Anda di halaman 1dari 19

BAB 21.

KEBIJAKAN MODAL KERJA

PENGERTIAN MODAL KERJA


Modal kerja kotor mengacu pada aktiva lancar, yang meliputi kas, piutang dagang, dan
persediaan. Modal kerja bersih diartikan sebagai aktiva lancar dikurangi hutang lancar. Modal
kerja bersih operasional diartikan sebagai aktiva lancar operasional dikurangi hutang lancar
operasional. Aktiva lancar operasional mencakup kas, piutang dagang, dan persediaan.
Sedangkan hutang lancar operasional mencakup hutang dagang dan hutang akrual (misal
hutang gaji dan hutang pajak). Kebijakan modal kerja akan tercermin pada rasio-rasio lancar,
khususnya rasio likuiditas. Kebijakan modal kerja akan melihat trade-off antara risiko dengan
return (tingkat keuntungan).

Kenapa perusahaan mempunyai modal kerja?’ Jawabannya adalah karena adanya


ketidaksempurnaan pasar. Ketidaksempurnaan tersebut memaksa perusahaan untuk
mempunyai modal kerja. Jika biaya transaksi tidak ada, segala aktivitas bisa diperkirakan
dengan jelas (kondisi kepastian), tidak ada biaya kebangkrutan, maka modal kerja tidak
diperlukan.
Berikut ini beberapa kondisi ketidaksempurnaan pasar yang membuat keputusan modal kerja
menjadi penting.

1. Biaya Transaksi. Biaya transaksi mencakup biaya eksplisit (misal biaya komisi pembelian
atau penjualan aset) dan juga biaya implisit. Contoh biaya implisit adalah harga yang
terlalu murah (mahal) jika perusahaan menjual (membeli) suatu aset dengan terburu-
buru (fire sale atau fire purchase).
2. Kelambatan/Ketidaksinkronan Aktivitas. Dalam situasi normal : ada kemungkinan
kelambatan kedatangan bahan mentah, atau produk yang sudah jadi tidak bisa langsung
dikirim langsung ke distributor, atau permintaan produk tidak diketahui dengan pasti.
Dalam situasi tersebut, persediaan bahan mentah dan produk diperlukan untuk
mengantisipasi kelambatan kedatangan bahan mentah atau permintaan yang lebih tinggi
dari yang diantisipasi. Dalam situasi ketidaksempuranaan pasar, modal kerja akan
diperlukan.
3. Kemungkinan Kebangkrutan/Kesulitan Pembayaran. Biaya kebangkrutan cukup
signifikan. Kebangkrutan bisa disebabkan oleh kondisi perusahaan (prospek) yang
memburuk, tetapi juga bisa dikarenakan ketidakmampuan memenuhi kewajibannya.

2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT MODAL KERJA

2.1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVA LANCAR

a. Karakteristik Bisnis. Sektor usaha (industri) mempunyai karakteristik yang berbeda satu
sama lain, termasuk dalam penggunaan modal kerja.Sektor retail cenderung
mempunyai persediaan barang dangan (yang berarti modal kerja) yang lebih besar
dibandingkan perusahaan manufaktur.

b. Ukuran Perusahaan. Perusahaan kecil cenderung mempunyai modal kerja yang lebih
tinggi dibandingkan dengan perusahaan besar. Beberapa kemungkinan jawaban atas
fenomena tersebut: (1) Perusahaan besar menjadi semakin modal intensif, (2)
Perusahaan besar mempunyai skala ekonomi modal kerja, atau aliran kas yang relatif
stabil, dan (3) Perusahaan besar mempunyai akses yang lebih baik ke pasar keuangan,
sehingga tidak perlu memegang modal kerja lebih besar.

c. Aktivitas Perusahaan. Jika perusahaan meningkat aktivitasnya (penjualan meningkat),


aktiva lancar dan hutang lancar yang bersifat spontan juga meningkat.

d. Stabilitas Penjualan Perusahaan. Jika penjualan stabil, aktiva lancar cenderung semakin
kecil. Sebaliknya, jika penjualan berfluktuasi, aktiva lancar akan cendrung semakin
besar.

2.2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUTANG LANCAR

a. Faktor Eksternal. Industri tertentu cenderung mempunyai hutang lancar lebih besar.
Sebagai contoh, usaha retail menggunakan aktiva lancar (biasanya dalam bentuk barang
dagangan) yang lebih besar dibandingkan dengan industri manufaktur.
b. Faktor Internal Kebijakan Manajemen. Manajemen mempunyai pilihan apakah
menggunakan hutang lancar yang tinggi atau yang rendah. Jika fleksibilitas manajemen
cukup tinggi, manajemen akan menggunakan hutang lancar yang lebih kecil.

STRATEGI MODAL KERJA

3.1. Strategi Aktiva Lancar


Secara umum, aktiva lancar mempunyai tingkat keuntungan lebih kecil diandingkan aktiva
tetap. Jika perusahaan mempunyai aktiva lancar yang lebih tinggi, maka perusahaan bisa
mengurangi risiko (contoh, risiko likuditas), tetapi konsekuensinya perusahaan akan
memperoleh profitabilitas yang lebih rendah juga.

