Anda di halaman 1dari 3

1. Apa pengertian tajdid dan tajrid?

2. Bgmn model tajrid dan tajdid Muhammadiyah?

3. Bgmn model gerakan keagamaan Muhammadiyah?

4. Bgmn gerwkan tajdid di Muhammadiyah pada 100 th kedua?

Jawab

1.Tajdid adalah kata yang diambil dari bahasa Arab yang berkata dasar "Jaddada-Yujaddidu-
Tajdiidan" yang artinya memperbarui. Kata ini kemudian dijadikan jargon dalam gerakan
pembaruan Islam agar terlepas dari Bid'ah, Takhayyul dan Khurafat. At-Tajdid menurut bahasa,
maknanya berkisar pada menghidupkan, membangkitkan dan mengembalikan. Makna-makna ini
memberikan gambaran tentang tiga unsur yaitu keberadaan sesuatu kemudian hancur atau hilang
kemudian dihidupkan dan dikembalikan.

Sedangkan Tajrid, berasal dari bahasa Arab berarti pengosongan,


pengungsian,pengupasan, Pelepasan atau pengambil alihan.(Atabik Ali, 1999:410). Sedangkan
tajriddalam bahasa Indonesia berarti pemurnian. Istilah ini, tidak se populer ketika
menyebutistilah tajdid, sekalipun yang dimaksudkan adalah memurnikan hal-hal yang bersifat
husus.Dalam ibadah kita tajrid, hanya ikut Nabi saw. dan tidakada pembaruan. Sedang
dalammuamalah kita tajdid, yakni melakukan modernisasi dan pembaruan.

2.Model-model Tajdid dan Tajrid

1).Model-model tajdid Secara garis besar, prinsip dasar pembaharuan Islam termasuk
Muhammadiyahsetidaknya terdapat dua unsur yang saling berkaitan.

Pertama, seruan terhadapskriptualisme (Al-Qur'an dan Sunnah) dengan menekankan otoritas


mutlak teks sucidengan menemukan substansi ajaran baik yang bersifat aqidah
maupun denganpenerapan praksisnya.

Kedua, upaya untuk mereinterpretasi ajaran-ajaran Islam yangsesuai dengan pemahaman-


pemahaman baru seiring dengan tuntutan zaman yangkontemporer.

Dalam kaitan dengan pembaharuan (tajdid), terdapat lima agenda penting yang menjadi fokus
Muhammadiyah dengan melakukan gerakannya, yaitu:

a)Tajdid al-Islam yang menyangkut tandhifal-aqidah yaitu purifikasi terhadapajaran Islam


(Sujarwanto 1990: 232).Tandhifal-aqidah ini berusaha untukmembersihkan ajaran-ajaran
Islam dari unsur takhayul, bid’ah dan khurafat(TBC).

b)Pembaharuan yang menyangkut masalah teologi. Dalam bidang teologi,Muhammadiyah


sudah sewajarnya untuk mengkaji ulang konsep-konsepteologi yang lebih responsif
dan tanggap terhadap persoalan zaman.Pembaharuan yang dilakukan adalah untuk
membicarakan persoalan-persoalan kemanusiaan, di samping persoalan-persoalan ke-
Tuhanan.

c)Karena Islam menyangkut persoalan dunia dan akherat, ideologi danpengetahuan serta
dimensi yang menyangkut kehidupan manusia, maka tajdiddiorientasikan pada pengembangan
serta peningkatan kualitas kemampuansumber daya manusia (Islam).

d)Pembaharuan Islam menyangkut organisasi. Gerakan umat Islam harus rapi,terorgansir dan
memiliki manajemen yang professional, sehingga mampubersaing dengan yang lainnya.

e)Pembaharuan dalam bidang etos kerja. Point ini juga menjadi focus perhatianMuhammadiyah
karena etos kerja umat Islam saat berdirinya Muhammadiyahsangat rendah

2) Model-model tajrid

a)Dalam bidang kepercayaan dan ibadah, muatannya menjadi khurafat danbid’ah. Khurafat adalah
kepercayaan tanpa pedoman yang sah dari al-Qur’andan al-Sunnah. Hanya ikut-ikutan orang tua
atau nenek moyang. Sedangkanbid’ah biasanya muncul karena ingin memperbanyak ritual
tetapipengetahuan Islamnya kurang luas, sehingga yang dilakukan adalah bukandari ajaran Islam.
Misalnya selamatan dengan kenduri dan tahlil denganmenggunakan lafal Islam.

