Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENGANTAR STUDI HUKUM ISLAM


Tentang
Memahami Konsep Fatwa, Qadha dan Taqnin

Disusun Oleh Kelompok 12

Lili Safitri : 2114010026

Dosen Pengampu :
Rudi Hartono S. HI, M.A

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (A)


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
1443 H /2021 M
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Alhamdulillah segala puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah
SWT. Atas limpahkan nikmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “Memahami Konsep Fatwa, Qadha dan
Taqnin’’ meskipun masih terdapat kekurangan didalamnya.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Rudi Hartono
S.HI, M.A selaku dosen mata kuliah Pengantar Studi Hukum Islam yang telah
memberikan tugas dan bimbingan ini kepada kami.
Semoga makalah yang sederhan ini dapat dipahami oleh siapapun yang
membacanya dan dapat berguna khususnya untuk diri kami sendiri sebagai
pembuat makalah maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami memohon
maaf jika didalam makalah terdapat kesalahan, dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Padang, 25 November 2021

Pemakalah

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................i


DAFTAR ISI .............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................1
A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................1
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................2
1. PENGERTIAN ..................................................................................................2
a. PENGERTIAN FATWA .............................................................................2
b. PENGERTIAN QADHA .............................................................................3
c. PENGERTIAN TAQNIN ............................................................................4
2. RUANG LINGKUP ..........................................................................................5
a. RUANG LINGKUP FATWA ......................................................................5
b. RUANG LINGKUP QADHA ......................................................................6
c. RUANG LINGKUP TAQNIN .....................................................................7
BAB III PENUTUP ............................................................................................9
a. Kesimpulan ...................................................................................................9
b. Saran..............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………...11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk bermasyarakat yang tidak bisa hidup
sendiri, manusia memerlukan pertolongan satu sama lainnya dan persatuan
dalam memperoleh kemajuannya. Disamping itu tiap-tiap individu
manusia, memiliki kepentingan dari awal sampai akhir hidupnya, bahkan
sebelum dilahirkan kedunia memiliki kepentingan juga sampai sesudah
dikuburkan.
Tiap-tiap kepentingan antara satu dengan yang lainnya ada yang
sama dan ada yang berbeda dan bahkan ada yang bertentangan sehingga
menimbulkan konflik. Semuaini memerlukan perlindungan dan
pengaturan. Karena setiap individu manusia mempunyai keinginan dan
untuk memperoleh keinginan tersebut akan timbul persaingan,
perlombaan, penyerobotan, penganiayaan, dsb.
Supaya keadilan tetap hidup dan tata tertib hidup dapat dipelihara
dengan semestinya diperlukan adanya aturan hukum islam dalam
mewarnai sistem hukum yang ada di Indonesia berupa fatwa, qadha dan
taqnin yang dapat melaksanakan dengan sempurna dan seksama untuk
mencegah ketidakteraturan dan ketidakadilan agar kepentingan bersama
dapat dilaksanakan seperti yang diharuskan oleh peraturan tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari fatwa, qadha, dan taqnin?
2. Bagaimana ruang lingkup fatwa, qadha, dan taqnin
dan bagaimana penerapan fatwa, qadha dan taqnin terhadap hukum?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari fatwa, qadha dan taqnin
2. Untuk mengetahui ruang lingkup fatwa, qadha, dan taqnin
Dan untuk mengetahui penerapan fatwa, qadha dan taqnin terhadap
hokum

