Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

Osteoartritis
Laporan
Pembimbing:
Kasus
dr. Fidelis Heru Wicaksono, Sp.OT (K) Hip and Knee

Disusun Oleh:
Dila Siti Khadijah (1102016054)

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Bedah


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
Periode 1 November – 11 Desember 2021

Identitas Pasien

Nama : Ny. TD
Keluhan Utama
Usia : 59 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan Nyeri pada kedua lutut
Alamat : Pasar Minggu sejak 6 bulan yang lalu
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. RM : 012008**
Tanggal Periksa : 03 November 2021
Riwayat Penyakit Sekarang Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien datang ke Poli Ortopedi RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
dengan keluhan nyeri pada kedua lutut namun lebih pada lutut kiri sejak 6
bulan yang lalu. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk. Nyeri pada kedua ● Penyakit Jantung (-)
● Riwayat Keluhan Serupa (-)
lutut terutama dirasakan pada pagi hari saat bangun tidur dan beraktivitas. ● TB Paru (-)
● Riwayat Trauma (-)
Nyeri dirasakan memberat ketika naik turun tangga. Nyeri diperingan jika ● Asma (-)
● Diabetes mellitus (-)
pasien beristirahat. Riwayat trauma, terbentur atau terjatuh disangkal. ● COVID 19 (-)
● Riwayat Asam urat Tinggi (-)
Pasien memiliki riwayat darah tinggi dan meminum obat rutin amlodipine 5 ● HIV (-)
● Dislipidemia (-)
mg. ● Autoimun (-)

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Alergi

Alergi Obat (-), Alergi Makanan (-)

● Riwayat Keluhan Serupa (-) Riwayat Pengobatan


● TB Paru (-)
● Hipertensi (-)
● Asma (-) Pasien mengatakan mengkonsumsi obat dari dokter sebelumnya untuk
● Diabetes mellitus (-)
● COVID 19 (-) mengurangi rasa nyeri pada kedua lutut.
● Riwayat Asam urat Tinggi (-)
● HIV (-) Riwayat Kebiasaan, Sosial, dan Ekonomi
● Dislipidemia (-)
● Autoimun (-)
● Penyakit Jantung (-)
Konsumsi Alkohol (-), Merokok (-), penggunaan obat – obat terlarang
disangkal (-), pasien merupakan ibu rumah tangga dan semenjak sakit
mengurangi aktivitas fisik dan lebih sering menjaga warung.
Pemeriksaan Fisik Status Generalis
• Keadaan umum : Tampak sakit ringan
• Kesadaran : Compos Mentis
• Kepala : Normocephali, deformitas (-)
• GCS : E4M6V5
• Leher : Trakea di tengah, pembesaran KGB (-)
• Status Gizi : TB 158 cm BB 70 kg à Obesitas I (IMT 28 kg/m2)
• Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat, isokor,
• Tanda-tanda vital :
diameter pupil 3mm/3mm, RCL (+/+), RTCL (+/+)
o Tekanan darah : 100/70 mmHg
• Hidung : Deviasi septum (-), deformitas (-), discharge (-), massa (-)
o Nadi : 80x/menit
• Telinga : Deformitas (-), discharge (-), massa (-)
o Pernapasan : 19x/menit
• Mulut : Mukosa oral basah, faring hiperemis (-), T1/T1
o Saturasi Oksigen : 99%
o Suhu : 36.5°C

Status Generalis
Status Generalis
Paru-paru
• Inspeksi : Gerak pernapasan terlihat simetris, jejas (-)
Abdomen
• Palpasi : Gerakan pernapasan teraba simetris
• Inspeksi : Tampak datar, lesi (-) massa (-)
• Perkusi : Sonor
• Palpasi : Nyeri tekan (-), massa (-), pembesaran hepar (-), permukaan
• Auskultasi : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
hepar licin tidak terdapat nodul, supel.
Jantung
• Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen
• Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
• Auskultasi : Bising usus (+) pada seluruh lapang abdomen, 5-6x/menit
• Palpasi : Iktus cordis tidak teraba di linea midclavicularis ICS 5
Ekstremitas
• Perkusi : Batas kanan linea parasternalis dekstra ICS 4, batas kiri linea midclavicularis
• Akral hangat, sianosis (-/-/-/-) CRT<2 detik, edema (-/-/-/-)
sinistra ICS 5, batas atas linea parasternalis sinistra ICS 2
• Auskultasi : S1 dan S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Status Lokalis Status Lokalis
Regio Genu Sinistra Regio Genu Dextra
Look Look
• Warna kulit sama dengan sekitarnya. Eritema (-), • Warna kulit sama dengan sekitarnya. Eritema (-),
Jejas (-), Massa (-). Jejas (-), Massa (-).
Feel Feel
• Nyeri tekan (-), Krepitasi (+), CRT < 2 detik, Arteri • Nyeri tekan (-), Krepitasi (+), CRT < 2 detik, Arteri
dorsalis pedis teraba, Sensoris Normal. dorsalis pedis teraba, Sensoris Normal.
Move Move
• Fleksi terbatas karena nyeri, ekstensi tidak • Fleksi terbatas karena nyeri, ekstensi tidak
terbatas terbatas

