Anda di halaman 1dari 45

BREASTFEEDING

Disusun oleh :

DWI KISWANTI (PBd19.001)

IRNA SEPTIANA ( PBd19.00 )

NITRA YANTI (PBd19.009)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PELITA IBU

KENDARI

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas
rahmat dan hidayat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang diberi judul “
BREASTFEEDING”makalah ini kami buat berdasarkan tugas yang diberikan.

Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini terdapat banyak sekali


kekurangan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran serta masukkan dari
pembaca sekalian yang bersifat membangun.

Kami juga berharap semoga makalah ini dapat membarikan manfaat bagi
kami pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Kendari, September 2021

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

2.2 Manajemen Laktasi

2.3 ASI Esklusif

2.4 MPASI

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat
memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama sehingga dapat mencapai
tumbuh kembang yang optimal(Perinasia, 2004). Pencapaian ASI Eksklusif masih
kurang, hal ini berdasarkan data hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2002– 2003, pemberian ASI eksklusif pada bayi berumur 2 bulan
hanya 64%. Persentase ini kemudian menurun cukup tajam menjadi 46 % pada bayi
berumur 2-3 bulan dan 14 % pada bayi berumur 4 – 5 bulan (KBI,2005).
Permasalahan yang utama adalah perilaku menyusui yang kurang
mendukung, faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, gencarnya
promosi susu formula, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum
sepenuhnya mendukung PPASI, kurangnya rasa percaya diri ibu bahwa ASI cukup
untuk bayinya dan ibu yang bekerja(Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI).
Pada ibu yang bekerja, salah satu penyebabnya adalah singkatnya masa cuti
hamil/melahirkan mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir
sudah harus kembali bekerja, hal ini mengganggu upaya pemberian ASI eksklusif,
yang menyebabkan penggunaan susu botol/susu formula lebih dini (Dwi Sunar
Prasetyo,2009). Kondisi di atas diperberat lagi dengan adanya kecenderungan
meningkatnya peran ganda wanita dari tahun ke tahun (Pusat Kesehatan Kerja
Depkes RI).
Salah satu profesi yang menyerap wanita bekerja denga prosentase banyak
adalah profesi keperawatan. Sebagai perawat kita dituntut untuk bisa menjadi role
model bagi masyarakat khususnya dalam penerapan manajemen ASI Eksklusif.
Namun masih banyak perawat yang tidak dapat menjalankan peran ini secara efektif
karena tingkat pengetahuan, persepsi, sikap dan perilaku perawat sendiri yang kurang
mendukung tercapainya Program PP-ASI(SELASI,2009). Hal ini diperkuat lagi
dengan hasil survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2009 bahwa
dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap 10 orang perawat yang menyusui di
RSUD Tugurejo Semarang bahwa hanya ada 1 orang perawat yang memberikan ASI
secara Eksklusif sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang perilaku
perawat dalam manajemen laktasi, terutama manajemen laktasi periode postnatal.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

a. Breastfeeding

Breastfeeding adalah salah satu sarana ibu dalam menjalin kedekatan batin
dengan anakya. Interaksi yang terjalin antara seorang ibu dengan buah hatinya
melalui breastfeeding mampu menciptakan ikatan emosional yang lebih erat.

2.2 Manajemen Laktasi

a. Manajemen Laktasi
Manajemen adalah suatu tatalaksana yang mengatur agar keseluruhan proses
menyusui bisa berjalan dengan sukses, mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi
mengisap dan menelan ASI, yang dimulai pada masa antenatal, perinatal danpostnatal
(Dwi Sunar Prasetyono,2009). Ruang lingkup Manajemen Laktasi periode postnatal
pada ibu bekerja meliputi ASI Eksklusif, teknik menyusui, memeras ASI,
memberikan ASI Peras, menyimpan ASI Peras, memberikan ASI Peras dan
pemenuhan gizi selama periode menyusui.
Manajemen laktasi adalah tata laksana yang diperlukan untuk menunjang
keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa
kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.
(Direktorat Gizi Masyarakat, 2005).

b. Laktasi
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi
sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral
dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. (Direktorat Gizi Masyarakat,
2005)

c. Langkah-langkah kegiatan Menejemen Laktasi menurut Depkes RI


(2005) adalah :

a). Masa Kehamilan (Antenatal).

1. Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi mengenai manfaat dan


keunggulan ASI, manfaat menyusui bagi ibu, bayi dan keluarga serta cara
pelaksanaan management laktasi.
2. Menyakinkan ibu hamil agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya.
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara. Disamping itu,
perlu pula dipantau kenaikan berat badan ibu hamil selama kehamilan.
4. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan sehari-hari termasuk
mencegah kekurangan zat besi. Jumlah makanan sehari-hari perlu ditambah
mulai kehamilan trimester ke-2 (minggu ke 13-26) menjadi 1-2 kali porsi dari
jumlah makanan pada saat sebelum hamil untuk kebutuhan gizi ibu hamil.
5. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Penting pula perhatian
keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan
dukungan dan membesarkan hatinya bahwa kehamilan merupakan anugerah
dan tugas yang mulia.

 Saat segera setelah bayi lahir.

1. Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar
mulai kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai menyusui bayi.
Karena saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan,
selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu secara naluriah.
2. Membantu kontak langsung ibu-bayi sedini mungkin untuk memberikan rasa
aman dan kehangatan.

c). Masa Neonetus

1. Bayi hanya diberi ASI saja atau ASI Eksklusif tanpa diberi minum apapun.
2. Ibu selalu dekat dengan bayi atau di rawat gabung.
3. Menyusui tanpa dijadwal atau setiap kali bayi meminta (on demand).
4. Melaksanakan cara menyusui (meletakan dan melekatkan) yang baik dan
benar.
5. Bila bayi terpaksa dipisah dari ibu karena indikasi medik, bayi harus tetap
mendapat ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan agar
produksi ASI tetap lancar.
6. Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) dalam waktu
kurang dari 30 hari setelah melahirkan.

d). Masa menyusui selanjutnya (post neonatal).

1. Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi, yaitu
hanya memberikan ASI saja tanpa makanan atau minuman lainnya.
2. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui sehari-hari. Ibu
menyusui perlu makan 1½ kali lebih banyak dari biasanya (4-6 piring) dan
minum minimal 10 gelas sehari.
3. Cukup istirahat (tidur siang/berbaring 1-2 jam), menjaga ketenangan pikiran
dan menghindari kelelahan fisik yang berlebihan agar produksi ASI tidak
terhambat.
4. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang
keberhasilan menyusui.
5. Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau
menyusu, puting lecet, dll ).
6. Memperhatikan kecukupan gizi makanan bayi, terutama setelah bayi berumur
6 bulan; selain ASI, berikan MP-ASI yang cukup, baik kualitas maupun
kuantitasnya secara bertahap.

2.3 ASI Esklusif

A. Pengertian ASI Eksklusif.

Kata eksklusif diambil dari kata asli bahasa inggris, exclusi yang menurut
kamus (John M.Ecolos & Hasan Shadily) artinya sendirian, tidak disertai dengan
yang lain, Dengan demikian pemberian ASI eksklusif diartikan sebagai pemberian
ASI sepenuhnya tanpa disertai tambahan apapun sejak bayi lahir sampai umur
tertentu. (Budiasih, 2008).

Menurut Setyo dan Sri (2011) ASI eksklusif dikatakan sebagai pemberian
ASI selama 6 bulan, tanpa tambahan cairan seperti susu formula, jeruk, madu, air teh
dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit,
bubur nasi, dan nasi tim.

Menyusui (breast-feeding) memberi sang bayi makanan melalui kecupan ke


putting susu sang ibu kandung pasca persalinan. Inilah yang di kategorikan ASI
Eksklusif. Menyusui tanpa melalui puting susu ibu kandung bagi sang bayi tidak
dikategorikan menyusui dan tidak dikategorikan ASI eksklusif, karena hanya sekedar
memberi makanan berupa ASI. dengan memberikan ASI melalui kecupak putting
susu ibu kandung bayi mendapatkan makanan yang memenuhi kebutuhan jasmani
dan sekaligus mendapatkan kasih sayang serta cinta kasih yang memenuhi kebutuhan
psikis atau batin sang ibu maupun sang bayi (Mangku Sitepoe 2013)
Di dalam kitab suci Al-Qur’an dengan penjabaran sebagai berikut hendaknya
ibu – ibu menyusui anak – anaknya secara Eksklusif 0 – 6 bulan dan selama dua
tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah untuk
menafkahinya pakainya mereka dengancara yang patut. (Q.S. Al-Baqoroh : 233)

Jumlah isapan ASI di pengaruhi oleh komposisi dan keiasaan menyusui.