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fatwa, Qadha dan Taqnin


1. Pengertian Fatwa
Fatwa secara bahasa berarti jawaban mengenai suatu kejadian atau
peristiwa (memberikan jawaban yang tegas terhadap segala
peristiwayang terjadi dalam masyarakat.Sedangkan secara terminologi,
sebagaimana dikemukakan oleh Zamakhysri fatwa adalah penjelasan
hukum syara’ tentang suatu masalah atau pertanyaan seorang atau
kelompok yang belum terdapat dalil yang jelas tentang suatu hukum.
Fatwa adalah sebuah istilah mengenai pendapat atau tafsiran pada
suatu masalah yang berkaitan dengan hukum islam. Fatwa sendiri
dalam bahasa Arab artinya nasehat atau petuah, jawaban atau
pendapat adapun maksudnya adalah sebuah keputusan atau nasehat
resmi yang diambil oleh sebuah lembaga atau perorangan yang diakui
otoritasnya, disampaikan oleh seorang mufti atau ulama, sebagai
tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh
peminta fatwa(mustafti) yang tidak mempunyai keterikatan.
Fatwa mempunyai kedudukan penting dalam agama islam. Fatwa
atau ketetapan ulama dipandang menjadi salah satu alternatif yang bisa
memecahkan kebekuan dalam perkembangan hukum islam. Hukum
islam yang dalam penetapannya tidak bisa terlepas dari dalil-dalil
keagamaan menghadapi persoalan serius ketika berhadapan dengan
permasalahan yang semakin berkembang yang tidak tercakup dalan
nash-nash keagamaan. Nash-nash keagamaan telah berhenti secara
kuantitasnya, akan tetapi kasus semakin berkembang pesat seiring
perkembangan zaman. Dalam kondisi inilah fatwa menjadi salah satu
alternatif jalan keluar mengurai masalah dan pristiwa yang muncul. 1

1
Yusuf Qhardawi, Fatwa Antara Ketelitian dan Kecerobohan. (Jakarta:PT Gema Insani
Press, 1997), h. 5

2
2. Pengertian Qadha
Qadha menurut bahasa artinya peradilan. Qadha sendiri memiliki
beberapa arti, yaitu memutuskan atau menghukum antara dua orang
yang berkelahi. Qadha juga berarti mencegah atau menghalang-
halangi.Kemudian ada juga yang menyebutkan bahwa pada prinsipnya
qadha adalah upaya untuk menyelesaikan suatu sengketa. Dengan
demikian ini mengandung makna proses, yakni proses penyelesaian
suatu sengketa dengan berpedoman pada aturan-aturan tertentu, yang
dalam konteks ini adalah peraturan atau hukum Allah. 2
Qadha adalah vonis atau keputusan yang dilakukan oleh seorang
hakim atau qadhi terhadap suatu perkara atau perseteruan yang terjadi
antara dua belah pihak. Dalam prakteknya, seorang Qadhi terikat pada
qanun atau undang-undang yang berlaku di suatu wilayah hukum.
Qadha atau ketetapan yamg diambil oleh seorang qadhi sifatnya
mengikat. Orang-orang yang telah ditetapkan hukumnya oleh qadhi,
wajib menjalakannya. Bila ketetapan itu berupa vonis hukuman,
seperti penjara, hukum cambuk, hukum rajam, dan seterusnya, maka
dia wajib menjalaninya.Dalam literature fikih islam, untuk berjalannya
suatu peradilan dengan baik dan normal, diperlukan eman unsur yaitu:
a. Qadhi atau hakim
Yaitu orang yang diangkat oleh kepala Negara untuk menjadi
hakim dalam menyelesaikan gugatan, perselisihan-perselisihan
dalam bidang perdata, oleh karena penguasa sendiri tidak bisa
menyelesaikan masalah peradilan.
b. Hukum
Yaitu putusan hakim yang ditetapkan untuk menyelesaikan suatu
perkara.
c. Mahkum alaih (si terhukum)

