Anda di halaman 1dari 54

NAMA : SILVIA MARDITA

NIM : 170200369

MATA KULIAH : HUKUM DAN WANITA

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA PEREMPUAN


YANG BEKERJA DI MALAM HARI

PENDAHULUAN
Tuntutan mengenai wanita harus diperlakukan sama dengan pria ini telah ada sejak lama,
diantaranya adalah tuntutan yang diajukan oleh R.A Kartini. Sebelum adanya Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia PBB, R.A. Kartini pada tanggal 10 Juni 1901, menulis surat kepada rekannya
di Negeri Belanda yang menceriterakan tentang harapan akan adanya emansipasi antara kaum
perempuan dan lelaki, kebebasan berpikir mereka dan sebagainya. Disini Kartini telah membuka
sebuah human right discourse (wacana hak asasi manusia), meskipun artikulasi mengenai hak-hak
asasi masih amat sumir.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak perempuan yang harus bekerja untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Berkaitan dengan perempuan yang bekerja ini Pasal 5 Undang-undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menentukan bahwa “Setiap tenaga kerja
memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan.” Ketentuan
Pasal 5 ini membuka peluang kepada perempuan untuk memasuki semua sektor pekerjaan, dengan
catatan bahwa perempuan itu mau dan mampu melakukan pekerjaan tersebut. Selanjutnya di dalam
Pasal 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 ditentukan bahwa “Setiap pekerja/buruh berhak
memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.” Ketentuan Pasal 6
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 ini semakin memperjelas ketentuan Pasal 5 Undang-
undang Nomor 13 Tahun 2003 bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam
dunia kerja. Ketentuan Pasal 5 dan 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tersebut dimaksudkan
untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan
tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan
keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha. Dengan adanya
ketentuan Pasal 5 dan 6 ini maka dapat dikatakan bahwa Undang-undang Ketenagakerjaan yang
baru merupakan undang-undang yang anti diskriminasi. Berangkat dari ketentuan undang-undang
yang melarang adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam dunia kerja (das sollen),
maka seharusnya di dalam kenyataannya perempuan yang bekerja memang benar-benar
diperlakukan tanpa adanya diskriminasi dengan laki-laki. Akan tetapi di dalam kenyataannya (das
sein) sering terjadi diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam banyak aspek dari
pekerjaan, misalnya dari segi gaji, tunjangan, jenjang karier, dan lain-lain.
Di antara sekian banyak profesi yang bisa digeluti perempuan dalam mencari nafkah, ada
pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mewajibkan perempuan tersebut untuk bekerja di malam hari.
Hal ini misalnya pada sebuah pabrik yang memiliki tiga shift jam kerja yang salah satunya berawal
di sore hari dan berakhir pada malam hari. Seorang perempuan, apalagi yang bekerja pada malam
hari, harus dilindungi dari kemungkinan-kemungkinan terkena resiko atas pekerjaan yang
dilakukannya. Oleh karena itu penelitian ini ingin mengungkap bentuk perlindungan hukum yang
seharusnya diterima oleh tenaga kerja perempuan yang bekerja pada malam hari, dan perlindungan
hukum yang telah dilakukan dalam prakteknya.

PEMBAHASAN
Menurut Satijipto Raharjo, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap
hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada
masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.
Perlindungan terhadap perempuan diatur didalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM
Pasal 49, yang berbunyi :
a. Wanita berhak untuk memilih, dipilih, diangkat dalam pekerjaan, jabatan dan profesi sesuai
dengan persyaratan dan peraturan perundang-undangan.
b. Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan atau
profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya
berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita.
c. Hak khusus yang melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya, dijamin dan
dilindungi oleh hukum.
Perlindungan yang dibutuhkan pekerja perempuan yang bekerja pada malam hari sebagai
berikut :

a. Perlindungan jam kerja

Ketentuan jam kerja pada malam hari bagi pekerja perempuan pukul 23.00 – 07.00 diatur
dalam Pasal 76 Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Kep.224/Men/2003 Tentang
Kewajiban Pengusaha yang Mempekerjakan Pekerja Perempuan Antara Pukul 23.00 s/d
07.00. Perusahaan yang mempekerjakan pekerja perempuan pada jam tersebut wajib:

- Memberikan makanan dan minuman bergizi 1400 kalori.


- Menjaga keamanan dan kesusilaan bagi pekerja perempuan.
- Menyediakan fasilitas kamar mandi/WC yang layak.
- Menyediakan antar jemput bagi pekerja perempuan yang berangkat dan pulang pada jam
tersebut.
- Perusahaan tidak boleh mempekerjakan perempuan yang berumur dibawah 18 tahun.
- Dan tidak boleh mempekerjakan perempuan hamil yang berdasarkan keterangan doker
berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya.
b. Perlindungan masa haid

Diberikan kepada “pekerja/ buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan
memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada
waktu haid” hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Nomor
13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

c. Perlindungan cuti hamil

Perlindungan cuti hamil dan bersalin diberikan selama 1,5 bulan sebelum waktu melahirkan
dan 1,5 bulan sesudah melahirkan dengan upah penuh. Ternyata dalam pelaksanaannya masih ada
perusahaan yang tidak membayar upah secara penuh. Perlindungan tersebut diatur dalam Pasal 82
Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

d. Perlindungan menyusui
Pemberian kesempatan pada pekerja perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi
kesempatan menyusui meskipun dilakukan selama waktu kerja. Diatur dalam Pasal 83 Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

e. Perlindungan upah

Menurut Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2013 Tentang Ketenagakerjaan Pasal (1)
butir 30 menyebutkan bahwa:
“Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai
imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan
dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-
undangan, termausk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan
dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan”.

Konsekuensi Bagi Perusahaan Yang Tidak Memberikan Perlindungan Hukum


TerhadapPekerja Perempuan Yang Bekerja Pada Malam Hari Antara Pukul 23.00 – 07.00.

Apabila perusahaan tidak memenuhi salah satu kewajibannya yang juga telah diatur dalam
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Kep.224/Men/2003 Tentang Kewajiban
Pengusaha yang Mempekerjakan Perempuan Antara Pukul 23.00 s/d 07.00. Maka ada konsekuensi
bagi perusahaan tersebut berupa sanksi pidana.

Sanksi yang dijatuhkan terhadap perusahaan yang tidak menjalankan kewajibannya


sebagaimana diatur tersebut, dikenakan pasal 187 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor
13 Tahun 2003 yang berbunyi :

(1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2),
Pasal 44 ayat (1), Pasal 45 ayat (1), Pasal 67 ayat (1), Pasal 71 ayat (2), Pasal 76, Pasal
78 ayat (2), Pasal 79 ayat (1), dan ayat (2), Pasal 85 ayat (3), dan Pasal 144, dikenakan
sanksi pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas)
bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana
pelanggaran.”
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan apa yang di uraikan diatas maka dapat dirumuskan dua kesimpulan sebagai
berikut :

1. Perlindungan terhadap pekerja perempuan yang bekerja pada malam hari telah mempunyai
dasar hukum yang dipayungi oleh Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan. Perlindungan terbagi 3 (tiga) macam yang meliputi perlindungan
ekonomis, perlindungan sosial serta perlindungan teknis. Perlindungan terhadap
perempuan diatur pula didalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM Pasal 49,
perempuan berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan
pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan
atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita. Hak khusus yang
melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya, dijamin dan dilindungi oleh
hukum. Dalam kenyataan perlindungan hukum yang diberikan kepada perempuan yang
bekerja pada malam hari hanya terpenuhi sebagian saja, jarang sekali perusahaan patut
akan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menurut penulis ketentuan Undang-
Undang tidak sepenuhnya menjadi pedoman dalam pemenuhan kesejahteraan pekerja
perempuan di perusahaan tersebut.

2. Konsekuensi bagi perusahaan yang tidak memberikan perlindungan hukum bagi pekerja
perempuan yang bekerja pada malam hari berupa sanksi pidana kurangan paling singkat 1
(satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.
10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah)
yang diatur dalam Pasal 187 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan.

B. Saran
1. Seyogyanya pekerja perempuan harus mempunyai keberanian menyampaikan pendapat
kepada perusahaan apabila hak-haknya tidak terpenuhi. Dengan cara memperoleh
pengetahuan terlebih dahulu tentang perlindungan hukum apa saja yang diberikan kepada
pekerja perempuan yang bekerja pada malam hari. Dan untuk pengusaha yang memberikan
perlindungan hukum terhadap pekerja perempuan yang bekerja pada malam hari, yaitu
memberikan fasilitas transportasi antar-jemput kepada pekerja perempuan yang bekerja
pada malam hari.
2. Perlunya pengawasan secara berkala dan struktual dari Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi tehadap perusahaan yang mempekerjakan perempuan pada malam hari.

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU BACAAN
Adrian Sutedi, 2009, Hukum Perburuhan, Sinar Grafika, Jakarta.
Aries Harianto, 2016, Hukum Ketenagakerjaan, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta.
Editus Adisu Libertus Jehani, 2006, Hak-Hak Pekerja Perempuan, Visimedia, Jakarta.
H.P. Rajagukguk, 2002, Peran Serta Pekerja Dalam Pengelolaan Perusahaan, Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta.
Ikhwan Fahrojih, 2016, Hukum Perburuhan, Setara Pers, Malang.
Sulistyowati Irianto, 2006, Perempuan dan Hukum, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Pers, Jakarta.
Zainal Asikin, 2004, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, Rajawali Pers, Jakarta.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Kep.224/Men/2003 Tentang
Kewajiban Pengusaha yang Mempekerjakan Pekerja/Buruh Perempuan Antara Pukul
23.00 s/d 07.00.
NAMA : ANDERSON PERUZZI SIMANJUNTAK

NIM : 170200355

MATA KULIAH : HUKUM DAN WANITA

KETERWAKILAN WANITA DALAM PARTAI POLITIK

Membangun masyarakat sipil berarti memperjuangkan ruang publik yang di dalamnya

mencakup seluruh warga Negara baik laki- laki maupun perempuan tanpa adanya pengecualian.

Dalam sistem politik kita selama ini, kebijakan berlaku menempatkan perempuan hanya sebagai

second person. Rendahnya partisipasi perempuan dalam lembaga-lembaga politik

mengakibatkan berbagai kepentingan perempuan kurang terakomodasi dalam sejumlah keputusan

politik, karena sejumlah keputusan politik yang dibuat cendrung berwatak maskulin dan kurang

berefektif gender, sementara sebagaian besar keputusan politik yang dibuat selalu melibatkan

perempuan sebagai sasarannya.

Pengaturan tentang kuota 30% keterwakilan perempuan yang bertujuan untuk

meningkatkan jumlah perempuan yang duduk di lembaga legislatif telah diatur dalam beberapa

undang-undang yang terkait dengan pemilu, bahkan bila dibandingkan dengan beberapa pemilu

sebelumnya, peraturan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut pada Pemilu 2014 lebih

banyak dan rinci. Meskipun demikian, jumlah perempuan yang pada akhirnya menjadi Anggota

DPR RI periode 2014-2019 justru menurun dari 101 orang atau 17,86% menjadi hanya 79 orang

atau 14% dari total 560 anggota terpilih. Hal ini perlu dicermati secara kritis karena hasil yang

diperoleh berbanding terbalik dengan tingkat pencalonan caleg perempuan yang mengalami

peningkatan pada Pemilu 2014 ini.


Perempuan dan laki-laki mempunyai tempatnya masing-masing di dalam kehidupan

kemasyarakatan. Dan kedua jenis manusia tersebut dapat menempati tempatnya masing-masing

tanpa menjadi kurang hak-sama, karena fikiran, kecerdasan, menentukan nilai yang setara antara

laki-laki dan wanita.

Reformasi politik di Indonesia sebenarnya memberikan harapan yang besar bagi

perempuan yang selama ini hak politiknya masih terpasung. Gerakan-gerakan muncul dengan

berbagai usaha pemberdayaan hak perempuan khususnya hak politik yang destruktif. Namun

era reformasi ini tidak bisa menghilangkan apatisme dan ketidak berdayaan perempuan yang

selama puluhan tahun dijebloskan oleh sistem politik hegomonik dan represif. Peta demografis

menunjukkan, jumlah penduduk perempuan di Indonesia lebih banyak dari laki-laki, demikian

pula jumlah pemilih perempuan. Namun, dalam proses politik jumlah itu bukanlah jaminan

terhadap keterwakilan perempuan secara signifikan.

Dimulai sejak Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 tentang kuota perempuan sekurang-

kurangnya 30% baik yang duduk sebagai pengurus partai politik, sebagai calon anggota KPU

maupun sebagai calon anggota DPR/DPRD. Sejak saat itulah perempuan Indonesia yang selama

ini tidak sadar kalau sudah terkena getar gender (genderquake) mulai bangkit untuk

memperjuangkan kebijakan affirmative action. Pada pemilu 2014, kaum perempuan kembali

mendapat kesempatan lagi bahwa parpol peserta pemilu harus memenuhi syarat untuk

menyertakan sekurang-kurangnya 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan parpol

tingkat pusat (UU No.8/2012, pasal 15 huruf d) dan pencalonan anggota DPR/DPRD (UU No

8/2012 pasal 55).


Berbicara tentang perempuan tidak dapat terlepas dari peran dan kedudukannya dalam

masyarakat, apalagi dikaitkan dengan masalah politik. Dalam konteks politik, peran dan posisi

kaum perempuan cukup kentara mengalami diskriminasi, masalah peran dan posisi kaum

perempuan di wilayah publik merupakan bagian dari hak-hak asasi yang setiap manusia berhak

memilikinya. Namun yang cukup ironis, kaum perempuan justru banyak yang belum memahami

tentang hak-hak mereka. Politik Indonesia yang masih sarat dengan diskriminasi gender. Harus

diakui bahwa kaum perempuan di Indonesia, yang merupakan mayoritas, masih buta terhadap

wacana politik. Peran dan posisi mereka di wilayah pengambil kebijakan masih sangat minim.

Bahkan, terdapat stigma yang menempatkan peran dan posisi kaum perempuan amat disepelekan.

Istilah Kesetaraan gender adalah istilah yang banyak diucapkan oleh para aktivis sosial,

kaum feminis, politikus, bahkan oleh para pejabat negara. Istilah kesetaraan gender secara praktis

hampir selalu diartikan sebagai kondisi "ketidaksetaraan" yang dialami oleh para perempuan.