Volume setiap isapan adalah 0,14 -0,01 cc dan rata – rata isapan 2 detik . menyusui
harus di bedakan dari pemberian ASI, pemberian ASI mencakup tidak hanya
memberikan ASI melalui kecupan putting susu sang ibu tetapi juga ASI didinginkan
atau diawetkan dan ASI melalui bank ASI. kuantitas produksi ASI dipengaruhi oleh
keadaan gizi ibu, ibu dengan gizi baik akan memproduksi ASI sekitar 600-800 ml
pada bulan pertama, sedangkan ibu dengan gizi kurang hanya memproduksi ASI
sekitar 500-700 ml.(Marmi,2013).

B. Produksi ASI.

Proses terjadinya pengeluaran air susu merupakan kejadian alamiah, dimulai


atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut
merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolactin yaitu
hormone utama yang menyebabkan keluarnya air susu pada ibu yang menyusui.
saluran susu agar agar membiarkan air susu dapat mengalir dengan mudah dan
lancer.

(a) Komposisi ASI

Komposisi ASI dibedaka menjadi 3 yaitu :

1. Kolostrum. ASI yang dihasilkan hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi
lahir. Manfaat kolostrum menurut BMSG. Practical hints on breastfeeding.
1) Kolostrum berkhasiat khusus untuk bayi dan komposisinya mirip dengan
nutrisi yang diterima bayi selama di dalam rahim.
2) Kolostrum bermanfaat untuk mengenyangkan bayi pada hari - hari
pertamanya.
3) Seperti imuniasi, kolostrum member antibodi kepada bayi (perlindungan
terhadap penyakit yang sudah pernah diderita ibu sebelumnya).
4) Kolostrum mengandung sedikit efek pencahar untuk menyiapkan dan
membersihkan system pencernaan bayi dari mekonium.
5) Kolostrum juga mengurangi konsentrasi bilirubin (yang menyebabkan
bayi kuning) sehingga bayi lebih terhindar dari jaundice.
6) Kolostrum juga membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk
pencernaan.

2. ASI transisi. ASI yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari kesepuluh.
3. ASI Mature. ASI yang dihasilkan mulai hari sepuluh sampai dengan
seterusnya.

Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada
tabel1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein dari pada
ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein
whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggiakan membentuk gumpalan yang
relatifkeras dalam lambung bayi.

Bila bayi diberi susu sapi, Sedangkan ASI walaupun mengandung lebih
sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih banyak, sehingga akan
membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus
bayi. Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak,
yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu
sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak
(lipase).Kandungan total lemak sangat bervarias idari satuibu ke ibu lainnya, dari
satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 –
2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan
rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut“Hand milk”,
mengandung sedikitnya tiga sampa iempat kali lebih banyak lemak.Ini akan
memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting
diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini Laktosa (gula susu)
merupakansatu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya
dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu
sapi.

Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian


laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut
membantu mencegah pertumbuhan bakteriyang tidak diinginkan dan juga membantu
penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain. ASI mengandung lebih sedikit
kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan
mencukupikebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga
mengandung lebih sedikit natrium,kalium,fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu
sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi. Apabila makanan yang
dikonsumsi ibu memadai,semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai
enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat
vitaminD dalam lemaksusu, tetapi penyakit polio jarang terjadi padaaanak yang
diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut
dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini
merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak.
C. Manfaat ASI bagi Ibu

1. Aspek kesehatan ibu.


Isapan bayi akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis.
Oksitisin akan membantu involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan post
partum. Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan post partum mengurangi
prevalensi anemia. Selain itu, mengurangi angka kejadian karsinoma mammae.
2. Aspek keluarga berencana.

Merupakan KB alami, sehingga dapat menjarangkan kehamilan.Meurut


penelitian, rerata jarak kehamilan pada ibu menyusui adalah 24 bulan, sedangkan
yang tidak 11 bulan.

3. Aspek psikologis.
Ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat
menyusui
D. Manfaat ASI bagi bayi

1. Nutrient (zat gizi) yang sesuia untuk bayi.


2. Mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam, mineral serta vitamin.
3. Mengandung zat protektif. Terdapat zat protektif berupa laktobasilus bifidus,
laktoferin, lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibody,
imunitas seluler dan tidak menimbulkan alergi.
4. Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan. Sewaktu menyusui kulit
bayi akan menempel pada kulit ibu, sehingga akan memberikan manfaat untuk
tumbuh kembang bayi kelak. Interaksi tersebut akan menimbulkan rasa aman
dan kasih sayang.
5. Menyebabkan pertumbuhan yang baik. Bayi yang mendapat ASI akan
mengalami kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah
peeriode perinatal baik dan mengurangi obesitas.
6. Mengurangi kejadian karies dentis. Insiden karies dentis pada bayi yang
mendapat susu formula lebih tinggi disbanding yang mendapat ASI, Karena
menyusui dengan botol dan dot pada waktu tidur akan menyebabkan gigi
lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan gigi menjadi
asam sehingga merusak gigi.
7. Mengurangi kejadian maloklusi. Penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan
lidah mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot.

E. Manfaat ASI bagi keluarga.

1. Aspek ekonomi. ASI tidak perlu dibeli dan karena ASI bayi jarang sakit
sehingga dapat mengurangi biaya berobat.
2. Aspek psikologis. Kelahiran jarang sehingga kebahagiaan keluarga
bertambah dan mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
3. Aspek kemudahan. Menyusui sangat praktis sehingga dapat diberikan
dimana saja dan kapan saja serta tidak merepotkan orang lain.

F. Manfaat ASI bagi Negara

1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. Terdapat faktor protektif


dan nutrient yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta
angka kesakitan dan kematian menurun. Beberapa penelitian epidemiologis
menyatakan bahwa ASI melindungi anak dari penyakit infeksi, seperti
diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit. Denga adanya rawat gabung maka
akan memperpendek lama rawat inap ibu dan bayi, mengurangi komplikasi
persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya perawatan anak
sakit.
3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula. ASI dapat dianggap
sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan aka
menghemat devisa sebesar Rp 8,6 milyar untuk membeli susu formula.
4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa karena anak yang dapat ASI
dapat tumbuh kembang secara optimal.

G. ASI sebagai bahan makanan

ASI makanan yang sempurna, tidak ada makanan sesempurna ASI bagi bayi
sesudah lahir. Dengan ASI, bayi mampu mempertahankan kehidupannya pada saat
pertama kali menghirup udara di luar kandungan sang ibu. Sebelum lahir, sang bayi
mengalami suasana di dalam air seperti ikan yang bernafas dengan insang. Selain itu,
makana bayi di dalam kandungan langsung datang dari pembuluh darah sang ibu
melalui tali pusat yang diedarkan ke seluruh organ tubuh untuk tumbuh dan
kembang. Setelah itu, bayi bernafas dengan paru – paru dan mengkonsumsi ASI.
Setelah lahir, alat pencernaa bayi mulai berfungsi, yang di awali dengan gerakan
menghisap dan menelan ASI melalui putting susu sang ibu. Stelah itu, ASI masuk
ke alat pencernaan sang bayi untuk dicerna dengan bantuan enzim yang ada di
pencernaan. Akhirnya, ASI di pencernakan bayi diserap melalui pembuluh darah
untuk diedarkan ke seluruh organ tubuh.

J. Gizi bayi pasca kelahiran.

ASI adalah satu – satunya makanan bayi pasca kelahiran yang harus
diberikan sampai umur 4 – 6 bulan,dengan minimum requitmentsudah ditetapkan
secara alamiah, berbagai faktor, sang bayi tidak dapat mengkonsumsi ASI sehingga
diperlukan suplementasi dan subtitusi ASI.
1. Kebutuhan Energi.

