Anda di halaman 1dari 7

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.2 (2021.1)

Nama Mahasiswa : GIN GIN GINANJAR FITRIANA

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042129919

Tanggal Lahir : 06 Juni 1986

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4314/ Perekonomian Indonesia

Kode/Nama Program Studi : 54/Manajemen

Kode/Nama UPBJJ : 42/ Semarang

Hari/Tanggal UAS THE : Minggu/ 11 Juli 2021

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

Surat Pernyataan Mahasiswa


Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : GIN GIN GINANJAR FITRIANA


NIM : 042129919
Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4314/ Perekonomian Indonesia
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Manajemen
UPBJJ-UT : Semarang

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada laman
https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal ujian
UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai pekerjaan
saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan aturan
akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan tidak
melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media apapun, serta
tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat pelanggaran atas
pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh
Universitas Terbuka.
Semarang, 11 Juli 2021

Yang Membuat Pernyataan

Gin Gin Ginanjar Fitriana


BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

1. Tidak bisa, karena kondisi saat ini tidak sama dengan kondisi krisis moneter tahun 1998 dulu.
Tahun 1998, krisis disebut moneter karena specifically menyerang sistem perbankan, dimulai
dari pelemahan rupiah+pengawasan bank yang lemah+rush (orang rame2 menarik uang
karena kepercayaan runtuh). Tahun 1998, pelemahan rupiah sebelum dan sesudah krisis
mencapai hampir 400%, sedangkan pelemahan rupiah saat ini lebih kecil (paling berkisar di
sekitar 13000-14000), pelemahan lebih gradual, lebih karena tekanan modal asing yang keluar,
confidence yang naik turun, trade defisit yang berkepanjangan, bukan karena krisis moneter.
Mengutip dari Liputan6.com, sesuai pernyataan Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-
-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Republik Indonesia Denni Puspa Purbasari
menjelaskan, meskipun pelemahan rupiah semakin dekat dengan level pada saat krisis
moneter 1998, tetapi rupiah saat ini sebenarnya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan
situasi saat krisis, dua dekade silam tersebut
• Pelemahan tidak drastis
• Cadangan Devisa Jauh Lebih Besar
• Kepercayaan Investor Masih Kuat
Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/3636663/3-alasan-pelemahan-rupiah-saat-ini-
berbeda-dengan-1998

2. Mengutip dari Republika.com yang berdasarkan pernyataan para ahli dibidang perbankan.
Sedikitnya, ada tujuh alasan mengapa merger bank syariah BUMN yang terdiri dari BRI Syariah
(BRIS), BNI Syariah (BNIS), dan Bank Syariah Mandiri (BSM) ini penting dilakukan
• Pertama, dengan merger ini, bank syariah bisa lebih efisien dalam penggalangan dana,
operasional, pembiayaan, dan belanja, merger menjadi solusi untuk mengatasi tingginya
biaya operasional dan belanja modal (capital expenditure/capex) yang kerap dialami
perbankan syariah. Dengan konsolidasi, biaya penggalangan DPK, biaya operasional,
dan capex bisa ditekan.
• Kedua, merger membuktikan bank syariah memiliki prospek cerah. Perbankan syariah
terbukti mampu bertahan di tengah pengaruh buruk pandemi covid-19. kinerja industri
perbankan syariah tercatat lebih baik dibanding kondisi perbankan konvensional. Dari
data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan Pembiayaan Yang Disalurkan (PYD)
perbankan syariah per Juni 2020 mencapai 10,13 persen secara tahunan (year on
year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan
konvensional yakni 1,49 persen (yoy) pada periode tersebut. Dari sisi permodalan,
bantalan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan syariah juga terjaga di
angka 21,20 persen per Juni 2020. Rasio ini jauh di atas ambang batas kecukupan
modal yang diatur otoritas sekitar 12-14 persen
• Ketiga, aset bank syariah makin besar dan kuat. Bank syariah hasil merger ini akan
masuk top 10 bank nasional dengan aset sampai Rp 240 triliun
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

• Keempat, kata Ketua Tim Project Management Office dan Wakil Direktur Utama PT
Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunardi, bank hasil merger memiliki potensi 10 bank
syariah teratas secara global berdasarkan kapitalisasi pasar. Dengan total aset saat ini
sekitar Rp 220 triliun-Rp 225 triliun, diproyeksikan pada 2025, aset bank ini bisa Rp 390
triliun, pembiayaan mencapai Rp 272 triliun, dan pendanaan Rp 335 triliun
• Kelima, bank merger akan memiliki produk yang lengkap, mulai dari wholesale,
consumer, retail, UMKM, dengan berbagai produk dan layanan yang handal
• Keenam, merger tidak hanya upaya dan komitmen dalam pengembangan ekonomi
syariah. Namun juga menjadi pilar baru kekuatan ekonomi nasional, mendorong
Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah global
• Ketujuh, merger memudahkan akses semua kalangan masyarakat untuk mendapat
pelayanan jasa keuangan yang sesuai prinsip-prinsip syariah. Dengan jumlah penduduk
yang besar, layanan perbankan syariah tidak sampai 10 persen

Sumber : www.republika.co.id/berita/qi6gay440/7-alasan-pentingnya-merger-bank-syariah-bumn

