Anda di halaman 1dari 3

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Fungsi, Tujuan dan Ciri-ciri Pendidikan Sekolah Dasar


Sejak di canakannya wajib belajar 6 tahun, SD menjadi lembaga pendidikan yang berfungsi
untuk menanamkan dasar bagi setiap warga Negara Indonesia yang masi dalam batas-batas
usia SD. Dalam mengemban fungsi tersebut, sekolah dasar sebagai mana halnya lembaga
pendidikan lain selalu mengacu pada pendidikan nasional. Yaitu mengembangkan
kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan, harkat dan martabat manusia dan
masyarakat Indonesia dalam upaya menwujudan pendidikan nasional.
Tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan Indonesia seutuhnya yaitu manusia yamg beriman dan bertakwa kepada
Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur dan memiliki pengetahuan dan nalar,
keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri
dan serta rasa tanggung jawab ke masyarakatan. Tujuan di atas dapat di kelompokkan
menjadi tiga kelompok yaitu:

Menanamkan kemampuan dasar baca-tulis-hitung


Menanamkan kemampuan tersebut dianggap merupakan persyaratan bagi setiap orang agar
dapat hidup wajar dlam masyarakat yang selalu berkembang.
Menanamkan pengetahuan dan ketrampilan dasar bermanfaat bagi siswa sesuai dengan
tingkat perkembangannya
Mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan di SMP

Saat ini Indonesia sudah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Artinya seluruh anak harus
pernah mengenyam pendidikan minimal hingga lulus bangku SMP. Dikelas-kelas tinggi
seperti kelas 6, siswa-siswi sudah dipersiapkan untuk menerima materi yang lebih kompleks
lagi di SMP dengan mematangkan kemampuan dasar baca-tulis-hitung mereka.

Karakteristik pendidikan sekolah dasar


Secara garis besar karakteristik pendidikan sekolah dasar akan di bagi menjadi 2 bagian yaitu
karakteristik umum dan karakteristik khusus pendidikan SD.
Karakteristik umum pendidikan SD
Pendidikan di SD memiliki ciri-ciri khas yang membedakan dari satuan pendidikan lainnya.
Yaitu:
Kemelekwacanaan
Fokus pendidikan di SD adalah bagaimana peserta didik dibentuk dalam hal literasi atau
kemelekwacanaan, bukan pada pembentukan akademik. Misalnya bagaimana memberikan
pemahaman kepada siswa tentang pentingknya tata tertib dalam menggunakan jalan raya, dan
mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Sedangkan pendidikan di SMP dan SMA tidak memiliki
karakteristik pendidikan seperti ini, karena penekanannya pada aspek pembentukan
kemampuan akademik.
Kemampuan berkomunikasi.
Semestinya pendidikan di SD sudah mulai membekali siswa untuk mampu berkomunikasi
sederhana secara lisan dengan menyampaikan pendapat, menyampaikan pertanyaan,
menjawab pertanyaan, serta secara tertulis dengan membuat karangan, puisi, surat.
Kemampuan memecahkan masalah
Pendidikan di SD juga harus mampu memberikan keterampilan melakukan analisa dan
evaluasi situasi secara sederhana. Misalnya apabila pada saat pulang sekolah, tiba-tiba ada
orang yang tidak dikenal datang menjemput, lalu apa yang harus dilakukan siswa.
Kemampuan mengidentifikasi, menganalisa, dan mencari jalan keluar dari masalah yang
dihadapinya, akan membuat siswa siap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kemampuan bernalar
Pendidikan di SD juga harus dapat mengarahkan siswa untuk menggunakan logika dan bukti-
bukti nyata, bukan mengambil keputusan didasarkan atas perkiraan, dugaan, dan perasaan
semata.
Karakteristik Khusus Pendidikan SD
Pembahasan tentang karakteristik khusus pendidikan SD akan meliputi pembahasan
komponen-komponen pendidikan SD secara khusus, yaitu:
Siswa SD adalah anak – anak yang berusia antar 6-12 tahun. Anak – anak SD mempunyai
kemampuan yang berbeda dari satuan pendidikan lainnya. Menurut Piaget, anak-anak  usia
SD berada dalam taraf akhir  masa praoperasional, masa operasi konkret, serta pada tahap
operasi abstrak.
Berbeda dengan guru SLTP ataupun SLTA guru SD adalah guru kelas. Setiap guru dituntut
untuk mampu mengajarkan  semua mata pelajaran di SD, kecuali Agama dan Penjaskes.
Sejalan dengan itu, guru SD mengajar  dari jam pertama sampai jam terakhir, selain itu guru
kelas memegang penuh kelas yang dipegangnya , mulai dari kehadiran
siswa  sampaipemberian rapor dan terkadang mengerjakan administrasi sekolah seperti
laporan Laporan Pertanggung Jawaban Bantuan Operasional Sekolah ( SPJ BOS ) .
Kurikulum SD merupakan bagian dari Kurikulum Pendidikan Dasar  yang mempunyai tujuan
yang khas. Lama pendidikan di SD enam tahun,yang dibagi menjadi tingkat kelas. Kurikulum
KTSP di SD menggunakan system Semester dengan lama satu jam pelajaran 30 menit  untuk
kelas I,II ,  serta 40 menit untuk kelas III s/d VI. Di SD terdapat 9 mata pelajarantermasuk
muatan local, yang dimulai dari kelas satu sampai kelas enam.
Pembelajaran yang terjadi di SD tentu tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan di SD
serta karakjteristik siswa SD. Yang dapat kita kaji dua karakteristik pembelajaran di SD,
yaitu kegiatan kingrit dan kegiatan manipulative.
Gedung dan peralatan SD sangat bervariasi. Ada yang sederhana dan bahkan ada yang cukup
mewah. Namun, dapat kita katakana bahwa gedung SD terdiri dari 3-6 ruang kelas dan satu
ruangan guru. Tidak ada ruangan khusus admministrasi.

