Anda di halaman 1dari 6

Retorika sebagai Seni

Oleh : E. Ruswandi

Seorang pemimpin, seorang pelobi yang ulung, calon legislatif, ahli pidato, para
penceramah keagamaan, sales, para pedagang kaki lima, seorang Guru, dsb, mau tidak mau
harus menguasai retorika bahasa, karena dengan retorika yang baik dan benar maka kehendak
yang ada dalam pikiran yang ingin kita sampaikan kepada orang lain bisa tersampaikan lebih
jauhnya lagi keinginan kita akan terwujud.

Kita sering mendengarkan atau menyimak seseorang yang sedang berbicara baik itu
diatas mimbar maupun tidak, pada satu waktu kita merasa enak, cepat faham ketika
mendengarkan pemaparan dari sang pembicara, pada lain waktu kita di buat pusing tujuh
keliling untuk bisa memahami apa maksud yang hendak disampaikan oleh sang pembicara
itu, kata-kata atau bahasa yang disampaikan si pembicara itu tidak tentu ujung pangkal, sulit
difahami alur pembicaraannya, kenapa?.

Disinilah Retorika mengambil peran sangat penting dalam mengatasai hal-hal seperti
yang disebutkan diatas, lantas apa yang disebut dengan retorika itu? Seperti apa? Apakah bisa
dipelajari?. Untuk menjawab hal-hal seperti itu maka saya akan mencoba memberi sedikit
penjelasan, disini bukannya saya telah ahli dalam ber-retorika, tapi sebagai sumbangsih saya
terhadap keilmuan, khususnya dalam memahami logika, dan bahasa.

Definisi Retorika

Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric berasal dari bahasa Latin rhetorica yang
berarti ilmu bicara. Menurut Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren, mereka
mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan
bahasa secara efektif.

Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian


sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa, bisa lisan, dapat juga
tulisan. Oleh karena itu ada sebagian orang yang mengartikan retorika sebagai public
speaking atau pidato di depan umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak
hanya berarti pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni menulis.

Sejarah Retorika

A. Yunani

Kalau kita menelaah sejarah retorika, sungguh retorika memiliki sejarah yang sangat
panjang sekali. Para ahli berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Akan
tetapi sesuai dengan tema saya “Retorika sebagai Seni” lebih khususnya seni dalam bicara
sudah di pelajari mulai pada abad kelima sebelum Masehi ketika kaum Sofis di Yunani
mengembara dari tempat yang satu ketempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan
mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato.
Pemerintah, menurut kaum Sofis harus berdasarkan suara terbanyak atau demokrasi sehingga
perlu adanya usaha membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan-pemilihan. Maka
berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikkan kenyataan demi tercapainya
tujuan. Yang penting, khalayak bisa tertarik perhatiannya dan terbujuk.

Kaum Sofis berpendapat bahwa manusia adalah “makhluk yang berpengetahuan dan
berkemauan”. Manusia mempunyai penilaian sendiri mengenai baik-buruknya sesuatu,
mempunyai nilai-nilai etikanya sendiri, karena itu kebenaran suatu pendapat hanya dapat
dicapai apabila seseorang dapat memenangkan pendapatnya terhadap pendapat-pendapat
orang-orang lain yang berbeda dengan norma-normanya. Jadi sangat tidak mengherankan bila
pada masa itu orang-orang melatih diri untuk memperoleh kemahiran dalam berbicara
sehingga inti pembicaraan beralih dari mencari kebenaran kepada mencari kemenangan.

Tokoh aliran Sofisme ini adalah Georgias (480-370 SM) yang dianggap sebagai guru
retorika yang pertama dalam sejarah manusia. Filsafat mazhab Sofisme ini dicerminkan oleh
Georgias yang menyatakan bahwa kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan jika
tercapai kemenangan dalam pembicaraan.

Adapun yang menjadi lawan dari pendapat Georgias adalah pendapatnya Protagoras
(500-432 SM) dan Socrates (469-399 SM). Protagoras berpendapat bahwa kemahiran
berbicara bukan demi kemenangan, melainkan demi keindahan bahasa. Sedangkan bagi
Socrates, retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya karena dengan
dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya.

