Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PELAT DAN RANGKA BETON

Kerusakan Bangunan Akibat Gempa

Dosen Pengampu
Ir. Siti Nurlina, MT.
19650423 199002 2 001

Disusun Oleh
Nama : NIM :
Muh. Syauqi Al Maghfirah 195060100111001
Ricko Ilham Akbar 195060107111025
Krisna Arya Kusuma 195060107111041

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan


Universitas Brawijaya
Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Sipil
Tahun Ajaran 2021/2021
1. Gempa Banjarnegara 18 April 2018

Rabu 18 April 2018 Kabupaten Banjarnegara tepatnya di Kecamatan Kalibening dilanda


gempa bumi dengan kekuatan 4,4 SR, meskipun magnitude gempa tidak terlalu besar namun
kerusakan bangunan yang di timbulkan cukup banyak, tercatat dampak yang ditimbulkan oleh
gempa sebanyak 201 bangunan mengalami kerusakan mulai dari rusak sedang hingga rusak
berat. Faktor penyebab banyaknya bangunan yang mengalami kerusakan adalah karena
memiliki kedalaman pusat gempa yang cukup dangkal, yaitu 4 KM menyebabkan intensitas
guncangan di purmakaan tanah terasa cukup kuat. Selain dari faktor kedalaman pusat gempa,
banyaknya bangunan rumah, sekolah dan masjid yang rusak atau roboh disebabkan karena
tidak mengikuti kaidah-kaidah bangunan tahan gempa. Contoh kasus yang ditemukan di
lapangan seperti sistem struktur yang kurang menyatu dan kualitas material yang kurang baik.
Di lokasi kerusakan ditemukannya inovasi-inovasi masyarakat dalam menekan biaya bangunan
seperti pengunaan bambu sebagai pengganti tulangan baja dan ada juga yang
mengkombinasikan dalam satu frame struktur menggunakan tulangan bambu dan tulangan
baja, namun penerapan bambu sebagai pengganti tulangan oleh masyarakat tidak dibuat dengan
praktek yang semestinya.

Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, gempa telah meyebabkan banyaknya bangunan


mengalami kerusakan. Bangunan yang rusak rata-rata tidak sesuai dengan kaidah bangunan
tahan gempa. Berdasarkan tingkat kerusakan di setiap desa, beberapa desa yang mengalami
rusak berat adalah Desa Kertosari dan Desa Kasinoman. Beberapa penyebab kegagalan
struktur bangunan akibat gempa yang dirangkum dari hasil pengamatan di lapangan dijelaskan
sebagai berikut.
 Kegagalan Sambungan
Terlihat contoh kasus kegagalan beam coloumn joint, sehingga mengakibatkan sistem
sambungan antara balok dan kolom sangat rentan terhadap beban siklis akibat gempa. Beban
ini menimbulkan tegangan geser yang cukup besar pada daerah sambungan dan sangat
berpotensi terjadi kegagalan geser. Setelah beam coloumn joint mengalami kegagalan maka
dinding akan ikut runtuh secara otomatis, dikarenakan dinding tidak didisain untuk menahan
beban gempa. Secara umum kegagalan sambungan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti
jarak antar tulangan geser yang terlalu jauh dan kekuatan sambungan yang tidak cukup
akibat pendetailan tulangan yang kurang baik.

 Kegagalan Sendi Plastis


Kegagalan sendi plastis pada kolom, kemungkinan diakibatkan karena kualitas beton yang
kurang baik dan diameter serta jarak antar tulangan geser yang tidak mengikuti persyaratan
bangunan tahan gempa. Terlihat pada gambar 6 jarak antar tulangan geser cukup jauh. Pada
saat terjadi gempa, kolom akan mengalami tegangan yang cukup besar pada area
sambungan, sehingga kolom tidak kuat menahan beban siklis dan menyebabkan kerusakan
pada sendi plastis. Kerusakan terlihat pada area sambungan kolom dan sloff atau pondasi.

