Anda di halaman 1dari 22

PANDANGAN TENTANG AKHIR ZAMAN DALAM SURAT DOGMATIS

(GALATIA, ROMA, 1 KORINTUS, 2 KORINTUS)

MAKALAH

DI SUSUN OLEH:

TOMI BUDIANTO SAPUTRA SIBARANI

20198624

DOSEN PENGAMPUH:

RUDY ROBERTO WALEAN, M.TH.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

STT MAWAR SARON LAMPUNG

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena dengan rahmatnya
dan karunia-Nya sehingga saya boleh membuat dan menyelesaikan makalah ini dengan
baik, ini semua karena tuntunan dan penyertaan Tuhan Yesus Kristus.
Makalah ini saya buat dengan tujuan agar dapat memenuhi tugas mata kuliah
Teologi Perjanjian Baru dan juga agar pembaca dapat lebih memahami, mengerti dan
menambah ilmu pengetahuan tentang pemahaman akhir zaman yang saya sajikan dari
sumber buku, internet, jurnal dan pemikiran saya sendiri.
Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca ataupun pendengar. Mudah-mudahan
dapat memberikan atau menambah wawasan yang lebih lagi. Meskipun makalah ini
mempunyai kekurangan dan kelebihan, sebelumnya saya minta maaf dan saya juga
memohon kritik dan saran dari Bapak Rudy Roberto Walean, M.Th selaku dosen
pengampuh Teologi Perjanjian Baru ataupun pendengarnya. Terima Kasih Tuhan Yesus
Memberkati.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang…………………………………………………………………………
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………...

BAB II. PEMBAHASAN

A. Surat Galatia…………………………………………………………………………..
B. Surat Roma……………………………………………………………………………
C. Surat 1 Korintus……………………………………………………………………….
D. Surat 2 Korintus……………………………………………………………………….

BAB III. PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………………………...
B. Saran………………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………...
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Akhir zaman adalah saat terakhir ketika segala zaman berakhir karena penyelamatan
Allah akan langit, bumi dan segenap isinya telah di genapi. Setelah akhir zaman itu, Allah
akan hadir dan memerintah manusia sebagai Raja dalam langit dan bumi baru dengan diawali
kedatangan Kristus yang kedua kali. Kerajaan Allah itulah yang diproklamasikan Yesus
Kristus pada kedatanganNya yang kedua kali, dengan mengundang pertobatan manusia,
menjadi awal dari zaman akhir.
Pada zaman akhir perwujudan penyelamatan Allah terhadap dunia dan isinya itu,
sudah dimulai dengan kebangkitan Kristus, sedang berlangsung dalam pertolongan Roh
Kudus dan akan mencapai kepenuhannya menurut waktu Allah Bapa pad zaman akhir.
Alkitab menyaksikan bahwa pada akhir zaman itu Kristus akan datang untuk menghakimi
orang yang hidup dan yang mati Kerajaan itu baru menjadi penuh pada saat kejadian segala
yang ada mengaku Yesus Kristus adlah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa. Saat kepenuhan
itu telah dijanjikan secara pasti oleh Allah Bapa, malaikat-malaikat di sorga pun tidak tahu,
Anak pun tidak, hanya Bapa sehingga kita wajib berjaga-jaga dan bersiap-siap
menantikannya.
Yang terpenting ialah bahwa pada akhir zaman dalam zaman akhir itu terwujudlah
kerajaan Allah secara penu, sebagai kuasa dan pemerintahan Allah yang menyelamatkan,
yang tampil dalam hidup yang sarat kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, sukacita,
pemulihan dan pembaruan hidup. Sebagai warga kerajaan Allah, orang-orang percaya tahan
uji di dalam menghadapi segala tantangan, penganiaayaan, penderitaan, karena pengharapan
di dalam Yesus Kristus sebagai pusat dari zaman akhir dan akhir zaman, dengan
memberlakukan hidup yang dipimpin oleh Roh Allah yang kudus, dengan membuahkan
kasih, sukacita, damai sejahtera, keadilan dan kebenran.
B. Rumusan Masalah
1. Kenapa akhir zaman selalu dihubungakan dengan kedatangan Yesus Kristsu?
2. Kenapa Yesus Kristus datang ke dua kali?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Galatia

Surat Rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Galatia adalah salah satu surat yang
ppaling penting. Kadangkala surat ini dipandang sebagai “Magna Carta Orang Kristen” atau
“Piagam Tentang Jaminan Kebebasan Orang Kristen”. Nama julukan ini diberikan karena
surat Galatia ditulis dengan Bahasa yang jelas, penuh perasaan dan bersifat pribadi. Pada
intinya surat ini membahas masalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah menjadi
baik kembali, sehingga manusia menjadi orang bebas atau merdeka dari kewajiban untuk
mengikuti hukum Musa supaya bisa hidup mengikuti kehendak Allah.

Mengapa Paulus menuliskan surat ini? Salah satu alasannya berkaitan dengan situasi
yang dihadapi oleh orang-orang Kristen yang tinggal di Galatia adalah orang-orang yang
bukan Yahudi. Oleh sebab itu mereka tidak tahu bagaimana seharusnya sikap mereka
terhadap hukum-hukum agama Yahudi, sementara banyak orang Yahudi Kristen yang
berusaha terus memelihara beberapa peraturan hukum agama Yahudi.

Menghadapi masalah ini Paulu tidak menulis suatu buku pedoman yang kaku
mengenai teologi, melainkan ia menulis surat yang sangat pribadi. Sebab, ia menganal orang-
orang Kristen di daerah Galatia secara pribadi pula. Ia telah membangun jemaat-jemaat
disana, dan menurut suatu tafsiran ia sempat mengunjungi mereka lebih dari satu kali.

Kepedulian Paulus jelas, yaitu ia ingin orang-orang Kristen di daerah Galatia tetap
setia kepada isi kabar baik yang mereka terima dari dia dan ia ingin mereka tetap Bersatu
dengan Kristus, dan oleh karena itu tetap bebas dalam menjalankan kehidupan yang taat
kepada pimpinan Roh Kudus.1

 Tempat dan Tahun Penulisan Surat Galatia

1
Daniel C. Arichea Jr., Eugene A. Nida, Surat Paulus Kepada Jemaat di Galatia, Jakarta: Yayasan
Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2011. Hal. 1
Paulus mungkin menuliskan suratnya kepada jemaat di Galatia saat melakukan perjalanan
melalui Makedonia selama perjalanan ketiga misionarisnya sekitar 55–57 M.2

 Pandangan Surat Galatia Tentang Akhir Zaman

Galatia 6:7-9

(TB) Ayat 7. jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena
apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (BIMK) Janganlah tertipu. Allah tidak
bisa dipermainkan! Apa yang ditanam, itulah yang dituai.

jangan sesat! Terjemahan harifiah dari Bahasa Yunaninya ialah janganlah tertipu. Ini
adalah sebuah ungkapan pasif. Apakaha maksudnya jangan tertipu oleh guru-guru palsu?
Namun melihat konteksnya lebih baik diterjemahkan menjadi janganlah menipu diri sendiri.

Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan: ungkapan ini menekankan bahwa


Allah tidak bisa disamakan dengan manusia, dan Ia tidak bisa diolok-olokan atau
diremehkan.

Karena apa yang di tabur orang: kalau kiasan ini mau diganti dengan ungkapan
biasa, maka dapat diterjemahkan menjadi, apa yang dilakukan orang di dalam hidupnya.

Itu juga yang akan dituinya: ungkapan ini berarti jawaban Allah terhadap perbuatan
seseorang, atau keputusan Allah atas perbuatan seseorang pada waktu pengadilan hari
terakhir. Bagian terakhir dari ayat ini dapat juga diterjemahkan menjadi jenis benih yang
ditanam orang, jenis itu jugalah yang akan dituainya atau orang akan menuai sesuai dengan
benih yang ditaburnya. Dalam beberapa Bahasa, metafora ini dapat diterjemahkan dengan
memberikan artinya, misalnya orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang telah
dilakukannya dalam kehidupannya, atau Allah akan membalas orang sesuai dengan apa
yang ia lakukan dalam hidupnya.

Oleh sebab itu janganlah menipu diri sendiri. Allah tidak membiarkan diri-Nya
diremehkan. Seperti seorang petani akan menuai hasil yang persis sama dengan apa yang ia
tanam, Allah akan memberi upah kepada seseorang sesuai dengan apa yang ia telah lakukan.

(TB) Ayat 8. Sebab barang siapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai
kebinasaan dari dagingnya, tetapi barang siapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup
yang kekal dari Roh itu. (BIMK) kalau orang menanam menurut tabiat manusianya, ia akan
2
https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/new-testament-seminary-teacher-
manual/introduction-to-the-epistle-of-paul-to-the-galatians?lang=ind
menuai kematian dari tabiat itu. Tetapi kalau ia menanam menurut pimpinan Roh Allah, ia
akan menuai hidup sejati dan kekal dari Roh Allah.

Kebiasan dan hidup yang kekal: kiasan dari ayat 7 dilanjutkan dalam ayat ini, tetapi
dengan sedikit perubahan. Dalam ayat ini perhatian ditujukan kepada tanah tempat benih
ditabur, bukan kepada benihnya. “Daging” dan “Roh” adalah dua jenis tanah yang
menghasilkan dua jenis hasil tuaian yang berbeda, yaitu kebinasaan dan hidup yang kekal.

Dagingnya: masalah “daging” (dan “roh”) telah dicarakan di dalam Galatia 5:16-26.
Walaupun ada sedikit perbedaan pemakaian istilah-istilah itu di kedua perikop tersebut,
kebanyakan para penafsir berpendapat bahwa arti “daging” dan “roh” dalam kedua perikop
itu sama saja. Apa bila diperluakan, penerjemahan dapat mengubah bentuk kiasan menjadi
ibarat (*), misalnya, “kalau orang menuruti tabiat manusianya yang buruk, maka ibarat
orang menanam benih, ia akan menusia kebinasaan. Ini berkenanan dosa-dosa yang disebut
sebelumnya, seperti saling menggit dan saling menelan (5:15), gila hormat (5:26), saling
mendengki (5:26), sombong (6:3) yang diakibatkan penyalahgunaan kebebasan Kristen. Hal
itu dapat dimaksudkan ke dalam cacatan kaki, kalau dirasa perlu.

Kebinasaan: istilah ini tidak hanya menunjuk kepada kebusukan tingkah laku dan
rohani tetapi juga kematian secara umum, sehingga kata “kebiasaan” dapat diganti menjadi
“kematian”. KSI menerjemahkan ayat ini sbb: “sebab itu orang yang menabur untuk
memuaskan keinginan duniawi yang ada di dalam dirinya akan menuai kebinasaan dari
keinginan duniawinya itu. Seballiknya, orang yang menabur untuk memuaskan keinginan
Ruh akan menuai hidup yang kekal dari Ruh itu”.

Roh: kata ini sama seperti dalam 5:16, ialah Roh Allah. Jadi menabur dalam Roh
artinya mekakukan hal-hal atau hidup sesuai dengan bimbingan Roh sehingga menghasilkan
“buah Roh”, seperti yang terdapat pasal 5.

Hidup yang kekal: hasilnya ialah hidup yang kekal. Istilah ini sering dipakai dalam
Injil dan surat-surat Yohanes. Yang diutamakan bukan waktu yang tidak berakhir, tetapi mutu
kehidupan yang dihasilkan oleh Roh Allah.

Barangsiapa menabur dalam Roh: ungkapan ini adalah suatu ungkapan yang rumit.
Oleh karena itu perlu diperjelas hubungan antara bagian-bagiannya, misalnya, sebaliknya,
kalau orang-orang melakukan hal-hal atas pimpinan Roh Allah, maka seperti seorang petani
yang menabur benih, akan memperoleh hasil tuaian, yaitu hidup yang kekal, yang diberikan
oleh Roh Allah kepadanya.

(TB) Ayat 9: jenganlha kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang
waktunya, kita akan menuai, jika tidak menjadi lemah. (BIMK) sebab itu, janganlah kita
menjadi bosan melakukan hal-hal yang baik; sebab kalau tidak berhenti melakukan hal-hal
itu sekali kelak kita akan menuai hasilnya.

Terjemahan BIMK memulai ayat ini dengan kata-kata sebab itu. Kata-kata ini dengan
jelas menghubungkan ayat 9 dengan 8. Sebaiknya kita melakukan hal yang sama dalam
terjemahan kita.

Dalam ayat-ayat ini dan ayat-ayat berikutnya, Rasul Paulus memulai menunjukkan
hal-hal apa yang harus dilakukan sebagai tindak lanjut dari apa yang sudah dikatakan dalam
ayat 8.

