Anda di halaman 1dari 23

SKRIPSI

PELAKSANAAN PENJATUHAN PIDANA


PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM
TINDAK PIDANA KORUPSI
(Studi Kasus Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan
Negeri Denpasar)

KETUT KRISNA HARI BAGASKARA P.


NIM. 1604551103

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
EFEKTIFITAS PENJATUHAN PIDANA
PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM
TINDAK PIDANA KORUPSI
(Studi Kasus Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan
Negeri Denpasar)

Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Pada Fakultas Hukum Universitas Udayana

NAMA : KETUT KRISNA HARI BAGASKARA P.

NIM : 1604551103

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atas

segala rahmat dan karunia-NYA skripsi yang berjudul “EFEKTIVITAS

PENJATUHAN PIDANA PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM

TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI

PADA PENGADILAN NEGERI DENPASAR” dapat diselesaikan sebagai tugas

akhir mahasiswa sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di

Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Melalui kesempatan ini penulis sampaikan rasa terima kasih kepada berbagai

pihak yang sangat berperan dalam proses penyelesaian skripsi ini diantaranya:

1. Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, S.H., M.Hum, Dekan Fakultas

Hukum Universitas Udayana.

2. Bapak

3. Ibu

4. Bapak

5. Bapak Dr.Ida Bagus Surya Dharma Jaya, S.H., M.H., Ketua Bagian

Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana.

6. Bapak I Nengah Suharta, S.H., M.H., Pembimbing Akademik yang telah

membimbing penulis dari awal kuliah di Fakultas Hukum Universitas

Udayana.

iii
7. Bapak Dr.Ida Bagus Surya Dharma Jaya, S.H., M.H., Dosen Pembimbing

I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, saran, dukungan, dan

motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.

8. Ibu I Gusti Agung Ayu Dike Widhiyaastuti, S.H., M.H., Dosen

Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, saran,

semangat, dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.

9. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah

menuntun serta memberikan ilmu pengetahuan selama kuliah sehingga

penulis dapat menyelesaikan studi ini.

10. Bapak dan Ibu Pegawai di Lingkungan Fakultas Hukum Universitas

Udayana yang telah membantu penulis dalam hal administrasi selama

perkuliahan.

11. Dewan Penguji Skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk menguji

skripsi ini.

12. Kepada keluarga penulis I Wayan Purya, Ni Made Merti, Dyah, Ade,

Komang, dan Hari, terimakasih atas doa serta dukungan selama penulis

mengikuti pendidikan hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan studi

pada Program Sarjana Fakultas Hukum Universitas Udayana, penulis

menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya.

13. Kepada Fungsionari UMCC 2019 terima kasih atas

Menyadari keterbatasan penulis, sudah barang tentu apa yang tersaji dalam skripsi

ini tidak lepas dari kekurangan, oleh sebab itu kritik, saran, dan pendapat yang

sifatnya konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan skripsi ini

iv
Denpasar, 21 November 2019

Penulis

v
DAFTAR ISI

Halaman Sampul Depan............................................................................... i

Halaman Sampul Dalam.............................................................................. ii

Halaman Prasyarat Gelar Sarjana Hukum .................................................. iii

Halaman Persetujuan Pembimbing Skripsi ................................................. iv

Halaman Pengesahan Panitia Penguji Skripsi.............................................. v

Kata Pengantar............................................................................................. vi

Halaman Surat Pernyataan Keaslian............................................................ ix

Abstrak......................................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang........................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah...................................................................... 4

1.3 Ruang Lingkup Masalah............................................................ 4

1.4 Orisinalitas................................................................................. 4

1.5 Tujuan Penelitian ...................................................................... 7

1.5.1 Tujuan Umum.................................................................. 7

1.5.2 Tujuan Khusus................................................................. 7

1.5 Manfaat Penelitian...................................................................... 7

vi
1.5.1 Manfaat Teoritis............................................................... 7

1.5.2 Manfaat Praktis................................................................ 8

1.6 Landasan Teoritis..................................................................... 8

1.7 Metode Penelitian.................................................................... 12

1.7.1 Jenis Penelitian................................................................. 12

1.7.2 Jenis Pendekatan.............................................................. 13

1.7.3 Sumber Data .................................................................... 14

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data............................................... 14

1.7.5 Teknik Analisis................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA

vii
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Masyarakat Indonesia yang seluruhnya sejahtera, adil, makmur, dan tertib

