Anda di halaman 1dari 33

MODUL KOSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN

KONSTRUKSI JEMBATAN

DISUSUN OLEH :

DRS. ALBERT SIHITE, MM


MUHAMAD HUSAEN, S.T

SMK NEGERI 56 JAKARTA


JEMBATAN

Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu
rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain (jalan air atau
jalan lalu lintas biasa). Jembatan yang merupakan bagian dari jalan, sangat diperlukan
dalam sistem jaringan transportasi darat yang akan menunjang pembangunan pada
daerah tersebut. Perencanaan pembangunan jembatan harus diperhatikan seefektif dan
seefisien mungkin, sehingga pembangunan jembatan dapat memenuhi keamanan dan
kenyamanan bagi para pengguna jembatan.
Keberadaan jembatan saat ini terus mengalami perkembangan, dari bentuk sederhana
sampai yang paling kompleks, demikian juga bahan – bahan yang digunakan mulai dari
bambu, kayu, beton dan baja. Penggunaaan bahan baja untuk saat – saat sekarang
maupun di masa mendatang.

MACAM - MACAM KLASIFIKASI JEMBATAN

Menurut Siswanto (1999), jembatan dapat diklasifikasikan menjadi bermacam-macam


jenis/tipe menurut fungsi, keberadaan, material yang dipakai, jenis lantai kendaraan dan
lain-lain seperti berikut:

Jembatan Ditinjau Dari Material Yang Digunakan

Klasifikasi jembatan menurut material yang digunakan dibedakan atas bahan yang
dominan dipergunakan, terutama bahan sebagai struktur utama bangunan atas, berikut
jembatan ditinjau dari material yang digunakan dibedakan menjadi:

1)  Jembatan Kayu (Log Bridge)


Jembatan kayu merupakan jembatan sederhana ditinjau dari segi konstruksi yang sangat
mudah, atau dapat diterjemahkan struktur terbuat dari material kayu yang sifatnya
darurat atau tetap, dan dapat dikerjakan/dibangun tanpa peralatan modern.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 2


Jembatan ini sangat dikenal oleh manusia, ketika masa lampau untuk menghubungkan
sungai cukup menggunakan kayu, entah dari pohon yang tumbang atau sengaja
dirancang, salah satu ahli mengatakan bahwa jembatan yang terbuat dari material kayu,
merupakan jembatan yang mudah diperbaharui.
Dari segi materialnya kayu mempunyai beberapa keuntungan dan kekurangan,
diantaranya sebagai berikut ini:
a) Kayu relatif ringan, biaya transportasi dan konstruksi relatif murah, dan dapat
dikerjakan dengan alat yang lebih sederhana.
b) Pekerjaan-pekerjaan detail dapat dikerjakan tanpa memerlukan peralatan khusus dan
tenaga ahli yang tinggi. Sebagai contohnya pada sambungan konstruksi jembatan baja
memerlukan peralatan dan ketrampilan tenaga kerja tersendiri, sedangkan pada
konstruksi kayu dapat menggunakan bor tangan.
c) Jembatan kayu lebih suka menggunakan dek dari kayu, yang mana menguntungkan
untuk lokasi yang terpencil dan jauh dari lokasi pembuatan beton siap pakai (ready mix
concrete). Dek kayu dapat dipasang tanpa bekisting dan tulangan, sehingga menghemat
biaya.
d)  Kayu tidak mudah dipengaruhi oleh korosi seperti pada baja atau beton.
e)  Kayu merupakan bahan yang sangat estetik, bila didesain dengan benar dan
dipadukan dengan lingkungan sekitar.
Jadi dapat saya simpulkan bahwa jembatan kayu lebih sesuai untuk konstruksi
sederhana dengan bentang pendek, karena untuk jembatan dengan bentang yang
panjang, material kayu sudah tidak ekonomis lagi.

2)  Jembatan Baja (Steel Bridge)


Jembatan yang menggunakan berbagai macam komponen dan sistem struktur baja:
deck, girder, rangka batang, pelengkung, penahan dan penggantung kabel, pada
jembatan baja saya akan menerangkan jembatan rangka baja, ialah jembatan yang

SMK NEGERI 56 JAKARTA 3


terbentuk dari rangkarangka batang yang membentuk unit segitiga dan memiliki
kemampuan untuk mendistribusikan beban ke setiap rangka-rangkanya. Rangka batang
tersebut terdiri dari batang tarik dan batang tekan.

Batang tarik adalah batang yang menerima beban tarik. Desain untuk batang tarik
didasarkan atas ijin tegangan tarik dimana tegangan yang terjadi tidak boleh melampaui
tegangan ijin. Apabila ada lubang maka luas penampang adalah luas netto (luas brutto-
luas lubang). Untuk menahan beban berguna dipakai factor of safety (faktor keamanan)
yang cukup terhadap kehancuran.
Batang tekan yang merupakan batang dari suatu rangka batang. Batang ini dibebani
gaya tekan aksial searah panjang batangnya. Kolom juga merupakan batang tekan tegak
yang bekerja untuk menahan balok-balok loteng, rangka atap, lintasan crane dalam
bangunan pabrik dan sebagainya yang untuk seterusnya akan melimpahkan semua
beban tersebut ke pondasi.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 4


3)  Jembatan Beton (Concrete Bridge)
Jembatan yang terbuat dari material beton pertama kali digunakan pada abad ke 19,
industry semen mendominasi setelah tahun 1865, beton banyak digunakan untuk
jembatan lengkung dan konstruksi bagian bawah, jembatan beton bertulang pertama kali
dibangun setelah ditemukannya teknik pembuatan beton bertulang untuk struktur, yaitu
di prancis pada tahun 1875.
Selama beberapa dekade jembatan beton bertulang dibangun untuk jembatan dengan
bentang pendek, terutama pada awal tahun 1890 dan semakin meningkat pada abad ke
20. Slab dan gelagar jembatan beton bertulang secara luas digunakan untuk bentang-
bentang pendek untuk beberapa dekade.