3.2. Strategi Pendanaan


Ada tiga pendekatan dalam pendanaan jangka pendek:

1) Matching atau Hedging


2) Agresif, dan
3) Konservatif
SIKLUS KAS (CASH CONVERSION CYCLE)

4.1. Pengertian Siklus Kas


Siklus kas merupakan “perjalanan” kas, mulai dari kas dikeluarkan (untuk membeli bahan-
bahan) sampai kas kembali lagi (piutang dibayarkan). Diagram berikut ini akan memperjelas
siklus kas. Kegiatan semacam itu menggambarkan bagaimana siklus kas terjadi, yaitu
dikeluarkan oleh perusahaan dan pada akhirnya akan kembali lagi ke perusahaan.

Siklus kas bisa dihitung sebagai berikut ini:

Siklus Kas =Periode pengumpulan Piutang + Periode Persediaan – Periode pembayaran hutang
dan rekening akrual.

4.2. Menggunakan Neraca untuk Menghitung Siklus Kas


Berapa siklus kas perusahaan tersebut? Pertama, kita akan menghitung perputaran untuk
setiap komponen modal kerja (aktiva lancar dan hutang lancar). Untuk aktiva lancar, perputaran
piutang dan persediaan akan dihitung, sedangkan untuk hutang lancar, semuanya akan
dihitung. Perputaran asset/hutang menunjukkan seberapa sering suatu asset/hutang berputar
untuk setiap periode tertentu (setahun dalam hal ini). Jika kita mengetahui perputaran suatu
aktiva/hutang, kita bisa menghitung periode siklusnya. Setelah periode tertanamnya kas untuk
setiap asset/hutang bisa dihitung, langkah berikutnya adalah menghitung siklus kas.

MENGHITUNG KEBUTUHAN MODAL KERJA

5.1 Menghitung Modal Kerja dengan Metode Perputaran Aset


Metode ini mengasumsikan perputaran aset yang konstan. Pertama kita perlu menghitung
tingkat perputaran masing-masing komponen modal kerja. Modal kerja bersih bisa didefinisikan
sebagai aktiva lancar minus hutang lancar. Aktiva lancar terdiri atas kas, piutang dagang, dan
persediaan. Sedangkan hutang lancar terdiri atas (pada neraca di atas) hutang dagang dan
hutang wesel.

5.2. Metode Keterikatan Dana


Metode keterikatan dana menghitung seberapa lama dan seberapa besar dana “terikat”.
Besarnya dana yang “terikat” tersebut merupakan kebutuhan modal kerja. Pada waktu manajer
membeli bahan mentah, maka manajer tersebut akan mengeluarkan kas. Kemudian bahan
mentah tersebut diproduksi menjadi produk (persediaan), dijual dengan (misal) kredit,
kemudian pada akhirnya dilunasi. Kas akan kembali ke tangan manajer keuangan. Selama siklus
kas tersebut, kas yang kita keluarkan akan “terikat” dan baru “bebas” pada saat kredit
JAWABAN SOAL PERTANYAAN BAB 21 (HALAMAN 534).

1. Modal kerja merupakan modal yang diperlukan untuk membiayai seluruh kegiatan
supaya usaha berjalan sesuai dengan rencana yang telah dibuat ,modal kerja adalah modal
atau dana yang diperlukan untuk operasi (bukan investasi).
modal kerja kotor biasanya mengacu pada aktivitas lancar, yang biasanya meliputi kas,
piutang dagang, dan persediaan. modal kerja bersih biasanya diartikan sebagai aktiva
lancar di kurangi utang lancar.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.
,hal:519).

2. karena adanya ketidaksempurnaan pasar. ketidaksempurnaan tersebut memaksa


perusahaan untuk mempunyai modal kerja.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,hal:520).

3. ada beberapa faktor yang memengaruhi aktiva lancar yaitu sebagai berikut:
a. Karakteristik bisnis. sektor usaha (industri) mempunyai karakteristik yang berbeda
satu sama lain, termasuk dalam penggunaan modal kerja.
b. Ukuran perusahaan. perusahaan kecil cenderung mempunyai modal yang lebih
tinggi dibandingkan dengan perusahaan besar.
c. Aktivitas perusahaan. jika perusahaan meningkat aktivitasnya (penjualan meni gkat),
aktiva lancar dan utang lancar yang bersifat spontan juga akan meningkat.
d. Stabilitas penjualan perusahaan. jika penjualan stabil, aktiva lancar cenderung
semakin kecil. sebaliknya, jika perusahaan berfluktuasj, aktiva lancar akan cenderung
semakin besar.
faktor yang memengaruhi utang lancar yaitu :
a. faktor eksternal.
b. faktor internal kebijakan manajemen.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A ,hal:
521-522).

