Anda di halaman 1dari 16

DOKUMEN PERCOBAAN

RANGKAIAN KENDALI MOTOR 3 FASA STAR DELTA


Untuk Memenuhi Tugas dari Mata Kuliah
Laboratorium Desain Instalasi I
Semester I

Oleh :
Arifan Fahmi M.
NIM : 2141150077

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK DAN SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2021
RANGKAIAN KENDALI MOTOR 3 FASA STAR DELTA

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah agar dapat merancang, merakit, dan mengoperasikan
rangkaian kendali motor 3 fasa serta dapat menentukan spesifikasi alat pengaman motor
dan saklar elektromagnetik (kontaktor) yang diperlukan supaya rangkaian bekerja dengan
aman.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam melaksanakan praktikum rangkaian motor 3 fasa menggunakan metode Star Delta,
perlu dijelaskan hal-hal berikut :

1. Definisi rangkaian kendali motor 3 fasa Star Delta


Start dengan methode star-delta ini memanfaatkan penurunan tegangan yang dicatu
ke motor saat stator motor terhubung dalam rangkaian star. Pada waktu start, yakni
saat stator berada pada rangkaian bintang, arus motor hanya mengambil sepertiga dari
arus motor jika motor distart dengan metode DOL. Berhubung torsi motor berbanding
lurus dengan quadratis dari tegangan, maka torsi motor pada rangkaian bintang juga
hanya sepertiga dari torsi pada rangkaian delta.
Prinsip Kerja saat start, pertama-tama kontaktor utama K1 dan kontaktor bintang KY
diaktifkan. Peralihan dari rangkaian bintang ke rangkaian delta terjadi pada kecepatan
nD, yakni jika kecepatan motor sudah mencapai kira kira 80% dari kecepatan nominal.
Caranya dengan pengaktifan kontaktor KD dan pada saat yang sama kontaktor K Y
dibuat tidak aktif. Namun, sesaat motor sudah terlepas dari rangkaian bintang tetapi
masih belum terhubung ke rangkaian delta, rotor masih berputar, demikian juga arus
rotor masih mengalir di kumparan rotor. Ada fluks magnetik sisa di rotor yang
memotong kumparan stator. Sehingga terjadi tegangan induksi ke stator yang
frekuensinya tergantung dari kecepatan rotor saat itu. Kecepatan rotor saat itu
tergantung sekali pada beban. Saat motor terhubung ke rangkaian delta, terjadilah arus
inrush yang sangat besar, yang mana nilainya dapat mencapai hingga 2000 %  dalam
durasi yang sangat pendek sekitar 200 ms (lihat grafik di bawah ini).Hal ini terjadi
karena adanya perbedaan phasa yang sangat besar telah terjadi saat stator terhubung
kembali ke jaringan listrik dalam rangkaian delta dengan fluk dari rotor. Arus yang
tinggi ini mengakibatkan terjadinya torsi kejut dan dapat memberikan dampak buruk
bagi komponen transmisi dan komponen pemutus arus dari system drive tersebut.
2. Thermal Overload Relay (TOR) 3 fasa
Dalam instalasi motor listrik, dibutuhkan pengaman untuk menjaga motor dari
kerusakan akibat gangguan. Thermal Overload Relay (TOR) adalah salah satu
pengaman motor dari arus yang berlebih. Bila Arus yang melewati motor terlalu besar
maka motor akan rusak, oleh sebab itu TOR akan memutuskan rangkaian apabila ada
arus yang melebihi batas beban.
Relay ini dihubungkan dengan kontaktor pada kontak utama 2, 4, 6 sebelum ke beban
(motor). Gunanya untuk mengamankan motor atau memberi perlindungan kepada
motor dari kerusakan akibat beban lebih. Beberapa penyebab terjadinya beban lebih
antara lain:
1) terlalu besarnya beban mekanik dari motor
2) arus start yang tertalu besar atau motor berhenti secara mendadak
3) terjadinya hubung singkat
4) terbukanya salah satu fasa dari motor 3 fasa.
Arus yang terlalu besar yang timbul pada beban motor akan mengalir pada belitan
motor yang dapat menyebabkan kerusakan dan terbakarnya belitan motor. Untuk
menghindari hal itu dipasang termal beban lebih pada alat pengontrol. Prinsip kerja
termal beban lebih berdasarkan panas (temperatur) yang ditimbulkan oleh arus yang
mengalir melalui elemen-elemen pemanas bimetal. Dan sifatnya pelengkungan
bimetal akibat panas yang ditimbulkan, bimetal akan menggerakkan kontak-kontak
mekanis pemutus rangkaian listrik (Kontak 95-96 membuka)