4)  Jembatan Beton Prategang (Prestressed Concrete Bridge)


Pada tahun 1928 pengguanaan beton prategang modern dikemukaan pertama kali di
prancis, ia mengaplikasikan kawat – kawat baja berkualitas tinggi pada balok prategang
dengan system penegangan pra – penegangan (pre tensioning) dan pada tahun 1940
magnel mengembangkan system pasca penegangan yang lebih dikenal dengan magnel
system of Belgium.
Pada tahun 1950 dikembangkan jembatan beton prategang segmental (cast in place),
jembatan segmental ini bisa disebut juga pracetak (precast) atau cetak di tempat (cast in
place) dengan menggunakan metode konstruksi kantilever yang dikerjakan bentang
demi bentang, dipasang tahap demi tahap atau dipasang dengan system incremental
launching.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 5


Konstruksi jembatan beton prategang segmental dapat mencapai panjang bentang 800 ft
yaitu 250 meter atau bentang seri 1000 ft yaitu 300 meter. Bila digunakan dlam
jembatan cable stayed jarak bentang dapat mencapai 1500 ft yaitu 450 meter.

5). Jembatan Komposit (Composite Bridge)


jembatan yang mengkombinasikan dua material atau lebih dengan sifat bahan yang
berbeda dan membentuk satu kesatuan sehingga menghasilkan sifat gabungan yang
lebih baik.
Jembatan komposit yang umum digunakan adalah kombinasi antara bahan konstruksi
baja dengan beton bertuang, yaitu dengan mengkombinasikan baja sebagai deck
(gelagar) dan beton bertulang sebagai plat lantai jembatan.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 6


6)  Jembatan Bambu
Merupakan jembatan sederhana yang materialnya terbuat dari bamboo, seperti yang
sudah saya tulis pada jembatan dengan material kayu, jembatan ini cukup dikenal oleh
manusia dan banyak dijumpai, pembuatanya juga tidak memerlukan perlatan modern
sehingga mudah dirancang oleh manusia dengan peralatan yang seadanya contohnya
dibuat seperti anyaman, jembatan dengan material bambu digunakan pada jembatan
pendek dan tidak terlalu panjang.

7)  Jembatan Pasangan Batu Kali/Bata


Jembatan jenis ini seluruh struktur baik srtuktur atas dan struktur bawah dibuat dari
pasangan batu kali atau bata merah yang merupakan jenis jembatan dengan system
gravitasi yang kekuatanyamengandalkan dari berat struktur. Bentuk dari jembatan ini

SMK NEGERI 56 JAKARTA 7


sebagian besar berbentuk struktur lengkung dibagian bentang yang harus menahan
beban utama.

Jembatan Ditinjau Dari Analisa Struktur Konstruksi

1) Jembatan Statis Tertentu


Disebut statis tertentu karena bangunan tersebut mengunakan system yang paling
sederhana, Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syarat-
syarat keseimbangan yaitu:
a)  -∑V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama
dengan nol)
b)  -∑H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan
nol).
c)   -∑M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama
dengan nol).
2) Jembatan Statis Tak Tentu
Dikatakan statis tak tentu ialah jika suatu struktur tidak bisa diselsaikan dengan hanya
pertolongan persamaan keseimbangan, dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan,
apabila sebuah struktur yang mempunyai reaksi perletakan lebih dari tiga, maka reaksi-
reaksi perketakan tersebut tidak bisa dihitung hanya dengan 3 persamaan keseimbangan.
Jembatan Ditinjau Dari Fungsi Atau Kegunaannya
1)  Jembatan Untuk Lalu Lintas Kereta Api

SMK NEGERI 56 JAKARTA 8


Jembatan yang digunakan untuk menhubungkan rel yang leintasi rintangan seperti
sungai, jalan untuk dilewati kereta api.
2)  Jembatan untuk lalu lintas biasa atau umum
Jembatan yang digunakan untuk menghubungkan jalan raya yang melintasi sungai atau
jalan lain dengan tujuan agar bisa dilintasi oleh kendaraan darat.
3)  Jembatan Berfungsi Ganda
Jembatan dimana sisi atas dan bawah digunakan untuk melintasi dengan objek yang
berbeda, seperti jembatan cirahong, bagian atas digunakan untul rel perlintasan kereta
api, sementara dibawah untuk mobill, motor.
4)  Jembatan Khusus
Jembatan khusus dibuat untuk pipa – pipa perusahaan minyak dari satu daerah ke
daerah lainya, Karena pipa tersebut tidak selamanya harus tertanam didalam tanah.
Jembatan Ditinjau Menurut Sifat – Sifat Jembatan