Maka, istilah kesetaraan gender sering terkait dengan istilah-istilah diskriminasi terhadap

perempuan, subordinasi, penindasan, perlakuan tidak adil dan semacamnya. Dengan kata lain,

kesetaraan gender juga berarti adanya kesamaan kondisi bagi laki- laki dan perempuan untuk

memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan

berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan

dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan

tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural,

baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Oleh karena, banyak bermunculan program atau kegiatan, terutama dilakukan oleh

beberapa LSM, untuk memperbaiki kondisi perempuan, yang biasanya berupa pelatihan tentang

isu-isu gender, pembangkitan kesadaran perempuan dan pemberdayaan perempuan dalam segi
kehidupan ekonomi, sosial, dan politik. Pemerintah pun juga tidak tinggal diam di dalam

melakukan pencapaian hasil dari kesetaraan gender.

Kita patut bangga dan menghargai atas perjuangan kaum perempuan di legislatif, para

aktivis perempuan dan para feminis yang menginginkan semua pihak bersedia mendukung

affirmative action dengan harapan agar ada perimbangan antara laki-laki dengan perempuan di

lembaga legislatif maupun lembaga-lembaga pengambilan keputusan, sehingga kebijakan-

kebijakan publik/politik tidak akan bias jender tetapi justru akan mendinginkan suhu politik yang

semakin hari kian memanas.

Berbicara tentang perempuan dan politik, merupakan bahasan yang menarik. Sebab, peran

politik perempuan dari perspektif kalangan feminisme radikal adalah dimana terjadinya

transformasi total (kalau perlu, dengan sedikit pemaksaan) peran perempuan di ranah domestik ke

ranah publik. Atau dalam bahasa populernya, kesetaraan gender.Dominasi budaya patriarkhi

seolah memberi garisan tegas bahwa antara perempuan dan politik, merupakan dua dunia yang

berbeda dan tidak dapat bersinergi satu dengan yang lainnya. Dunianya perempuan adalah di

rumah yang meliputi wilayah domestik, mengurus anak-anak dengan segala tetek bengeknya dan

kalaupun berkarir di luar rumah maka pekerjaan/karir bukanlah hal yang utama. Perempuan

diharuskan siap memainkan peran ganda, sebagai ibu dan perempuan bekerja. Sedangkan politik

adalah tempat yang cocok bagi laki-laki karena penuh dengan intrik-intrik berbahaya, terlihat

macho, penuh manuver serta identik dengan uang dan kekuasaan.

Dengan kondisi seperti ini, perempuan jelas tidak memiliki nilai tawar menawar. Terjun

ke dunia politik bagi perempuan bukan berarti harus menjadi anggota legislatif, bupati, walikota

atau presiden. Namun berperan aktif di ranah politik meru•pakan pembuktian kemampuan
intelegensia sekaligus aktualisasi diri bagi kaum Hawa. Keterlibatan perem•puan dengan politik

berarti membukakan akses bagi perempuan untuk ikut menentukan kebijakan publik. Sebab

masalah yang dihadapi masyarakat selama ini juga merupakan masalah perempuan. Sebaliknya,

masalah perempuan juga persoalan masyarakat. Untuk itulah perempuan wajib menentukan sikap

dalam pengambilan keputusan tersebut dan melakukan kontrol atas keputusan politik itu sendiri.

Keterwakilan perempuan di parlemen juga sangat penting dalam pengambilan keputusan

publik karena akan berimplikasi pada kualitas legislasi yang dihasilkan lembaga Negara dan

publik. Selain itu juga akan membawa perempuan pada cara pandang yang berbeda dalam

melihat dan menyelesaikan berbagai permasalahan publik karena perempuan akan lebih berpikir

holistic dan beresponsif gender.Signifikansi keberadaan perempuan di parlemen juga akan

berdampak pada perumusan kebijakan dan peraturan perundang- undangan sebagai bagian dari

agenda nasional yang akan mempercepat implementasi Pengarusutamaan Gender.

Gender merupakan dimensi yang harus dimasukkan dalam semua kebijakan-kebijakan,

serta dalam perencanaan dan proses- proses pembangunan, sebab gender membantu memahami

lebih baik sikap-sikap, kebutuhan-kebutuhan, dan peran-peran perempuan dan laki-laki dalam

masyarakat menurut faktor-faktor sosial, dan permasalahan di atas menunjukkan bahwa antara

teks dan konteks beserta pemaknaan yang terjadi sangatlah menunjukkan ketimpangan dan bahkan

menggiring berbagai pihak untuk melakukan multitafsir terhadap peran perempuan di pentas

politik, sehingga akan bermuara pada ketidakjelasan keterjaminan pemenuhan hak-hak

perempuan. Hal ini patut untuk dilakukan analisis kritis dan logis untuk memberikan pemaknaan

yang mendalam, baik secara yuridis, filosofis dan sosiologis terhadap adanya teks keterwakilan

perempuan di politik yang selama ini hanya dimaknai secara parsial dan hanya dari kebutuhan para

pihak saja. Pokok pikiran ketiga Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (UUD 1945) terkandung bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang

berkedaulatan rakyat berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Oleh karena itu,

sistem negara yang terbentuk dalam Undang-Undang Dasar harus berdasar atas kedaulatan rakyat

dan berdasar atas permusyawaratan perwakilan.


Nama : Nazmi Afliza

NIM : 170200117

Tugas : Hukum dan Wanita

Wanita dalam Kepemimpinan dan Hubungannya dengan Pendidikan


Kepemimpinan wanita telah menjadi salah satu bagian isu-isu kontemporer yang telah
marak diperbincangkan, baik ditinjau dari sudut pandang teologi maupun sosiologi. Perbincangan
ini kerap kali dihubungkan dengan pendidikan. Salah satu faktor terjadinya kemunduran atau
keterbelakangan adalah karena tidak memperoleh pendidikan. Pendidikan merupakan titik
tumpuan dalam usaha pengembangan kemampuan intelektual untuk mencapai suatu tujuan
tertentu dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah kebutuhan akan pendidikan dalam
mewujudkan kepemimpinan. Kepemimpinan wanita sangat erat kaitannya dengan kemajuan
pendidikan. Wanita sebagai bagian dari makhluk yang berpotensi membutuhkan media untuk
memelihara, melatih, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kemajuan pendidikan akan
menjamin terciptanya sumber daya manusia -wanita- yang berkualitas. Wanita yang memiliki daya
intelektual tinggi tentu saja mampu menjadi pemimpin yang baik jika kesempatan itu datang
menghampirinya. Oleh karena itu, kemajuan pendidikan merupakan tombak keberhasilan dalam
mengarungi kehidupan yang telah larut dalam dunia globalisasi ini, khususnya bagi wanita yang
potensial menjadi pemimpin.

Tantangan Kepemimpinan Wanita

Tantangan utama kepemimpinan pada tahun 1990-an adalah mendorong pekerja baru yang
berpendidikan lebih baik untuk menjadi lebih berwirausaha, memanajemeni diri, dan berorientasi
pada belajar seumur hidup. Setidaknya ada perusahaan yang menawarkan tunjangan pendidikan,
bahkan investasi pendidikan dihargai dengan setengah kenaikan penjualan perusahaan. Hal ini
berarti bahwa keberhasilan pada suatu perusahaan atau pekerjaan tertentu merupakan hasil dari
adanya perhatian terhadap pendidikan. Pendidikan dijadikan sebagai pra syarat untuk melibatkan
diri pada suatu pekerjaan atau komunitas tertentu yang memiliki tujuan atau target yang hendak
dicapai. Otoritas pemimpin juga menjadi bagian dari tantangan kepemimpinan, tugas seorang
pemimpin benar-benar merupakan tantangan. Menurut Naisbitt, pemimpin tidak memiliki otoritas
apa pun atas orang lain. Jika seorang pemimpin dalam perusahaan melakukan pembelotan maka
akan mendapat peringatan selama dua minggu. Jika membantah militer, pembelot akan
diperhadapkan ke pengadilan militer. Selanjutnya militer memasukkan pembelot ke dalam penjara.

Selain tantangan tersebut di atas terdapat pula tantangan lain bagi kepemimpinan wanita,
yaitu interpretasi pro dan kontra tentang hak kepemimpinan bagi wanita. Ibnu Hajar al-Asqalani
menandaskan bahwa pemimpin wanita bukanlah mani’ (penghalang) dalam hukum Islam.
Pendapat ini kemudian dikuatkan oleh sebagian ulama Malikiyyah dalam memberikan legitimasi
Ratu Syajaratu al-Dur di Mesir. Sedangkan secara historis, al-Quran sendiri mengabadikan Ratu
Balqis yang memiliki ‘arsyun ‘azhim, karena kemampuan kepemimpinannya membawa kaum
Saba’ menjadi ma’mur (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafurun). Pada periode awal
perkembangan Islam, Siti ‘Aisyah ra. dikenal pernah menjadi seorang panglima dalam perang
Jamal. Berdasarkan investigasi historis, Fatima Mernisi menemukan tidak kurang 15 penguasa
perempuan menguasai tahta di berbagai wilayah Muslim. Tetapi mereka yang pernah berkuasa
antara abad 13-17 tersebut dilupakan (al-sulthanat al-munsiyat).

Di negeri kita dikenal juga sejumlah ratu nusantara seperti ratu Simha dari Kalingga Jawa
Tengah pada abad VII sebelum kerajaan Mataram membangun Borobudur dan Perambanan, dan
ratu Tribuana Tungga dewi dari Majapahit Jawa timur abad XIV (cucu Raden Wijaya pendiri
kerajaan Majapahit). Di Aceh dicatat empat ratu pernah memimpin kerajaan Aceh yaitu Sultanah
Taj al-Alim Suffiyah al-Din Syah (1641-1675), Sultanah Nur alam Nakkiyah al-Din Syah (1675-
1678), Sultanah Inayat Syah (1678-1688) dan Sultanah Kamalat Syah (1688-1699).

Misalnya saja seorang tokoh bernama Gayatri Rajapatni, terkenal dengan julukan ‘ratu di
atas segala ratu’, yang wafat pada tahun 1350 dan diyakini sebagai perempuan di balik kebesaran
Kerajaan Majapahit.

Majapahit sendiri merupakan kerajaan Hindu-Budha yang tergolong anti-perempuan


sebagai penggerak pemerintahannya. Namun hasil kajian yang dilakukan oleh sejarawan Earl
Dark, yang juga mantan Dubes Canada untuk Indonesia, membuktikan, bahwa puncak kejayaan
Majapahit justru tercapai karena peran sentral Gayatri, istri Raden Widjaya, ibunda ratu ketiga
Majapahit, Tribhuwanatungga-dewi, sekaligus nenek dari Hayamwuruk, raja terbesar di sepanjang
sejarah Kerajaan Majapahit. Gayatri tidak pernah menjabat resmi sebagai ratu, tetapi peran
politiknya telah melahirkan generasi politik yang sangat luar biasa di Nusantara kala itu.

Di era Kolonialisme Belanda, kita juga mengenal RA Kartini. Ia merupakan pemimpin


perempuan yang memperjuangkan kebebasan dan peranan perempuan melalui emansipasi dalam
bidang pendidikan.

Selanjutnya tokoh Supeni, dikenal sebagai politikus wanita yang menduduki berbagai
jabatan penting di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPR sekaligus anggota
Konstituante melalui partai PNI. Sebagai diplomat, ia pernah menjabat sebagai duta besar luar
biasa dan berkuasa penuh untuk Amerika Serikat dan duta besar keliling di zaman Presiden
Soekarno.

Terakhir kita pun mengenal tokoh Megawati Soekarnoputri, wanita cerdas yang pernah
menjadi Presiden Indonesia yang kelima dengan masa jabatan 23 Juli 2001 - 20 Oktober 2004.
Perannya sebagai presiden bukanlah pekerjaan yang ringan, tetapi beliau cukup tangguh untuk
menjalaninya dengan baik.
Rekaman historis tentang kesuksesan kepemimpinan wanita tersebut dapat melegitimasi
adanya hak kepemimpinan bagi wanita, baik itu dalam dunia ekonomi bisnis -perusahaan- maupun
dalam dunia politik. Anggapan tidak layak atau tidak berhaknya wanita menjadi pemimpin akan
terbantahkan dengan realitas yang telah digambarkan dalam sejarah kehidupan dengan
kepemimpinan wanita tersebut. Sehingga tantangan ini akan terjawab dengan sendirinya oleh
kemampuan wanita dalam mengaktualisasikan potensi kepemimpinannya pada sektor ekonomi
bisnis atau panggung politik.

Wanita Memiliki Hak Untuk Menjadi Pemimpin Negara

Indonesia merupakan negara demokrasi. Menurut KBBI, Demokrasi memiliki 2 arti, yaitu:

Demokrasi merupakan suatu bentuk atau sistem pemerintahan dimana seluruh rakyatnya
ikut serta dalam memerintah, yaitu melalui perantara wakil-wakil terpilih mereka.

Demokrasi merupakan suatu gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan


persamaan hak dan kewajiban, serta perlakuan yang sama bagi semua warga negaranya.

Kita garis bawahi frasa ‘persamaan hak dan kewajiban’ serta ‘perlakuan yang sama bagi
semua warna negara’. Sudah jelas tertulis bahwa demokrasi berarti kesetaraan dan kesamaan. Ini
berlaku dalam segala aspek. Entah itu masalah ras, agama, maupun gender, semua orang berhak
mendapatkan perlakuan yang sama.

Undang-Undang Dasar Tahun 1945, pada penggalan Pasal 28D ayat (1) berbunyi, “setiap
orang berhak atas perlakuan yang sama di hadapan hukum”.

Pasal 28D ayat (3) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 amandemen kedua mengamanatkan
“setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan”.

Pasal 28H ayat (2) yang berbunyi, “setiap orang berhak mendapat kemudahan dan
perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan”.

Perlu kita perhatikan pula, konsep demokrasi ini berasal dari barat. Indonesia tidak serta
merta menganut paham demokrasi tanpa filter. Maka munculah demokrasi pancasila, yaitu
demokrasi yang telah disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Apa itu demokrasi pancasila?

Prof. Dardji Darmo Diharjo mengungkapkan bahwa pengertian demokrasi Pancasila


adalah paham demokrasi yang bersumber dari kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia,
yang perwujudannya seperti dalam ketentuan-ketentuan Pembukaan UUD 1945.

Dalam Pembukaan UUD 1945, tepatnya di bagian akhir, terdapat kutipan pancasila. Yang
perlu digarisbawahi adalah pancasila poin pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Apabila
pengertian demokrasi pancasila adalah demokrasi yang perwujudannya berdasar Pembukaan UUD
1945, maka kita bisa menyimpulkan bahwa demokrasi Indonesia haruslah mengikuti aturan-
aturan agama.