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan tujuan dari

Pembangunan Nasional. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, perlu

dimaksimalkan secara rutin usaha dalam pencegahan dan pemberantasan

terhadap perbuatan pidana pada umumnya serta tindak pidana korupsi pada

khususnya. Tindak pidana korupsi yang telah menyebabkan kerugian yang

berdampak besar terhadap negara, sehingga perlu diperangi bersama oleh seluruh

masyarakat Indonesia. Dalam memerangi korupsi, negara pada era reformasi

membentuk sebuah lembaga independen yaitu Komisi Pemberantasa Korupsi

(KPK) dengan harapan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi semakin

optimal dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dan

kepentingan masyarakat

Tindak pidana korupsi sebagai extra ordinary crime memiliki perkembangan

yang pesat dalam modus operandinya. Akhir-akhir ini, tidak jarang bukan hanya

recht person yang dituntut karena melakukan tindak pidana korupsi, namun juga

korporasi. Upaya menangkap pelaku tindak pidana korupsi untuk diberikan

hukuman badan berupa pidana penjara agar mendapatkan efek jera mulai

menemui kebuntuan. Kebuntuan ini diakibatkan karena kerugian keuangan

negara dari tindak pidana korupsi jarang untuk dapat kembali. Oleh sebab itu,
2

dewasa ini, upaya menanggulangi kejahatan ini mulai fokus pada tindakan

mengejar pengembalian aset atau harta kekayaaan negara yang didapat ketimbang

pelaku itu sendiri.

Untuk mendukung upaya tersebut, selain dengan membentuk KPK,

pemerintah juga membentuk peraturan perundang-undangan mengenai

pemberantasan tindak pidana korupsi, yaitu Undang-undang Nomor 31 Tahun

1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang untuk selanjutnya disebut

dengan UU TPK. Dalam salah satu ketentuan pasal pada UU TPK, yaitu Pasal 18

diatur secara tegas mengenai pidana tambahan berupa pidana pembayaran uang

pengganti. Pidana tambahan ini, jika dilihat dari Pasal 10 KUHP, merupakan

bentuk pidana tambahan dari pidana pokok dan dapat ditentukan lebih lanjut

dalam undang-undang khusus. Pasal 18 UU TPK mengatur bahwa terdakwa

dapat dijatuhi pidana uang pengganti dengan jumlah maksimal sama dengan harta

atau benda yang didapat dari hasil korupsi. Kemudian pada Pasal 18 ayat (2) UU

TPK mengatur, apabila pidana uang pengganti ini tidak dibayarkan oleh

terpidana, maka dipidana penjara dengan masa hukuman tidak melebihi pidana

pokok.

Indonesia Corruption Watch (ICW) menyoroti upaya penegak hukum

mengembalikan aset negara pada kasus tindak pidana korupsi. Bahwa

pengembalian aset negara dari tindak pidana tersebut dirasa belum efektif.

Berdasarkan data dari ICW1, pada tahun 2018 negara mengalami kerugian
Qodar, Nafiysul, 2019, “Pengembalian Aset Negara dari Kasus Korupsi Dinilai Belum
1

Maksimal”, Merdeka.com, URL : https://www.merdeka.com/peristiwa/pengembalian-aset-negara-


3

sebesar Rp 9,2 triliun berdasarkan 1.053 putusan yang dikeluarkan pengadilan

terhadap 1.162 terdakwa. Sementara itu, pengembalian aset negara dari pidana

tambahan uang pengganti hanya Rp 805 miliar dan USD 3.012 atau setara dengan

Rp 42 miliar. Berdasarkan data tersebut, hanya sekitar 8.7 persen melalui pidana

tambahan berupa pidana pembayaran uang pengganti kerugian negara dapat

diganti.

Tidak berjalanya instrumen Pasal 18 UU TPK ini secara maksimal

memperlihatkan bahwa aparat penegak hukum masih mengalami kesulitan dalam

upaya untuk mengembalikan kerugian dari keuangan negara yang timbul akibat

tindak pidana korupsi. Padahal, seharusnya aparat penegak hukum ketika

meletakan Pasal 18 UU TPK ini sebagai tuntutan, mengerti bahwa bukan hanya

pidana penjara terhadap pelaku saja yang dikejar, melainkan juga pengembalian

harta kekayaan negara. Hal ini penting, karena harta kekayaan negara yang

dirugikan dengan tindak pidana oleh pelaku tidak dengan nominal yang kecil.