1)  Jembatan Sementara Atau Darurat


Dikatan jembatan sementara atau darurat karena jembatan tersebut diperuntukan dan
dibangun pada keadaan tertentu, missal jembatan yang sedang di renovasi kemudian
dibuatkan jembatan semnetara yang terbuat dari material pohon kelapa dengan tujuan
agar jembatan tersebut masih bisa difungsikan.
2)  Jembatan Tetap Atau Permanen
Jembatan dikatakan tetap atau permanen ialah jembatan yang dirancang untuk
keberadaannya dapat dimanfaatkan terus atau sesuai umur rencana jembatan atau tidak
terikat waktu, jembatan ini berupa jembatan kayu, jembatan baja, jembatan beton
bertulang.
3)  Jembatan Bergerak
Disebut jembatan bergerak karena jembatan tersebut dirancang dapat dipindahkan atau
dapat dibuka untuk jalur air yang amat atau watercrafts atau jembatan dapat diputar,
dibuka ditutup seperti jembatan yang melintasi sungai atau lautan yang bisa dibuka
untuk kapal lewat.
Jembatan bergerak biasanya dibuat pada sungai dimana kapal besar yang lewat
memerlukan ketinggian yang cukup tetapi pembuatan jembatan dengan pilar sangat
tinggi dianggap tidak ekonomis. Ada tiga macam tipe jembatan bergerak yaitu:

SMK NEGERI 56 JAKARTA 9


a.   jembatan terbuka (bascule bridges),
b.   jembatan terangkat vertikal (verticalift bridges),
c.   jembatan berputar (swing bridges).
Jembatan terbuka atau bascule bridges biasanya digunakan untuk bentang yang tidak
terlalu panjang dengan bentang maksimum 100 m. Jembatan terangkat vertikal atau
vertical lift bridges biasanya digunakan untuk bentang yang lebih panjang yaitu sekitar
175 m, tetapi jarak bersih yang didapat tergantung dari seberapa tinggi jembatan dapat
dinaikan. Pada umumnya ketinggian maksimum untuk mendapatkan jarak bersih adalah
sekitar 40 m. Jembatan berputar mempunyai keuntungan karena kapal yang akan lewat
tidak dibatasi ketinggiannya. Jembatan berputar dapat digunakan dengan bentang
sampai dengan 160 m.
Jembatan Ditinjau Dari Bentuk Struktur Konstruksi
Struktur jembatan mempunyai berbagai macam tipe, baik dilihat dari bahan strukturnya
maupun dari bentuk strukturnya. Masing-masing tipe struktur jembatan cocok
digunakan untuk kondisi yang berbeda. Menurut Satyarno (2003), sesuai dengan
perkembangan, bentuk jembatan berubah dari yang sederhana menjadi yang sangat
komplek. Secara garis besar terdapat sembilan macam perencanaan jenis jembatan yang
dapat digunakan, yaitu:
1)  Jembatan Gelagar Biasa
Jembatan seperti ini digunakan pada jembatan bentang pendek sampai sedang dan
beban hidup yang lewat relative kecil seperti jembatan penyebrang orang dan
sebagainya.
Gelagar induk jembatan ini merupakan struktur balok biasa yang menumpu pada kedua
abutment dengan susunan struktur. sperti pada jembatan gelagar biasa dengan material
kayu dan baja atau beton.
Jembatan balok adalah jenis jembatan yang paling sederhana yang dapat berupa balok
dengan perletakan sederhana (simple spans) maupun dengan perletakan menerus
(continous spans).
Jembatan balok terdiri dari struktur berupa balok yang didukung pada kedua ujungnya,
baik langsung pada tanah/batuan atau pada struktur vertikal yang disebut pilar atau pier.
Jembatan balok tipe simple spans biasa digunakan untuk jembatan dengan bentang
antara 15 meter sampai 30 meter dimana untuk bentang yang kecil sekitar 15 meter

SMK NEGERI 56 JAKARTA 10


menggunakan baja (rolled-steel) atau beton bertulang dan bentang yang berkisar sekitar
30 meter menggunakan beton prategang.

2)  Jembatan Portal


Merupakan jembatan rangka baja yang sisi kiri kanan dan atasnya, memiliki konstruksi
yang menyambung dari batang satu ke batang lainya. Struktur portal adalah suatu sistem
yang terdiri dari bagian-bagian struktur yang saling berhubungan yang berfungsi
menahan beban sebagai suatu kesatuan lengkap yang berdiri sendiri dengan atau tanpa
dibantu oleh diafragma-diafragma horisontal atau sistem-sistem lantai.

3)  Jembatan Rangka


Jembatan rangka batang mempunyai tipe rangka yang banyak jenisnya. Stuktur
jembatan jenis ini terbuat dari material baja digunakan untuk bentang jembatan yang

SMK NEGERI 56 JAKARTA 11


relative panjang, biasanya yang umum ditemukan struktur rangka batang dipasang di
bagian kiri – kanan.
Jembatan rangka dibuat dari struktur rangka yang biasanya terbuat dari bahan baja dan
dibuat dengan menyambung beberapa batang dengan las atau baut yang membentuk
pola-pola segitiga. Jembatan rangka biasanya digunakan untuk bentang 20 m sampai
375 m. Ada banyak tipe jembatan rangka yang dapat digunakan diantaranya sebagai
berikut:
a.   pratt truss,
b.   parker pratt truss,
c.   baltimore pratt truss,
d.   pennsylvania-petit pratt truss,
e.   warren truss,
f.    subdivided warren truss,
g.   howe truss,
h.   whicert truss,
i.    cantilever through top truss,
j.    cantilever through top and bottom trus