4. secara umum, aktiva lancar mempunyai tingkat keuntungan yang lebih kecil
dibandingkan dengan aktiva tetap. jika perusahaan mempunyai aktiva lancar yang lebih
tinggi maka perusahaan bisa mengurangi risiko (risiko likur dirasakan, sebagai contoh),
tetapi konsekuensinya perusahaan akan memperoleh profitabilitas yang lebih rendah juga.
dengan kerangka trade - of antara risiko dengan tingkat keuntungan.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,hal: 522).

5. Dari segi pendanaan modal kerja dan aktiva tetap, ada beberapa alternatif kebijakan
pendanaan modal kerja (pendekatan pendanaan jangka pendek). ada tiga pendekatan
dalam pendanaan jangka pendek, yaitu:
a. matching atau hedging
b. agresif, dan
c. konservatif
ketiga strategi tersebut berkaitan dengan risiko dan tingkat keuntungan utang jangka
pendek versus utang jangka panjang.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,hal:523).
6. Siklus kas yaitu dikeluarkan oleh perusahaan dan pada akhirnya akan kembali lagi
keperusahaan.
Cara menghitungnya,
Siklus kas = periode pengumpulan piutang + periode persediaan - periode pembayaran
utang dan rekening akurat.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,Hal: 526 - 527)

7. metode ini menghitung besarnya kebutuhan modal kerja melalui perputaran aset. metode
ini mengasumsikan perputaran aset yang konstan.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,hal:528 - 530).

8. metode keterikatan dana menghitung seberapa lama dan seberapa besar dana "terikat".
besarnya dana yang "terikat" tersebut merupakan kebutuhan modal kerja. dengan
demikian besarnya modal kerja tergantung dari dua hal, yaitu:
a. periode terikatnya dana
b. rata - rata pengeluaran kas setiap harinya.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,hal: 530).

9. setelah melakukan perencanaan modal kerja, manajer keuangan perlu memonitor kondisi
modal kerja perusahaan secara terus menerus. jika kondisi modal kerja memburuk,
manajer keuangan perlu melakukan beberapa tindakan perbaikan atau pencegahan agar
kondisi modal kerja tidak semakin memburuk. kondisi modal kerja yang memburuk
menandakan perusahaan mengalami kesulitan likuiditas.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,hal: 532).
JAWABAN SOAL PROBLEM BAB 21 (HALAMAN 535)

1. Jika kita mengetahui perputaran suatu aktiva/utang, kita bisa menghitung periode
siklusnya. Periode siklus bisa dihitung sebagai berikut ini.

Periode Pengumpulan Piutang = 360/10 = 36 hari


Periode Persediaan = 360/4 = 90 hari
Periode Utang Dagang = 360/4 = 90 hari

Setelah periode tertanamnya kas untuk setiap aset/utang bisa dihitung, langkah
berikutnya adalah menghitung siklus kas berikut ini.
Siklus kas = 36 hari + 90 hari - 90 hari = 36 hari.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.
,Halaman 528)

2.
a. Dari data neraca dan laporan rugi-laba pada soal, maka dapat dihitung besarnya
modal kerja menurut konsep fungsional adalah sebagai berikut.

Modal Kerja (working capital)


Kas Rp 200
Piutang (70%) Rp 210
Persediaan Rp 500
Depresiasi Rp 500
Total Modal Kerja Rp1.410

Modal Kerja Potensial (potential working capital)


Efek (Obligasi dan Modal Saham) Rp 2.600
Profit Margin (30%) Rp 90
Total Modal Kerja Potensial Rp 2.690

Bukan Modal Kerja (non working capital)


Aktiva Tetap Rp 2.500
Total Bukan Modal Kerja Rp 2.500

Profit Margin-nya adalah 30% = 4500 / 15.000

(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.


,Halaman: 42 dan http://mysunsetland.blogspot.com/2017/01/modal-kerja.html?m=1)

Rumus menghitung Profit Margin : Laba Bersih / Penjualan.

b. Perputaran masing - masing komponen modal kerja adalah sebagai berikut ini.

Perputaran Kas = Penjualan/Kas = 15.000/200 = 75×


Perputaran Piutang = Penjualan/Piutang = 15.000/300 = 50×
Perputaran Persediaan = Penjualan/Persediaan = 15.000/500 = 30×
Perputaran Utang Dagang = Penjualan/Utang Dagang = 15.000/100 = 150×
Perputaran Utang Wesel = Penjualan/Utang Gaji = 15.000/300 = 50×

Untuk periode mendatang, dengan mengasumsikan perputaran aset yang sama


terhadap setiap komponen modal kerja, maka jumlah setiap komponen model kerja
bisa dihitung sebagai berikut ini.
Kas = Penjualan/Perputaran Kas = 20.000/75 = 267
Piutang Dagang = Penjualan/Perputaran Piutang Dagang = 20.000/50 = 400
Persediaan = Penjualan/Perputaran Persediaan = 20.000/30 = 667
Utang Dagang = Penjualan/Perputaran Utang Dagang = 20.000/150 = 133
Utang Wesel = Penjualan/Perputaran Utang Wesel = 20.000/50 = 400
Modal kerja bersih yang dibutuhkan adalah:
267 + 400 + 667 - (133 + 400) = 801
Jadi, modal kerja bersih yang dibutuhkan adalah Rp801,00
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.
,Halaman: 529 - 530)
BAB 22. MANAJEMEN KAS

