Anda di halaman 1dari 13

Makalah Pangan Dan Gizi Komoditi Ternak

Upaya Mempertahankan Dan Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional


Pada Sektor Sapi Potong Ditengah Wabah COVID 19

Disusun Oleh :
Nazri Sofiandi (1805104010020)

Dosen Pembimbing:
Dr. Ir. Dzarnisa Araby, Msi

Program Studi Peternakan


Fakultas Pertanian
Universitas Syiah Kuala
Darussalam, Banda Aceh
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Upaya Mempertahankan
Dan Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional Pada Sektor Sapi Potong Ditengah
Wabah COVID 19 Untuk menyelesaikan  ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir
pada Mata Kuliah Pangan Dan Gizi Komoditi Ternak Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang Ketahanan Pangan  bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Ir. Dzarnisa Araby, Msi, selaku dosen
pengampu mata kuliah Pangan Dan Gizi Komoditi Ternak  yang telah memberikan tugas
ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang
saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Kisaran 2 Juni 2020

Nazri Sofiandi
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan suatu
Negara (Simatupang, 2007). Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, sektor pertanian
dan peternakan merupakan sektor yang sangat penting karena sektor ini menjadi penyedia
pangan utama (Sumastuti, 2010), lebih-lebih negara yang sedang berkembang, karena
memiliki peran ganda yaitu sebagai salah satu sasaran utama pembangunan dan salah satu
instrumen utama pembangunan ekonomi. Fungsi ketahanan pangan sebagai prasyarat untuk
terjaminnya akses pangan determinan utama dari inovasi ilmu pengetahuan, teknologi dan
tenaga kerja produktif serta fungsi ketahanan pangan sebagai salah satu determinan
lingkungan perekonomian yang stabil dan kondusif bagi pembangunan. Setiap negara
senantiasa berusaha membangun sistem ketahanan pangan yang mantap. Oleh sebab itu
sangat rasional dan wajar kalau Indonesia menjadikan program pemantapan ketahanan
pangan nasional sebagai prioritas utama pembangunannya.
Pemerintah mempunyai komitmen untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,
termasuk menanggulangi kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Komitmen tersebut
tertuang dalam program utama Departemen Pertanian yaitu Program Peningkatan Ketahanan
Pangan, sedangkan di bidang peternakan tertuang dalam suatu program terobosan yaitu
Program Kecukupan Pangan Hewani Asal Ternak, khususnya daging sapi (Dinas Peternakan
Propinsi Lampung, 2009). Daging sapi merupakan salah satu sumber bahan pangan hewani,
mengandung unsur gizi yang cukup tinggi berupa protein dan energi. Permintaan terhadap
produk pangan hewani ini cenderung terus meningkat setiap tahun sejalan dengan
bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Selain faktor tersebut, faktor yang turut mendorong meningkatnya permintaan daging sapi
adalah terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari bahan pangan sumber protein
nabati ke bahan pangan sumber protein hewani (Erwidodo, 1997). Fenomena ini
diperkirakan akan terus berlanjut kedepan.
Permintaan daging sapi di Indonesia saat ini 6,5 kg/kapita/tahun (Direktorat Jendral
Peternakan, 2009) dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun
peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai. Pada
tahun 2007 permintaan daging sapi tercatat sebanyak 453.844 ton sedangkan produksi
daging sapi dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan 418.210 ton (Subagyo, 2009).
Hal ini berarti terdapat kesenjangan yang cukup besar antara produksi daging sapi dengan
permintaan sebesar 35.634 ton. Besarnya kesenjangan tersebut dipasok dari impor
(Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2008).
Namun pada saat ini pemerintah dan masyarakat dihadapkan dengan musibah yang
begitu besar bukan hanya melanda di Indonesia namun diseluruh dunia,musibah tersebut
yaitu timbulnya virus corona atau yang sering disebut dengan covid 19. COVID-19 adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.  Virus baru
dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan,
Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang
terjadi di banyak negara di seluruh dunia.
Dampak dari virus ini sangatlah banyak salah satunya berdampak pada ketahanan
pangan, terbatasnya ruang gerak manusia pada saat masa virus melanda ini membuat
ketersedian pangan semakin lama semakin menipis khusunya penyedian sumber protein
hewani seperti daging sapi. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat
dalan melawan wabah covid 19 ini sekaligus mempertahaankan ketersedian pagan
khususnya ketersedian daging sapid an dalam makalah ini akan dibahas strategi yang harus
dijalankan untuk mempertahankan ketersedian pangan khususnya dagig sapi ditengah massa
pandemic ini

