Anda di halaman 1dari 5

DISKUSI 7 PAI

Assalamualaikum wr,wb. Selamat malam, berikut tangapan saya mengenai diskusi 7 tersebut.

1. Sebagai manusia bekerja adalah hal wajib yang harus dilakukan untuk kelangsungan
hidup manusia itu sendiri. Dalam bekerja yang diperlukan yaitu keikhlasan dalam hati
supaya menghasilkan hal yang baik. disamping itu pula do’a, usaha dan ikhtiar harus
dilibatkan.
Adapun konsep kerja dalam Islam dapat diterangkan sebagai berikut :
Manusia merupakan khalifah di muka bumi, Allah SWT menciptakan manusia diberi
mandat sebagai khalifah atau wakil Allah SWT untuk mengisi dan mengelola bumi.
Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik maka yang harus dilakukan adalah
bekerja dengan baik, bekerja dengan baik saja tentu tidak cukup tetapi juga harus dengan
semangat yang tinggi. Tugas kekhalifahan tersebut dikaitkan dengan aktivitas bekerja
atau yang kemudian populer dengan etos kerja terdapat pada surat Al – Al a’raf/ 7: 129.
dan kemudian manusia bertugas untuk mengabdi beribadah kepada Allah.

Kalau ibadah syarat diterimanya adalah harus ikhlas maka bekerja karena sebagai
ekspresi ibadah juga sudah sewajarnya kalau harus dilandasi dengan hati yang iklas.
Bekerja dengan ikhlas berarti memaksimalkan seluruh potensi dan kemampuan untuk
dapat mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Dari perspektif
ini terlihat bahwa dalam Islam tidak ada istilah pekerja rendahan atau urgensi. Semua
bentuk kerja akan dinilai baik tergantung niat dan cara melaksanakannya.Islam juga
mengajarkan bahwa manusia harus memiliki etos kerja. Cara meningkatkan etos kerja
adalah:

1. Pertama, manajemen waktu


Seorang muslim dituntut untuk dapat mempergunakan waktu se-efektif mungkin
untuk dapat diisi dengan segala bentuk aktivitas yang baik terlebih apabila sedang
mengerjakan suatu pekerjaan.
Berkali-kali kita temukan ayat yang berisi sumpah Allah SWT dengan menggunakan
waktu seperti, wal’ashri, wadh-dhuha, wallaili, wannahari, hal ini mengandung
pesan bahwa setiap orang yang ingin sukses harus dapat mempergunakan waktu
sebaik mungkin. Karena waktu adalah modal terbaik.

2. Kedua bekerja sesuai bidang dan kompetensinya.


Etos kerja seorang akan terlihat apabila pekerjaan yang dilakukan memang pekerjaan
yang sesuai dengan bidang dan tensinya.

3. Ketiga, Istiqomah beribadah Mahdlah dan ghairu Mahdlah (sosial ). dalam hal
ini pula yang diperlukan dalam bekerja juga harus mempertimbangkan beberapa sikap
:
1. Sikap terbuka ( jujur) seseorang tidak akan mungkin memiliki sikap terbuka kalau
tidak bersikap jujur terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. karena orang yang
bersikap tidak jujur pasti akan berusaha mati-matian untuk menutupi ketidakjujuran
nya. Terdapat pada surat al-ahzab/
33:70 dan surah At- Taubah/9:119
2. Sikap adil, untuk menelusuri makna adil dalam aspek akidah untuk menelusuri
makna adil dalam aqidah dapat digunakan atonim dari keadilan yaitu kecuali
man.Alquran menyebut bahwa syirik adalah keseimbangan yang terbesar, hal ini
antara lain disebutkan dalam QS Luqman/31:13 dan Q.s al- naml/27:441

2. Budaya akademik adalah sebuah situasi atau keadaan di mana suatu ajaran atau suatu nilai
dalam pendidikan telah menjadi kebiasaaan dan dilakukan secara berulang-ulang seperti ajaran
rajin, tekun, suka membandingkan berbagai ilmu, suka bereksperimen dll.
Budaya akademik dalam Islam tentu menjadi sebuah keharusan dimana nilai-nilai Islam
diterapkan dalam dunia pendidikan.