4. Jembatan Gantung

SMK NEGERI 56 JAKARTA 12


Jembatan gantung merupakan struktur jembatan yang terdiri dari struktur penopang
yang berupa tiang, pilar atau menara, struktur jembatan berupa gelagar induk dan
gelagar melintang, lantai kendaraan, pejangkar kabel dan kabel penggantung yang
membentang sepanjang bentang sejajar dengan arah memanjang jembatan, dimana
kabel sebagai struktur utama yang mentransfer seluruh beban ke bagian bawah jembatan
yang berupa abutment, penjangkar kabel dan tiang penopang.
Jembatan gantung terdiri dari dua kabel besar atau kabel utama yang menggantung dari
dua pilar atau tiang utama dimana ujung-ujung kabel tersebut diangkurkan pada fondasi
yang biasanya terbuat dari beton.
Dek jembatan digantungkan pada kabel uatma dengan mengunakan kabel-kabel yang
lebih kecil ukurannya. Pilar atau tiang dapat terbuat dari beton atau rangka baja.
Struktur dek dapat terbuat dari beton atau rangka baja. Kabel utama mendukung beban
struktur jembatan dan mentransfer beban tersebut ke pilar utama dan ke angkur.
Jembatan gantung merupakan jenis jembatan yang digunakan untuk betang-bentang
besar yaitu antara 500 m sampai 2000 m atau 2 km.

5)  Jembatan Kabel Penahan


Jembatan kabel merupakan suatu pengembangan dari jembatan gantung dimana terdapat
juga dua pilar atau tower. Akan tetapi pada jembatan kabel dek jembatan langsung di
hubungkan ke tower dengan menggunakan kabelkabel yang membentuk formasi
diagonal, Kalau pada jembatan gantung struktur dek dapat terbuat dari rangka baja
maupun beton, pada jembatan kabel umumnya deknya terbuat dari beton.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 13


Jembatan kabel ini juga digunakan untuk bentang-betang besar tetapi tidak sebesar
bentang pada jembatan gantung. Besar bentang maksimum untuk jembatan kabel sekitar
500 m sampai 900 m.

6)  Jembatan Pelengkung/Busur


Merupakan suatu tipe jembatan yang menggunakan prinsip kestabilan dimana gaya-
gaya yang bekerja di atas jembatan di transformasikan ke bagian akhir lengkung atau
abutment.
Jembatan lengkung dapat dibagi menjadi 11 macam yaitu:
a)  fixed arch,
b)  one-hinged arch,
c)   two-hinged arch,
d)  three-hinged arch,
e)  solid ribbed arch (tied arch),
f)   spandrel braced (cantilever) arch,
g)  trussed deck arch,
h)  trussed through arch (tied arc),
i)   trussed through arch,
j)   closed spandrel deck arch,
k)   open spandrel deck arch.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 14


Jembatan lengkung dapat dibuat dari bahan batu, bata, kayu, besi cor, baja maupun
beton bertulang dan dapat digunakan untuk bentang yang kecil maupun bentang yang
besar. Jembatan lengkung tipe closed spandrel deck arch biasa digunakan untuk bentang
hanya sekitar 0.5 m sampai 2 m dan biasa disebut dengan gorong-gorong. Untuk
bentang besar jembatan lengkung dapat digunakan untuk bentang sampai 500 m.

7)  Jembatan Pelat


Jembatan ini merupakan beton bertulang yang antara gelagar induk dan pelat lantai
kendaraan dicor bersamaan dan menyatu sebagai balok T.

8)  Jembatan Kantilever (Cantilever Bridges)


Jembatan kantilever adalah merupakan pengembangan jembatan balok. Tipe jembatan
kantilever ini ada dua macam yaitu tipe cantilever dan tipe cantilever with suspended
span. Pada jembatan kantilever, sebuah pilar atau tower dibuat dimasing-masing sisi

SMK NEGERI 56 JAKARTA 15


bagian yang akan disebrangi dan jembatan dibangun menyamping berupa kantilever
dari masing-masing pilar atau tower. Pilar atau tower ini mendukung seluruh beban
pada lengan kantilever.

9)  Jembatan Terapung (Floating Bridges)


Jembatan terapung dibuat dengan mengikatkan dek jembatan pada pontonponton
sebagaimana dilihat pada Gambar 2.23. Ponton-ponton ini biasanya jumlahnya banyak
sehingga jika salah satu ponton terjadi kebocoran maka tidak begitu mempengaruhi atau
membahayakan kestabilan jembatan apung secara keseluruhan. Kemudian ponton yang
terjadi kebocoran ini dapat diperbaiki.
Jembatan terapung pada mulanya banyak digunakan sebagai jembatan sementara oleh
militer. Namun kini jembatan terapung banyak digunakan apabila kedalaman air yang
akan dibuat jembatan cukup dalam dan kondisi tanah dasar sangat jelek sehingga sangat
sulit untuk membuat fondasi jembatan. Saat ini ponton-ponton yang digunakan pada
jembatan terapung dapat dibuat dari beton dimana bentang total dapat mencapai sebesar
2 km.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 16


10) Jembatan Kombinasi (Combination Bridges)
Jembatan kombinasi adalah jembatan yang menggunakan lebih dari satu jenis jembatan.
Hal ini terutama untuk jembatan dengan bentang sangat besar dimana penggunaan s satu
jenis jembatan tidak ekonomis.