Walaupun, terdapat pidana penjara sebagai alternatif apabila pidana pembayaran

uang pengganti ini tidak dapat dilaksanakan, namun sejatinya bukanlah itu tujuan

daripada Pasal 18 UU TPK ini diatur.

Bali sebagai salah satu provinsi di Indonesia, sejak tahun 2012 telah memiliki

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dibawah Pengadilan Negeri Denpasar.

Berbagai kasus korupsi telah diputus di pengadilan tersebut, sehingga penulis

tertarik untuk melihat efektivitas dari pidana pembayaran uang pengganti dalam

tindak pidana korupsi yang terjadi di Pengadilan Negeri Denpasar.

dari-kasus-korupsi-dinilai-belum-maksimal.html, diakses tanggal 10 Oktober 2019


4

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan, penulis mengangkat beberapa

rumusan masalah yaitu:

1. Bagaimanakah kedudukan pidana pembayaran uang pengganti sebagai

pidana tambahan dalam tindak pidana korupsi?

2. Bagaimanakah penerapan pidana pembayaran uang pengganti pada

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Denpasar?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Ruang lingkup masalah yang dikemas melalui batasan-batasan pembahasan

diperlukan agar pembahasan dalam penelitian ini tidak terlalu menyimpang. Oleh

sebab itu, terdapat dua permasalahan yang menjadi batasan-batasan yang

ditetapkan oleh penulis. Permasalahan yang pertama, penulis akan membahas

mengenai kedudukan pidana pembayaran uang pengganti sebagai pidana

tambahan dalam tindak pidana korupsi. Kemudian, permasalahan yang kedua

yaitu pembahasa mengenai efektifitas pidana pembayaran uang pengganti dalam

tindak pidana korupsi dengan studi kasus di Pengadilan Negeri Denpasar.

1.4 Orisinalitas

Sifat kebaharuan dalam penelitian ilmiah merupakan satu hal yang penting

dalam keilmuan. Oleh karena itu, orisinilitas diperlukan agar penelitian ilmiah

yang dihasilkan tidak hanya meniru penuh penelitian sebelumnya, namun

diharapkan dapat menggali atau memperbaiki penelitian yang ada sebelumnya.


5

Perbedaan-perbedaan dari penelitian sebelumnya atau sejenisnya diperlukan

dalam penelitian ini, sehingga dapat disebut sebagai penelitian yang orisinil.

Adapun perbedaan penulisan dari penelitian ini dengan penelitian sejenis yang

lain berdasarkan dari segi tempat, tahun dan permasalahan yang dibahas yaitu:

No Peneliti Judul Penelitian Rumusan Masalah


1. Ade Mahmud “Dinamika 1. Bagaimana dinamika

(Mahasiswa Fakultas Pembayaran Uang pembayaran pidana

Ilmu Sosial dan Pengganti Dalam uang pengganti

Politik Universitas Tindak Pidana akibat tindak pidana

Jenderal Achmad Korupsi” korupsi dalam upaya

Yani) Tahun 2017 pemulihan aset?

2. Bagaimana strategi

penegakan hukum

pidana untuk

mengatasi dinamika

pidana uang

pengganti?
2. Muhammad Arif “Efektifitas Pidana 1. Bagaimana

Fauzi (Mahasiswa Tambahan Uang pengaturan hukum

Program Studi S1 Pengganti dalam pidana tentang

Ilmu Hukum Tindak Pidana pidana tambahan

Universitas Korupsi” uang pengganti pada

Diponegoro) Tahun tindak pidana

2016 korupsi dalam


6

praktiknya?

2. Bagaimana

efektifitas pidana

tambahan uang

pengganti dalam

tindak pidana

korupsi?
3. Ade Paul Lukas “Efektivitas Pidana 1. efektivitas

(Mahasiswa Program Pembayaran Uang pelaksanaan

Studi S1 Ilmu Hukum Pengganti pembayaran uang

Universitas Jenderal Dalam Tindak pengganti dalam

Soedirman) Tahun Pidana Korupsi” tindak pidana

2010 korupsi di

Pengadilan Negeri

Purwokerto

2. faktor-faktor yang

menjadi kendala

efektivitas

pelaksanaan/eksekusi

pidana pembayaran

uang pengganti

dalam tindak pidana

korupsi di Kejaksaan

Negeri Purwokerto
7

1.5 Tujuan Penulisan

1.5.1 Tujuan Umum

Secara umum, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan

mengkaji lebih dalam mengenai kedudukan pidana pembayaran uang

pengganti sebagai pidana tambahan dalam tindak pidana korupsi.

