Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA 2021

PENYULUHAN HUKUM AKIBAT HUKUM INFORMASI HOAX

NAMA : AZHARI ALASKA

NIM : 170200082

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang atas berkat serta rahmatnya Kuliah Kerja

Nyata (KKN) 2021 ini dapat terlaksana dengan baik. Saya menyadari KKN ini semestinya

masih banyak kekurangan baik dari segi pelaksanaan dan persiapan tetapi semoga dapat

diterima sebaik-baiknya dengan hasil yang tentunya baik juga.

Ucapan terimakasih saya haturkan kepada para pihak yang membantu pelaksanaan

KKN ini yaitu :

1. Bapak Wakil Dekan I yaitu Prof. OK. Saidin, S.H.,M.Hum yang sudah membantu

pelaksanaan KKN ini sebaik-baiknya.

2. Seluruh perwakilan Ikatan Mahasiswa Departemen yang membersamai pergerakan

KKN ini bersama saya di Pemerintahan Mahasiswa untuk sama-sama

memperjuangkan hasil sebaik-baiknya untuk KKN ini.

3. Seluruh Pihak BKM Istihrar yang membantu pelaksanaan penyuluhan hukum dan

seluruh keluarga.

Demikian kata pengantar in saya sampaikan, lebih dan kurangnya saya mohon maaf,

terimakasih.

Hormat saya,

Azhari Alaska
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap orang dalam pergaulan di dalam masyarakat harus memperhatikan

dan melaksanakan (menaati) peraturan hukum, agar tercipta kehidupan yang tertib

dan tentram. Kalau terjadi pelanggaran hukum terhadap peraturan hukum yang

berlaku maka peraturan yang dilanggar harus ditegakkan. Pada prinsipnya hukum

merupakan kenyataan dan pernyataan yang beraneka ragam untuk menjamin adanya

penyesuaian kebebasan dan kehendak seseorang dengan orang lain, yang pada

dasarnya hukum mengatur hubungan manusia dalam masyarakat berdasarkan

prinsip-prinsip yang beraneka ragam pula.

Hoax merupakan berita palsu yang sekarang ini sedang marak di kalangan

masyarakat. Fenomena hoax bukan lagi hal yang jarang terjadi termasuk di

Indonesia khusus-nya di media sosial. Hoax dapat membuat masyarakat resah

karena informasi yang tidak di ketahui kebenarannya. Karena semakin

berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi juga membuat hoax dapat

beredar dengan cepat di masyarakat melalui media sosial.

Salah satu contoh hoaxyang beredar di masyarakat adalah

hoaxtentangkenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal 2018. Seperti

yang peneliti temukan dari kompas.com baredarnya informasi mengenai harga

bahan bakar minyak (BBM) naik berita tersebut tersebar melalui media sosial.

Informasi itu menyebutkan bahwa hargabeberapa jenis bahan bakar akan naik per 8

September 2018.Bahan bakar yangdisebutkan antara lain jenis Premium, Pertalite,

Pertamax, Bio Solar, dan Dexlite.Informasi ini beredar di media sosial twitter.
Banyak yang menyebarkan informasi bohong mengenai harga bahan bakar minyak

(BBM)di media sosial yaitu twitter(Mela, Kompas.com, 2018).

Maka melihat hal tersebutlah dirasa pentingnya untuk sebuah penyuluhan

hukum akibat hoax di masyarakat agar nantinya masyarakat lebih mengetahui

seputar bahaya hukum hoax ini.

B. Rumusan Masalah

1) Bagaimana akibat hukum terhadap pelaku penyebar hoax di masyarakat?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Akibat Hukum terhadap Hoax

Peristiwa penyebaran berita hoax yang sedang marak terjadi di Indonesia

menyebabkan keresahan di masyarakat. Hal ini dapat di sikapi oleh para pengguna

media sosial agar menjadi netter yang cerdas dan lebih selektif serta berhati-hati

akan segala berita atau pun informasi yang tersebar. Diharapkan pula untuk tidak

langsung percaya dari berita atau informasi yang diterima.

Pemerintah diharapkan lebih cepat lagi merespon hoaxyang beredar

dimasyarakat sehingga dapat meminimalisasi kegaduhan atau keresahan yang terjadi

dimasyrakat dan Pemerintah harus lebih giat lagi mensosialisasikan UU ITE agar

masyarakat lebih paham lagi cara menggunakan media sosial dan internet

dengancerdas dan bijaksana, diharapkan internet digunakan untuk kebaikan hidup

dan membaikkan kehidupan. Dan masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut

mengenai penelitian ini.