 Kegagalan Ikatan Kolom ke Pondasi


Kegagalan ikatan antara kolom dan pondasi pada bangunan non engineering ketika terjadi
gempa sering ditemukan pada beberapa daerah terdampak gempa, kebanyakan bangunan
non engineering tidak dibangun oleh tenaga ahli dan tidak memperhatikan risiko kerusakan
apabila terjadi gempa. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa kegagalan ikatan antara
kolom dan fondasi pada bangunan di Banjarnegara disebebkan karena tidak adanya angkur
atau pengait antar kolom ke pondasi, sedangkan tegangan geser pada area sambungan
kolom dengan pondasi cukup besar. Hal itu mengakibatkan kolom tidak kuat menahan
tengangan geser dan akan tercabut atau terlepas dari ikatan pondasi sehingga
menyebabkan keruntuhan.
2. Analisis Kerusakan Bangunan Tempat Tinggal Akibat Bencana Gempa Bumi di
Kecamatan Palu Barat Kota Palu Tahun 2018

Gempa bumi memiliki daya rusak yang tinggi terhadap bangunan yang berada di permukaan
akibat adanya gelombang seismik. Kerusakan bangunan merupakan penyebab tingginya angka
kematian dan korban luka akibat gempa bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kerusakan, distribusi spasial dan menganalisis tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal di
Kecamatan Palu Barat akibat gempabumi tahun 2018. Interpretasi citra IKONOS dilakukan
untuk mengetahui tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan
skala European Macroseismic Scale (EMS) tahun 1998. Dari 379 bangunan tempat tinggal
yang divalidasi hanya 13 yang masuk dalam skala 5, 8 yang berada pada skala 4, 11 yang
berada pada skala 3, 5 yang berada pada skala 2, dan sisanya berada pada skala 1 dan tidak
mengalami kerusakan sama sekali. Struktur bangunan dan jarak lokasi terhadap suatu patahan
aktif merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal.
Bangunan tempat tinggal dengan struktur batu bata diperkuat diafragma kaku (RM2)
merupakan struktur yang paling banyak mengalami kerusakan. Jarak patahan Palu-Koro
dengan wilayah yang mengalami kerusakan yaitu sekitar 2,4 km yang berada di Kelurahan
Lere. Selain itu, kerusakan yang terjadi pada bangunan tempat tinggal di Kecamatan Palu Barat
memiliki pola memanjang yang menyerupai pola patahan Palu-Koro. Hasil uji akurasi
menunjukan bahwa 58% hasil interpretasi yang dilakukan sesuai dengan survei lapangan,
sehinga interpretasi kerusakan bangunan tempat tinggal sebaiknya dilakukan dengan
pengamatan lapangan.
Tingkat kerusakan pada bangunan tempat tinggal yang terjadi akibat gempa bumi pada tanggal
28 September 2018 di Kecamatan Palu Barat sebenarnya tidak begitu parah. Berdasarkan hasil
survei yang dilakukan pada bangunan tempat tinggal dengan struktur batu bata dapat
diindikasikan tingkat kerusakannya berdasarkan tingkat retakan bangunan. Bangunan dengan
jenis retakan rambut memiliki tingkat kerusakan lebih rendah dibandingkan dengan bangunan
tempat tinggal dengan retakan terbuka. Tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal dengan
retakan rambut bekisar pada skala 1 dan 2, sedangkan tingkat kerusakan bangunan tempat
tinggal dengan retakan terbuka berada pada kisaran skala 3 hingga 4. Apabila bangunan tempat
tinggal memiliki jenis retakan terbuka maka dapat disimpulkan terjadi kerusakan struktural
tingkat sedang hingga sangat berat pada bangunan yang dicirikan dengan runtuhnya sebagian
atau keseluruhan banguan tempat tinggal. Tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal yang
terjadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu
struktur dari bangunan tempat tinggal.

