Anda di halaman 1dari 60

PANDUAN PRAKTIS

PELAKSANAAN PENGEMBANGAN
ANAK USIA DINI HOLISTIK
INTEGRATIF (PAUD-HI)
DI SATUAN PAUD

PUSKESMAS
SATUAN PAUD

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar,
dan Pendidikan Menengah
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
2021
Panduan Praktis
Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif
(PAUD-HI) di Satuan PAUD

Penyusun

Penasehat : Jumeri

Penanggung Jawab : Muhammad Hasbi

Penyusun : Harris Iskandar, Muhammad Hasbi, Maryana,


Aria Ahmad Magunwibawa, Nanik Suwaryani,
Neny Nurainy Fardana, Mike Arifin,
Irma Yuliantina, Fitria Pramudina Anggraini,
Rosfita Roesli

Editor : Ngasmawi, Lestari Koesoemawardhani,


Nanik Suwaryani, Aria Ahmad Magunwibawa,
Jakino, Neny Nurainy Fardana, Mike Arifin,
Hidayat Widiyanto

Desain Sampul dan : M. Iqbal Tawakal, M. Ari Nugraha


Tata Letak

Sekretariat : Beryana Evridawati, Andrianto, Samijah,


Suci Sugeng Setyono, Agus Wahyu, Sri Sugiarti,
Maryanto, Badarussalam Asyari,
Mohamad Roland Zakaria

Diterbitkan oleh

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan
Pendidikan Menengah
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini

ISBN
PANDUAN PRAKTIS
PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI
HOLISTIK INTEGRATIF (PAUD-HI)
DI SATUAN PAUD

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini,
Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
Tahun 2021
Sambutan
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak hanya memegang
peranan yang penting dalam perkembangan anak pada masa yang
akan datang. Akan tetapi juga memegang peranan penting dalam
pembangunan sebuah bangsa. Untuk mendukung pemenuhan
kebutuhan hak esensial anak yang meliputi hak akan pendidikan,
kesehatan dan gizi, perlindungan, pengasuhan, dan kesejahteraan
anak diperlukan pendekatan yang holistik dan integratif dengan
melibatkan kerja sama satuan PAUD, keluarga, masyarakat,
pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.

Program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif


(PAUD-HI) merupakan sebuah upaya pemerintah untuk
menghadirkan layanan yang komprehensif dalam memenuhi
kebutuhan esensial anak usia dini. Program ini hadir sebagai wujud
nyata kehadiran negara dalam pemenuhan hak anak. Melalui
program ini, diharapkan akan terjadi kerja sama lintas sektoral di
pusat dan di daerah dalam pemenuhan kebutuhan esensial anak.
Program ini juga merupakan upaya untuk mendorong
adanya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
untuk menghadirkan layanan PAUD-HI di daerahnya masing-
masing. Pemerintah daerah melalui dinas pendidikan diharapkan
dapat memperkuat ekosistem pendidikan dan juga peran satuan
PAUD sebagai salah satu unit layanan penyelenggaran PAUD-HI.
Diharapkan pedoman ini akan memberikan arah panduan bagi
satuan PAUD untuk memberikan layanan PAUD-HI sebagai upaya
memenuhi kebutuhan esensial anak dan juga meningkatkan
kualitas PAUD di daerah.

Jakarta, Maret 2021


Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini,
Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Jumeri
NIP 196305101985031019

Panduan Paktis | 4
Kata Pengantar
Agar tumbuh kembang anak-anak usia dini optimal,
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar atau esensial harus
dilakukan. Kebutuhan-kebutuhan esensial mereka meliputi
kesehatan dan gizi, pendidikan, pengasuhan, pelindungan, serta
kesejahteraan. Satuan PAUD mempunyai peran yang sangat besar
dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Peraturan Presiden Nomor 60 tahun 2013 mengamanahkan
kita untuk mengupayakan pengembangan anak usia dini holistik-
integratif (PAUD-HI) dengan secara bersama-sama dan terpadu
memenuhi kebutuhan-kebutuhan esensial mereka. Perpres ini telah
ditindaklanjuti dengan terbitnya Permenko PMK No. 1 Tahun 2019
tentang Subgugus Tugas PAUD-HI, serta Rencana Aksi Nasional
PAUD-HI 2020-2024.
Panduan Praktis ini disusun untuk memberikan gambaran
yang lebih operasional tentang cara pelaksanaan layanan PAUD-HI
di tingkat satuan PAUD.
Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas
partisipasi, dan sumbangan pemikiran berbagai pihak yang
terlibat dalam penyusunan Panduan Praktis ini. Mudah-mudahan
dokumen ini mampu memberikan pemahaman, mengispirasi dan
memotivasi para tenaga kependidikan dan pendidik pada satuan
PAUD untuk melakukan upaya pemenuhan kebutuhan esensial
anak dengan melibatkan berbagai pihak agar anak-anak kita bisa
tumbuh dan berkembang secara lebih optimal.

Jakarta, Maret 2021


Direktur Pendidikan Anak Usia Dini,
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini,
Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Muhammad Hasbi
NIP 19730623199303100

Panduan Praktis | 5
Daftar Isi
Sambutan 4
Kata Pengantar 5
Daftar Isi 6
I Pendahuluan 8
A. Latar Belakang
13
B. Tujuan Umum PAUD-HI
13
C. Tujuan Khusus PAUD-HI
13
D. Landasan Hukum

II Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif (PAUD-HI)


A. Pengertian PAUD-HI 15
B. Kebutuhan-Kebutuhan Esensial Anak Usia Dini 19
C. Kebutuhan Pendidikan 19
D. Kebutuhan Kesehatan, Gizi, dan Perawatan 20
E. Kebutuhan Pengasuhan 21
F. Kebutuhan Perlindungan 22
G. Kebutuhan Kesejahteraan 23

III Pelaksanaan PAUD-HI di Satuan PAUD


A. Satuan PAUD sebagai Hub atau Penghubung 24
B. Peran Pihak Terkait dalam Pelaksanaan PAUD-HI 25
C. Waktu Pelaksanaan PAUD-HI di satuan PAUD 28
D. PAUD-HI yang Selama Ini Sudah dilakukan Oleh Satuan PAUD 29
E. Contoh-Contoh Pelaksanaan PAUD-HI 30
F. Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan Pelaksanaan PAUD-HI 38

Penutup 42

Lampiran 1 Peran Satuan PAUD, Organisai Pemerintah dan 44


Masyarakat serta Individu dalam Pelaksanaan PAUDHI

Lampiran 2 Contoh Laporan Pelaksanaan Program dan Kegiatan 56


PAUD-HI

Lampiran 3 Unsur-unsur Kinerja Layanan PAUD-HI di Satuan PAUD 59

Panduan Paktis | 6
Panduan Praktis | 7
I Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kita semua ingin anak-anak kita tumbuh dan berkembang secara
optimal pada aspek nilai agama dan moral, kognitif, fisik motorik, sosio-
emosional, bahasa, dan seni. Namun, memandang tumbuh kembang
anak usia dini dari sisi pendidikan tidaklah cukup. Anak-anak usia
dini juga mempunyai kebutuhan esensial yang lain, yaitu kesehatan
dan gizi, pengasuhan, pelindungan, dan kesejahteraan. Tentu saja
satuan PAUD tidak bisa dituntut untuk melakukan itu sendiri. Untuk
bisa melaksanakan satuan PAUD dapat bekerjasama dengan banyak
lembaga baik di pemerintah dan masyarakat yang mempunyai peran
penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan esensial anak.
Pengembangan anak usia dini yang holistik-integratif (PAUD-HI)
menjadi pilihan kebijakan yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden
RI No. 60 tahun 2013. Beberapa yang melatarbelakangi ditetapkannya
kebijakan itu adalah data empiris sebagai berikut.