1.5.2 Tujuan Khusus

Secara khusus, penelitian ini bertujuan yaitu:

1) Untuk mengetahui dan mengkaji konsep kedudukan pidana

pembayaran uang pengganti sebagai pidana tambahan dalam tindak

pidana korupsi.

2) Untuk mengetahui dan menganalisis konsep penerapan pidana

pembayaran uang pengganti pada Pengadilan Tindak Pidana

Korupsi Denpasar.

1.6 Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penulis berharap penelitian ini dapat memberikan

pemahaman dan menambah khasanah ilmu pengetahuan hukum pada

umumnya, dan khususnya hal-hal yang berkaitan dengan pidana

pembayaran uang pengganti sebagai pidana tambahan dalam tindak

pidana korupsi.

1.6.2 Manfaat Praktis


8

Secara praktis, penulis berharap penelitian ini dapat menjadi pedoman

bagi setiap orang mengenai pidana pembayaran uang pengganti

sebagai pidana tambahan dalam tindak pidana korupsi, sehingga

diharapkan pidana ini dapat menjadi salah satu upaya dalam

mengembalikan harta kekayaan negara akibat korupsi.

1.7 Landasan Teoritis

Untuk melakukan pembahasan mengenai permasalahan yang diangkat

dalam penelitian ini, adapun teori yang akan digunakan, antara lain yaitu:

1.7.1 Pemidanaan

1) Tujuan Pemidanaan

Para ahli hukum tidak memiliki persamaan pendapat mengenai tujuan dari

pidana atau pemidaan, hal ini karena banyakya pemikiran mengenai tujuan

pemidaan tersebut. Secara umum, tujuan pemidaan memiliki tiga pokok

pemikiran yaitu, membuat orang memiliki efek jera dalam melakukan

kejahatan-kejahatan, memperbaiki pribadi dari penjahat itu sendiri, dan

membuat pelaku tindak pidana menjadi tidak lagi dan mampu melakukan

kejahatan atau tindak pidana yang lain. Menurut Wirjono Prodjodikoro, tujuan

pemidanaan antara lain yaitu:

a. Untuk memberikan efek takut kepada orang agar tidak melakukan

kejahatan baik dengan memberikan efekt takut tersebut kepada orang

banyak (generals preventif) maupun hanya orang tertentu yang sudah


9

melakukan kejahatan agar kelak tidak melakukan kejahatan lagi (speciale

preventif); atau

b. Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang melakukan kejahatan

agar menjadi orang-orang yang baik tabiatnya sehingga bermanfaat bagi

masyarakat.2 Harapan dari pemidanaan yaitu adanya sarana perlindungan

masyarakat, pemenuhan pandangan hukum adat, rehabilitasi, dan

resosialisasi, serta aspek psikologi untuk menghilangkan rasa bersalah

bagi yang bersangkutan. Walaupun di sisi lain pidana merupakan nestapa

namun tidak hanya bertujuan untuk menderitakan dan merendahkan harkat

dan martabat manusia.

2) Teori-Teori Pemidanaan

Diputuskannya pidana terhadap pelaku tindak pidana berdasarkan aturan

hukum pidana materil erat kaitannya dengan teori-teori sistem pemidanaan

yang berlaku dalam sistem hukuman, yaitu:

a. Teori Pembalasan (Absolute atau Vergeldings Theorieen)

Pembalasan terhadap orang atau pelaku tindak pidana yang merupakan

dasar hubungan dari kejahatan itu sendiri merupakan dasar dari teori

pembalasan ini. Oleh karena kejahatan menimbulkan penderitaan bagi si

korban. Jadi teori ini merupakan bentuk pembalasan yang diberikan oleh

negara yang bertujuan agar pelaku merasakan derita akibat perbuatannya, dan

disisi lain memberikan keadilan bagi orang yang dirugikannya. Menurut

2
Wirjono Prodjodlkoro, 1980, Tindak Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia, PT Eresco,
Jakarta, h. 3
10

Muladi dan Barda Nawawi Arief, dasar pembenar dari pidana terletak dari

adanya kejahatan itu sendiri, oleh sebab itu pidana merupakan akibat yang

mutlak sebagai suatu pembalasan kepada pelaku kejahatan.3

Hak asasi manusia yang hakikatnya melekat pada manusia tidak terlalu

diperhatikan dalam teori pembalasan ini. Bagaimana keadaan pelaku sebelum,

sesaat dan sesudah melakukan tindak pidana tidak menjadi perhatian utama,

sehingga, muncul kesan bahwa pembinaan pelaku bukan fokus utama dari

teori ini.