Pemeriksaan Penunjang Resume


Pasien wanita usia 59 tahun datang dengan keluhan nyeri pada kedua lutut namun lebih
pada lutut kiri sejak 6 bulan yang lalu. Nyeri seperti ditusuk-tusuk terutama dirasakan pada
Rontgen Art. Genu Bilateral AP pagi hari saat bangun tidur dan beraktivitas yang memberat ketika naik turun tangga dan
● Emenentia epycondyloidea bilateral meruncing diperingan jika pasien beristirahat. Pasien memiliki riwayat darah tinggi dan meminum
● Permukaan sendi sklerotik obat rutin amlodipine 5 mg.
● Penyempitan celah sendi femuro patella kanan- Status Gizi: Obesitas I (IMT 28 kg/m2)
kiri, terutama kiri Status Lokalis: Genu Dextra dan sinistra: krepitasi (+) dan fleksi terbatas karena nyeri.
● Tampak multiple osteofit os femur, tibia bilateral Kesan Rontgen Genu Bilateral AP Osteoarthritis Genu Dextra Grade III dan Osteoarthritis
Kesan : Osteoarthritis Genu Dextra Grade III Genu Dextra Grade IV
: Osteoarthritis Genu Sinistra Grade IV
Tatalaksana

Diagnosis ●

Kompres dengan air dingin bila terasa nyeri
Tidak beraktivitas terlalu berat dengan menggunakan
lutut
• Osteoarthritis Genu Dextra Grade III Kellgren and Lawrence ● Menurunkan berat badan untuk mengurangi beban
dari lututnya.
• Osteoarthritis Genu Sinistra Grade IV Kellgren and Lawrence
● Konsul Spesialis Orthopedi Pro TKR

Tinjauan
Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam Pustaka
Quo ad functionam : dubia ad malam
Quo ad sanationam: dubia ad malam
Anatomi Sendi
Suatu tempat dimana 2 tulang menjadi satu

Struktural Fungsional

1. Fibrosa: disatukan jaringan ikat fibrosa. 1. Synarthroses: tidak ada pergerakan


tidak ada rongga sendi sendi
2. Kartilaginosa: disatukan selapis tulang 2. Amphiarthroses: pergerakan sendi
rawan. tidak ada rongga sendi terbatas
3. Sinovial: mengandung cairan sinovial 3. Diarthroses: pergerakan sendi bebas

Netter, Frank H. 2019. Atlas of Human


Anatomy, Seventh Edition. Philadelphia:
Netter, Frank H. 2019. Atlas of Human Anatomy, Seventh Edition. Philadelphia: ELSEVIER. ELSEVIER.

Netter, Frank H. 2019. Atlas of Human Anatomy, Seventh Edition. Philadelphia: ELSEVIER. VanPutte, Cinnamon, et al. 2020. Seeley’s Anatomy & Physiology, Twelfth Edition. New York: McGraw-Hill Education.
Epidemiologi
Osteoarthritis Population 4%
Gangguan sendi kronik yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara degradasi dan Kasus OA di dunia
sintesis rawan sendi serta matriks
ekstraseluler, kondrosit dan tulang Knee 83%
subkondral pada usia tua.
Dominasi OA lutut

United States 80%


Usia > 65 menujukkan
radiografi OA

Wijaya, Sandy. 2018. Osteoartritis Lutut. CDK-265, 45(6): 424 – 429.


Sen R, Hurley JA. 2021. Osteoarthritis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing
Sjamsuhidajat, R, et al. 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong: Sistem Organ dan Tindak Bedahnya (2). Edisi 4, Volume 3. Jakarta: EGC. Blom, A, et al. 2018. Apley & Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma.10th Edition. Boca Raton: CRC Press

Etiologi
Primer Sekunder
• Tidak diketahui penyebabnya • Disebabkan oleh penyakit
yang menimbulkan kerusakan
pada sinovia.