Fitrah Wanita Adalah Dipimpin, Bukan Memimpin

Apabila undang-undang adalah aturan sebagai warna negara, maka agama adalah aturan
sebagai makhluk Tuhan. Tentu saja undang-undang dibuat dengan mengacu pada aturan agama,
tetapi perbedaan agama yang bermacam-macam inilah yang membuat ‘pedoman warna negara’ itu
melewati berbagai proses penyesuaian.

Di dalam Islam, tidak ada pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik atau
agama dan kepemimpinan, semuanya satu kesatuan. Karena hidup kita ini diatur oleh agama dari
hal yang paling kecil sampai pada hal yang terbesar. Hidup adalah tingkah laku, dan tingkah laku
dibatasi oleh norma agama termasuk tingkah laku dalam berpolitik.

Lalu, apakah kepemimpinan wanita diperbolehkan oleh agama Islam? Mari kita telaah
beberapa potongan ayat suci Al-Qur’an dan Hadist berikut.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh,
ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’: 34)

Oleh karena itu, kenabian hanya khusus diberikan pada laki-laki. Khalifah dan imam sholat
pun diharuskan berjenis kelamin laki-laki. Hal ini juga didukung oleh sabda Rasulullah
SAW, “suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka
kepada wanita.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits ‘Abdur Rohman bin Abu Bakroh
dari ayahnya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim pada tafsir surat An Nisaa’ ayat 34)

Kita bisa berargumen bahwa terdapat banyak pemimpin wanita yang sangat mampu dalam
menjalankan amanahnya. Sisi keibuan wanita terkadang diperlukan pula dalam kasus-kasus
tertentu. Kita bisa mengangkat tangan ke udara dan berkata, “ini adalah ketidakadilan!”. Namun
sekali lagi, apakah benar demikian? Bukankah agama memberikan suatu aturan dengan
mempertimbangkan dampak dan manfaat?

“Bagi para wanita, mereka punya hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara
yang benar. Akan tetapi para suami memiliki satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya.” (QS.
Al-Baqarah: 228)
Allah telah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan keseimbangan. Ini pun
berlaku bagi peran laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban
yang sama dalam banyak aspek. Namun, laki-laki memiliki beberapa keunggulan pula di atas
perempuan, salah satunya dalam hal kepemimpinan. Apa yang menyebabkannya? Perbedaan
hormon. Kepemimpinan cenderung menuntut pribadi yang tegas dan berpikiran rasional.
Sedangkan fitrah perempuan adalah lemah lembut dan emosional. Sama sekali bertolak belakang
dengan kriteria pemimpin.

Lalu, apakah wanita benar-benar dilarang memimpin? Ini tidak adil!

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab atas
kepemimpinanmu. Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia harus
mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu. Perempuan adalah pemimpin dalam rumah
suaminya dan diapun bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (Hadist Riwayat Ahmad,
Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dari Ibnu Umar)

Sekali lagi, sebuah hadist mematahkan teori ‘ketidakadilan’ yang kita, orang awam,
lontarkan begitu saja tanpa pikir panjang. Dalam hadist tersebut telah jelas dikatakan bahwa
perempuan pun adalah pemimpin, yaitu pemimpin dalam rumah suaminya. Artinya, ruang lingkup
kepemimpinan wanita hanyalah dalam rumah suaminya, sebagai pemimpin bagi anak-anaknya dan
urusan rumah tangga.

Mengapa ruang lingkupnya kecil sekali?

Kita juga tidak boleh melupakan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “tidak boleh bagi
seorang wanita keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin dari suaminya." (HR Ath
Thabrani)

Jelaslah bahwa Islam tidak menganjurkan kepemimpinan wanita di luar rumah karena
alasan ini. Perempuan sudah menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Perempuan mengurusi
hampir segala hal dalam rumah tangga dan hampir tidak memiliki waktu untuk hal lainnya.

Pengaruh Kemajuan Pendidikan terhadap Kepemimpinan Wanita

Kata pendidikan dari segi bahasa (etimologi), ‘education’ (pendidikan) berasal dari bahasa
Latin: e, ex (out) yang berarti ‘keluar’, dan ‘ducere duc’, berarti mengatur, memimpin,
mengarahkan (to lead). Secara harfiah, yaitu mengumpulkan dan menyampaikan informasi, dan
menyalurkan kemampuan (bakat). Pada dasarnya pengertian pendidikan ini terkait dengan konsep
penyampaian informasi dan pengembangan bakat yang tersembunyi. Adapun pendidikan menurut
M. Ngalim Purwanto adalah ‘segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk
memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan’. Makna lain yang
terkandung di dalamnya menyangkut pemeliharaan dan pengembangan terhadap fitrah manusia
sebagai suatu potensi setiap orang sejak lahir. Penghargaan dan pengakuan atas kebebasan untuk
berkembang dan berpikir progresip termasuk bebas dalam aktualisasi diri mengisi dan membentuk
sejarah manusia sendiri sebagai subjek, bukan justru kebebasan itu dibungkam dan dibuat tidak
berdaya oleh pranata sosial yang namanya pendidikan yang oleh Freire disebutnya dengan
kebudayaan bisu (the cultural of silence) yang terus menerus dilanggengkan demi kepentingan
status quo.

Praktek-praktek pendidikan pun harus senantiasa mengacu pada eksistensi manusia itu
sendiri. Dari sini kemudian lahir sebuah mekanisme pendidikan yang kritis, demokratis,
transformatif yang berorientasi pada upaya memanusiakan manusia. Dengan demikian pendidikan
bukanlah merupakan pengalihan atau transfer of knowledje (pengetahuan) belaka melainkan ia
pun membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensinya untuk tahu lebih banyak
dan belajar terus dalam arti seluas mungkin. Sejak manusia menghendaki sebuah tatanan
masyarakat yang romantis dan harmonis, maka sejak itu pula manusia melakukan aktivitas
kontemplasi merenungi fenomena-fenomena kehidupan. Hasil dari perenungan panjang manusia
tersebut, disepakatilah pendidikan sebagai instrumen terbaik dalam menciptakan sebuah
kehidupan yang harmonis dan romantis. Dalam kehidupan manusia pendidikan merupakan hal
yang mendasar dan perlu mendapat perhatian, karena pendidikan merupakan upaya yang serius
untuk melestarikan nilai-nilai hidup tertentu baik dalam lingkungan pribadi, keluarga maupun
masyarakat.

Demikian pula, pendidikan dapat menjadi media untuk mempertahankan keyakinan


seseorang atau kelompok dari gangguan pihak lain. Karena itu, tak jarang kajian pendidikan
didahului oleh kajian mendalam mengenai konsep, dasar berpijak, dan arah yang akan dicapai dari
kegiatan pendidikan itu. Secara potensial pendidikan itu penting karena merupakan suatu cara yang
mapan untuk memperkenalkan seseorang pada keputusan sosial yang timbul, juga dapat
menanggulangi masalah sosial tertentu, dapat memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk
menerima dan mengimplementasikan alternatif-alternatif baru dan merupakan cara terbaik yang
ditempuh masyarakat untuk membimbing perkembangan manusia sehingga pengamanan dari
dalam berkembang pada setiap anak dan karena itu dia terdorong untuk memberikan kontribusi
pada kebudayaan hari esok.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini merupakan salah satu peningkatan
dalam dunia pendidikan. Pendidikan harus peka mengahadapi arus putaran globalisasi, termasuk
dalam hal persyaratan seorang pemimpin, khusunya bagi wanita. Kemajuan sains dan teknologi
telah mampu membuka semakin lebar tabir rahasia alam semesta. Kemajuan pendidikan telah
mampu memberikan pengaruh positif bagi kepemimpinan wanita dalam hal penyempurnaan
spritual, pencerahan kemampuan intelektual, dan pemeliharaan terhadap akhlak, moral, dan etika
dalam kehidupan individu, berkeluarga, dan bermasyarakar. Hampir menjadi semacam
kesepakatan umum, bahwa peradaban masa depan adalah peradaban yang dalam banyak hal
didominasi oleh ilmu pengetahuan (khususnya sains), yang pada tingkat praksis dan penerapan
menjadi teknologi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa maju atau mundurnya suatu
masyarakat di masa kini dan masa yang akan datang sangat bergantung pada tingkat penguasaan
ilmu dan kemajuan sains khususnya.

Terkait dengan hal ini, secara khusus dalam agama Islam, wanita diwajibkan menuntut
ilmu pengetahuan seperti halnya kaum pria. Agama Islam telah menyamakan wanita dan pria
dalam hal-hal yang bersifat kerohanian dan kewajiban-kewajiban keagamaan tanpa perbedaan
dalam ilmu dan pendidikan. Salah satu misi Islam diturunkan ke dunia ini adalah untuk
membebaskan segenap umat manusia dari segala bentuk diskriminasi dan penindasan termasuk
diskriminasi seksual, warna kulit, etnis, dan ikatanikatan primordial lainnya. Sekalipun Alquran
secara tekstual mengakui persamaan antara manusia namun dalam tataran implementasi pada
kehidupan sehari-hari seringkali prinsip-prinsip kesetaraan tersebut diabaikan. Hal ini disebabkan
oleh citra perempuan dalam masyarakat sering diidentikkan dengan 3 R, Dapur, Sumur, dan Kasur.
Pandangan ini menyebabkan perempuan terkebelakang terbelenggu oleh kebodohan yang pada
gilirannya sulit meraih peran publik, sehingga tidak pernah mandiri dan hidup selalu bergantung
pada orang lain. Sebaliknya, laki-laki diidentikkan dengan segala simbol kekuatan, kemandirian
tinggi, dan terpola di masyarakat bahwa laki-lakilah yang harus berperan di dunia publik dan
perempuan tinggal dalam rumah mengurusi segala hal yang bersifat domestik.

Emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek
kehidupan masyarakat seperti persamaan hak kaum wanita dan kaum pria. Jika kata Emansipasi
dirangkai dengan kata wanita menjadi emansipasi wanita, maka dapat berarti proses pelepasan diri
para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang
membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Proses menuju kemajuan tersebut
diantarkan oleh kemajuan pendidikan yang berupa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
telah dapat dinikmati oleh lapisan masyarakat yang paham tentang kemajuan tersebut. Wanita yang
memiliki pendidikan-kemampuan intelektual dalam menerjemahkan dan memanfaatkan
teknologi- akan lebih maju, kreatif, inovatif, dan refresentatif untuk menjadi pemimpin. Teknologi
telah mampu mengefisienkan energi dan waktu secara praktis. Pada masa modern seperti ini,
wanita tidak lagi perlu khawatir akan kesulitan membagi waktu dan menyesuaikan dengan kondisi
fisik. Mereka tidak lagi harus direpotkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan menghabiskan
seluruh waktunya dalam sehari atau memaksimalkan fisiknya untuk melakukan pekerjaan yang
berat.

Berdasarkan beberapa pandangan dan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
pengaruh kemajuan pendidikan terhadap kepemimpinan wanita terlihat lebih memberikan peluang
untuk mencapai posisi pemimpin jika kemajuan pendidikan- ilmu pengetahuan dan teknologi-
dipahami dan diperoleh dengan tujuan untuk lebih meningkatkan potensi diri, baik dalam dunia
bisnis maupun dalam dunia politik praktis. Sehingga kepemimpinan wanita akan lebih berkualitas
jika dibarengi dengan penguatan kecerdasan.