Kebutuhan energi sang bayi dipenuhi dari air dan kalori. Ini karena air dan
kalori yang dimiliki sang bayi hanya cukup untuk kebutuhan beberapa hari saja pasca
kelahiran.
a. Kebutuhan kalori pada hari kedua atau ketiga pasca kelahiran : RDA
(recommended dietary allowance) adalah : 105 kalori/kg BB/hari.
b. Sampai umur 4 bulan, 30 % kalori yag digunakan untuk pertumbuhan.
c. Pada usia 4 bulan, BB menjadi 2 kali lipat. Sebagian terbesar waktu sang
bayi digunakan untuk tidur.
2. Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan bagi bayi pasca kelahiran adalah 150 cc/kg BB setiap
hari.Tetapi diperlukan cairan tambahan yang sesuai dengan kehilangan cairan
melalui kulit, nafas, saluran pencernaan, sakit panas dan mencret.
a. Kebutuhan Protein.
Kebutuhan protein untuk bayi setiap kg BB adalah yang paling tinggi
selam hidup. Kebutuhan protei untuk bayi umur 0-6 bulan adalah 2,2 gr/kg BB/hari.
Pada bayi 0-4 bulan kebutuhan protein menjadi 3,5 gr/hari. Sesudah umur 8 bulan,
kebutuhannya sebesar 3,1 gr/hari sehingga pada berat 7 kg kadar protein tubuh: 14,6
%. Kekurangan protein pada masa pasca kelahiran akan mengakibatkan gangguan
fisik dan keterbelakangan mental ketika ia dewasa kelak.
b. Kebutuhan Lemak
Lemak bukan kebutuhan spesifik bagi sang bayi, tetapi merupakan bagian
dari energy dan digunakan sebagai pelarut vitamin yang larut dalam lemak.
Komponen lemak dalam ASI adalah 4,7%. Lemak berupa asam lemak esensial :
asam linoleat. Kebutuhan akan asam linoleat adalah 3% fari jumlah kalori yang
dikonsumsi. ASI mengandung 6-9% dari jumlah kalori yang dikonsumsi.
c. Kebutuhan karbohidrat atau laktosa
Dalam keadaan normal, kebutuhan laktosa setiap hari telah terpenuhi oleh
laktosa pada ASI.laktosa dapat membantu penyerapan Ca, juga mendorong
pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus yang bermanfaat untuk melindugi alat
pencernaan atau gastrointestinal yang terinfeksi.
d. Kebutuhan mineral
Menurut WHO/IAEA, kebutuhan mineral bagi tubuh adalah mineral yang
tidak disimpan pada periode kehidupan in utero. Mineral zat besi (Fe) dan zat
tembaga (Cu) sampai umur 4 – 6 bulan masih cukup diperoleh dari ASI yang
dihasilkan pasca nifas.Sedangkan zat selenium (Se) dan zat seng (Zn) harus
ditambahkan sebagai suplemen atas ASI yang dihasilkan. Beberapa mineral yang
harus mendapat perhatian antara lain :
1. Kalsium (Ca) : NRC Amerika menetapkan kebutuhan Ca adalah 60
mg/kgBB/hari. Pada ASI dijumpai 300 mg/liter, karena itu
diperlukan 200 cc ASI untuk setiap kg BB bayi. Pada ASS (Air Susu
Sapi), dijumpai kalsium 600 – 700 mg/liter.
2. Zat besi (Fe) : kebutuhan Fe setiap hari bayi dibawah umur 6 bulan
adalah 10 mg dan sesudah 6 bulan menjadi 15 mg/kg BB/hari bayi
pasca nifas sesudah berumur 3 bulan harus mendapatkan
suplementasi Fe 1mg/kg BB/hari. Sementara itu, bayi premature
memerlukan 2 mg/kg BB/hari (NRC Amerika). ASI normal berkadar
zat besi 11 mg/liter. Sehingga sesudah umur 2-3 bulan bayi akan
kekurangan Fe.
3. Flour (FI) : kebutuhan flour pada bayi di bawah umur 1 tahun : 0,1 –
1 mg/kg BB/hari, sedangkan kadar FI pada ASI adalah 0,1 mg setiap
hari.
4. Zat seng (Zn) : zat ini diperlukan untuk pembentukan enzim dan
penyerapan vitamin A serta membantu maturity seksualitas (WHO).
5. Kebutuhan vitamin
(a) Vitamin A : kebutuhan vitamin A bayi umur 0 – 6 bulan adalah
420 µ gr retinol/hari (1 µ g = 10 IU Vitamin A). sedangkan
vitamin A dalam ASI adalah 49 µ gr retinol/100 cc ASI.
konsumsi ASI bagi bayi umur 0 – 6 bulan adalah 860 cc/hari.
Kebutuhan vitamin A seimbang dengan ASI normal.
(b) Vitamin D : supaya pertumbuhan tulang normal, diperlukan
sejumlah 10 µ gr atau 400 IU vitamin D. sedangkan dalam ASI
dijumpai 2,5 µ gr (100 IU) setiap hari yang disusu dalam ASI.
diperlukan suplentasi vitamin A dan sinar matahari pada bayi di
bawah umur 6 bulan.
(c) Vitamin E : pasca kelahiran kadar vitamin E dalam darah masih
di bawah normal, mulai bergerak meningkat normal sesudah
berumur 1 bulan. Peningkatan dengan minum ASI
(breastfeeding) jauh lebih cepat dibandingkan dengan minum
susu sapi. Vitamin E dalam ASI 2-5 IU setiap liter sesuai
dengan kebutuhan vitamin E. bagi bayi premature, dianjurkan
mengkonsumsi vitamin E.
(d) Vitamin K : kekurangan vitamin K dapat terjadi sampai 1
minggu pasca kelahiran. ASI mengandung vitamin K 15 µ gr
setiap liter sedangkan kebutuhan vitamin K 12 µ gr setiap hari.
(e) Vitamin C : bayi normal membutuhkan vitamin C dalam ASI
sejumlah 30-35 mgr/liter.bayi premature 100mgr/hari.
(f) Asam folat : kebutuhan Asam folat bagi bayi adalah 5 µ gr/kg
BB/hari, sedangkan dalam ASI dijumpai 2-3 µ gr/100 mgr ASI
.
(g) Thiamine : kebutuhan thiamine dapat disuplai dari ASI, yaitu
0,03 mg/kg/BB/hari atau 2-3 µ gr setiap 1.000 kalori yang
dikonsumsin.
(h) Niacin : kebutuhan bayi < 6 bulan adalah 6 mg/hari.

I. Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi pemberian ASI, Yaitu:


1. Faktor predisposisi (predisposing factor) yaitu faktor yang menjadi dasar
atau motivasi terjadinya perilaku yang meliputi pengetahuan, keyakinan,
nilai, sikap dan kepercayaan.
2. Faktor prmungkin (enabling factors) faktor yang memungkinkan untuk
terjadi perubahan perilaku atau lingkungan yang memungkinkan motivasi
atau kebijakan direalisasikan. Faktor ini mencakup sumber daya
kesehatan, keterjangkauan sumber daya kesehatan, priorities dan
komitmen masyarakat atau pemeintah terhadap kesehatan, keterampilan
yang berkaitan dengan kesehatan.
3. Faktor penguat (reinforcing factors) adalah faktor yang dapat
memberikan rangsangan atau penghargaan atau dukungan dan cukup
berperan untuk terjadinya perilaku yaitu keluarga, sahabat, teman sebaya,
guru, majikan, petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan pengambil
keputusan.
J. Kendala pemberian ASI Eksklusif

Dalam kenyataannya tidak sesederhana yang dibayangkan mengenai


pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, Terdapat kendala dalam upaya pemberian
ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Beberapa kendala menurut
partiwi dan purnawati (2008) yang sering menjadi alasan ibu melakukan kunjungan
ke klinik laktasi, yaitu :

1. Produksi ASI kurang.


Ibu merasa ASInya kurang padahal sebenarnya cukup hanya ibu yang
kurang yakin dapat memproduksi ASI yang cukup. Berbagai faktor yang diitentifikasi
dan diperbaiki pada penyebab kurangnya ASI.
1. Faktor menyusui : tidak melakukan inisiasi menyusui dini, jadwal
pemberian ASI, memberikan minuman prelaktat (bayi diberi minum
sebelum ASI keluar).
2. Faktor psikologis : persiapan psikologis ibu sangat mempengaruhi
keberhasilan menyusui. Ibu yang tidak mempunyai keyakinan
mampu memproduksi ASI umumnya akhirnya memang produksi
ASInya kurang. Stress, khawatir, ketidakbahagiaan ibu pada periode
menyusui sangat berperan dalam mengsukseskan pemberian ASI
eksklusif. Peran keluarga dalam meningkatkan percaya diri ibu
sangat besar.
3. Faktor fisik ibu seperti : ibu lelah, sakit, ibu yang menggunakan pil
kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang mengandung hormone, ibu
menyusui yang hamil lagi, peminum alcohol, perokok, atau ibu
dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI.
4. Faktor bayi : misalnya bayi sakit, premature, bayi dengan kelainan
bawaan.
 Ibu kurang memahami cara menyusui yang benar. Kurang mengerti
posisi dan perlekatan pada saat menyusui yang baik sehingga tidak
bias menghisap secara efektif dan ASI tidak dapat keluar dengan
optimal.
 Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi susu formula
(relaksasi).
 Biasanya setelah tidak menyusui beberapa lama produksi ASI akan
berkurang dan bayi akan malas menyusu dari ibunya.
 Bayi terlanjur diberi prelactal feeding, seringkali sebelum ASI keluar
bayi sudah diberi air putih, pemberian air gula, air madu atau susu
formula. Hal ini yang menyebabkan bayi malas menyusu, dan bahan
tersebut mungkin akan menyebabkan reaksi alergi.
 Kelainan bayi : bayi yang menderita sakit atau kelainan kongenetal
mungkin akan mengganggu proses menyusu.