Jembatan Yang Dapat Digerakkan (Umumnya Dari Baja)

1)  Jembatan Yang Dapat Berputar Diatas Poros Mendatar, Seperti:


a)  jembatan angkat
Jembatan angkat seperti yang melintasi lautan, kemudian jembatan bisa diangkat untuk
perlintas kapal.
b)  Jembatan Baskul

SMK NEGERI 56 JAKARTA 17


Jembatan baskus terbuat dari pelat baja, jembatan baskul banyak dijumpai pada truk
sebagai pelat injak turunnya kendaraan mobil, motor atau lainya dari truk.
c)   jembatan lipat strauss.
Jembatan lipat strauss umumnya digunakan untuk pejalan kaki, banyak dijumpai di
taman – taman luar negri, tetati memungkinkan juga berada di tempat lain, lebar
jembatan ini relative kecil, jembatan lipat strauss terbuat dari baja, bentuknya seperti
jembatan lainya tetapi ketika dilipat membentuk lingkaran atau setengah lingkaran.
2)  Jembatan yang dapat berputar diatas poros mendatar dan yang dapat berpindah
sejajar mendatar,
3)  Jembatan yang dapat berputar diatas poros tegak atau jembatan putar,
4)  jembatan yang dapat bergeser kearah tegak lurus atau mendatar:
a)  Jembatan Angkat
jembatan angkat juga termasuk jembatan yang dapat bergeser kea rah tegak
lurus/mendatar dan jembatan yang dapat diputar pada pros mendatar, jenis jembatan ini
seperti yang melintasi lautan, kemudian jembatan bisa diangkat untuk perlintas kapal.
b)  Jembatan Beroda
Dikatakan beroda karena mempunya roda yang berdungsi untuk maju mundurnya dari
abutment ke pilar atau dari pilar satu ke pilar lainya, jembatan jenis seperti ini terbuat
dari material baja dan banyak dijumpai ketika instalasi girder, ketika launching girder di
Tarik ke tengah menggunakan jembatan beroda atau istilah lain dari jembatan beroda
adalah bailey.

c)   Jembatan Goyah


Dikatakan goyah karena jembatan ini lentur ketika di injak, jembatanya relative pendek
atau sedang sementara lebarnya rata rata 1 meter, jenis jembatan seperti ini biasanya
untuk digunakan pejalan kaki melintasi sungai, bentuk nya seperti jembatan gantung.

Klasifikasi Jembatan Menurut Kelas Bina Marga

1)  Jembatan Kelas Standar (A/I)

SMK NEGERI 56 JAKARTA 18


Merupakan jembtan kelas standar dengan perencanaan 100% muatan “T” dan 100%
muatan “D”. Dalam hal ini lebar jembatan adalah (1,00 + 7,00 + 1,00) meter.
2)  Jembatan Kelas Sub Standar (B/II)
Merupakan jembatan kelas standar dengan perencanaan 70% muatan “T” dan 70%
muatan “D” dalam hal ini lebar jembatan (0,50 + 6,00 + 0,50) meter.
3)  Jembatan Kelas Low Standar (C/III)
Merupakan jembatan kelas standar dengan perencanaan 50% muatan “T” dan 50%
muatan “D” dalam hal ini lebar jembatan adalah (0,50 + 3,50 + 0,50) meter.

Klasifikasi Menurut Formasi Lantai Kendaraan


1. Jembatan lantai atas
2. Jembatan lantai tengah
3. Jembatan lantai bawah
4. Jembatan double deck

Klasifikasi Menurut Bidang Yang Dipotongkan


1. Jembatan tegak lurus
2. Jembatan lurus (Straight Bridge)
3. Jembatan menceng (Skewed Bridge)
4. Jembatan lengkung (Curved Bridge)

Klasifikasi Menurut Lokasi

SMK NEGERI 56 JAKARTA 19


1. Jembatan biasa

2. Jembatan viaduct

SMK NEGERI 56 JAKARTA 20


3. Jembatan layang (Overbridge /Roadway Crossing)

4. Jembatan kereta api

SMK NEGERI 56 JAKARTA 21


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jembatan

Bagian-bagian struktur utama dari konstruksi jembatan adalah struktur pondasi, struktur
abutment, struktur pilar, struktur lantai jembatan, struktur kabel, dan struktur
oprit. Bagian metoda konstruksi terpenting dalam konstruksi jembatan adalah proses
erection lantai jembatan, dimana banyak metoda dimungkinkan untuk melakukan
erection tersebut.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 22


Adapun metoda konstruksi terpenting dalam konstruksi jembatan juga sangat bervariasi
dan sangat ditentukan oleh banyak pertimbangan, antara lain:
 Kondisi medan,
 Tipe alat yang telah dimiliki,
 Kondisi akses menuju ke lokasi proyek,
 Pertimbangan lalu lintas lama,
 Tipe material dan struktur jembatan yang digunakan, apakah baja atau beton.
 Pertimbangan waktu pelaksanaan

Berikut adalah beberapa tipe metoda erection lantai jembatan yang umumnya digunakan
untuk berbagai konstruksi jembatan :
 Sistem Perancah
 Sistem Service Crane
 Sistem Launching Truss
 Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link-set
 Sistem Launching Gantry
 Sistem Traveller atau Heavy Gantry

Sistem Perancah

Keuntungan sistem perancah adalah :


1. Minimnya alat angkat berat (service crane atau gantry) yang diperlukan, mengingat
pengecoran yang dilakukan adalah ditempat.
2. Lebih minimnya biaya erection akibat tidak terlibatnya alat angkat berat, khususnya
bila tipe ini telah dimiliki (heavy duty shoring).

SMK NEGERI 56 JAKARTA 23


Kerugian sistem perancah adalah
1. Produktivitas yang relatif rendah, karena pekerjaan cor ditempat menuntut waktu
yang lebih lama untuk proses persiapan (formwork dan peracah) dan proses setting
beton.
2. Menurut tipe tanah yang harus baik, dan bila tanah yang ada untuk dudukan perancah
kurang baik maka akan berakibat perlunya struktur pondasi khusus (luasan telapak yang
lebar atau penggunaan pondasi dalam).