Jemu dan menjadi lemah: kedua ungkapan ini hampir sama dengan arinya, yaitu
yang menyebabkan orang berhenti berusaha.

Jemu: kata ini berarti hilang minat atau tidak bersemangat lagi.

Menjadi lemah: ungkapan ini berarti berkurangnya usaha dalam mencapai suatu cita-
cita, sehingga dalam BIMK diterjemahkan menjadi berhenti melakukan usaha.

Baik: kata Yunani yang dipakai di ayat 9 dan 10 berbeda, namun ditermahkan ke
dalam Bahasa Indonesia dengan kata yang sama. Memang perbedaanya tidak usah
ditekankan, tetapi kalau mau dibedakan, berbuat baik dalam ayat 9 terutama ditunjukkan
untuk kebaikan diri sendiri, dan berbuat baik dalam ayat 10, teruma ditunjukkan kepada
orang lain.

Apa bila sudah datang waktunya (BIMK sekali kelak): ungkapan ini menunjuka ke
masa depan, yaitu ke waktu kedatangan Tuhan Yesus, yaitu akhir zaman. Penerjemah dapat
juga membuatnya dengan ungkapan lain, misalnya, waktunya akan tiba atau nanti Ketika
harinya sudah tiba.

Susunan kalimat dalam TB persis dalam dengan Bahasa Yunaninya. BIMK


menyusunya berdasarkan pokok pikiran seperti diterangkan di atas. Kita dapat Menyusun
kalimat terjemahannya sesaui dengan susunan kalimat yang wajar atau lazim dalam Bahasa
sasaran, apakah menurut BIMK, TB atau susunan lain yang wajar atau lazim.
Kita akan menuai: ungkapan ini haruslah diartikan sebagai hasil yang baik. Ini dapat
juga diungkapkan menjadi kita akan menuai hasil yang baik. Dalam beberapa Bahasa dapat
dikatakan, kalau kita terus melakukan yang baik, pada waktunya kita akan memperoleh hasil
yang baik dari perbuatan-perbuatan kita yang baik itu.3

B. Surat Roma

Memang pernah ada perbedaan mengenai identitas penulis surat Roma. Para pakar
teologi liberal berusaha meyakinkan pendapat mereka bahwa Rasul Paulus tidak menulis
surat Roma, tetapi perdebatan tersebut sudah dapat diselesaikan, dan hampir semua sepakat
untuk mengakui Rasul Paulus sebagai penulis surat Roma. Rasul Paulus disebut sebagai
penulis di dalam Roma 1:1, dan banyak hal yang dikatakan oleh penulis surat ini cocok
dengan apa yang dikatakan mengenai Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat
lain. Menurut Roma 11:1 dan Filipi 3:5 ia berasal dari suku Benyamin. Menurut Roma 16:3
dan Kisah Para Rasul 18:2-3, 18-19 ia mengenal Priska (Priskila) dan Akwila. Menurut Roma
1:10-15; 15:22-32; dan Kisah Para Rasul 19:21 Rasul Paulus rindu mengunjungi orang-orang
percaya di Roma. Kesamaan-kesamaan ini menjadi bukti yang kuat terhadap apa yang telah
dinyatakan oleh Roma 1:1, yaitu bahwa Rasul Paulus adalah pengarang dari surat ini.

 Tempat dan Tahun Penulisan Surat Roma

Menurut Kisah Para Rasul 20:2-3 Paulus berada di tanah Yunani selama tiga bulan.
Barangkali pada waktu itu ia berada di Korintus (ibu kota Propinsi) atau Kengkrea, dan di
situ ia mengusun surat Roma. Tahun penulisannya masih agak sulit untuk ditentukan.
Menurut Cranfield, surat ini pasti ditulis antara akhir tahun 54 sampai awal tahun 59, dan
kemungkinan besar antara tahun 55 sampai awal tahun 57.4

 Pandangan Surat Roma Tentang Akhir Zaman

Roma 2:5

Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas
dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.

Jadi, sikap mereka yang menghasilkan “murka”, dan bukan pengampunan karena
mereka “tidak mau bertobat”. “kata menimbun” berarti “menyimpan”. Istilah ini bernada
ironis karena biasanya kiasan ini dipakai untuk hal-hal yang dihargai, seperti di dalam Amsal

3
Daniel C. Arichea Jr., Eugene A. Nida, Op. cit, hal. 160
4
Dave Hagelberg, Tafsiran Roma, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998. Hal 4
1:19, Matius 6:20, dan Tobit 4:9. “pada hari” hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.
Mulai disini sampai dngan pasal 2:11 Paulus menggambarkan hari itu dimana Allah akan
membalas perbuatan manusia. Hukuman Allah adil, tidak seperti hukuman manusia yang
diceritakan dalam bagian ini.5

Dalam Roma 2:5 ini juga menceriatakan pada masa penghakiman aka nada juga
pengangkatan yang dimana Yesus Kristus yang telah naik ke Surga akan datang lagi ke bumi
yang ke dua kalinya untuk memisahkan orang percaya yang benar-benar taat kepada Allah
dan juga orang yang tidak percaya kepada Allah, dan disitulah murka Allah akan dinyatakan
pada saat mereka yang tidak percaya akan dibuang ke dalam nereka bersama-sama dengan
Iblis.

C. 1 Korintus

Ada kemungkinan besar bahwa Surat Korintus yang pertama ini dituis untuk
membalas surat dari jemaat Korintus itu sendiri (1 Korintus 7:1). Rasul Paulus menulis surat
ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi di jemaat di Korintus, untuk
menjwab semua perlawanan guru-guru palsu yang mengacau jemaat itu dan yang menentang
hak kerasulan Paulus. Kesalaan pertama ialah bahwa dalam jemaat itu telah terjadi
pertengkaran dan perpecahan; mereka menggolong-golongkan diri mereka. Kesalahan kedua
yang hendak diperbaiki Paulus ialah bahwa jemaat Korintus tidak menjalankan ketertiban
dalam jemaat sebagaimana yang seharusnya. Kesalahan ketiga ialah bahwa mereka suka
mencari-cari perkara dan saling mengadu di hadapan pengadilan orang kafir, dan Paulus
sangat menentang perbuatan mereka itu. Kesalahan keempat ialah bahwa mereka
menghalalkan segala sesuatu. Kesalahan kelima yang hendak dijelaskan Paulus kepada
mereka ialah mengenai pertanyaan mereka apakah setiap orang wajib menikah, dan bolehkan
seseorang menceraikan pasangannya yang kafir, atau bolehkah ia tetap dalam pernikahannya
seperti itu. Kesalahan keenam ialah bahwa jemaat Korintus membiarkan diri mereka
dikelilingi oleh penyembahan berhala dan adat istiadat yang berhubungan dengan hal itu.
Kesalaha ketujuh ialah yang berhubungan dengan kebaktian umum. Kesalahan kedelapan
ialah bahwa ada beberapa orang dalam jemaat Korintus yang menolak kebangkitan tubuh
Tuhan Yesus.6

