Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TUTORIAL 1

PENDIDIKAN IPS di SD
( PDGK 4106 )

TUTOR :
NAFI ISBADRIANINGTYAS, M.Pd.

NAMA : PUPUT PUJI RAHAYU


NIM : 858811333
PROG/KELAS/ : BI-PGSD/119.1
SEMESTER : I (SATU)
POKJAR : MASTRIP – NGANJUK

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UPBJJ MALANG – UNIVERSITAS TERBUKA
2020
1. Bagaimana tujuan pendidikan ips di SD? Deskripsikan dan dikembangkan!
Setiap usaha pendidikan senantiasa memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai.
Berdasarkan tujuan pendidikan yang jelas, tegas, terarah, barulah pendidik dapat menentukan
usaha apa yang akan dilakukannya dan bahan pelajaran apa yang sebaiknya diberikan kepada
anak didiknya. Demikian juga di dalam negara kita telah dirumuskan tujuan pendidikan
nasional dirumuskan berdasarkan pada falsafah negara Pancasila dan UUD 1945, seperti
digariskan dalam GBHN. Berdasarkan pada falsafah negara tersebut, maka telah dirumuskan
tujuan pendidikan nasional menurut Undang-undang Nomer 20 Tahun 2003 adalah untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab sesuai ketentuan yang
termaksud dalam UUD 1945.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan di atas, kemudian apa tujuan dari pendidikan IPS
yang akan dicapai? Tentu saja tujuan harus dikaitkan dengan kebutuhan dan disesuaikan
dengan tantangan-tantangan kehidupan yang akan dihadapi anak. Berkaitaan dengan hal
tersebut, kurikulum 2013 untuk tingkat SD menyatakan bahwa, Pengetahuan Sosial (sebutan
IPS dalam kurikulum 2013), bertujuan untuk :
1. mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan
kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.
2. mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah,
dan keterampilan sosial
3. membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4. meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang
majemuk, baik secara nasional maupun global.
Sejalan dengan tujuan tersebut, tujuan pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja.
2006) adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi
masyarakat dan negara”.
Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi
pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup
belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan dasar IPS (Oemar hamalik. 1992).
Untuk lebih jelasnya akan dibahas satu persatu.
1) Pengetahuan dan Pemahaman
Salah satu fungsi pengajaran IPS adalah mentransmisikan pengetahuan dan pemahaman
tentang masyarakat berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak. Selain itu juga
mengembangkan rasa kontinuitas dan stabilitas, memberikan informasi dan teknik-teknik
sehingga mereka dapat ikut memajukan masyarakat sekitarnya.
Sebagai contohnya tradisi dan nilai-nilai dalam masyarakat, kebudayaan dari berbagai
lingkungan serta pengaruhnya terhadap hubungan dengan warga masyarakat lainnya,
pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber ekonomi oleh masyarakat.
2) Sikap hidup belajar
IPS juga bertujuan untuk mengembangkan sikap belajar yang baik. Artinya dengan
belajar IPS anak memiliki kemampuan menyelidiki (inkuiri) untuk menemukan ide-ide,
konsep-konsep baru sehingga mereka mampu melakukan perspektif untuk masa yang
akan datang. Sikap belajar tersebut diarahkan pada pengembangan motivasi untuk
mengetahui, berimaginasi, minat belajar, kemampuan merumuskan masalah, dan
hipotesis pemecahannya, keinginan melanjutkan eksplorasi IPS sampai ke luar kelas, dan
kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan data.
3) Nilai-nilai sosial dan sikap
Anak membutuhkan nilai-nilai untuk menafsirkan fenomena dunia sekitarnya, sehingga
mereka mampu melakukan perspektif terhadap ilmu pengetahuan sosial. Nilai-nilai sosial
merupakan unsur penting di dalam pengajaran IPS. Berdasar nilai-nilai sosial yang
berkembang dalam masyarakat, maka akan berkembang pula sikap-sikap sosial anak.
Faktor keluarga, masyarakat, dan pribadi/tingkah laku guru sendiri besar pengaruhnya
terhadapa perkembangan nilai-nilai dan sikap anak. Guru dapat mengembangkan sikap
anak, misalnya menghormati dan mentaati peraturan, mengembangkan rasa tanggung
jawab terhadap kesejahhteraan masyarakat, mengenal, dan menggunakan sumber-sumber
alam dengan sebaik-baiknya, sikap kritis dan analitis, dan sebagainya.
4) Keterampilan dasar IPS
Anak belajar menggunakan keterampilan dan alat-alat studi sosial, misalnya mencari
bukti dengan berpikir ilmiah, keterampilan mempelajari data masyarakat,
mempertimbangkan validitas dan relevansi data, mengklasifikasikan dan menafsirkan
data-data sosial, dan merumuskan kesimpulan.
Dengan demikian IPS memperkenalkan kepada siswa bahwa manusia dalam hidup
bersama dituntut rasa tanggung jawab sosial. Mereka akan menyadari bahwa dalam hidup
bersama itu akan menghadapi berbagai masalah, diantaranya adalah masalah sosial.
Dalam konteks ini manusia dihadapkan pada masalah dalam skala kecil maupun besar,
misalnya masalah keluarga, cekcok dengan tetangga, bencana alam, kemiskinan,
kriminalitas, dan sebagainya. Apalagi jika sudah menyangkut masalah pemenuhan
kebutuhan maka akan muncul masalah global. Semuanya itu akan mendorong kepekaan
sosial siswa dan selanjutnya ini merupakan tantangan bagi anak sampai pada taraf
pemecahannya.

