Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENDIDIKAN MATEMATIKA KELAS TINGGI “METODE


PENJUMLAHAN BILANGAN DENGAN PENYEBUT YANG BERBEDA
DAN PENJUMLAHAN PENYEBUT SAMA”

Dosen Pengampu: Elvi Mailani, S.Si., M.Pd.


Oleh kelompok 6:

Riswanda Hugo (1193111057)


Thera Maora Manik (1193111050)
Novita yolanda panjaitan (1193111039)

PGSD REGULER E

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
SEPTEMBER 2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Metode Penjumlahan Bilangan Dengan
Penyebut Yang Berbeda Dan Penjumlahan Penyebut Sama ”.kami juga berterima kasih kepada
ibu Elvi Mailani, S.Si., M.Pd. selaku dosen yang memberikan bimbingan, materi, saran, dan kesempatan
kepada penulis.

Kami juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan oleh karena itu kami minta maaf jika
ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan tugas ini. Kami berharap semoga dengan makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi
para pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah saya ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
selanjutnya. Akhir kata kami ucapkan terima kasih semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah
pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 2 Oktober 2021

Kelompok 6
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG......................................................................................................................1

1.2 RUMUSAN MASALAH..................................................................................................................2

1.3 TUJUAN PENULISAN....................................................................................................................2

1.4 MANFAAT PENULISAN................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................................3

2.1 KONSEP EKUIVALENSI PECAHAN............................................................................................3

2.2 KONSEP PENJUMLAHAN PECAHAN DENGAN PENYEBUT YANG BERBEDA


KONSEP PENGURANGAN............................................................................................................6

BAB III KESIMPULAN..........................................................................................................................17

3.1 KESIMPULAN...............................................................................................................................17

3.2 SARAN...........................................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................................18
Langkah
4.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pecahan merupakan salah satu kajian inti dari materi matematika yang dipelajari
siswa di Sekolah Dasar (SD). Pembahasan materinya menitikberatkan pada pengerjaan
(operasi) hitung dasar yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, baik untuk
pecahan biasa, desimal, maupun persen.
Inventarisasi masalah yang dilakukan penulis pada saat pelatihan di PPPPTK Matematika
maupun di daerah terhadap guru pemandu dan pengawas SD tentang materi pecahan,
menunjukkan adanya kelemahan‐kelemahan dalam penguasaan materi, penyiapan dan
penggunaan media maupun pemilihan strategi/metodenya. Kelemahan‐kelemahan tersebut
antara lain meliputi materi: penjumlahan dan pengurangan pecahan berbeda penyebut, serta
perkalian dan pembagian pecahan baik untuk pecahan biasa maupun desimal.
Banyak orang cerdas dan berpendidikan tinggi tetapi belum mampu menjadi seorang
yang jujur. Lebih mudah menemukan manusia yang pintar daripada yang jujur sampai-
sampai ada sebuah quotes yang mengatakan kalau negara ini sedang tidak kekurangan orang
berpendidikan namun orang jujur. Matematika merupakan alat untuk memberikan cara
berpikir, menyusun pemikiran yang jelas, tepat, dan teliti. Hudojo (2005) menyatakan,
matematika sebagai suatu obyek abstrak, tentu saja sangat sulit dapat dicerna anak-anak
Sekolah Dasar (SD) yang mereka oleh Piaget, diklasifikasikan masih dalam tahap operasi
konkret. Siswa SD belum mampu untuk berpikir formal maka dalam pembelajaran
matematika sangat diharapkan bagi para pendidik mengaitkan proses belajar mengajar di SD
dengan benda konkret.
. Siswa Sekolah Dasar (SD) berada pada umur yang berkisar antara usia 7 hingga 12
tahun, pada tahap ini siswa masih berpikir pada fase operasional konkret. Kemampuan yang
tampak dalam fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan
kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret (Heruman,
2008). Siswa SD masih terikat dengan objek yang ditangkap dengan pancaindra, sehingga
sangat diharapkan dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak, peserta didik lebih
banyak menggunakan media sebagai alat bantu, dan penggunaan alat peraga. Karena dengan
penggunaan alat peraga dapat memperjelas apa yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa
lebih cepat memahaminya

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

1. Bagaimana Konsep ekuivalensi pecahan?

2. Bagimana Konsep penjumlahan pecahan dengan penyebut yang berbeda Konsep


pengurangan?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah ;

1. Menjelasakan tentang konsep ekuivalensi pecahan

2. Menjelaskan tentang konsep penjumlahan pecahan dengan penyebut yang berbeda


konsep pengurang

1.4 MANFAAT PENULISAN


Adapun Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai bahan bacaan,
menambah wawasan penulis dan pembaca serta melatih untuk berfikir kritis terhadap suatu
permasalahan yang dihadapi mengenai konsep ekuivalensi pecahan
Langkah
4.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN EKUIVALEN

