Anda di halaman 1dari 3

RESUM CLASSICAL CONDITIONING (Pavlov)

Muhammad Zidan Irza Himawan/ 2010811067 (Genap)

Teori classical conditioning yang dikemukakan oleh Pavlov ialah penilitiannya mengenai
air liur anjing sebagai respon saat diberi makan. Dalam penilitiannya, Pavlov memiliki 4
tahapan: Pertama, menggunakan suara bel, namun anjing tidak mengeluarkan air liur (tidak ada
respon). Kedua, memberikan makanan dan anjing mengeluarkan air liur (terdapat respon).
Ketiga, membunyikan bel dengan membawa makanan kepada anjing dan anjing mengeluarkan
air liur (terdapat respon). Keempat, hanya membunyikan bel tanpa membawa makanan, namun si
anjing tetap mengeluarkan air liur yang berarti terdapat respon.

Berdasarkan 4 tahapan tersebut, pengkondisian stimulus agar menjadi respon sangat


penting karena hanya dengan dikondisikannya suara bel, anjing mengeluarkan air iur karena
telah terbiasa dan suara bel tersebut menandakan bahwa makanan akan dating.

a. Akuisisi respons yang dikondisikan: stimulus terkondisi berulang kali diikuti stimulus
tidak tekondisi. Subjek akan mulai merespon yang awalnya netral apabila dilakukan
proses pengkondisian.
b. Penyelapan dan pemulihan spontan: tidak terjadinya respons atau berkurangnya kekuatan
respons pada saat diberikan stimulus berkondisi tanpa diikuti stimulus tak berkondisi
setelah terjadinya respons, contohnya air liur tidak keluar apabila anjing mendengarkan
bel yang berbunyi tanpa adanya makanan. Sedangkan pemulihan spontan merupakan
suatu tindakan untuk menghalangi terjadinya respons.
c. Generalisasai : menyamakan stimulus baru dengan stimulus sebelumnya dan
menyamakan respon yang sama, contoh anak yang takut bertemu anjing menggonggong
dan menganggap semua anjing sama (menyamakan respon).
d. Diskriminasi: membedakan stimulus baru dengan stimulus sebelumnya dan membedakan
respon sebelumnya dengan respon yang baru. Contoh, anak yang tidak takut ketika
melihat anjing lain yang tidak menggonggong (respon berbeda), meskipun sebelumnya
takut ketika melihat anjing yang menggonggong.
e. Pengkondisian tingkat tinggi: respon yang lebih terhadap stimulus, contohnya suara
peluit polisi lebih mudah direspon oleh pelanggar lalu lintas, daripada teriakan polisi.

Menurut Pavlov, cortical mosaic merupakan pola eksistensi atau hambatan yang menjadi
karakteristik otak dan akan menentukan bagaimana organisme merespons lingkungan pada
waktu tertentu. Setelah lingkungan eksternal maupun internal berubah, mosaic kortikal dan
perilaku juga akan berubah, serta mosaic kortikal dapat menjadi konfigurasi yang relatif stabil.
Karena Pavlov menganggap pusat otak yang berulang kali aktif bersama akan membentuk
koneksi temporer dan kebangkitkan satu poin akan membangkitkan poin lainnya. Contohnya
nada dering telpon yang kita gunakan di hanphone. Karena kita telah hafal dengan nada dering
kita yang terus menerus berbunyi didekat kita, area otak yang dibangkitkan oleh nada suara itu
akan membentuk koneksi kontemporer dengan area otak yang merespons ke telpon. Ketika
koneksi ini terbentuk, nada dering akan menyebabkan kita seolah-olah ada telpon masuk di
handphone kita (refleks yang dikondisikan sudah terjadi).

Contoh pembentukan perilaku dari classical conditioning: seorang anak yang lari pada saat
pertamakali bertemu anjing yang menggonggong karena meresponsnya dengan takut, merasa
anjing tersebut galak dan akan menggigitnya. Namun beberapa waku kemudian anak tersebut
bertemu anjing-anjing lain yang tidak menggonggong/ hanya diam, kemudian anak tersebut
merespons dengan biasa saja (tidak berlari/ takut). Hal tersebut menandakan adanya diskriminasi
yang dialami oleh sanga anak dan merupakan suatu pembentukan perilaku.

Evaluasi teori classical conditioning: Dalam sejarah teori belajar, Pavlov menciptakan teori
pertama tentang belajar antisipasi. Pembahasannya mengenai CS sebagai sinyal sangat unik
apabila dibandingkan dengan teoretisi belajar lain yang memperlakukan stimuli sebagai kejadian
kausal dalam koneksi S-R atau sebagai kejadian penguatan yang mengikuti respons. Jika kita
melihat habituasi dan sensitisasi sebagai unit paling sederhana dalam belajar non-asosiatif, maka
adalah tepat untuk mempertimbangkan respons yang dikondisikan secara klasik sebagai unit
fundamental dari belajar asosiatif. Jelas, teoretisi selain Pavlov kini banyak menggunakan unit
antisipatoris fundamental tersebut. Namun, dalam teorinya, Pavlov tidak mau menjelaskan
belajar yang melibatkan proses mental yang kompleks, dan ia berasumsi bahwa kesadaran
hubungan CS-US dari pembelajar tidak dibutuhkan untuk proses belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Hergenhahn, BR & Olson, Matthew H. (2008). Theories of learning. (Teori belajar) edisi
ketujuh. Jakarta: Kencana