2
Rohadi Abdul Fatah, Analisis Fatwa Kegunaan dalam fikih islam, (PT. Bumi Aksara,
2006), h.7

3
Yakni orang yang dijatuhkan hukuman atasnya. Mahkum alaih
dalam hak-hak syara’ adalah yang diminta untuk memenuhi suatu
tuntutan yang dihadapkan kepadanya. Baik tergugat ataupun
bukan, seorang ataupun banyak.
d. Mahkum lahu
Yaitu orang yang menggugat suatu hak, baik hak itu murni baginya
atau terdapat dua hak tetapi haknya lebih kuat. Dalam hal ini
haruslah ia mengajukan gugatan, meminta agar dikembalikan
haknya, baik dia bertindak sendiri atau dengan perantara wakilnya.
Dan dalam memutuskan perkara, boleh dia sendiri yang
menghadiri sidang peradilan ataupun wakilnya.
e. Perkataan atau perbuatan yang menunjuk kepada hukum (
putusan).
Dalam uraian tersebut secara hakikatnya qada adalah memutuskan
perkara hanya dalam satu kejadian yang diperkarakan oleh seseorang
terhadap lawannya, dengan mengemukakan gugatan-gugatan yang
dapat diterima, oleh karena itu pula sesuatu yang bukan merupakan
peristiwa atau kejadian, dan hal-hal itu yang masuk ke dalam bidang
ibadah tidak dimasukkan ke dalam bidang peralihan.3
3. Taqnin
Taqnin seakar dengan qanun yang berasal dari bahasa yunani
canon kemudian masuk ke dalam bahasa arab melalui bahasa siryani.
Secara etimologis qanun berarti ukuran segala sesuatu (almis tarah).
Dalam perkembangan selanjutnya kata ini digunakan untuk menyebut
sutu peraturan atau alkaidah. Pengertian inilah yang mashur di dunia
eropa.

Pengertian qanun sendiri dalam bahasa Indonesia dikenal dengan


nama kanon yang artinya adalah undang-undang, peraturan kitab

3
Abdul Aziz Dahlan, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta:Ichtiar Baru Van Heove,
1996), h. 326

4
undang-undang, hukum dan kaidah. Adapun pengertian kanon menurut
bahasa arab adalah undang-undang, kebiasaan atau adat. Jadi dapat
disimpulkan pengertian dari taqnin atau qanun adalah suatu peraturan
perundang-undangan atau atauran hukum yang berlaku di suatu
daerah.
Taqnin adalah undang-undang atau hukum positif yang berlaku
disuatu wilayah hukum. Taqnin yang berlaku di sutu wilayah Islam
bisa saja bersumber dari hasil fatwa satu atau gabungan dari beberapa
mazhab fikih, namun yang telah distandarisasi atau dibakukan,
sehingga berbentuk aturan yang rinci. Terdiri dari bab, pasal, ayat,
butir dan seterusnya. Secara umum taqnin bersifat mengikat dan wajib
dilaksanakan dan sering juga tercantum sanksi dan juga hukuman.
Merujuk pada penjelasan tersebut taqnin adalah ketentuan hukum
berdasarkan fikih yang diperoleh melalui ijtihad ulama atau fuqaha
yang berfungsi sebagai atauran atau hukum untuk wilayah tertentu.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Rusdi Ali Muhammad bahwa
taqnin dihasilkan mellaui proses metode pemilihan hukum dari
khasanah pemikiran dan ijtihad para fuqaha. Selain itu juga harus
dibuka peluang penemuan hukum atau ijtihad baru dalam hal-hal yang
dibutuhkan pada masa kini.4

B. Ruang Lingkup Fatwa, Qadha dan Taqnin


1. Ruang Lingkup Fatwa
Menurut hukum islam fatwa menempati kedudukan penting karena
fatwa merupakan pendapat yang dikemukakan oleh hukum islam atau
fuqaha tentang kedudukan hukum suatu masalah baru yang muncul
dikalangan masyarakat. Ketika muncul suatu masalah baru yang belum
ada ketentuan hukumnya secara ekspilisit atau tegas baik dalam
Alqur’an, As-sunnah dan ijma’. Fuqaha terdahulu, maka fatwa

