Anda di halaman 1dari 4

KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA ING MARTADIPURA (1300-Kini)

Kondisi Geografis
Kesultanan Kutai atau lebih lengkap disebut Kesultanan Kutai Kertanegara ing
Martapura adalah kerajaan Melayu yang bermula dari kerajaan Hindu pada tahun 1300 di Kutai
Lama dan berubah menjadi kerajaan Islam pada 1575 serta berakhir pada 1960. Ibu kota kerajaan
ini pada awalnya berada di Jaitan Layar sebelum berpindah ke Tepian Batu, kemudian
ke Pemarangan-Jembayan hingga Tepian Pandan. Kerajaan Kutai Kertanegara juga
menganeksasi Kerajaan Kutai Martapura pada tahun 1635 sehingga wilayah Kerajaan Kutai
Kertanegara bertambah luas dan nama kerajaan pun bertambah menjadi Kerajaan Kutai
Kertanegara ing Martapura.
Kemudian pada tahun 2001 kembali eksis di Kalimantan Timur setelah dihidupkan lagi
oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan
adat Kutai Kedaton, dengan perubahan nama menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing
Martadipura.
Dihidupkannya kembali Kesultanan Kutai ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris
takhta yakni putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat menjadi Sultan Kutai
Kartanegara ing Martadipura dengan gelar Sultan Aji Muhammad Salehuddin II pada tanggal 22
September 2001.

Aspek Kehidupan
Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai dianggap sebagai kerajaan Hindu-Buddha tertua di Indonesia. Hal ini didasarkan
pada peninggalan sejarah berupa Yupa yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.
Pusat Kerajaan Kutai terletak di daerah Muarakaman di tepi Sungai Mahakam. Namun wilayah
kekuasaannya cukup luas, yakni mencakup hampir seluruh Kalimantan Timur.
Dari Yupa diketahui pula corak kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Kerajaan Kutai.
Ingin tahu lebih banyak tentang kerajaan satu ini? Simak penjelasannya berikut ini:
Kehidupan Politik Kerajaan Kutai
Yupa menjelaskan tentang silsilah para pemimpin Kerajaan Kutai. Adapun raja-raja yang pernah
pemimpin Kutai yakni:
 Kudungga
Kudungga merupakan pendiri Kerajaan Kutai. Kudungga awalnya merupakan seorang kepala
suku. Dilihat dari namanya, Kudungga masih menggunakan nama lokal yang tidak berbau India.
Oleh sebab itu para ahli berpendapat saat Kudungga menjadi raja pengaruh agama Hindu baru
mulai masuk ke nusantara. Kudungga kemudian mewariskan tahta kepada keturunannya.
 Aswawarman
Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman yang menjadi raja. Dalam Yupa ia
disebut seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari) dan memiliki julukan Wamsakerta atau
pembentuk keluarga/dinasti Hindu.
Alasannya adalah karena Aswawarman diperkirakan merupakan raja pertama yang telah
menganut agama Hindu saat ia memimpin.
Beberapa ahli mengatakan bahwa saat Kudungga memimpin, ia belum menganut agama
Hindu. Saat itu ia masih berperan sebagai kepala suku yang pada akhirnya mempunyai keturunan
sebagai raja-raja Kutai.
Di masa pemerintahan Aswawarman, Kerajaan Kutai mulai memperluas wilayahnya.
Aswawarman memiliki tiga orang putera, salah satunya adalah Mulawarman.
 Mulawarman
Mulawarman merupakan raja terbesar di Kutai. Kerajaan Kutai berada pada puncak kejayaannya
di masa sang raja. Wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai meliputi hampir seluruh wilayah
Kalimantan Timur. Saat itu rakyat Kutai diketahui hidup sejahtera dan makmur.

Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Kutai terletak di tepi sungai Mahakam sehingga masyarakatnya banyak
berpencaharian di bidang pertanian.
Selain pertanian, mereka juga melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan sudah
terjadi hubungan dagang dengan bangsa luar. Sebab jika dilihat dari letak geografisnya, Kerajaan
Kutai berada pada jalur perdagangan antara China dan India.
Jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan
sampai di China. Dalam pelayarannya para pedagang diperkirakan singgah terlebih dahulu di
Kutai.
Oleh sebab itu Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur. Kemakmuran Kutai
tercermin dari kedermawanan Raja Mulawarman. Dikisahkan ia mengadakan kurban emas dan
20.000 ekor lembu untuk para brahmana.

Kehidupan Sosial Budaya


Dalam Prasasti Yupa tertulis bahwa masyarakat sudah banyak yang menganut agama
Hindu, sehingga pola pengaturan kerajaan kepada masyarakat sangat teratur seperti
pemerintahan Kerajaan India.
Masyarakat di Kerajaan Kutai dapat menerima unsur budaya luar (India), namun tetap
memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.
Contohnya prasasti berbentuk Yupa yang menggunakan huruf Pallawa menunjukkan
adanya pengaruh dari India Selatan. Sedangkan Yupa sendiri merupakan bentuk perkembangan
dari menhir, kebudayaan asli nenek moyang bangsa Indonesia zaman Megalitikum.
Kehidupan budaya Kerajaan Kutai juga sudah maju. Hal ini dibuktikan dengan upcacara
penghinduan Vratyastoma. Di masa Raja Mulawarman, upacara tersebut telah dipimpin oleh
pendeta Brahmana yang merupakan orang lokal.
Artinya kala itu telah ada kaum Brahmana asli nusantara yang memiliki kemampuan intelektual
tinggi, khususnya penguasaan terhadap bahasa Sansekerta

Daftar Sultan Kutai Kartanegara


1. Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325)
2. Aji Batara Agung Paduka Nira (1325-1360)
3. Aji Maharaja Sultan (1360-1420)
4. Aji Raja Mandarsyah (1420-1475)
5. Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya (1475-1545)
6. Aji Raja Mahkota Mulia Alam (1545-1610)
7. Aji Dilanggar (1610-1635)
8. Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (1635-1650)
9. Aji Pangeran Dipati Agung (1650-1665)
10. Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma (1665-1686)
11. Aji Ragi atau Ratu Agung (1686-1700)
12. Aji Pangeran Dipati Tua (1700-1710)
13. Aji Pangeran Anum Panji Mendapa (1710-1735)
14. Aji Muhammad Idris (1735-1778)
15. Aji Muhammad Aliyeddin (1778-1780)
16. Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816)
17. Aji Muhammad Salehuddin (1816-1845)
18. Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899)
19. Aji Muhammad Alimuddin (1899-1910)
20. Aji Muhammad Parikesit (1920-1960)
21. Haji Aji Muhammad Salehuddin II (1999-2018)
22. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat (2018-sekarang)