Berdasarkan hasil survei lapangan yang dilakukan dapat diketahui bahwa bangunan tempat
tinggal di Kecamatan Palu Barat 97,54% memiliki struktur bangunan RM2 atau meliputi
hampir keseluruhan bangunan tempat tinggal di Kecamatan Palu Barat, sisanya memiliki
struktur bangunan W1 dan RM1. Pada saat terjadi gempabumi kerusakan bangunan tempat
tinggal banyak terjadi pada struktur bangunan tempat tinggal RM2, hal ini disebabkan karena
struktur tersebut rentan terhadap goncangan sehingga dapat menyebabkan terjadinya rekahan
atau retakan yang dapat menyebabkan bangunan mudah runtuh dan hancur, sedangkan
bangunan tempat tinggal dengan struktur RM1 dan W1 pada saat terjadinya gempabumi tidak
mengalami kerusakan yang tidak begitu berarti. Potensi kerusakan bangunan berdasarkan jenis
strukturnya di Palu pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 13 dari 14 bangunan
dengan struktur RM2 berpotensi mengalami kerusakan parah, 2 dari 1 bangunan dengan
struktur RM1 berpotensi mengalami kerusakan parah, dan 3 dari 3 bangunan dengan struktur
W1 memiliki potensi kerusakan sedang.

Kerusakan bangunan tempat tinggal yang diakibatkan oleh gempabumi pada tahun 2018 tidak
begitu parah. Dari 379 bangunan tempat tinggal yang divalidasi hanya 13 yang masuk dalam
skala 5 atau hancur, 8 yang berada pada skala 4 atau kerusakan sangat berat, 11 yang berada
pada skala 3 atau kerusakan berat, 5 yang berada pada skala 2 atau kerusakan sedang, dan 205
yang berada pada skala 1 atau kerusakan ringan, serta 138 bangunan tempat tinggal yang sama
sekali tidak mengalami kerusakan.
Kerusakan bangunan tempat tinggal paling banyak dialami pada wilayah barat Kecamatan Palu
Barat, yaitu Kelurahan Lere. Kerusakan bangunan tempat tinggal paling banyak dialami pada
bangunan tempat tinggal dengan struktur bangunan RM2 (reinforced masonry buidings with
rigid diaphragms), selain itu pola kerusakan bangunan tempat tinggal berbentuk memanjang
seperti pola patahan PaluKoro.

3. Analisa Kerusakan Struktur Bangunan Gedung ″A″ SMAN 10 Padang Akibat Gempa
30 September 2009

Gempa tektonik yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 yang lalu telah menimbulkan
banyak kerusakan pada konstruksi bangunan. Untuk mengurangi dampak kerusakan yang
ditimbulkan akibat gempa, perlu dilakukan analisa mengenai kerusakan struktur bangunan
yang terjadi. Salah satu bangunan yang dianalisa adalah bangunan Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMA N) 10 Padang yang mengalami kerusakan struktural dan non-struktural akibat
gempa tanggal 30 September 2009. Hasil analisa yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan
sebagai acuan dan bahan pertimbangan dalam perbaikan bangunan maupun perencanaan
bangunan pada wilayah rawan gempa. Analisa yang digunakan adalah analisa gempa statik
ekivalen dimana beban yang diperhitungkan meliputi beban mati, hidup, dan gempa.
Komponen struktur yang dianalisa hanya kolom dari dimensi terpasang yang dianggap dapat
mewakili kekuatan struktur bangunan secara keseluruhan. Di mana nilai gaya dalam ditentukan
dengan menggunakan bantuan salah satu program komputer. Dari kondisi existing dan hasil
analisa yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perencanaan struktur bangunan SMAN 10
Padang dapat menanggung beban yang bekerja padanya. Kerusakan yang terjadi lebih
disebabkan karena rendahnya kualitas pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor dan kurangnya
pengawasan selama proses pembangunan berlangsung sehingga realisasi dari struktur
bangunan yang ada tidak sesuai dengan perencanaan awal.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan secara langsung, dapat disimpulkan kondisi
bangunan sebagai berikut:

1). Komponen Non Struktur

Kerusakan non-struktural yang terjadi adalah berupa kerusakan pada sebagian dinding
bangunan, baik pada sisi dalam dan sisi luar bangunan. Kerusakan ini digolongkan dalam dua
kerusakan, yaitu kerusakan total yang harus diganti dan kerusakan retak yang dapat diperbaiki
dengan cara melakukan plesteran ulang pada bagian yang rusak. Untuk kusen, jendela dan
plafond tidak mengalami kerusakan yang berarti.