Dari sini kita dapat manarik kesimpulan bahwa yang membedakan kaum Sofisme dan
Filusuf adalah terletak pada tujuan, kalau kaum Sofisme bukan kebenaran yang menjadi
tujuan tetapi kemenangan berargumenlah yang menjadi tujuan, sementara kaum filusuf, kalah
atau menang dalam berargumen bukanlah yang menjadi tujuan, tetapi bagi mereka
menjungjung nilai-nilai kebenaranlah yang paling utama.

Ada seseorang yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Socrates dan


Georgias yaitu Isocrates yang pada tahun 392 SM mendirikan sekolah retorika dengan
menitikberatkan pendidikannya pada pidato-pidato politik. Isocrates, dia berpendapat dan
menjadi filsafatnya yaitu, bahwa hakikat pendidikan adalah kemampuan membentuk
pendapat-pendapat yang tepat mengenai masyarakat. Dengan sekolahnya itu, Isocrates
selama 50 tahun berhasil mendidik murid-muridnya menjadi pemimpin yang baik.

Plato seorang murid dari Socrates yang sangat terkenal, sependapat dengan Isocrates,
yaitu bahwa retorika memegang peranan penting bagi persiapan seseorang untuk menjadi
pemimpin. Menurut Plato, retorika sangat penting sebagai metode pendidikan, sebagai sarana
untuk mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan sebagai sarana untuk mempengaruhi
rakyat. Plato mengatakan bahwa retorika bertujuan memberikan kemampuan menggunakan
bahasa yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan
yang luas dan dalam.

Yang tidak kalah penting sebagai salah seorang tokoh retorika pada zaman Yunani
adalah Aristoteles yang sampai sekarang pendapatnya masih banyak dikutip. Aristoteles
sangat berlainan dengan pendapat tokoh-tokoh lainnya yang memandang retorika sebagai
suatu seni, Aristoteles memasukkannya sebagai bagian dari filsafat. Dalam bukunya,
Retorika, dia mengatakan, “Anda, para penulis retorika, terutama menggelorakan emosi. Ini
memang baik, tetapi ucapan-ucapan Anda lalu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan
retorika yang sebenarnya adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan
pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Retorika hanya menimbulkan perasaan pada suatu
ketika kendatipun lebih efektif dari pada silogisme. Pernyataan yang menjadi pokok logika
dan juga bagi retorika akan benar bila telah diuji oleh dasar-dasar logika.” Demikian
Aristoteles. Selanjutnya dia berkata bahwa keindahan bahasa hanya dipergunakan untuk
empat hal yaitu yang bersifat:

1) Membenarkan (corrective),

2) Memerintah (instructive),

3) Mendorong (sugestive),

4) Mempertahankan (defensive).

Dalam membedakan bagian-bagian struktur pidato, Aristoteles hanya membaginya


menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Pendahuluan,

b. Badan,

c. Kesimpulan.

Bagi Aristoteles, retorika adalah the art of persuasion. Lalu ia mengajarkan bahwa dalam
retorika, suatu uraian harus:

1) Singkat,

2) Jelas,

3) Meyakinkan.

Demikian retorika di Yunani.


B. Romawi

Di Romawi yang mengembangkan retorika adalah Marcus Tulius Cicero (106-43 SM)
yang menjadi termasyhur karena suaranya dan bukunya yang berjudul antara lain de oratore.

Sebagai seorang tokoh retorika Cicero meningkatkan kecakapan retorika menjadi


suatu ilmu. Berkenaan dengan sistematika dalam retorika, Cicero berpendapat bahwa retorika
mempunyai dua tujuan pokok yang bersifat:

(1) Suasio (anjuran)

(2) Dissuasio (penolakan).

Cicero mengajarkan bahwa dalam mempengaruhi pendengar-pendengarnya, seorang


retor harus meyakinkan mereka dengan mencerminkan kebenaran dan kesusilaan. Dalam
pelaksanaanya, retorika meliputi:

(a) Investio

Ini berarti mencari bahan dan tema yang akan dibahas. Pada tahap ini bahan-bahan dan bukti-
bukti harus dibahas secara singkat dengan memperhatikan keharusan pembicara:

1. Mendidik,

2. Membangkitkan kepecayaan,

3. Menggerakan hati.

(b) Ordo collocatio

Ini mengandung arti menyusun pidato yang meminta kecakapan sipembicara dalam memilih
mana yang lebih penting, mana yang kurang penting. Penyusun pidato juga meminta
perhatian terhadap:

1. Exordium (pendahuluan)

2. Narratio (pemaparan)

3. Confirmatio (pembuktian)

4. Reputatio (pertimbangan)

5. Peroratio (penutup).

Demikianlah retorika di Romawi yang banyak persamaannya dengan retorika di Yunani.