Sjamsuhidajat, R, et al. 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong: Sistem Organ dan Tindak Bedahnya (2). Edisi 4, Volume 3. Jakarta: EGC.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Manifestasi Klinis Diagnosis (Anamnesis)

• Nyeri dirasakan berangsur-angsur • Tanyakan Faktor risiko penyakit


• Tidak disertai adanya inflamasi (kaku o Bertambahnya usia
Menurut The European League Against sendi dirasakan < 30 menit, bila o Riwayat keluarga dengan OA
disertai inflamasi, umumnya dengan generalisata
Rheumatism, diagnosis OA memerlukan perabaan hangat, bengkak yang o Aktivitas fisik yang berat
tiga gejala dan tiga tanda. minimal, dan tidak disertai o Obesitas
• Gejala: nyeri persisten, kekakuan kemerahan pada kulit) o Trauma sebelumnya atau
sendi di pagi hari, dan menurunnya • Tidak disertai gejala sistemik adanya deformitas pada sendi
fungsi sendi • Nyeri sendi saat beraktivitas yang bersangkutan.
• Tanda: krepitasi, range of motion • Sendi yang sering terkena:
berkurang, dan pembesaran tulang. o Sendi tangan: CMC I, PIP dan
DIP
o Sendi kaki: MTP pertama
o Sendi lain: lutut, V. servikal,
lumbal, dan hip.

Blom, A, et al. 2018. Apley & Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma.10th Edition. Boca Raton: CRC Press
Wijaya, Sandy. 2018. Osteoartritis Lutut. CDK-265, 45(6): 424 – 429. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Diagnosis (Anamnesis) Diagnosis (PF)


• Tentukan BMI
• Penyakit yang menyertai, sebagai • Faktor-faktor lain yang • Perhatikan gaya berjalan/pincang?
pertimbangan dalam pilihan terapi: mempengaruhi keluhan nyeri dan • Adakah kelemahan/atrofi otot
o Ulkus peptikum, perdarahan fungsi sendi • Tanda-tanda inflamasi/efusi sendi?
saluran pencernaan, penyakit o Nyeri saat malam hari (night • Lingkup gerak sendi (ROM)
pain) • Nyeri saat pergerakan atau nyeri di akhir
liver.
gerakan.
o Penyakit kardiovaskular o Gangguan pada aktivitas
• Krepitus
(hipertensi, penyakit jantung sehari-hari • Deformitas/bentuk sendi berubah
iskemik, stroke, gagal o Kemampuan berjalan • Gangguan fungsi/keterbatasan gerak
jantung) o Lain-lain: risiko jatuh, isolasi sendi
o Penyakit ginjal social, depresi • Nyeri tekan pada sendi dan periartikular
o Asthma bronkhiale (terkait o Gambaran nyeri dan derajat • Penonjolan tulang (Nodul Bouchard’s dan
nyeri (skala nyeri yang Heberden’s)
penggunaan aspirin atau
• Pembengkakan jaringan lunak
OAINs) dirasakan pasien)
• Instabilitas sendi
o Depresi yang menyertai.

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Blom, A, et al. 2018. Apley & Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma.10th Edition. Boca Raton: CRC Press
Diagnosis (PP)

• Tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk


mendiagnosis OA. Pemeriksaan darah membantu
menyingkirkan diagnosis lain dan monitor terapi.
• Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk klasifikasi
diagnosis atau untuk merujuk ke ortopaedi.

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan


Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Klasifikasi (outerbridge)

Grade 1 Pelunakan dan pembengkakan kartilago


Grade 2 Fragmentasi dan fisura kartilago pada area
dengan diameter kurang dari 12 inci
Grade 3 Fragmentasi dan fisura kartilago pada area
dengan diameter lebih dari 12 inci
Grade 4 Paparan tulang di bawahnya

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014.


Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis.
Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Blom, A, et al. 2018. Apley & Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma.10th Edition. Boca Raton: CRC Press
Klasifikasi (Kellgren and Lawrence )

Grade 0 Tidak ada gambaran OA


Grade 1 Osteofit minimal, keraguan signifikan

Grade 2 Osteofit jelas, ruang sendi tidak hilang


Grade 3 Pengecilan ruang sendi

Grade 4 Ruang sendi hilang dan tulang sklerosis

Blom, A, et al. 2018. Apley & Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma.10th Edition. Boca Raton: CRC Press

