Anda di halaman 1dari 3

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN SISWA SD

Karakteristik perkembangan fisik, motorik, sodial dan emosial


Pembelajaran tentang perkembangan siswa sekolah dasar dimulai dari karakteristik perkembangan
fisik siswa. Dimana perkembangan fisik dipengaruhi oleh faktor genetika, gizi, tingkat sosial ekonomi,
emosional, jenis kelamin, kesehatan, suku bangsa serta ras. Faktor genetika berpengaruh pada fisik
siswa, dimana fisik orangtua biasanya akan berpengaruh pada penampilan fisik anak. Sedangkan
faktor gizi mempengaruhi perkembangan fisik siswa. Siswa dengan gizi tercukupi akan terlihat lebih
besar, tinggi dan sehat dibandingkan dengan siswa lainya.
Pengaruh tingkat sosial ekonomi menjadikan seorang anak secara fisik lebih baik karena
tercukupinya kebutuhan hidup. Sedangkan faktor emosional mempengaruhi perkembangan fisik
anak karena adanya tekanan secara emosional. Jenis kelamin berpengaruh pada saat anak
berpengaruh setelah masa pubertas, dimana anak perempuan biasanya akan lebih cepat
perkembanganya dibandingkan dengan anak laki-laki.
Faktor kesehatan juga mempengaruhi pertumbuhan fisik siswa SD, anak yang sehat biasanya akan
memiliki tubuh yang yang lebih tinggi dan berat serta aktif bergerak. Faktor terakhir, suku
bangsa/ras berpengaruh karena pertumbuhan fisik anak juga diwarisi dari nenek moyangnya.
Karakteristik perkembangan siswa SD juga terjadi pada perkembangan motoriknya. Perkembangan
motorik merupakan perkembangan yang berkaitan dengan motorik siswa, dimana perkembangan ini
berkaitan dengan gerakan-gerakan tubuh yang terkordinasi karena adanya kerjaama antara otot,
otak dan saraf.
Siswa sekolah dasar pada umumnya telah memiliki gerakan motorik yang baik, hal ini dikarenakan
otot, otak dan saraf pada anak usia sekolah dasar sudah berkembang dengan baik. Hal ini
dikarenakan semakin bertambahnya usia anak maka semakin sempurna gerakan motoriknya.
Sebaliknya, jika terjadi adanya siswa sekolah dasar yang belum sempurna melakukan ketrampilan
motoriknya, perlu dilihat dan diperhatikan kemungkinan adanya kelainan pada sistem saraf, otot dan
otaknya, atau hanya sekedar perlu bimbingan dan latihan yang lebih intens.
Karakteristik perkembangan emosi siswa sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan
keluarga. Secara umum emosi anak usia sekolah dasar diwujudkan dengan tertawa lepas dan
mengungkapkan kegembiraan atau rasa senang, dan jika merasa kecewa atau kesal, anak biasanya
akan merajuk atau cemberut. Tetapi secara umum anak sekolah dasar mulai dapat membedaka
ungkapan emosi yang kurang baik, sehingga berusaha untuk mengendalikan ungkapan emosinya.
Karakteristik perkembangan sosial anak usia sekolah dasar disebut dengan usia berkelompok,
dimana anak usia SD ditandai dengan minat beraktifitas bersama dengan teman-temanya. Anak akan
merasa senang ketika berkumpul dengan kelompoknya, bahkan jika dibandingkan berkumpul
dengan keluarga atau kerabatnya. Oleh karena itu anak perlu diajari bagaimana cara mengenal,
menafsirkan, dan melakukan reaksi yang tepat terhadap situasi sosial yang dihadapi. Hal ini
dikarenakan pengaruh berkelompok dapat membentuk kebiasaan dan terbawa dalam kehidupan
selanjutnya. Dalam berkelompok, seorang anak mempunyai motivasi yang berbeda, ada tahap
pemenuhan kebutuhan, tahap balas jasa dan tahap keakraban.
Karakteristik sosial anak SD yang demikian menuntut sekolah untuk menanamkan demokrasi dalam
kehidupan sosial sekolah. Dimana guru menjadi ujung tombak untuk membangun perkembangan
sosial anak. Guru hendaknya dapat membantu sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh siswa,
dimana guru juga harus mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh siswa sehingga akan
dapat memberikan solusi yang tepat.
Karakteristik perkembangan intelektual, bahasa, moral dan spiritual
Usia anak sekolah dasar mulai memperhatikan lingkungan dengan objektif. Anak memasuki masa
belajar, mulai ingin mengetahui segala sesuatu, berusaha menambah pengetahuan kemampuan, dan
pengalaman. Dimana utk memenuhinya anak senang akan kegiatan yang menantang, beraktifitas