C. Zaman Modern

Pada abad ke-17 di Eropa muncul tokoh-tokoh orator yang kenamaan, seperti Oliver
Cromwell dan Lord Bollingbroke.

Retorika biasanya berkembang pada masa-masa krisis, begitu pula dengan


kemunculan Cromwell di Inggris. Dalam mengajarkan teknik retorika, Cromwell mengatakan
bahwa dalam melaksanakan retorika:

a. Harus mengulang hal-hal yang penting,

b. Harus menyesuaikan diri denga sikap lawan,

c. Bila perlu tidak menyinggung persoalan,

d. Harus orang-orang menarik kesimpulan sendiri,

e. Harus menunggu reaksi.

Sedangkan menurut Henry Bollingbroke bahwa bila kekuasaan politik berlandaskan


kekuatan fisik, maka retorika merupakan kekuatan mental.

Pada abad ke-20 di Jerman muncullah seorang tokoh retorika yang termasyhur yaitu
Adolf Hitler yang berhasil memukau rakyat Jerman sehingga bersedia melakukan apa pun.
Resep Hitler dalam retorikanya ialah: mengunggulkan diri sendiri, membusukkan dan
menakut-menakuti lawan, kemudian menghancurkan. Hakikat retorika Hitler adalah senjata
psikis untuk memelihara massa dalam keadaan perbudakan.

Hitler tidak saja mencari anggota, tetapi juga – bahkan ini yang terutama - mencari
pengikut sebanyak-banyaknya. Bagi Hitler mereka tak perlu sadar, tak usah berpikir, asal ikut
saja, asal bergerak saja, tidak usah semuanya menjadi anggota partai. Demikian Hitler.

Sementara muncul pula di Prancis seperti Jean Jaures, di Amerika ada Abraham
Lincoln, di Indonesia ada Ir. Sukarno, Presiden RI yang pertama paling dikenal dengan
sebutan sng proklamator. Ir. Sukarno sebagai seorang yang faham dan penelaah retorika,
dapat dilihat dari tulisan-tulisannya seperti yang dimuat dalam Fikiran Ra’jat pada tahun
1933 dan Panji Islam pada tahun 1940 (terhimpun alam buku Dibawah Revolusi Indonesia).

Dalam artikel berjudul “Kuasanya Kerongkongan”, Bung Karno mengutip pendapat-


pendapat mengenai retorika yang ditulis oleh Willi Munzenberg, Konrad Heiden, Trotzky,
dan Stenberg.

Dibawah ini adalah pendapat Bung Karno ketika ia membandingkan beberapa ahli
pidato:

“Menurut keterangan Konrad Heiden, seorang biograf Hitler yang terkenal, memang belum
pernah di sejarah dunia ada orang yang menyamai Hitler tentang ‘Massen bewegen konnen’
itu. Menurut Heiden, di dunia barat hanyalah satu orang yang menyamai Hitler tentang
kecakapan berpidato: Gapon salah seorang yang terkenal dari sejarah kaum agama di Rusia
pada permulaan abad ini. Saya kira Konrad Heiden belum pernah mendengarkan Jean Jaures
berpidato.

Jean Jaures adalah salah seorang pemipin kaum buruh Perancis, yang biasa disebut
orang “Frankrijks grootste wolkstribuun’ dari abad akhir-akhir ini. Menurut anggapan saya,
sesudah saya membandingkan pidato-pidato Adolf Hitler – pidato-pidato Adolf Hitler bukan
sahaja saya banyak baca, tapi juga sering saya dengarkan di radio – maka Jean Jaures adalah
maha hebat. Trotzky, yang sendirinya juga juru-pidato yang maha haibat, di dalam dia punya
buku ‘Mijn leven’ yang terkenal, membandingkan pidato-pidato Jean Jaures itu sebagai ‘air
terjun yang membongkar bukit-bukit karang’, sebagai ‘een waterval die rotsen omvergooit’.”

Banyaknya Bung Karno membaca buku mengenai retorika didasarkan atas keyakinannya
bahwa retorika memegang peranan penting dalam kepemimpinan.

Mudah-mudahan bermanfaat bagi pencinta ilmu!