2). Komponen Struktur

a). Pondasi

Adanya penurunan yang terjadi pada pondasi bangunan, hal ini terlihat pada penurunan lantai
di sekitar kolom. Penurunan yang terjadi adalah penurunan seragam.

b). Kolom

Pada lantai 1, 2, dan 3 Kerusakan yang terjadi pada kolom merupakan kerusakan sedang,
berupa hancurnya beton kolom serta pembengkokan beberapa tulangan utama kolom.

c). Balok

Kerusakan yang terjadi pada balok merupakan kerusakan sedang, berupa hancurnya beton
balok serta lepasnya ikatan antara kolom dan balok yang menunjukkan buruknya pengerjaan
pemasangan tulangan.
d). Joint

Kolom-Balok Umumnya kerusakan pada bangunan terjadi pada bagian joint kolom dan balok,
berupa retaknya kolom dan balok.

Dari hasil perbandingan hasil evaluasi kondisi existing bangunan dan analisa struktur, dapat
dilihat bahwa struktur yang direncanakan cukup mampu menahan beban yang bekerja
padanya. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kegagalan struktur yang terjadi
diakibatkan oleh kesalahan pada pelaksanaan konstruksi. Beberapa kesalahan yang terjadi
adalah :

1. Pengerjaan di lapangan tidak mengikuti perencanaan dan aturan yang ada. Hal ini terlihat
dari terdapat beberapa kolom yang memiliki kuat tekan hasil Hammer Test yang sangat jauh
dari nilai rata-rata. Pada bagian yang pengerjaannya tidak baik menghasilkan mutu beton yang
yang tidak baik pula sehingga menyebabkan terjadinya kegagalan struktur.

2. Tulangan geser/ sengkang/ beugel yang dipasang pada kenyataannya tidak mengikuti
perencanaan dan aturan yang ada. bahkan untuk beberapa bagian, jarak sengkang yang satu
dengan yang lain sangat jauh. Sehingga pada bagian tersebut tidak mampu menahan beban
geser yang bekerja padanya.

3. Kesalahan pada poin satu dan poin dua menunjukkan tidak adanya pengawasan yang baik
selama proses konstruksi berlangsung.

4. Kerusakan Bangunan Hotel Bumi Minang Akibat Gempa Padang 30 September 2009
Bangunan Hotel Bumi Minang merupakan bangunan bertingkat tertinggi di kota Padang yang
mengalami kerusakan akibat Gempabumi 7,6 SR tanggal 30 September 2009 yang berpusat di
laut 100 km dari kota Padang. Survey untuk mendata kerusakan yang terjadi pada bangunan
dilakukan beberapa hari setelah terjadinya gempa. Makalah ini mengungkapkan penyebab
kerusakan serta rekomendasi perbaikannya. Berdasarkan hasil observasi lapangan, diketahui
beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan. Untuk mengetahui penyebab kerusakan,
analisis ulang terhadap perilaku struktur akibat gempa selanjutnya dilakukan dengan
menggunakan simulasi numerik. Kompilasi terhadap hasil survey dan analisis struktur
menunjukkan bahwa kerusakan pada bangunan terutama diakibatkan oleh bentuk denah
bangunan yang tidak simetris. Selanjutnya simulasi numerik untuk menganalisis tindakan
perbaikan juga dilakukan. Hasil studi menunjukkan bahwa bangunan ini secara umum dapat
diperbaiki dengan beberapa opsi tindakan yaitu merubah bentuk denah bangunan, memperkuat
dengan tambahan dinding geser pada beberapa bagian bangunan dan tindakan kombinasi.