0,74%
Anak usia 0 - 2 tahun
yang mengikuti PAUD

21,67%
Anak usia 3 - 4 tahun yang
mengikuti PAUD

55,38%
Anak usia 5 - 6 tahun yang
mengikuti PAUD

Sumber: Susenas, 2018

Panduan Paktis | 8
Angka Tengkes (Stunting) Masih Tinggi
Pencegahan stunting merupakan salah satu agenda prioritas
pemerintah. Stunting atau gagal tumbuh sebagai akibat dari kekurangan
gizi terutama pada seribu hari pertama kehidupan (HPK), lingkungan
yang tidak bersih, dan stimulasi kurang tepat. Stunting tidak hanya
mempengaruhi pertumbuhan anak yang lebih pendek daripada yang
seharusnya, tetapi juga kecerdasan yang kurang.
Di Indonesia angka stunting masih sangat tinggi, yaitu 27,67% (Hasil
Survei Status Gizi Balita di Indonesia/SSGBI, 2019). Beberapa fakta berikut
bisa menjelaskan beberapa faktor yang menyumbang tingginya angka
stunting.
a. Status balita dengan gizi buruk masih tinggi yaitu 17,7% (Riskesdas,
2018).
b. Angka kecacingan yang disebabkan di antaranya karena lingkungan
dan perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat juga cukup tinggi,
yaitu 28.21% (Isati, 2014).
c. Ketidaksiapan banyak pasangan sebagai orang tua, mengakibatkan
kurang tepatnya pola pengasuhan pada anak dan kurangnya stimulasi
pada anak.

Info singkat tentang stunting bisa dilihat melalui tautan berikut.

https://www.youtube.com/watch?v=4hXNtDDaBzk&t=325s

Panduan Praktis | 9
Panduan Paktis | 10
Pola pengasuhan yang tidak tepat menjadi salah satu faktor
yang mempengaruhi kekerasan pada anak. Pada saat pandemi
ini sangat dikhawatirkan angka kekerasan dalam rumah tangga,
termasuk pada anak menjadi makin tinggi.

Anak tanpa Kartu Identitas Anak (KIA)


Sangat Penting untuk seorang anak mempunyai
KIA. Dengan memiliki kartu ini, data anak akan
masuk ke sistem pelayanan pemerintah seperti
kesehatan dan pendidikan. Sayangnya, banyak
anak yang belum mempunyai KIA. Sebagai contoh,
di kota Depok hanya ada 40% anak dengan KIA
dan 60% belum memilikinya. Dengan memastikan
identitas anak maka tentunya akan bermanfaat
terkait dengan pelindungnan pemenuhan hak
anak, jaminan akses sarana umum, kemudahan
mendapatkan pelayanan publik dibidang
kesehatan, pendidikan dan lain-lain.
(Sumber:https://ayobandung.com/read/2021/02/16/189202/60
-anak-di-kota-depok-belum-miliki-kartu-identitas)

Satuan PAUD mempunyai peran yang sangat penting untuk


mengatasi masih banyaknya kasus yang mencerminkan belum
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan esensial anak. Namun, dari
Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) tahun 2020, ternyata sudah
ada 70.000 dari 233.646 satuan PAUD yang ada yang sudah
melaksanakan beberapa indikator PAUD-HI. Karena itu, disusunlah
Panduan Praktis untuk membantu satuan PAUD memahami
berbagai cara untuk melaksanakan PAUD-HI yang melibatkan
berbagai pihak yang relevan.
Pemenuhan beragam kebutuhan esensial anak melalui
PAUD-HI bertujuan untuk terwujudnya anak Indonesia yang sehat,
cerdas, ceria, dan berakhlak mulia. Agar satuan PAUD berperan
secara optimal dalam pelaksanaan PAUD-HI disusunlah Panduan
Praktis ini yang diharapkan bisa memberi wawasan dan acuan
bagi pendidik dan tenaga kependidikan PAUD.
Panduan Praktis ini disusun untuk memberi gambaran
dan acuan yang jelas kepada satuan PAUD tentang bagaimana
pengembangan anak usia dini holistik-integratif dilaksanakan di
satuan PAUD. Panduan ini berlaku dalam situasi masa pandemi
Covid-19 di mana hampir semua anak belajar dari rumah dan masa
new normal (adaptasi kebiasaan baru), dimana pembelajaran di
satuan pendidikan sudah bisa dilakukan.
Panduan Praktis | 11

Panduan Paktis | 12
B. Tujuan Umum

Panduan Praktis ini disusun dengan tujuan untuk memberikan


pemahaman pada satuan PAUD tentang pelaksanaan pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan esensial anak melalui PAUD-HI demi terwujudnya
anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia.

C. Tujuan Khusus

Secara khusus, tujuan Panduan Praktis ini adalah sebagai berikut:

1. memberikan pemahaman kepada pendidik dan tenaga


kependidikan satuan PAUD tentang beragam kebutuhan-
kebutuhan esensial anak yang harus dipenuhi;
2. memahami strategi pelaksanaan PAUD-HI melalui pelibatan
organisasi pemerintah daerah, orang tua, dan masyarakat.

D. Landasan Hukum
1. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan
Pengasuhan Anak Kemensos;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar
Pelayanan Minimal;
3. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan
Anak Usia Dini Holistik Integratif;
4. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024;
5. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional
Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pengintegrasian Layanan Sosial dasar di Posyandu;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014 tentang
Upaya Kesehatan Anak;

Panduan Praktis | 13
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 tentang
Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini;
9. Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 Tahun 2014
tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak usia Dini; dan
10. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas
Penggunaan Dana Desa Tahun 2015;
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 30 Tahun 2017
tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan;
dan
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan dan Kebudayaan Nomor 84
Tahun 2014 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia dini.

Panduan Paktis | 14
II Pengembangan Anak
Usia Dini Holistik-Integratif
(PAUD-HI)
A. Pengertian
PAUD-HI adalah upaya pengembangan anak usia dini yang dilaku-
kan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling
terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi (Pasal 1 ayat 2 Perpres
No. 60/2013).

Apa yang dimaksud


dengan simultan,
sistematis, dan
terintegrasi dalam
pengertian ini?

Panduan Praktis | 15
Simultan
Pemenuhan kebutuhan esensial anak yang beragam sering
dilakukan secara bersama-sama atau serentak.