b)Realitas sosio-agama yang dipraktikkan masyarakat ini lah yang mendorong Ahmad
Dahlan melakukan pemurnian melalui organisasiMuhammadiyah. munawir Syazali
mengatakan bahwa Muhammadiyahadalah gerakan pemurnian yang menginginkan
pembersihan Islam darisemua unsur singkretis dan daki-daki tidak Islami lainnya

3. Dalam konstitusi Muhammadiyah terdapat tiga model gerakan Muhammadiyah ;


pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, kedua, sebagai gerakan dakwah amar ma'ruf
nahi munkar, dan ketiga, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.

Kehadiran sebuah organisasi keagamaan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid ini, dipandang
sebagai suatu kemajuan besar di kalangan umat Islam di Indonesia. Ahmad Dahlan sebagai
pendiri Muhammadiyah menganggap bahwa tradisi keagamaan yang sinkretis, kehidupan aqidah
dan amaliah Islam yang sudah kabur, serta masih statisnya pandangan hidup umat Islam
terhadap ajaran dan organisasi ini telah mampu melakukan berbagai terobosan melalui berbagai
amal usaha. Berbagai terobosan yang dilakukan itu bertujuan untuk mencerahkan kehidupan
umat dan bangsa Indonesia ke arah peningkatan kualitas pemahaman terhadap Islam.
Muhammadiyah memposisikan diri sebagai oganisasi keagamaan dengan misi dakwah Islam
amar makruf nahi munkar. Untuk menguatkan posisi itu, maka dirumuskan Lima Pilar
Muhammadiyah, yaitu: 1) Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi aqidah Islam, 2)
Muhammdiyah sebagai gerakan tajdid, 3) Muhammadiyah sebagai gerakan mobilisasi amal
shaleh, 4) Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan (al-Tarbiyah), 5) Muhammadiyah sebagai
gerakan non-politik praktis.

4. aedar Nashir (2010) menyebut, Muhammadiyah pada abad kedua menghadapi tantangan yang
tidak ringan. Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa berada pada pusaran dinamika
globalisasi yang membawa ideologi kapitalisme dan neoliberalisme global. Oleh karena itu,
Muhammadiyah perlu mengukuhkan diri sebagai gerakan tajdid sebagai ruh persyarikatan sejak
pertama berdiri.

Dalam penyataan pikiran Muhammadiyah Abad Kedua terkandung pikiran pikiran mendasar
tentang refleksi perjuangan gerakan islam ini selama satu abad sejak kelahiranya, pandangan
keislaman, wawasan kebangsaan dan kemanusiaan serta agenda gerakan Muhammadiyah.

Pada penyataan pikiran tersebut secara resmi dirumuskan Pandangan Keislaman Muhammadiyah
yaitu islam yang berkemajuan, yang sangat mendasar dan berwawasan luas dan harus menjadi
alam pikiran setiap anggota Muhammadiyah, lebih lebih aktivis, kader dan pimpinan
Muhammadiyah.

Pada pandangan lainnya tentang wawasan kebangsaan dan kemanusiaan yang mengandung isi
tentang pandangan kebangsaan Muhammadiyah menegaskan komitmen tentang NKRI yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1995 serta konsisten dalam mengintegrasikan keislaman dan
keindonesiaan. Wawasan kemanusiaan, Muhammadiyah mengambil peran dalam menegaskan
pandangannya akan Kosmopolitanisme Islam, penyampaian pesan islam sebagai rahmatan Lil
Alamin.

Agenda Muhammadiyah pada abad kedua adalah menegaskan tekad dan usaha untuk terus
menerus menjadikan gerakannya sebagai Gerakan Pencerahan dengan misi membebaskan,
memberdayakan dan memajukan kehidupan.

Tajdid (pembaruan) yang dilakukan oleh Muhammadiyah tidak sekadar dalam konteks pemikiran.
Namun, selayaknya mewujud dalam sebuah laku (action) yang menjadi habitus bagi semua.

Tajdid abad kedua ini seakan selaras dengan hadis Rasulullah., s.a.w. “Sesungguhnya pada setiap
penghujung seratus tahun, Allah akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbarui
agama mereka (H.R. Abu Dawud no. 3740).