K. Cara merawat payudara.


Salah satu cara Memperbanyak air susu ibu yaitu dengan memberikan
rangsangan pada otot – otot buah dada ibu. Terdapat 2 cara, pengurutan dan
penyiraman buah dada. Dengan cara pengurutan atau masase,diadakan dengan tujuan
memberikan rangsangan kepada kelenjar air susu ibu agar dapat memproduksi ASI.
dilakukan pada waktu pagi dan sore, dilakukan sebelum mandi kemudian diteruskan
dengan penyiraman bersamaan dengan mandi, adapu alat – alat yang diperlukan
untuk pengurutan dan penyiraman buah dada ini ialah :

a. Bahan pelumas kutil, seperti minyak kelapa, talk, sabun.


b. 2 Handuk kecil atau waslap atau kain yang bersih, lunak,cukup tebal,
dan mudak menyerap air untuk menggosok buah dada.
c. 2 handuk besar, 1 untuk menutup punggung dan 1 untuk
mengeringkan sesudah dicuci dan mandi.
d. 2 buah kom besar untuk menampung air panas dan dingin.
e. Kutang bersih sesuai dengan ukuran buah dada ibu, dan
perlengkapan lainya. Caranya :
1. Kedua telapak tangan diberi talk atau diulas dengan minyak.
2. Payudara kiri diurut dengan tangan kiri, begitu juga
dengan payudara yang kanan diurut oleh tangan kanan.
3. Pengurutan dari tengah berputar kesamping, terus
kebawah, dilakukan berulang – ulang 1- - 15 menit.
4. Bagian samping payudara diurut dari pangkal dari pangkal
keputing, dilakukan berulang selama 10 – 15 kali.
5. Bagian bawah payudara diurut kearah putting, 15 – 20 kali.
6. Setelah pengurutan dilanjutkan dengan penyiraman.
7. Ibu bias dengan duduk atau berdiri, pakaian atas dibuka,
punggung ditutup dengan handuk.
8. Kom air panas dan dingin, sediakan dikamar mandi.
9. Siram payudara dengan air hangat kurang lebih 10 kali.
10. Dibilas dengan air dingin kurang lebih 10 kali, kemudian
terakhir disiram dengan air hangat.
L. Cara menyusui yang benar
1. cara menyusui dengan sikap duduk :
a. duduk dengan posisi tegap punggung bersandar dan santai
dikursi yang rendah supaya kaki ibu tidak menggantung.
b. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan
pada putting sampai ke areola. Cara ini bermanfaat sebagai
desinfektan serta menjaga kelembaban putting susu.
c. Gunakan bantai atau kain untuk menopang bayi, bayi ditidurkan
diatas pangkuan ibu dengan cara :
d. Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakan
dilengkung siku ibu dan bokong bayi diletakan dilengan. Kepala
bayi tidak boleh tertengadah.
e. Satu tangan bayi diletakan dibelakang ibu, seolah – olah bayi
memeluk ibu.
f. Perut bayi menempel pada ibu, kepala bayi menghadap
payudara ibu.
g. Ibu menatap bayi dengan penuh kasih sayang.
h. Tangan kana menyangga payudara kiri dan keempat jari dan ibu
jari menekan menekan payudara bagian atas areola.
i. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulutnya (rooting
reflek) dengan cara putting menyentuh pipi atau menyentuh
mulut bayi.
j. Dengan cepat kepala bayi didekatkan kepayudara ketika mulut
bayi membuka, putting dan areola masuk ke mulut bayi,
usahakan sebagian besar areola masuk kemulut bayi, sehingga
putting susu berada dibawah langit – langit dan lidah bayi akan
menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak
dibawah areola.
2. Melepas isapan bayi
Menyusui sebaiknya bergantian dengan payudara yang lainya ketika telah
merasa kosong menyusui dipayudara yang satunya, cara melepas isapan bayi yaitu
sebagai berikut:
a. Jari kelingking ibu dimasukan kemulut bayi melalui sudut mulut
atau
b. Dagu ditekan kebawah.
c. Menyusui berikutnya dimulai pada payudara yang belum
terkosongkan.
d. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian
dioleskan keputing susu dan areola. Biarkan kering dengan
sendirinya.
3. Menyendawa bayi.
Tujuan menyendawa bayi yaitu mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi
tidak muntah setelah menyusu. Caranya menyendawakan bayi :
a. Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu,
kemudian punggungnya ditepuk perlahan – lahan.

b. Dengan cara menengkurupkan bayi diatas pangkuan ibu, lalu


usap – usap punggung bayi sampai bayi bersendawa.

M. Tanda Bayi Cukup ASI


Tanda bayi cukup ASI yaitu :
1. Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 12 jam dan warnanya jernih
sampai kuning muda.
2. Bayi sering BAB berwarna kekuningan “Berbiji”.
3. Bayi tampak puas, sewaktu – waktu merasa lapar, terbangun dan
tudur cukup.
4. Bayi menyusu kurang lebih 10 – 12 kali dalam 12 jam.
5. Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui.
6. Ibu dapat merasakan geli setiap karena aliran ASI, setiap kali bayi
mulai menyusu.
7. Bayi bertabah berat badanya.
8. Ibu dapat mendengar suara menelan yang pelan ketika bayi
menelan ASI.

N. Cara Memerah ASI.


a. Mencuci tangan sebelum memerah ASI.
b. Menyediakan mangkuk bersih yang bermulut lebar dan diletakan di
payudara.
c. Meletakan ibu jari diatas areola dan jari lain dibawah areola.
d. Menekan kearah dada.
e. Menekan dengan desikit mengurut kearah puting sampai ASI
memancar keluar.
f. Mengubah posisi jari ke jam 3 dan jam 9 memulai lagi memerah.
g. Jangan sampai terasa sakit.
h. Perah satu payudara selama 3-5 menit, kemudian beralih ke
payudara lainya.
i. Demikian seterusnya sampai payudara terasa kosong (20-30 menit).

O. Faktor –faktor yang mempengaruhi gizi ibu menyusui.


1. Pengaruh makanan erat kaitanya dengan volume ASI yang
diproduksi setiap hari.
2. Protein, dengan adanya variasi individu maka dianjurkan
penambahan 15 – 20 gr protein sehari.
3. Suplementasi, jika makan sehari seimbang, suplementasi tidak
diperluka kecuali jika kekurangan satu atau lebih zat gizi.
4. Aktifitas.
5. Psikologi.
6. Kesehatan.
7. Pengetahuan dan pendidikan tentang pantangan, kesukaan,
kebutuhan.
8. Sosial ekonomi.
9. Bayi tidak mau menyusu.
10. Masalah pada payudara.

P. Gizi wanita menyusui.

Pada saat menyusui selain dibutuhkan tambahan energi dan zat – zat gizi
lain, dibutuhkan pula lebih banyak cairan. Oleh karena itu ibu menyusui dianjurkan
untuk minum 8 – 12 gelas sehari, yang bias didapat dari air putih, susu (untuk
tambahan protein) dan sari buah (untuk menambah vitamin C). sayuran dianjurkan
yang berkuah serta memperbanyak makan buah – buahan. Selama menyusui ibu
dianjurkan pula untuk menambah konsentrasi kalsium dan zat besi. Keberhasilan
seorang ibu untuk memberikan ASI yang cukup kepada bayinya ditentuka oleh
bagaimana kualitas dan kuantitas makanan baik semasa hamil maupun semasa
bayinya lahir. Kebutuhan makanan pada ibu menyusui meningkat dikarenakan :

1. Makanan tersebut diperlukan untuk menghasilkan sejumlah ASI yang


sangat diperlukan sebagai makanan utama bayi ibu.
2. Untuk pemulihan kesehatan bagi ibu setelah melahirkan.
3. Memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat karena kegiatan sehari –
hari yang bertambah.
Q. Kebutuhan gizi pada ibu menyusui
1. Energi.
Dibutuhkan sebesar 700 kkal atau/hari (6 bulan pertama menyusui).
Untuk 6 bulan kedua dibutuhkan sekitar rata – rata 500 kkal/hari
dan pada tahu kedua dianjurka tambahan sebanyak 400 kkal/hari.
Karbohidrat kompleks adalah salah satu sumber vitamin B dan
mineral terbaik untuk pertumbuhan bayi. Dengan demikian selama
menyusui harus mengkonsumsi makanan yang mengandung
karbohidrat kompleks.
2. Protein.
Ibu menyusui membutuhkan 3 porsi protein per hari selama
menyusui. Tambahan protein dibutuhkan sebesar 16 gram/hari
untuk 6 bulan pertama. Pada 6 bulan kedua dibutuhkan protein
sekitar 12 gr/hari untuk tahun kedua dibutuhkan 11 gr/hari.
3. Zat besi.
Terdapat sebanyak 0,3 mg/hari dikeluarkan dalam bentuk ASI. oleh
karena itu perlu ditambahkan basal loos sehari –hari. Rata –rata
kebutuhan zat besi untuk 6 bulan pertama menyusui adalah 1,1
mg/hari. Sehingga memerlukan tambahan zat besi sebesar 5
mg/hari.
4. Kalsium.
Diperlukan dalam jumlah yang cukup besar sekitar 400 mg, karena
dalam proses produksi ASI tubuh juga menjaga konsentrasi kalsium
dalam ASI relative konstan baik dalam kondisi intake kalsiun cukup
atau kurang. Jika intake kalsium tidak mencukupi maka kebutuhan
kalsium dalam produksi ASI akan diambil dari deposit yang ada
pada tubuh ibu, termasuk dalam tulang.