2. Berikan pengertian terkait dengan peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi!


1) Peristiwa
Peristiwa adalah hal-hal yang pernah terjadi, peristiwa merupakan suatu kejadian
yang benar-benar dan pernah terjadi, tetapi masih perlu dibuktikan kebenarannya,
peristiwa ada yang bersifat alamiah dan insaniah; peristiwa yang bersifat alamiah, seperti
banjir, tsunami, gempa bumi dan sebagainya. Peristiwa yang bersifat insaniah, seperti
pemilu, pembangunan jembatan, krisis moneter.

2) Fakta
Fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan yang sungguh-
sungguh terjadi dan terjamin kebenarannya. atau sesuatu yang benar-benar ada atau
terjadi. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar
individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.
Contoh, di sekolah seorang murid diwajibkan untuk datang tepat waktu, menggunakan
seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke
dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggarFakta dapat
menyebabkan lahirnya teori baru.
Fakta merupakan salah satu materi yang dikaji dalam IPS. Dengan fakta-fakta
yang ada kita dapat menyimpulkan sesuatu atau beberapa peristiwa yang pernah terjadi.
Fakta merupakan titik awal untuk membentuk suatu konsep. Dari beberapa konsep yang
saling berkaitan kita dapat membentuk suatu generalisasi. Fakta, konsep, dan generalisasi
merupakan bahan kajian dalam Ilmu Pengetahuan Sosial yang harus dipahami siswa.
Beberapa contoh fakta ,seperti dibawah ini :
a. Gunung Galunggung meletus tahun 1982.
b. Pada tahun 1997 banyak hutan di Sumatera dan Kalimantan terbakar.
c. Jakarta adalah ibukota Indonesia.
3) Konsep
Konsep adalah suatu kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu dan
merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berfikir dan memecahkan masalah.
Dari pengertian tersebut dapat ditarik sebuah ke simpulan bahwa konsep mengandung
atribut. Atribut adalah ciri yang membedakan tabel objek atau peristiwa atau proses dari
obyek, peristiwa atau proses lainnya. Atribut dapat didasarkan atas fakta berupa
informasi konkret yang dapat dibuktikan melalui laporan seseorang atau hasil
pengamatan langsung. Laporan verbal, gambar-gambar, chart yang berisi data dapat
digunakan untuk mengkomunikasikan atribut.
Dalam konsep terdapat makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotative
berkenaan dengan arti kata, seperti pada kamus, misalnya arti kata Revolusi adalah
perubahan cepat dalam hal prosedur, kebiasaan, lembaga, dan seterusnya. Revolusi juga
mempunyai makna konotatif antara lain sebagai berikut:
1. Makna revolusi merangkum makna denotative.
2. Revolusi tidak sama dengan pemberontakan, melainkan kejadian yang penting yang
telah direncanakan dan diatur secara sungguh-sungguh.
3. Konsep revolusi ini mencakup kepemimpinan, baik oleh kelompok maupun
perseorangan.
4. Revolusi juga berarti menentang segala sesuatu, apakah itu orang atau lembaga, lebih
jauh bukan hanya menentang tetapi juga melawan dengan kekuatan.