Contoh:

Di satuan PAUD ketika anak makan bersama, kebutuhan esensial


yang berusaha dipenuhi bukan hanya kebutuhan gizi yang
berujung pada kesehatan anak, tetapi juga menyangkut aspek-
aspek lain, seperti kemandirian dan berkembangnya motorik
halus (anak-anak makan sendiri), pengetahuan (anak tahu
makanan yang mereka makan), dan kedisiplinan (ketika makan
harus duduk).

Kegiatan ini juga menyangkut pelindungan anak karena pengelola


PAUD harus memastikan makanan yang dikonsumsi anak adalah
makanan yang sehat. Selain itu, agar kebiasaan makan yang baik
juga dilakukan di rumah, guru perlu mendorong orang tua untuk
melatih dan membiasakan anak makan seperti di sekolah. hal ini
bisa disampaikan melalui kelas orang tua.

Panduan Paktis | 16
Sistematis
Agar terarah, pemenuhan kebutuhan esensial anak dilakukan dengan
cara atau metode yang teratur melalui peraturan-peraturan atau dokumen
formal yang ditetapkan baik di lingkungan satuan PAUD, lembaga di
lingkungan pemerintah daerah, maupun lembaga lainnya.

Contoh:

• Dalam program tahunan atau program semester satuan PAUD selalu


dijadwalkan kegiatan mengukur berat dan tinggi badan, serta lingkar
kepala anak, kelas orang tua, dan kelas inspirasi. Selain itu, pembiasaan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dapat diintegrasikan ke
dalam KTSP, dapat juga dilakukan dengan membuat aturan-aturan seperti
membuang sampah, membawa makanan yang boleh dibawa oleh anak
dan boleh dijual di kantin dan pedagang di sekitar sekolah, serta menjalin
kerja sama dengan Puskesmas, Posyandu, dan orang tua.

Panduan
Panduan Praktis
Praktis || 17
17
Terintegrasi
Untuk hasil yang lebih efektif dalam mendukung pemenuhan
kebutuhan esensial anak, sejumlah program yang melibatkan
beberapa pihak perlu dilakukan secara terpadu.

Contoh:
• Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan
program bersama 4 Kementerian (Kemendikbud,
Kemenkes, Kemenag, dan Kemendagri) yang
bertujuan untuk membudayakan PHBS. Pada satuan
PAUD, program ini terintegrasi dalam KTSP, terutama
dalam pembiasaan perilaku anak, serta penciptaan
lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Untuk
melaksanakan program ini, Puskesmas menjadi
bagian yang tak terpisahkan dengan lembaga PAUD
karena UKS juga menjadi program yang harus
dilaksanakan di semua Puskesmas.

• Kelas Inspirasi dengan mengundang polisi sebagai


narasumber merupakan program terpadu antara
satuan PAUD dan lembaga kepolisian yang
mengembangkan program Polisi Sahabat Anak.
Dalam kelas inspirasi ini selain memberikan stimulasi
untuk beberapa aspek perkembangan anak, polisi
juga memberikan pengetahuan tentang bagaimana
anak melindungi diri (misalnya dengan hati-hati ketika
menyeberang jalan dan berteriak serta berlari ketika
ada orang yang akan berlaku jahat).

Panduan Paktis | 18
B. Kebutuhan-Kebutuhan
Esensial Anak Usia Dini
Dalam Perpres tentang PAUD-HI disebutkan ada 5 kebutuhan
esensial anak, yaitu: pendidikan; kesehatan, gizi, dan perawatan,
pengasuhan, pelindungan, dan kesejahteraan.

1 Pendidikan
Pendidikan adalah layanan dasar yang
diselenggarakan pada satuan PAUD untuk
mengembangkan berbagai potensi anak yang mencakup
nilai-nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa,
sosial-emosional, dan seni. Penyelenggaraan layanan
pendidikan mengacu pada Standar Nasional PAUD,
Kurikulum 2013 PAUD, dan acuan lainnya yang dikeluarkan
oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi.

Panduan Praktis | 19
2 Kesehatan, Gizi, dan Perawatan
Pemenuhan kebutuhan kesehatan, gizi, dan perawatan
anak pada satuan PAUD harus menjadi bagian terintegrasi dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diwujudkan
dalam kegiatan rutin. Beberapa contoh kegiatan yang dilakukan
oleh satuan PAUD di antaranya adalah:
a. menjadwalkan secara rutin pengukuran berat dan
tinggi badan serta lingkar kepala anak (ini bisa dilakukan
bekerja sama dengan Posyandu);
b. mengupayakan tersedianya makanan dengan gizi
seimbang;
c. melatih penggunaan jamban atau toilet;
d. membiasakan anak mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan, memakai pakaian yang bersih, dan
mandi di akhir kegiatan (terutama pada Tempat
Penitipan Anak yang memberi pelayanan sampai sore);
e. bekerja sama dengan tenaga medis di Puskesmas atau
lembaga kesehatan lainnya untuk melakukan Deteksi
Dini Tumbuh Kembang (DDTK)/Stimulasi Deteksi
Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), perbaikan
gizi, seperti pemberian vitamin A, pemberian imunisasi,
pemeriksaan kesehatan mata, telinga, dan mulut anak;
f. mengundang narasumber yang relevan dalam kelas
inspirasi misalnya untuk menambah pengetahuan
dan memotivasi anak untuk mengonsumsi makanan-
makanan dengan gizi seimbang;
g. mengundang narasumber yang relevan di kelas orang
tua untuk memberi wawasan kepada orang tua dalam
menanamkan dan membudayakan pola hidup bersih
dan sehat;
h. bekerja sama dengan Posyandu dan/atau lembaga
dan komunitas yang lain untuk mencegah dan
menanggulangi stunting;
i. berkoordinasi atau meminta bantuan kepada Penilik
PAUD/Pengawas TK/Himpaudi/IGTKI/ tokoh masyarakat
apabila memerlukan bantuan untuk perluasan jaringan
kemitraan, termasuk apabila memerlukan narasumber
atau fasilitas lainnya.
Panduan Paktis | 20
3 Pengasuhan
Pengasuhan oleh orang tua sangat penting untuk
memastikan lingkungan di rumah yang kondusif untuk tumbuh
kembang anak, contohnya penerapan disiplin positif tanpa
kekerasan, membangun komunikasi yang efektif, namun banyak
orang tua yang tidak mempunyai kemampuan tersebut. Satuan
PAUD bisa melakukan upaya peningkatan kapasitas pengasuhan
melalui kerja sama dengan orang tua yang tergabung dalam
paguyuban orang tua, kelompok pertemuan orang tua (KPO),
persatuan orang tua dan guru (POMG), komite sekolah satuan
PAUD, atau yang lainnya dengan melaksanakan beberapa
kegiatan misalnya:
a. kelas orang tua dengan beragam tema terkait pemenuhan
kebutuhan esensial, misalnya pengasuhan positif,
pendidikan anak di era digital, disiplin tanpa kekerasan,
pertumbuhan dan perkembangan anak, pembiasaan
pola hidup bersih dan sehat (PHBS), pengenalan makanan
dengan gizi seimbang, penanggulangan kecacingan,
penggunaan garam beryodium, pencegahan penyakit
menular, pencegahan dan penanganan tengkes (stunting);
b. konsultasi antara guru dan orang tua berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak;
c. Hari Ayah untuk mengingatkan para ayah bahwa mereka
juga memiliki peran pengasuhan yang sama penting
dengan ibu.