b. Teori Tujuan (Relative atau Doel Theorieen)

Berbeda halnya dengan teori pembalasan, tujuan dari pemidanaan

merupakan fokus utama dari teori tujuan. Fokus utama dari teori ini yaitu

maksud dan tujuan pemidanaan terhadap pelaku kejahatan, artinya terdapat

secara implisit kemanfaatan dari pemidaan yang diperhatikan dalam teori

tujuan atau teori nisbi ini. Muladi dan Barda Nawawi Arief memberikan

pendapat bahwa dasar pembenar dari pemidaan dalam teori ini yaitu tujuan

pidana bukan karena pelaku kejahatan namun pada supaya pelaku tidak

melakukan kejahatan.4

Jadi, mencegah dan menjaga ketertiban masyarakat agar tidak terganggu

oleh tindak pidana merupakan tujuan dari teori relative. Menurut Andi

Hamzah, teori relative memiliki dua sifat, yaitu sifat prevensi umum dan

3
Lihat Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1984, Teori-Teori dan Kebjakan Pidana,
Alumni, Bandung, h. 10
4
Lihat Ibid, h.16
11

prevensi khusus. Masyarakat pada umumnya diharapkan tidak melakukan

tindak pidana merupakan tujuan dari prevensi umum sedangkan agar pelaku

tindak pidana jera dan tidak mengulangi atau melakukan tindak pidana lagi

merupakan tujuan dari prevensi khusus.5

c. Teori Kombinasi atau Gabungan

Dasar atau hakikat pemidanaan teori ini pemidanaan adalah terletak pada

kejahatan itu sendiri, yaitu pembalasan atau siksaan, serta tujuan dari

pemidanaan terhadap pelaku. Satochid Kartanegara6 melihat bahwa kejahatan

itu sendiri merupakan dasar hukum dari pemidanaan namun disisi lain tetap

memperhatikan tujuan daripada pemidanaan itu sendiri. Teori gabungan itu

dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu:

a. Teori yang menggabungkan pembalasan, dimana pembalasan dibenarkan

sepanjang tidak melampaui batasan yang perlu dan sudah cukup untuk

dapat mempertahankan tata tertib masyarakat;

b. Teori yang menggabungkan pertahanan tata tertib masyarakat. Pidana

tidak boleh lebih berat dari suatu nestapa yang beratnya sesuai dengan

tindak pidana yang dilakukan oleh terhukum 7

Menggabungkan dua sudut yang tidak dapat diabaikan yaitu dari sudut

pembalasan dan pertahanan tertib hukum masyarakat merupakan kombinasi

5
 Lihat Andi Hamzah, 1986, Sistem Pidana dan Pemdanaan Indonesia dari Retribusi ke
Reformasi, Pradnya Paramita, h. 34
6
Lihat Satochid Kartanegara, 1998, Hukum Pidana Bagian Satu, Balai Lektur
Mahasiswa, Jakarta, h.56
7
12

dari teori absolut dan relative yang merupakan dasar dari teori gabungan ini.

Berdasarkan hal tersebut, teori ini dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu: teori

gabungan yang berfokus pada unsur pembalasan, teori gabungan yang

berfokus pada pertahanan tertib masyarakat, dan teori gabungan berusaha

menyeimbangkan antara pembalasan dan pertahanan tertib masyarakat.