Sistem Servis Crane

Keuntungan sistem servis crane adalah :


1. Produktivitas erection yang tinggi.
2. Tidak terpengaruh kepada tipe tanah yang ada dibawah lantai jembatan (sebatas
mampu dilewati untuk manuver alat berat).

Kerugian sistem servis crane adalah


1. Umumnya penggunaan alat berat seperti ini menuntut biaya tinggi mengingat biaya
sewa crane dengan kapasitas angkat tinggi adalah relative mahal.
2. Perlunya access road yang memadai untuk memobilisasi service crane.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 24


Sistem Launching Truss

Keuntungan sistem launching truss adalah :


1. Tidak terpengaruh kepada kondisi dibawah lantai jembatan (katakanlah sepenuhnya
sungai).

Kerugian sistem launching truss adalah :


1. Umumnya penggunaan alat berat seperti ini juga menuntut biaya tinggi.
2. Diperlukan system booking alat yang memadai mengingat tipe ini belum dimiliki
banyak oleh sub kontraktor erection.
3. Produktivitas relatif lebih rendah dibandingkan sistem service crane, dimana perlu
waktu extra untuk erection truss dan sistem angkat dan menempatkan girder.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 25


Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link Set

Untuk konstruksi jembatan rangka baja, maka sistem penggunaan alat angkat baik
service crane yang mungkin diletakkan diatas ponton atau konvensional gantry adalah
cara paling umum digunakan untuk mengangkat dan memasang batang per batang baja
di posisinya.
Sistem counter weight akan diperlukan yang biasanya diambil dari konstruksi rangka
baja yang belum dipasang ditambah dengan extra beban, agar erection dengan sistem
cantilever dapat dilakukan.
Penggunaan “link set” juga dapat dilakukan untuk menghubungkan satu span rangka
yang sudah jadi sebagai konstruksi counter weight bagi konstruksi rangka di span
selanjutnya. Untuk jelasnya lihat gambar-gambar dibawah ini.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 26


Sistem Launching Gantry

Untuk konstruksi jembatan dimana lantai jembatannya berupa struktur beton precast
segmental-box, maka penggunaan alat launching gantry umumnya dapat digunakan,
dimana sistem ini mempunyai kecepatan erection tinggi yang didukung sistem feeding
segmental dari sisi belakang alat (tidak dari bawah karena pertimbangan lalu lintas,
misalnya).

SMK NEGERI 56 JAKARTA 27


Sistem Traveller atau Heavy Gantry

Sistem traveller umumnya digunakan untuk tipe jembatan balance box cantilever,
khususnya untuk lantai jembatan dengan beton cor ditempat. Bila pada tipe jembatan
tipe ini menggunakan beton precast box segmental, maka sistem alat angkat gantry
harus digunakan.
Sistem kedua alat angkat ini juga digunakan untuk konstruksi jembatan kabel,
khususnya untuk tipe cable stay, maka erection deck juga memanfaatkan struktur kabel
sebagai tumpuan baru sebelum nantinya sistem traveler (bila beton adalah cast in place)
atau heavy gantry (bila beton adalah precast) akan maju ke segmen berikutnya.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 28


Prosedur Pengukuran Topografi untuk Pekerjaan Jalan dan Jembatan

Pengukuran topografi untuk pekerjaan pelaksanaan jalan bersifat pengukuran Stake Out,
yaitu pengukuran yang dilakukan untuk mengimplementasikan gambar rencana (design
drawing) dengan kondisi lapangan sebenarnya, dengan bantuan titik titik tetap yang ada
di lapangan dari hasil pengukuran topografi sebelumnya.

Pengukuran stake out antara lain bertujuan untuk penentuan center line. Penentuan batas
ROW, pembebasan lahan, pengukuran untuk pembuatan shop drawing, maupun
pengukuran untuk monitoring pelaksanaan kontruksi. Pengukuran stake out untuk
pelaksanaan jembatan meliputi, pengukuran stake out untuk center line, stake out posisi
abutment dan pier jembatan, pengukuran stake out untuk monitoring pelaksanaan
kontruksi.

Adapun alat ukur GPS tipe navigasi untuk keperluan survey pendahuluan dan alat GPS
tipe geodetic untuk pengukuran titik-titik ikat (bila diperlukan). Peralatan ukur harus di
kalibrasi dengan metode yang tepat sesuai dengan jenis dan spesifikasi masing masing
alat sebelum digunakan.

1. Suvey Pendahuluan

Survey pendahuluan (reconnaissance) dilakukan untuk mengetahui secara factual


kondisi rencana trase jalan yang telah di buat. Peralatan dan bahan yang diperlukan
antara lain peta rencana trase jalan diatas peta topografi skala 1 : 50.000 atau skala 1 :
25.000, GPS navigasi, heling meter/ clinometers, kompas, formulir survey dan
calculator, GPS navigasi dan kompas berfungsi untuk penentuaan prosentase
kemiringan vertical pada AS rencana. Jika trase rencana yang telah dibuat tidak
memungkinkan diterapkan dilapangan maka dilakukan pemilihan alternatif trase jalan.