Panduan Praktis | 21
4 Pelindungan
Pelindungan anak adalah salah satu bagian dari
tugas satuan PAUD. Karena itu perlu ada upaya untuk terus
menciptakan lingkungan yang aman dan memastikan
anak terlindungi dari kekerasan baik fisik maupun nonfisik.
Sejumlah upaya yang bisa dilakukan oleh satuan PAUD antara
lain adalah:
a. memastikan lingkungan, alat, dan bahan main yang
ada aman digunakan oleh anak;
b. memastikan tidak ada anak yang mengalami
perundungan (bullying), kekerasan fisik, dan/atau
verbal baik oleh teman, guru, atau orang dewasa
lainnya di lingkungan satuan PAUD;
c. mengupayakan tidak adanya kekerasan di keluarga
misalnya dengan memberi pemahaman melalui
kelas orang tua;
d. mengenalkan kepada anak bagian tubuh yang
boleh disentuh dan yang tidak boleh disentuh;
e. mengajarkan anak untuk dapat menolong dirinya
apabila mendapat perlakuan yang tidak nyaman
dari orang lain, misalnya meminta tolong, berteriak,
atau lari;
f. memastikan semua area di lingkungan satuan PAUD
berada dalam jangkauan pengawasan pendidik dan
tenaga kependidikan;
g. membiasakan semua pendidik dan tenaga
kependidikan bersikap ramah, menghormati,
menyayangi, serta peduli kepada semua anak dan
tidak memberi label atau cap yang negatif kepada
anak;
h. memastikan saat anak pulang sekolah dalam kondisi
aman (misal ada orang dewasa yang mendampingi);
i. menangani dengan segera ketika anak mengalami
kecelakaan di satuan pendidikan;
j. menghubungi individu atau lembaga yang relevan
jika terjadi kasus kekerasan yang serius; dan
k. menghubungi individu atau lembaga yang relevan
ketika ada anak menjadi korban kekerasan yang
memerlukan pendampingan.
Panduan Paktis | 22
5 Kesejahteraan
Layanan kesejahteraan merupakan upaya pemenuhan
hak anak seperti kepastian identitas, kebutuhan fisik,
psikososial, dan kebutuhan rohani. Beberapa upaya yang bisa
dilakukan oleh satuan PAUD di antaranya adalah:

a. Membantu menghubungkan orang tua anak yang belum


mempunyai akta kelahiran dan/atau kartu identitas anak
(KIA) dengan dinas dukcapil. Dengan adanya dokumen
ini data anak akan masuk ke dalam sistem pelayanan
yang disediakan oleh negara.
b. Memberikan perhatian khusus ketika anak mengalami
masalah psikologis, misalnya karena mengalami
kekerasan, orang tua meninggal, dan terdampak bencana
alam.
c. Mengupayakan secara terus menerus kesejahteraan
anak terpenuhi dengan optimalisasi layanan pemenuhan
esensial bagi anak.

Panduan Praktis | 23
PELAKSANAAN PAUD-HI
DI SATUAN PAUD
Peran satuan PAUD dalam PAUD-HI sangat besar. Namun demikian,
tidak berarti pendidik dan tenaga kependidikan satuan PAUD harus
melaksanakannya sendiri. Banyak pihak yang terlibat dalam pemenuhan
kebutuhan esensial anak. Dalam hal lembaga pemerintah, yang mereka
kerjakan tentu saja harus sesuai dengan tugas dan fungsi lembaga.
Sementara itu, untuk lembaga atau individu di luar itu yang mereka
kerjakan disesuaikan dengan bidang kerja, keahlian, atau ketertarikan
mereka.

Walaupun tidak semua layanan untuk memenuhi kebutuhan


esensial anak menjadi tanggung jawab PAUD, satuan PAUD bisa berfungsi
sebagai hub atau penghubung atau titik kumpul.

A Satuan PAUD sebagai Penghubung

Satuan PAUD sebagai penghubung atau sering disebut


sebagai hub bisa mengandung beberapa pengertian tergantung
dengan situasi dan kondisi yang ada.
1. Satuan PAUD sebagai tempat berbagai aktivitas layanan
untuk memenuhi kebutuhan esensial anak, termasuk oleh
lembaga-lembaga lain. Sebagai contoh, pengukuran berat
dan tinggi badan, dan pemberian Vitamin A pada anak yang
dilakukan Posyandu bisa saja bertempat di satuan PAUD. Ini
berarti ada anak-anak yang tidak menjadi peserta didik di
satuan PAUD itu yang mungkin dibawa orang tuanya.
2. Pendidik dan tenaga kependidikan satuan PAUD mempunyai
informasi tentang layanan pemenuhan kebutuhan anak oleh
lembaga lain yang menghubungkan anak/orang tua yang
membutuhkan dengan lembaga yang berwenang. Sebagai
contoh, pendidik bisa menghubungkan ke Dinas Dukcapil
orang tua yang anaknya belum mempunyai Akta Kelahiran.
3. Pendidik dan tenaga kependidikan satuan PAUD yang
relatif sudah bagus dalam pelaksanaan PAUD-HI bisa
menjadi fasilitator untuk satuan-satuan PAUD yang belum
melaksanakan (mis. POS PAUD). Ini bisa dilakukan di antaranya
melalui pusat kegiatan gugus (PKG) PAUD.

Panduan Paktis | 24
B Peran Pihak Terkait dalam Pelaksanaan
PAUD-HI
Selain sebagai penghubung, satuan PAUD juga
mempunyai berbagai peran yang terkait dengan layanan
untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Lampiran 1 memberi
gambaran tentang peran satuan PAUD dan pihak-pihak lain
yang terlibat dalam pemenuhan berbagai kebutuhan esensial
anak.

Pihak-pihak lain dalam pemenuhan kebutuhan


esensial anak itu, terdiri atas lembaga pemerintah (organisasi
perangkat daerah atau OPD) dan masyarakat. Sebagian dari
OPD-OPD itu, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan,
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Sosial, Kantor
Kementerian Agama, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak menjadi bagian dari Gugus Tugas
PAUD-HI di tingkat kabupaten/kota. OPD yang tidak menjadi
anggota Gugus Tugas tetap bisa menjadi bagian dari PAUD-HI
sesuai dengan relevansinya.

Gugus Tugas PAUD-HI dibentuk untuk mengoordinasikan


penyelenggaraan PAUD-HI dengan menyinkronkan
perencanaan program dan penganggaran, memobilisasi
sumber daya yang ada, memberi advokasi, dan memantau
serta mengevaluasi pelaksanaan program yang tertuang
didalam Rencana Aksi Daerah (RAD). Anggota Gugus Tugas ini
setiap daerah mungkin saja sedikit berbeda.