Pengertian Manajemen Kas


Manajemen Kas adalah suatu kumpulan kegiatan perkiraan, perencanaan,
pengumpulan, pengeluaran dan investasi kas dari suatu perusahaan agar dapat
beroperasi dengan lancar.Tanpa manajemen kas yang baik sebuah perusahaan akan
mengalami kebangkrutan karena kekurangan kas, walaupun perusahaan tersebut
menghasilkan profit. Karena situasi bisnis banyak memiliki ketidakpastian maka
dibutuhkannya pengelolaan kas dan perencanaan kas yang baik.

Motif Dalam Manajemen Kas


Pengelolaan kas merupakan fungsi keuangan yang mendasar dalam sebuah
perusahaan. Hal ini berkaitan dalam pengendalian dan perencanaan kas, karena
didalam aktivitasnya manajer keuangan harus mengetahui besarnya jumlah kas yang
diperlukan setiap waktu dalam kegiatan perusahaan.

Motif dalam manajemen kas dibagi menjadi 4 yaitu sebagai berikut :

1. Motif Transaksi
Perusahaan membutuhkan sejumlah uang tunai untuk membiayai kegiatan
perusahaan sehari- hari, seperti untuk membayar gaji atau upah, membayar
tagihan, membeli barang, serta pembayaran hutang kepada kreditur apabila
jatuh tempo.
2. Motif Berjaga- Jaga
Motif berjaga- jaga yang dimaksudkan disini adalah untuk berjaga- jaga terhadap
kebutuhan yang mungkin terjadi tetapi tidak jelas kapan terjadinya peristiwa
tersebut. Misalnya seperti kebakaran dan kecelakaan.
3. Motif Spekulatif
Motif Spekulatif digunakan untuk mengambil suatu keuntungan jika adanya
kesempatan, seperti perusahaan menggunakan kas yang dimilikinya untuk
diinvestasika pada sekuritas dengan harapan setelah membeli sekuritas
tersebut harganya akan naik.
4. Motif Compensating Balance
Motif ini pada dasarnya lebih berkaitan dengan keterpaksaan perusahaan
meminjam sejumlah uang di bank.Bank seringkali mensyaratkan saldo minimal
yang harus tetap berada di rekening perusahaan di bank.

1.2 Manajemen Kas

Ada tiga hal yang ingin dilakukan oleh manajer keuangan ketika mengelola kas:

1) Mempercepat pemasukan kas.


2) Memperlambat pengeluaran kas.
3) Memelihara saldo kas yang optimal.

2. Mempercepat Pemasukan Kas dan Memperlambat Pengeluaran Kas

2.1 Mempercepat Pemasukan Kas

 Penjualan Kas. Cara ini tentunya merupakan cara yang paling langsung dengan
penjualan kas, tanpa piutang, manajer keuangan akan memperoleh kas.piutang
atau kredit hanya akan menunda penerimaan kas. Dengan demikian penjualan
kredit diperlukan tetapi harus ada cara-cara untuk mempercepat pemasukan kas
dari penjualan kredit tersebut.
 Potongan Kas (Cash Discount). Potongan kas ditujukan untuk mempercepat
pembayaran piutang oleh pembeli/pelanggan perusahaan. Term atau
persyaratan potongan kas biasanya adalah 1/10- n/30.
 Desentralisasi Pusat Penerimaan Pembayaran. Misal pelanggan tersebar secara
geografis, dan pelanggan mempunyai kebiasaan menggunakan poswesel
sebagai alat pembayaran, atau cek pribadi di negara-negara maju.

2.2 Memperlambat Pengeluaran Kas

 Pembelian Dengan Kredit. Pembelian dengan kredit berarti supplier mendanai


lebih dahulu pembelian yang dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan dengan
demikian mempunyai kesempatan untuk menunda pengeluaran kas.
 Memanfaatkan Float. Float merupakan selisih perbedaan saldo bank dengan
saldo kas perusahaan.
 Menggunakan Draft. Draft merupakan tanda bayar yang harus diotoritasi oleh
pihak perusahaan untuk kemudian dibayarkan. Istilah kas bon sering digunakan.
 Pembayaran Secara Sentral. Dalam cara ini, setiap tagihan yang datang ke
cabang perusahaan akan diserahakan ke pusat untuk dimintakan otorisasi.
 Cek Dibayar pada Hari Tertentu. Cek bisa dipakai untuk memperlambat
pembayaran kas.

2.3 Analisis Manfaat dan Biaya untuk Mempercepat/Memperlambat Aliran kas

Sama seperti prinsip analisis ekonomi pada umumnya, analisis manfaat biaya bisa
digunakan untuk memutuskan apakah alternatif mempercepat atau memperlambat
aliran kas sebaiknya dilakukan atau tidak. Alternatif akan dilakukan jika manfaatnya
lebih besar dibandingkan dengan biayanya.