 Tempat dan Tahun Penulisan Surat 1 Korintus


5
Dave Hagelberg, Op. Cit. Hal. 42
6
J. Wesley Brill, Surat Korintus, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003.hal 15
Kita tahu bahwa Rasul Paulus menulis surat ini Ketika ia berada di Efesus (1 Korintus
16:8). Kita tahu bahwa waktu itu menjelang hari raya Pentakosta. Hanya kita tidak tahu
dengan tepat kapan surat ini ditulis. Kita juga tahu bahwa surat ini ditulis dalam tahun yang
ketiga waktu Paulus tinggal di Efesus. Ada di antara para penafsir yang mengatakan bahwa
surat ini ditulis pada tahun 54 atau 55, ada pula yang mengatakan pada tahun 57 atau 58. Kita
tidak tahu dengan pasti mana yang benar, tetapi dugaan kita ialah bahwa surat ini ditulis kira-
kira pada tahun 56 atau 57.7

 Pandangan Surat 1 Korintus tentang akhir zaman

1 Korintus 1:7-8

(TB) ayat 7. Demikianlah kamu tidak kekuranan dalam satu karuniapun sementara
kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. (BIMK) sehingga kalian tidak
kekurangan satu berkat pun, sementara kalian menunggu Tuhan kita Yesus Kristus datang
dan dilihat oleh semua orang.

Dalam naskah Yunaninya, ayat 6 dan 7 merupakan suatu kalimat, seperti diikuti oleh
BIMK. TB membuat ayat 7 ini sebagai kalimat tersendiri (sedangkan ayat 6 dijadikan satu
kalimat dengan ayat 5). Dalam banyak Bahasa mungkin juga lebih wajar kalau ayat 7 ini
dibuat sebagai kalimat tersendiri. Jadi kita dapat memulai ayat ini dengan kata-kata dengan
demikian, kalian, atau:akibatnya, kalian.

Kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun: arti ungkapan ini sulit dipastikan.
Ada beberapa kemungkinan, antara lain.

a. Tidak ada berkat Allah yang tidak kalian punyai (atau setiap berkat Allah, kalian
punya)
b. Berkat-berkat dari Allah yang kalian punyai tidak ada yang kurang dibandingkan
berkat lainnya (atau kalian punya cukup berkat dari Allah).

Artinya (a) tampaknya paling tepat. Arti (b) agak kurang tepat, meski tidak begitu
berbeda dari (a). TB dan BIMK tanpaknya mengikuti tafsiran (a). dalam beberapa Bahasa
ungkapan ini lebih baik diungkapkan secara positif, misalnya: kalian telah memperoleh
semua berkat dari Allah, atau: Allah telah memberikan semua berkat kepada kalian, atau
seperti telah disebutkan di atas: setiap berkat Allah, kalian punya.
7
J. Wesley Brill, Op. Cit. hal. 19
Karunia: kata Yunani yang diterjemahkan karunia atau berkat berarti pemberian
khusus dari Allah yang Ia berikan dengan Cuma-Cuma. Kata tersebut berasal dari kata dasar
yang sama dengan “kasih karunia” (TB) atau “anugerah” (TB2). Sebuah terjemahan
berusaha memperjelas pengertian ini dengan mengungkapkannya sebagai berkat-berkat yang
diberikan oleh Roh Allah. Karena itu, bagian pertama ayat ini dapat diterjemahkan menjadi
“sebagai akibatnya, maka kalian telah mendapatkan setiap pemberian yang dikaruniakan
oleh Roh Allah, atau: sebagai akibatnya, maka kalian telah menerima semua berkat rohani.

Sementara kamu menantikan: kata-kata ini menunjukkan bahwa di sini Paulus tidak
berbicara lagi menganai hal-hal yang telah Kristus lakukan bagi jemaat Kristen, tetapi mulai
berbicara menganai hal-hal yang akan Dia lakukan.

Menantikan: kata ini di sini diterjemahkan dari kata, yang bukan berarti menunggu
tanpa melakukan sesuatu pun, melainkan menunjukkan sikap menunggu dengan disertai
harapan yang sungguh-sungguh. Suatu terjemahan mencoba menunjukkan perintah ini
dengan mengungkapkannya sebagai menunggu dengan penuh harapan. Beberapa tafsiran
menyebutkan menanti dengan sabar dan setia. Bahasa tertentu menggunakan kiasan seperti:
sewaktu kalian mengarahkan wajah dan mata untuk menanti.

Penyataan: kata ini diterjemahkan dari kata yang sering digunakan berkaitan dengan
akhir zaman. Penyataan merupakan peristiwa atau perbuatan dan mungkin perlu
diterjemahkan sebagai kata kata kerja dalam Bahasa tertentu, seperti dalam BIMK: datang
dan dilihat oleh semua orang. atau datang dan semua orang melihat-Nya. Dalam beberapa
bahasa, penerjemahan mungkin perlu menunjukkan bahwa Paulus mengajarkan bahwa Yesus
datang kembali ke dunia untuk mengahakimi setiap orang. Untuk itu, kita dapat mengatakan
sementara kalian menunggu Yesus Kristus datang mengatakan diri. Namun beberapa
penerjemah menganggap bahwa Allahlah yang membuat Kristus datang dan dilihat oleh
orang-orang, sehingga menerjemahkannya menjadi sambil kalian menunggu Allah
menyatakan (atau menampakkan) Yesus Kristus, atau: Allah membuat Yesus Kristus datang
dan dilihat semua orang (semua orang melihat-Nya).