Nama : Fitri Anisyah Lubis


Nim : 170200351

Mata Kuliah : Hukum dan Wanita

PEMEBERDAYAAN PEREMPUAN

I. Pendahuluan
Pemberdayaan perempuan mempunyai makna dimana perempuan melakukan suatu
gerakan dari diri mereka sendiri karena adanya suatu tantangan yang dihadapinya. Grace maupun
Ihromi secara implicit ingin mencoba untuk memberikan pengertian tentang pemberdayaan
perempuan, dari sudut mana perspektif yang akan dikembangkan. Grace yang melakukan
penelitian didaerah Afrika (Negara berkembang), dalam program pembangunan negaranya
menggunakan kerangka kerja dari suatu kegiatan, untuk suatu pemberdayaan, setelah menganalisis
situasi dan dampak yang dihasilkan terhadap perempuan. Penelitian Grace terhadap perempuan
pedesaan diwilayah sebelah Barat Nile (Uganda) sejak tahun 1986 yaitu di 4 (empat) distrik, Arua,
Nebbi, Mayo dan Adjumani. Empat daerah yang berbatasan dengan Sudan (Utara) dan Congo 1
(Barat), yang telah mengalami perang karena pergantian pemerintahan yang mengakibatkan
labilnya pemerintah. Penduduknya terdiri dari pengungsi yang berasal dari Sudan dan Congo.
Hasil dari analisis Grace, kiranya dapat menjadi perbandingan bagi perempuan di Indonesia yang
situasi dan kondisinya dapat dianalogikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia saat ini.
Apa yang ditulis oleh Grace, yang mengaplikasikan program untuk pemberdayaan
perempuan menggunakan kerangka kerja dari Sarah Longwe, seorang konsultan dari Zambia
tentang Issue Gender dan Pembangunan, dengan menggunakan 5 (lima) indikator. Kelima
indikator tersebut adalah :
1. Kesejahteraan (welfare)
Kesejahteraan perempuan dalam hubungan dengan laki-laki dapat diketahui, apakah
perempuan sudah mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki terhadap sumber daya
seperti makanan, pendapatan dan pemeliharaan kesehatan.
2. Akses (Acces)
Perempuan mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki dalam faktor produksi,
misalnya dibidang peternakan, pekerjaan, kredit, pelatihan, fasilitas pemasaran dan
pelayanan publik. Semua ini didukung oleh tersedianya peraturan perundang-undangan
dan praktek-praktek non diskriminatif.
3. Pengetahuan (Conscientisation)
Dalam hal ini Longwe menjelaskan tentang pengetahuan akan pemahaman tentang sex
dan gender, bahwa peran gender adalah hasil kebudayaan dan hal itu dapat diubah.
4. Partisipasi (Participation)
Longwe mengartikan partisipasi disini adalah dalam proses membuat keputusan baik
dalam membuat kebijakan (Policy making), perencanaan (Planning) dan administration.
Hal ini sangat penting dalam proyek Pembangunan.
5. Kontrol
Persamaan dalam kontrol antara laki-laki dan perempuan berarti bahwa lakilaki dan
perempuan tidak ada dominasi. Perempuan dapat mengawasi proses kebijakan melalui
pengetahuan dan gerakan untuk mencapai persamaan dalam mengontrol semua faktor
produksi.
Kerangka kerja untuk pemberdayaan perempuan tentu saja berbeda strateginya dari setiap
negara tergantung situasi dan kondisinya seperti yang ditulis dalam buku “Sida looks Forward”
tentang Sida’s programme for global development.
Profil negara-negara berkembang memiliki profil yang sama dengan profil seperti negara-
negara Afrika, yang mengalami kesulitan untuk membangun ekonomi negaranya ditengah-tengah
ekonomi dunia. Institusi Pemerintahannya sangat lemah, dimana untuk pembangunan wilayahnya
masih tergantung pada bantuan negara lain. Oleh karena itu diperlukan adanya kerja sama antar
negara untuk memberdayakan masyarakat dengan cara memerangi kemiskinan dan
memperbaharui sistem demokrasi dan melindungi lingkungan. Seperti tulisan Sida tentang Asia,
baik Asia Timur, Asia Selatan maupun Asia Tenggara termasuk Indonesia, dapat dikatakan bahwa
untuk mengubah masyarakat upaya yang harus dilakukan adalah dengan menurunkan tingkat
kemiskinan, melindungi lingkungan, memperbaharui bentuk-bentuk sosial, demokrasi dan
persamaan. Jadi kerangka kerja pemberdayaan perempuan lebih menitik beratkan profil-profil
negara yang mengarah pada upaya penurunan kemiskinan, melindungi lingkungan, mempengaruhi
bentuk sosial, demokrasi dan persamaan termasuk gender equity dan gender equality.
Pemberdayaan Perempuan dibidang hukum dilakukan melalui Strategi Pengarusutamaan
Gender (Gender Mainstreaming) dapat diintegrasikan kedalam keempat tipe tersebut diatas,
dengan mengimplementasikannya dalam Pembangunan Nasional, khususnya dimasukkan dalam
Sistem Hukum Nasional. Tidak hanya pemberdayaan perempuan di bidang hukum, bidang-bidang
lain pun demikian halnya diintegrasikan dalam berbagai program pembangunan.
Budaya paternalistik dan feodalistik masih menghambat pemberdayaan perempuan dan
kesetaraan gender, antara lain adanya stereotype yang menempatkan perempuan sebagai pekerja
domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik. Gerakan kesetaraan gender bukan hanya masih
tertuang dalam konsep saja, tetapi juga belum didukung secara sungguh-sungguh oleh para
pembuat kebijakan di semua tingkat pemerintahan, khususnya di kalangan perencana dan
pelaksana pembangunan. Keterbatasan pemahaman ini memperlambat upayaupaya
mengintegrasikan konsep kesetaraan dan keadilan gender ke dalam berbagai kebijakan dan
program pembangunan.
Walaupun tuntutan pemberdayaan perempuan serta perwujudan kesetaraan dan keadilan
gender kecenderungannya juga semakin kuat, namun belum diimbangi dengan kesiapan dan
dukungan para pihak terkait untuk memberikan kepercayaan kepada perempuan untuk menduduki
dan berperan dalam jabatan dan profesionalisme tertentu, selain masalah intern dari dalam diri
perempuan sendiri. Isu tentang perempuan dan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan
telah menjadi perhatian dunia dengan kecenderungan yang semakin menguat.
Millenium Development Summit tahun 2000 merupakan kulminasi dari berbagai
pertemuan global tingkat tinggi dunia tentang pembangunan, antara lain World Summit on
Environment and Development tahun 1992 di Rio de Janeiro, International Conference on
Population and Development tahun 1994 di Cairo, World Conference on Women tahun 1995 di
Beijing, World Summit for Social Development tahun 1995 di Copenhagen dan World Summit on
Human Settlement tahun 1996 di Istambul.

II. Pembahasan

Teori feminisme oleh fitsum et al menjelaskan bahwa pemberdayaan ingin mengangkat


harkat dan martabat perempuan sebagai manusia dengan tujuan akhir bagi perempuan untuk
menjadi Mandiri secara ekonomis, dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan yang baru bagi
keberadaan perempuan, menghapuskan serta mereformasi hal-hal yang tidak sesuai dengan
perempuan atau bias gender. Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan perempuan adalah
membentuk individu perempuan dalam masyarakat menjadi Mandiri. Arti kata mandiri merujuk
pada kemandirian berpikir bertindak dan mengendalikan atau mengontrol apa yang mereka
lakukan tersebut.

Pengertian pemberdayaan perempuan sendiri telah berkembang ke arah yang lebih


pengertian yang bernuansa peningkatan pemberian kesempatan bagi perempuan dan (laki-laki)
untuk mengkontrol kehidupan mereka pada kewenangan untuk membuat keputusan, kewenangan
untuk mengeluarkan pendapat (suara) yang didengarkan, kewenangan untuk bernegosiasi tentang
sesuatu yg tidak pernah dapat dirundingkan yang pada hakekatnya berupaya untuk
menyeimbangkan status dan posisi perempuan dengan laki-laki.

Oleh karenanya pendekatan yang berkembang meskipun Women in Develpoment masih


juga digunakan, Women and Development perlu lebih diintensifkan, di mana pendekatannya
menekankan pada kemampuan perempuan untuk bernegosiasi, menyatakan pendapat berdiskusi,
berorganisasi yang mendasarkan pada kemampuan perempuan untuk mandiri, menentukan
perilaku hidup mempengaruhi arah perubahan mengkontrol sumber daya alam dan sumber daya
manusia dalam pembangunan.

Berdasarkan Keppres Nomor 134 Tahun 1999 Kementerian Pemberdayaan Perempuan


menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan kebijakan pemerintah di bidang pemberdayaan perempuan termasuk keluarga


berencana.
2. Pengkoordinasian dan peningkatan keterpaduan penyusunan rencana monitoring evaluasi
terhadap program pemberdayaan perempuan.
3. Peningkatan peranserta masyarakat di bidang pemberdayaan perempuan untuk
mewujudkan keadilan dan kesetaraan jender.
4. Pengkoordinasian kegiatan instansi pemerintah, swasta dan lembaga swadaya masyarakat
dalam rangka pemberdayaan perempuan.
5. Pengkoordinasian kegiatan operasional Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.
6. Penyampaian laporan hasil evaluasi saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya
kepada Presiden.
Oleh karena itu Visi dan Misi Pemberdayaan Perempuan adalah:
Visi : Mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender, kesejahteraan dan perlindungan anak dalam
berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sedangkan Misinya adalah:
1. Meningkatkan kualitas hidup perempuan;
2. Memajukan tingkat keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik;
3. Menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan;
4. Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak;
5. Meningkatkan pelaksanaan dan memperkuat kelembagaan pengarusutamaan gender;
6. Meningkatkan partisipasi masyarakat;

Usaha-usaha untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender sesungguhnya sudah lama
dilakukan oleh berbagai pihak, namun masih mengalami hambatan. Kesetaraan dan keadilan
gender masih sulit untuk dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya kaum wanita. Oleh
karena itu pemerintah telah mengambil kebijakan, tentang perlu adanya strategi yang tepat yang
dapat menjangkau ke seluruh instansi pemerintah, swasta, masyarakat kota, masyarakat desa dan
sebagainya.

Strategi itu dikenal dengan istilah pengarusutamaan gender, berasal dari bahasa Inggris
gender mainstreaming. Strategi ini tertuang di dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 tahun 2000
tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Secara operasional,
pengarusutamaan gender dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dibangun untuk
mengintegrasikan kebijakan gender dalam program pembangunan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan evaluasi. Pengarusutamaan gender, bertujuan untuk
terselenggaranya perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program
pembangunan nasional yang berperspektif gender.

Sejalan dengan arah kebijakan pengarusutamaan gender, maka sasaran pembangunan


pemberdayaan perempuan adalah :

1. Terwujudnya peningkatan kualitas SDM perempuan kedudukan dan peranan perempuan


termasuk dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan secara adil dan
proposional di berbagai bidang kehidupan.
2. Tercapainya peningkatan kualitas peranan pengelolaan dan kemandirian organisasi
perempuan dan komitmen masyarakat dalam pemberdayaan perempuan.
3. Terwujudnya kesadaran, kepekaan dan kepedulian gender seluruh masyarakat terutama
perumus kebijakan pengambil keputusan perencana dan penegak hukum di semua
tingkatan dan segenap aspek pembangunan. Tercapainya peningkatan kesadaran kritis
masyarakat tentang perbedaan kebutuhan, minat aspirasi dan kepentingan perempuan.
4. Terwujudnya pembangunan sektor yang berperspektif jender melalui upaya
pengarusutamaan jender yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring
dan evaluasi baik di tingkat pusat maupun daerah.

Dalam rangka peningkatan peran dan posisi perempuan, berbagai kegiatan telah dilakukan, antara
lain;

a. Di Bidang Pengarusutamaan Gender :


1. Melakukan sosialisasi, advokasi, pelatihan dan penyediaan data dan fasilitas penyedian
tentang data terpilah menurut jenis kelamin, dalam rangkapengintegrasian strategi
pengarusutamaan gender ke dalam kebijakan, program, proyek, dan kegiatan
pembangunan daerah dapat di kembangkan.
2. Berfungsinya unit kerja, kelompok kerja dan focal point pengarusutamaan Gender di
tingkat pusat baik terhadap instansi pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.
Di daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota beranggotakan para pejabat lintas sektor,
dengan terbentuknya unit kerja, kelompok kerja dan focal point pengarusutamaan gender
yang difasilitasi oleh kelembagaan dan kelompok kerja pemberdayaan perempuan.
3. Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan
berkesinambungan di kabupaten/kota, yang bermanfaat untuk mengetahui adanya
kesenjangan gender di berbagai bidang pembangunan di masing-masing kabupaten/kota
4. Dialokasinya dana pembangunan di pusat, propinsi, kabupaten/kota yang signifikan
setiap tahunnya dalam pelaksanaan pengarustamaan gender.
5. Pemetaan peran kelembagaan pengarusutamaan gender dalam memformulasikan
kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah yang responsif gender.
6. Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak. Berbagai upaya yang
dilakukan dalam rangka penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak
adalah:
a. Dalam hal kelembagaan, di Tingkat Nasional secara lintas bidang Pembangunan
kelembagaan yang berperan mengkoordinasikan pembangunan pemberdayaan
perempuan telah dibentuk. Sampai saat ini telah terbentuk 24 kelembagaan dengan
berbagai nama seperti Kelompok Kerja; Tim Koordinasi PUG; Tim PUG; Gender
Focal Point; dan Pelaksana PUG serta Tim Teknis Pokja PUG. Berbagai
kelembagaan ini diharapkan mampu menginisiasi upaya upaya guna mewujudkan
keadilan dan kesetaraan gender di masing masing instansi, pemerintah.
b. Kelembagaan yang menangani pembangunan pemberdayaan perempuan di daerah
juga menunjukkan eksistensi sesuai dinamika perkembangan desentralisasi
otonomi. Di tataran eksekutif kelembagaan formal yang menangani pembangunan
pemberdayaan perempuan berkembang secara dinamis pula. Saat ini
Biro/Bagian/Unit yang menangani pembangunan Pemberdayaan Perempuan di
daerah adalah sebagai berikut: Kelembagaan formal untuk level eselon II tersebar
di 12 propinsi yaitu: Propinsi NAD; Sumut; Sumbar; Sumsel; Jambi; Kep. Riau;
Lampung; Jateng; NTT; Kalteng; Sulut; dan Papua. Level eselon III tersebar di 23
propinsi lainnya.
c. Pelatihan PUG dan Anak bagi perencana program SKPD di 274 kabupaten/kota
dilakukan untuk meningkatkan pemahaman bagi aparat perencana di daerah dalam
menyusun program dan anggaran yang responsif gender. guna mendapatkan
fasilitator PUG dan Anak yang terlatih di 32 propinsi,telah dilakukan Training of
Trainers (TOT) bagi calon fasilitator PUG dan Anak di 32 provinsi.
d. Dalam rangka terlaksananya koordinasi dan evaluasi pelaksanaan pembangunan
yang responsif gender dan anak di daerah, telah dilakukan Forum koordinasi dan
evaluasi pelaksanaan strategi PUG di 32 propinsi dan 274 kabupaten/kota.
Selanjutnya dilakukan Pengembangan kebijakan dan program yang responsif
gender di berbagai lintas bidang pembangunan. Untuk bidang ekonomi, keuangan,
energi dan sumber daya mineral serta perhubungan dan perumahan rakyat,
dikembangkan kebijakan dan program yang responsif gender. Kegiatan ini telah
ditindaklanjuti oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat dalam bentuk penyusunan
konsep kebijakan perkuatan peran perempuan dalam pembangunan perumahan
swadaya. Departemen Keuangan telah memasukan kurikulum gender dan PUG
dalam Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Telah dilakukan pula
Pengembangan kebijakan danprogram yang responsif gender di bidang pertanian,
kehutanan, perikanan, ristek, koperasi dan KUKM dan kelautan. Kementerian
Pemberdayaan Perempuan berkontribusi pada Departemen Pertanian dengan
membentuk Kelompok Kerja Pertanian di Lahan Kering guna meningkatkan
produktivitas pertanian di lahan kering. Di bidang IPTEK dan Riset Kementerian
Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan Kementerian Negara Ristek dan
UNESCO mengadakan lokakarya untuk meningkatkan peran perempuan di bidang
Iptek dan riset.
e. Di Bidang Politik, hukum dan HAM serta aparat penegak hukum (Kepolisian,
Mahkamah Agung, Pengadilan dan Kejaksaan). Dikembangkan kebijakan dan
program yang responsif gender. Kegiatan ini telah ditindak lanjuti oleh sektor
dengan pembentukan Pokja PUG di Departemen Luar Negeri, Kejaksaan Agung,
Mahkamah Agungdan Dep. Hukum dan HAM. Kegiatan sosialisasi dan advokasi
bagi para pejabat di lingkungan Departemen Luar Negeri, Dep. Hukum dan HAM
juga dilakukan. Sementara itu Dep. Pertahanan telah mengangkat seorang
perempuan peserta pelatihan sebagai Direktur Potensi SDM. Hal yang sama
dilakukan pula di lembaga pemerintah non departemen (LAN, BKN, Arsip
Nasional, BNN, BKKBN).
f. Pertemuan Forum Komunikasi Gender Focal Point (GFP) dan Pokja PUG sektor di
pusat, menghasikan identifikasi dan upaya pemecahan permasalahan berbagai
kegiatan dalam pelaksanaan strategi PUG.
g. Telah dilakukan Pemberian dana stimulan bagi 33 propinsi dan 301 kabupaten/kota
untuk fasilitasi/advokasi tata pemerintahan yang responsif gender melalui
pelaksanaan strategi pengarusutamaan gender. Kegiatan Fasilitasi penyusunan
anggaran kinerja yang responsif gender di 33 propinsi, dan 148 kabupaten/kota.
Selanjutnya, untuk pengembangan analisis gender telah dilaksanakan di 52
kabupaten/kota, dan fasilitasi sosialisasi pemahaman gender di 106 kabupaten/kota,
fasilitasi penyusunan statistik gender terdapat di 53 kabupaten/ kota, dan advokasi
PUG untuk DPRD di 32 propinsi.
h. Tersusun dan tersosialisasikannya Indikator Kesetaraan dan Keadilan Gender
(IKKG) di 10 propinsi dan Pemetaan Wilayah berdasarkan IKKG di 32 propinsi
yang berkerjasama dengan Lembaga Demografi dan SDM Universitas Indonesia
(LDFE-UI).
i. Membangun sistem dan mekanisme kelembagaan dan jaringan PUG dan Anak
termasuk data gender dan profil anak di 32 propinsi.
j. Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2A)) di
propinsi, dan kabupaten/kota. P2TP2/A adalah suatu bentuk wahana pelayanan
dalam upaya pemenuhan kebutuhan peningkatan pendidikan, kesehatan, ekonomi,
penanggulangan tindak kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan anak,
serta peningkatan kondisi dan posisi kaum perempuan dalam masyarakat dalam
rangka mewujudkan KKG. Dalam hal ini, telah dilakukan pelatihan pengelola Pusat
Pelayanan Terpadu (P2T) Rumah Sakit Bhayangkara untuk memperkaya wawasan
pelatih/fasilitator tentang materi KKG dan Tatalaksana Penanganan Korban
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Peserta berasal dari 12 propinsi (NAD,
Riau, Bengkulu, Bali, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Kalsel, Kalbar, Kalteng, NTT dan
Papua).