Gambar 3 Contoh TOR


TOR bekerja berdasarkan prinsip pemuaian dan benda bimetal. Apabila benda terkena
arus yang tinggi, maka benda akan memuai sehingga akan melengkung dan
memutuskan arus.

Bimetal

Terkena Panas

Arus yang berlebihan akan menimbulkan panas, sehingga dapat


membengkokkan benda bimetal.

3. Kontaktor magnet
Kontaktor magnet atau saklar magnet ialah saklar yang bekerja berdasarkan
kemagnetan. Artinya sakelar ini bekerja jika ada gaya kemagnetan. Magnet berfungsi
sebagai penanik dan pelepas kontak-kontak. Sebuah kontaktor harus mampu
mengalirkan arus dan memutuskan arus dalam keadaan kerja normal. Arus kerja
normal ialah arus yang mengalir selama pemutusan tidak terjadi. Sebuah kontaktor
dapat memiliki koil yang bekerja pada tengangan DC atau AC. Pada tengangan AC,
tegangan minimal adalah 85% tegangan kerja, apabila kurang maka kontaktor akan
bergetar.
Ukuran dari kontaktor ditentukan oleh batas kemampuan arusnya. Biasanya pada
kontaktor terdapat beberapa kontak, yaitu kontak normal membuka (Normally Open
= NO) dan kontak normal menutup (Normally Close = NC). Kontak NO berarti saat
kontaktor magnet belum bekerja kedudukannya membuka dan bila kontaktor
bekerja kontak itu menutup/menghubung. Sedangkan kontak NC berarti saat
kontaktor belum bekerja kedudukan kontaknya menutup dan bila kontaktor
bekerja kontak itu membuka. Jadi fungsi kerja kontak NO dan NC berlawanan.
Kontak NO dan NC bekerja membuka sesaat lebih cepat sebelum kontak NO
menutup.
Pada gambar diatas, kontak 3 dan 4 adalah NC sedangkan kontak 1 dan 2 adalah NO.
Apabila tidak ada arus maka kontak akan tetap diam. Tetapi apabila arus dialirkan
dengan menutup switch maka kontak 3 dan 4 akan menjai NO sedangkan kontak 1
dan 2 menjadi NC.

Gambar 1 Contoh kontaktor Magnet


Fungsi dari kontak-kontak dibuat untuk kontak utama dan kontak bantu. Kontak
utama tendiri dari kontak NO dan kontak bantu terdiri dan kontak NO dan NC.
Konstruksi dari kontak utama berbeda dengan kontak bantu, yang kontak utamanya
mempunyai luas permukaan yang luas dan tebal. Kontak bantu luas permukaannya
kecil dan tipis.
Kotaktor pada umumnya memiliki kontak utama untuk aliran 3 fasa. Dan juga
memiliki beberapa kontak bantu untuk berbagai keperluan. Kontak utama digunakan
untuk mengalirkan arus utama, yaitu arus yang diperlukan untuk beban, misalnya
motor listrik, pesawat pemanas dan sebagainya. Sedangkan kontak bantu digunakan
untuk mengalirkan arus bantu yaitu arus yang diperlukan untuk kumparan magnet,
alat bantu rangkaian, lampu lampu indikator, dan lain-lain.

