis or practical wisdom. Phronesis
assists the forensic accountant to do “the right thing to the right person at the right time in
the right way for the right reason” (Sellman, 2012, p. 127). Virtue ethics requires that the
forensic accountant acts as the virtuous forensic accountant would act rather than
necessarily complying with some universal rule. Developing phronesis (like all virtues)
requires habitual training on the part of the forensic accountant who must learn from each
experience about which strategies and responses were successful and which were not. The
individual forensic accounting practitioner (and the profession collectively) can improve the
reliability and relevance of the evidence they generate and present by recognising that
phronesis requires practitioners to identify what they know and to have an awareness that
there are things about which they may be unaware. By knowing the limitations of their
knowledge and skills, practitioners can adopt strategies that lead to continuous
improvement. It is suggested here that the benefits of phronesis are universal irrespective of
whether the forensic accountant operates in a common law or civil law system because it
demands the application of virtuous acts within a specific context. Consequently, phronesis
is a valuable skill for all forensic accountants.
Kinsella and Pitman (2012b, p. 170) conclude that:
Phronesis provides a language and a vision for practice that resists a passive acquiescence to the
discourses of professional life that are increasingly instrumentalist, technicist, and managerial.
The professional is not simply a technician; rather, the professional is charged with the tasks of
making complex interpretive judgements and taking action amidst uncertain practice situations,
and of attending to the ruptures and disruptions of practice, as spaces for learning and for
PAR professional development. Rather than dwelling in despair about the impossible binds in which
practitioners find themselves, we propose that practitioners and professional disciplines face the
30,2 complex and uncertain conditions of practice and embrace phronesis as a complement to
[technical knowledge and rules]. Phronesis is a concept of interest, and of hope, for elaborating
current conceptions of professional knowledge and for advancing an approach to practice in the
professions that seeks to fill a void in current practices—an approach that is felt as a morally
informed guiding force oriented toward a wiser path.
164
If these benefits are to be achieved in what is still an emerging sub-discipline in accounting,
forensic accounting needs to establish an epistemic community which is committed to a
common phronesis of professional practice. Such a community would develop education
programs in forensic accounting that go beyond the teaching of laws, rules and technique
and equip forensic accountants with skills in the application and evaluation of data and
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

practices within ambiguous contexts. As previously mentioned, this would involve the
development of skills in reflection such as personal and professional values clarification. As
the classroom is inherently limited in its ability to capture the diverse and complex contexts
of the workplace, internships and work-based learning should have a central place in the
education of forensic accountants and require experienced mentors in both universities and
workplace learning. Forensic accounting education programs can be informed by a
phronetic-based research agenda that provides a platform for evidence-based research that
can also improve forensic accounting practice. This has been demonstrated in other
accounting contexts such as auditing (Howieson, 2013).
Strong leadership will be required if forensic accounting education, research and practice
are to embrace phronesis. Professional accounting associations can play an important role in
the establishment and promotion of a community of forensic accountants because their
public status lends authority and they already have an infrastructure for education and the
maintenance of quality. This is particularly true in countries such as Australia and New
Zealand where the collective identity of the forensic accounting profession is still embryonic
relative, for example, to that in the USA. It is anticipated that the increasing demand for
forensic accounting services will provide the impetus for the profession to embrace
phronesis as a means of demonstrating a commitment to serving the public interest.

Notes
1. To Aristotle, the term “good” is synonymous with “ethical”, as his Virtue Ethics approach is
based, in part, on the notion that being ethical means that one acts as a good (or excellent) person
would act.
2. Phronēsis has often been translated as “prudence” (Pieper, 1965) but because that term has a
specialised, if disputed, meaning in the accounting literature, it is not used in this paper to avoid
the possibility of confusing the reader.
3. A study by Adams et al. (1995) provides some evidence that accountants’ ethical decisions may
be dominated by a desire to comply with their professional code of conduct even when it conflicts
with their own moral position.
4. This has been a problem since time immemorial. Mawer (1926, p. 79) observed, for instance, that
in the Middle Ages “the Norsemen were much better at making constitutions and enacting laws
than they were at observing them when instituted, and the condition of Iceland has been vividly
if roughly summarized as one of ‘all law and no government’”.
5. Wyatt (2004) has made this argument in the context of the accounting profession.
6. See Nagel (1980) for a discussion regarding the nature of eudaimonia.
7. See Prior (1991, Chapter 4) for a more detailed description of Aristotle’s intellectual and moral Virtue ethics
virtues. perspective
8. Aristotle was keen to emphasise the role of phronesis as a means to simultaneously integrate the
intellectual and moral virtues. The technically competent but morally bankrupt forensic
accountant is unethical but so too is the well-meaning but technically incompetent forensic
accountant who is unable to deliver on her “good” objectives.
9. Stone and Miller (2012, p. 56, emphasis in original) note that most financial frauds occur “in a 165
new, unique and particular context”.
10. Stone and Miller (2012) write only within the context of financial fraud but their general
argument regarding the context-specific nature of much forensic accounting practices could be
extended to other forensic accounting contexts such as the conduct of valuations or the
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

presentation of expert evidence.


11. An epistemic community is defined as “a network of professionals with recognized expertise and
competence in a particular domain and an authoritative claim to policy-relevant knowledge
within that domain or issue-area. Although an epistemic community may consist of professionals
from a variety of disciplines and backgrounds, they have (1) a shared set of normative and
principled beliefs, which provide a value-based rationale for the social action of community
members; (2) shared causal beliefs, which are derived from their analysis of practices leading or
contributing to a central set of problems in their domain and which then serve as the basis for
elucidating the multiple linkages between possible policy actions and desired outcomes;
(3) shared notions of validity - that is, intersubjective, internally defined criteria for weighing and
validating knowledge in the domain of their expertise; and (4) a common policy enterprise - that
is, a set of common practices associated with a set of problems to which their professional
competence is directed, presumably out of the conviction that human welfare will be enhanced as
a consequence” (Haas, 1992, p. 3).
12. In Australia, for instance, there is no formal identifiable forensic accounting qualification or
certification. This may be one factor that inhibits the development of an epistemic community of
like-minded forensic accountants.