b. Di Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan


Berbagai kebijakan telah ditetapkan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan di
berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan telah ditetapkan kebijakan pemberantasan buta
aksara perempuan, kebijakan dalam bidang politik melalui aksi afirmasi keterwakilan
perempuan di parlemen, kebijakan perlindungan perempuan dalam ketenagakerjaan, serta
penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak antara lain dengan telah
ditetapkannya Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga. Ketersediaan data dan statistik yang terpilah menurut jenis kelamin juga menjadi
salah satu sasaran pembangunan pemberdayaan perempuan tahun 2006, karena dengan adanya
data tersebut dapat diketahui berbagai permasalahan gender secara lintas bidang
pembangunan dan di masing-masing wilayah.
Upaya yang telah dilakukan antara lain melalui penyusunan Profil Statistik dan Indikator
Gender yang menggambarkan posisi dan kondisi laki-laki dan perempuan di berbagai bidang
pembangunan baik tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota. Penyediaan dan
pengembangan berbagai indikator gender juga telah dilakukan, antara lain Indikator
Kesetaraan dan Keadilan Gender (IKKG), HDI (Human Development Index), GDI (Gender
Development Index) dan GEM (Gender Empowerment Measure). Melalui indikator tersebut,
dapat diketahui kesenjangan hubungan gender dalam hal akses, kontrol, partisipasi maupun
manfaat dengan membandingkan antar wilayah maupun antar waktu.
Pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak dapat dikemukakan hal-hal sebagai
berikut :
 Bidang Pendidikan
Pentingnya melek aksara bagi perempuan sehingga memerlukan komitmen semua
pihak, pemerintah nasional, propinsi, dan kabupaten/kota, organisasi kemasyarakatan,
organisasi perempuan dan swasta serta semua lapisan masyarakat untuk meningkatkan
keaksaraan perempuan dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Oleh
karena itu, pemerintah telah menetapkan program aksi bersama melalui
PERATURAN BERSAMA TIGA MENTERI yaitu antara Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan, Menteri dalam Negeri, dan Menteri Pendidikan Nasional,
Tentang Percepatan “Pemberantasan Buta Aksara Perempuan” (PBAP) yang telah
ditandatangani pada tanggal 18 Juli 2005. Implementasi dari peraturan tersebut, maka
telah disusun Rencana Aksi Nasional PBAP (RAN-PBAP) dan pedoman PBAP;
Advokasi PBAP melalui Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) keluarga di propinsi
DI Yogya, Bali, NTB, dan Papua untu meningkatkan pemahaman keluarga tentang
pentingnya pendidikan; dan Penyusunan baseline buta aksara perempuan di propinsi
Kalbar, NTT, Sulsel, dan Bengkulu, dimaksudkan untuk mengetahui kantong-kantong
buta aksara perempuan dan diketahuinya jumlah penduduk perempuan buta aksara di
lokasi sasaran. Hal lain adalah:
a) Tersosialisasinya UU Nomor 7/1984 tentang ratifikasi CEDAW, pelatihan
CEDAW di propinsi, dan pembentukan komisi penyusunan laporan CEDAW
di tingkat pusat;
b) Tersusunnya model pendidikan perempuan pesisir, pendidikan perempuan dan
IPTEK;
c) Asean commites on Women di Manila Philipina, untuk mengidentifikasi
informasi succes story pelaksanaan kerjasama pemberdayaan perempuan
negara-negara ASEAN dan Eropa yang dapat digunakan sebagai acuan
Kementerian PP.
 Bidang Ekonomi
Prioritas pembangunan ekonomi perempuan tahun 2005-2006 adalah
mengembangkan model desa PRIMA (Perempuan Indonesia Maju Mandiri). Model
Desa PRIMA adalah membangun kemitraan antara pemerintah, perusahaan swasta,
organisasi kemasyarakatan serta lembaga perbankan. Dimaksudkan untuk
meningkatkan kemampuanperempuan agar lebih berperan di sektor ekonomi dengan
mengubah citra perempuan dari posisi subordinate menjadi pemeran penting dalam
kegiatan usaha ekonomi. Hal-hal yang sudah dilakukan adalah:
a) Terlaksananya kajian harmonisasi peraturan perundang-undangan Bidang
Ekonomi bagi Perempuan Tingkat Daerah (Jawa, Bali), untuk mengidentifikasi
pasal-pasal yang berbenturan dan bias gender;
b) Revitalisasi program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan
Sejahtera (P2WKSS);
c) Fasilitasi dalam pengintegrasian kebijakan tentang peningkatan akses dan
usaha ekonomi mikro, kecil dan menengah perempuan;
d) Monitoring dan evaluasi program P2WKSS di tujuh propinsi (Jambi, Sumbar,
Riau, Bali, Kalsel, Sulteng, dan Maluku). Hasil monev diketahui bahwa
P2WkSS masih relevan untuk dilaksanakan, walaupun sempat terhenti
pendanannya;
e) Study banding Mikro Kredit ke Malaysia, bertujuan untuk mengetahui
pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi utamanya usaha mikro, kecil
dalam menjalankan usahanya serta akses mereka pada perbankan;
f) Terlaksananya Pameran Produk Usaha Kecil Mikro Perempuan bekerjasama
dengan pihak swasta yang diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2003.
Pameran I dan II dilaksanakan di Yogyakarta, dan ke III di Bandung.
 Bidang Kesehatan
Fokus pembangunan pada aspek kesehatan adalah meningkatkan kesadaran keluarga
dan masyarakat akan pentingnya gizi anak balita, kesehatan ibu, dan remaja putri
termasuk percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Hal-hal yang sudah
dilakukan adalah:
a) Pemantapan jejaring kerja dengan TP-PKK dalam upaya percepatan penurunan
AKI melalui Gerakan Sayang Ibu (GSI);
b) Fasilitasi pembentukan model kecamatan sayang Ibu di propinsi;
c) Sosialisasi pencegahan penyalahgunaan Napza dan penyebaran HIV/AIDS
bagi organisasi perempuan dan kemasyarakatan di propinsi;
d) Terakomodirnya perlindungan hukum dan pelayanan kesehatan reproduksi
yang dibutuhkan perempuan dalam rencana amandemen UU No. 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan;
e) Pengintegrasian program pembangunan PP dan anak ke dalam kegiatan
Peningkatan Kepedulian Masyarakat dalam Pelayanan Kesehatan,
bekerjasama dengan lintas sektor, dan pihak-pihak terkait lainnya dalam
penanganan gizi balita.
 Bidang Ketenagakerjaan
Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di bidang ketenagakerjaan bertujuan untuk
meningkatkan peran dan partisipasi serta status dan kedudukan perempuan dalam
ketenagakerjaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, telah dilakukan berbagai upaya
antara lain:
a) menetapkan peraturan perundangan tentang peningkatan akses dan usaha
ekonomi mikro, kecil, menengah dan menyusun berbagai kebijakan dan
strategi peningkatan perlindungan perempuan yang bekerja di dalam dan luar
negeri;
b) Upaya perlindungan tenaga kerja perempuan yang dilakukan melalui:
1) Koordinasi dan kerjasama pemantauan pemberangkatan dan
pemulangan tenaga kerja perempuan di 7 embarkasi yaitu: Belawan,
Batam, Tanjung Balai Karimun, Tarakan, Nunukan, Tanjung Perak,
dan Entikong;
2) Tersedianya peta permasalahan tenaga kerja perempuan Indonesia pada
aspek equity, employment, opportunity (EEO);
3) Perlindungan terhadap TKI perempuan yang akan bekerja di luar negeri
mencakup aspek hukum, aspek medis, dan aspek sosial ekonomi, dan
(4) Mendorong percepatan pembentukan “Badan Nasional Penempatan
dan Perlindungan TKI”, sebagai perwujudan amanat dari Undang-
Undang No.39 Tahun 2004.
 Bidang Sosial, Budaya, dan Lingkungan
Permasalahan sosial, budaya, dan lingkungan secara bertahap dan berkesinambungan
diupayakan untuk menghilangkan ”budaya patriarkhi” dan ”permisif” yang
menghambat peran perempuan dalam meningkatkan kualitas hidupnya khususnya
pada bidang sosial, budaya, dan lingkungan. Sehingga dilakukan upaya mendorong
dan pengaktifan kembali lembaga kultural masyarakat yang berpangkal pada nilai-
nilai agama dan kearifan lokal yang mampu mendukung terlaksananya program
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Upaya-upaya lain adalah:
a) Terlaksananya Kajian Potensi Nilai-Nilai Budaya dan Kearifan Lokal di 3
propinsi yaitu Sumsel, Sulut, dan Jatim;
b) Tersusunnya Infokit Teknologi Tepat Guna yang Responsif Gender;
c) Terselenggaranya Pertemuan dan Koordinasi dalam Persiapan Penyusunan
RAN Pornografi dan Pornoaksi di tingkat nasional;
d) Tersusunnya Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup; dan
e) Tersosialisasinya Gerakan Masyarakat Bersih Pornografi dan Pornoaksi di 3
propinsi yaitu : Sumut, Sumsel, dan Sulsel.

 Bidang Hukum
Peraturan perundangan berfungsi sebagai landasan legalistik pelaksanaan hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara termasuk dalam pembangunan
pemberdayaan perempuan, kesejahteraan dan perlindungan anak. Masih banyak
produk hukum Indonesia yang belum mengandung persamaan hak dan kewajiban
antara warga negara, khususnya antara laki-laki dan perempuan.
Hingga saat ini masih terus dilakukan kajian peraturan perundang yang kurang
responsif terhadap perlindungan perempuan antara lain terhadap Lansia dan
Penyandang Cacat, seperti: Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistim
Jaminan Sosial Nasional, Undang-Undang No.4 Tahun 1997 Tentang Penyandang
Cacat, dan Undang-Undang No.13 Tahun 1998 tentang Lanjut Usia. Hal-hal lain
adalah :
a) Telah disyahkannya PP No.4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan
Kerjasama Pemulihan Korban KDRT;
b) Koordinasi dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait khususnya dengan DPR
RI dalam penyiapan RUU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang;
c) Tersusunnya RPP Pemulihan korban KDRT;
d) Tersusunnya sistem pencatatan pelaporan KDRT;
e) Fasilitasi penyusunan RUU tentang Pornografi dengan pihak-pihak terkait
khususnya dengan DPR RI.
 Bidang Politik
Upaya meningkatkan keterwakilan perempuan 30% di lembaga legislatif, (sebagai
prioritas) posisi dan peran perempuan di lembaga eksekutif dan komposisi dan peranan
perempuan di lembaga yudikatif, meskipun secara normatif telah didukung landasan
peraturan perundangan, namun dalam pelaksanaan masih belum memenuhi harapan.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah melakukan berbagai hal:
a) Melakukan penyusunan Panduan Rencana Aksi Peningkatan Partisipasi Politik
Perempuan (PRANGKAT PARTPOLPUAN) yang bertujuan untuk
meningkatkan keterwakilan, posisi, dan peran serta komposisi perempuan di
lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif di pusat maupun daerah;
b) Identifikasi peraturan perundangan Bidang Politik dan Pemilu di Lembaga
Legislatif, untuk mengidentifikasi pasal-pasal dalam UndangUndang No.31
Tahun 2002 tentang Parpol, Undang-Undang No.12 Tahun 2003 tentang
Pemilu dan Undang-Undang No.22 Tahun 2003 tentang Susduk MPR, DPR,
DPD dan DPRD yang tidak ramah perempuan dan kurang mendukung upaya
perwujudan keterwakilan perempuan 30% di legislatif; dan
c) Teridentifikasi Peraturan Perundang-undangan Kepegawaian tentang
peranserta dan posisi perempuan di lembaga eksekutif;
 Bidang Anak
Upaya peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak adalah membangun anak
Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, bertakwa, dan terlindungi, maka berbagai kegiatan
yang telah dilakukan/dihasilkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan adalah:
a) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan
Departemen Sosial dan Departemen Kominfo, serta menjalin kemitraan
dengan PT. Telkom dan Plan Indonesia telah mengembangkan Telepon
Layanan Anak Indonesia di DKI Jakarta, Makasar, Surabaya, dan Banda Aceh
dengan merealisasikan nomor 129 sebagai sistem layanan bantuan dan
perlindungan yang mudah diakses oleh anak ketika mereka membutuhkan
pertolongan dan membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara tentang kasus
yang mereka hadapi, serta memberikan kesempatan kepada anakanak untuk
mendapatkan akses informasi secara gratis.
b) Penyusunan konsep dan uji publik Rencana Aksi Nasional Penghapusan
Kekerasan terhadap Anak (RAN PKTA).
c) Penyusunan panduan kebijakan perlindungan ‘Pembantu Rumah Tangga
Anak’ (PRTA) bekerja sama dengan ILO/IPEC.
d) Pemetaan anak bermasalah hukum (ABH) untuk mengetahui latar belakang
mengapa anak melakukan tindakan/perbuatan melawan hukum yang dilakukan
di tiga propinsi yakni Sumut, DKI Jakarta, dan Sulsel.
e) Capacity building bagi penegak hukum di 2 regional. dalam rangka
meningkatkan pemahaman aparat penegak hukum tentang ketentuan-ketentuan
Konvensi Hak Anak (KHA) - Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.
f) Revitalisasi Bina Keluarga Balita (BKB) untuk menyegarkan kembali kegiatan
BKB sebagai upaya pembinaan tumbuh kembang balita.
g) Pelatihan untuk Pelatih (TOT) dalam rangka memasyarakatkan PNBAI 2015 ,
di seluruh propinsi di Indonesia.
h) Penyusunan Panduan pelaksanaan rencana aksi partisipasi anak.
i) Penyusunan rumusan draft kebijakan perlindungan khusus untuk anak korban
bencana dan panduan bagi pendayagunakan sumbersumber daya bagi
pengembangan kota layak anak.
j) Penyusunan panduan pemberdayaan ekonomi keluarga anak jalanan.
k) Pemberian penghargaan untuk Pemimpin Muda Indonesia yang dilakukan
setiap tahun dan dilaksanakan bertepatan pada peringatan Hari Anak Nasional
(HAN) tanggal 23 Juli.
III. Kesimpulan
Dalam Teori feminisme oleh fitsum et al menjelaskan bahwa pemberdayaan ingin
mengangkat harkat dan martabat perempuan sebagai manusia dengan tujuan akhir bagi perempuan
untuk menjadi Mandiri secara ekonomis, dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan yang baru
bagi keberadaan perempuan, menghapuskan serta mereformasi hal-hal yang tidak sesuai dengan
perempuan atau bias gender. Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan perempuan adalah
membentuk individu perempuan dalam masyarakat menjadi Mandiri. Arti kata mandiri merujuk
pada kemandirian berpikir bertindak dan mengendalikan atau mengontrol apa yang mereka
lakukan tersebut.
Pengertian pemberdayaan perempuan sendiri telah berkembang ke arah yang lebih
pengertian yang bernuansa peningkatan pemberian kesempatan bagi perempuan dan (laki-laki)
untuk mengkontrol kehidupan mereka pada kewenangan untuk membuat keputusan, kewenangan
untuk mengeluarkan pendapat (suara) yang didengarkan, kewenangan untuk bernegosiasi tentang
sesuatu yg tidak pernah dapat dirundingkan yang pada hakekatnya berupaya untuk
menyeimbangkan status dan posisi perempuan dengan laki-laki.