Investigasi lapangan terhadap bangunan Hotel Bumi Minang menunjukkan bahwa bangunan
ini mengalami kerusakan berat baik pada bagian struktur maupun non struktur. Kerusakan ini
terutama terjadi pada bagian tengah bangunan. Bentuk denah bangunan yang tidak simetris
merupakan satu hal yang dapat menimbulkan konsentrasi tegangan akibat beban dinamis yang
bekerja pada bangian tengah bangunan.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa elemen bangunan (terutama kolom) mempunyai kapasitas
lebih kecil dibanding beban yang bekerja. Dengan penambahan dinding geser pada sebagian
bangunan tengah, maka beban kerja pada bagian ini berkurang sehingga kapasitas penampang
yang ada dapat menahan gaya-gaya dalam yang bekerja. Sedangkan penambahan lebih dinding
geser pada bagian tengah-atas maupun di samping kiri dan kanan bangunan, memberikan
respon berupa gaya dalam yang lebih kecil pada model bangunan. Studi ini menunjukkan
pentingnya dinding geser dalam meminimalkan respon bangunan terhadap beban dinamik.
5. Gempa Di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2004

Di propinsi Nusa Tenggaran Barat pada awal bulan Januari 2004 masyarakat dikejutkan dengan
dengan terjadinya gempa bumi tektonik berskala 6,2 SR yang berpusat di selat Lombok
berjarak sekitar 64 km dari pulau Lombok, dan kejadian ini mengguncang sebagian wilayah
pulau Bali. Getaran gempa ini dirasakan di empat kabupaten/kota di pulau Lombok, yaitu
kabupaten kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah dan
mengakibatkan kerusakan bangunan gedung fasilitas sosial maupun fasilitas umum seperti
masjid, sekolah, puskesmas, rumah sakit, rumah tinggal, hotel, dan fasilitas lainnya dengan
tingkat kerusakan yang bervariasi.

Data identifikasi kerusakan akibat bencana alam gempa bumi yang dikeluarkan oleh Dinas
Kimpraswil Nusa Tenggara Barat, Dinas Sosial serta Satkorlak Bencana Alam, bahwa tingkat
kerusakan bangunan rumah berjumlah 4831 unit, dengan rincian rusak berat dengan jumlah
567 unit, rusak sedang berjumlah 906 unit, dan rusak ringan dengan jumlah 3308 unit.

Berdasarkan pengamatan dari berbagai foto yang dapat dihimpun maka kerusakan rumah,
disamping akibat gempa, juga berkaitan dengan cara membangun dan kualitas cara
pengerjaannya, khususnya bangunan yang dibangun sekitar tahun 1960-an hingga 1980-an.
Struktur bangunan rata-rata menggunakan dinding bata sebagai dinding pemikul, tanpa
menggunakan kerangka beton. Beberapa rumah yang dipadukan dengan kolom kayu
kerusakannya tidak membuat bangunan runtuh seluruhnya. Faktor lain yang turut
mempengaruhi tingkat kerusakan adalah bahan perekat bata (spesi) yang merupakan campuran
dari pasir, gamping dan bata merah tumbuk, dimana bahan ini lebih rapuh dari semen.

Disamping gempanya sendiri, faktor penyebab lain penyebab kerusakan bangunan adalah
struktur tanah (pada umumnya tanah lempung). Pada beberapa bangunan, khususnya yang
dibangun dengan sudah menerapkan kerangka beton, menunjukkan lebih tahan terhadap gempa
daripada bangunan lainnya. Namun dari pengamatan bangunan yang mengalami kerusakan
disebabkan oleh faktor kualitas pelaksanaan yang mempengaruhi kekuatan bangunan. Secara
visual nampak pada ukuran kerangka beton dan bentuknya, perlakuan dan pengolahan besi
baja, serta campuran semennya.