Sementara itu, unsur masyarakat bisa terdiri atas


perseorangan (misalnya orang tua anak), kelompok atau
komunitas, dan organisasi, termasuk perusahaan yang memiliki
program sosial atau corporate social responsibility (CSR).

Panduan Praktis | 25
Pada Lampiran 1 diuraikan peran masing-masing organisasi
pemerintah, masyarakat, dan individu dalam melaksanakan
PAUD-HI, antara lain;

1. Satuan PAUD
2. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
4. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten/Kota
5. Dinas Sosial Kabupaten Kota
6. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
7. Pemerintah Kecamatan dan Desa
8. Bunda PAUD
9. Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten/Kota dan Kepolisian
Sektor (Polsek) Kecamatan
10. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Badan Pengendalian
Obat dan Makanan (BPOM)
11. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan
Pemadam Kebakaran
12. Organisasi Mitra
13. Tokoh Masyarakat
14. Orang Tua
15. Pemengaruh (Influencer)
16. Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI)

Lampiran 1 ada di halaman 44

Panduan Paktis | 26
Panduan Praktis | 27
C Waktu Pelaksanaan PAUD-HI
Oleh Satuan PAUD
Pelaksanaan PAUD-HI dilakukan sesuai degan
kesepakatan satuan PAUD dengan lembaga lain, individu, atau
komunitas yang relevan.

Contoh :
Satuan PAUD (sesuai program tahunan dan semester)

• Mengukur tinggi, berat badan, dan lingkar kepala anak


sebulan sekali
• Melakukan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

Kesepakatan dan/atau ketentuan dengan lembaga/individu


lain
• Pemberian vitamin A setiap enam bulan sekali di
Posyandu
• Kunjungan dokter atau tenaga medis Puskesmas untuk
pemeriksaan gigi anak
• Kelas orang tua
• Kelas inspirasi
• Kunjungan ke kepolisian, pemadam kebakaran, kolam
ikan, peternakan

Panduan Paktis | 28
D Layanan PAUD-HI yang Selama Ini
Sudah dilakukan Oleh Satuan PAUD
Istilah PAUD-HI mungkin sangat baru bagi sebagian besar
pendidik dan tenaga kependidikan PAUD. Namun demikian,
sebetulnya di sebagian besar satuan PAUD, pemenuhan
berbagai kebutuhan esensial anak sudah dilakukan walaupun
masih belum optimal. Beberapa di antaranya adalah:
1. bekerja sama dengan Puskesmas atau lembaga kesehatan
lain untuk mendapatkan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),
koordinasi perkembangan kesehatan anak, narasumber dari
Puskesmas untuk kelas orang tua dengan tema kesehatan
dan gizi;
2. mengundang orang tua dari beragam profesi sebagai
narasumber dalam kelas inspirasi;
3. bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam program Polisi
Sahabat Anak;
4. mengunjungi atau mengundang pemadam kebakaran
dalam kelas inspirasi untuk tema yang terkait dengan
keamanan;
5. mendukung anak-anak yang kurang mampu dengan
memberikan makanan tambahan atau mengondisikan anak
untuk saling berbagi (termasuk makanan);
6. membantu orang tua yang anaknya belum mempunyai akta
kelahiran dan KIA dengan menghubungkannya dengan
Dinas Dukcapil;

Panduan Praktis | 29
E Contoh-Contoh Pelaksanaan PAUD-
HI yang Mungkin Belum Dilakukan di
Satuan PAUD
Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh satuan PAUD
untuk memenuhi beragam kebutuhan esensial anak, tetapi
ada banyak kasus yang terjadi di lapangan yang memerlukan
perhatian dan upaya ekstra.

Berikut ini adalah contoh-contoh pelaksanaan PAUD-HI yang


terjadi di beberapa satuan PAUD.

Panduan Paktis | 30
Contoh 1
Membantu anak memperoleh haknya untuk bertemu ayah

Seorang ayah tidak diperbolehkan mantan istrinya untuk


menemui anaknya yang bersekolah di salah satu TK di Garut.
Kerinduan ayah dan anak membuat membuat guru tidak mampu
menolak permintaan sang ayah untuk mengajak keluar anaknya.

Walaupun berjanji untuk datang ke sekolah sebelum jam belajar


usai, mereka datang terlambat. Akibatnya, terjadi pertengkatan
antara mantan suami dan istri. Namun, dari pertengkaran itu
akhirnya lahir kesepakatan yang membolehkan ayahnya untuk
bertemu dengan anaknya di TK tetapi tidak diajak keluar.

Refleksi:

• Kebutuhan esensial apa yang


muncul dalam kasus ini?

• Jika bapak/ibu menghadapi


kasus serupa, apa yang akan
dilakukan dan mengapa?

• Siapa saja yang dimintai


bantuan untuk menghadapi
kasus itu?

Panduan Praktis | 31
Contoh 2
Menghentikan eksploitasi anak melalui
PAUD di Bantaran Sungai Gajah Wong
Kemiskinan sering berakibat pada eksploitasi anak. Sekolah di bantaran
sungai Gajah Wong didirikan pada tahun 2009 untuk memutus mata
rantai kedua hal tersebut. Ini dilakukan setelah pendekatan ekonomi
dinilai kurang efektif.
Sekolah ini berlokasi di permukiman yang sebagian besar dihuni oleh
pemulung, pengemis, pekerja seks, dan pengamen yang lebih dikenal
sebagai kampung pemulung. Secara administratif keberadaannya ilegal
sehingga banyak layanan umum yang tidak tersedia. Akibatnya banyak
anak lahir tanpa akta kelahiran dan tanpa pendidikan yang layak.
Upaya pengelola sekolah yang melibatkan orang tua dan masyarakat
dalam menjalankan proses pembelajaran mendapatkan dukungan dari
berbagai pihak. Setelah beberapa tahun upaya ini membawa hasil yang
menggembirakan. Kesadaran orang tua untuk mengasuh dengan baik
dan menyekolahkan anaknya semakin baik.

Sumber Rujukan

https://www.youtube.com/watch?v=Ur2owxuEJjY
https://www.youtube.com/watch?v=K9xi-S5kFxg

Refleksi:
• Jika di lingkungan satuan PAUD anda ada anak dengan situasi
yang sama seperti di cerita ini yang tidak masuk PAUD, apa
yang akan Anda lakukan?
• Siapakah pihak terkait yang akan anda hubungi untuk men-
dukung anak tersebut?

