Anda di halaman 1dari 2

JAWABAN SOAL

TUGAS TUTORIAL ATAU TUGAS MATA KULIAH I/II/III*

Fakultas : Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Program Studi : S1 Perpustakaan dan Sains Informasi
Kode/Nama MK : ISIP4110/Pengantar Sosiologi
NIM Mahasiswa : 042292878
Nama Mahasiswa : Kadek Mariantini

1. Seeing the strange in familiar : sosiologi selalu mempertanyakan hal-hal yang nampaknya
biasa saja untuk membongkar rahasia dibalik hal biasa tersebut. Jadi para sosiolog tidak
hanya berhenti pada pandangan bahwa sesuatu hal yang umum adalah lumrah, tapi para
sosiolog berfikir kenapa hal yang umum itu bisa terjadi dan apakah aspek2 khusus dalam hal
yang umum tersebut.contoh nya sebuah hal yang lumrah bahwa setiap remaja sekarang untuk
melanjutkan statusnya ke jenjang pernikahan. Namun cara berfikir sosiologis mencoba
mengkaji sejak kapan banyak orang memiliki keinginan untuk menikah, apa sebab mereka
ingin menikah, faktor apa yg mendorong dan menghambat orang untuk menikah, dsb.
2. fenomena kondisi masyarakat yang sekarang dalam masa pandemic Covid 19, dianalisis dari
perspektif konflik, structural fungsional dan interaksionisme simbolik.
 Pertama, perspektif konflik digagas oleh Karl Marx yang menyatakan bahwa konflik
sosial khususnya konflik kelas dan persaingan menandai semua masyarakat. Kita bisa
memahami saat situasi pandemi virus corona, kelas penguasa lah yang diuntungkan dari
pandemi virus corona ini. Di dunia global saat ini, kelas penguasa telah menyedot banyak
keuntungan atas nama kemanusiaan. Misalnya, penjualan alat-alat kesehatan (APD,
masker, hand sanitizer) dengan variasi harga. Hukum pasar kapitalisme dalam pasar
bebas telah membuat segelintir orang memiliki “modal” begitu banyak. Sementara,
sebagian orang kesulitan untuk mencari dan mendapatkan modal yang sangat sedikit.
Dengan ilmu sosiologi kita bisa mengerti dan menyelesaikan fenomena dan permasalah
ini, karena kita sudah mengerti dengan menggunakan pendekatan yang ada. Kaum
kapitalis terus mencari cara untuk mengeksploitasi, mendapatkan lebih banyak modal dan
nilai lebih di tengah pandemi virus corona. Inilah mengapa Karl Max mengatakan dalam
bukunya berjudul Das Kapital “modal adalah kerja mati, yang seperti vampir, hidup
hanya dengan menghisap tenaga kerja hidup, dan hidup lebih banyak, lebih banyak
tenaga kerja yang disedotnya.”
 Kedua, perspektif fungsionalis yang dimana gagasan tersebut dipelopori oleh Auguste
Comte, Emile Durkheim, dan tokoh lainnya. Menekankan pada struktur sosial dan sistem
sosial ,interkoneksi dan ekuilibrium. Dijelaskan bahwa jika salah satu bagian dari sistem
sosial terpengaruh, maka itu akan mempengaruhi sistem sosial lainnya sehingga
menghambat kelancaran proses terbentuknya struktur sosial. Kita telah melihat
bagaimana dunia bersatu untuk menyetujui karantina dan isolasi untuk memutus
penyebaran virus corona sampai saat ini. Dalam dunia sosial tanpa fungsionalisme, dunia
akan menjadi sibuk karena semua harus bersatu untuk membuat perubahan.
 Ketiga, perspektif interaksionisme yang digagas oleh Max Weber menekankan interaksi
dalam dunia sosial sebagai katalis utama perubahan yang mendorong interaksi sosial.
Pada akhirnya, kita telah melihat dunia secara luas bagaimana pandemi virus corona ini
telah mengurangi interaksi sosial antar manusia. Kita juga telah melihat bagaimana etika
beberapa pemuka agama membuat pengikutnya tidak percaya akan adanya virus corona,
karena dalam buku karya Max Weber “Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme”
adalah membuat kita memahami bagaimana etika agama membuka jalan bagi
kebangkitan kapitalisme.
Sumber
BMP ISIP4110/Modul 1-9