5. Vitamin A
Begitu juga dengan kebutuhan sayuran dan buah – buahan akan
meningkat, untuk menjamin adanya vitamin A dan vitamin yang
esensial lain dalam Air susu. Jumlah kebutuhan adalah 3 porsi
sehari.
6. Vitamin D
Penting untuk kesehatan gigi dan tulang.
7. Vitamin C
Karena bayi tidak dapat memperoleh kebutuhan vitamin C selain
dari ASI, maka ibu menyusui perlu makan 2 porsi makanan segar
yang mengandung vitamin C perhari.
9. Vitamin B6
Metabolism lemak dan protein, mengfasilitasi pertumbuhan sel,
mendukung saraf dan system kekebalan. Vitamin B6 sangat
dibutuhkan bagi prodduksi sel darah merah dan putih.
10. Folic acid / asam folat.
Mensintesis DNA dan membatu pembelahan sel
11. Vitamin B12
Mendudkung system saraf dan produksi sel darah merah.
12. Zinc / seng
Mendukung system kekebatan tubuh yang sehat dan penting dalam
proses penyembuhan luka

13. Garam.
Dalam jumlah yang cukup diperlukan untuk pembentukan air susu.
Garam yang digunakan harus mengandung iodium, karena iodium
sangat dibutuhkan oleh bayi.
14. Lemak.
Merupakan komponen penting dalam air susu, sebagian kalori
yang dikandunganya berasal dari lemak. Lemak bermanfaat untuk
petumbuhan bayi. Kebutuhan lemak berkaitan denga kenaikan
berat badan, apabila berat badan ibu menyusui turun, maka
tingkatkan asupa lemak sampai 4 porsi sehari.
15. Ibu menyusui sangat membutuhkan cairan agar dapat menghasilkan
ASI dengan cepat, hamper 90 % ASI terdiri dari air. Minum 8 gelas
air per hari atau lebih jika udara panas, banyak berkeringat dan
demam. Terlalu banyak minum lebih dari 12 gelas perhari juga
tidak baik karena dapat menurunkan pembentukan ASI. waktu
minum yang paling baik adalah pada saat bayi sedang menyusu atau
sebelumnya, sehingga cairan yang diminum bayi dapat diganti.
R. Peran dan Fungsi Bidan
Bidan Muncul sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong
ibu melahirkan. Peran bidan di masyarakat sangat dihargai dan dihormati karena
tugasnya yang sangat mulia, memberi semangat, membesarkan hati dan
mendampingi, serta menolong ibu melahirkan dapat merawat bayinya dengan baik.
Sebagai seorang bidan janganlah memilih- milih klien miskin atau kaya karena tugas
seorang bidan adalah membantu ibu, bukan mengejar materi. Pasien wajib
memberikan hak kepada ibu bidan yang telah menolong persalinanya.
Peran adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan dan
dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat (Rina.2012)
1. Peran sebagai pelaksana
a. Tugas mandiri/primer
Menetapkan Manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan
yang diberikan Memberi Asuhan kebidanan kepada klien selama
kehamilan normal
b. Tugas kolaborasi.
Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan
sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
c. Tugas ketergantungan atau merujuk.
Yaitu tugas yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke
system pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.
2. Peran sebagai pengelola
Bidan memimpin mengkoordinasi pelayanan kebidanan sesuai dengan
wwewenangnya didalam tim, unit pelayanan RS, Puskesmas, klinik
bersalin, praktek bidan, dan pokok bersalin.

a. Pengembangan pelayanan dasar.


b. Berpartisipasi dalam Tim.
c. Bekerjasama dengan Puskesmas & institusi lain Membina hubungan
baik dengan dukun bayi, kader kesehatan, PLKB dan masyarakat.
3. Peran sebagai pendidik.
Sebagai pendidik bidan memiliki 2 tugas yaitu sebagai pendidik dan
penyuluh kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing
leader. Memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan pada
klien Bidan memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada
klien (individu, keluarga, kelompok, serta masyarakat) tentang
penanggulangan masalah kesehatan, khususnya yang berhubungan
dengan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana, mencakup :
a. Mengkaji kebutuhan pendidikan dan penyuluhan kesehatan,
khususnya dalam bidang kesehatan ibu, anak, dan keluarga
berencana bersama klien.
b. Menyusun rencana penyuluhan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
yang telah dikaji, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang
bersama klien.
c. Menyiapkan alat serta materi pendidikan dan penyuluhan sesuai
de¬ngan rencana yang telah disusun.
d. Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan
kesehatan sesuai dengan rencana jangka pendek serta jangka
panjang dengan melibatkan unsur-unsur terkait, termasuk klien.

e. Mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan bersama klien


dan menggunakannya untuk memperbaiki serta meningkatkan
pro¬gram di masa yang akan datang.
f. Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil pendidikan/
penyuluhan kesehatan secara lengkap serta sistematis.
4. Peran Sebagai Peneliti/lnvertigator.
Bidan melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang
kesehatan baik secara mandiri maupun berkelompok, mencakup:
a. Mengidentiflkasi kebutuhan investigasi yang akan dilakukan
b. Menyusun rencana kerja pelatihan.
c. Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana.
d. Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi.
e. Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut.
f. Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan
mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan.
Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan bidan
yang diakui oleh Negara serta memperolek kualifikasi dan diberi izin untuk
menjalankan praktek kebidanan di negeri itu.
Bidan dapat bekerja mandiri melakukan pelayanan kebidanan primer
sesuai dengan wewenangnya dan menentukan perlunya dilakukan rujukan.
Disamping itu perannyaa didalam pelayanan kolaboratif sebagai mitra dalam
pelayanan medis terhadap ibu, bayi dan anak dan sebagai anggota tim
kesehatan dalam pelayanan kesehatan keluarga dan masyarakat.
Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi, kegiatan dan tanggung
jawab bidan dalam pelayanan yang diberikan kepada klien yang memiliki
kebutuhan dan / masaalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru
lahir,keluarga berencana, kesehatan reproduksi wanita, dan pelayanan kesehatan
masyarakat). Tujuan asuhan kebidanan adalah menjamin kepuasan dan
kesehatan ibu dan bayinya sepanjang siklus reproduksi, mewujudkan keluarga
bahagia dan berkualitas melalui pemberdayaan perempuan dan
keluarganyadengan menumbuhkan rasa percaya diri. Pelaksanaan kebidanan
merupakan baguan integral dan pelayanan kesehatan, yang difokuskan pada
pelayanan kesehatan wanita dalam siklus reproduksi, bayi baru lahir dan balita
untuk mewujudkan kesehatan keluarga sehingga tersedia Sumber Daya manusia
(SDM) yang berkualitas di masa depan.

S. Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI eksklusif


1. Pengertian dukungan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia dukungan adalah dari kata
dukung yang berarti bantuan atau sokongan yang diberikan kepada orang lain
untuk memotivasi sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Dalam
memberikan dukungan sangat tergantung pada faktor – faktor lain dari orang
yang bersangkutan. Diantaranya yaitu :
a. Faktor internal : karakteristik dari individu, yang bersifat bawaan,
misalnya : tingkat kecerdasan, emosional, dan sebagainya.

b. Faktor eksternal : faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial,


ekonomi, budaya, politik dan sebagainya.
Pemahaman dan motivasi adalah kunci utama keberhasilan menyusui.
memahami bahwa menyusui adalah fitrah, air susu ibu adalah spesies spesifik,
air susu ibu adalah yang terbaik. Air susu ibu tidak hanya berisi nutrisi tetapi
juga materi pengatur pematangan saluran cerna bayi, materi berisi kode strategi
menghadapi kehidupan dengan paparan terhadap zat kimia, mikroba dan racun
yang ada pada makanan dan minuman.
Proses pembuatan dan pengeluaran air susu ibu dikendalikan oleh
hormon maka pemahaman dan motivasi yang sangat tinggi bisa menjadi
boomerang apabila tidak disertai strategi. Memberikan ASI Eksklusif
membutuhkan stamina yang baik, oleh karenanya perlu dukungan keluarga dan
lingkungan.
Pemahaman dan motivasi ini juga harus meliputi pengupayaan agar
kehamilannya berjalan normal. Pada kehamilan dengan komplikasi maka
pemberian ASI eksklusif menjadi relatif lebih sulit. Agar timbul pemahaman
dan motivasi tinggi, sebaiknya pasangan atau lebih baik lagi jika keluarga
diikutsertakan saat ibu mengikuti bimbingan ASI prenatal sehingga peran dan
dukungan dalam mewujudkan pemberian ASI eksklusif menjadi utuh.