(TB) ayat 8. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga
kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (BIMK) Kristus sendiri akan
menjamin kalian sampai kepada akhirnya; supaya pada waktu Ia datang kembali, kalian
didapati tanpa cela.
Ia juga: Dalam naskah Yuananinya, ayat ini merupakan lanjutan dari ayat
sebelumnya. Namun, banyak terjemahan memulai kalimat baru di sini, seperti juga TB dan
BIMK. Ia di sini jelas berarti Yesus Kristus seperti yang disebutkan di akhir ayat 7. BIMK
menghilangkan kata “juga” mungkin karena dirasa janggal, mengingat ini merupakan
pertama kalinya dalam prikop ini Kristus disebut sebagai pelaku. Kata ini (juga) rupanya
menandai perubahan tersebut, sehingga bagian awal ayat ini dapat diterjemahkan menjadi
Kristus yang akan atau: Kristus sendirilah. Namun kata ini juga dapat menunjukkan bahwa
hal-hal yang telah Allah kerjakan melalui Kristus di masa lampau, Allah akan lanjutkan
melalui hal-hal yang akan Kristus lakukan kelak. Dengan demikia terjemahannya dapat
menjadi misalnya, Kristus akan terus menjaga.

Akan meneguhkan kamu: kata-kata ini diterjemahkan dari bentuk aktif (*) kata
kerja, yang di ayat 6 memakai bentuk pasif (*) “telah diteguhkan”. Suatu terjemahan
mengatakan, Dia akan menolong kalian tetap kokoh pada dasar ini sampai akhir. Dalam
beberapa bahasa, penerjemah mungkin perlu menjelaskan menganai “dasar” tempat orang
Kristen berpijak dengan kokoh. Ugkapan ini berarti bahwa orang Kristen tidak boleh
kehilangan iman kepada Kristus, apa pun ujian atau cobaan yang mereka alami. Kita dapat
menerjemahkan bagian awal ayat ini menjadi, Kristus pun akan menjaga kalian supaya tidak
kehilangan iman, atau: Yesus akan menolong kalian agar tetap percaya kepada-Nya.

Sampai kepada kesudahannya ataupun sampai pada akhirnya (BIMK)


menunjukkan tentang akhir zaman atau hari kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya.
Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sering juga disebut sebagai “hari penghakiman”.

Tak bercacat: kata-kata ini tidak berarti bahwa anggota-anggota jemaat Korintus
tidak akan berbuat salah sampai Yesus Kristus datang kembali. Yang dimaksud sebenarnya
ialah bahwa Kristus akan menjaga mereka supaya merek tidak murtad atau meninggalkan
atau menyangkal Dia, bahkan pada waktu mereka dianiaya, sehingga pada waktu
penghakiman terakhir Dia akan mengatakan bahwa mereka tidak bercela. Frasa ini juga
diterjemahkan, tidak bercela di hadapan Allah. Suatu terjemahan menggungkapkan
pengertian ini menjadi sehingga tidak ada yang dapat menuduh kalian (dengan alasan yang
sah).

Hari Tuhan: bagi Paulus, “hari Tuhan” bukan hanya menjadi hari penghakiman oleh
Allah, namun juga sekaligus menjadi hari kedatangan Kristus dengan penuh kemuliaan.
Seperti telah disebutkan di atas, “hari Tuhan” adalah hari kedatangan Yesus Kristus yang
kedua kalinya, sekaligus dimaksudkan juga sebagai hari penghakiman. Terjemahan sebaiknya
memakai istilah yang mencerminkan hal itu. Jangan sampai terjemahannya mengesankan
bahwa ada suatu hari khusus yang semata-mata merupakan milik Tuhan, sedangkan hari-hari
lainnya biasa-biasa saja. Jangan pula mengesankan bahwa “hari Tuhan” itu adalah hari
minggu.

Tuhan kita Yesus Kristus: kebanyakan terjemahan menggunakan Tuhan kita Yesus
Kristus seperti di ayat 7. BIMK yang sudah menyebutkan “Kristus” di ayat ini, hanya
menyebutkan “Ia” di bagian keduanya, tampaknya hanya untuk mengungkapkan itu dalam
Bahasa yang lebih wajar, dan tidak mengulang-ulang lagi. Suatu terjemahan hanya
menggunakan hari penghakiman oleh-Nya di bagian ini, karena dianggap sudah
menyebutkan “Tuhan kita Yesus Kristus” di ayat 7. Ungkapan “Tuhan kita Yesus Kristus”,
Tuhan yang memerintah kita atau: Tuhan yang kita sembah.8

1 KORINTUS 4:5

(TB) Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan
datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan ia akan
memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima
pujian dari Tuhan. (BIMK) sebab itu, kerena belum waktunya, janganlah kalian cepat-cepat
menentukan bahwa seseorang bersalah atau tidak. Tunggulah sampai Tuhan datang nanti.
Ialah yang akan membuka semua rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam kegelapan. Ialah
yang akan membongkar semua niat yang terpendam di dalam hati manusia. Pada waktu itu
barulah setiap orang menerima dari Allah pujian yang patut diterimanya.

Karena itu: kata-kata ini menunjukkan bahwa Paulus membuat kesimpulan


pembicaraanya disini. Bentuk kesimpulan itu bukanlah pernyataan, tetapi perintah (seperti di
3:21)

Menghakimi: kata di sini bukan berkaitan dengan pemeriksaan perkara oleh hakim,
tetapi berkaitan dengan putusan hakim pada akhir pemeriksaan perkara atau pengadilan
(seperti di Matius 7:1). Dalam beberapa Bahasa, penerjemah perlu menyebutkan siapa yang
dihakimi di sini. Misalnya “jangan menghakimi siapa pun, BIMK mengungkapkannya
menjadi menentukan seseorang bersalah atau tidak.

8
Paul Ellingworth, Howard Hatton, Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat Di Korintus, Jakarta:
Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2010, Hal. 15
Sebelum waktunya: kata-kata ini dalam beberapa Bahasa lebih tepat menjadi sebelum
waktunya yang tepat. Kata untuk waktu di sini berkaitan dengan waktu yang cocok atau
kesempatan yang tepat untuk terjadinya sesuatu. Di sini waktu yang cocok itu adalah waktu
Tuhan datang.

Tuhan: seperti di ayat 4 dan pada umunya dalam surat-surat Paulus Tuhan berarti
Kristus.

Akan menerangi: Tuhan akan menerangi menunjukkan bahwa hal itu dilakukan pada
masa mendatang. Karena itu, suatu terjemahan menambahkan keterangan bahwa “sekarang”,
hal-hal yang akan “diterangi-Nya” itu masih tersembunyi dalam kegelapan. Bagian ini bisa
juga diterjemahkan menjadi Dia akan mengeluarkan segala yang tersembunyi dalam gelap
dan membawanya ketempat yang terang, atau: Dia akan membawa rahasia-rahasia gelap
ketempat yang terang, atau: Ia akan mengungkapkan apa yang tersembunyi dalam
kegelapan.