References
Adams, B.L., Malone, F.L. and James, W. (1995), “Confidentiality decisions: the reasoning process of
CPAs in resolving ethical dilemmas”, Journal of Business Ethics, Vol. 14 No. 12, pp. 1015-1020.
Aristotle (1953), The Ethics of Aristotle: The Nicomachean Ethics, Trans. J. A. K. Thomson, George
Allen & Unwin, London.
Cassidy, R.M. (2006), “Character and context: what virtue theory can teach us about a prosecutor’s
ethical duty to ‘seek justice”, Notre Dame Law Review, Vol. 82 No. 2, pp. 635-697.
Curtis, G.E. (2008), “Legal and regulatory environments and ethics: essential components of a fraud and
forensic accounting curriculum”, Issues in Accounting Education, Vol. 23 No. 4, pp. 535-543.
Davis, C., Farrell, R. and Ogilby, S. (2010), Characteristics and Skills of the Forensic Accountant, AICPA,
FVS Section, New York, NY.
DiGabriele, J.A. (2008), “An empirical investigation of the relevant skills of forensic accountants”,
Journal of Education for Business, Vol. 83 No. 6, pp. 331-338.
Doucet, M.S. and Doucet, T.A. (2004), “Ethics of virtue and ethics of duty: defining the norms of the
profession”, Research on Professional Responsibility and Ethics in Accounting, Vol. 9, pp. 147-168.
Foot, P. (1978), Virtues and Vices and Other Essays in Moral Philosophy, Basil Blackwell, Oxford.
Greenwood, R. and Suddaby, R. (2006), “Institutional entrepreneurship in mature fields: the big five
accounting firms”, Academy of Management Journal, Vol. 49 No. 1, pp. 27-48.
PAR Haas, P. (1992), “Introduction: epistemic communities and international policy coordination”,
International Organization, Vol. 46 No. 1, pp. 1-35.
30,2
Howieson, B. (2005), “Can we teach auditors and accountants to be more ethically competent and
publicly accountable?”, in Campbell, T. and Houghton, K. (Eds), Ethics and Auditing, ANU E
Press, Canberra, pp. 265-288.
Howieson, B. (2013), “Quis auditoret ipsos auditores? Can auditors be trusted?”, Australian Accounting
Review, Vol. 23 No. 4, pp. 295-306.
166
Howieson, B., Hancock, P., Segal, N., Kavagagh, M., Tempone, I. and Kent, J. (2014), “Who should teach
what? Australian perceptions of the roles of universities and practice in the education of
professional accountants”, Journal of Accounting Education, Vol. 32 No. 3, pp. 259-275.
Jennings, B. (1991), “The regulation of virtue: cross-currents in professional ethics”, Journal of Business
Ethics, Vol. 10 No. 8, pp. 561-568.
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

Kemmis, S. (2012), “Phronēsis, experience, and the primacy of practice”, in Kinsella, E.A. and Pitman,
A. (Eds), Phronesis as Professional Knowledge: Practical Wisdom in the Professions, Sense
Publishers, Rotterdam, pp. 147-162.
Kinsella, E.A. and Pitman, A. (2012a), “Engaging phronesis in professional practice and education”, in
Kinsella, E.A. and Pitman, A. (Eds), Phronesis as Professional Knowledge: Practical Wisdom in
the Professions, Sense Publishers, Rotterdam, pp. 1-12.
Kinsella, E.A. and Pitman, A. (2012b), “Phronesis as professional knowledge: implications for
education and practice”, in Kinsella, E.A. and Pitman, A. (Eds), Phronesis as Professional
Knowledge: Practical Wisdom in the Professions, Sense Publishers, Rotterdam,
pp. 163-172.
Lail, B., MacGregor, J., Marcum, J. and Stuebs, M. (2015), “Virtuous professionalism in accountants to
avoid fraud and to restore financial reporting’, Journal of Business Ethics, pp. 1-18, doi: 10.1007/
s10551-015-2875-y.
Lander, M.W., Koene, B.A.S. and Linssen, S.N. (2013), “Committed to professionalism: organisational
responses of mid-tier accounting firms to conflicting institutional logics”, Accounting,
Organizations and Society, Vol. 38 No. 2, pp. 130-148.
Lehman, G. (2014), “Moral will, accounting and the phronemos”, Critical Perspectives on Accounting,
Vol. 25 No. 3, pp. 210-216.
MacIntyre, A. (2007), After Virtue, Duckworth, London.
Mawer, A. (1926), “The Viking age”, in Newton, A.P. (Ed.), Travel and Travellers of the Middle Ages,
Kegan Paul, Trench, Trubner & Co., London, pp. 70-87.
Melé, D. (2005), “Ethical education in accounting: integrating rules, values and virtues”, Journal of
Business Ethics, Vol. 57 No. 1, pp. 97-109.
Mintz, S.M. (2006), “Accounting ethics education: integrating reflective learning and virtue ethics”,
Journal of Accounting Education, Vol. 24 Nos 2/3, pp. 97-117.
Nagel, T. (1980), “Aristotle on eudaimonia”, in Rorty, A.O. (Ed.), Essays on Aristotle’s Ethics’, University
of California Press, Berkley, pp. 7-14.
Oakley, J. and Cocking, D. (2001), Virtue Ethics and Professional Roles, Cambridge University Press,
Cambridge.
O’Neill, O. (2002), A Question of Trust: The BBC Reith Lectures 2002, Cambridge University Press,
Cambridge.
Pieper, J. (1965), The Four Cardinal Virtues: Prudence, Justice, Fortitude, Temperance, Harcourt, Brace
& World, New York, NY.
Prior, W.J. (1991), Virtue and Knowledge: An Introduction to Ancient Greek Ethics, Routledge,
London.
Russell, B. (1963), Human Society in Ethics and Politics, George Allen & Unwin, London.
Schön, D.A. (1983), The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action, Ashgate Publishing, Virtue ethics
Aldershot, England.
perspective
Sellman, D. (2012), “Reclaiming competence for professional phronesis”, in Kinsella, E.A. and Pitman,
A. (Eds), Phronesis as Professional Knowledge: Practical Wisdom in the Professions, Sense
Publishers, Rotterdam, pp. 115-130.
Stone, D.N. and Miller, T.C. (2012), “The state of, and prospects for, forensic and fraud research that
matters”, Journal of Forensic & Investigative Accounting, Vol. 4 No. 2, pp. 35-76.
Van Akkeren, J., Buckby, S. and MacKenzie, K. (2013), “A metamorphosis of the traditional accountant:
167
an insight into forensic accounting services in Australia”, Pacific Accounting Review, Vol. 25
No. 2, pp. 188-216.
Van Akkeren, J., Buckby, S. and Tarr, J. (2016), “Forensic accounting: professional regulation of a multi-
disciplinary field”, Australian Business Law Review, Vol. 44 No. 3, pp. 204-215.
Downloaded by University of British Columbia Library At 12:01 02 July 2018 (PT)