Panduan Paktis | 32
Panduan Praktis | 33
Contoh 3
Mendukung anak dengan tunarungu melalui komunitas
Syamil adalah siswa tunarungu di salah satu PAUD di Lampung
yang masih bisa memanfaatkan alat bantu dengar. Kesulitan
komunikasi dan sosialisasi merupakan tantangan yang harus dihadapi
baik oleh orang tuanya maupun gurunya. Untuk mengatasi hambatan
tersebut, ada banyak hal yang dilakukan oleh orang tua Syamil.
a. Menciptakan iklim rumah dengan konsep ‘Bersama dan Bahagia;
b. Membacakan banyak buku untuk mendukung perkembangan
bahasa;
c. Mendampingi anak saat berinteraksi dengan guru secara daring
selama masa belajar dari rumah sehingga beberapa hal bisa
diulangi;
d. Mendapatkan dukungan dari terapis (ketika pandemi dilakukan
secara daring). Selain itu, orang tua juga mengikuti kelas-kelas
terapi daring;
e. Bergabung dengan Komunitas Lampung Mendengar. Di komunitas
ini para orang tua merasa tidak sendiri, bisa berbagi ide-ide kreatif,
dan ini berdampak pada peningkatan rasa percaya diri.
Sumber: Kelas Orang Tua Berbagi di

https://www.youtube.com/watch?v=IkrjWCR2Rr8&t=2979s

Refleksi:
• Kebutuhan esensial apa saja yang berusaha dipenuhi dalam
kasus ini?
• Jika Bapak/Ibu saat ini mempunyai anak dengan disabilitas,
siapa saja pihak yang bisa dilibatkan untuk memenuhi ke-
butuhan esensialnya?

Panduan Paktis | 34
Contoh 4
Kelas di rumah untuk anak dengan kesulitan komunikasi

Setelah beberapa bulan mengikuti kelompok bermain, kemampuan


seorang anak untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan
anak lain tidak berkembang seperti yang diharapkan. Berbagai
cara telah dicoba oleh guru dan orang tua untuk mendorong
anak untuk berbicara dan berinteraksi dengan anak lain tetapi
tidak berhasil. Akhirnya guru dan orang tua mempunyai ide untuk
memindahkan kelas ke rumah anak itu.
Di kelas pertama, baik orang tua maupun guru melihat ada
kemauan anak untuk bicara dengan teman-temannya, tetapi
masih sangat terbatas. Pada kelas di rumah yang kedua, terlihat
lebih jelas adanya komunikasi antara anak dan teman-temannya.
Terakhir, pada kelas di rumah yang ketiga terlihat bahwa anak
sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari teman-temannya.
(Sumber: Dua guru peserta pelatihan Instruktur Nasional
Kurikulum PAUD 2013 pada tahun 2015)

Refleksi:
• Kebutuhan esensial apa yang berusaha dipenuhi
dalam kasus ini?
• Menurut pendapat Bapak Ibu, mengapa anak yang
mempunyai gangguan komunikasi tersebut mulai
berkomunikasi dengan temannya ketika kelas
diadakan di rumahnya?

Panduan Praktis | 35
Contoh 5
Pembelajaran Tatap Muka Anak Kebutuhan Khusus/ABK Masa
Pandemi Covid 19
Pandemi Covid-19 memaksa anak belajar di rumah. Interaksi guru dan
anak dilakukan dengan pertemuan di dunia maya (virtual meeting), video
call, voice note, dan tutorial. Cara-cara itu sering tidak bisa dilakukan pada
anak-anak tertentu, termasuk beberapa ABK. Karenanya, untuk anak
kebutuhan khusus diatur pertemuan tatap muka di sekolah. Berikut
adalah beberapa langkah yang dilakukan di TK Anak Sholeh Malang.

a. Orang tua menandatangani kesepakatan yang sudah dipersiapkan


oleh lembaga.
b. Sekolah menyediakan fasiltas alat pengukur suhu tubuh, cuci tangan
dengan air mengalir, sabun, dan tissu.
c. Anak peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua
memakai masker. Guru juga menggunakan face shield karena
kadang-kadang harus membuka maskernya untuk menunjukkan
ekspresi/mimik wajah tertentu pada anak.
d. Guru memakai sarung tangan ketika harus menyentuh ABK.
e. ABK membawa bekal sendiri.
f. Pembelajaran dilakukan maksimal 3 JPL.
g. Orang tua dan anak datang dan pulang tepat waktu.

Panduan Paktis | 36
Panduan Praktis | 37
F Pemantauan Evaluasi, dan Pelaporan
Pelaksanaan PAUD-HI
Pemantauan dan evaluasi berkelanjutan pada pelaksanaan
PAUD-HI dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi bekerja sama dengan kementerian dan
lembaga terkait. Di tingkat daerah, dinas pendidikan dan
organisasi pemerintah daerah lainnya juga melakukan hal
yang sama. Pemantauan dan evaluasi ini dilakukan untuk
memastikan program dan kegiatan yang direncanakan
bisa mengarah pada pemenuhan kebutuhan esensial anak.

Jika dalam proses pelaksanaan PAUD-HI ditemukan sejumlah


masalah, pengelola satuan PAUD sebaiknya tidak perlu
segan untuk menyampaikannya kepada mereka yang
bertugas memantau dan mengevaluasi. Kedatangan mereka
bisa menjadi kesempatan bagi PTK satuan PAUD untuk
meminta saran dan dukungan lebih lanjut jika diperlukan.

Selain itu, PTK PAUD juga bisa menyampaikan informasi


tentang praktik-praktik baik kepada pemantau. Diharapkan
pemantau bisa menyebarluaskan praktik-praktik baik
tersebut sehingga bisa menginspirasi satuan PAUD lainnya.

Sementara itu untuk pelaporan, satuan PAUD perlu menyampaikan


berbagai program dan kegiatan yang telah dilakukan dalam bentuk
yang sederhana namun informatif. Laporan dalam bentuk tabel
seperti pada Lampiran 2 bisa menjadi contoh pelaporan yang bisa
diadaptasi oleh satuan PAUD. Isi dari kegiatan atau program di dalam
tabel antar satuan PAUD akan berbeda-beda tergantung pada situasi,
kondisi, dan upaya masing-masing.

Laporan ditandatangani oleh kepada satuan PAUD dan diserahkan


kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.

Lampiran 2 ada di halaman 56

Panduan Paktis | 38
Panduan Praktis | 39
Panduan Paktis | 40
Panduan Praktis | 41
Penutup
Panduan Praktis Pelaksanaan Pengembangan Anak Usia Dini
Holistik dan Integratif di Satuan PAUD ini diharapkan dapat
memberikan gambaran yang operasional tentang beragam cara
dalam memenuhi kebutuhan esensial anak.
Pemangku kepentingan di lembaga pemerintah baik pusat
maupun daerah serta masyarakat, baik individu, komunitas,
maupun yang berupa organisasi formal, juga bisa memanfaatkan
Panduan Praktis ini untuk mendapatkan gambaran terkait dengan
berbagai kemungkinan keterlibatan mereka dalam PAUD-HI di
tingkat operasional terutama di satuan PAUD.
Panduan Praktis ini tidak bersifat kaku. Satuan PAUD bisa
merujuknya dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang
ada. Panduan Praktis ini dipandang bermanfaat jika terdapat
peningkatan dari waktu ke waktu dalam upaya pemenuhan
kebutuhan esensial anak. Panduan Praktis ini juga dipandang
berhasil ketika satuan PAUD mampu bekerja sama dengan pihak-
pihak yang relevan dalam memenuhi kebutuhan esensial anak.