Bangunan rumah yang mengalami rusak berat dan sedang, lebih banyak terjadi di daerah
pedesaan dengan struktur bangunan yang sederhana sehingga tidak dapat menahan beban
gempa bumi yang diterima. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor perencanaan
dan faktor pelaksanaan monstruksi.

Di beberapa lokasi dimana sistem dindingnya dibuat tanpa rangka pengikat yang lengkap dan
memadai, sistem dinding terlihat mengalami kerusakan yang parah, dan bahkan mengalami
keruntuhan total. Keruntuhan dinding seperti ini dapat membahayakan penghuni gedung serta
lingkungan di sekitarnya, dan juga dapat membahayakan sistem struktur gedung itu sendiri
bilamana keruntuhan terjadi secara tiba-tiba. Keruntuhan dinding yang sifatnya tiba-tiba dapat
menyebabkan terjadinya pengalihan gaya total yang tadinya diterima dinding ke sistem portal
di sekitarnya. Hal ini dapat memicu terjadinya keruntuhan pada sistem portal di sekitar dinding
yang runtuh tersebut.

Selain itu, di lapangan banyak dijumpai kondisi dimana dinding pengisinya lepas sama sekali
dari rangka pengikatnya atau sistem rangkanya, yaitu balok dan kolom praktis, yang ternyata
terlepas dari rangka utama bangunan. Bentuk-bentuk kegagalan seperti ini lebih banyak
disebabkan oleh kualitas pengerjaan yang kurang baik atau sistem angkur balok dan kolom
praktis yang ternyata kurang sempurna. Di lain pihak, struktur-struktur bangunan dengan
dinding penyekat/pengisi yang diberi rangka pengikat yang lengkap dan memadai pada
umumnya menghasilkan kinerja yang baik selama gempa, dengan tingkat kerusakan yang tidak
signifikan, baik pada elemen non-struktural maupun elemen strukturalnya.
6. Kerusakan Kantor Gubernur Sulawesi Barat akibat gempa di Mamuju dan Majene
tahun 2021

Pada tanggal 14 – 15 Januari 2021 terjadi 2 gempa besar di Sulawesi Barat dalam waktu yang
berdekatan (M=5.7 dan M=6.2) Gempa tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada
bangunan dan infrastruktur publik Direktorat Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya
Kemen PUPR menugaskan tenaga ahli untuk melakukan survey terhadap kondisi kegempaan
dan beberapa bangunan gedung publik. Kerusakan pada Kantor Gubernur Sulawesi Barat ini
di karenakan lokasi bangunan berada di jalur gempa. Bangunan ini mengalami desain soft
storey effect moda keruntuhan yang diakibatkan oleh perbedaan kekakuan tingkat yang besar
antar lantai bangunan. Biasanya terjadidi lantai dasar yang relatif “kosong”, dan lantai
diatasnya yang terpasang dinding masif. Penggunaan material berat bata merah 1 bata dengan
plaster tebal di bagian atas bangunan dan komponen baja mengalami instabilitas atau keadaan
tidak stabil.

7. Kerusakan SDN 4 Mekkata Majene akibat gempa di Mamuju dan Majene tahun 2021
Kerusakan pada SDN 4 Mekkata Majene di akibatkan adanya konstruksi yang mencampur
struktur beton, struktur kayu , bata merah dan batako. Di sisi lain komponen struktur bangunan
ini tidak memenuhi persyaratan teknis bisa dilihat dari desain perkuatan, sambungan dan
material terutama kolom praktis dinding yang tulangannya hanya 1 buah. Dan pada bangunan
ini menggunakan sengkang polos, jarak jarang dan detail sambungan tidak baik. Bentang
bangunan yang cukup besar mengakibatkan rangka plafon tidak kuat menahan gempa vertical,
lalu hubungan antara bahan sopi sopi berat, kolom praktis dan struktur baja nya tidak baik
Perlu redesain konstruksi sopi sopi ndenga bahan yang lebih ringan, bangunan harus
direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku.