2. Pemasangan Bench Mark (BM)

Sebelum dilakukan pengukuran, dilakukan pemasangan patok sebagai sarana


penyimpan informasi koordinat hasil pengukuran. Monument pengukuran jalan dan
jembatan berupa bench mark (BM), patok CP (concrete point) dan patok kayu
pengukuran. Bench mark (BM) di pasang di sepanjang ruas jalan yang di ukur pada
setiap interval jarak ± 1 KM. Di setiap pemasangan BM harus disertai pemasangan
patok CP. Sebagai pasangan untuk mendapatkan azimuth pada pekerjaan stake out tahap
pelaksanaan.

Pemasangan BM untuk jalan exsisting sebaiknya di pasang di kiri jalan dan CP di kanan
jalan searah dengan jalur pengukuran dengan posisi saling tampak satu sama lain.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 29


Pemasangan patok kayu dilakukan di setiap interval 50 m pada jalur yang lurus dan
datar serta setiap 25 m pada jalur yang berbelok/ perbukitan pada sisi jalan yang sama.
Pada daerah tertentu yang tidak bisa dipasang patok kayu bisa diganti dengan
pemasangan paku payung dengan di tandai cat sekitarnya dan di beri nomor sesuai
urutannya untuk memudahkan pencarian patok, sebaiknya pada daerah sekitarnya diberi
tanda khusus.

3. Pengukuran Kerangka Kontrol Vertical (KKV)

Pengukuran kerangka control vertical dilakukan dengan metode sifat datar disepanjang
trase jalan melewati BM, CP dan semua patok kayu. Pengukuran sifat datar dilakukan
pergi pulang secara kring pada setiap seksi. Panjang seksi ±1 – 2 km dengan persyaratan
(toleransi) ketelitian ≤ (kurang dari atau sama dengan) 10 mm √D, dimana D adalah
jumlah jarak dalam km. Elevasi titik referensi yang digunakan sebagai elevasi awal
harus dihitung dari tinggi MSL (muka air laut rata-rata).

Pengukuran sifat datar harus menggunakan alat sifat datar otomatis atau yang sederajat
dengan deviasi standar ketelitian pengukuran alat per 1 km pergi pulang ketelitiannya ≤
5 mm, pembacaan rambu harus dilakukan pada tiga benang yaitu benang atas, benang
bawah, benang tengah. Untuk control bacaan, rambu ukur harus dilengkapi nivo kotak
untuk pengecekan vertical rambu.

4. Pengukuran Kerangka Kontrol Horizontal (KKH)

Pengukuran titik-titik control horizontal dilakukan untuk merapatkan titik-titik control


horizontal yang ada di sekitar lokasi proyek. Titik-titik koordinat yang di pakai sebagai
control horizontal tersebut di anjurkan dalam system koordinat nasional dengan system
proyeksi yang di gunakan adalah UTM (Universal Transverse Mecator) dengan
pertimbangan bahwa pengukuran topografi bidang jalan bersifat memanjang.
Pengukuran titik-titik control horizontal dilakukan dengan metode polygon terbuka
terikat sempurna atau dengan polygon tertutup. Pengukuran polygon horizontal meliputi
pengukuran sudut tiap titik polygon, pengukuran jarak tiap sisi polygon dengan
azimuth.

5. Pengukuran Penampang Memanjang

Pengukuran penampang memanjang dalam pelaksanaannya dilakukan bersamaan


dengan pengukuran sifat datar atau pengukuran penampang melintang. Pengambilan
data penampang memanjang dilakukan dengan setiap perubahan muka tanah dan sesuai
dengan kerapatan detail yang ada sepanjang trase. Pembacaan rambu harus dilakukan
pada tiga benang yaitu: benang atas, benang bawah, dan benang tengah.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 30


6. Pengukuran Penampang Melintang

Pengukuran penampang melintang ruas jalan dilakukan alat sifat datar pada daerah datar
dan terbuka, tetapi pada daerah dengan topografi bergelombang sebaiknya dilakukan
dengan menggunakan teodolit kompas dengan ketelitian bacaan 20”. Pengukuran
penampang melintang ruas jalan dilakukan harus tegak lurus dengan ruas jalan.
Pengambilan data dilakukan pada tiap perubahan muka tanah dan sesuai dengan
kerapatan detail yang ada dengan mempertimbangkan factor skala peta yang dihasilkan
dan tingkat kepentingan data yang akan ditonjolkan.

Sketsa penampang melintang tidak boleh terbalik antara sisi kanan dengan sisi kiri.
Untuk mempermudah pengecekan, pada masing-masing sisi koridor diberi notasi yang
berbeda, misalnya koridor sebelah kiri dari center line jalan diberi notasi alphabetic dan
untuk koridor sebelah kanan di beri notasi numbers. Pengukuran penampang melintang
dilakukan dengan persyaratan: kondisi datar, landai dan lurus dilakukan pada interval
tiap 50 m dengan lebar koridor 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan AS trase jalan.

7. Pengukuran dengan Titik Ikat Referensi

Pengukuran kerangka control horizontal diikatkan pada titik-titik referensi horizontal


exsisting yang ada. Informasi keberadaan posisi/ lokasi titik ikat tersebut dapat dicari
dari institusi yang terkait antara BAKOSURTANAL, BPN, atau dari hasil pengukuran
proyek sebelumnya. Pengukuran penampang memanjang jalan, pengukuran melintang
jalan, pengukuran penampang melintang sungai dan pengukuran situasi. Persiapan dan
survey pendahuluan sama seperti pada pekerjaan pengukuran jalan.