Panduan Paktis | 42
Panduan Praktis | 43
Lampiran 1
Peran Satuan PAUD, Organisai Pemerintah dan
Masyarakat serta Individu dalam Pelaksanaan PAUD-
HI
1. Satuan PAUD
a. Menyusun program yang mengintegrasikan upaya pemenuhan
layanan PAUD-HI didalam dokumen-dokumen perencanaan
kegiatan satuan PAUD
b. Menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan
mengintegrasikan aspek-aspek pemenuhan kebutuhan esensial
anak yang menjadi fokus PAUD-HI;

Contoh pengintegrasikan PAUD-HI dalam KTSP


Menjadi salah satu misi:
• Mengupayakan pemulihan kebutuhan esensial anak melalui
kerja sama dengan pihak-pihak terkait

Salah satu tema dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Mingguan (RPPM)
• Tema tentang tanaman dengan sub tema tanaman sayur dan
buah dan puncak tema memasak dan makan bersama satu
atau beberapa jenis sayuran dan buah-buahan yang mudah
ditemui di sekitar sekolah.

c. Melaksanakan KTSP melalui pembelajaran yang sesuai dengan


prinsip-prinsip pembelajaran PAUD;

Beberapa prinsip pembelajaran PAUD


1. Belajar melalui permainan
2. Orientasi pada perkembangan anak
3. Aktivitas sesuai dengan kebutuhan anak
4. Pemanfaatan media dan sumber belajar serta narasumber
lokal

d. Bekerja sama dengan orang tua dalam mendampingi proses


pembelajaran di rumah, apalagi pada masa pandemi Covid-19 yang
memaksa anak untuk belajar di rumah saja;
e. Melakukan evaluasi hasil belajar anak;
f. Bersama orang tua melakukan stimulasi ekstra atau remedial jika
anak belum mampu melakukan hal-hal yang seharusnya sudah
dia kuasai di usianya (ini terutama untuk hal -hal yang memerlukan

Panduan Paktis | 44
penguasaan seperti pada pengenalan numerasi dan literasi);
g. Bersama orang tua melakukan stimulasi ekstra pada hal-hal yang
diminati anak sebagai upaya menemukan bakat anak sejak dini;
h. Meningkatkan kapasitas orang tua melalui kelas orang tua yang
diselenggarakan bersama dengan paguyuban orang tua/POMG/
Komite PAUD;
i. Mengidentifikasi dan mendata lembaga-lembaga, komunitas, atau
individu yang dapat mendukung upaya pemenuhan kebutuhan
esensial anak.
j. Bekerja sama dengan lembaga-lembaga atau individu yang
berwenang atau yang mempunyai kemampuan memenuhi
kebutuhan esensial anak seperti Posyandu, BKB, Puspaga, Pusat
Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A),
Puskesmas, psikolog, pendongeng, dan terapis;

• Narasumber kelas orang tua


• Narasumber kelas inspirasi
• Membantu anak korban kekerasan
• Terapi untuk anak berkebutuhan khusus

k. Meningkatkan kapasitas dan memperluas jejaring pendidikan dan


tenaga kependidikan dengan bergabung dalam organisasi profesi
seperti IGTKI atau HIMPAUDI, serta aktif di Pusat Kegiatan Gugus (PKG
dan Kelompk Guru (KKG) PAUD;
l. Mengomunikasikan program PAUD-HI, termasuk meminta bantuan
jika diperlukan, kepada Penilik PAUD atau Pengawas TK;
m. Mengevaluasi layanan PAUD-HI di satuan PAUD;dan
n. Melaporkan pelaksanaan PAUD-HI di satuan PAUD kepada Dinas
Pendidikan melalui Penilik PAUD/Pengawas TK dan Pihak lain yang
memerlukan;

Panduan Praktis | 45
2. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
1. Membina satuan PAUD untuk peningkatan akses dan
kualitas layanan pendidikan anak usia dini melalui
upaya pemenuhan kebutuhan esensial anak;
2. Melakukan sosialisasi mengenai PAUD-HI serta peran
satuan PAUD di dalamnya;
3. Membangun kemitraan atau kerja sama dengan
organisasi perangkat daerah (OPD) gugus tugas
dan lainnya, Bunda PAUD, organisasi profesi (misal,
Himpaudi dan IGTKI) yang mempunyai program
terkait dengan pemenuhan kebutuhan esensial anak
usia dini;
4. Meningkatkan kerja sama dengan masyarakat atau
civil society organization (CSO) untuk membantu
pemenuhan kebutuhan esensial anak, misalnya
melalui program corporate social responsibility (CSR)
di satuan PAUD;
5. Mendorong satuan PAUD bermitra dengan dengan
pihak-pihak yang berperan dalam pemenuhan
kebutuhan esensial anak seperti orang tua, OPD dan
unit-unit pelaksana teknisnya, orang tua, perangkat
desa, dan CSO ;dan
6. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
PAUD-HI di satuan PAUD di wilayahnya.

3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota


1. Mendorong satuan pendidikan melakukan Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) baik untuk pendidikan dan
pelayanan kesehatan maupun lingkungan sekolah
yang sehat;
2. Membantu satuan PAUD mengintegrasikan pelayanan
kesehatan dan gizi oleh Puskesmas, Posyandu, atau
lembaga sejenis ke dalam program satuan PAUD;
3. Melakukan sosialisasi tentang pembiasaan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada pendidik dan
tenaga kependidikan, anak-anak usia dini (melalui
kelas inspirasi), dan orang tua (melalui kelas orang
tua);
4. Mendorong orang tua untuk mencegah stunting,
misalnya melalui kelas orang tua;
5. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
PAUD-HI di satuan PAUD untuk komponen layanan
Kesehatan dan gizi.
Panduan Paktis | 46
4. Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Kabupaten/Kota
1. Melakukan sosialisasi tentang pentingnya Akta
Kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA) dan tata cara
mendapatkannya;
2. Mendorong satuan PAUD untuk menghubungkan
orang tua yang anaknya belum memiliki Akta
Kelahiran dan KIA dengan dinas dukcapil;
3. Memroses penerbitan Akta Kelahiran dan KIA yang
diajukan melalui satuan PAUD;
4. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
PAUD-HI di satuan PAUD untuk komponen
perlindungan anak, khususnya kepemilikan Akta
Kelahiran dan KIA.

5. Dinas Sosial Kabupaten Kota


1. Melakukan sosialisasi terkait layanan sosial untuk anak-anak yang
memerlukan, misalnya yang berasal dari keluarga prasejahtera,
yang memiliki disabilitas berat, terlantar, dan/atau yang
mengalami kekerasan;
2. Memberikan dukungan untuk anak penyandang masalah
kesejahteraan sosial (PMKS) misalnya anak terlantar, dari keluarga
pra sejahtera, anak dengan disabilitas berat, kelompok minoritas,
yang terisolasi, dan/atau mengalami kekerasan;
3. Mendorong satuan PAUD untuk bekerja sama dengan Lembaga
Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), yang mempunyai program
seperti Temu Penguatan Kapasitas untuk Anak dan Keluarga
(TEPAK) dan dengan Taman Anak Sejahtera (TAS) dengan
program perlindungan anak;
4. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PAUD-HI di
satuan PAUD khususnya untuk kelompok anak yang memerlukan
layanan sosial.

