Anda di halaman 1dari 2

Burgelik Wetboek (BW) atau dalam bahasa Indonesia merupakan Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata. Ketetapan produk hukum dari Hindia Belanda yang berlaku di Indonesia berdasarkan
asas concordantie. asas concordantie sendiri adalah suatu asas yang melandasi diberlakukannya
hukum Eropa atau hukum di negeri Belanda pada masa itu untuk diberlakukan juga kepada
Golongan Eropa yang ada di Hindia Belanda (Indonesia pada masa itu).

Burgelijk Wetboek sendiri membahas tentang:

1. Pertama, Perihal Orang (Van Personen), yang mengatur tentang hukum badan
pribadi dan hukum keluarga.
2. Kedua Perihal Benda (Van Zaken), yang mengatur tentang benda termasuk di dalamnya
hukum waris.
3. Ketiga, Perihal Perikatan (Van Verbintenissen), yang mengatur tentang hukum kekayaan
yang mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang
atau pihak-pihak tertentu.
4. Keempat, Perihal pembuktian dan Lewat Waktu (Van Bewijaeu Veryaring). Sistimatika
tersebut di atas sangat dipengaruhi oleh sistem institutiones Justiniasnse.

Kedudukan BW sebagai salah satu sumber hukum perdata di Indonesia setelah keluarnya SEMA
No. 3 tahun 1963, yang menganggap BW bukanlah sebagai undang-undang serta mencabut
beberapa pasal di dalam BW serta bagaimana implikasi Surat Edaran Mahkamah Agung No.
3/1963. BW tetap berlaku sebagai undang-undang dan SEMA No. 3/1963 tidaklah dapat
dijadikan dasar bahwa BW tidak berlaku serta surat edaran mahkamah agung tersebut tidak dapat
mencabut pasal-pasal di dalam BW. Karena pertama yang dapat mencabut undang-undang
adalah undang-undang, kedua kalau BW tidak dianggap lagi sebagai undang-undang maka akan
terjadi kekosongan hukum (recht vacuum).

BW tetap berlaku sebagai undang-undang selama tidak bertentangan dengan pancasila dan UUD
1945 serta belum ada undang-undang yang menggantikan posisinya. Maka dari itu sembari
menunggu pembuatan ataupun pembaruan dari Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang
dibuat oleh pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia terwujud. Putusan-putusan
hakim yang terkait dengan pasal-pasal yang disebutkan di dalam SEMA No. 3/1963 sebagian
pasal yang memang tidak digunakan lagi dalam mengambil keputusan karena sudah tidak sesuai
lagi dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. SEMA No. 3/1963 ini menjadi pendorong
kepada hakim untuk lebih berani untuk mengesampingkan pasal-pasal yang sudah tidak lagi
sesuai dengan pancasila dan UUD 1945 serta kepribadian bangsa Indonesia

Adapun contoh BW yang tidak berlaku lagi di Indonesia adalah sebagai berikut

1. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria


(UUPA), maka bagian Buku II BW tentang Benda, sepanjang mengenai Bumi, air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan Hipotik yang
masih berlaku pada mulai berlakunya Undang-Udang ini dinyatakan tidak berlaku lagi.
2. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka
Pasal-Pasal yang mengatur tentang Perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan Perkawinan dalam Buku I BW, sepanjang telah diatur dalam Undang-Undang
Perkawinan Nasional tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi
3. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas
Tanah beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah, maka ketentuan-ketentuan
tentang Hipotek dalam Buku II BW, tidak berlaku lagi. Namun, masih tetap berlaku bagi
Kapal Laut yang berukuran 20m3 ke atas.