8. Pengukuran Penampang Melintang Sungai

Koridor pengukuran kearah hulu dan hilir masing-masing 125 m dari as rencana
jembatan pengukuran kedalaman sungai dilakukan dengan menggunakan rambu ukur
atau bandul zonding jika kedalaman air kurang dari 5 m dan arus tidak deras, jika arus
deras dan kedalaman lebih dari 5 m pengukuran dilakukan dengan alat echosounder.

9. Pengukuran Situasi

Pengukuran situasi dilakukan dengan menggunakan electronic total station (ets) atau
dengan alat ukur teodolit dengan ketelitian bacaan ≤ 20”. Data yang diukur mencakup
semua obyek bentukan alam dan buatan manusia yang ada disekitar rencana jembatan.
Pada pengukuran situasi tersebut, pengambilan titik ukur harus detail/ rapat. Hal ini
karena pada lokasi disekitar rencana jembatan akan dilapangkan. Selain itu pada lokasi-
lokasi tersebut biasanya akan dilakukan desain-desain yang bersifat khusus.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 31


10. Pengukuran Pelaksanaan Jalan

Pengukuran pelaksanaan jalan bertujuan untuk mengimplementasikan gambar rencana


(design drawing) di lapangan. Sesuai dengan tujuannya, maka implementasi tersebut
dapat digunakan untuk menentukan center line, pembuatan shop drawing, rencana
pembebasan lahan, dan monitoring pelaksanakan pekerjaan. Pengukuran untuk kegiatan
pelaksanaan dilakukan dengan cara stake out, yaitu meletakan posisi-posisi detail dari
gambar rencana kedalam posisi sebenarnya di lapangan dengan dibantu oleh koordinat-
koordinat yang ada di lapangan.

11. Pengukuran Stake Out Untuk Center Line

Pengukuran Stake Out untuk penentuan center line merupakan stake out bersifat garis,
baik berupa garis lengkung maupun garis lurus. Stake out bersifat garis lurus dilakukan
terhadap center line pada jalan yang lurus. Stake out dilakukan setiap interval 50 m.
Üntuk stake out yang bersifat lengkung dilakukan setiap tikungan jalan.

Dimana posisi yang akan di stake out antara lain: PI (point intersection), TC (target
circle) CT (circle tangent), untuk tikungan bentuk full circle: TS (tangent spiral), SC
(spiral circle), CS (circle spiral), ST (spiral tangent) untuk tikungan bentuk spiral –
circle – spiral. Jarak dari titik diatas sudah terdapat dalam rencana (design drawing).
Alat ukur yang digunakan adalah teodolit/ EDM/ ETS.

12. Pengukuran Stake Out Untuk Rencana Pembebasan Lahan

Pengukuran stake out untuk rencana pembebasan lahan dilakukan bila dalam
pelaksanaan pekerjaan diperlukan pembebasan lahan. Daerah yang di ukur adalah
daerah yang terkena pembebasan lahan. Pada pengukuran ini dilakukan pemasangan
patok-patok pada batas-batas daerah yang terkena pembebasan berdasarkan koordinat
patok-patok pada batas yang telah terdapat pada peta rencana pembebasan lahan.

13. Pengolahan Data

Pengolahan data hasil dari pengukuran topografi terdiri dari beberapa tahapan hitungan,
yaitu hitungan polygon untuk pengukuran kerangka control horizontal (sudut, azimut,
jarak), hitungan sifat datar untuk pengukuran kerangka vertical serta hitungan posisi dan
beda tinggi untuk pengukuran situasi dan penampang melintang. Pengolahan data dapat
dilakukan secara manual dengan bantuan calculator, ataupun dengan bantuan computer.

Dari hasil pengukuran lapangan dapat berupa formulir yang berisi catatan dari hasil
pengukuran maupun data yang direkam dalam file elektronik. Untuk pengukuran yang
bersifat manual dan semi digital berupa koordinat masing-masing obyek yang

SMK NEGERI 56 JAKARTA 32


selanjutnya akan digunakan sebagai masukan data untuk proses penggambaran. Untuk
pengukuran dengan system digital murni, maka dari hasil pengukuran di rekam dalam
file elektronik, hal ini disebabkan alat ukur digital yang dilengkapi data rekorder atau
data collector, sehingga pengalahan data akan lebih mudah dan lebih cepat.
Data ukur lapangan yang sudah tersimpan didalam memory data recorder atau data
collector bisa langsung di download ke komputer dengan bantuan interface. Format data
ini di konversi keformat raw data dan selanjutnya dilakukan proses konversi kedalam
file book (data file book ini mempunyai format yang sama dengan batch file). Data file
book dihitung dengan perangkat lunak khusus topografi untuk memperoleh harga
koordinat.

14. Penggambaran

Penggambaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penggambaran dengan cara
manual dan penggambaran dengan cara digital. Penggambaran secara manual
berdasarkan hasil ukuran lapangan yang menggunakan tangan diatas kertas millimeter
dengan masukan data-data dari hitungan manual. Penggambaran digital dilakukan
dengan menggunakan perangkat lunak computer dan plotter dengan data masukan dari
hasil hitungan spreadsheet ataupun download data dari pengukuran digital yang
kemudian diproses dengan perangkat lunak topografi.
Itulah prosedur pengukuran topografi untuk pekerjaan jalan dan jembatan, semoga bisa
menambah wawasan rekan-rekan surveyor. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media
agar yang lain bisa mendapat manfaatnya. Silahkan berlangganan artikel blog ini
melalui fanspage di facebook agar tidak ketinggalan perbaruan konten situs ini.

SMK NEGERI 56 JAKARTA 33