3. Menentukan Saldo Kas Optimal

Setelah ketersediaan kas meningkat, langkah berikutnya adalah menentukan saldo


yang optimal. Memegang kas mempunyai trade-off tingkat keuntungan dan risiko.
Semakin besar saldo kas, semakin likuid perusahaan, dan semakin aman dari risiko
kekurangan kas.

3.1 Model Persediaan untuk Kas (Model Baumol)

Ide model tersebut berasal dari manajemen persediaan. Dengan kata lain, tujuan
dari model ini adalah menghitung saldo kas yang optimal, yaitu saldo kas yang bias
meminimalkan total biaya transaksi.

4.2 Model Random Aliran Kas (Model Miller-Orr)

Jika ketidakpastian aliran kas cukup besar, maka model persediaan untuk kas tidak
bias digunakan lagi. Model Millier-Orr mengasumsikan saldo aliran kas harian yang
bersifat random.
4.3 Sinkronisasi Pengeluaran dan Pemasukan Kas melalui Anggaran Kas

Dalam anggaran kas, manajer keuangan akan memperkirakan kas masuk dan kas
keluar di masa mendatang. Kemudian saldo kas akan diperoleh dengan
mengurangkan kas keluar terhadap kas masuk.

JAWABAN SOAL PERTANYAAN BAB 22 (HALAMAN 551)

1. ada beberapa motif perusahaan memegang kas yaitu sebagai berikut:


a. Motif Transaksi.
Kas diperlukan untuk memenuhi kebutuhan transaksi. Transaksi perusahaan berasal dari
penjualan, yang berarti perusahaan menerima kas. Sementara itu, perusahaan harus
rnembayar gaji pegawai, membeli bahan mentah, membayar utang dagang. Kas keluar
dan kas masuk tidak selalu tersinkronisasi. Jika kas keluar lebih besar dibandingkan
dengan kas masuk,p erusahaan bisa menghadapi masalah likuiditas. Untuk mengatasi hal
tersebut, perusahaan harus memegang kas. Alternatif untuk memperoleh kas adalah
dengan menjual surat berharga. Tetapi alternatif tersebut menimbulkan biaya transaksi.
b. Motif Berjaga-jaga
Alasan lain memegang kas adalah untuk berjaga-jaga menghadapi ketidakpastian di masa
mendatang. Sebagai contoh, jika perusahaan tiba-tiba harus mengeluarkan kas yang
cukup besar, perusahaan harus mempunyai kas. Jika tidak perusahaan tidak bisa
membayar kebutuhan mendadak tersebut. Altematif lain adalah dengan rnemperoleh
pinjaman standby lout atau line of credit (rekening koran). Tetapi untuk altematif tersebut
harus mengeluarkan biaya komifnen, meskipun uang tersebut tidak dipakai.
c. Kebutuhan di Masa Mendatang.
Kebutuhan kas bisa meningkat pada saat ada kejadian-kejadian tertentu di rnasa
merdatang. Sebagai contoh, jika perusahaan berencana meluncurkan produk
baru"peluncuran tersebut akan memakhn kas cukup substansial. Perusahaan dengan
demikian akan "menimbun" kas untuk persiapan peluncuran produk baru tersebut.
d. Saldo Kas Minimal (Compensating Balances).
Bank seringkali mensyaratkan saldo minimal yang harus tetap berada di rekening
perusahaan di bank. Sebagai contoh, jika perusahaan mernbuka rekening tabungan, maka
perusahaan harus memegang sejumlah saldo minimal tertertu. Karena itu saldo kas tidak
mungklin ditekan sarnpai nol. Persyaratan saldo kas minimal tertentu tersebut tentu akan
berpengaruh terhadap saldo kas perusahaan.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.
,Halaman 537 - 538)

2. Ada tiga hal yang ingin dilakukan oleh manajer keuangan ketika mengelola kas yaitu:
a. mempercepat pemasukan kas
b. memperlambat pengeluaran kas
c. memelihara saldo kas yang optimal
Dengan dua langkah pertama (langkah 1 dan 2), Cash availability (ketersediaan kas)
diharapkan akan meningkat. semakin besar ketersediaan kas (atau kas yang bisa dipegang
oleh perusahaan), semakin baik untuk perusahaan. manajer keuangan kemudian mempunyai
kesempatan yang lebih besar untuk memanfaatkan kas yang dipegang tersebut. karena itu
tugas manajemen keuangan yang ketiga adalah memelihara saldo kas yang optimal, yaitu
saldo kas yang tidak terlalu tinggi (kas menganggur berkurang), tetapi bisa memenuhi
kebutuhan likuiditas perusahaan.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.
,Halaman 538 - 539).