8. Kerusakan Rumah akibat Gempa di Daerah Malang tahun 2021

Pada hari Sabtu, 10 April 2021 terjadi gempa di daerah Malang, Jawa Timur dengan
Magnitudo 6,7. Akibat bencana alam tersebut mengakibatkan 1.361 rumah rusak ringan, 845
rumah rusak sedang, dan 642 rumah rusak berat. Sebanyak 115 orang menjadi korban akibat
gempa bumi tersebut. Dari hasil di lapangan, banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak
memenuhi persyaratan tahan gempa. Salah satu contohnya ialah bangunan tidak
menggunakan struktur kolom.

Kondisi topografi daerah bangunan yang berupa lereng lembah yang tersusun oleh tanah atau
batuan dengan klasifikasi kerapatan tanah (densitas) sedang juga berperan pada terjadinya
kerusakan pada struktur rumah. Dan terakhir keempat, adalah jarak rumah terhadap pusat
gempa tergolong dekat. Hal ini menyebabkan banyaknya warga yang terluka akibat bangunan
rumahnya, bukan akibat gempanya. Diperlukan pengecekan pada daerah yang banyak
terdampak gempa, apakah bangunan yang berdiri sudah sesuai dan memenuhi struktur tahan
gempa. Salah satu caranya ialah membangun kolom pada saat membangun rumah, serta
mencoba relokasi rumah ke daerah yang lebih aman.

9. Kerusakan Bangunan Akibat Gempa Padang Pariaman Sumatera Barat

Gempa terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatra Barat pada tanggal
30 September 2009. Sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini, korban luka berat
mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448
rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak ringan. Jenis
kerusakan bangunan yang ditimbulkannya bervariasi, mulai dari kerusakan ringan, kerusakan
sedang dan kerusakan berat.

Kerusakan pada struktur bangunan disebabkan berbagai factor, seperti kondisi tanah.
Karakteristik goncangan gempa juga dipengaruhi oleh jenis lapisan tanah yang mendukung
bangunan. Faktor lain terjadinya kerusakan struktur adalah kualitas bahan dan cara
pengerjaan konstruksinya.

Pada salah satu bangunan, struktur mengalami kerusakan parah. Dinding pemikul beban
terbelah serta runtuh, lalu adanya kegagalan unsur-unsur pengikat berakibat pada terpisahnya
komponen-komponen struktur, sekitar 50% elemen struktur utama rusak, bangunan menjadi
sangat berbahaya, dan tidak layak ditinggali.
Untuk perbaikan, bangunan harus dirobohkan, lalu diperlukan tindakan restorasi serta
perkuatan struktur secara menyeluruh, sebelum bangunan dapat ditinggali Kembali.

10. Kerusakan Bangunan Akibat Gempa Bumi Yogyakarta 2006

Salah satu kejadian gempa bumi yang mengakibatkan korban yang cukup besar adalah
peristiwa gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta
dan Jawa Tengah. Gempa bumi sendiri tidak mengakibatkan korban jiwa, namun penyebab
banyak jumlah korban jiwa adalah bangunan yang runtuh karena bangunan yang digunakan
masih banyak yang tidak sesuai dengan pedoman rumah tahan gempa. Berdasarkan survei
yang dilakukan, faktor yang paling mempengaruhi kerusakan bangunan akibat gempa bumi
yaitu faktor bahan induk.

Pada bangunan yang mengalami kerusakan parah, muncul banyak celah di bagian banyak
dinding, bagian dinding ada yang hancur, bagian-bagian bangunannya ada yang terlepas
(contoh : kolom lepas dari balok dan fondasinya). Solusi perbaikan, bangunan harus
dikosongkan, pertimbangan perbaikan atau dirobohkan sangat tergantung dari nilai
bangunannya, bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya diusahakan untuk diperbaiki
dengan mempertimbangkan dan melibatkan tenaga ahli.