4
Yusuf Qardawi, Fiqh Prioritas, ( Mansyurat Kuliah Da’wah Islamiyah 1990), h.203

5
merupakan salah satu insitusi normatif yang berkompeten menjawab
atau menetapkan kedudukan hukum masalah tersebut. Karena
kedudukannya yang dianggap dapat menetapkan hukum atau sutu
kasus atau masalah tertentu, maka para sarjana barat ahli hukum islam
mengkategorikan fatwa sebagai jurisprudensi islam.
Sehubungan dengan hal diatas, maka fatwa bisa diiartikan sebagai
penjelasan hukum syariat atas persoalan tertentu, sehingga kaidah
pengambilan fatwa tidak ubahnya dengan menggali hukum-hukum
syariat dari dalil-dalil syariat (ijtihad) pasalnya, satu-satunya cara
untuk mengetahui hukum syariat dari dalil-dalil syariat adalah dengan
ijtihad, dan tidak ada cara lain.
Oleh karena itu, seorang mufti atau pemberi fatwa tidak ubahnya
dengan seorang mujtahid yang mencurahkan segala kemampuannya
untuk menemukan hukum dari sumber hukum ilam, yakni Al-Qur’an
dan Hadist.5
2. Ruang Lingkup Qadha
Ketetapan Hakim( qadha) bersifat mengikat bagi seorang untuk
patuh menjalankan ketentuan yang telah diputuskan dengan syariat
Islam. Sedangkan 42 lebih bersifat informatif tentang ketentuan Allah
yang menuntut bagi orang Islam untuk melaksanakan atau hanya
sekedar kebolehan. Kita ucapkan Hakim harus adanya lafaz yang
terucap jelas, sedangkan fatwa bisa dalam bentuk perkataan, perbuatan,
isyarat tulisan.
Ketetapan hukum wajib diterima dan dilaksanakan oleh terhukum
baik ketetapan Hakim tersebut Salah ataupun benar.sedangkan fatwa
berbeda dengan Qadha, pemohon tidak mempunyai kewajiban untuk
menerima lagi melaksanakan fatwa tersebut.
Fatwa mempunyai implikasi yang luas dibandingkan dengan ketetapan
yang diputuskan oleh Hakim. Jika fatwa itu tidak sekadar menjangkau
pribadi pemohon fatwa tetapi mencangkup orang banyak, maka

5
Wahbah Zuhaily, Ushul Fiqh, t.tp, (Mansyurat Kuliah Da’wah Islamiyah 1990), h. 98

6
ketetapan Hakim lebih khusus dan personal, hanya diperuntukkan bagi
tersangka atau pihak terhukum.
Objek permasalahan yang menjadi wilayah garapan qadha hanya
pada aspek-aspek muamalah, sedangkan kewenangan produk fatwa
menjangkau aspek ibadah, akhlak, adab dan sekaligus masuk wilayah
muamalah. Kita takkan Hakim hanya pada masalah hukum wajib,
mubah dan haram, tidak menjangkau ada masalah hukum makruh dan
Sunnah. Sedangkan kewenangan fatwa dapat menjangkau pada semua
masalah hukum dan lain-lainnya.
Fatma secara definitif merupakan ketentuan hukum syar’i yang
diinformasikan oleh seorang Mufti, sedangkan qadha lebih bersifat
penegasan yang memisahkan antara manusia dengan hukum syar’i.
Fatwa mewajibkan bagi pemohon untuk mengikuti manjat yang di
yang dianut oleh sang Mufti sedangkan Qadha memungkinkan untuk
mengacu kepada seluruh mazhab yang ada.
3. Ruang lingkup Taqnin (qanun)
Kedudukan taqnin diakui hierarki undang-undangan Indonesia
dipersamakan dengan perda. Pemahaman dalam undang-undang
nomor tahun 2004 ini dapat saja diterima dalam hal kedudukan taqnin.
Pemahaman ini akan lebih mempermudah pemerintah pusat dalam
melakukan pengawasan tentang pembinaan terhadap daerah, terutama
yang berhubungan dengan Pembentukan suatu kebijakan daerah.
Hanya saja kita harus diperhatikan tentang kekhususan yang diberikan
Pusat N A D. Maka DPR Aceh dapat mencerahkan taqnin tentang
jinayat atau Peradilan Pidana Islam sebagai hukum acara di mahkamah
Syariah.
Hanya saja memang produk dari qanun ini harus memenuhi syarat-
syarat yang harus dipenuhi oleh pemerintahan Aceh seperti tidak boleh
bertentangan dengan akidah Syariah dan akhlak yang dalam
penjabarannya meliputi ibadah alsok sia atau hukum keluarga

7
muamalah atau hukum perdata Inayah hukum pidana kodok foto
peradilan Tarbiyah pendidikan syiar dan perbedaan Islam.
Berdasarkan hasil penelitian tentang kedudukan dari taqnin ini,
dapat disimpulkan bahwa taqnin dapat saja dianggap sejenis( atau
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai semacam,
serupa) dengan Perda, tetapi dari segi isinya berbeda, karena taqnin
mempunyai keistimewaan yang tidak dipunyai oleh daerah-daerah lain
di Indonesia.6