4. Push Button
Tombol yang normal direncanakan untuk berbagai jenis yang mempunyai kontak
normal tertutup (Normaly Close/ NC) atau kontak normal terbuka (Normaly Open/
NO). Kontak NO akan menutup, jika tombol diteka dan kontak NC akan membuka
bila tombol ditekan. Tombol tekan NO digunakan untuk start sedangkan tombol tekan
NC digunakan untuk stop.
5. Lampu Indikator
Lampu-lampu indikator merupakan komponen yang digunakan sebagai lampu tanda.
Lampu-lampu tersebut digunakan untuk berbagai keperluan misalnya untuk lampu
indikator pada panel penunjuk fasa R, S dan T atau L1, L2 dan L3. Selain itu juga
lampu indikator digunakan sebagai indikasi bekerjanya suatu sistem kontrol.

Gambar Pilot Lamp

6. MCB
MCB memiliki 2 pengaman, yaitu Pengaman thermis yang berfungsi untuk
mengamankan arus beban lebih dan Pengaman elektromagnetis yang berfungsi untuk
mengamankan jika terjadi hubung singkat. MCB 3 fasa dibuat untuk pengaman 3 fasa
biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan , sehingga apabila gangguan
pada salah satu kutub, maka kutub yang lainnya juga akan terputus. Sedangkan MCB
1 fasa dibuat untuk alat pengaman rangkaian listrik 1 fasa. MCB ini memiliki 1 tuas
dimana penghantar yang diinputkan ke MCB harus penghantar fasa.
MCB 1 FASA MCB 3 FASA

7. Time Delay Relay


Relay timer atau relay penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor
terutama instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis. Peralatan
kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya dengan
MC (Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-lain.
Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah sebagaii pengatur waktu bagi peralatan yang
dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk mangatur waktu hidup atau mati dari
kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke segitiga dalam delay waktu tertentu.
Timer dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja menggunakan
induksi motor dan menggunakan rangkaian elektronik. Timer yang bekerja dengan
prinsip induksi motor akan bekerja bila motor mendapat tegangan AC sehingga
memutar gigi mekanis dan memarik serta menutup kontak secara mekanis dalam
jangka waktu tertentu.
Sedangkan relay yang menggunakan prinsip elektronik, terdiri dari rangkaian R dan C
yang dihubungkan seri atau paralel. Bila tegangan sinyal telah mengisi penuh
kapasitor, maka relay akan terhubung. Lamanya waktu tunda diatur berdasarkan
besarnya pengisisan kapasitor.
Bagian input timer biasanya dinyatakan sebagai kumparan dan bagian outputnya
sebagai kontak NO atau NC.
T

Kumparan Timer Kontak langsung Kontak Timer


Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus. Apabila telah
mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis timer akan mengunci
dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO.

4 5
6 5 4 3
3 6
3 4

2 7 2 5
2
2 1 6
1 8

8 7

7 8 1 2
INPUT

Kaki-kaki Timer Soket Timer

Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki yang 2 diantaranya merupakan kaki koil
sebagai contoh pada gambar yaitu kaki 2 dan 7, sedangkan kaki yang lain akan
berpasangan NO dan NC, kaki 1 akan NC dengan kaki 4 dan NO dengan kaki 3.
Sedangkan kaki 8 akan NC dengan kaki 5 dan NO dengan kaki 6. Kaki kaki tersebut
akan berbeda tergantung dari jenis relay timernya.
8. Pneumatic Timer Relay
Pneumatic Timer Relay adalah suatu alat yang berfungsi untuk menghubungkan atau
memutuskan rangkaian listrik berdasarkan waktu. Perbedaannya dengan TDR adalah
prinsip kerja alat ini menggunakan udara (vakum) untuk waktu penundaan. Alat ini
haru dipasang melekat pada sebuah kontaktor karena membutuhkan tekanan dorong
atau tarik dari kontaktor tersebut agar timer dapat bekerja.
C. PERENCANAAN MERANGKAI RANGKAIAN STAR DELTA
1. Motor 3 Fasa
Gambar di bawah adalah nameplate dari motor induksi 3 fasa yang akan digunakan
untuk percobaan rangkaian Star Delta :