Hati: di sini kata ini terutama berkaitan dengan kemampuan orang untuk berfikir dan
dengan kemauannya. Karena itu, kalau ada, penerjemah perlu memakai nama bagian tubuh
yang dalam bahasanya dipakai untuk menunjuk kepada pusat kegiatan berpikir dan
berkehendak.

Tiap-tiap orang, BIMK setiap orang: kata-kata ini, dapat juga diterjemahkan menjadi
masing-masing orang. Seperti dikatakannya di 3:8, Paulus berpendapat bahwa masing-
masing orang akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaanya sendiri.

Pujian: kata di sini tidak terlalu berbeda artinya dari “upah” di 3:14.

Pujian: merupakan hadiah yang akan Allah berikan pada waktu penghakiman
terakhir. Karena itu, pujian di sini dapat berarti “keputusan yang menyenangkan”. BIMK
menambahkan yang patut diterimanya setelah “pujian”, begitu juga VMD mengatakan
“kemudian Allah memberikan pujian kepada orang yang seharusnya menerimanya.
Memang, secara harifiah hanya dikatakan dan kemudian pujian aka nada pada masing-masing
Allah, namun tersirat (*) adalah “pujian sesuai dengan yang patut diterimanya”.

Dari Allah: dalam banyak bahasa, kata-kata terakhir dalam ayat ini dapat disusun
ulang dengan menggunakan kata kerja aktif dan menjadikan Allah pelaku, seperti dalam lalu
Allah akan memberikan pujian kepada setiap orang, yaitu yang patut mereka terima, atau:
memuji setiap orang sebagaimana yang pantas mereka terima.9

1 KORINTUS 15:52

(TB) dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan
berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa
dan kita semua akan diubah. (BIMK) hal itu akan terjadi tiba-tiba daam sekejap mata, pada
waktu trompet dibunyikan untuk terakhir kalinya. Sebab pada waktu terdengar bunyi trompet
itu, orang-orang mati akan dihidupkan kembali dengan tubuh yang abadi, dan kita semuanya
akan diubah.

Dalam sekejap mata: dalam naskah Yunaninya, sebelum dalam sekejap mata ada
frasa yang berarti “dalam sesaat, yaitu dalam kesatuan waktu yang sangat singkat, sehingga
tidak dapat dibagi lagi. BIMK menerjemahkannya sangat singkat, sehingga tidak dapat di
bagi lagi. BIMK menerjemahkannya secara tiba-tiba, sedangkan TB tidak menerjemahkannya
rupanya karena menganggap artinya sama dengan dalam sekejap mata. Sebagaimana terlihat
TB, ayat ini dalam naskah Yunaninya memang masih merupakan bagian dari kalimat yang di
mulai di ayat 51. Namun BIMK telah Menyusun ulang bagian ayat ini menjadi kalimat
lengkap tersendiri. Dengan manambahkan keterangan hal itu akan terjadi, berdasarkan
bagian akhir ayat 51.

Pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Kata-kata ini tidak menunjukkan siapa yang
membunyikannya atau pun siapa yang mendengar bunyinya. Kalau dalam Bahasa tertentu
penerjemah perlu menyebutkannya di sini, maka penerjemah dapat mengatakan pada waktu
orang mendengar bunyi trompet terakhir, atau: pada waktu malaikat Tuhan meniup trompet
terakhir, atau pun pada waktu ada yang meniup.

Nafiri: Kata ini merupakan terjemahan dari istilah Yunani, yang dalam Bahasa
Indonesia zaman sekarang mungkin kurang dimengerti. Sebab itu BIMK memilih padanan
kata yang lebih dikenal pada masa kini, yaitu trompet. Seperti di 14:8, ini adalah alat music
tiup seperti sangkakala untuk aba-aba bagi para tentara.

9
Paul Ellingworth, Howard Hatton, Op. Cit, Hal 99
Orang-orang mati akan dibangkitkan: kata-kata ini dapat juga diterjemahkan
menjadi Allah akan menghidupkan kembali orang-orang mati, atau: Allah akan membuat
orang mati menjadi hidup kembali.

Dalam keadaan yang tidak dapat binasa: kata-kata ini merupakan lawan dari
keadaan yang dikatakan “bisa busuk” (BIMK) di ayat 42. Kata Yunaninya jelas menyiratkan
bahwa orang mati tidak akan mati lagi, dan memang juga tidak akan mati lagi. Untuk
menunjukkan hal ini, penerjemah bisa mengatakan: memberikan mereka tubuh yang abadi.

Kita semua akan di ubah: kata-kata Yunani yang di pakai disini berbeda dengan
kata-kata Yunani yang dipakai pada akhir ayat 51. Di akhir ayat 51 ada kata Yunani pantes,
yang berarti semuanya sedangkan diakhir ayat 52 ada kata Yunani hemeis, yang berarti kita
(tanpa ada kata semua). Dengan demikian kita semua akan di ubah pada akhir ayat 51 berarti
baik orang yangsudah mati maupun orang yang masih hidup pada waktu kedatangan Tuhan
Yesus akan diubah, sedangkan di akhir ayat 52, seharusnya diterjemahkan kita akan diubah
(tanpa kata semua) dan ini menunjukkan kepada orang yang masih hidup.

Untuk membuatnya lebih jelas, terjemahan ayat 52b dapat dibuat menjadi: pada
waktu trompet berbunyi, orang-orang yang sudah mati akan dibangkitkan ke dalam hidup
abadi, sedangkan kita yang masih hidup akan menerima tubuh baru.10

C. 2 KORINTUS

Surat 2 Korintus adalah bagian dari surat-menyurat Paulus dengan orang-orang


Kristen di Korintus yang berhasil dilestarikan. Andaikan memiliki seluruh kumpulan surat-
menyurat, termasuk pesan-pesan yang dikirimkan kepada para rasul dari Korintus, tentu akan
lebih mampu memahami mengapa Paulus menulis seperti yang ia lakukan dalam surat
tersebut. Namun kenyataannya, hanya memiliki potongan-potongan dari sebuah dialog yang
menjadi argumen. Untuk mengikuti argumen ini harus berusaha merekonstruksikan
hubungan-hubungan yang berubah-berubah antara rasul tersebut dengan jemaat di Korintus.
Selama Paulus tinggal di Efesus ia tetap memelihara hubungan dengan jemaat-jemaat di
Akhaya yang dibangunnya pada perjalanan sebelumnya. Gereja di Korintus merupakan suatu
masalah yang merepotkan dirinya karena ketidakstabilan kerohanian. Sebagian besar tersebar
di Korintus dari anggota jemaat adalah bukan orang Yahudi yang tidak pernah dididik dalam
Kitab Suci Perjanjian Lama, dan yang latar belakang religius serta moralnya sangat bertolak