4) Generalisasi
Menurut Nursid Sumaatmadja (1980:83), generalisasi adalah hubungan dua
konsep atau lebih dalam bentuk kalimat lengkap, yang merupakan pernyataan deklaratif
dan dapat dijadikan suatu prinsip atau ketentuan dalam IPS.
Jadi dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan menyusun generalisasi,
apabila orang itu menarik dua konsep atau lebih dengan sedemikian rupa sehingga saling
berhubungan satu dengan Iainnya. Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh berikut. Ada
ungkapan : “Makin primitif suatu masyarakat, lingkungan hidupnya akan makin
mempengaruhi cara hidup masyarakat itu” kita menemukan paling sedikit tiga konsep,
yaitu: (1) Masyarakat primitif; (2) Lingkungan hidup; (3) Cara hidup.
Generalisasi yang baik adalah generalisasi yang tidak menyebut orang, tempat
atau benda. Alasannya, apabila kita menyebutkannya berarti generalisasj yang kita buat
memiliki tingkat abstraksi yang rendah, tingkat keberlakuannya juga sempit atau rendah.
Generalisasi harus ditulis sedemikian rupa sehingga siswa dapat mengaplikasikannya
dalam berbagai situasi yang bagaimanapun juga.

3. Berikan contohnya terkait dengan peristiwa, fakta konsep dan generalisasi dalam satu
topik!
Dari gambaran diatas jelas bahwa suatu peristiwa merupakan dasar darimana kegiatan
belajar mengajar IPS dimulai. Guru dan siswa harus aktif menjemput peristiwa ini dan
mengolahnya  menjadi content, isi bahan pengajaran.  Dalam proses pengolahan  menjadi
bahan pengajaran  itulah berfungsinya fakta, konsep, dan generalisasi itulah guru dapat
mengorganisasikan bahan pengajaran IPS. Jadi skenario dari alur pengembangan peristiwa,
fakta, konsep, dan generalisasi, sesungguhnya sudah ditangan guru, dan dijadikan sebagai
bahan dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar dikelas. Contohnya sebagai berikut:
1) Topik: Benua Afrika, Eropa, dan Amerika.
Peristiwa yang dikemukakan misalnya tentang pertandingan sepak bola liga
Champions atau Piala UFFA. Dengan peristiwa itu kita bisa menanyakan kepada siswa
dimana pertandingan itu dilaksanakan dan untuk kejuaran apa.
2) Fakta-fakta yang dikemukakan, antara lain sebagai berikut:
a) Peta Benua Afrika, Eropa, dan Amerika.
b) Letak beberapa negara di masing-masing benua.
c) Pembagian regional tiap benua, yaitu Afrika Utara, Afrika Tengah, Afrika Selatan,
Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Utara, Amerika Tengah,  dan Amerika Selatan.
d) Gambar-gambar tentang kondisi negara, penduduk, mata pencaharian, dan lain-lain.
e) Penampakan alam yang penting, yaitu gunung, sungai, gurun, danau, dan lain-lain.
3) Konsep-konsep yang dikemukakan seperti ini:
Benua, interaksi spasial, persepsi lingkungan regional, kondisi geografis, lautan,
daratan, sungai, danau, dan lain-lain.

4) Generalisasinya diantaranya sebagai berikut:


Berbagai hubungan antara negara terjadi karena adanya hubungan dagang,
pelayanan, dan gagasan-gagasan. Kondisi alamiah tertentu cenderung membuat
kelompok tertentu cenderung membuat kelompok tertentu terisolasi sampai adanya
pengembangan tekhnologi yang dapat memecahkan barrier itu.
Setelah kita mengetahui pengertian fakta, konsep, dan generalisasi di atas, maka
kita bisa mengetahui bahwa fakta, konsep, dan generalisasi itu saling berhubungan dan
tidak bisa dipisahkan.
Fakta – fakta sosial yang terjadi dalam kehidupan kita, dihubungkan oleh konsep
IPS melalui suatu ide, sedangkan konsep – konsep IPS dihubungkan oleh generalisasi
melalui sebuah penalaran.