2. Gambar Rangkaian Daya Star Delta

L1
L2
L3

F0

1 3 5 1 3 5 1 3 5

KU KD KY
2 4 6 2 4 6 2 4 6

1 3 5

TOR
2 4 6

U1
V1 M W2
U2
W1
3~ V2
3. Menentukan Spesifikasi Pengaman Motor
a. Pengaman beban lebih dan hubung singkat motor
Sesuai dengan PUIL 2011 Pasal 510.5.4.3 halaman 401, gawai proteksi beban lebih
dan hubung singkat motor harus memiliki arus pengenal 110% - 115% dari arus
pengenal nominal motor.
Sesuai dengan data dari nameplate motor diatas, motor diatas adalah motor induksi 3
fasa yang biasanya menggunakan rotor berjenis sangkar tupai bukan rotor lilit dan
arus pengenal motor saat dirangkai dengan hubungan bintang maksimal adalah 2,14 A
( saya merangkai dengan hubungan bintang). Perhitungannya adalah sebagai berikut :

Igawai = 115% x Inominal


= 115% x 2,14
= 2,46 A
Jadi, arus pengenal dari gawai proteksi harus ≥ 2,46 A. Disini saya memilih alat
proteksinya adalah MCB. Tetapi, MCB tidak ada yang memiliki arus pengenal 2,46
A. Langkah idealnya adalah harus memilih MCB yang ada di pasaran yaitu MCB
dengan arus pengenal 4 A.
b. Pengaman arus lebih dan hubung singkat pada rangkaian kontrol
Untuk mengamankan rangkaian control dari arus lebih dan hubung singkat bisa
menggunakan MCB 2 A karena bebannya hanya 3 lampu indikator dan 1 koil
kontaktor. Arusnya kecil sekali sehingga bisa menggunakan MCB dengan arus
pengenal paling kecil yang tersedia di pasaran, yaitu 2 A.
c. Thermal Overload Relay (TOR)
Seperti dalam perhitungan pada poin a, gawai proteksi beban lebih adalah 110-115%
dari arus nominal motor. Dengan besar arus nominal motor 2,14 motor, maka 115%-
nya adalah 2,46 A. Besar arus perhitungan harus disesuaikan dengan arus pengenal
TOR yang ada di pasaran. TOR yang ada di pasaran yang paling cocok adalah TOR
dengan arus pengenal 2,5 – 4 A(bisa disetting).
d. Kontaktor Magnet
Sesuai dengan gambar 510.5-2 pada PUIL 2011 halaman 405, besar arus nominal
kontaktor bisa disamakan dengan arus pengenal gawai proteksi, yaitu 115% dari arus
nominal motor. Arus perhitungan harus disesuaikan dengan arus pengenal kontaktor
yang ada di pasaran. Kontaktor yang ada di pasaran yang paling cocok adalah 4 A.
e. KHA Kabel Rangkaian Daya
Sesuai dengan PUIL 2011 510.5.3.1 halaman 400, KHA kabel pada sirkit yang
melayani motor tunggal tidak boleh kurang dari 125% arus pengenal beban penuh
motor . Sesuai nameplate diatas, arus pengenal beban penuh motor pada rangkaian
star adalah 2,14 A. Perhitungannya sebagai berikut :
KHA kabel = 125% x 2,14 A
= 2,67 A
Jadi, kabel yang digunakan minimal memiliki KHA sebesar 2,67 A. Sesuai pada tabel
7.3-1 PUIL 2011, KHA terus menerus yang besarnya lebih dari 2,5 sampai 7 A bisa
menggunakan kabel berukuran 0,75 mm2. Tetapi di pasaran, untuk kabel berjenis
NYY paling kecil adalah 1,5 mm2. Oleh karena itu, kabel yang saya gunakan adalah
kabel NYY yang ada di pasaran dengan luas penampang paling kecil, yaitu NYY 4 x
1,5 mm2.
4. Rangkaian Kontrol Star Delta
a. Rangkaian Kontrol Star Delta Manual

1
F1
2

95
TOR
96

21
PB1
STOP
22

13 13
PB2
KU
STAR
14 14

13 13
PB2
DELTA KD
14 14

21
KD
22

KU A1 KY A1 KD A1

A2 A2 A2
N

Cara Kerja Rangkaian :