6
Basiq Djali, Peradilan Agama Indonesia, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2010),
h. 5

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan pada bab pembahasan terdapat bebearapa hasil
kesimpulan yangmerupakan jawaban dari hasil rumusan masalah yang
kami kemukakan. Sepertipengertian atau definisi yang jelas dari fatwa,
qadha’ dan taqnin. Masing – masingmemiliki definisi yang saling
berkaitan antara satu dengan yang lainnya.Definisi dari fatwa sendiri kami
ambil dari pendapat ulama seperti syekh Zamakhysri yang mana beliau
menjelaskan bahwa fatwa adalah penjelasan hukumsyara' tentang suatu
masalah atas pertanyaan seseorang atau kelompok yang belumterdapat
dalil yang jelas tentang suatu hukum. Dengan demikian ia mengandung
makna proses, yakni proses penyelesaian suatu sengketa dengan
berpedoman pada aturan-aturantertentu, yang dalam konteks ini adalah
peraturan atau hukum Allah swt.
Qadha’ adalah vonis atau keputusan yang dilakukan oleh seorang
hakim atau qadhi atassuatu perkara atau perseteruan yang terjadi antara
dua belah pihak atau lebih.Dan definisi qanunsecara terminologi
sebagaimana disebutkan diatas,taqnin merupakan ketetapan hukum yang
berlakuQanun adalah undang-undang atau hukum positif yang berlaku di
suatuwilayah hukum. Taqnin yang berlaku di suatu negara Islam, bisa saja
bersumber darisejumlah hasil fatwa satu atau gabungan dari beberapa
mazhab fiqih, namun yang telahdistandarisasi atau dibakukan, sehingga
berbentuk aturan yang rinci, terdiri bab, pasal,ayat, butir dan
seterusnya. Secara umum, Taqnin bersifat mengikat dan
wajibbdilaksanakan, dan sering juga tercantum sanksi dan hukuman yang
harus dijatuhkan.
Dalam ruang lingkupnya antara fatwa, qadha’ ini saling
berhubungan dalamMenentukan kebijakan suatu hukum islam yang
dilakukan oleh hakim. Hanya perbedaannya dalam segi penggunaannya

9
yaitu kalau fatwa tidak terkhusus dari hakim saja boleh dikeluarkan oleh
para ulama’ yang memang sesuai dengan keilmuannya.
Dalam mengeluarkan fatwa. Dan juga fatwa hukumnya tidak
mengikat artinya bolehdipakai leh juga tidak berbeda halnya dengan
qadha’ semua harus berasal dariSeorang hakim dan putusan yang
dikeluarkannya harus diikuti.Sedangkan ruang lingkup daripada qonun.
Berdasarkan hasil penelitian tentang kedudukan dari taqnin ini,
dapat disimpulkan bahwa pengertian taqnin dapat sajaDianggap “sejenis”
(atau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai
:Semacam, serupa) dengan Perda, tetapi dari segi isinya berbeda, karena
Taqnin mempunyai keistimewaan yang tidak dipunyai oleh daerah-daerah
lain di Indonesia.Itulah beberapa kesimpulan yang bisa kami rangkum
tentang seputar fatwa,Qadha’ dan taqnin.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan. Oleh karna itu , penulis mengharapkan
pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun
kesempurnaan makalah ini.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Rohadi Fatah. (2006). Analisis Fatwa Kegunaan Dalam Fikih Islam, PT.

Bumi Aksara.

Aziz, Abdul Dahlan. (1996) et.al, Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta:Ichtiar Baru

Van Heove.

Djali, Basiq. (2010) Peradilan Agama Indonesia. Jakarta:Kencana Prenada Media

Group.

Qardawi, Yusuf. (1990). Fiqh Prioritas. Mansyurat Kuliah Da’wah Islamiyah.

Qhardawi, Yusuf. (1997). Fatwa Antara Ketelitian dan Kecerobohan. Jakarta:PT

Gema Insani Press.

Zuhaily, Wahbah. (1990). Ushul Fiqh t.tp. (Mansyurat Kuliah Da’wah Islamiyah).

11

Anda mungkin juga menyukai