Petugas kesehatan mempunyai peran yang sangat istimewa dalam


menunjang pemberian ASI, terutama Bidan. Peran bidan dalam mendukung
pemberian ASI eksklusif diantaranya

a. Yakinkan bahwa bayi memperoleh makan yang mencukupi dari


payudara ibu.
b. Bantulah ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya.
c. Bidan dapat memberikan dukungan pada pemberian ASI dengan
cara:
d. Biarkan bayi bersama ibunya segera setelah dilahirka selama
beberapa jam pertama. Untuk membina hubungan atau ikatan antara
ibu dan bayinya.
e. Mengajarkan ibu cara merawat payudara yang sehat untuk mencegah
masalah yang timbul. Ibu harus menjaga agar tangan dan putting
susunya selalu bersih untuk mencegah luka pada putting susu dan
infeksi pada payudara.
f. Membantu ibu pada waktu pertama kali member ASI, mengajari ibu
posisi ibu dan bayi yang benar saat menyusui, yaitu dengan cara.
1) Berbaring miring, ini posisi yang sangat baik untuk pemberian
pertama kali atau bila ibu merasa lelah dan merasakan nyeri.
2) Duduk, dengan memberikan tompangan atau sandaran pada
punggung ibu.
g. Bayi ditempatkan dekat dengan ibu atau di kamar yang sama (rawat
gabung, rooming in), sehingga ibu dapat dengan mudah menyusui
banyinya bila lapar.
h. Memberikan dukungan pada ibu supaya memberikan ASI pada bayi
sesering mungkin.
i. Hanya memberikan kolostrum dan ASI saja.

j. Menghindari susu botol dan “dot empeng”, susu botol dan


kempengan membuat bayi bingung dan dapat membuatnya
menolak pentil ibunya atau tidak menghisap dengan baik.
k. Peranan awal bidan untuk mendukung pemberian ASI eksklusif dapat
diberikan dengan cara memberi motivasi ibu supaya ibu yakin bahwa
bayinya akan memperoleh makanan yang cukup dari ASInya serta
membentu sedemikian rupa hingga ibu mampu untuk menyusui
bayinya sendiri. (Suherni.2009).

Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam


kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui
pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerluka
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.Upaya kesehatan adalah
setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Kinerja adalah prestasi
kerja yang dipelihara oleh tenaga kesehatan teladan di instansi kesehatan.
Teladan adalah perbuatan yang patut ditiru.(Permenkes 161 : 2010) Keder
posyandu yaitu seorang yang dari masyarakat setempat dan dipilih oleh
masyarakat, serta mau dan mampu untuk dilatih dan bekerja secara
sukarela dalam melakukan penyuluhan maupun penggerakan masyarakat
serta mengelola dan meningkatkan kegiatan posyandu dalam rangka
meningkatkan status kesehatan masyarakat. Manfaat adanya kader
posyandu adalah (Kemenkes RI, 2011) :

1. Mendukung perbaikan perilaku, keadaan gizi, serta kesehatan


keluarga sehingga ibu memberikan ASI kepada bayinya sejak lahir
sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif).
2. Mendukung perilaku hidup bersih dan sehat.
3. Mendukung pencegahan penyakit yang berbasis lingkungan dan
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
4. Mendukung program keluarga berencana.
5. Mendukung pemberdayaan keluarga dan masyarakat
penganekaragaman pangan melalui pemanfaatan pekarangan untuk
memotivasi kelompok dasa wisma.
Peran dan fungsi kader dalam posyandu yang disebutkan oleh
Depkes RI yaitu mencakup dua pokok hal yang meliputi fungsi
penggerakan dan fungsi penyuluhan. Fungsi penggerakan yaitu kegiatan
pada tahap persiapan dan pelaksanaan posyandu. Fungsi penyuluhan yaitu
kegiatan penyampaian informasi dari sumber I informasi kepada seorang
atau sekelompok orang mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan suatu
program.

2. Peran Bidan Dalam Keberhasilan ASI Eksklusif.


Bidan ,harus mempunyai peran ganda karena mengemban tugas
yang tidak bias dipisahkan.Sebagai peran serta masyarakat ini akan sangat
bervariasi, baik dari segi wujud istitusinya ataupun intensitas kegiatannya.
Sebagai bidan yang mengetahui bahwa kesehatan masyarakat termasuk
dalam mendukung keberhasilan ASI eksklusif itu amat ditentukan oleh
partisipasi mereka dalam berperilaku sehat. Ada panggilan nurani yang
membuat para petugas harus melakukan pembinaan. Diperlukan adanya
kemampuan untuk mempergunakan peluang, keterampilan merumuskan
kiat dan ketepatan waktu bertindak,sehingga peran serta masyarakat bias
tumbuh optimal dan terarah (lilis: 2013).
Dukungan bidan dalam mensosialisasikan ASI dapat dimulai
sejak kehamilan terjadi. Setidaknya ibu hamil mengikuti 2 kali kelas
antenatal yang menjelaskan keuntungan ASI dan bagaimana cara sukses
menyusui saat kelahiran terjadi. Mempersiapkan ibu hamil yang kelak akan
menyusui mempengaruhi keberhasilan menyusui. Edukasi mengenai
pentingnya air susu ibu harus didapatkan oleh setiap ibu hamil sebelum
kelahiran terjadi (Suradi, Rulina, dkk. 2010). Dijelaskan pada peraturan
pemerintah republic Indonesia nomor 33 tahun 2012 pada pasal 37 ayat (1)
bahwa :Pelaksanan dukungan dari masyarakat dilakukan sesuai dengan
kemampuan sumber daya yang tersedia. Pelaksanaan dukungan dari
masyarakat dilakukan dengan pedoman pada 10 (sepuluh) langkah menuju
keberhasilan menyusui untuk masyarakat, yaitu :
1. Meminta hak untuk mendapat pelayanan inisiasi menyusui dini ketika
persalinan.
2. Meminta hak untuk tidak memberikan asupan apapun selain ASI
kepada bayi baru lahir.
3. Meminta hak untuk Bayi tidak ditempatkan terpisah dari ibunya.
4. Melaporkan pelanggaran-pelanggaran kode etik pemasaran pengganti
ASI.
5. Mendukung ibu menyusui dengan membuat Tempat Kerja yang
memiliki fasilitas ruang menyusui.
6. Menciptakan kesempatan agar ibu dapat memerah ASI dan/atau
menyusui Bayinya di Tempat Kerja.
7. Mendukung ibu untuk memberikan ASI kapanpun dan dimanapun.
8. Menghormati ibu menyusui di tempat umum.
9. Memantau pemberian ASI di lingkungan sekitarnya.
10. Memilih Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan yang
menjalankan 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui.
Kemudian pada pasal 39 yaitu pembinaan dan pengawasan terhadap
pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif dilaksanakan pada
situasi normal situasi bencana atau darurat.
Keberhasilan menyusui selam 6 bulan secara eksklusif
memerlukan minimal 7 kontak dengan tenaga kesehatan atau konselor
laktasi. Bibingan pengetahuan mengenai ASI sebelum proses kelahiran
sebaiknya dilakukan paling sedikit 2 kali. Kunjungan pertama membahas
dan mendiskusikan keuntungan dan manajemen menyusui, sedangkan
kunjungan kedua membahas lebih rinci mengenai proses menyusui dan apa
yang dirasakan akan menjadi masalah nanti oleh ibu. Bekerja seringkali
mencemaskan ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
Bimbingan sebelum kelahiran diperlukan untuk menghilangkan kecemasan
ibu dan member pengetahuan yang nantinya diperlukan bila ibu kembali
bekerja.