Dalam perkembangannya Usaha-usaha untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender


sesungguhnya sudah lama dilakukan oleh berbagai pihak, namun masih mengalami hambatan.
Kesetaraan dan keadilan gender masih sulit untuk dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat
khususnya kaum wanita. Oleh karena itu pemerintah telah mengambil kebijakan, tentang perlu
adanya strategi yang tepat yang dapat menjangkau ke seluruh instansi pemerintah, swasta,
masyarakat kota, masyarakat desa dan sebagainya.
Strategi itu dikenal dengan istilah pengarusutamaan gender, berasal dari bahasa Inggris
gender mainstreaming. Strategi ini tertuang di dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 tahun 2000
tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Secara operasional,
pengarusutamaan gender dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dibangun untuk
mengintegrasikan kebijakan gender dalam program pembangunan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan evaluasi. Pengarusutamaan gender, bertujuan untuk
terselenggaranya perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program
pembangunan nasional yang berperspektif gender.

DAFTAR PUSTAKA
Sapardjaya, Komariah Emong. 2006. Laporan Akhir Kompendium Tentang Hak-Hak Perempuan.
Diambil dari : https://www.bphn.go.id/data/documents/hak_hak_perempuan.pdf. (13
Januari 2021)
Utaminingsih, Alifiulahtin.Feminisme Perempuan dan Pemberdayaan Perempuan Berperspektif
Sosiopsikologis. Diambil dari : https://books.google.co.id/books?id=r4T-
DwAAQBAJ&pg=PA54&dq=pemberdayaan+perempuan+adalah&hl=id&sa=X&ved=2ah
UKEwjXldnKuZruAhUS93MBHYOPCE4Q6AEwAnoECAYQAg#v=onepage&q=pembe
rdayaan%20perempuan%20adalah&f=false. (13 Januari 2021)
Sudarta, Wayan. Peranan Wanita Dalam Pembangunan Berwawasan Gender. Diakses dari:
file:///C:/Users/user/Downloads/2758-1-3753-1-10-20121113.pdf. (13 Januari 2021)
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 tahun 1999 tentang kedudukan, tugas fungsi
susunan organisasi dan tata kerja menteri negara Presiden Republik Indonesia.
NAMA : YOLANDA PANJAITAN

NIM : 170200470

HAK WARIS PEREMPUAN PRESPEKTIF HUKUM BATAK TOBA SEBELUM


DAN SESUDAH TERBITNYA PUTUSAN MA NO. 179K/SIP/1961

Hukum adat pada hakekatnya adalah merupakan pencerminan dari pada pancasila itu
sendiri dalam hal hukum, hukum adat senstiasa berkembang di atas konsep dasar pancasila.
Hukum adat dalam pembinaan hukum nasional sangat penting, karena hukum yang hidup
dikalangan masyarakat Indonesia, lahir dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan
masyrakat itu sendiri, masayrakat Indonesia yang memiliki pandangan filsafat hidup pancasila.

Suku Batak merupakan salah satu dari ribuan suku yang terdapat dalam keanekaragaman
budaya di Indonesia. Sampai saat ini masyarakat suku batak percaya bahwa nenek moyang/ leluhur
batak berasal dari kaki gunung pusuk buhit yang bernama si Raja Batak. Keturunan leluhur
tersebut mendiami seluruh wilayah pulau samosir, dan sebagian keturuna tersebut menyebrangi
danau toba dan kemudian mendiami daerah-daerah yang berada di wilayah Sumatera Utara.

Indonesia yang merupakan negara hukum telah banyak memiliki jenisjenis hukum yang
diterapkan pada penduduknya, salah satu jenis hukum yang ada dilingkungan masyarakat
Indonesia adalah hukum waris. Hukum waris merupakan hukum yang bertujuan untuk mengatur
siapa yang berhak memperoleh harta peninggalan leluhurnya (Orang Tua). Ditinjau dari Hukum
Adat hukum waris merupakan peraturan mengenai cara bagaimana dan dari abad keberapa
penerusan dan peralihan dari sebuah harta kekayaan yang berwujud maupun yang tidak berwujud
dari generasi kepada generasi selanjutnya

Pembagian harta warisan di Indonesia berhubungan erat dengan susuna kekeluargaan yang
berada pada masyarakat. Ada 3 kelompok kekeluargaan yang dianut di Indonesia yaitu

1. Susunan kekeluargaan patrilineal, dimana dari pihak laki-laki (bapak) adalah penarik garis
keturunan,
2. Susunan kekeluargaan matrilineal, dimana dari pihak perempuan (ibu) adalah penarik garis
keturunan,
3. Susunan kekeluargaan parental, dimana dari pihak kerabat bapak maupun dari kerabat ibu
dapat ditarik garis keturunan pada masyarakat ini.

Hilman Hadikusuma mengemukakan pendapatnya bahwa masyarakat Batak Toba yang


menganut system kekrabatan Patrilineal, adalah penganut sistem pewarisan individual yang masih
membedakan gender, dimana pihak laki-laki adalah pihak yang berhak sebagai penerima waris.
Masyarakat adat Batak Toba juga beranggapan bahwa kedudukan anak laki laki lebih jauh lebih
tinggu dari kedudukan pada anak perempuan. Dengan kedudukan laki-laki yang lebih tinggi
dibandingkaan dengan kedudukan perempuan maka hal ini mempenngaruhi kedudukan
perempuan dalam hal waris keluarga (Hadikusuma Hilman,1994).

Perubahan zaman dari masa ke masa mengakibatkan adanya rasa ketidak adilan perempuan
dalam kepemilikian hak waris. Peningkatan pendidikan dan pengetahuan pada anak perempuan
menyebabkan kaum perempuan melakukan penolakan susunan kekeluargaan Patrilineal.
Penolakan kaum perempuan terhadap susunan kekeluargaan Patrilineal dapat memicu konflik
internal dalam keluarga yang kemudian kaum perempuan menempuh jalur peradilan dalam
penyelesaian masalah hak waris. Banyaknya usaha kaum perempuan dalam memperoleh hak
warisan ayah maupun suami telah melatarbelakangi keluarnya berbagai kebijakan-kebijakan
hukum di Indonesia seperti keluarnya berbagai macam Yurisprudesnsi dari Mahkamah Agung
Republik Indonesia, Salah satu Yurisprudensi nya adalah Yurisprudensi Mahkamah Agung
Republik Indonesia No. 179/K/SIP/1961 yang menciptakan adanya persamaan hak mewaris antara
anak laki – laki dan anak perempuan bagi masyarakat Indonesia. Pada masyarakat Patrilineal Batak
menyatakan bahwasannya :
“. . . selain rasa perikemanusiaan dan keadilan umum, dan atas hakikat persamaan hak antara
pria dan wanita, dalam beberapa keputusan menganggap sebagai hokum yang hidup diseluruh
Indonesa, bahwasannya anak laki – laki dan anak perempuan dari seorang peninggal waris
bersma – sama berhak atas harta warisan yang ditinggalkan, bahwa bagian anak laki – laki sama
setara dengan anak perempuan maka dari itu juga, seorang anak permpuan harus dianggap
sebagai ahli waris yang berhak menerima bagian dari harta warisan yang ditinggalkan dari
orangtuanya tersebut”.
Kapasitas Yurisprudensi Mahkamah Agung Repbulik Indonesia dalam hukum adat tidak
terlalu berpengaruh, namun bagaimanapun kehadiran yurisprudensi ini mempengaruhi hukum adat
yang berlaku di lingkungan masyarakat, yaitu memberikan hak waris bagi anak perempuan, yang
akhirnya memberi pengaruh terhadap bagi masyarakat Patrilineal. Yurisprudensi Mahkamah
Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 telah menyebabkan persamaan kedudukan hak
mewaris antara anak laki – laki dan anak perempuan pada masyarakat adat suku Batak Toba
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian mengenai
“Hak Waris Perempuan menurut Hukum Adat Batak Toba Sebelum dan Sesudah Keluarnya
Keputusan MA.NO. 179 K/Sip/1961”
Kata waris berasal dari Warisan, yang berasal deri bahasa Arab yaitu "warith" yang artinya
ahli waris dalam bahasa Indonesia yaitu orang yang berhak mewerisi; dan pihak lain yang
menamakannya "Hukum Waris", "Hukum Pusataka" dan lain-lain (Hazairin, 1982). Beberapa
definisi dari pengertian warisan tersebut, yang dikemukakan oleh beberapa sarjana yeng antara
lain adalah sebagai berikut :

Menurut Prof. Dr.R.Wirjono Projodikoro, SH, Warisan amerupakan: apa dan bagaimana cara
berbagai hak-hak dan kewajiban terkait kekayaan seseorang pada waktu dirinya meninggal dunia
yang kelmudain akan berpindah kepada keluarga yang masih hidup (Projodikoro, 1980).

Menurut Prof.Dr.Soepomo, SH, dalam bukunya: Bab-bab tentang Hukum Adat, menyatakan, adat
waris merupakan: berisi tentang peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan harta
benda dan barang-barang yang berwujud maupun tidak berwujud (Imma terielegoederen) dari
suatu angkatan manusia (generatie) kepada keturunannya (Soepomo, n.d.).

Syarat-Syarat Pewarisan : Setelah penulis menguraikan pengertian warisan, maka


berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa untuk adanya suatu warisan harus dipenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :

1. Adanya Pewaris Menurut Hilman Hadikusuma Pewaris adalah orang yang memiliki harta
warisan. “Pewaris merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesorang yang
meninggalkan harta peninggalan kepada penerima warisan. Dengan kata lain pewaris
merupakan orang yang memiliki harta peninggalan atau orang yang memiliki harta
warisan(Hadikusuma, 1983).
2. Adanya Ahli Waris Ahli waris merupakan anak-anak dari orang yang meninggalkan
warisan atau orang /orang yang hakikatnya berhak mendapatkan warisan dari pewaris.
Dengan adanya anak-anak sebagai ahli waris maka anggota keluarga lain akan memiliki
kesempatan kecil untuk memperoleh warisan dari pewaris. Sedangkan tentang
Pembagiannya, menurut keputusan Mahkamah Agung pada tanggal 1 November 1961
Reg.No.179 K/Sip/ 1961 menyatakan bahwa anak laki-laki dan anak perempuan memiliki
hak yang sama dalam hal memperoleh hak waris dari pewaris.
3. Adanya Harta Peninggalan Harta peninggalan merupakan semua harta benda yang dulu
pernah dimiliki oleh pewaris semasa ia hidup, jadi semua harta pewaris tidak akan terbatas
terhadap harta yang dimilikinya pada saat ia mati. Prof.Dr.R.Wiryono Prodjodikoro,SH
"Bahwa sifat warisan dalam suatu masyarakat tertentu adalah berhubungan erat dengan
sistem kekeluargaan serta pengaruhnya pada kekayaan di dalam masyarakat(Projodikoro,
1980). Adapun sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia dapat digolongkan ke
dalam 3 (tiga) besar, yaitu :
a. Kekeluargaan yang bersifat kebapakan (patrilinial). kebapakan Dalam kekeluargaan
yang bersifat darah (Patrilinial) ini adalah sistem pertalian kedudukan yang ditarik
menurut garis bapak, dimana pria lebih menonjol pengaruhnya dari kedudukan wanita
dalam pewarisan. Hal ini terdapat pada masyarakat Batak, Nias, Gayo, Alas, Nusa
Tenggara dan Irian.
b. Kekeluargaan yang bersifat keibuan (ma trilinial). Dalam kekeluargaaan yang bersifat
keibuan ini kekeluargaan/hubungan darah yang ditarik dari garis ibu, dimana
kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya dari kedudukan pria dalam warisan.
Hal ini terdapat dalam masyarakat Minangkabau, Enggano dan Timor.
c. Kekeluargaan yang bersifat keibu-bapa kan (parental) Dalam hal ini yang ditarik adalah
menurut garis kedua sisi ( bapak dan ibu ) dimana kedudukan pria dan wanita tidak
memeiliki perbedaan di dalam hal pewarisan. Hal ini dapat dijumpai pada masyarakat
Jawa, Riau dan Kalimantan.
Sebelum Keluarnya Keputusan Mahkamah Agung No 179 K/Sip/1961 Sistem perkawinan
pada masyarakat Batak Toba adalah sistem eksogami yakni keluarga laki-laki membayar uang
jujur kepada keluarga pihak perempuan yang membawa akibat sebagai berikut :
a) Si mempelai wanita akan keluar dari KK ayah nya dan akan mengikuti suaminya
b) Anak-anak sebagai ahli waris adalah anak laki-laki
c) Semua Harta yang diperoleh padamasa Perkawinan adalah menjadi milik suami