Penting untuk dicatat bahwa muara dari budaya akademik yang ditumbuhkan dalam Islam adalah
semakin bertambahnya keyakinan terhadap Allah SWT.

Budaya akademik dalam Islam menghendaki semua orang muslim untuk memiliki sikap tekun
dan ulet dalam mencari ilmu. Islam sebagai agama yang mendorong umatnya untuk menjadi
cerdas dan pandai maka mempunyai banyak dalil-dalil mengenai keutamaan mencari ilmu.

‫ك طَ ِريقًا يَ ْلتَ ِمسُ فِي ِه ِع ْل ًما َسه ََّل هَّللا ُ لَهُ بِ ِه طَ ِريقًا إِلَى ْال َجنَّ ِة‬
َ َ‫َم ْن َسل‬

Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya
jalan menuju surga.” [HR. Muslim].

Berpikir rasional adalah ciri utama ajaran Islam, aka Alquran mengajarkan setiap orang untuk
membumikan budaya akademik, yaitu menggunakan tradisi keilmuan yang didasarkan prinsip-
prinsip rasionalitas.

• Dalam surat Ali-Imran/3:190-191 telah disebutkan bahwa seorang muslim yang memiliki
karakter berbudaya akademik disebut dengan istilah Ulul albab yang secara kebahasaan
mengandung arti ” orang-orang yang memiliki akal yang mumi”.

Dalam ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa mereka memiliki paling tidak dua karakter yaitu: ”
orang yang selalu mengingat Allah SWT dalam keadaan berdiri, duduk atau dalam keadaan
berbaring” dan “mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi

Dalam surat Ali-imran/3: 192 juga telah dijelaskan bahwa tanda kebesaran Allah SWT yang ada
di alam raya ini hanya akan dapat ditangkap oleh orang-orang yang mau mencurahkan akal dan
pikirannya dan disertai dengan kebersihan hati untuk selalu mengingat Allah SWT”.

Dalam ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa dari usaha tersebut maka lahirnya sebuah kesadaran
yang tulus untuk mengakui betapa agungnya Allah SWT dan betapa lemahnya manusia di
hadapan maha kuasa Allah SWT.

• karakter yang ketiga terdapat pada surat Al- Zumar/39: 18. yang artinya “yang mendengarkan
perkataan selalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang
telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.
3. Ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan ini, ia tidak berat
dibawa kapan pun dan di manapun kita berada serta akan terus bertambah apabila terus
diamalkan dan diajarkan kepada orang lain tentunya dalam hal kebaikan. Dari Abu Hurairah ra.
bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam  bersabda :

َ ‫ َو َم ْن َدعَا إِلَى‬.‫ك ِم ْن أُجُوْ ِر ِه ْم َش ْيئًا‬


‫ضاَل لَ ٍة َكانَ َعلَ ْي ِه ِمنَ اإْل ِ ْث ِم‬ َ ِ‫َم ْن َدعَا إِلَى هُدًى َكانَ لَهُ ِمنَ اأْل َجْ ِر ِم ْث ُل أُجْ وْ ِر َم ْن تَبِ َعهُ اَل يَ ْنقُصُ َذل‬
َ ِ‫ِم ْث ُل آثَ ِام َم ْن تَبِ َعهُ اَل يَ ْنقُصُ َذل‬
‫ك ِم ْن آثَا ِم ِه ْم َش ْيئًا‬

”Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala
yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak
yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(H.R Muslim no. 2674, Abu Dawud no. 4609, Ahmad; Dengan sedikit lafaz yang berbeda hadis
ini diriwayatkan juga oleh imam Tirmidzi no. 2674, Ibnu Majah no. 206, Ahmad, Ad-Darimi &
Ibnu Hibban)