West, A. (2016), “After virtue and accounting ethics”, Journal of Business Ethics, Vol. 148 No. 1,
doi: 10.1007/s10551-016-3018-9.
Wyatt, A.R. (2004), “Accounting professionalism – they just don’t get it!”, Accounting Horizons, Vol. 18
No. 1, pp. 45-53.

Corresponding author
Bryan Howieson can be contacted at: bryan.howieson@adelaide.edu.au

For instructions on how to order reprints of this article, please visit our website:
www.emeraldgrouppublishing.com/licensing/reprints.htm
Or contact us for further details: permissions@emeraldinsight.com
ATESTASI
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI
e-ISSN: 2621-1505 p-ISSN: 2621-1906
Vol. 1 No. 1 September. 2018 Hal 85-98

Pengaruh Independensi Auditor, Emotional Intelligence,


Spiritual Intelligence Terhadap Perilaku Etis Auditor
dan Kinerja Auditor
Parmin Ishak

Email Author :
parminishak72@gmail.com

Universitas Ichsan Gorontalo

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung
perilaku etis auditor dan kinerja auditor ditinjau dari independensi auditor, emotional
intelligence, dan spiritual intelligence pada Inspektorat dan BPKP Provinsi Gorontalo. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Sampling total dan ditentukan
sampel sebanyak 107 auditor. alat analisis yang digunakan adalah IBM SPSS V24. Data
dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan secara langsung kepada kepada responden.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa Secara parsial ditemukan bahwa variabel independensi
auditor dan Emotional Intelligence berpengaruh secara signifikan terhadaap perilaku etis
auditor, namun variabel spritual intelligence tidak memberikan pengaruh yang signiifkan
terhadap perilaku etis auditor dan pengaruhnya pun negatif. variabel independensi auditor dan
Emotional Intelligence tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja auditor. Sedangkan
variabel spritual intelligence dan perilaku etis auditor yang memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja auditor.
Kata Kunci : Independensi, Emotional Intelligence, Spritual Intelligence, Perilaku Etis; Kinerja
Auditor.

ABSTRACT
This study aims to measure the direct and indirect effects of auditor ethical behavior and auditor
performance in terms of auditor independence, emotional intelligence, and spiritual intelligence in the
Gorontalo Province Inspectorate and BPKP. The sampling technique in this study uses a total sampling
method and a sample of 107 auditors is determined. the analytical tool used is IBM SPSS V24. Data was
collected through questionnaires distributed directly to respondents. The results of this study found that
Partially it was found that auditor independence and Emotional Intelligence variables significantly
influence auditors' ethical behavior, but spiritual intelligence variables do not have a significant
influence on the auditor's ethical behavior and their influence is negative. auditor independence and
Emotional Intelligence variables have no significant effect on auditor performance. While the variables
of spiritual intelligence and ethical behavior of auditors that have a significant influence on auditor
performance.
Keywords: Independence; Emotional Intelligence; Spiritual Intelligence; Ethical Behavior; Auditor
Performance.

Available online at ATESTASI Website: http://jurnal.fe.umi.ac.id/index.php/ATESTASI


86 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

PENDAHULUAN
Di Indonesia, issue pelanggaran etika akuntan ini berkembang seiring dengan
adanya pelanggaran etika baik yang dilakukan oleh akuntan publik, akuntan intern,
maupun akuntan pemerintah. Mengingat betapa banyaknya pihak yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, maka dalam
penyampaiannya laporan keuangan haruslah andal dan dapat dipercaya dan tidak
menyesatkan bagi pemakainya. Persoalan independensi auditor dan maraknya
manipulasi akuntansi korporat membuat kepercayaan para pemakai laporan keuangan
auditan mulai menurun, sehingga para pemakai laporan keuangan seperti investor dan
kreditur mempertanyakan eksistensi akuntan publik sebagai pihak independen.
Munculnya kasus Laporan keuangan Enron Corporation yang sebelumnya dinyatakan
wajar tanpa pengecualian oleh kantor akuntan Arthur Anderson, secara mengejutkan
dinyatakan pailit. Kepailitan tersebut diakibatkan karena Arthur Anderson
memberikan dua jasa sekaligus, yaitu sebagai auditor dan konsultan bisnis (Futri dan
Juliarsa, 2014).
Independensi Auditor merupakan salah satu karakter sangat penting untuk
profesi auditor dalam melaksanakan pemeriksaan terhadap kliennnya. Dalam Kode
Etik Akuntan Publik disebutkan bahwa independensi merupakan sikap yang
diharapkan dari seorang auditor untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam
melaksanakan tugasnya. Adanya kode etik, masyarakat akan dapat menilai sejauh mana
auditor telah bekerja sesuai dengan standar-standar etika yang telah ditetapkan oleh
profesinya.
Kecerdasan emosional merupakan dasar untuk mengembangkan kecakapan
emosi. Kecerdasan emosional dapat berpengaruh terhadap perilaku etis seseorang
karena dengan memiliki kecerdasan emosional yang memadai maka seseorang dapat
mengelolaemosinyadengan lebih baik. Kecerdasan emosional sebagai kemampuan
untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu
pikiran, memahami perasaan dan maknanya dan mengendalikan perasaan secara
mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual (Melandy dan
Aziza, 2006). Hasil penelitian Maryani & Ludigdo (2001) menemukan bahwa
kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap perilaku etis akuntan.
Su’udiyah, A. (2017) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional memiliki korelasi
terhadap perilaku etis. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengetahui
Pengaruh Independensi Auditor,Emotional.... -87

perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan tersebut menuntun
fikiran dan perilaku seseorang.
Spritual Intelligence merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan
persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan makna hidup manusia
dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai tindakan dan jalan hidup
seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Kecerdasan spiritual tidak
mesti berhubungan dengan agama. Selain itu, kecerdasan spiritual membuat
seseorang menghasratkan motivasi-motivasi yang lebih tinggi dan membuatnya
bertindak dengan motivasi- motivasi ini. Pada penelitian sebelumnya (Halimatusadiah,
Purnamasari & Oktaroza 2011) menemukan bahwa Kecerdasan Spritual berpengaruh
signifikan terhadap perilaku etis auditor.
Zohar dan Marshall (2005) menegaskan bahwa kecerdasan spiritual adalah
landasan untuk membangun IQ dan EQ. Spiritual berasal dari bahasa Latin spiritus
yang berati prinsip yang memvitalisasi suatu organisme. Sedangkan, spiritual dalam SQ
berasal dari bahasa Latin sapientia (sophia) dalam bahasa Yunani yang berati ’kearifan’.
Spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan aspek
ketuhanan, sebab seorang humanis atau atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi.
Kecerdasan spiritual lebih berkaitan dengan pencerahan jiwa. Orang yang memiliki
kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai hidup dengan memberi makna positif
pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi
makna yang positif akan mampu membangkitkan jiwa dan melakukan perbuatan dan
tindakan yang positif.
Dalam profesi akuntan, seorang auditor dituntut untuk memiliki integritas, dan
kejujuran agar mampu obyektif. Auditor bisa saja tidak jujur karena mendapat honor
lebih dari klien. Akuntan yang cerdas secara intelektual belum tentu dapat
memberikan kinerja yang maksimal terhadap tempat mereka bekerja, namun akuntan
yang cerdas secara emosional dan spiritual tentunya akan menampilkan kinerja yang
lebih baik untuk tempat dimana mereka bekerja. Kecerdasan spiritual memungkinkan
manusia untuk berpikir kreatif, berwawasan jauh, membuat atau bahkan mengubah
aturan, yang membuat orang tersebut dapat bekerja lebih baik.
Masalah dalam penelitian ini diantaranya adalah profesi auditor yang belakangan
ini menjadi sorotan masyarakat terkait banyaknya kasus kegagalan-kegagalan auditor
dalam menjalankan tugasnya. Fenomena yang diangkat dalam penelitian ini adalah
perilaku etis dan kinerja auditor. Berbagai penelitian terkait independensi, kecerdasan
88 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

emosional, dan kecerdasan spiritual terhadap perilaku etis dan kinerja auditor telah
banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya seperti Kharismatuti, & Hadiprajitno
(2012), Hanjani & Rahardja (2014), Yuliana & Latrini (2016), Widhi (2014), Arumsari
& Budiartha (2014), Hanna & Firnanti (2013), Mochammad & Ardiani (2011),
Wijayanti, G. L. (2012), Putra & Latrini (2016), Thoyibatun, S. (2018), Putri & Suputra
(2013), Notoprasetio, C. G. (2012), Swari & Ramantha (2013). Namun sepengetahuan
peneliti, belum pernah ada penelitian yang menggabungkan variabel independensi,
kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap perilaku etis auditor dan
dampaknya terhadap kinerja auditor.
Hipotesis yang di ajukan dalam penelitian sebanyak tujuh hipotesis yakni (H1,
H2, H3) variabel Independensi Auditor, Emotional Intelligence, dan Spritual Intelligenece
berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku etis auditor. Selanjutnya (H4 H5, H6)
Indpendensi Auditor, Emotional Intelligence dan Spritual Intelligence berpengaruh signifikan
terhadap Kinerja Auditor. Terakhir (H7) variabel perilaku etis audit berpengaruh
signifikan terhadap Kinerja Auditor.
Berdasarkan uraian dari beberapa teori dan pengembangan hipotesis penelitian,
dapat digambarkan kerangka konsep penelitian sebagimana tampilan pada gambar 1:

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuanttitatif (Quantitative Approach),
melaui prosedur analisis data dengan peralatan statistic untuk menguji hipotesis
dengan model analisis jalur. Populasi dalam penelitian ini adalah auditor pemerintah
pada Inspektorat Daerah Provinsi Gorontalo dan BPKP Provinsi Gorontalo berjumlah
107 auditor. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik sampling total atau sensus
yang menjadikan seluruh populasi menjadi sampel, yang bertujuan untuk
menggeneralisasi kesalahan yang sangat kecil (Sugiyono, 2011). Variabel terikat yaitu
Pengaruh Independensi Auditor,Emotional.... -89

variabel yang menjadi pusat utama sebuah pengamatan, yang menjadi variabel terikat
dalam penelitian ini adalah perilaku etis auditor (Y) dan kinerja auditor (Z). Variabel
bebas yaitu variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel terikat dan
mempunyai pengaruh positif ataupun pengaruh negative bagi variabel terikat nantinya.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah independensi auditor (X1),Emotional
intelligence (X2) dan spiritual intelligence (X3).
Data penelitian dianalisis dengan melakukan uji validitas, uji reliabilitas, Analisis
data penelitian ini menggunakan analisis jalur (Path Anlisis) untuk menganalisis
hubungan sebab akibat yang terjadi secara langsung dan secara tidak langsung (Riduan
dan Engkos 2014). Diagram jalur ini terdiri atas tiga persamaan struktural, di mana X1,
X2, dan X3 adalah variabel eksogen dan Y serta Z adalah variabel endogen. Persamaan
strukturalnya yang digambarkan pada (Sarwono, 2007) yaitu :
Y = P YX1 + P YX2 + P YX3 + €1 (sebagai persamaan substruktur 1)
Z = P ZX1 + P ZX2 + P ZX3 + P ZY + €2 (sebagai persamaan substruktur 2)
Z = P ZY + €2 (sebagai persamaan substruktur 3)

Gambar 2. Model Analisis Jalur

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Dari uji validitas yang dilakukan untuk semua variabel penelitian dinyatakan
bahwa semua variabel adalah valid yang dibuktikan dari nilai Sig kecil dari 0,05. Begitu
pula dengan uji reliabilitas untuk semua variabel penelitian ternyata reliable
berdasarkan nilai alpha cronbach variabel penelitian > 0.6 dan dinyatakan bahwa
instrument penelitian reliable.
90 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

Uji Analisi jalur sub struktur 1


Y = P YX1 + P YX2 + P YX3 + €1
Tabel 1. Tabel Anova sub struktur 1
Sum of
Model Df Mean Square F Sig.
Squares
1 Regression 2760.965 3 920.322 22.668 .000b
Residual 3938.124 97 40.599
Total 6699.089 100
Tabel 2. Model Summary sub struktur 1
Std. Change Statistics
R Adj. R Error of
Model R R Square F Sig. F
Square Square the df1 df2
Estimate Change Change Change
1 .642a .412 .394 6.3717512 .412 22.668 3 97 .000
Tabel 3. Koefisien sub struktur 1
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 56.600 9.916 5.708 .000
Independensi 1.437 .448 .372 3.210 .002
Auditor
Emotional .595 .133 .442 4.470 .000
Intelligence
Spritual -.279 .232 -.134 -1.207 .230
Intelligence
Sumber : Data diolah, 2018
Dari tabel 1, diperoleh nilai F sebesar 22.668 dan kolom sig (signifikan) nilai
probabilitas sig = 0.000 lebih kecil dari probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 > 0.000 atau
signifikan. Tampilan tabel 2, menunjukkan nilai koefisien determinasi adalah 41.2%
yang menunjukkan pengaruh independensi auditor emotional intelligence dan spiritual
intelligence terhadap perilaku etis auditor secara simultan adalah 41,2% sedangkan
58.8% dipengaruhi oleh oleh faktor lainnya diluar model ini.
Selanjutnya untuk tampilan tabel 3, dapat dilihat bahwa koefisen jalur
independensi auditor adalah senilai 1.437 dan bertanda positif, hal ini berarti nilai Y
akan mengalami kenaikan sebesar 1.437, jika nilai variabel X1 mengalami kenaikan satu
satuan dan variabel Y bernilai tetap. Koefisien bertanda positif menunjukan bahwa
kedua variabel searah antara independensi auditor dan perilaku etis auditor. Semakin
tinggi independensi auditor maka semakin tinggi perilaku etis auditor. Dan terlihat
pada kolom sig (signifikan) pada tabel koefisien Sub-struktur 1 nilai sig = 0.002 lebih
kecil dari probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 > 0.002, maka dapat disimpulkan bahwa Ha
diterima dan H0 ditolak. artinya koefisien analisis jalur adalah signifikan.
Pengaruh Independensi Auditor,Emotional.... -91

Koefisen jalur emotional intelligence adalah senilai 0.595 dan bertanda positif, hal
ini berarti nilai Y akan mengalami kenaikan sebesar 0.595, jika nilai variabel X2
mengalami kenaikan satu satuan dan variabel Y bernilai tetap. Koefisien bertanda
positif menunjukan bahwa kedua variabel searah anatara emotional intelligence dan
perilaku etis auditor. Semakin tinggi emotional intelligence maka semakin tinggi
perilaku etis auditor. Dan terlihat pada kolom sig (signifikan) pada tabel koefisien Sub-
struktur 1 nilai sig = 0.000 lebih kecil dari probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 > 0.000, maka
dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak, artinya koefisien analisis jalur
adalah signifikan.
Koefisen jalur spritual intelligence adalah senilai -0.279 dan bertanda negatif, hal
ini berarti nilai Y akan mengalami penurunan sebesar -0.279, jika nilai variabel X3
mengalami penurunan satu satuan dan variabel Y bernilai tetap. Koefisien bertanda
negatif menunjukan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang berlawanan antara
spritual intelligence dan perilaku etis auditor. Semakin tinggi spiritual intelligence
maka semakin rendah perilaku etis audit. Hal ini disebabkan kurangnya kepedulian
sosial yang ada di tubuh auditor. Kepedulian sosial memiliki rata rata paling kecil dari
sub variabel lainnya antara lain aspek religius, ekstensi diri, sifat positif, dan etika,
dengan rata rata sebesar 4.22. dan terlihat pada kolom sig (signifikan) coefisien sub-
struktur 1 nilai sig = 0.230 lebih besar dari probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 < 0.230, maka
dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak, artinya koefisien analisis jalur
adalah tidak signifikan.
Secara rinci dapat dijelaskan bahwa secara parsial dari hasil uji hipotesis (H1, H2,
H3) pada tampilan tabel 3, dapat dinyatakan bahwa (H1, Dan H2 ) independensi auditor
dan Emotional Intelligence berpengaruh secara signifikan terhadaap perilaku etis auditor,
sedangkan Spritual Intelligence (H3) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
perilaku etis auditor.
Uji analisis jalur Sub Struktur 2
Persamaan struktural analisis jalur sub – struktur adalah sebagai berikut :
Z = pZX1 + pZX3 + pZY + pZε2