10
Paul Ellingworth, Howard Hatton, Op. Cit, Hal. 449
belakang dengan norma-norma Kristiani, banyak hal yang harus diajarkan kepada mereka
sebelum mereka mencapai kedewasaan rohani (1 Kor. 3:1-3).
Pelayanan Apolos di antara mereka sangat membantu dalam banyak hal. Caranya
mengajar dan menyampaikan kebenaran menarik hati orang-orang di Korintus.
Yang terutama sangat bermanfaat untuk menghadapi orang-orang Yahudi, karena ia sangat
memahami Perjanjian Lama dan dapat berdebat di muka umum dengan gaya yang sangat
meyakinkan (1 Kor. 16:12). Paulus menulis surat kiriman ini dengan menyebut namanya
sendiri sebanyak dua kali (2 Kor. 1:1; 10:1). Setelah mendirikan jemaat di Korintus selama
perjalanan misinya yang kedua, Paulus dan jemaat itu sering berhubungan karena masalah
dalam jemaat. Urutan hubungan ini dan latar belakang penulisan 2 Korintus adalah sebagai
berikut:
1. etelah beberapa kali berhubungan dan surat menyurat yang awal di antara Paulus
dengan jemaat (1 Kor. 1:11; 5:9; 7:1), maka Paulus menulis surat 1 Korintus dari
Efesus (awal tahun 55/56).
2. Paulus menyeberangi Laut Aegea menuju Korintus untuk menangani masalah yang
berkembang dalam jemaat. Kunjungan yang tak menyenangkan, baik bagi Paulus
maupun bagi jemaat itu (2 Kor. 2:1-2).
3. Setelah kunjungan ini, ada laporan disampaikan kepada Paulus di efesus bahwa para
penentang di Korintus itu masih menyerang pribadinya dan wewenang rasulinya,
dengan harapan agar mereka dapat membujuk sebagian jemaat itu untuk menolak
Paulus.
4. Sebagai tanggapan terdapat laporan ini, Paulus menulis surat 2 Korintus dari
Makedonia (akhir tahun 55/56).
5. Segera sesudah itu, Paulus mengadakan perjalanan ke Korintus lagi (2 Kor. 13:1), dan
tinggal disitu selama lebih kurang tiga bulan (Kis. 20:1-3a). dari situ ia menulis Kitab
Roma.11
 Tempat dan Tahun Penulisan Surat 2 Korintus
Surat ini dikirim setelah Paulus bertemu dengan Titus di Makedonia. Titus kemudian
diutus kembali ke Korintus untuk mengantarkan surat dari Paulus bagi jemaat di Korintus.
Berdasarkan waktu pertemuan dengan Titus, besar kemungkinan surat ini ditulis
di Makedonia pada akhir tahun 56 M. Robinson meyakini penulisannya pada awal tahun 56
M. Pendapat lain memberi perkiraan tahun 53, atau tahun 53-56.12
http://myserviceaddre.blogspot.com/2017/06/bab-ii-latar-belakang-kitab-2-korintus.html
11

https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Paulus_yang_Kedua_kepada_Jemaat_di_Korintus#:~:text=jemaat
12

%20di%20Korintus.-,Waktu%20Penulisan,%2C%20atau%20tahun%2053%2D56.
 Pandangan Surat 2 Korintus Tentang Akhir Zaman
2 Korintus 1:14
(TB) Seperti yang telah kamu pahamkan sebagiannya dari kami, yaitu bahwa pada
hari Tuhan Yesus kamu akan bermegah atas kami juga akan bermegah atas kamu. (BIMK)
tetapi saya berharap nanti kalian akan betul-betul mengerti kami. Dengan demikian, pada
waktu Tuhan Yesus datang nanti, kalian akan bangga atas kami, sebagaimana kami pun
bangga atas kalian.
Seperti yang telah kamu pahamkan sebagiannya: kata kerja Yunani telah kamu
pahamkan dapat dianggap menunjuk masa sekarang atau pun masa lalu. BIMK menganggap
bahwa kata-kata ini menunjuk kepada keadaan sekarang: sekarang kalian, BIMK
menyelipkan kata “sekarang”, walaupun tidak tertulis dalam teks Yunaninya. Namun Paulus
mungkin menunjuk kepada waktu beberapa saat yang lalu. Dalam bahasa Yunani telah kamu
pahamkan diikuti oleh kata ganti “kami” yaitu seperti mengerti kami Sebagian (seperti dalam
BIMK kalian tidak mengerti kami sepenuhnya). TB menerjemahkannya menjadi: telah kamu
pahamkan dari kami. Kita dapat juga menerjemahkannya seperti: kalian sekarang hanya
memahami kami Sebagian, atau sekalipun sekarang kalian belum memahami kami.
Bahwa pada hari Tuhan Yesus: kata bahwa menghubungkan perkataan sebelumnya
dengan perkataan berikutnya, yaitu yang menunjukkan apa yang diharapkan (ayat 13b):
bahwa pada hari Tuhan Yesus kamu akan bermegah, frasa pada hari Tuhan Yesus juga di
tulis pada 1 Korintus 5:5, dan tanpa “Yesus” pada 1 Tesalonika 5:2; 2 Tesalonika 2:2. BIMK
menunjukkan bahwa hari Tuhan Yesus ada di masa depan, dan dengan jelas mengatakan
bahwa hari itu adalah hari kedatangan Tuhan Yesus. Supaya frasa ini tidak memberi kesan
bahwa ini adalah kedatangan Yesus yang pertama, kita dapat berkata pada waktu Tuhan
Yesus kembali.
Dalam beberapa Bahasa, anak kalimat yang berisi frasa bermegah atas mungkin harus
diterjemahkan menjadi misalnya: kalian akan dihormati karena kami, sama seperti kami
akan dihormati karena kalian, atau kami akan menerima penghargaan karena kamu, dan
kamu juga akan menerima penghargaan karena kami, atau pun orang yang menghormati
kalian karena kami, sama seperti orang akan menghormati kami karena kalian.
Tuhan Yesus: beberapa Bahasa harus mengunakan kata ganti milik “kita” bersama
kata “Tuhan”, dan menuliskan Tuhan kita Yesus.13