Menurut Mr.Palti Raja Siregar wanita Batak di tidaklah sebagai ahli waris adalah :

1) Oleh karena jika ia kawin ia menjadi anggota anggota keluarga dari pihak suaminya
sebagai Muta pihak keluarganya suami dia tidak mungkin lagi dari orang tuanya dia
tidaklah memperluas anggota margadadi bapaknya Bahkan ia adalah memperluas anggota
Marga dari pihak suaminya.
2) Tidak berhak nya wanita Batak untuk mewaris juga didasarkan pada kepercayaan orang
Batak yang mengatakan bahwa “sumangot” (roh) dari nenek laki-laki dan bapak yang
mempunyai kekuatan untuk memberikan kekayaan Kehormatan dan keturunan sedangkan
nenek perempuan dan ibu tidak mempunyai “Tuah” (sahala) artinya berdasarkan pada
kepercayaan ini maka wanita Batak tidak berhak untuk mempunyai harta benda secara
langsung(Siregar, n.d.-a)

Walaupun wanita menurut hukum adat Batak Toba bukan merupakan ahli waris Tetapi dia
juga mendapat harta bagian dari harta peninggalan orang tuanya seperti adanya pemberian
Bapak kepada anak perempuan sewaktu masih kecil ,ada harta bawaan atau (pauseang)
sewaktu ia kawin atau waktu diparohon, adanya pemberian yang diserahkan sesudah dan
sebelum dia berumah tangga atau pemberian berupa “holong ni Ate” atau berupa “abit Sora
buruk” maupun untuk keperluan kehidupannya hal ini memperhatikan lihatkan bahwa bapak
atau kalau dia sudah mati Putra sulungnya selalu siap mengulurkan tangan kepada putrinya
atau saudaranya perempuannya dan anak-anaknya yang disebut dengan adat ni Boru yaitu
kewajiban yang harus ditunaikan oleh hula-hula kepada borunya. Hal ini berarti bahwa dikala
Boru dalam kesulitan atau memerlukan sesuatu sebagaimana harta kekayaan keluarga
dijatuhkan kepadanya.

Dalam hal wanita Batak mendapat bagian dari harta peninggalan bapaknya untuk keperluan
kehidupannya adalah berarti bahwa anak perempuan tersebut menjadi tanggungan bapaknya
dalam hal keperluan kehidupannya artinya apabila si bapak meninggal makanan perempuan
yang menjadi tanggungannya harus juga tetap memperoleh dari harta peninggalannya untuk
keperluan kehidupannya tanggungan mana juga berpindah menjadi tanggungan para ahli waris
hibah tersebut jika harta peninggalan si bapak tidak mencukupi kalau anak perempuan tersebut
sudah kawin maka tidak perlu lagi diberikan kehidupan dari harta benda bapaknya oleh karena
ia sudah menjadi anggota keluarga dari pihak suaminya.

Untuk dapat mengutarakan hal yang ingin lebih lanjut mengenai kedudukan wanita Batak
dalam hukum warisan terutama tentang kedudukan seseorang janda terhadap harta peninggalan
suaminya maka lebih baik diterangkan dahulu tentang siapa-siapa yang dimaksud dengan
wanita Batak (Boru Batak) adalah setiap perempuan Batak yang sudah kawin maupun yang
belum kawin. Wanita Batak yang telah menikah yang perlu dibicarakan dengan seluruh harta
benda suaminya adalah janda-janda dari laki-laki Batak (suaminya) yang meninggal. Janda
yang dimaksud disini adalah semua janda dari hasil pernikahan orang laki-laki Batak yang
telah meninggal dari perkawinannya berlangsung dengan ayah menurut hukum adat Batak
artinya walaupun jalan ke tersebut bukan berasal dari wanita Batak asli maka dengan
dilangsungkannya perkawinan nya menurut hukum yang berlaku bagi si suami yaitu menurut
hukum adat Batak Maka janda tersebut dengan sendirinya dianggap termasuk orang Batak Jika
perlu janda tersebut dapat memperoleh Marga pemberian yang dilakukan dengan upacara adat
sesuai dengan Marga dari keluarga pihak ibunya si suami (Siregar, n.d.-b).

Janda si suami yang telah meninggal sangat erat hubungannya dengan harta peninggalan
suaminya dibedakankan :

a. Soripada na mangka baluhon ama nagabe, yaitu yang mempunyai anak laki-laki.
b. Soripada na mangka buluhon ama na purpur, yaitu janda yang tidak mempunyai anak
laki-laki dan wanita.
c. Soripada na mangka buluhon ama na punu, yaitu janda yang tidak mempunyai anak
perempuan dan mempunyai anak laki-laki Wanita Batak sebagai anak perempuan dari
seorang Bapak yang erat hubungannya dengan harta benda Si Bapak dibedakan:
1) Boru na dung marsaripe, yaitu anak perempuan seorang bapak yang sudah kawin.
2) Boru na so marsaripe, yaitu anak perempuan dari seorang bapak yang belum kawin,
ataupun yang kawin.

Dalam bahasa Batak Toba, anak perempuan dari seorang Bapak disebut "boru"nya, sedangkan
anak laki - laki disebut "anak"nya. Istilah boru ini harus dibedakan dengan istilah "anak boru"
sebagai satu tungku dalam dalihan natolu yang juga dalam bahaga Batak Toba disebut "boru"
dengan kata lain bahwa yang disebut boru dalam hal ini hanya anak perempuan saja,
sedangkan yang ma ksud dengan boru dalihan na tolu ialah baik anaknya perempuan maupun
suaminya serta anak keturunannya. Boru dari seorang Bapak dibagi lagi antara :

1. Boru na gabe, yaitu wanita yang mempunyai saudara laki-laki.


2. Boru na punu, yaitu wanita yang tidak mempunyai-saudara laki-laki.

Hak-hak peninggalan suami terhadap janda adalah sebagai berikut:

a) Janda yang memiliki seorang atau lebih anak laki - laki (soripada na mangka buluhon ama
na gabe) berhak semua menguasai harta peninggalan suaminya, hingga anak-anaknya
menjadi dewasa, Hak tersebut ada padanya dengan perantaraan anaknya laki-laki
disamping haknya untuk keperluan kehidupannya. Jadi harus peninggalan harus
digunakannya untuk keperluan kehidupannya beserta anak-anaknya.
b) Janda yang tidak mempunyai anak laki-laki meupun anak perempuan (soripada na
mangkubaluhon ama na purpur) hanya berhak atas harta peninggalan suaminya sebanyak
keperluan kehidupannya. Jika harta pencahariannya (arta na pinaiduk-iduk nagida) si janda
dengan suaminya tidak mencukupi untuk keperluan kehidupan si janda, maka ia dapat
menggunakan hasil dari harta panjean suaminya, aken tetapi jika harta pencaharian mereka
juga sudah cukup untuk keperluan kehidupannya, maka harta penjaean mendiang suaminya
kembali kepada keluarga Bapak mendiang suaminya. Jike si janda kawin lagi dengan orang
lain, ataupun kalau kembali ke rumah orang tuanya, maka bapak mendiang suaminya dapat
menggugat agar harta pencaharian dibagi dua
c) Janda yang hanya mempunyai anak perempuan (soripada na mangkabaluhon ama na punu),
berhak mengusai harta peninggalan suaminya hingga anaknya yang perempuan kawim.
Jika semua anaknya yeng perempuan telah kawin, maka si janda tersebut mempunyai
kedudukan yang sama seperti janda yang tidak mempunyai anak perempuan dan anak laki-
laki.

Dari uraian di atas tersebut dapatlah dikatakan bahwa janda selalu berhak untuk menguasai
seluruh harta peninggalan suaminya untuk keperluan kehidupan nya beserta anak-anaknya
yang belum dewasa dan anak perempuan yang belum kawin, maka si janda tersebut punyai
kedudukan yang sama seperti janda tersebut pada janda yang tidak mempunyai anak laki-laki
maupun Perempuan. Dari uraian-uraian tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa janda selalu
berhak untuk menguasai seluruh harta peninggalan suaminya untuk keperluan kehidupannya
beserta anak-anaknya yang belum dewasa dan anak perempuan yang belum kawin, dan dalam
hal ini mempunyai anak laki-laki, ia dapat menguasai seluruh harta peninggalan suaminya.
Hak Dari Wanita (boru) atas Harta Peninggalan Atau Harta peninggalan atau harta Benda
Otang Tuanya. Hak dari seorang wanita terhadap harta orang tuanya ada yang merupakan hak
yang langsung dan hak yang tidak langsung.Hak yang langsung dari wanita Batak Toba atas
harta orang tuanya, adalah terutama untuk keperluan kehidupannya.

Menurut Mr. Palti Raja Siregar : "Bagai seorang wanita yang belum kawin terutama di
daerah Batak Toba biasanya oleh banyaknya diberikan Saba bangunan (sebidang sawah) atau
hauma bangunan (sebidang kebun) agar hasilnya depat dipergunakannya Saba bangunan atau
hauma bangunan terutama diberikan kepada anak perempuan yang cacad, karena banyak
kemungkinannya yang mereka itu tidak disamping orang (Ibid, n.d.)

Selain dari yang tersebut di atas, maka wanita Batak hanya mempunyai hak secara tidak
langsung atas harta benda bapaknya, ini terutama ada pada wanita Batak yang sudah kawin.
Oleh karena anak perempuan dari seorang bapak tidaklah dipandang patut untuk menggugat
bagiannya secara aktif dan mereka hanya dapat menghimbau atau memintanya dengan
perantaraan saudaranya laki-laki, ataupun karena diberikan oleh pihak keluarga bapaknya,
demi untuk kepentingannya dalam lingkungan keluarga suaminya.

Jadi boleh dikatakan bahwa wanita batak mendapat bagian dari harta benda bapaknya
sebagai hadiah atau sebagai kenang-kenangan yang pemberian itu disebut dalam bahasa Batak
Toba :

1) Holong ni ate (peuseang)


Holong ni ate adalah pemberian dari seorang bapak kepada anaknya yang perempuan
sewaktu anaknya yang perempuan tersebut kawin, pemberian mana adalah sedemikian
rupa, sehingga anak perempuan akan dipandang tinggi didalam lingkungan keluarga
suaminya (asa - sangat ibana). Pemberian itu terutama terdiri dari alat-alat keperluan
rumah tangga dan barang-barang perhiesan, dan ini adalah merupakan herta bawaan si
perempuan di dalam perkawinannya.
2) Abit na so ra buruk.
Abit na so ra buruk diperoleh oleh seorang anak perempuan yang telah menikah dari
ayahnya terutama ayahnya yang telah meninggal. Pemberian ini biasanya berbentuk
sebagai pesan (tona) dari bapaknya sebelum ia meninggal dunia. Ini bissanya terdiri
tanah pertanian dan hanya dapat dipergunakan selama ia masih hidup dan ia tidak boleh
mengalihkannya.
Jika bapaknya meninggal tanpa adame ninggalkan pesan, maka sewaktu
pemberesan harta peninggalan oleh saudaranya laki-laki sebagai ahli waris ataupun ahli
waris lainnya dari bapaknya si anak perempuan adalah dianggap patut untuk
memberikannya. Benarnya bagian yang akan diserahkan tergantung pada keadaan.
Anak pertama merupakan orang yang mengambil keputusan, harus lebih
memperhatikan hak dan kepentingan semua adiknya yang lelaki dan jatah yang harus
diberikan kepada semua anak perempuan.

Maka kesimpulan dari esai yang ini adalah sebagai berikut :

1. Bahwasanya dengan adanya hukum warisan yaitu untuk dapat beralih hak dan
kewajiban dibidang harta kekayaan dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada
orang-orang yang berhak menerimanya, itupun sepanjang yang diatur dalam hukum
nasional sebagaimana tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku sekarang dapat
diperbaharui mengingat dalam negara Indonenia terdapat berbagai suku dan Adat
Istiadat dan masih kuatnya Hukum Adat yang berlaku bila dilihat dari sistem
kekeluargaannya memungkinkan sebagian orang ada yang tidak mendapat warisan
karena sistem Patrilinial khusuanya Hukum Adat Batak Toba.
2. Batak Toba dengan sitem perkawinan taruhon jual (eksogami-patriarcht)
mengakibatkan hak waris sepenuhnya berada pada ahli waris laki-laki dan anak
perempuan tidak memilik ha katas warisan orang tuanya. Jika suatu saat anak
perempuan memiliki harta waris, warisan ini hanyalah pemberian belaka agar anak
perempuan bakalan mengikut suaminya.
3. Dalam hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Batak Toba hanya anak laki-laki
saja yang menjadi ahli waris sedangkan anak perempuan bukan lah sebagai ahli waris,
namun sesuai dengan perkembangan zaman dan hukum yang berlaku sekarang, setelah
keluarnya Keputusan Mahkamah Agung No.179 K/Sip 1961, dimana bahwasannya
anak perempuan Juga telah dapat menuntut supaya dia juga dinyatakan berhak atas
peninggalan dari orang tuanya sama dengan hak seorang anak laki-laki.
4. Bahwasanya dengan adanya pembinaan ataupun pembaharuan hukum adat ke dalam
hukum nasional serta jurisprudensi-jurisprudensi Mahkamah Agung mempunyai
peranan yang sengat penting bagi kepentingan Masyarakat luas dengan dibuatnya
perangkat hukum yang berlaku, sebagaimana penulis skripsi terangkan dalam hal
warisan menurut adat.
5. Perlu kita ketahui perangkat hukum berfungsi untuk mengatasi masalah- masalah yang
dihadapi oleh masyarakat seperti dalam penulisan penelitian tentang warisan, jadi
dengan adanya peraturan yang dapat berlakukan tidak menutup kemungkinan apa yang
menjadi hak dan kewajibannya dapatlah ia menuntutnya, kerena adanya perlindungan
hukum yang baru bagi orang yang tak pantas menerima warisan menjadi dapat ia
menuntutnya sepanjang ia tidak bertentangan dengan ketentuan hukum dan norma-
norma hukum yang berlaku sekarang ini.
6. Dengan demikian salah satunya perangkat hukum dapat berlaku dalam praktek ialah
Yurisprudensi atau Putusan Mahkamah Agung yang tidak bertentangan dengan norma-
norma hukum yang dapat memberikan arah bagi pembentukan hukum waris nasional
yang dicita-citakan. Seperti penulis tuliskan dalam skripsi ini tentang Keputusan
Mahkamah Agung yang dihubungkan dengan masalah warisan dalam masyarakat adat
Batak Toba, bahwasannya pihak perempuan tidak mendapat menjadi berhak
mendapatkan warisan
7. Hak waris anak perempuan Batak Toba telah mengalami pergeseran hal ini
berlandaskan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 179 K/Sip/1961. Tanggal 23
Oktober 1961 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 415 K/Sip/1970 tanggal 16
Juni 1971 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 707 K/Sip/1973 tanggal 18
Maret 1973, yang menyatakan anak lakilaki dan anak perempuan memiliki kedudukan
yang sama dalam hal ahli waris dan berhak untuk mendapatkan untuk mendapat bagian
yang sama dari harta warisan peninggalan orang tuanya.
NAMA : ATIKAH FAUZIAH