Setelah proses kelahiran, masih diperlukan sekitar 5 kali kontak


dengan tenaga kesehatan. Kontak pertama dilakukan saat kelahiran terjadi
yaitu dengan melakukan kontak kulit dini antara ibu dan bayi. Kontak
kedua dilakukan setelah kelahiran dilakukan dalam 24 jam berupa
bimbingan posisi menyusui baik dalam keadaan tidur / duduk (disesuaikan
dengan kondisi ibu) dan membantu ibu melekatkan mulut bayi pada
payudara dengan baik. Kontak berikutnya dilakukan dalam 1 minggu
kelahiran untuk menemukan berbagai kesulitan dan member dukungan
pada ibu untuk tetap menyusui.

2.5 MPASI
A. Makanan Pendamping ASI
1. Pengertian Makanan Pendamping ASI
Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang
mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan
gizinya. MP-ASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis
susu menuju ke makanan yang semi padat. Untuk proses ini juga dibutuhkan
keterampilan motorik oral. Keterampilan motorik oral berkembang dari refleks
menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan
memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.
Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk
maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Pemberian
MP-ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan
fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini
(Ariani, 2008).

Makanan pendamping ASI diberikan pada bayi mulai usia 4-6 bulan untuk
memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi lain yang tidak dapat dicukupi ASI.
disamping itu organ pencernanan bayi yang mulai sudah siap untuk menerima
makanan pendamping ASI (Azwar. 2000)

Makanan pendamping merupakan makanan tambahan bagi bayi, makanan


pendamping ASI harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi.
Hal ini menunjukkan bahwa makanan pendamping ASI berguna untuk menutupi
kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Dengan demikian, bahwa
peran makanan pendamping ASI atau makanan tambahan bukan sebagai
pengganti ASI melainkan untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Husaini dan
Anwar, 1984)

Makanan pendamping ASI merupakan sarana pendidikan untuk


menanamkan kebiasaan makan yang baik dan bergizi dan mengajarkan anak
mengunyah dan terbiasa dengan makanan baru, sekaligus memperkenalkan
beraneka macam bahan makanan Penting untuk diperhatikan agar pemberian ASI
dilanjutkan terus selama mungkin. karena ASI memberi kan sejumlah energi dan
protein yang bermutu tinggi (Krisnatuti, 2000).

Tujuan pemberian MPASI adalah karena ASI tidak mencukupi kebutuhan


bayi yang dikarenakan oleh pertambahan umur bayi yang diiringi pertumbuhan
dan aktifitasnya yang bertambah. Selain itu ketika bayi berumur lebih dari 6
bulan, timbul perbedaan antara jumlah makanan yang diperlukan dan makanan
yang dapat disediakan oleh ASI. Maka kekurangan tersebut dapat dilengkapi dari
MPASI. Selain itu pada saat bayi berumur diatas 6 bulan, syaraf dan otot di
mulut bayi sudah mulai berkembang dan dapat digunakan untuk menggigit atau
mengunyah. Pada umur tersebut bayi juga sudah mulai tumbuh gigi, bias
mengontrol pergerakan lidah, mulai menaruh barang di mulutnya dan tertarik
untuk mencoba rasa yang baru. Ditambah lagi pencernaan bayi mulai umur 6
bulan sudah cukup baik untuk mencerna makanan (Ariani, 2008).

B. Syarat makanan pendamping asi


1. Makanan pendamping harus mengandung semua zat gizi yang
diperlukan oleh bayi
2. Makanan pendamping harus diberikan kepada bayi yang telah berusia 4-
6 bulan (Muchtadi, 1994)
3. Makanan bayi mudah disiapkan dengan waktu pengolahan yang singkat
4. Makanan pendamping ASI hendaknya mengandung protein (Krisnatuti,
2000)
5. Susunan hidangan sesuai dengan pola menu seimbang, bahan makanan
yang tersedia dan kebiasaan makan
6. Bentuk dan porsi disesuaikan dengan selera serta daya terima bayi
7. Makanan harus bersih dan bebas dari kuman (poppy,2001)

C. Jenis-jenis makanan pendamping asi


1. Makanan lumat halus yaitu makanan yang dihancurkan dari tepung
dan tampak homogeny (sama/rata). Contoh: bubur susu, bubur
sumsum, biscuit ditambah air panas, papaya saring.
2. Makanan lumat yaitu makanan yang dihancurkan atau disaring tampak
kurang rata. Contoh: papaya dihaluskan dengan sendok, pisang dikerik
dengan sendok, nasi tim saring, bubur kacang hijau saring, kentang
rebus.
3. Makanan lunak yaitu makanan yang dimasak dengan banyak air dan
tampak berair. Contoh: bubur nasi, bubur ayam, bubur kacang hijau.
4. Makanan padat yaitu makanan lunak yang tidak nampak air. Contoh:
lontong, nasi tim, kentang rebus, biscuit (Nadesul. 2001).

D. Cara Pemberian Makanan Pendamping ASI


Makanan pendamping ASI dapat diberikan secara efisien, untuk itu perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Berikan secara hati-hati, sedikit demi sedikit dari bentuk encer,
berangsur-angsur ke bentuk yang lebih kental
2. Makanan baru diperkenalkan satu-persatu dengan memperhatikan
bahwa makanan betul-betul dapat diterima dengan baik
3. Makanan yang mudah menimbulkan alergi yaitu sumber protein
hewani diberikan terakhir. Untuk pemberian buah-buahan, Tepung
tepungan, sayuran, daging dan lain-lain. Sedangkan telur diberikan
pada usia 6 bulan.
4. Cara pemberian makanan bayi mempengeruhi perkembangan
emosinya. Oleh karena itu jangan dipaksa, sebaiknya diberikan saat ia
lapar (Notoatmodjo, 2007)
E. Akibat Makanan Pendamping ASI dini

1. Gangguan menyusui

Suatu hubungan sebab akibat antar pengenalan atau pemberian MP ASI


yang dini dan pengetahuan belum dibuktikan. Pada umumnya bayi bayi yang
menyusui mendapat makanan tambahan pada umur 6 bulan atau lebih dan
dalam jumlah porsi yang kecil dari bayi-bayi yang mendapatkan susu formula.

2. Beban ginjal yang berlebih dan hiperosmolaritas

Makanan padat, baik yang dibuat sendiri atau pabrik cenderung


mengandung kadar natrium klorida (NaCl atau garam) yang tinggi sehigga
akan menambah beban bagi ginjal.
Bayi yang mendapatkan makanan padat yang terlalu dini. mempunyai
osmolitas plasma yang lebih tinggi dari pada bayi-bayi yang 100% mendapat
ASI sehingga bayi cepat haus, karena hyperosmolar dehidrasi.
Hyperosmolitas merupakan penyebab haus sehingga menyebabkan
penerimaan energi yang berlebihan.

3. Alergi terhadap makanan

Belum matang sistem kekebalan dari usus pada umur yang dini, dapat
menyebabkan adanya alergi terhadap makanan pada masa kanakkanak. Alergi
pada susu sapi dapat terjadi sebanyak 75% dan telah diingatkan, bahwa alergi
terhadap makanan lainnya seperti : jeruk, tomat, telor, ikan, sereal bahkan
makin sering terjadi. Meskipun ASI kadang-kadang dapat menularkan
penyebab alergi dalam jumlah yang cukup banyak untuk menyebabkan gejala-
gejala klinis. tetapi pemberian susu sapi atau makanan pendamping dini
menambah terjadinya alergi terhadap makanan.

4. Gangguan pengaturan selera makanan

Makanan padat telah dianggap sebagai penyebab kegemukan pada bayi


terutama yang diberikan susu formula melebihi berat dari pada bayi yang
mendapatkan ASI. Hal ini dikarenakan bayi yang diberi susu formula
mendapatkan makanan padat lebih dini.

5. Bahan makanan yang merugikan

Makanan tambahan mengandung komponen-komponen alamiah yang


jika diberikan pada waktu dini dapat merugikan seperti sukrosa. Gula ini
dapat menyebabkan kebusukan pada gigi, penggunaan gula ini pada usia dini
dapat membuat anak terbiasa akan makanan yang rasanya manis dan makanan
yang mengandung glutein. Hendaknya jangan diberikan pada usia sebelumnya
atau usia muda karena dapat beresiko penyakit coeliac (penyakit perut) dan
sangat berbahaya (Suharjo, 1989).

F. Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI


Makanan pendamping ASI diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 4 - 6
bulan sampai bayi berusia 24 bulan (Krisnatuti, 2000). Adapun garis besar pemberian
makanan pendamping ASI menurut kelompok umur :

1. 0-4 bulan

Bayi hanya diberikan ASI, lebih sering, lebih baik segera setelah lahir. ASI
yang berwarna kuning-kuningan (kolostrum) diberikan kepada bayi.

2. 4-6 bulan

Bayi terus diberikan ASI disamping itu mulai memperkenalkan dengan


makanan pendamping ASI (MP-ASI) berbentuk lumatan yang ditambah dengan air
atau susu, pisang, dan pepaya yang dihaluskan.