Ilmu pengetahuan ibarat sebuah cahaya yang menerangi kita dari kegelapan. Ketika cahaya itu
datang, tentunya segala sesuatu yang berada di sekitar kita pun dapat terlihat sehingga akhirnya
kita dapat melakukan banyak hal atas cahaya karunia itu. Dan tentunya cahaya tersebut tidak
akan oleh Allah berikan kepada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata :

ِ ‫َوأَ ْخبَ َرنِ ْي بِأ َ َّن ْال ِع ْل َم نُوْ ٌر ۝ َونُوْ ُر هللاِ اَل يُ ْهدَى لِ َع‬
‫اص ْي‬

“Dan (Imam Waki’) memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya .. Dan cahaya Allah
tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Thalibin, 2:190)

Ilmu pengetahuan adalah salah satu alat untuk menuju hidup bahagia. Kita tahu bahwa tubuh
manusia selain terdiri dari jasmani tentunya juga ada rohani. Jika jasmani membutuhkan makan
dan minum maka rohani kita juga tentunya membutuhkan ilmu.

Ilmu pengetahuan merupakan cahaya dan petunjuk yang harus disebarkan serta tidak boleh
disembunyikan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan
bahaya menyembunyikan ilmu agama yang harus disampaikan kepada umat. Dari Abu Hurairah
bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ٍ ‫» َم ْن ُسئِ َل ع َْن ِع ْل ٍم َعلِ َمهُ ثُ َّم َكتَ َمهُ أُ ْل ِج َم يَوْ َم ْالقِيَا َم ِة بِلِ َج ٍام ِم ْن ن‬
«‫َار‬

“Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui, kemudian dia menyembunyikannya,
maka dia akan dicambuk pada hari kiamat dengan cambuk dari neraka.” (H.R. Tirmidzi, no.
2649; Dengan sedikit lafaz yang berbeda hadis ini diriwayatkan juga oleh imam Abu Dawud no.
3658; Ibnu Majah no. 264; Ahmad & Hakim

Berikut beberapa keutamaan dalam Islam berikut dalilnya dari Al Qur'an:

1. Orang Berilmu Diangkat Derajatnya


Allah SWT berfirman:

"...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Dan Allah SWT berfirman:

"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya
tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS. Al-Mulk : 10).

Allah SWT sudah memberikan banyak kenikmatan. Jika kita tidak gunakan dengan baik, maka
kita akan menjadi salah satu orang yang merugi. Seperti tercantum dalam surat Al-Mulk ayat 10.

2. Orang Berilmu Takut Kepada Allah SWT

Dalam surat Fatir ayat 28, Allah SWT berfirman:

"Dan demikian pula diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan
ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Di antara hamba-hamba Allah yang
takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun."

Ayat ini menjelaskan tentang, dengan ilmu, seseorang akan lebih memahami bagaimana
kehidupan ini diciptakan dan mendalami pengetahuan tentang kuasa Allah SWT sebagai sang
maha pencipta. Orang berilmu akan takut melakukan hal-hal yang mengandung dosa karena ia
memiliki pengetahuan akan kekuasaan dan juga kebesaran Allah SWT.

3. Orang Berilmu akan Diberi Kebaikan Dunia dan Akhirat

Dalam surat Al-Baqarah [2]: 269, Allah SWT berfirman:

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah)
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar
telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat
mengambil pelajaran (dari firman Allah)."

4. Orang Berilmu Dimudahkan Jalannya ke Surga

Dalam sebuah hadist tentang keutamaan ilmu pengetahuan dalam Islam, Rasulullah SAW
bersabda:

‫ط ِريقًا يَ ْلتَ ِمسُ فِي ِه ِع ْل ًما َسه ََّل هَّللا ُ لَهُ بِ ِه طَ ِريقًا ِإلَى ْال َجنَّ ِة‬
َ َ‫َو َم ْن َسلَك‬

Artinya: "Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya
jalan menuju surga." (HR. Muslim, no. 2699)

Sumber: MKDU4221-MODUL7
Sekian tanggapan saya mengenai diskusi 7 tersebut, wassalamualaikum wr,wb.

Anda mungkin juga menyukai