4. Jelaskan perbedaan antara nilai sikap, keterampilan intelektual, keterampilan


personal, keterampilan sosial dalam konteks pendidikan IPS di SD!
a) Sikap
Menurut Rochman Natawijaya sikap adalah kesiapan seseorang untuk
memperlakukan sesuatu objek, di dalam kesiapan itu ada aspek kognitif, afektif, dan
kecenderungan bertindak. Kesiapan sendiri merupakan penilaian positif dan negatif
dengan intensitas yang berbeda-beda untuk waktu tertentu, kesiapan itu sendiri bisa
berubah-ubah.
b) Kaitan nilai dengan sikap adalah Nilai itu merupakan konsep tentang kelayakan yang
dimiliki seseorang atau kelompok, yang mempengaruhi bagaimana seseorang atau
kelompok memilih cara, tujuan, dan perbuatan yang dikehendakinya sesuai dengan
anggapannya bahwa pilihannya adalah yang terbaik.nilai yang dimiliki seseorang dapat
mengekspresikan mana yang lebih disukai mana yang tidak. Dapat disimpulkan bahwa
nilai menyebabkan sikap. Yang selalu terjadi adalah satu sikap disebabkan oleh banyak
nilai (values).
c) Keterampilan intelektual
Dalam keterampilan intelektual ditekankan pula tentang kemampuan analisis dari
siswa didik. Keterampilan intelektual dan kemampuan analisis adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan. Kemampuan analisis adalah merupakan bagian dari keterampilan
intelektual, di mana kemampuan analisis merupakan kemampuan/ kecakapan
seseorang/siswa untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu peristiwa dengan tujuan
untuk mengetahui keadaan sebenarnya. Di lain pihak, keterampilan ini berkaitan dengan
kemampuan/ kecakapanuntuk mewujudkan pengetahuan dan pengertiannya ke dalam
perbuatan untuk menyelidiki suatu peristiwa/ masalah.
Untuk memperoleh keterampilan intelektual/ kemampuan analisis tersebut, siswa
perlu dilatih dalam berbagai kegiatan belajar-mengajar. Di sinilah pentingnya pendekatan
CBSA dilakukan guru dalam strategi dan metode belajar yang dikembangkan. Guru perlu
mengembangkan metode mengajar yang dapat menunjang pengembangan potensi
intelektual siswa (di samping potensi lainnya).
Dengan mengembangkan belajar mengajar yang fungsional, misalnya dengan
metode memecahkan masalah (problem solving) atau melalui model-model program
lainnya, misal Program terpadu (muldisciplinary  model) yang mengacu kepada topik-
topik yang ditentukan dalam kurikulum sasaran pencapaian keterampilan itu dicapai.
d) Keterampilan personal
Keterampilan personal sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari keterampilan
intelektual. Namun, dalam pemahamannya, ditekankan kepada keterampilan yang
sifatnya mandiri.
Misalnya, keterampilan menentukan lokasi kerja, mengumpulkan data, menggunakan
reference material, membuat kesimpulan dan lain-lain. Dengan latihan yang benar, siswa
diberi peluang untuk memiliki percakapan belajar mandiri dan bekerja mandiri.
e) Keterampilan sosial
Keterampilan ini meliputi kehidupan dan kerja sama, belajar memberi dan
menerima tanggung jawab, menghormati hak-hak orang lain, membina kesadaran sosial.
Dengan demikian, keterampilan ini maka siswa mampu berkomunikasi dengan sesama
manusia, ingkungannya di masyarakat secara baik, hail ini merupakan realisai dari
penerapan IPS dalam kehidupan bermasyarakat. Latihan dan pembinaan yang tampak
dalam proses belajar-mengajar antara lain mampu melaksanakan dengan baik:
1) Berdiskusi dengan teman
2) Bertanya kepada siapapun
3) Menjawab pertanyaan orang lain
4) Menjelaskan kepada orang lain
5) Membuat laporan
6) Memerankan sesuatu, dan seterusnya. 