Dalam logika matematika dikenal konsep kesetaraan atau ekuivalensi untuk


menyatakan hubungan antar pernyataan. Dua pernyataan dikatakan setara atau ekuivalen
jika kedua pernyataan tersebut menghasilkan nilai kebenaran yang sama pada tabel
kebenaran.
Ekuivalen secara umum dinyatakan dalam arti mempunyai nilai/ukuran/makna
yang sama atau seharga. Kondisi ini bukan berarti bahwa ekuivalen dan sama
dengan adalah hal yang sama. Pengertian sama dengan mengarah pada kondisi yang
menunjukkan sama dan setara. Sedangkan ekuivalen memiliki kondisi lebih luas dari
pengertian sama dengan. Misalkan nilai beras dengan berat dan jenis yang sama akan
memiliki nilai yang sama dengan beras dan jenis yang sama pula. Sedangkan
ekuivalen lebih cocok untuk menggambarkan nilai yang sama/seharga.
Sekarang, apa itu pecahan yang ekuivalen atau senilai? Pecahan yang ekuivalen
adalah pecahan yang nilainya sama besar. Bagaimana dua pecahan bisa dikatakan sama
besar? Dua pecahan dikatakan sama besar apabila .. yah sama besar. Maksudnya disini
kedua pecahan tersebut merepresentasikan hal yang sama. Aing akan memberikan ilustrasi
sedikit dengan kue pai.
Contoh: aku punya kue pai yang bentuknya bunderan kayak gini.

Nah dari kue pie itu, yu makan 1/2-nya alias kuenya dipotong 2 trus yu ambil 1
bagian/potong.
Nah, itu kalo pie-nya (dibaca: pai) dipotong 2. Bagaimana kalo kue painya dipotong 4?

Setelah dipotong 4, yu makan 2 potong. Jadinya, yu makan 2/4 bagian.

Wah, coba lihat deh. Ternyata ukuran kue pai yang yu makan ternyata sama kayak yu
makan 1/2. Berarti 1/2 itu sama dengan 2/4 alias 1/2 itu ekuivalen dengan 2/4. Hal yang
sama juga terjadi kalo yu makan 4/8 bagian yang artinya kuenya dipotong 8 trus diambil 4
potong.
Langkah
4.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa 1/2 = 2/4 = 4/8 atau bisa dibilang 1/2, 2/4, dan
4/8 itu nilainya sama karena yu makan jumlah kue yang sama.

Perhatikan deh, kayaknya ada semacam pattern atau pola-polaan gitu. Ternyata 1/2 kalo
penyebut dan pembilangnya sama-sama dikali 2 menghasilkan 2/4. Begitupun dengan 2/4
kalo penyebut dan pembilangnya sama-sama dikali 2 menghasilkan 4/8. Wah, luar biasa
yah.
Itu artinya kalo potongannya ditambah hingga 2 kali lipat dan kamu makan 2 kali lipat dari
jumlah potongan sebelumnya, ternyata itu menghasilkan pecahan yang sama besar.
Faktanya, kalo kita mengalikan suatu pecahan dengan bilangan tidak nol yang sama maka
akan menghasilkan pecahan yang lain yang ekuivalen.
B. Penjumlahan Pecahan

Guru dapat membimbing kelompok siswa untuk memperagakan dengan berbagai cara, misalnya
menggunakan gambar bangun datar yang diarsir, garis bilangan, blok pecahan, atau kertas yang
dilipat. Peragaan ini sangat penting bagi siswa untuk mengkongkretkan hasil penjumlahan yang
didapat. Setelah siswa memperoleh pengalaman yang cukup dari peragaan, maka guru dapat
memberikan kegiatan yaitu mengisi lembar kerja siswa (LKS) untuk mencari kesimpulan.
Cara menghitung pecahan biasa maupun pecahan campuran sebenarnya tidak begitu sulit diselesaikan
.namun, masih ads sebagian orang yg mengaggab menghitung pecahan itu sulit. Hal ini mungkin
disebabkan karna cara menghitung pecahan berbeda dengan bilangan biasa .