1.8 Metode Penelitian

Untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat ilmiah, maka perlu

digunakan metode ilmiah atau metode penelitian. Sifat ideal dari ilmu

pengetahuan adalah untuk memperoleh interrelasi yang bersifat sistematis dari

fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis.8

Penelitian hukum hakikatnya yaitu suatu kegiatan bersifat ilmiah yang

didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu dengan tujuan

untuk mempelajari sesuatu atau beberapa hal atau fakta hukum tertentu

melalui analisa. Oleh karenanya, diadakan pula pemeriksaan mendalam

terhadap fakta hukum tersebut agar didapat suatu pemecahan atas

permasalahan-p ermasalahan yang timbul di dalam gejala bersangkutan. 9

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah

sebagai berikut:

1.8.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah jenis

penelitian hukum empiris. Penelitian ini, meletakan konsep bahwa

8
Bambang Sunggono, 2007, Metodologl Penelitian Hukum PT Rajagrafindo, Jakarta,
h.44
9
Ibid
13

hukum merupakan suatu gejala yang menjadi fokus pengamatan.

Hukum sebagai suatu gejala tidak hanya merupakan ius contituendum,

atau ius contitutum, namun juga sebagai ius operatum.

1.8.2 Jenis Pendekatan

Jenis pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah

jenis pendekatan kasus (The Cases Approach) dan pendekatan

perundang-undangan (The Statute Approach). Pendekatan kasus

merupakan suatu pendekatan yang dilakukan melalui kajian terhadap

kasus-kasus yang berkaitan dengan topik pembahasan dan telah

menjadi putusan yang memiliki kekuatan hukum yang tetap atau

inkrah. Kemudian, pendekatan perundang-undangan adalah suatu

pendekatan yang dilakukan melalui kajian terhadap seluruh peraturan

perundang-undangan secara komprehensif terkait dengan isu hukum

yang sedang diteliti.

1.8.3 Sifat Penelitian

Sifat dari penelitian yang penulis yaitu penelitian deskriptif. Penelitian

ini berusaha untuk menggambarkan bagaimana efektifitas dari pidana

pembayaran uang pengganti dalam tindak pidana korupsi di

Pengadilan Negeri Denpasar, sehingga melalui penelitian ini, penulis

berusaha untuk menggambarkan apakah instrumen hukum tersebut

telah dilaksanakan dan sejauh mana efektifitas dari instrumen ini

dilaksanakan.

1.8.4 Sumber Data


14

Penulis dalam penelitian ini menggunakan penelitian hukum empiris,

sehingga data yang digunakan adalah:

- Data primer, yaitu data yang penulis peroleh melalui sumber

pertama di lapangan baik dari respoden maupun informan.

- Data sekunder, yaitu data yang penulis dapatkan melalui studi

kepustakaan.

1.8.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang penulis gunakan

yaitu teknik studi dokumen dan teknik wawancara. Teknik studi

dokumen yang penulis gunakan dengan mempelajari bahan-bahan

hukum yang relevan dengan permasalahan yang dibahas yaitu

mengenai pidana pembayaran uang pengganti dalam tindak pidana

korupsi. Teknik wawancara yang penulis gunakan dengan melalukan

wawancara terhadap beberapa aparat penegak hukum antara lain jaksa

dan hakim pada Pengadilan Negeri Denpasar untuk mendapat

gambaran jelas mengenai permasalahan yang penulis angkat dalam

penelitian ini.

1.8.6 Teknik Analisis Data

Teknik yang penulis gunakan dalam menganalisa data yang penulis

peroleh dalam penelitian ini yaitu teknik analisis kualitatif. Teknik ini

biasa digunakan pada penelitian hukum yang bersifat deskriptif. Dalam

teknik ini, biasanya data yang diperoleh berupa kata-kata atau data

yang tidak dapat diukur dengan angka. Oleh karena teknik


15

pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu teknik wawancara salah

satunya, maka penulis menggunakan teknik analisis kualitatif dalam

penelitian ini.
16

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Hamzah, Andi, 1986, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia dari Retribusi ke

Reformasi, Pradnya Paramita.

Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1984, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana,

Alumni, Bandung.

Prodjodikoro, Wirjono, 1980, Tindak Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia, P.T

Eresco, Jakarta.

Sunggono, Bambang, 2007, Metodologi Penelitian Hukum PT Rajagrafindo,

Jakarta.

INTERNET

Qodar, Nafiysul, 2019, “Pengembalian Aset Negara dari Kasus Korupsi Dinilai

Belum Maksimal” ,Merdeka.com, URL :

https://www.merdeka.com/peristiwa/pengembalian-aset-negara-dari-kasus-

korupsi-dinilai-belum-maksimal.html, diakses tanggal 10 Oktober 2019