Roger L. Omanson, John Ellington, surat Paulus Yang Kedua Kepada Jemaat Di Korintus, Jakarta:
13

Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2013, hal. 28


2 KORINTUS 5:10
(TB) sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap
orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam
hidupnya ini, baik atapun jahat. (BIMK) sebab pasti kita semua akan diajukan ke depan
pengadilan Kristus, dan masing-masing akan mendapat balasan setimpal dengan
perbuatannya di dunia ini-perbuatan baik atapun jahat.
Sebab: kata penghubung ini mengawali alasan lain tentang mengapa orang Kristen
harus menjalani hidup yang menyenangkan Kristus. Dalam Bahasa-bahasa lain kata
penghubung ini dapat diterjamahkan menjadi: memang atau sesungguhnya, atau lagipula,
atau bagaimanapun juga.
Menghadap: artinya bukan “memandang ke arah”, melaikan tampil di hadapan.
BIMK menerjemahkannya diajukan ke depan untuk memberikan gambaran suatu
persidangan.
Takta pengadilan Kristus: gambaran tentang takhta pengadilan di diambil dari kursi
hakim di tempat dewan pengadilan kota di Kekaisaran Romawi. Paulus menggunakan
gambaran ini untuk menyebutkan kegiatan Kristus menghakimi semua orang. Dalam Roma
14:10b istilah ini menunjuk kepada tahkta atau kursi mungkin perlu diungkapkan seperti: kita
semua akan diadili di hadirat atau hadapan Kristus, atau Kristus akan duduk di takhta-Nya
untuk mengadili kita semua. Dengan demikian seluruh bagian pertama di ayat ini dapat
diterjemahkan seperti: sesunggunya kita semua harus menganggap Kristus untuk diadili
oleh-Nya, atau memang, kita semua harus tampil di depan Kristus, dan Dia akan mengadili
kita.
Supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya: terjemahan harfiah
dari Bahasa Yunaninya ialah “supaya setiap orang menerima hal-hal, memalui tubuh sesuai
dengan apa yang dia lakukan, baik ataupun jahat”. Kata-kata “melalui tubuh” (dalam
hidupnya ini) berhubungan dengan hal-hal, sesuai dengan apa yang dilakukannya (apa yang
patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya), dan bukan dengan kata-kata, setiap hal-
hal yang mereka lakukan Ketika mareka berada di bumi ini, yaitu di dalam tubuh,
sebagaimana terlihat dalam TB dan BIMK.
Memperoleh: dalam beberapa Bahasa kata kerja ini tidak dapat digunakan dengan
arti menerima hukuman maupun menerima penghargaan atau berkat. Jika demikian, istilah
ini mungkin perlu diterjemahkan dengan dua kata yang berbeda dalam Bahasa sasaran (*):
Allah akan menghukum dan Allah akan memberkati. Dengan demikian contoh terjemahan
untuk bagian ini, misalnya: setiap orang akan dihukum atau justru diberkati sesuai dengan,
atau Allah akan menghukum atau sebaliknya akan memberkati orang sesuai dengan…
Baik ataupun jahat: kata-kata ini mungkin berhubungan dengan kata-kata
memperoleh (jadi memperoleh baik ataupun jahat), atau dengan yang dilakukannya dalam
hidupnya ini, atau dengan keduanya (seperti dalam TB). Masing-masing tafsiran sesuai
dengan konteks (*) ini, dan sesuai dengan kata Bahasa Yunaninya. Satu terjemahan memulai
kalimat baru di sini seperti: “Dia tahu apakah orang itu berbuat baik ataupun berbuat
jahat”.
Memang kita semua harus tampil di depan Yesus Kristus, dan Dia akan mengadili kita. Dia
akan menghukum atau sebaliknya akan memberkati orang sesuai dengan perbuatannya di
dunia ini. Dia tahu apakah orang itu berbuat baik ataupun berbuat jahat.14

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahan mengenai akhir zaman dalam surat Dogmatis (Galatia, Roma, 1
Korintus, 2 Korintus) semua mengarah kepada kedatangan Yesus Kristus yang ke dua kali
yang datang ke dunia ini untuk menghakimi orang yang hidup dan mati, dan akhir zaman
dalam surat Dogmatis menekankan kepada kita untuk hidup benar di hadapan Allah sehingga
pada saat hari penghakiman kita memilik jaminan untuk masuk ke dalam kerajaan surga dan
duduk bersama dengan Allah. Oleh sebab itu hidup kita harus dipenuhi oleh firman Tuhan
dan melakukan firman Tuhan di dalam kehidupan kita agar kita dapat terangkat ke surga pada
saat akhir zaman.

14
Roger L. Omanson, John Ellington, Op. Cit, hal. 109
DAFTAR PUSTAKA
Daniel C. Arichea Jr., Eugene A. Nida, Surat Paulus Kepada Jemaat di Galatia,
Jakarta: Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2011. Hal. 1
https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/new-testament-seminary-teacher-
manual/introduction-to-the-epistle-of-paul-to-the-galatians?lang=ind
Daniel C. Arichea Jr., Eugene A. Nida, Op. cit, hal. 160
Dave Hagelberg, Tafsiran Roma, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998. Hal 4
Dave Hagelberg, Op. Cit. Hal. 42
J. Wesley Brill, Surat Korintus, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003.hal 15
J. Wesley Brill, Op. Cit. hal. 19
Paul Ellingworth, Howard Hatton, Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat Di
Korintus, Jakarta: Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2010, Hal. 15
Paul Ellingworth, Howard Hatton, Op. Cit, Hal 99
Paul Ellingworth, Howard Hatton, Op. Cit, Hal. 449
http://myserviceaddre.blogspot.com/2017/06/bab-ii-latar-belakang-kitab-2-
korintus.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Paulus_yang_Kedua_kepada_Jemaat_di_Korintus
#:~:text=jemaat%20di%20Korintus.-,Waktu%20Penulisan,%2C%20atau%20tahun
%2053%2D56.
Roger L. Omanson, John Ellington, surat Paulus Yang Kedua Kepada Jemaat Di
Korintus, Jakarta: Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2013, hal. 28
Roger L. Omanson, John Ellington, Op. Cit, hal. 109

Anda mungkin juga menyukai