Pola-pola kejahatan penyebaran informasi bohong dapat didesain sedemikian

rupakarenarumusan UU ITE yang masih lemah. Penyebar informasi palsu (hoax)

seakan-akan menjadi tumbal dalam perbuatan penyebaran hoax, setelah pelaku

pertama memproduksi informasi, pelaku-pelaku berikutnya dengan sengaja atau

tidak sengaja menyebarluaskan sehingga orang-orang yang tidak tahu menjadi

tahu.Walaupun pelaku ke dua dan pelaku selanjutnya juga mempunyai kesalahan,

yakni menyebarkan hoax, namun seringkali penyebar pertama saja lah yang menjadi

tumbal.Dan inilah prosedur penyebaran isu yang sangat mujarab di era teknologi ini.

Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan sebelumnya, terkait deengan

permasalahan Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pembuat dan Penyebar Berita


Palsu (Hoax) Berdasarkan Pasal 28 Undang Undang No. 11 Tahun 2008, maka

Penulis dapat menyimpulkan bahwa:

1.Pasal28 UU ITE, yang berbunyi:“

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkanberita

bohong dan menyesatkan yang mengakibatkankerugian konsumen

dalam Transaksi Elektronik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan

informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau

permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu

berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”

Dari peraturan di atas, Penulis menyimpulkan bahwa beberapa hal dari Pasal

tersebut masih belum jelas atausumir. Berdasarkan kasus-kasus hoax yang terjadi di

Indonesia, pelaku atau penyebar hoax masih dapat bergerak bebas. Pelaku yang

dicari oleh penegak hukum seringnya adalah pelaku atau penyebar hoax yang

membuat berita tersebut atau Pelaku Pertama saja.

Padahal hoax terjadi akibat tombol share dan tidak menutup kemungkinan

bahwa hoax tersebut di-edit oleh pihak lain sehingga berita tersebut lebih heboh dan

menimbulkan akibat yang disebut oleh Pasal 28 ayat(1) dan Pasal 28 ayat

(2).Kalimat “rasa kebencian” yang tercantum dalam Pasal 28 ayat (2) UU ITE juga

sangat subjektif. Tidak disebutkan ukuran kebencian seperti apakah yang dapat

dikenakan Ketentuan Pidana dalam UU ITE.

Terkait dengan delneeming, bahwaadanya kata “menyebarkan”pada Pasal 28

UU ITE yang berarti menghamburkan, menyiarkan, menabur, membagi-bagikan dan

mengirimkan. Dalam pengertian ini, semua orang yang hanya membagikan (share)

informasi pun termasuk sebagai "penyebar".Siapa yang dapat dikenakan Pasal


Ketentuan Pidana, yakni Pasal 45 UU ITE, apakah Pelaku pertama saja, atau Pelaku

ke-sekian yang melakukan penyebaran informasi palsu (hoax) tersebut?Artinya

apabila kita melakukan penafsiran gramatikal terhadap Pasal 28 UUITE, dapat

menimbulkan penafsiran ganda dimana hal ini dapat menyebabkan ketidakpastian

hukum.

Gambar A

Gambar B
Pelaksaaan KKN ini dilakukan di lingkungan masjid istihrar Berastagi pada

Jumat, 5 Februari 2021. Sasaran masyarakatnya ialah sekitaran masyarakat di istihrar

berjumlah ada 5 orang dengan cukup responsif dan memberikan pertanyaan seputar isu

hoax yang memang sangat dekat dengan permasalahan masyarakat.

Setelah sosialisasi atau penyuluhan hukum ini diharap masyarakat dapat lebih

berhati-hati dalam menerima segala informasi, dan lebih berhati-hati dalam menyebarkan

segala informasi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hoax merupakan berita palsu yang sekarang ini sedang marak di kalangan

masyarakat. Fenomena hoax bukan lagi hal yang jarang terjadi termasuk di

Indonesia khusus-nya di media sosial. Hoax dapat membuat masyarakat resah

karena informasi yang tidak di ketahui kebenarannya. Karena semakin

berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi juga membuat hoax dapat

beredar dengan cepat di masyarakat melalui media sosial.

Permasalahan Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pembuat dan Penyebar

Berita Palsu (Hoax) Berdasarkan Pasal 28 Undang Undang No. 11 Tahun 2008,

maka Penulis dapat menyimpulkan bahwa: Pasal28 UU ITE, yang berbunyi:“(1)

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkanberita bohong dan

menyesatkan yang mengakibatkankerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang

ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau

kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan

(SARA).”

Pelaksaaan KKN ini dilakukan di lingkungan masjid istihrar Berastagi pada

Jumat, 5 Februari 2021. Sasaran masyarakatnya ialah sekitaran masyarakat di

istihrar berjumlah ada 5 orang dengan cukup responsif dan memberikan pertanyaan

seputar isu hoax yang memang sangat dekat dengan permasalahan masyarakat.