1.2. Rumusan Masalah

1. Upaya yang dilakukan pada masa pandemi untuk mempertahankan ketahanan


pangan ?
2. Starategi apa yang harus dijalankan agar ketahanan pangan tetap terjaga selama
masa pandemi ?
3.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi ketahan Pangan

Ketahanan Pangan dalam tataran Nasional merupakan kemampuan suatu bangsa


untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup, mutu
yang layak,aman, dan juga halal, yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan
berbasis pada keragaman sumber daya domestik. Salah satu indikator untuk mengukur
ketahanan pangan adalah ketergantungan ketersediaan pangan nasional terhadap impor
(Litbang,Deptan 2005) Ketahanan pangan dalam hal ini pula terdapat beberapa definisi
sebagai berikut:
1. Dalam undang-undang No: 7 tahun 1996 tentang pangan, pengertian ketahanan
pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin
dari ketersediaan yang cukup,baik dalam jumlah maupun mutunya, aman,
merata dan terjangkau.
2. Hasil Lokakarya Ketahanan Pangan Nasional (DEPTAN,1996) mendefinisikan
Ketahanan pangan adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan
anggota rumahtangga dalam jumlah,mutu dan ragam sesuai dengan budaya
setempat dari waktu kewaktu agar tetap hidup sehat.
3. International Conference in Nutrition, ( FAO/WHO, 1992 ) mendefinisikan
Ketahanan pangan sebagai akses setiap rumahtangga atau individu untuk
memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup sehat.

2.1.1 Sistem Ketahanan Pangan


Secara umum Ketahanan pangan mencangkup 3 aspek, antara lain:
a. Ketersediaan pangan
b. Stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari
tahun ke tahun.
c. Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan

Ketiga komponen tersebut akan digunakan untuk mengukur ketahanan pangan di


tingkat rumah tangga dalam studi ini. Ketiga indikator ini merupakan indikator utama
untuk mendapatkan indeks ketahanan pangan. Ukuran ketahanan pangan di tingkat
rumahtangga dihitung bertahap dengan cara menggabungkan ketiga komponen
indikator ketahanan pangan tersebut, untuk mendapatkan satu indeks ketahanan pangan
( Dwi Putra Darmawan,2011;15). Untuk level usahatani/rumahtangga dan masyarakat,
indikator ketahanan pangan adalah sebagai berikut: (1) stabilitas pasokan ( musiman;
distribusi ketersediaan pangan pokok bulanan, dalam kg); (2) ketersediaan (jumlah
(kg); persentase pangan yang dijual, dikonsumsi, dan dibeli di luar usahatani); (3)
aksesibilitas (biaya yang diperlukan per bulan).

2.1.2 Ketersediaan dan Distribusi Pangan


Ketersediaan pangan yang memadai dapat memperbesar peluang rumahtangga
mengkonsumsi pangan. Ketersediaan pangan diartikan sebagai kemampuan
rumahtangga (desa/kota) menyediakan pangan melalui berbagai cara,antara lain
dengan memproduksi pangan sendiri di lahan pertanian/perkebunan sendiri dan
membeli di pasar terdekat ( Suhardjo,1994). Ketersediaan pangan dalam rumahtangga
yang dipakai dalam pengukuran mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam
jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumahtangga. Penentuan jangka
waktu ketersediaan makanan pokok di perdesaan (seperti daerah penelitian) biasanya
dilihat dengan mempertimbangkan jarak antara musim tanam dengan musim tanam
berikutnya (Suharjo dkk, 1985:45).Kondisi ketersediaan pangan rumahtangga
ditunjukkan dari jumlah pangan yang diproduksi dari hasil usahatani (pangan padi-
padian berupa beras yang dihasilkan dari penyosohan gabah).

Namun, ketersediaan pangan yang cukup belum menjamin konsumsi pangan yang baik
kalau terdapat kesenjangan distribusi pangan. Distribusi pangan dalam arti luas antara
lain distribusi antar negara , daerah, golongan masyarakat ( berdasarkan penghasilan),
sedangkan dalam arti sempit menyangkut distribusi pangan antar anggota keluarga
dalam satu rumahtangga (Dwi Putra Darmawan, 2011;19).