1. memahami cara menghitung bilangan pecahan


seperti yang diketahui , bilangan pecahan terdiri dari dua bilangan ,yaitu bilangan pembilang
dan bilang penyebut .bilangan pembilang merupakan bilangan yang berada pada bagian
bawah . sedangkan bilangan penyebut berada pada bagian bawah.bilangan pembilang
adalah bilangan yang nilainya dibagian terhadap nilai bilangan penyebut .
3
contoh :
4
nah, angka 3 merupakan bilangan pembilang dan angka 4 adalah bilangan penyebut.
1. Penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda
Penjumlahan pecahan-pecahan dengan bilangan penyebut yang berbeda mungkin
tampak rumit, tetapi setelah kamu menyamakan bilangan penyebut, kamu bisa
menjumlahkan pecahan-pecahan yang ada dengan mudah. Jika kamu mengerjakan soal
pecahan biasa dengan bilangan pembilang yang lebih besar daripada bilangan penyebut,
samakan bilangan penyebut pada kedua pecahan. Setelah itu, jumlahkan kedua bilangan
pembilang. Jika kamu menjumlahkan pecahan campuran, ubah bilangan menjadi pecahan
biasa terlebih dahulu dan samakan kedua pecahan. Dengan begini, kamu bisa
menjumlahkan kedua pecahan dengan mudah.
Saat anak mempelajari materi ini, sebaiknya mereka diberikan
pengalaman pengalaman berbentuk ilustrasi kehidupan sehari-hari,
sebagai contoh: ”Adik makan cake 4/1 bagian yang didapat dari kakak.
Karena adik masih lapar kemudian meminta lagi, dan ibu memberinya
sepotong yang besarnya 2/1 bagian. Berapa bagian kue yang dimakan
oleh adik?” Untuk memperoleh hasil penjumlahan guru membimbing
kelompok-kelompok siswa dengan berbagai media, agar pengalaman
yang didapat menumbuhkan pemahaman yang mendalam bagi siswa.
Sehingga kesan hafalan yang terjadi di kelas tidak terulang kembali.
Untuk mempelajari materi penjumlahan pecahan berbeda penyebut,
ada beberapa prasyarat yang harus dikuasai siswa. Antara lain:
penjumlahan pecahan berpenyebut sama, pecahan senilai, dan KPK
a. Dengan menggunakan gambar yang diarsir.
Untuk memudahkan peragaan, sebaiknya guru membuat contoh-
contoh penjumlahan pecahan yang penyebutnya tidak
terlalubesar. Yang penting dilakukan dimulai dengan menjumlah
pecahan yang penyebut satu merupakan kelipatan penyebut yang
lain, agar dari peragaan tersebut dapat dengan mudah
diketahui hasilnya. Contoh menjumlah pecahan yang penyebutnya
2 dengan 4, atau penyebut 3 dengan 6, dan sebagainya.
Langkah 1 1
4.
Misa : + =…
4 2
Karena kamu perlu menyamakan kedua penyebut sebelum menjumlahkan
pecahan, carilah KPK dari penyebut-penyebut yang ada. Maka,
1 1 1+2 3
+ = =
4 2 4 4
Peragaan dapat diulang untuk penjumlahan pecahan yang lain, sehingga
siswa mempunyai pengalaman bila menjumlah pecahan dengan penyebut
tidak sama, maka penyebutnya harus disamakan terlebih dahulu, dengan
mencari pecahan senilainya.
Peragaan dan soal di atas masih mudah, karena penyebut yang satu
merupakan kelipatan dari yang lain. Bila permasalahan berkembang maka
sudah tidak diperlukan peragaan lagi, dan siswa harus mencari penyebut
persekutuan dengan caramekanik, antara lain dengan menggunakan KPK
(kelipatan persekutuan terkecil). Namun ada pula cara yang dapat
dilakukan untuk membantu menentukan penyebut persekutuan yaitu
dengan mendaftar pecahan pecahan senilainya. Dari kegiatan ini siswa
mempunyai pengalaman memperoleh beberapa penyebut yang senilai dan
sebaiknya dipilih penyebut yang paling kecil untuk menjadi penyebut
persekutuan.
Contoh :

Ketika siswa memeriksa kedua daftar di atas, mereka menemukan bahwa


ada 2 pasang pecahan yang mempunyai penyebut sama. Ini membantu
siswa menyadari, bahwa terdapat lebih dari satu pasang penyebut
persekutuan untuk kedua pecahan. Salah satu pasangan (penyebutnya
merupakan KPK dari kedua penyebut) dapat digunakan untuk menjumlah
atau mengurangi pasangan pecahan yang tidak sama penyebutnya. Bila
KPK sudah dipelajari maka selanjutnya model abstrak dapat dilakukan

2. Penjumlahan pecahan dengan penyebut yang sama

Penjumlahan pecahan biasa dipelajari siswa di kelas IV semester 2. Guru


dapat membimbing kelompok siswa untuk memperagakan dengan
berbagai cara, misalnya menggunakan gambar bangun datar yangdiarsir,
garis bilangan, blok pecahan, atau kertas yang dilipat. Peragaan ini
sangat penting bagi siswa untuk mengkongkretkan hasil penjumlahan yang
didapat. Setelah siswa memperoleh pengalaman yang cukup dari
peragaan, maka guru dapat memberikan kegiatan yaitu mengisi lembar
kerja siswa (LKS) untuk mencari kesimpulan secara umum. Secara garis
besar praktek kelompok yang dilakukan di kelas terangkum sebagai
berikut.

