Anda di halaman 1dari 3

1.

Dampak atau pengaruh kelompok terhadap perilaku individu, bisa terjadi dalam tiga
bentuk, yaitu :
a). social facilitation effect (efek dukungan social)
b). social loafting, orang yang bekerja sebagai bagian dari kelompok kadang – kadang enggan untuk
mengeluarkan semua kemampuan atau kapabilitas yang dimilikinya untuk membantu
menyelesaikan pekerjaan kelompok. Keengganan ini disebut social loafting.
Alasan yang menyebabkan terjadinya social loafting :
1) merasa sudah ada orang lain yang mengerjakannya
2) merasa kontribusinya tidak akan banyak berpengaruh terhadap kinerja kelompok
3) merasa kontribusinya tidak akan dihargai
4) merasa kemerdekaan individunya hilang atau merasa tidak akan dihukum jika kinerjanya buruk.
c). deindividuation, adalah : proses hilangnya jati diri atau kepribadian seseorang ketika dirinya
bergabung dengan sebuah kelompok.

2. dampak positif atau negative terhadap prilaku individu antara lain:


a.) Sisi Positif :
Munculnya kelompok informal akan memberikan dampak positif bagi organisasi. Dampak tersebut
diperoleh jika kehadiran kelompok informal mendukung tujuan organisasi atau anggotanya
menyadari bahwa keberadaannya masih dalam bingkai organisasi formal yang tak lepas dari visi
dan misi organisasi
-Meningkatkan helping behavior. Proses kerja yang ada dalam organisasi akan melibatkan
beberapa orang. Proses tersebut akan lebih efektif ketika antara mereka sudah terjalin kedekatan
atau mereka berada dalam satu kelompok informal meski dalam bingkai organisasi formal.
Kedekatan hubungan emosional akan membentuk kepedulian di antara mereka hingga akan
mewujudkan perilaku saling membantu (helping behavior). Padahal perilaku membantu akan
berpengaruh terhadap kinerja kelompok. Riset yang dilakukan oleh Yee Ng and Van Dyne (2005)
terhadap 176 kelompok belajar pada sekolah bisnis di Timur Tengah membuktikan bahwa
tingkat helping behavior padakelompok berhubungan erat dengan kinerja kelompok, sehingga
semakin tinggi tingkat helping behavior anggota kelompok, kinerja kelompok juga semakin tinggi.
-Penyebaran pengetahuan. Pengetahuan yang berbentuk cara, prosedur, kebijakan atau aplikasi
baru yang belum diketahui oleh sebagian pegawai akan cepat menyebar dan dimengerti oleh
pegawai lain ketika penyebarannya melalui kelompok pertemanan ataupun bentuk kelompok
informal lainnya. Mereka yang kurang paham dengan aplikasi baru misalnya, berkecenderungan
bertanya kepada teman yang secara hubungan interpersonal sudah dikenal dan bersedia
membantunya dibandingkan dengan teman yang tidak mempunyai kedekatan hubungan
interpersonal. Ketidaktahuan terhadap sesuatu bagi sebagaian orang akan dianggap sebagai
kekurangan sehingga mereka tidak nyaman ketika kekurangan tersebut diketahui oleh orang yang
secara emosional tidak mempunyai kedekatan.
-Meningkatkan kepuasan kerja. Bagi sebagian orang, kepuasan kerja tidak hanya diukur dari berapa
besarnya penghasilan, jabatan apa yang dimiliki dan besarnya kekuasaan maupun wewenang yang
melekat padanya. Namun lebih cenderung pada kualitas hubungan interpersonal yang terjadi pada
sebuah organisasi. Kepuasan kerja bagi mereka ternyata sangat sederhana. Ketika mereka mampu
mengekspresikan diri, berinteraksi dan mempunyai kedekatan secara sosial psikologis dengan
teman sekerja, maka mereka akan puas atau meningkat kepuasan kerjanya. Menurt Ket de Vries
dalam Mullins (2005) hubungan sosial (social relationship) merupakan kebutuhan dari individu
sehingga terpenuhinya kebutuhan tersebut akan tercapai kepuasan pada diri seseorang.
Karenanya, ketika seseorang mendapatkannya di lingkungan kerja, maka secara individual pegawai
tersebut akan puas dan secara organisasional efek tersebut akan berdampak pada kinerja
organisasi.
b.) Sisi negatif
Munculnya kelompok informal juga bisa memberikan efek negatif pada organisasi. Efek tersebut
ada ketika kelompok tersebut cenderung berseberangan dengan tujuan organiasasi atau terdiri
dari anggota yang tidak mempunyai komitmen untuk ikut memajukan organisasi.