2.2. Peranan Daging Sapi Dalam Menunjang Ketahan Pangan


Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil
pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan
gangguan kesehatan bagi yang memakannya (Soeparno, 1994). Daging sapi merupakan
bagian dari hewan potong yang digunakan manusia untuk bahan makanan (Saptarini, 2009).
Daging sapi merupakan produk ternak yang merupakan sumber protein hewani. Daging sapi
merupakan bahan pangan yang mengandung gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk
pertumbuhan dan kesehatan (Arifin et al., 2008). Dari defenisi yang telah disebutkan daging
sapi memegang peranan yang cukup penting dalam ketahanan pangan ini terlebih lagi pada
masa pandemi covid 19 yang tengah melanda ini setiap manusia harus memiliki daya tahan
tubuh yang cukup kuat, maka dari itu mengkonsumsi daging merupakan hal yang harus
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein agar daya tahan tubuh tetap terjaga namun
sangat disayangkan hanya segelintir masyarakat saja yang dapat merasakannya hal ini pula
yang menjadikan tantangan bagi pemerintah untuk menyelesaikan masalah ketahanan pangan
di masa pandemic ini.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Tujuan Meningktakan Ketahanan Pangan Ditengah Pandemi

Tujuan dari peningkatan ketahanan pangan ditengah masa pandemic ini sangatlah
jelas yang utamanya adalah untuk menjaga imun dan daya tahan tubuh setiap masyarakat
Indonesia agar tetap terjaga dengan baik. Imun atau daya tahan tubuh yang kuat dapat
terbentuk apabila pemenuhan kebutuhan nutrisi dan protein tercukupi dengan baik dan benar
salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi protein hewani seperti
daging, susu dan telur. Semua kebutuhan protein hewani ini dapat tercukupi apabila tatanan
ketahanan pangan kita telah terjaga dengan baik

3.2. Strategi Dalam Upaya Memperthankan Dan Meningkatkan Ketahanan Pangan Di


Sektor Ternak Sapi Potong Ditengah Pandemi

Strategi yang dikembangkan dalam upaya mempetertahankan dan menigkatakan


ketahanan pangan ditengah masa pandemi khususnya pada sektor peternakan sapi potong
adalah :

1. Melakukan penggemukan secara intensif dengan pakan yang memiliki nilai protein
tinggi dengan memperhatikan protokol kesehatan dari pemerintah
2. Mensleksi bakalan-bakalan sapi yang dinilai produksinya tidak baik
3. Memberikan suplemen yang baik bagi ternak sapi agar pertambahan bobot daging
semakin cepat
4. Selalu memperhatikan kebersihan perkandangan dan peralatan kandang agar resiko
penyebaran virus semakin kecil

Ketahanan pangan khusunya dibidang peternakan sapi potong diwujudkan oleh hasil
kerja sistem ekonomi pangan yang terdiri dari subsistem ketersediaan meliput produksi ,
pasca panen dan pengolahan, subsistem distribusi dan subsistem konsumsi yang saling
berinteraksi secara berkesinambungan. Ketiga subsistem tersebut merupakan satu kesatuan
yang didukung oleh adanya berbagai input sumber daya
alam,kelembagaan, budaya, dan teknologi. Proses ini akan hanya akan berjalan dengan efisie
n olehdanya partisipasi antar sesama peternak dan fasilitasi pemerintah

Partisipasi masyarakat khususnya para peternak sapi potong dimulai dari proses
produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran serta jasa pelayanan di bidang pangan.Fasilit
asi pemerintah diimplementasikan dalam bentuk kebijakan ekonomi makro dan mikro di
bidang perdagangan, pelayanan dan pengaturan serta intervensi untuk mendorong terciptanya
kemandirian pangan. Output dari pengembangan kemandirian pangan adalah terpenuhinya
pangan, SDM berkualitas, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi dan ketahanan
nasional.Sehingga ketahanan dapat terjaga dengan baik selama masa pandemi ini hingga
pandemi ini berakhir.

3.3. Upaya Pengontrolan Pendistribusian Daging Sapi Selama Masa Pandemi

Selama masa pandemi ini berlangsung kebutuhan protetin hewani semakin meningkat
namun didalam peningkatan ini harus ada control yang optimal untuk menjaga ketersediaan
bahan pangan agar ketersediaannya masih tetap terjaga. Salah satu yang harus menjadi
perhatian adalah para peternak dan industry penggemukan sapi dalam proses produksi atau
pemotongannya, karena hal ini berkaitan dengan ketersedian protein hewani selama masa
pandemi.