dan banyak bergerak. Perkembangan intelektual anak SD termasuk pada tahap perkembangan
operasi konkret (Piaget); dimana anak mampu berfikir secara logis dan kuantitatif, dan berperilaku
objektif terhadap satu kejadian. Kemampuan ini terwujud dalam kemampuan untuk
mengklasifikasikan objek, mengurutkan benda sesuai dengan urutanya, memahami cara padang
orang lain, dan berfikir secara deduktif. Anak usia sekolah dasar juga mampu untuk berfikir desenter,
yaitu mampu untuk memusatkan perhatian pada beberapa atribut benda atau kejadian secara
bersamaan dan mengerti hubungan antar dimensi.
Karakteristik perkembangan bahasa anak sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh orangtua dirumah
dan guru disekolahnya. Oleh karena itu baik orangtua maupun guru harus dapat memberikan
teladan bagi anak, segala perilaku, tutur kata, dan tindakan akan menjadi contoh bagi anak dalam
berperilaku, khususnya dalam perkembangan bahasa anak tersebut.
Perkembangan bahasa anak tingkat sekolah dasar juga harus dapat diwujudkan dalam bentuk
bahasa lisan. Karena fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang sering digunakan sehari-hari oleh
anak adalah berbicara. Kemampuan anak berbicara akan dapat berfungsi untuk mengekspresikan
perasaanya, mengajak atau mempengaruhi orang lain, dan untuk menyampaikan informasi.
Untuk dapat berbicara, anak usia sekolah dasar telah melalui beberapa tahapan. Dari mulai tahap
menangis, tahap berceloteh, tahap holofase dimana anak mulai menggunakan bahasa sederhana
dan disertai dengan gerakan pendukung, dan tahap mengobrol. Tahapan terakhir ini yang harus
diasah pada anak usia sekolah dasar untuk dapat berkomunikasi dan menyampaikan ide atau
gagasannya.
Perkembangan moral anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun
lingkungan sekolahnya. Aktivitasnya dengan teman sebaya juga akan mempengaruhi perkembangan
moral anak, selain itu perkembangan moral anak juga dipengaruhi oleh tingkat intelegensi anak dan
juga jenis kelamin dari anak tersebut. Hal ini dikarenakan anak usia sekolah dasar mempunyai
keinginan yang besar untuk berpetualang, mencoba dan menemukan sesuatu yang cocok dengan
dirinya.
Perkembangan moral anak usia sekolah dasar masuk dalam tahap heteronomous morality, dimana
anak kelas 1 masih memahami dengan kaku konsep benar dan salah. Tetapi seiring perkembangan
anak, diusianya yang ke 11, proses berfikirnya telah berkembang, banyak bergaul, dan berinteraksi
dengan lingkungan sehingga pemahaman konsep benar dan salah tidak lagi kaku. Sedangkan
menurut kohlberg perkembangan moral anak sekolah dasasr dimulai dari moralitas anak baik,
dimana anak akan mengikuti semua peraturan yang diberikan, kemudian berkembang menjadi
moralitas konvensional dimana anak mulai menyesuaikan aturan dengan kesepakatan bersama
dalam kelompoknya.
Perkembangan Agama seorang anak juga berasal dari orangtuanya dirumah. Di sekolah, khususnya
di sekolah dasar, guru berkewajiban untuk mengingatkan siswanya tentang kesadaran beragama.
Guru menyadarkan akan adanya Tuhan, mengajak siswa untuk melakukan segala perintah-Nya dan
meninggalkan larangan-Nya. Anak sd mulai belajar agama juga dengan cara mencontoh melalui
pendengaran, pendengaran dan melalui panca indra lainya. Tetapi seiring dengan perkembangan
usianya, anak mampu berfikir sehingga mampu mengimplementasikan apa yang didengar dan
dilihatnya dengan menjalankan agama dengan penuh kesadaran.
Untuk dapat mencapai hal itu, maka guru dalam mengawal perkembangan agama anak harus dapat
memberikan masukan yang sesuai dengan kemampuan anak. Guru harus dapat menentukan materi
dan metode yang tepat untuk dapat mengembangkan agama anak. Guru dapat menggunakan
metode bercerita, bermain untuk mengajarkan agama kepada anak. Guru juga dapat menggunakan
metode karyawisata, demonstrasi, pemberian tugas maupun diskusi serta tanya jawab dalam
pengajaran bahasa kepada anak. Hal ini tentunya harus sesuai dengan perkembangan motorik,
bahasa, sosial, dan emosional, dan intelegensi anak tingkat sekolah dasar.