3. Ada 4 cara mempercepat pemasukan kas yaitu:


a. Penjualan Kas.
Cara ini tentunya merupakan cara yang paling langsung. Dengan penjualan kas, tanpa
piutang, manajer keuangan akan memperoleh kas. Piutang atau kredit hanya akan menunda
penerimaan kas. Tetapi piutang atau penjualan kredit kadang-kadang diperlukan untuk
meningkatkan penjualan, dan dengan demikian meningkatkan keuntungan perusahaan.
Apabila pesaing-pesaing perusahaan menawarkan penjualan kredit, maka perusahaan yang
menawarkan hanya penjualan tunai akan berada dalam posisi persaingan yang kurang
menguntungkan. Dengan demikian penjualan kredit diperlukan tetapi harus ada cara-cara
untuk mempercepat pemasukan kas dari penjualan kredit temebut.
b. Potongan Kas (Cash Discount).
Potongan kas ditujukan untuk mempercepat pembayaran piutang oleh pembeli/pelanggan
perusahaan. Term atau persyaratan potongan kas biasanya adalah 1/10 - n/30. Penawaran
semacam itu bisa dibaca sebagai" Perusahaan menawarkan potongan( discount) sebesar 1
% ,apabila pelanggan bersedia membayar dalam jangka waktu l0 hari.
c. Desentralisasi Pusat Penerimaan Pembayaran.
Misal pelanggan tersebar secara geografis, dan pelanggan mempunyai kebiasaan
menggunakan pos wesel sebagai alat pembayaran, atau cek pribadi pada negara-negara maju.
d. Lockboxes,
Lockboxes mempunyai ide yang sama dengan concentration banking.Misalkan pembeli
tersebar ke dalam pelosok-pelosok kota. Cara mempercepat pembayaran mereka adalah
dengan mendirikan kotak-kotak penerimaan yang ditaruh di kantor pos.Pelanggan cukup
memasukkan pembayaran dI kotak di kantor pos yang terdekat. Pelanggan tidak perlu pergi
ke kantor pusat untuk melunasi tagihan mereka. Kemudian setiap periode tertentu (misal,
setiap hari atau dua hari sekali petugas perusahaan berkeliling untuk mengumpulkan
pembayaran dalam kotak-kotak tersebut. Dengan cara tersebut pembayaran bisa dipercepat.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A ,Halaman
540 - 541)

4. Ada beberapa cara untuk memperlambat pengeluaran kas yaitu sebagai berikut:

1. Pembelian dengan Kredit.


Pembelian dengan kedit berarti supplier mendanai lebih dulu pembelian yang dilakukan
oleh perusahaan. Perusahaan dengan demikian mempunyai kesempatan untuk menunda
pengeluaran kas. Biasanya pembelian kredit akan lebih mahal dibandingkan dengan
pembelian tunai. Untuk itu perusahaan bisa menghitung manfaat dan biaya yang
berkaitan dengan pembelian kredit tersebut. Apabila manfaat dari penundaan tersebut
lebih besar dibandingkan dengan biaya yang timbul karena harga kredit yang lebih
mahal, maka altematif pembelian dengan kredit bias dilakukan.

2. Memanfaatkan Float
Float merupakan selisih perbedaan saldo bank dengan saldo kas perusahaan M.isalkan
perusahaan mempunyai saldo kas Rp l juta. Kemudian perusahaan mengeluarkan cek
sebesar Rp 300.000,00. Saldo kas perusahaaan akan dicatat Rp 700.000,00(Rp l juta- Rp
300.000,00). Tetapi saldo bank tidak langsung menjadi Rp 700.000,00, karena cek
tersebut biasanya tidak langsung diuangkan. Ada tenggang waktu untuk menguangkan
cek. Apabila perusahaan bisa menaksir nilai float setiap periodenya dengan cukup akurat,
maka float tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sumber dana. mempunyai perjanjian
khusus dengan bank.

3. Menggunakan Draft.
Draft merupakan tanda bayar yang harus diotorisasi oleh pihak perusahaan untuk
kemudian dibayarkan. Istilah kas bon sering digunakan. Dalam kas bon, apabila ada
tagihan datang akan dibuatkan surat pembayaran, yang kemudian baru bisa diuangkan
beberapa hari kemudian. Manfaat lain dari cara semacam itu adalah untuk pengendalian
keuangan perusahaan.

4. Pembayaran Secara Sentral.


Dalam cara ini, setiap tagihan yang datang ke cabang perusahaan akan disertakan ke
pusat untuk dimintakan otorisasi. Setelah pusat memberikan otorisasi, bank kemudian
diserahkan lagi ke cabang dan kemudian bisa dibayarkan. Dengan cara semacam itu
pembayaran bisa ditunda. Surat tagihan yang dibawa ke pusat dan dikembalikan lagi akan
memakan waktu. Manfaat lain dari cara semacam itu adalah pengendalian keuangan yang
lebih baik" sehingga supplier diharapkan akan lebih memahami prosedur semacam itu.