3. Menurut menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, koperasi sebagai soko guru atau tulang
punggung perekonomian mendapat antusiasme kecil dari masyarakat. eten menyampaikan
partisipasi masyarakat Indonesia untuk berkoperasi hanya sebesar 8,41 persen, sementara
dalam skala global sebesar 16,31 persen. "Secara global juga masih sangat kecil angka
partisipasinya. Di sektor pangan sebesar 51,2, namun kelembagaan ekonomi petani yang
berbentuk koperasi masih juga kelihatan kecil". Teten menyebut koperasi saat ini masih
didominasi koperasi simpan pinjam sebanyak 55,9 persen. "Ini artinya koperasi belum banyak
bergerak di sektor riil atau sektor riil belum menjadi pilihan usaha dari koperasi,"
Hal ini terjadi dikarenakan berbagai faktor, yakni ada faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internalnya adalah ketertinggalan koperasi dalam hal profesionalitas pengelolaan lembaga,
kualitas sumber daya manusia, dan permodalannya. Oleh karena itu koperasi harus berusaha
meningkatkan kemampuan para anggotanya agar dapat mengelola koperasi secara profesional.
Sedangkan faktor eksternalnya meliputi iklim ekonomi politik nasional yang kurang kondusif bagi
perkembangan ekonomi rakyat termasuk koperasi. Koperasi menghadapi tantangan yang cukup
berat mengingat kebijakan ekonomi Indonesia yang semakin liberal. Liberalisme dengan doktrin
homo economicus-nya membuat manusia makin condong pada kepentingan individu bukan pada
kesadaran pribadi dan kesetiakawanannya. Keberhasilan koperasi menjadi soko guru
perekonomian nasional harus dimulai dari keinsyafan pemerintah untuk melakukan de-regulasi
kebijakan. Pemerintah yang semula berorientasi terhadap pertumbuhan ekonomi seharusnya
mulai menitikberatkan pada pemerataan ekonomi melalui penerapan agenda-agenda
demokratisasi ekonomi. Perubahan arah kebijakan tersebut menuntut pemerintah untuk
mengembangkan regulasi (aturan main/sistem) yang menguntungkan koperasi, seperti halnya
memberi kemudahan koperasi untuk berusaha seperti yang diberikan pemerintah terhadap sektor
perbankan dan industri selama ini
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

Bahkan jika perlu, pemerintah melakukan pembatasan terhadap investasi industri yang dikuasai
oleh konglomerat (asing), sehingga ekonomi rakyat termasuk koperasi dapat bergerak lebih
leluasa.

Sumber : https://nasional.kontan.co.id/news/menkop-teten-sindir-koperasi-di-indonesia-
berjalan-lambat-seperti-andong

4. Tidak ada kaitan langsung antara pengangguran dan kemiskinan. Di Indonesia, berdasarkan
data BPS, Pengangguran dan kemiskinan tidak berkaitan secara langsung karena bukan variabel
yang komplemen. Secara konsep atau metodologi, tidak ada kaitan langsung antara
pengangguran dan kemiskinan karena angka pengangguran dihitung secara individu berdasar
data Sakernas ( Survei Angkatan Kerja Nasional ), sedangkan kemiskinan diihitung berdasarkan
tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita. Kecenderungan di perkotaan,sebagian orang rela
menganggur untuk menunggu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka,
misalnya fresh graduated.
Akan Tetapi, Kemiskinan sangat terkait dengan masalah-masalah struktural ekonomi berupa
tiadanya akses terhadap pemilikan dan penggunaan faktor produksi, termasuk rendahnya akses
terhadap pendidikan dan kesehatan yang memadai.
Kemiskinan yang terjadi saat ini disebabkan kesenjangan pendapatan dalam masyarakat
sehingga ada perbedaan akses untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi. Berbagai kebijakan dan
sistem ekonomi yang diterapkan selama ini tidak mampu menjawab persoalan tersebut yang
tercermin dari makin besarnya angka kemiskinan. Pada masa krisis ekonomi, bukan saja laju
pertambahan angkatan kerja baru tidak bisa diserap oleh pasar tenaga kerja di tanah air,
melainkan juga terjadi banyak PHK di sektor formal yang berakibat bertambahnya angkatan kerja
yang menganggur, baik itu menganggur penuh atau sama sekali tidak bekerja (open
unemployment) maupun yang setengah menganggur atau bekerja di bawah jam kerja normal
(under employment). Dalam kondisi pasar kerja yang seperti ini maka tenaga kerja tersebut
banyak yang memasuki lapangan kerja di sektor informal, termasuk di sektor pertanian yang
pendapatannya relatif rendah, sehingga menambah pula penduduk yang masuk kategori miskin

Solusi terkait pengangguran ini yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan meningkatkan
angka investasi yang masuk sehingga berpotensi untuk dibukanya lahan kerja baru yang bisa
menyerap angka pengangguran yang ada. Dengan terserapnya pengangguran tersebut
berpotensi meningkatkan angka konsumsi masyarakat sehingga bisa menekan angka tingkat
kemiskinan. Selain hal tersbut, yang paling berpotensi bisa menanggulangi pengangguran dan
kemiskinan adalah dengan adanya kemudahan dari pemerintah bagi berbagai level masyarakat
dalam mendapatkan Pendidikan berkualitas dan terjangkau atau bahkan gratis