Gambar 3. Pengujian Hopotesis secara simultan sub struktur 2


92 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

Uji secara keseluruhan ditunjukan tabel 4 :


Tabel 4. Anova

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 1305.322 3 435.107 24.408 .000b
Residual 1729.193 97 17.827
Total 3034.515 100
Sumber : Data diolah, 2018
Tabel 5. Koefisien
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 10.796 6.571 1.643 .104
Independensi .374 .297 .144 1.260 .211
Auditor
Emotional .154 .088 .170 1.743 .084
Intelligence
Spritual .608 .153 .432 3.962 .000
Intelligence
Sumber : Data diolah, 2018

Dari tabel 4, diperoleh nilai F untuk model 1 sebesar 24.408 dan nilai probabilitas
sig = 0.000. karena nilai sig < 0.05, maka keputusannya adalah H0 ditolak dan Ha
diterima dan oleh sebab itu pengujian secara individual dapat dilakukan atau
dilanjutkan. Selanjutnya, pada tampilan tabel 5, nilai koefisen jalur independensi
auditor adalah senilai 0.374 dan bertanda positif, hal ini berarti nilai Y akan mengalami
kenaikan sebesar 0.374, jika nilai variabel X1 mengalami kenaikan satu satuan dan
variabel Z bernilai tetap. Koefisien bertanda positif menunjukan bahwa kedua variabel
searah antara independensi auditor dan perilaku etis auditor. Semakin tinggi
independensi auditor maka semakin tinggi kinerja auditor. Terlihat pada kolom sig
tabel koefisisen sub struktur 2 dapat dilihat bahwa sig = 0.211, jadi dapat disimpulkan
bahwa nilai sig 0.211 lebih besar dari nilai probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 < 0.211, maka
H0 diterima dan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.
Koefisen jalur emotional intelligence adalah senilai 0.154 dan bertanda positif, hal ini
berarti nilai Z akan mengalami kenaikan sebesar 0.154, jika nilai variabel X2 mengalami
kenaikan satu satuan dan variabel Z bernilai tetap. Koefisien bertanda positif
menunjukan bahwa kedua variabel searah anatara emotional intelligence dan kinerja
auditor. Semakin tinggi emotional intelligence maka semakin tinggi perilaku etis
auditor. Terlihat pada kolom sig tabel koefisisen sub struktur 2 dapat dilihat bahwa
Pengaruh Independensi Auditor,Emotional.... -93

sig = 0.084, jadi dapat disimpulkan bahwa nilai sig 0.084 lebih besar dari nilai
probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 < 0.084, maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya
tidak signifikan.
Koefisen jalur spritual intelligence adalah senilai 0.608 dan bertanda posotif, hal ini
berarti nilai Z akan mengalami kenaikan sebesar 0,608, jika nilai variabel X3 mengalami
kenaikan satu satuan dan variabel Z bernilai tetap. Koefisien bertanda positif
menunjukan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang berlawana antara spritual
intelligence dan kinerja auditor. Semakin tinggi spiritual intelligence maka semakin
tinggi kinerja auditor. Dan Terlihat pada kolom sig tabel koefisisen sub struktur 2
dapat dilihat bahwa sig = 0.000, jadi dapat disimpulkan bahwa nilai sig 0.000 lebih
kecil dari nilai probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 > 0.000, maka Ha diterima dan H0
ditolak, artinya signifikan.
Secara rinci dapat dijelaskan bahwa dari hasil uji hipotesis (H4, H5, H6) pada
tampilan tabel 5, dapat dinyatakan bahwa (H4, H5) variabel independensi auditor dan
Emotional Intelligence tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja auditor.
Sedangkan (H6) variabel Spritual Intelligence berpengaruh secara signifikan terhadap
kinerja auditor.
Pengujian secara parsial sub struktur 3
Berdasarkan hasil dari koefisien jalur pada sub struktur 1, sub struktur 2 dan sub
struktur 3, maka dapat digambarkan secara keseluruhan yang menggambarkan
hubungan kausal empiris antar variabel X1, X2, X3 dan Y terhadap Z . Perilaku Etis
Auditor berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja auditor terlihat pada kolom sig
tabel koefisisen sub struktur 2 dapat dilihat bahwa sig = 0.001, jadi dapat disimpulkan
bahwa nilai sig 0.001 lebih kecil dari nilai probabilitas 0.05 atau nilai 0.05 > 0.001, maka
Ha diterima dan H0 ditolak, artinya signifikan.
Secara rinci dapat dijelaskan bahwa dari hasil uji hipotesis (H7) dapat dinyatakan
bahwa perilaku etis auditor berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja audit.