Ketika MCB F1 di-ON-kan dan PB 2 STAR di tekan sesaat, maka kontaktor KU
dan kontaktor KY akan aktif. Aktifnya KU membuat kontak bantu KU NO 13 14
akan menjadi NC sehingga ketika PB 2 STAR dilepas, kontaktor KU dan KY
akan aktif secara terus menerus. Dalam keadaan ini, motor bekerja dengan
sambungan bintang. Kemudian, untuk beralih ke sambungan delta dengan cara
menekan PB 2 DELTA sesaat, maka kontaktor KD menjadi aktif dan kontaktor
KY mati, tetapi KU tetap aktif. Sehingga, dalam kondisi ini motor bekerja dengan
sambungan delta.
Tekan PB 1 STOP untuk menghentikan kerja seluruh rangkaian. Rangkaian di atas
tidak bisa aktif jika PB 2 belum ditekan. Jadi dalam pengaktifannya harus urut PB
2 dahulu baru kemudian PB 3. Ketika terjadi overload pada motor, maka kontak
bantu TOR 95 96 akan NO sehingga seluruh rangkaian akan mati.
b. Rangkaian Kontrol Star Delta dengan Pneumatic Timer

1
F1
2

95
TOR
96

21
PB1
STOP
22

13 13
PB2
KU
START
14 14

67 55
T1
68 56

21 21
KD KY
22 22

T1 KU A1 KY A1 KD A1

A2 A2 A2
N

Cara Kerja Rangkaian :


Pneumatic timer On Delay disetting 5 s.
1. Ketika MCB di-ON-kan dan PB2 START ditekan sesaat maka kontaktor KU dan
KY aktif dan pada saat itu juga Timer T1 ikut aktif dan memulai menghitung
waktu. Pada kondisi ini motor bekerja dengan sambungan bintang.
2. Setelah 5 s, maka secara otomatis kontak bantu timer T1 NC 67 68 akan menjadi
NO sehingga kontaktor KY mati dan pada saat itu juga kontak bantu timer T1 NO
55 56 menjadi NC sehingga kontaktor KD aktif. Pada kondisi ini motor bekerja
dengan sambungan delta.
3. Untuk menghentikan kerja rangkaian dengan menekan PB 1 STOP sesaat.
4. Jika terjadi overload pada motor, maka kontak bantu NC TOR akan menjadi NO
sehingga memutuskan seluruh rangkaian.
c. Rangkaian Kontrol Star Delta dengan Time Delay Relay (TDR)

1
F1
2

95
TOR
96

21
PB1
STOP
22

13 13
PB2
KU
START
14 14

1 1
TDR
4 3

21 21
KD KY
22 22

KU A1 KY A1 KD A1 TDR 7

A2 A2 A2 2
N

Cara Kerja Rangkaian :


Time Delay Relay (TDR) disetting 5 s.
1. Ketika MCB di-ON-kan dan PB 2 START ditekan sesaat, maka kontaktor KU,
kontaktor KY, dan TDR akan aktif. TDR memulai perhitungan mundur. Pada
kondisi ini motor bekerja dengan sambungan star.
2. Setelah 5 detik, maka kontak bantu NC TDR berubah menjadi NO dan yang NO
menjadi NC. Sehingga KY mati dan KD aktif. Pada kondisi ini motor bekerja
dengan sambungan delta.
3. Untuk menghentikan kerja rangkaian dengan menekan PB 1 STOP sesaat.
4. Jika terjadi overload pada motor, maka kontak bantu NC TOR akan menjadi NO
sehingga memutuskan seluruh rangkaian.
D. ALAT DAN BAHAN
1. Alat

No Nama Alat Jumlah Unit


.
1. Tang Kombinasi 1 Buah
2. Tang cucut 1 Buah
3. Tang potong 1 Buah
4. Obeng + Medium 1 Buah
5. AVO meter 1 Buah
6. Testpen 1 Buah
7. Megger 1 Buah
8. Tang pengupas kabel 1 Buah
9. Tang Ampere 1 Buah