Materi prasyarat untuk mempelajari penjumlahan pecahan berpenyebut


sama ini adalah: pengertian pecahan, peragaan-peragaan konsep
pecahan, dan arti penjumlahan (penggabungan dari beberapa bagian).
a. Dengan menggunakan gambar yang diarsir
Gambar persegi panjang yang diarsir merupakan model imajinasi dari proses partisi
sebuah obyek. Salah satu proses aktivitas penting dalam pebelajaran pecahan adalah
partisi. Setelah partisi obyek, gambaran partisi obyek yang lebih general adalah
dengan gambar yang diarsir.

Hasil diperoleh dari melihat gambar

Simpulan yang diharapkan didapat siswa adalah penjumlahan pecahan berpenyebut


sama dapat diperoleh hasilnya dengan menjumlah pembilangnya, sedangkan
penyebutnya tetap. 

Penjumlahan pecahan berpenyebut sama dapat diperoleh hasilnya dengan menjumlah


pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap.

Ternyata, setelah diperhatikan dapat disimpulkan sebagai berikut.


1. Bilangan pecahan
Langkah yang pertama dan kedua memiliki penyebut yang sama.
4.
2. Hasilnya, juga berpenyebut sama dengan bilangan penyebut yang dijumlahkan.

3. Berarti, bilangan berpenyebut sama, maka penyebut tersebut tidak akan berubah. Tetap
saja.

4. Sedangkan pembilangnya ditambahkan sebagaimana operasi tambahan biasa.

Sehingga, operasi hitung pejumlahan bilangan pecahan berpenyebut sama yang di atas, dapat
dituliskan seperti di bawah ini.

Untuk memperjelas penjabaran di atas, marilah dicoba menyelesaikan kaliamat matematika


bilangan pecahan berpenyebut sama di bawah ini.

Jawaban

Pada jawaban nomor 1, terlihat hasilnya adalah 6/5 . Ternyata, bilangan pembilangnya lebih
besar dari penyebutnya. Nah, ini berarti harus diubah ke dalam bentuk pecahan campuran.
Bilangan pembilang “6” jika dibagi bilangan penyebut “5” hasilnya 1 dan bersisa 1. Sehingga
dituliskan: 1 1/5 .
Pada jawaban nomor 2, terlihat hasilnya adalah 3/6 . Karena bilangan penyebut “6”
merupakan kelipatan dari bilangan pembilang “3” , maka ini dapat disederhanakan menjadi
pencahan senilai.
Caranya, kedua posisi dibagi bilangan yang sama, menjadi:

Dengan cara seperti di atas, tidak ada masalah untuk menjumlahkan pecahan dengan bilangan
berpenyebut yang sama.
BAB III
PENUTUP

I. KESIMPULAN

Pada Bab II dan III telah disampaikan mengenai uraian materi, metodologi, dan media
pembelajaran yang membahas tentang konsep‐konsep pecahan dan penjumlahan pecahan
untuk jenjang SD disertai contoh‐contoh peragaan yang dapat dicoba. Ada beberapa catatan
yang perlu diperhatikan guru dalam menyampaikan pembelajaran penjumlahan pecahan antara
lain sebagai berikut.

1. Urutan konsep harus diperhatikan artinya pembelajaran harus urut (tidak melompat‐lompat)
karena konsep yang satu merupakan materi prasyarat konsep yang lain. Untuk pembelajaran
penjumlahan pecahan biasa, campuran, dan desimal diperlukan materi prasyarat yang harus
dikuasai siswa antara lain konsep:
a. pecahan biasa, campuran, dan desimal
b. pecahan senilai
c. mengubah bentuk pecahan
d. KPK
Contoh: penjumlahan pecahan biasa beda penyebut diberikan setelah siswa belajar
penjumlahan pecahan biasa yang sama penyebutnya dan pecahan senilai.

II. SARAN

Media pembelajaran sangat penting artinya bagi siswa untuk mengkongkretkan materi yang
disampaikan. Oleh sebab itu guru berusaha membuat atau memfasilitasi media untuk siswa
atau siswa diberi tugas membuat media yang sederhana. Media yang digunakan sebaiknya
bervariasi, sehingga kekurang berhasilan penggunaan satu media dapat ditutup oleh media
yang lain. Media yang digunakan guru tidak harus dari bahan yang mahal, tetapi dapat berupa
gambar/garis bilangan atau media yang dibuat dari bahan‐bahan/kertas bekas.
Langkah
4.
DAFTAR PUSTAKA

Raharjo, Marsudi. 2001. Pecahan: Bahan Penataran Guru SD. Yogyakarta:


PPPG
Matematika.

Sukayati. 2007. Pecahan dan operasinya. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Troutman, Andria. 1991. Mathematics: A Good Beginning, Strategies for Teaching


Children. California: Brooks/Cole Publishing Company.