-Menghambat kinerja. Kinerja organisasi bisa terhambat jika kelompok informal terdiri dari orang-
orang yang mempunyai kepentingan individu yang sangat menonjol. Padahal kepentingan individu
seringkali tidak selaras dengan kepentingan organisasi. Dukungan terhadap organisasi ada jika
kepentingan mereka terpenuhi atau biasanya mereka seolah-olah mendukung kepentingan
organisasi meskipun di dalamnya ada kepentingan individu. Kondisi organisasi menjadi tidak sehat
jika ternyata pengaruh kelompok informal tersebut sangat kuat. Unsur sosial yang ditonjolkan
kelompok tersebut sangat menarik perhatian anggota organaisasi untuk masuk di dalamnya.
Dengan dalih membela kepentingan orang banyak mereka menjalankan aksinya, berpropaganda
dan mencoba mempengaruhi anggota organisasi yang belum menjadi anggotanya. Jika
pengaruhnya sangat kuat bisa dimungkinkan mereka mempengaruhi prosedur kerja yang ada atau
mencari keuntungan dari sistem dan prosedur yang dijalankan organisasi.
-Penyulut konflik. Semakin kohesifnya anggota dalam kelompok informal akan menimbulkan
gejala-gejala groupthink (pemikiran kelompok) yang menganggap bahwa kelompoknya yang paling
benar dan menilai kelompok lain tidak benar. Kohesivitas kelompok yang tinggi mampu
memberikan tekanan kepada anggotanya bahwa mereka harus menjaga apa yang diputuskan
kelompok tanpa adanya penilaian kembali keputusan tersebut dengan memperhatikan saran dan
masukan dari anggotanya.   Karenanya, mereka cenderung mempertahankan pendapatnya
meskipun hal tersebut salah. Anggapan tersebut yang kemudian menyulut timbulnya konflik
interpersonal dalam organisasi. Jika mereka dihadapkan pada individu atau kelompk lain dengan
tujuan yang berbeda, maka timbulnya konflik menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Konflik
tersebut akan meruncing dan mengarah pada pertikaian jika ternyata kelompok informal tersebut
semakin irasional dan tak mau menerima kritik dan saran dari orang lain.
-Menurunkan loyalitas. Tingginya kesetiaan terhadap kelompok informal akan menurunkan
loyalitas terhadap organisasi jika sebagian besar anggotanya mempunyai tujuan yang berbeda
dengan organisasi. Mereka akan memilih setia terhadap kelompok informal meskipun pada
kenyataannya berada dalam organisasi formal. Menurut mereka loyalitas terhadap organisasi akan
sulit diukur sedangkan kesetiaan terhadap kelompok akan jelas terlihat dan drasakan oleh anggota
lainnya. Mereka beranggapan bahwa rendahnya tingkat loyaitasnya terhadap organisasi tak akan
diketahui dan diprotes oleh anggota organisasi. Kekurangpekaan pemimpin organisasi terhadap
keeradaan kelompok informal akan semakin memberikan ruang terhadap anggota dari kelompok
tersebut untuk tidak loyal terhadap organisasi.
-Menurunkan motivasi kerja. Budaya yang berujud seperangkat nilai-nilai dan keyakinan yang
berlaku dalam kelompok akan mewarnai perilaku anggotanya. Meskipun secara individual,
anggotanya memiliki nilai-nilai dan keyakinan yang berbeda, namun ketika berada dalam kelompok
mereka akan menampilkan perilaku kelompok jika kelompok yang telah terbentuk soiditasnya
tinggi. Ketika budaya yang berlaku pada kelompok tersebut selaras dengan budaya yang
mengedepankan produktivitas, hal tersebut tak akan akan berdampak buruk bagi organisasi.
Namun akan berdampak negatif jika budaya tersebut ternyata cenderung tidak produktif dan
keberadaan kelompok hanya menjadi media bagi mereka untuk merealisasikan kepentingan
pribadi, atau bahkan pemufakatan untuk berseberangan dengan tujuan organisasi. Motivasi kerja
anggota organisasi dimungkinkan bisa turun karena pengaruh kelompok tersebut. Apalagi
kelompok tersebut menyampaikan pandangannya bahwa pegawai dengan usaha yang tidak
maksimal pada akhirnya akan memperoleh kompensasi yang sama dibandingkan dengan mereka
yang bersungguh-sungguh dalam bekerja. Pembenaran terhadap pandangan tersebut akan semakin
nyata jika ternyata organisasi mentolerir perilaku mereka dan membiarkannya berkembang dan
hidup dalam organisasi.
Sumber : modul EKMA4158

Anda mungkin juga menyukai