2. Bahan
a. Rangkaian Kontrol Star Delta Manual

No Nama Bahan Jumlah Unit


.
1. MCB 3P 4 A 1 Buah
2. MCB 1P 2 A 1 Buah
3. Kontaktor 3P 4 A 3 Buah
4. TOR 3P 2,5-4 A 1 Buah
5. Motor Induksi 1 HP 1 Buah
6. Push Button NO 2 Buah
7. Kabel NYAF (R. Kontrol)
 Merah 0,75 mm2 4 m
 Biru 0,75 mm2 0,5 m
8. Kabel NYY 4 x 1,5 mm2 4 m
9. Box Panel 400 x 500 mm 1 buah
10. Terminal Block isi 6 2 Buah
11. Skun kabel 1 mm2 1 Pack
12. Rel Omega 20 cm 2 Buah
13. Klem 12 mm 1 Pack
14. Sekrup 1” 4 Buah
15. Sekrup 1/2” 5 Buah
16. Kabel ties 10 cm 4 Buah
17. Mounting 2 Buah
18. Spiral Wrapping 50 cm
19. Push Button NC 1 Buah

b. Rangkaian Star Delta dengan Pneumatic Timer


No Nama Bahan Jumlah Unit
.
1. MCB 3P 4 A 1 Buah
2. MCB 1P 2 A 1 Buah
3. Kontaktor 3P 4 A 3 Buah
4. TOR 3P 2,5-4 A 1 Buah
5. Motor Induksi 1 HP 1 Buah
6. Push Button NO 1 Buah
7. Kabel NYAF (R. Kontrol)
 Merah 0,75 mm2 5 m
 Biru 0,75 mm2 0,5 m
8. Kabel NYY 4 x 1,5 mm2 4 m
9. Box Panel 400 x 500 mm 1 buah
10. Terminal Block isi 6 2 Buah
11. Skun kabel 1 mm2 1 Pack
12. Rel Omega 20 cm 2 Buah
13. Klem 12 mm 1 Pack
14. Sekrup 1” 4 Buah
15. Sekrup ½” 5 Buah
16. Kabel ties 10 cm 4 Buah
17. Mounting 2 Buah
18. Spiral Wrapping 50 cm
19. Push Button NC 1 Buah
20. Pneumatic Timer 220 V 1 Buah

c. Rangkaian Star Delta dengan TDR

No Nama Bahan Jumlah Unit


.
1. MCB 3P 4 A 1 Buah
2. MCB 1P 2 A 1 Buah
3. Kontaktor 3P 4 A 3 Buah
4. TOR 3P 2,5-4 A 1 Buah
5. Motor Induksi 1 HP 1 Buah
6. Push Button NO 1 Buah
7. Kabel NYAF (R. Kontrol)
 Merah 0,75 mm2 5 m
 Biru 0,75 mm2 0,5 m
8. Kabel NYY 4 x 1,5 mm2 4 m
9. Box Panel 400 x 500 mm 1 buah
10. Terminal Block isi 6 2 Buah
11. Skun kabel 1 mm2 1 Pack
12. Rel Omega 20 cm 2 Buah
13. Klem 12 mm 1 Pack
14. Sekrup 1” 4 Buah
15. Sekrup ½” 5 Buah
16. Kabel ties 10 cm 4 Buah
17. Mounting 2 Buah
18. Spiral Wrapping 50 cm
19. Push Button NC 1 Buah
20. TDR 220 V 60s 1 Buah

E. HASIL PERCOBAAN
F. ANALISA HASIL
G. KESIMPULAN
H. DAFTAR PUSTAKA
Dokumen INSTALASI_MOTOR_LISTRIK-XI-3
PUIL 2011
Modul Instalasi Penerangan SMKN 1 BLITAR
https://duniaberbagiilmuuntuksemua.blogspot.com/2020/04/mengenal-jenis-dan-fungsi-
timer-relay.html
Dokumen sistem kendali elektromekanik-magnet

Anda mungkin juga menyukai