Gambar Hubungan kausal X1, X2, X3 dan Y terhadap Z


94 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

Pembahasan
Hasil perhitungan pengujian pertama (sub struktur 1), secara simultan variabel
independensi auditor, emotional intelligence dan spritual intelligence mampu memberikan
pengaruh secara simultan terhadap perilaku etis audit. Secara parsial hasil pengujian
hipotesis pertama (H1) dinyatakan bahwa independensi auditor berpengaruh secara
signifikan terhadap perilaku etis auditor. hasil pengujian hipotesis kedua (H 2)
dinyatakan bahwa Emotional Intelligence berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku
etis auditor. Sedangkan hasil pengujian hipotesis ketiga (H 3 ) dinyatakan bahwa
spritual intelligence tidak mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
perilaku etis auditor dan memberikan efek negatif atau memberikan pengaruh yang
negatif.
Idealnya adalah semakin tinggi spritual manusia maka semakin perilaku etis
semakin baik, namun bertolak belakang dengan penelitian ini, hal ini disebabkan
karena kurangnya kepedulian sosial yang terjadi (Zohar and marshall, 2002). Spritual
adalah dari seseorang yang bukan hanya sekedar diukur dari aspek ketuhanan, sebab
seorang humanis atau atheis pun memiliki spritual yang tinggi. Zohar dan marshall
(2002) memaknai spritual sebagai pencerahan jiwa, dan salah satu aspek
pengukurannya adalah aspek sosial, dalam penelitian inilah ditemukan bahwa
lemahnya kepedulian sesama yang terjadi di tubuh auditor. Hal ini juga didukung oleh
pernyataan Tikollah dkk (2006) bahwa Kecerdasan spritual yang dimiliki setiap orang
tidaklah sama. Hal tersebut tergantung dari masing-masing pribadi orang tersebut
dalam memberikan makna pada hidupnya. Kecerdasan spritual lebih bersifat luas dan
tidak terbatas pada agama saja. Perbedaan yang dimiliki masing- masing individu akan
membuat kinerja yang mereka capai pun berbeda pula, termasuk dalam pembentukan
perilaku etis pada auditor. hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Tikollah dkk (2006) yang menemukan kecerdasan spiritual tidak berpengaruh secara
parsial (individual) terhadap perilaku etis auditor.
Hasil pengujian kedua (Sub struktur 2) memberikan gambaran bahwa
independensi audit, emotional intelligence, spritual intelligence dan perilaku etis
auditor secara simultan dapat memberikan pengaruh terhdap kinerja auditor. Namun
secara parsial hasil pengujian koefisien jalur sub struktur 2, ditemukan bahwa (H4)
variabel independensi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Hasil
penelitian ini mendukung penelitian Widhi, S. N. (2014) yang menemukan bahwa
Pengaruh Independensi Auditor,Emotional.... -95

independensi tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil ini tidak sesuai dengan
penelitian (Arumsari, & Budiartha, 2014; Amarin, & Sukirman, 2017) yang menemukan
bahwa independensi berpengaruh terhadap kinerja auditor. Untuk (H5) ditemukan
bahwa emotional intelligence tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja audit. Hasil
penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Amarin, & Sukirman (2017) yang
menemukan bahwa kecerdasan emosional tidak berpengaruh signifikan terhadap
kinerja auditor. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian (Mochammad, &
Ardiani, 2011; Putra, & Latrini, 2016) emotional intelligence berpengaruh signifikan
terhadap kinerja auditor.
Sedangkan untuk variabel spritual intelligence (H6) diperoleh hasil yang signifikan
terhadap kinerja auditor dan pengaruhnya positif, artinya semakin tinggi kecerdasan
spritual dari seorang auditor maka akan memberikan kinerja audit yang sangat baik.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian (Yuliana & Latrini, 2016) yang menemukan
bahwa kecerdasan spiritual memberikan dampak positif dari kinerja auditor. hasil ini
sejalan dengan Surya dan Hananto (2004) yang menyatakan bahwa nilai keyakinan
memberikan pengaruh yang sifgnifikan dan arah yang positif terhdap kinerja auditor,
hal ini mengindikasikan bahwa sikap dan nilai yang meliputi rasa kasih, intuisi, daya
pribadi dan radius kepercayaanyang dimiliki auditor perlu dikembangkan oleh auditor
untuk meningkatkan kinerja auditnya. Berbeda dengan variabel lainnya yaitu variabel
inependensi yang memberikan hasil yang tidak signifikan, hal ini disebabkan karena
tidak ada jaminan kinerja yang baik pada saat seorang auditor dalam posisi
independensi, artinya independen dari seorang auditor tidak mampu menjamin kinerja
yang baik dari seorang auditor. Hasil ini menyatakan implikasi suatu perusahan dengan
pimpinan yang independen tidak selalu berarti kinerja perusahaan menjadi lebih baik
dari perusahaan lain, hal ini jika diasumsikan kepada independensi dari seorang
auditor, maka independensi auditor tidak mampu memberikan pengaruh terhadap
kinerja auditor.
Hasil pengujian hipotesis (H7) dinyatakan bahwa perilaku etis auditor
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja audit. artinya semakin baik perilaku
etis yang ditunjukkan oleh auditor maka kinerja auditor juga akan semakin meningkat.
hasil ini mendukung penelitian Arumsari, & Budiartha, (2014) yang menemukan
bahwa perilaku etis auditor berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.
96 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa independensi auditor,


emotional intelligence dan spritual intelligence memberikan pengaruh secara simultan
berpengaruh terhadap perilaku etis auditor. Secara parsial ditemukan bahwa variabel
independensi auditor dan Emotional Intelligence berpengaruh secara signifikan terhadaap
perilaku etis auditor, namun variabel spritual intelligence tidak memberikan pengaruh
yang signiifkan terhadap perilaku etis auditor dan pengaruhnya pun negatif. hal ini
disebabkan oleh kurangnya kepedulian sosial yang terjadi pada auditor. Hasil
pengujian kedua dalam penelitian ini, menemukan bahwa variabel independensi
auditor, emotional intelligence, spritual intelligence dan perilaku etis auditor memberikan
pengaruh secara simultan terhadap kinerja auditor. Namun secara parsial penelitian ini
menemukan bahwa variabel independensi auditor dan Emotional Intelligence tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja auditor. Sedangkan variabel spritual
intelligence dan perilaku etis auditor yang memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja auditor. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan dan
pemahaman baru bagi para auditor agar dapat meningkatkan kinerjanya, ditinjau dari
sisi spritualnya utamanya adalah pada aspek kepedulian sesama yang mampu
mendorong terciptanya kinerja audit yang baik. Penelitian ini menyarankan kepada
peneliti selanjutnya agar melakukan metode wawancara dari beberapa auditor.