Upaya - upaya yang dilakukan dalam pengontrolam pendistribusian daging sapi


selama masa pandemic ini adalah :

1. Memperhatikan alur pendistribusian daging sapi secara merata agar tidak ada
penimbunan daging sapi selama masa pandemic oleh oknum-oknum yang
memanfaatkan situasi. Disini harus ada peran pemerintah.
2. Menjaga produk daging sapi agar tetap terjaga kehegeinisannya dengan cara
meperhatikan proses pengolahan mulai dari pemotongan hingga proses packaging dari
daging sapi itu sendiri
3. Melakukan pengontrolan harga daging secara merata sesuai tingkat UMR tiap-tiap
daerah agar daya jangkau masyarakat untuk membeli daging sapi ini tetap terpenuhi.
Hal ini harus adanya bantuan dari pemerintah dan dinas terkait dalam pengontrolan
harga
Dari upaya diatas jika dilaksanakan maka ketahanan pangan khususnya dibidang
peternakan sapi dapat terjaga dengan baik selama masa pandemic covid 19 ini melanda.

3.4. Fokus Terhadap Peternak Sapi Potong Dan Pelaku Usaha Sapi Potong
Ketahanan pangan khusunya pada bidang penyedian protein hewani seperti produk
daging sapi tidak jauh dari peranan peternak sapi baik besar maupun kecil serta pelaku usaha
dibidang ternak sapi potong namun ditengah pandemi yang tengah melanda tidak dapat
dipungkiri dampaknya berimbas keseluruh elemen termasuk juga para pelaku usaha ternak
sapi potong dan para peternak sapi potong hal ini juga berkaitan dengan penyedian produk
pangan asal hewa atau protein hewani dalam penyediaannya.
Maka dari itu perlu adanya perhatian atau bantuan bagi pelaku usaha dan peternak
sapi agar ketahanan pangan dibidang peternakan sapi ini tetap terjaga hal ini juga perlu
perhatian dari pemerintah dalam menyikapinya, pemerintah perlu adanya mencanangkan
program atau memberi bantuan bagi para peternak sapi dan pelaku usaha sapi potong ini
salah satu hal yang dapat dilakukan agar para peternak sapi dapat berproduksi dengan baik
selama masa pandemic ini adalah dengan cara pemerintah menyidiakan pasar untuk
mendistribusikan hasil produksi dari peternak selama masa pandemic,selain itu perlua
adanya pernanan dinas terkait untuk mengedukasi para peternak tentang masalah covid 19
ini dengan produksi sapi potong dari peternak dan yang terakhir pemerintah dapat
mengalokasikan sedikit dan untuk memberikan sedikit bantuan berupa pakan penunjang bagi
ternak sapi potong agar proses produksi bias berjalan dengan cepat dan ketahanan pangan
dapat meningkat selama masa pandemic.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.Kesimpulan
1. Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan suatu
Negara . Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, sektor pertanian dan
peternakan merupakan sektor yang sangat penting karena sektor ini menjadi
penyedia pangan utama
2. Dalam masa pandemic ini ketahanan pangan khususnya di sektor peternakan sapi
potong dapat dilakukan dengan cara memperhatikan pedistribusian hasil produksi
ternak sapi potong tersebut.
3. Kesehjateraan peternak dan pelaku usaha sapi potong juga harus diperhatikan untuk
menunjang kinerja produksi di bidang ternak potong untuk ketersedian pangan
selama masa pandemic.

4.2. Saran

Adapun saran yang bisa di berikan adalah sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan
masalah ketahanan pangan yang ada di Indonesia terkhusus pada masa pandemi covid 19 ini.
Karena kebutuhan pangan pada masa pandemic merupakan hal utama yang harus terpenuhi
setelah pemenuhan kebutuha kesehatan agar kesehatan masyarakat Indonesia tetap terjaga
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Suryana, 2001. Kebijakan Nasional Pemantapan Ketahanan Pangan.Makalah pada


Seminar Nasional Teknologi Pangan, Semarang , 9-10 Oktober 2001

Anonim, 1996. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 7


Tahun996tentang Pangan. Kantor Menteri Negara Pangan RI.

Anonim, 2000. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000


tentang Program Pembangunan Nasional.

Siswono Yudo Husodo. 2001.Kemandirian di Bidang Pangan, Kebutuhan


NegaraKita. Makalah Kunci pada Seminar Nasional Teknologi Pangan,Semarang , 9-
10 Oktober 2001

Nainggolan, K. 2006. Kebijakan Ketahanan Pangan. Badan Ketahanan Pangan,Departemen
Pertanian, Jakarta.