3. 7-9 bulan

Bayi terus diberikan ASI pada umur 7 bulan. Alat pencernaan pada bayi
sudah lebih berfungsi oleh karena itu bayi mulai diperkenalkan dengan makanan
pendamping ASI (MP-ASI). Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi
ditambah sedikit demi sedikit dengan sumber zat lemak yaitu santan atau minyak
kelapa atau margarin bahan makanan ini dapat menambah kalori makanan bayi,
memberi rasa enak jika Bayi terus diberikan ASI disamping itu mulai
memperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) berbentuk lumatan
yang ditambah dengan air atau susu, pisang, dan pepaya yang dihaluskan
mempertinggi penyerapan vitamin A dan zat gizi lain yang larut dalam lemak.

4. 9-12 bulan.

Bayi terus diberikan ASI disamping itu mulai diberikan makanan lunak
seperti: bubur nasi, bubur kacang hijau,dan lain-lain. Pada usia 10 bulan bayi mulai
diperkenalkan dengan makanan keluarga secara bertahap bentuk dan kepadatan nasi
tim bayi diatur secara mendeteksi bentuk dan kepadatan makanan keluarga.

5. 12-24 bulan

Bayi terus diberikan ASI, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI)


atau makanan keluarga sekarang 3x sehari dengan porsi separuh makanan orang
dewasa setiap kali makan selain tetap di berikan makanan selingan dua kali sehari
(Poppy, 2001).

G. Makanan Pendamping ASI usia 7 Bulan

Pemberian ASI tetap diteruskan semau bayi. Pada bulan ini bayi sudah dapat
diberikan makanan seperti nasi tim ditambah sedikit demi sedikit sumber lemak yaitu
santan atau minyak kelapa/margarine. Bahan makanan ini dapat menambah kalori
makanan bayi, di samping memberikan rasa enak juga mempertinggi penyerapan
vitamin A dan zat lain yang larut dalam lemak. Waktu pemberian MPASI pada masa
ini adalah umur 7 bulan dapat diberikan bubur susu satu kali. sari buah dua kali.

Beberapa contoh menu MP-ASI 7 bulan :

1. Bubur Jagung

Jagung juga kaya akan kandungan vitamin C yang sangat diperlukan si kecil
untuk kesehatan gusi, tulang, dan daya tahan tubuh. Kandungan nutrisi lain dari
jagung manis termasuk diantaranya adalah vitamin B3 atau niasin, dan unsur kalium.
Vitamin B3 diperlukan tubuh untuk proses menghasilkan energi sedangkan kalium
diperlukan untuk mengatur kesetimbangan kadar air dalam sel-sel tubuh, membantu
kinerja otot, dan transmisi signal pada sistem syarafjagung manis juga mengandung
vitamin B1. Vitamin B5, fosfor, mangan, dan folat atau vitamin B9.

Kandungan gizi jagung manis per 100 gram Energi 86 Kcal Karbohidrat
18.70 g. Protein 3.27 g Total Lemak 1,35 g Serat 2.0 g. Folat 42 mg. Niacin 1.770
mg, Asam pantotenat 0.717 mg, Pyridoxine 0,093 mg. Riboflavin 0,055 mg. Thiamin
0,155 mg, Vitamin A 187 IU, Vitamin C 6,8 mg. Vitamin E 0,07 mg, Vitamin K 0,3
mg. Kalium 270 mg, Kalsium 2 mg. Besi 0.52 mg Zine 0.46 mg, Karoten-Ÿ ug 47,
Karoten-α 16 ug, Cryptoxanthin-AY 115 mg. Lutein-zeaxanthin 644 mg.

 Sedangkan Manfaat jagung manis bagi bayi dan balita yaitu :


a. Bagus untuk kesehatan mata. Jangung diketahui mengandung lutein dan
antioksidan Zeaxanthin, yang didalam tubuh si kecil memiliki peran proteksi
terhadap terbentuknya beberapa gangguan penyakit pada mata. Kandungan
folat dan beta karoten pada jagung juga bagus bagi kesehatan mata mereka.
b. Sumber kalori. Jagung berukuran sedang mempunyai kalori yang setara
dengan sebutir apel, sehingga jenis sayuran ini adalah alternatif yang bagus
sebagai sumber kalori si kecil. Kandungan karbohidrat dalam jagung akan
dicerna secara perlahan sehingga si kecil tidak akan gampang lapar.
c. Bagus untuk pencernaan. Karena kandungan serat pada jagung cukup tinggi
sehingga jangung bagus untuk kesehatan pencernaan si kecil. Saat mereka
mengalami gejala sembelit seperti susah buang air besar (BAB), jarang BAB,
mengeluh sakit saat BAB, atau feses keras, jagung manis adalah pilihan tepat
untuk diberikan pada balita bunda.

2. Puree

Puree adalah makanan lembek yang biasanya dibuat dari buah dan sayuran
segar. Bentuknya sangat mirip dengan bubur, namun lebih basah dan alami tentunya
karena menggunakan bahan-bahan yang diambil langsung dari alam. Didalam setiap
resep puree bisa ditambahkan susu atau kaldu untuk membuat puree menjadi lebih
creamy and tasty. Dalam mengolah makanan menjadi puree, digunakanan beberapa
metode yaitu menggunakan strainer (saringan kawat), hand held manual/electronic
puree, food processor and blender.

3. Bubur

Bubur merupakan istilah umum untuk mengacu pada campuran bahan padat
dan cair, dengan komposisi cairan yang lebih banyak daripada padatan dan keadaan
bahan padatan yang tercerai-berai.Dalam dunia kuliner, bubur adalah jenis makanan
yang dimasak dengan cara menggodog bahannya sampai menjadi sangat lunak.Istilah
bubur, jika tanpa disebutkan keterangannya, biasanya merujuk pada bubur beras yang
dimasak secara sederhana, beras dicuci, dimasukkan ke dalam air yang mendidih.
diaduk sampai air mendidih lagi dan berasnya menjadi lunak. Untuk memberi rasa
pada bubur, bisa ditambahkan santan kelapa atau parutan kelapa, dan dibuat sesuai
selera kekentalannya.

Bubur merupakan pilihan utama dalam pemberian makan pada anak bayi
dan balita karena teksturnya yang mudah diterima. Bubur dapat dikombinasikan
dengan beberapa bahan agar memperkaya kandungan gizi untuk anak Bahan bahan
yang dapat digunakan misalnya kombinasi dari lauk nabati, sayur, dan hewani.

4. Setup Buah dan Smooth

Potato Setup buah merupakan buah-buahan yang dimasak dengan dikukus


atau direbus dan dibubuhi gula. Sedangkan smooth adalah bentuk makanan yang
telah dihaluskan. Pembuatan setup buah bisa dilakukan dengan bahan buah seperti
apel yang kemudian di bubuhi madu, sebagai pengganti gula dan butter unsalted.
Untuk Smooth Potato menggunakan bahan kentang yang dihaluskan lalu
dikombinasikan dengan bahan-bahan nabati, sayur, dan bahan hewani.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat
memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama sehingga dapat mencapai
tumbuh kembang yang optimal(Perinasia, 2004). Pencapaian ASI Eksklusif masih
kurang, hal ini berdasarkan data hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2002– 2003, pemberian ASI eksklusif pada bayi berumur 2 bulan
hanya 64%. Persentase ini kemudian menurun cukup tajam menjadi 46 % pada bayi
berumur 2-3 bulan dan 14 % pada bayi berumur 4 – 5 bulan (KBI,2005).
Permasalahan yang utama adalah perilaku menyusui yang kurang
mendukung, faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, gencarnya
promosi susu formula, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum
sepenuhnya mendukung PPASI, kurangnya rasa percaya diri ibu bahwa ASI cukup
untuk bayinya dan ibu yang bekerja(Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI).
DAFTAR PUSTAKA

Manajemen laktasi yang baik. 2009.http://lifestyle.okezone.com. Diakses tanggal 7


Februari 2011.

Perinasia. Manajemen Laktasi: Menuju Persalinan Aman dan Bayi Baru Lahir Sehat.
Cetakan ke dua. Jakarta. Perinasia. 2004.

Purwanto H. Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.1999


Pelatihan konseling Laktasi. 2009. http://sentralaktasi.multiply.com/journal?
&page_start=20. Diakses tanggal 7 Februari 2011

Anonym sumatera utara. Makanan pendamping ASI. Situs web :


http;//repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41464/5/chapter%201.pdf.

Martadiputra ketut 2014. Makalah makanan pendamping ASI situs web:


https://martauy.diles.wordpress.com/2014/02/makalah-makanan-pendamping-asi.doc.