5. Bagaimana pengembangan kurikulum pendidikan IPS di SD terkait materi, khususnya


di kelas 5 dan kelas 6?
Perkembangan kurikulum IPS SD di Indonesia diantaranya antara lain sebagai berikut.
1) Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 mengelompokkan tiga jenis pendidikan, yakni  pendidikan umum,
pendidikan akademis dan pendidikan keahlian khusus. Dalam kurikulum 1975
dikemukakan secara eksplisit istilah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang
merupakan perpaduan dari mata  pelajaran sejarah, geografi dan ekonomi. Dalam
kurikulum 1975, IPS termasuk kelompok pendidikan akademis. Namun IPS sebagai
pendidikan akademis mempunyai misi menyampaikan nilai-nilai berdasarkan filsafat
pancasila dan UUD 1945.
2) Kurikulum 1984
Kurikulum IPS 1984 pada hakikatnya menyempurnakan atau memperbaiki kelemahan-
kelemahan Kurikulum 1975. Ditinjau dari segi  pendekatan (metodologi) pembelajaran,
Kurikulum IPS 1975 dan 1984 menggunakan pendekatan integrative (integrated
approach) untuk IPS Sekolah Dasar (SD) .
3) Kurikulum 1994
Pada tahun 1994, terjadi lagi perubahan kurikulum IPS. Bahan kajian  pokok IPS SD
dibedakan atas dua bagian, yaitu pengetahuan sosial yang meliputi lingkungan sosial,
ilmu bumi, ekonomi, serta pemerintahan, dan  bahan kajian sejarah mencakup
perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau hingga kini. Ada perbedaan
yang cukup menonjol dalam kurikulum IPS Sekolah Dasar 1994 dibandingkan dengan
Kurikulum IPS sebelumnya, yakni dalam metode dan penilaian. Kurikulum IPS 1994
hanya memberikan anjuran umum bahwa pelaksanaan proses belajar mengajar
hendaknya para guru menerapkan prinsip belajar aktif. Dari bunyi rambu-rambu yang
terakhir ini, menunjukkan bahwa Kurikulum IPS 1994 memberikan keleluasaan atau
kekuasaan otonom yang cukup besar.
4) Kurikulum 2004
Pada tahun 2004, pemerintah kembali melakukan perubahan kurikulum yang dikenal
dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).  Namun pengembangan kurikulum IPS
diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial untuk merespon secara positif berbagai
perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan relevansi  program pembelajaran Pengetahuan Sosial dengan keadaan dan
kebutuhan setempat.
5) Kurikulum 2006
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 tahun 2006 tanggal
23 Mei 2006 ditetepakan Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Sekolah Dasar, yang
mempunyai karakteristik tersendiri karena kurikulum IPS yang mulai berlaku tahun
ajaran 2006 itu tidak menganut istilah pokok bahasan, namun menggunakan istilah
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Hal ini jauh lebih sederhana dibandingkan
dengan kurikulum sebelumnya dan jam pelajarn relatif lebih sedikit per minggunya. Hal
ini memberikan peluang yang luas bagi guru sebagai pengembang kurikulum untuk
berkreasi dalam pengembangan kurikulum yang mengacu  pada pembelajaran IPS yang
PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan). Kurikulum Pendidikan IPS
SD tahun 2006 hanya memberi rambu-rambu untuk kedalaman dan keluasan materi
dalam mencapai kompetensi dasar yang diharapkan.

6) Kurikulum 2013
Salah satu ciri kurikulum 2013, khususnya untuk SD adalah bersifat tematik integratif.
Dalam pendekatan ini, mata pelajaran IPS sebagai materi  pembahasan pada semua mata
pelajaran. Prosesnya, tema-tema yang ada pada  pelajaran IPS diintegrasikan kedalam
sejumlah mata pelajaran. Pelajaran IPS menjadi materi pembahasan pelajaran PPKN,
Bahasa Indonesia, dll.