NIM : 170200355

WANITA KARIR DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi serta pengalaman menyuguhkan


sesuatu yang berbeda untuk kaum wanita. Jaminan untuk sukses secara ekonomi finansial, diakui
eksistensinya dan menyandang predikat mandiri membuat wanita harus menjemput impian dengan
belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memperoleh pekerjaan yang layak serta
memperoleh kedudukan yang tinggi dalam dunia kerja. Sebagaimana kaum pria, saat ini banyak
wanita yang bekerja di luar rumah, baik dikantor pemerintahan maupun swasta bahkan ada yang
di bidang kepolisian dan kemiliteran layaknya seorang pria. Dalam kehidupan modern banyak
wanita yang bekerja dan berkarir dalam bidang pendidikan dan sosial budaya, seperti menjadi
guru, dokter, arsitek, artis dan lain-lain. Ada yang terjun dalam bidang hukum seperti menjadi
hakim, jaksa, pengacara dan lain-lain. Ada yang dalam bidang ekonomi seperti pengusaha,
pedagang, dan sebagainya. Bahkan ada pula yang terjun dalam bidang politik seperti jadi anggota
DPR, MPR ataupun presiden.

Seiring dengan berubahnya cara pandang masyarakat terhadap peran dan posisi kaum
wanita di tengah masyarakat, saat ini banyak kaum wanita yang berkarir, namun pengakuan sosial
terhadap keterlibatan wanita ini masih sangat sulit karena faktor budaya serta keinginan
masyarakat yang sangat kuat untuk mempertahankan tradisi yang sudah melekat. Lalu, bagaimana
sebenarnya hukum Islam meletakkan kedudukan wanita dalam kehidupan bermasyarakat? Dan
apakah benar bahwasanya dalam hukum islam seorang wanita tidak diperbolehkan untuk berkarir?

Sebelum masuk ke isi pembahasan, terlebih dahulu kita kemukakan apa yang dimaksud
dengan wanita karir. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “wanita” berarti perempuan dewasa.
Sedangkan “karier” berarti berkecimpung dalam kegiatan profesi. Karier adalah pekerjaan yang
memberikan harapan untuk maju, karier tidak hanya sekedar bekerja biasa, melainkan merupakan
minat seseorang pada suatu pekerjaan yang dilaksanakan atau ditekuni dalam waktu yang panjang
secara penuh demi mencapai prestasi tinggi, baik dalam upah maupun status. Dengan demikian
“wanita karir” adalah wanita yang menekuni dan mencintai sesuatu atau pekerjaan secara penuh
dalam waktu yang relatif lama, untuk mencapai suatu kemajuan dalam hidup, pekerjaan atau
jabatan. Dalam hukum Islam, wanita karier adalah wanita yang memerankan dirinya sebagai
seorang yang menekuni profesi tertentu dalam rangka memenuhi suatu kebutuhan disamping
perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga, sehingga sering disebut wanita berperan ganda.
Dalam hukum islam, keikutsertaan wanita dalam kegiatan profesi harus mempunyai tujuan yang
baik, dan apapun profesi yang dijalaninya hendaknya tidak mengganggu hak suami dan anak-
anaknya karena mengurus rumah tangga adalah tanggung jawab utama kaum wanita.

Meskipun syariat Islam telah memberikan kepada kaum wanita kebebasan sepenuhnya dan
menganugerahkan hak-hak yang sama dengan kaum pria dalam hal bekerja dan mencari
penghidupan, namun terdapat persepsi masyarakat yang telah tertanam sejak lama, bahwa jika
seseorang mempunyai atribut biologis sebagai laki-laki atau perempuan, akan berdampak pada
perbedaan perannya dalam kehidupan sosial budaya. Anatomi biologis laki-laki yang berbeda
dengan perempuan menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial kedua jenis kelamin
tersebut. Laki-laki memegang peran utama dalam masyarakat karena dianggap lebih kuat,
potensial dan produktif, sementara perempuan yang mempunyai organ reproduksi, dianggap lebih
lemah, kurang potensial dan tidak produktif. Persepsi yang memandang rendah perempuan
tersebut telah memantapkan "kelayakan" perempuan untuk mengambil peran domestik, sementara
laki-laki mengambil peran di sektor publik. Stereotip yang ekstrim dalam pembedaan peran
perempuan dan laki-laki tersebut telah mempersempit kemungkinan bagi kaum perempuan untuk
mengembangkan berbagai potensinya dan untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.
Faktor-faktor yang memicu munculnya stereotip peran laki-laki dan perempuan dalam pemisahan
sektor publik dan domestik antara lain budaya patriarki yang dianut oleh sebagian besar penduduk
dunia, perkembangan ilmu pengetahuan yang pada umumnya bersifat androsentris, yaitu sebuah
pemahaman yang menjadikan laki-laki sebagai pusat dari dunia sehingga norma yang dipakai
untuk melihat apa yang penting dan apa yang benar adalah norma laki-laki.

Untuk mengetahui bagaimana hukum wanita yang bekerja atau berkarir dapat dilihat dari
fatwa-fatwa para ulama. Ada dua pendapat tentang boleh tidaknya wanita bekerja di luar rumah.
Pendapat yang paling ketat menyatakan tidak boleh, karena dianggap bertentangan dengan kodrat
wanita yang telah diberikan dan ditentukan oleh Tuhan. Peran wanita secara alamiah, menurut
pandangan ini, adalah menjadi istri yang dapat menenangkan suami, melahirkan, mendidik anak,
dan mengatur rumah. Dengan kata lain, tugas wanita adalah dalam sektor domestik. Pendapat ini
umumnya berasal dari sebagian besar ulama Timur Tengah. Hal tersebut tidak terlepas dari latar
belakang kondisi sosiologis dan budaya masyarakat Timur Tengah yang cenderung patriarki dan
juga dipengaruhi oleh faktor keamanan negara tersebut, di mana seorang wanita jika ingin keluar
harus ditemani mahramnya sebab lingkungan sekitar tidak menjamin keamanan wanita yang ingin
keluar dari rumahnya seorang diri. Selain itu, yang menjadi alasan para ulama melarang wanita
muslimah memasuki dunia kerja adalah kekhawatiran akan terjadinya khalwat (percampuran)
antara wanita dan pria di tempat kerja. Adapun pendapat yang relatif lebih longgar menyatakan
bahwa wanita diperkenankan bekerja di luar rumah dalam bidang-bidang tertentu yang sesuai
dengan kewanitaan, keibuan, dan keistrian, seperti pengajaran, pengobatan, perawatan, serta
perdagangan. Namun secara garis besar, para ulama sesunguhnya sepakat untuk membolehkan
seorang wanita untuk bekerja di luar rumah, tetapi mereka memberikan batasan-batasan yang jelas
yang harus dipatuhi jika seorang wanita ingin bekerja atau berkarir terutama harus didasari dengan
izin dari suami. Di mana istri yang bekerja dengan ridho sang suami, dia tetap berhak mendapatkan
hak nafkahnya. Meskipun demikian, izin suami tidak bisa diterjemahkan secara mutlak dan
mengikat tanpa batasan. Suami hanya boleh melarang istrinya bekerja dengan tidak memberi izin
jika pekerjaan yang akan dilakoni sang istri dapat membawa kemudharatan bagi dirinya dan
keluarga. Dalam kondisi seperti inilah suami berkewajiban untuk mengingatkannya. Akan tetapi
jika bekerjanya istri adalah untuk memenuhi nafkah kebutuhan hidup dirinya dan keluarga akibat
suami tidak mampu bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lainnya,
maka sesungguhnya suami tidak berhak melarangnya.

Bagi wanita yang berprofesi di ruang publik, hampir pasti dihadapkan dengan beberapa
persoalan krusial yang dianggap suatu kebenaran mutlak untuk perempuan, yaitu masalah
kepemimpinan, aurat, mahram, hak dan tanggung jawab dalam keluarga. Husein Syahatah
menyebutkan syarat-syarat bagi wanita karir dalam perspektif hukum islam yang antara lain :

1. Izin Suami

Islam memberi hak berkarya bagi kaum wanita sebagaimana hak bekerja bagi kaum pria.
Jadi, tidak ada satupun pekerjaan yang dihalalkan agama diharamkan atas wanita dan hanya
diperbolehkan bagi kaum pria saja. Islam tidak membedakan dalam pembuatan syari`at (tasyri`)
antara pria dan wanita. Hanya saja berkaitan dengan hak bekerja ini, wanita yang bersuami
misalnya, ia tidak boleh bekerja tanpa persetujuan suami. Sebab, aturan keluarga dan hak-hak
perkawinan menghendaki agar wanita memelihara kehidupan rumah tangga dan mementingkan
kewajiban suami-istri. Namun wanita karir yang biasa bekerja di luar rumah, ia tidak perlu
meminta izin kepada suami setiap kali ia hendak pergi keluar untuk bekerja, dalam arti meminta
persetujuan boleh tidaknya ia bekerja, sebab dengan bekerjanya istri di luar rumah pastinya ia
sudah mendapatkan persetujuan dari sang suami. Oleh karena itu, yang di maksud dengan izin di
sini hanyalah berupa pemberitahuan istri terlebih dahulu kepada suami sebelum ia mulai bekerja.

2. Seimbang tuntutan rumah tangga dan tuntutan kerja

Umumnya seorang istri yang juga bekerja di luar rumah memiliki kendala waktu untuk
berbagi bersama keluarganya, dalam artian tidak mampu menyeimbangkan antara tuntutan rumah
tangga dan tuntutan kerja. Adanya aturan-aturan pekerjaan yang harus dipatuhi, baik dari segi
waktu maupun dari segi kesanggupan, menyebabkan seorang istri mengurangi kualitas pemenuhan
kewajiban rumah tangganya. Untuk mensiasati kondisi ini, segala sesuatunya hendaknya
dikompromikan terlebih dahulu dengan sang suami, agar semua tugas dan pekerjaan rumah tangga
tidak menjadi beban semata-mata untuk istri.

3. Tidak menimbulkan khalwat dengan lawan jenis

Keterlibatan wanita dalam bidang profesi menuntut bertemunya wanita dengan pria, maka
kedua belah pihak harus menjaga akhlak pergaulan Oleh karena itu, wanita karir harus benar-benar
mampu menjaga etika Islam yang disyariatkan Allah Swt dalam menjalankan kehidupan karirnya
dengan segala konsekuensinya. Hal ini sangat penting terutama saat ia harus bertemu dengan pria
secara terus-menerus di ruang kerja yang sama, bepergian secara bersamasama dan lain-lain.
Usaha preventif yang dapat dilakukan wanita agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran syariat
antara lain adalah dengan berpakaian yang sopan yaitu dengan menutup aurat, dan bersahaja dalam
berbicara dan bertingkah laku.

4. Menjauhi pekerjaan yang tidak sesuai dengan karakter wanita

Di antara jenis pekerjaan yang dapat menghilangkan sifat dasar dan fitrah kewanitan
seorang wanita, misalnya bekerja berat di pabrik, menjadi supir taksi siang dan malam, bekerja
sebagai pedagang yang di dalamnya bercampur-baur antara laki-laki dan wanita, bekerja sebagai
kuli konstruksi bangunan, dan berbagai jenis pekerjaan lain yang secara zhahir identik dengan
pekerjaan laki-laki. Syariat Islam melarang seorang wanita menyerupai laki-laki dalam hal apapun,
termasuk dalam melakukan jenis pekerjaan laki-laki yang tidak sesuai dengan fitrahnya sebagai
wanita. Seorang wanita harus dapat menjauhi pekerjaan yang tidak sesuai dengan fitrah
kewanitaannya atau dapat merusak harga dirinya. Misalnya, wanita tidak boleh bekerja di pub atau
diskotik yang melayani kaum laki-laki sambil menyanyi atau menari, atau menjadi model produk
tertentu yang menampakkan lekuklekuk tubuh untuk memikat para pembeli. Adapun jenis
pekerjaan seperti menjadi guru, perawat, dokter, psikiater, polisi wanita, dosen, dipandang Islam
sebagai pekerjaan yang sesuai dengan tabiat wanita dan kodrat kewanitaannya.

Hukum islam adalah hukum yang melindungi hak-hak wanita. Diantara hak yang
dilindungi tersebut adalah hak mendapatkan pendidikan, sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an
untuk membaca. Perlindungan terhadap pendidikan perempuan yang diberikan oleh Islam,
memberi kesempatan pada perempuan untuk mengembangkan karirnya sesuai dengan minatnya.
Hal ini disebabkan karir adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan pendidikan. Memang,
diawal perkembangan Islam, pendidikan perempuan belum dilakukan secara formil. Hal tersebut
tidak menghalangi perempuan-perempuan Islam pada masanya menjadi perempuan karir yang
handal di bidangnya, semisal Khadijah, istreri Rasulllah Saw. Dengan demikian, dapat dikatakan
Islam tidak menghalangi wanita untuk memperoleh pendidikan dan berkarir sesuai dengan
pendidikan yang diperolehnya. Dengan syarat bahwa ketika wanita berkarir diluar rumah itu tidak
boleh melanggar batasbatas yang telah ditetapkan dalam Islam dan tidak boleh melanggar
kodratnya sebagai seorang wanita.