Tatalaksana Tatalaksana
Tahap Pertama
Tahap Kedua
Terapi Non farmakologi
Terapi farmakologi
1. Edukasi pasien.
Pendekatan terapi awal
2. Modifikasi gaya hidup.
3. Bila berat badan berlebih (BMI > 25), program penurunan berat
• Ringan-sedang: acetaminophen <4 g/day atau OAINS
badan, minimal penurunan 5% dari berat badan, dengan target BMI
• Ringan-sedang usia >60 tahun, riwayat ulkus peptikum, riwayat
18,5-25.
perdarahan saluran cerna: acetaminophen <4 gr/day, OAINS topikal,
4. Program latihan aerobik (low impact aerobic fitness exercises).
5. Terapi fisik meliputi latihan perbaikan lingkup gerak sendi, atau OAINS oral non selektif + gastroprotective agent
• Sedang-berat, disertai pembengkakan sendi: aspirasi dan tindakan
penguatan otot- otot (quadrisep/pangkal paha) dan alat bantu gerak
injeksi glukokortikoid intraartikular (misalnya triamsinolone
sendi (assistive devices for ambulation): pakai tongkat pada sisi
hexatonide 40 mg) untuk penanganan nyeri jangka pendek (satu
yang sehat.
sampai tiga minggu) dapat diberikan, selain pemberian obat anti-
inflamasi nonsteroid per oral (OAINS).

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Tatalaksana Tatalaksana
Injeksi Intraartikular Injeksi Intraartikular
Kortikosteroid (triamsinolone hexacetonide dan methyl prednisolone) Viskosuplemen: Hyaluronan
• Simtomatik • Terdapat dua jenis hyaluronan di Indonesia: high molecular weight
• Dapat diberikan pada OA lutut, jika mengenai satu atau dua sendi dan low molecular weight atau tipe campuran.
dengan keluhan nyeri sedang hingga berat yang kurang responsif • Karakteristik dari penyuntikan hyaluronan ini adalah onsetnya
terhadap pemberian OAINS, atau tidak dapat mentolerir OAINS atau lambat, namun berefek jangka panjang, dan dapat mengendalikan
terdapat penyakit komorbid yang merupakan kontra indikasi gejala klinis lebih lama bila dibandingkan dengan pemberian injeksi
terhadap pemberian OAINS. kortikosteroid intraartikular.
• dilakukan penyuntikan lebih dari sekali dalam kurun 3 bulan atau • diberikan berturut-turut 5 sampai 6 kali dengan interval satu minggu
setahun 3 kali terutama untuk sendi besar penyangga tubuh (2 sampai 2,5 ml Hyaluronan untuk jenis low molecular weight, 1 kali
• Dosis untuk sendi besar seperti lutut 40-50 mg/injeksi, sedangkan untuk jenis high molecular weight, dan 2 kali pemberian dengan
untuk sendi-sendi kecil biasanya digunakan dosis 10 mg. interval 1 minggu untuk jenis tipe campuran)
• Perlu diperhatikan faktor alergi terhadap unsur/bahan dasar
hyaluronan misalnya harus dicari riwayat alergi terhadap telur.

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Tatalaksana Tatalaksana

Tahap Ketiga RUJUK


Indikasi untuk tindakan lebih lanjut:
• Gejala klinis OA berat, nyeri menetap, bertambah BB
1. Adanya kecurigaan atau terdapat bukti adanya artritis inflamasi: • Progresif dan mengganggu aktivitas sehari-hari
bursitis, efusi sendi: memerlukan pungsi atau aspirasi diagnostik • Penurunan kualitas hidup
dan teurapeutik (rujuk ke dokter ahli reumatologi/bedah ortopedi. • Deformitas varus atau valgus >20 derajat pada OA lutut
2. Adanya kecurigaan atau terdapat bukti artritis infeksi (merupakan • Subluksasi ligamen lateral/dislokasi
kasus gawat darurat, resiko sepsis tinggi: pasien harus dirawat di • Gejala mekanik berat
Rumah Sakit) • Operasi penggantian sendi lutut

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Tatalaksana

TERAPI OPERATIF
Dilakukan pada pasien dengan gejala klinis berat atau progresif yang
mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengganggu kualitas hidup

• Total Joint Replacement


o Kekakuan sendi berat, gejala nyeri sudah mengganggu
o KL III dan IV
o Usia > 55 tahun

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Komplikasi

● Pain Prognosis
● Falls
Prognosis untuk pasien osteoarthritis
● Joint malalignment tergantung pada sendi mana yang terkena
dan tingkat gejala dan gangguan fungsional.
● Decreased range of motion of the joint Beberapa pasien tetap relatif tidak
● Radiculopathies terpengaruh oleh osteoartritis, sementara
yang lain dapat mengalami kecacatan parah.
Dalam beberapa kasus, operasi penggantian
sendi menawarkan hasil jangka panjang
terbaik.

Sen R, Hurley JA. 2021. Osteoarthritis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing Sen R, Hurley JA. 2021. Osteoarthritis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing
Thankyou!