5. Cek Dibayar pada Hari Tertentu.


Cek bisa dipakai untuk memperlambat pembayaran kas. Misalkan, gaji pegawai dibayar
dalam bentuk cek, yang dibayar pada hari Jumat. Biasanya cek tidak langsung diuangkan,
apalagi hari Jumat merupakan hari pendek.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.
,Halaman 542)

5. Ide model tersebut berasal dari manajemen persediaan. Pola konsumsi kas digambarkan
melalui gambar berikut ini (Bagan 1).
Pada awal periode, saldo kas sebesar C diperoleh. Kemudian kas digunakan dengan tingkat
penggunaan yang konstan, sampai akhirnya menjadi nol. Pada saat titik nol tersebut, saldo
kas diisi kembali dengan kas sebesar C. Proses tersebut keudian berulang kembali. Untuk
menghitung saldo kas optimal, kita perlu mengetahui biaya yang berkaitan dengan
penyimpanan kas. Setelah itu kita bisa meminimalkan biaya tersebut. Dengan kata lain,
tujuan dari modal ini adalah menghitung saldo kas yang optimal, yaitu saldo kas yang bisa
meminimalkan total biaya transaksi.
(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi,
M.B.A. ,halaman 544).

6. Model miller-orr mengasumsikan saldo aliran kas harian yang bersifat random, tidak konstan
seperti model persediaan.
Untuk menghitung saldo kas dengan menggunakan model miller-orr, ringkasan langkah -
langkah yang harus kita lakukan
a. Menentukan batas minimal, apakah 0 atau jumlah tertentu yang menjadi jumlah minimal
yang aman ( minimum safety)
b. Menghitung standar deviasi aliran kas harian.
c. Menentukan tingkat bunga harian
d. Memperkirakan biaya transaksi pembelian/penjualan surat berharga.
Miller dan Orr melakukan 4 langkah tersebut untuk menguji mereka, dengan menggunakan
data sembilan bulan untuk saldo kas perusahaan besar. Model ini menghasilkan rata - rata kas
harian yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan saldo kas sesungguhnya yang diperoleh
perusahaan. Dengan kata lain, model mereka bisa menghasilkan saldo kas yang lebih optimal
dibandingkan saldo kas yang dimiliki oleh perusahaan dalam penelitian mereka.

(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.


,Halaman 547 -549).

7. Beberapa altematif investasi untuk surplus kas yaitu bisa dilakukan dengan menggunakan
anggaran kas. Dalam anggaran kas, manajer keuangan akan memperkirakan kas masuk dan kas
keluar di masa mendatang. Kemudian saldo-kas akan diperoleh dengan mengurangkan kas
keluar terhadap kas masuk. Jika saldo kas yang diperoleh lebih besar dari target saldo kas, maka
perusahaan sudah harus bersiap-siap mencari alternatif investasi ketebihan kas tersebut.
sebaliknya jika saldo kas yang diperoreh ternyata lebih kecil dari target saldo kas, maka
perusahaan harus bersiap-siap mencari altematif untuk memperoleh kas tambahan, misal dari
pinjaman jangka pendek. Dengan demikian anggaran kas bisa dipakai untuk merencanakan
alternative di masa mendatang, mensinkronkan aliran kas masuk dengan kas keluar, dan pada
akhirnya memelihara kas optimal yang meminimialkan saldo kas dan menekan risiko likuiditas.

(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A. ,Halaman
550).
JAWABAN PROBLEM BAB 22:

1. Penjelasan:
a. Dalam formula miller-orr untuk menentukan saldo kas harian dalam perusahaan
diperlukan surat berharga. Jika saldo kas harian perusahaan tersebut menyentuh saldo nol
maka surat berharga harus dijual agar dapat menambah saldo kas harian. Dan jika saldo
kas harian itu sangat tinggi maka surat berharga itu harus dibeli agar saldo kas tidak
terlalu tinggi (rata-rata)
b. Jika surat berharga diganti menjadi pinjaman maka disaat saldo harian di perusahaan
tersebut menyentuh saldo nol maka perusahaan harus melakukan pinjaman untuk
menambah saldo kas harian. Jika saldo harian perusahaan sangat tinggi maka perusahaan
harus membayar pinjaman.

(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.


,Halaman 548 - 550)

2. Upaya-upaya dalam mempercepat  pemasukan kas dan memperlambat pengeluaran kas tidak
etis karena manejer harus ingat batasan yang perlu diketahui reputasi perusahan tidak turun,
dimana manejer bisa saja tidak membayar kewajibannya sehingga dapat menunda
pembayaran tetapi cara semacam itu tidak etis dan dapat merusak reputasi perusahaan.

Penjelasan:
 Mempercepat aliran kas
a. Penjualan Kas.: Dalam penjualan kas dapat mempercepat pemasukan kas tanpa
piutang
b. Potongan Kas (Cash Discount).: Dalam potongan kas dapat mempercepat
pengumpulan uang dari pembayaran piutang oleh pembeli atau pelanggan perusahaan.
c. Desentralisasi Pusat Penerimaan Pembayaran :Dalam Desentralisasi Pusat
Penerimaan Pembayaran dapat membantu perusahaan dalam penerimaan pembayaran
dengan cepat
d. Lockboxes : Dalam lockboxes dapat membantu perusahaan dalam mempercepat
pembayaran mereka dengan mendirikan kotak/box penerimaan yang di taruh pada
kantor pos.dalam cara memperlambat pengeluaran kas perusahaan mempunyai
kesempatan yang lebih lama untuk menggunakan kas.

