Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya

dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera, dan tertib

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan

masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera tersebut, perlu secara

terus menerus ditingkatkan usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan tindak

pidana pada umumnya serta tindak pidana korupsi pada khususnya.

Di tengah upaya pembangunan nasional di berbagai bidang, aspirasi

masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya

semakin maningkat, karena dalam kenyataan adanya perbuatan korupsi telah

menimbulkan kerugian negara yang sangat besar yang pada gilirannya dapat

berdampak pada timbulnya krisis di berbagai bidang. Untuk itu, upaya

pencegahan dan pemberantasan korupsi perlu semakin ditingkatkan dan

diintensifkan dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kepentingan

masyarakat.

Komisi Pemberantasan Korupsi atau untuk selanjutnya disebut dengan KPK,

telah menuntut berbagai kasus korupsi di Indonesia. Salah satu kasus yang

ditangani oleh KPK yaitu kasus Nazaruddin Sjamsuddin yang terjadi pada tahun

2004 silam. Nazaruddin Sjamsuddin saat April 2004 memimpin rapat pleno KPU

untuk membahas usulan revisi anggaran KPU tahun 2004, dalam rapat tersebut
salah satu yang dibahas adalah usulan mata anggaran bagi jaminan

kematian/kecelakaan petugas penyelenggara Pemilu tahun 2004 dalam bentuk

asuransi sejumlah Rp30 juta yang diajukan oleh Kepala Biro Keuangan KPU

Hamdani Amin. Akhir Juni 2004 Nazarudin telah menandatangani surat

perjanjian kerjasama pertanggungan asuransi kecelakaan diri antara PT. Asuransi

Umum Bumi Putera Muda 1967 dengan KPU dengan total premi Rp14,800

miliar , padahal saat itu mereka belum membentuk panitia pengadaan, belum

diadakan prakualifikasi, belum dibuat penentuan HPS, belum melakukan

negosiasi harga dan aanwijizing yang kesemuanya persyaratan yang berlaku

sehingga bertentangan dengan peraturan.

Nazaruddin mengetahui dan menyetujui upaya Hamdani Amin yang

menugaskan Heru Hermawan untuk melengkapi persyaratan administrasi terkait

kerjasama tersebut serta menunjuk beliau sebagai ketua panitia pengadaan yang

sempat ditolak oleh Heru namun Hamdani tetap memerintahkan dengan alasan

perintah pimpinan. Dan persyaratan administrasi yang telah dibuat oleh Heru

guna melengkapi kerjasama tersebut adalah tidak benar atau fiktif. 13 Juli 2004,

Setelah disetujui premi asuransi senilai Rp14,800 miliar cair, Mualim Muslich

menyerahkan uang imbalan jasa dari PT. Asuransi Umum Bumi Putera Muda

1967 senilai US$ 566.795 kepada Hamdani Amin sebagai perwakilan dari KPU.

Sekitar bulan April 2004 dan September 2004 Nazaruddin memerintahkan

Hamdani untuk membagi-bagikan uang tersebut. Dari rangkaian perbuatan

Nazaruddin telah memperkaya diri sendiri, Ramlan Surbakti, Hamid Awaluddin,

Rusadi Kantaprawira, Mulyana Wirakusumah, Anas Urbaningrum, Chusnul Mar


19yah, Valina Singka, Daan Dimara, Yusac, Susongko, dan Hamdani atau

setidak-tidaknya suatu birokrasi PT. Asuransi Umum Bumi Putera Muda 1967

yang telah/dapat merugikan Negara sejumlah Rp14,193 miliar sesuai dengan

Laporan Perhitungan Kerugian Keuangan Negara tertanggal 26 Juni 2005.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili kasus ini kemudian melalui

putusan dengan No: 06/Pid.B/TPK/2005/PN.Jkt.Pst, Tgl. 14 Desember 2005

menjatuhkan amar putusan berupa pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun,

dikurangi masa tahanan. Pidana denda sebesar Rp300.000.000,- subsidair 6

(enam) bulan kurungan. Pidana uang pengganti sebesar Rp5.032.000.000,- secara

tanggung renteng dengan Hamdani Amin apabila lewati 1 (satu) bulan setelah

putusan ini maka harta kekayaan Nazaruddin Sjamsuddin disita kemudian

dilelang untuk membayar uang pengganti dimaksud, serta biaya perkara sebesar

Rp10.000,-.

Masalah ini tergambar jelas dalam perkara korupsi di tubuh Komisi Pemilihan

Umum (KPU) dengan terdakwa Nazaruddin Sjamsuddin dan Hamdani Amin.

Kedua kasus yang diperiksa secara split ini, telah diputus oleh majelis hakim

pengadilan tipikor. Nazaruddin divonis 7 (tujuh) tahun penjara, denda Rp300 juta

subsider 6 (enam) bulan kurungan. Sementara, Hamdani divonis 4 (empat) tahun

penjara, denda Rp300 juta subsider 4 (empat) bulan kurungan. Kedua mantan

pejabat KPU ini juga dibebankan untuk membayar uang pengganti sebesar

Rp5,032 miliar secara tanggung-renteng.


Masalah kemudian muncul karena kemudian Nazaruddin mengajukan upaya

hukum banding, sementara Hamdani legowo menerima putusan majelis hakim.

Pertanyaannya, apakah pidana uang pengganti terhadap Hamdani dapat

dieksekusi terlebih dahulu? Apabila jaksa dan hakim secara tegas (strict)

menerapkan UU maka mereka harus tetap mengeksekusi pidana tersebut begitu

putusan telah berkekuatan hukum tetap dan mengikat (inkracht van bewijsde).

Namun, lagi-lagi, pertanyaan berapa beban yang harus ditagih ke Hamdani

karena putusan majelis hakim menetapkan pidana pengganti tanggung-renteng

bersama-sama dengan Nazaruddin, padahal Nazaruddin sedang melakukan upaya

hukum.

Telah terjadi kesenjangan antara das sollen (law in book) dengan das sein (law

in action) dalam perkara ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah konsep pidana tanggung renteng dalam tindak pidana

korupsi?

2. Bagaimanakah konsep pidana tanggung renteng dalam perkara pidana

Nazarudin syamjudin

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Untuk menghindari pembahasan yang meluas dan menyimpang dari

permasalahan, maka diperlukan batasan-batasan dalam ruang lingkup masala

yang akan dibahas dalam penelitian ini. Pada rumusan masalah pertama, penulis

akan membahas secara umum konsep pidana tanggung renteng dalam tindak
pidana korupsi. Kemudian, pada rumusan masalah yang kedua, penulis akan

melakukan pembahasan konsep pidana tanggung renteng dalam perkara pidana

nazaruddin Syamsudin.

1.4 Orisinalitas

Orisinalitas diwajibkan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan dari

penelitian yang sejenis terdahulu. Adapun perbedaan penulisan dari penelitian ini

dengan penelitian sejenis yang lain berdasarkan dari segi tempat, tahun dan

permasalahan yang dibahas yaitu:

1.5 Tujuan Penulisan

1.5.1 Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji

lebih dalam mengenai konsep pidana tanggung renteng dalam tindak

pidana korupsi

1.5.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini yaitu:

1) Untuk mengetahui dan mengkaji konsep pidana tanggung renteng

dalam tindak pidana korupsi

2) Untuk mengetahui dan menganalisis konsep pidana tanggung

renteng dalam kasus tindak pidana korupsi Nazaruddin Syamsudin