REFERENSI
Amarin, H., & Sukirman, S. (2017). Pengaruh Independensi, Kecerdasan Emosional,
Dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Auditor. Accounting Analysis
Journal, 5(2), 130-137.
Arumsari, A. L., & Budiartha, I. K. (2014). Pengaruh Profesionalisme Auditor,
Independensi Auditor, Etika Profesi, Budaya Organisasi, dan Gaya Kepemimpinan
terhadap Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik di Bali. E-Jurnal Ekonomi
dan Bisnis Universitas Udayana.
Halimatusadiah, E., Purnamasari, P., & Oktaroza, M. L. (2011). Pengaruh Kecerdasan
Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Sikap Etis Mahasiswa Akuntansi:
Studi Kasus Pada Perguruan Tinggi Swasta di Kota Bandung.
Hanna, E., & Firnanti, F. (2013). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Auditor.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi, 15(1), 13-28.
Hanjani, A., & Rahardja, R. (2014). Pengaruh Etika Auditor, Pengalaman Auditor, Fee Audit,
Dan Motivasi Auditor Terhadap Kualitas Audit (Studi pada Auditor KAP Di
Semarang) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomika dan Bisnis).
Pengaruh Independensi Auditor,Emotional.... -97

Jonathan Sarwono. 2007. Analisis Jalur Untuk Riset Bisnis dengan SPSS. Yogyakarta:
ANDI.
Kharismatuti, N., & Hadiprajitno, P. B. (2012). Pengaruh Kompetensi dan
Independensi Terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor Sebagai Variabel
Moderasi (Studi Empiris Pada Internal Auditor BPKP DKI Jakarta) (Doctoral
dissertation, Fakultas Ekonomika dan Bisnis).
Maryani, T., dan Ludigdo, U. 2001. Survei atas faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
dan perilaku etis akuntan. Jurnal Tema, Vol 2 No.1,hlm 49-62.
Melandy dan Aziza, 2006. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat
Pemahaman Akuntansi, Kepercayaan Diri sebagai Variabel Pemoderasi. Simposium
Nasional Akuntansi IX. Hlm 23-26
Mochammad, A. N., & Ardiani, I. S. (2011). Kecerdasan Emosional dan Kinerja Auditor
pada Kantor Akuntan Publik. Jurnal Akuntansi Keperilakuan Indonesia, 1(1), 10-21.
Notoprasetio, C. G. (2012). Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual
Auditor terhadap Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik di Surabaya. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Akuntansi, 1(4), 76-81.
Putra, K. A. S., & Latrini, M. Y. (2016). Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan
Emosional, Kecerdasan Spiritual, Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Auditor.
E-Jurnal Akuntansi, 1168-1195.
Putri, K. M. D., & Suputra, I. D. (2013). Pengaruh Independensi, Profesionalisme, dan
Etika Profesi Terhadap Kinerja Auditor Pada Kantor Akuntan Publik di Bali. E-
Jurnal Akuntansi, 39-53.
Putu Septiani Futri dan Gede Juliarsa.2014.Pengaruh Independensi,
Profesionalisme,Tingkat Pendidikan, Etika Profesi, Pengalaman, Dan Kepuasan
Kerja Auditor Pada Kualitas Audit Kantor Akuntan Publik Di Bali. E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana Vol 7, No 2, hlm 444-461
Sugiyono, M. P. K., & Kualitatif Dan, R. D. (2011). Bandung: Alfabeta.
Surya, R. dan Hananto, S. T. 2004. Pengaruh Emotional Quotient Auditor terhadap
Kinerja Auditor di Kantor Akuntan Publik. Jurnal Perspektif, Vol 9 No1, hlm 33-40
Su’udiyah, A. (2017). Pengaruh Kecerdasan Intelektual (Iq), Kecerdasan Emosional
(Eq), Dan Kecerdasan Spiritual (Sq) Terhadap Sikap Etis Mahasiswa Akuntansi.
Menara Ilmu, 11(77).
Swari, I. P. C. M., & Ramantha, I. W. (2013). Pengaruh Independensi dan Tiga
Kecerdasan terhadap Pertimbangan Pemberian Opini Auditor. E-Jurnal Akuntansi,
489-508
Thoyibatun, S. (2018). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tidak etis
dan kecenderungan kecurangan akuntansi serta akibatnya terhadap kinerja
organisasi. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 16(2), 245-260.
Tikollah, M. R., Triyuwono, I., dan Ludigdo, U. 2006. Pengaruh Kecerdasan Intelektual,
Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Sikap Etis Mahasiswa
Akuntansi (Studi pada Perguruan Tinggi Negeri di Kota Makassar Provinsi
Sulawesi Selatan). Simposium Nasional Akuntansi IX, hlm 23-26.
Widhi, S. N. (2014). Pengaruh Independensi, Gaya Kepemimpinan, Komitmen
Organisasi Dan Pemahaman Good Governance Terhadap Kinerja Auditor
Pemerintah (Studi Empiris pada Kantor BPKP Perwakilan Jawa Tengah) (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Wijayanti, G. L. (2012). Peran kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam
meningkatkan kinerja auditor(Doctoral dissertation, Widya Mandala Catholic
University Surabaya).
98 Parmin Ishak. ATESTASI Vol. 1 No. 1 September 2018

Yuliana, G. S., & Latrini, M. Y. (2016). Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan


Spiritual, Kecerdasan Intelektual dan Independensi pada Kinerja Auditor. E-Jurnal
Akuntansi, 1034-1062.
Zohar, Danah dan Marshal, Ian. 2002. SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam
Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Bandung. Mizan
Zohar, Danah. dan Ian Marshall,2005, Spiritual Capital: Memberdayakan SQ Didunia
Bisnis`, terjemahan, Mizan. Bandung.

Copyright@ATESTASI : Jurnal Ilmiah Akuntansi. 2018