   Cara  memperlambat pengeluaran kas yaitu:


a. Pembelian dengan Kredit : perusahaan Pembelian dengan kedit berarti supplier
mendanai lebih dulu pembelian yang dilakukan oleh perusahaan.
b. Memanfaatkan Float : Float merupakan selisih perbedaan saldo bank dengan saldo
kas perusahaan.
c. Menggunahan Draft : Draft merupakan tanda bayar yang harus diotorisasi oleh pihak
perusahaan untuk kemudian dibayarkan.
d. Pembayaran Secara Sentral : Dalam cara ini, setiap tagihan yang datang ke cabang
perusahaan akan disertakan ke pusat untuk dimintakan otorisasi. Setelah pusat
memberikan otorisasi, bank kemudian diserahkan lagi ke cabang dan kemudian bisa
dibayarkan. Dengan cara semacam itu pembayaran bisa ditunda. Surat tagihan yang
dibawa ke pusat dan dikembalikan lagi akan memakan waktu. Manfaat lain dari cara
semacam itu adalah pengendalian keuangan yang lebih baik" sehingga supplier
diharapkan akan lebih memahami prosedur semacam itu.
e. Cek Dibayar pada Hari Tertentu : Cek bisa dipakai untuk memperlambat pembayaran
kas. Misalkan, gaji pegawai dibayar dalam bentuk cek, yang dibayar pada hari Jumat.
Biasanya cek tidak langsung diuangkan, apalagi hari Jumat merupakan hari pendek.

(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A.


,Halaman 540 - 542)

3. usulan penggunaan lock-boxes tersebut sebaiknya ditolak karena akan merugikan


perusahaan yang memanfaatkan float dengan menggunakan  lock-boxes, dilihat dari
pendapatan perusahaan yang lebih kecil dari pada pendapatan lock-boxes ( dari fee biaya
tetap yang didapatkan dari perusahaan pengguna lock-boxes) dengan setelah memasukan
biaya variabel Rp 5,00 per transaksi dengan tingkat bunga 8% pertahun.

(Sumber: http://classmanajemen.blogspot.com/2016/03/manajemen-
keuanganpertanyaan-seputar.html?m=1)

4. Aliran kas masuk harian : 800


Tingkat bunga : 20 %
Biaya transaksi pembelian / penjualan surat berharga : 25
Tingkat bunga harian dengan mengasumsikan 1 tahun ada 365 hari, bisa dihitung
sebagai berikut :

0,2 / 365 = 0,000548

Varians aliran kas masuk harian bisa dihitung sebagai berikut.

σ2 = (800)2 = 640.000
Batas bawah (z) dan batas atas (h) dihitung sebagai berikut ini.

z = [3 × 25 × 640.000 / (4 × 0,000548)]1/3
= 2.797,694 × 3

h = 2.797,694 × 3
= 8.393,082

Rata-rata saldo kas adalah.

C=4z/3
= (4 × 2.797,694) / 3
= 3.730,259

Jika kita ingin menetapkan batas minimal yang bernilai bukan 0, Kita bisa menambahkan
batas tersebut ke nilai z. Misalkan batas minimal tersebut adalah L, formula diatas bisa diubah
sebagai berikut ini.

z* = (3 b σ2 / 4 i)1/3

z = 3 z* - 2 L

C = (4z - L) / 3

Misalkan kita menetapkan batas minimal adalah Rp 900, sehingga saldo kas tidak akan pernah
menyentuh nilai 0. Nilai z, h, dan c dengan memasukkan batas minimal Rp 900 adalah.

z* = (3 b σ2 / 4 i)1/3 + L
= 2.797, 694 + 900
= 3.697, 694
h = 3 z* - 2 L
= 8.393, 082 - (2 × 900)
= 6.593, 082

c = (4z - L) / 3
= (4 × 3.697, 694) - 900/3
= 4.630,259

Dalam anggaran kas, manajer keuangan akan memperkirakan kas masuk dan kas keluar di
masa mendatang. Kemudian saldo-kas akan diperoleh dengan mengurangkan kas keluar
terhadap kas masuk. Jika saldo kas yang diperoleh lebih besar dari target saldo kas, maka
perusahaan sudah harus bersiap-siap mencari alternatif investasi ketebihan kas tersebut.
sebaliknya jika saldo kas yang diperoreh ternyata lebih kecil dari target saldo kas, maka
perusahaan harus bersiap-siap mencari altematif untuk memperoleh kas tambahan, misal dari
pinjaman jangka pendek. Dengan demikian anggaran kas bisa dipakai untuk merencanakan
alternative di masa mendatang, mensinkronkan aliran kas masuk dengan kas keluar, dan pada
akhirnya memelihara kas optimal yang meminimialkan saldo kas dan menekan risiko likuidita

(Sumber : Buku Manajemen Keuangan Edisi 2, Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A. ,Halaman 548 -
550)