Tatanan Organisasi dan Bentuk Penyelenggaran Pendidikan SD


Pada dasarnya, penyelenggaraan pendidikan di SD menjadi tanggung jawab bersama antara
Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan
Pemerintah Daerah, baik Tingkat Propinsi (Dinas Pendidikan Propinsi), Kabupaten/Kota
(Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota), maupun Kecamatan (Ranting Dinas) sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tantang kewenangan Pemerintah dan kewenangan
Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Pengelolaan SD juga melibatkan Komite Sekolah sebagai
lembaga mandiri, yang berperan dalam peningkatan mutu pelaynan pendidikan dan
pengawasan pendidikan.
Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Pemerintah Pusat (Depdiknas) menentukan Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan
Pemerintah Propinsi bertugas melakukan koordinasi atau penyelenggaraan pendidikan.
Pengembangan tenaga kependidikan dan penyediaan fasilitas pendidikan lintas daerah
Kabupaten/Kota untuk Pendidikan Dasar dan menengah.
Pengelolaan SD dilaksanakan berdsarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip
kemandirian dan Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah. Dengan demikian, tanggung jawab
utama pengelolaan SD berada di tangan SD sendiri.
Untuk memenuhi kewajiban belajar pada jenjang Sekolah Dasar, pendidikan SD dapat
dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal
mencakup SD/MI, SDLB/ SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus dan SD Inklusi.
Sedangkan pendidikan non formal mencakup Paket A dan Sekolah Rumah.
SDLB diperuntukkan khusus bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam belajar
karena kelainan fisik atau mental yang dialaminya, sedangkan SD Inklusi adalah SD biasa
yang juga menerima anak-anak yang mempunyai kelainan, sehingga terjadi pambauran antara
anak normal dengan anak berkelainan. Sementara itu, SD Unggulan atau Sekolah Nasional
Plus adalah SD yang mempunyai keunggulan dalam aspek tertentu, seperti penggabungan
bahasa asing yang menggunakan Kurikulum Internasional.
Paket A adalah pendidikan nonformal jenjang SD yang diperuntukkan bagi warga Negara
yang berusia 14 – 45 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan SD. Sekolah rumah atau
home schooling adalah sekolah yang diselenggarakan di rumah melalui layangan pendidikan
yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau
tempat-tempat lain, dengan proses belajar yang kondusif sehingga potensi anak yang unik
dapat berkembang secara optimal.