Panduan Praktis | 47
6. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan
Pelindungan Anak, Pengendalian
Penduduk dan Keluarga Berencana
1. Melakukan sosialisasi terkait layanan yang bisa diakses untuk
peningkatan kapasitas pengasuhan dan perlindungan anak;
2. Mendorong satuan PAUD yang mempunyai anak korban
kekerasan untuk mengakses layanan dari lembaga-lembaga
pengasuhan dan perlindungan anak misalnya melalui Pusat
Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Bina Keluarga Balita (BKB),
Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak
(P2TP2A), Unit Pelayanan Teknis Perlindungan Perempuan
dan Anak (UPTD PPA), dan Lembaga Perlindungan Saksi dan
Korban (LPSK);
3. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PAUD-
HI di satuan PAUD khususnya untuk kelompok anak yang
memerlukan layanan perlindungan.

7. Pemerintah Kecamatan dan Desa


Camat, lurah, dan kepala desa beserta aparatnya
mempunyai peran yang sangat penting untuk menggerakkan
dan menfasilitasi masyarakat sehingga kebijakan dan program-
program layanan yang sudah ditetapkan, terutama yang terkait
dengan pemenuhan kebutuhan esensial anak, bisa mencapai
sasaran.
Untuk sampai ke sasaran banyak pihak yang terlibat
termasuk kader-kader dan pendamping seperti Bunda PAUD,
kader PKK, PAUD, BKB, dan pendamping PKH. Selain itu,
ada Kader Pembangunan Manusia/KPM yang ditunjuk untuk
membantu menurunkan angka stunting.

Panduan Paktis | 48
Panduan Praktis | 49
8. Bunda PAUD
Bunda PAUD ada dari tingkat nasional, provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan, sampai tingkat desa. Bunda PAUD
yang biasanya adalah istri pejabat tertinggi di suatu wilayah,
mempunyai peran yang sangat penting untuk menggerakkan
para perempuan di wilayahnya bukan PAUD melainkan untuk
berbagai bidang lain. Terkait dengan pemenuhan kebutuhan
esensial anak yang menjadi fokus PAUD-HI, Bunda PAUD bisa
menggerakkan pokja bunda PAUD, kader PKK, Posyandu,
PAUD, dan BKB.

Panduan Paktis | 50
Selain ke-8 lembaga ini, ada banyak lembaga lain yang bisa
menjadi bagian dari PAUD-HI yang dilaksanakan di satuan
PAUD. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

9. Kepolisian Resor (Polres) dan Kepolisian


Sektor (Polsek)

1. Melakukan sosialisasi tentang layanan yang bisa diakses satuan


PAUD terutama yang terkait dengan pelindungan perempuan
dan anak (di setiap Polres ada Unit Pelayanan Perempuan dan
Anak (Unit PPA);
2. Melaksanakan program Polisi Sahabat Anak di satuan PAUD;
3. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PAUD-HI di
satuan PAUD khususnya untuk kelompok anak yang memerlukan
layanan pelindungan.

Panduan Praktis | 51
10. Badan Narkotika Nasional (BNN)
dan Badan Pengendalian Obat dan
Makanan (BPOM)
Kerja sama dengan BNN dan BPOM bisa dijalin untuk
memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak di
kantin, di rumah, dan yang dijual oleh pedagang di sekitar sekolah
tidak mengandung unsur-unsur yang membahayakan, termasuk
narkoba. Ini bisa dilakukan melalui pelatihan untuk pendidik dan
tenaga kependidikan, serta pedagang makanan di sekitar sekolah.
Pejabat BNN dan BPOM bisa menjadi narasumber pada kelas
inspirasi dan kelas orang tua.

BPOM dan BNN bisa juga memberikan info-info yang disajikan


menarik untuk menjadi bahan ajar anak dalam bentuk video, leaflet,
booklet, atau bentuk lainnya yang dikirim ke satuan PAUD.

11. Badan Penanggulangan Bencana Daerah


(BPBD) dan Pemadam Kebakaran
Keterlibatan BPBD di satuan PAUD sangat penting sebagai
upaya pelindungan anak dari bencana yang mungkin terjadi baik
bencana alam, seperti banjir, kebakaran, dan gempa, dan non-alam
seperti pandemi Covid-19. Ini sejalan dengan program yang sudah
dicanangkan tentang pengurangan risiko bencana.

12. Organisasi Mitra


Organisasi seperti HIMPAUDI, IGTKI, IGRA, perguuan tinggi,
dan organisasi keagamaan serta sosial bisa berperan sebagai
pendamping, pembina, dan mitra satuan PAUD. Organisasi-
organisasi ini bisa berperan sebagai fasilitator untuk berbagi praktik
baik dan pengalaman dalam pelaksanaan PAUD-HI.

13. Tokoh Masyarakat


Tokoh masyarakat merupakan individu yang mempunyai
pengaruh kepada masyarakat untuk membantu mendukung
pemenuhan kebutuhan esensial anak. Tokoh ini bisa diisi oleh tokoh
adat, tokoh agama, tokoh politik, olahraga, dll.

Panduan Paktis | 52
14. Orang Tua
Peran orang tua sangat besar dalam pemenuhan kebutuhan
esensial anak karena mereka adalah pendidik yang pertama dan
utama. Berbagai program yang dilaksanakan di satuan PAUD untuk
mendukung tumbuh kembang anak tidak akan optimal jika ketika di
rumah anak menerima pengasuhan yang tidak tepat. Peningkatan
kemampuan mengasuh bisa difasilitasi satuan PAUD melalui kelas
orang tua yang bisa dilaksanakan secara rutin dengan beragam tema.

Orang tua bisa juga punya peran untuk membantu pelaksanaan


PAUD-HI dengan terlibat dalam beberapa kegiatan di satuan PAUD.
Sebagai contoh, orang tua yang mempunyai ilmu tentang pengasuhan
bisa sebagai narasumber pada kelas orang tua. Orang tua dengan
profesi atau hobi tertentu bisa langsung berinteraksi dengan anak
melalui kelas inspirasi dan menyampaikan pesan-pesan, misalnya
yang terkait dengan kesehatan, pelindungan, dan pengayaan dari
tema yang diberikan dalam pembelajaran.

Panduan Praktis | 53
15. Pemengaruh (Influencer)
Influencer adalah orang yang mempunyai
pengaruh untuk menyebarkan ide-ide tertentu.
Influencer mempunyai jumlah pengikut atau teman
yang banyak untuk melihat apa saja yang disebarkan
melalui media sosial. Diharapkan dengan melibatkan
influencer untuk menyebarkan ide dan praktik baik
terkait dengan PAUD-HI akan menjangkau berbagai
kalangan yang tidak akan terjangkau jika kita
menggunakan cara penyebaran yang konvensional.

Di satuan PAUD, influencer bisa saja orang tua,


guru atau anggota masyarakat lainnya yang sering
mendokumentasikan dan membagikannya melalui
media sosial.

Panduan Paktis | 54
Selain ke-15 lembaga-lembaga atau individu, satuan PAUD
bisa melibatkan pihak-pihak lainnya yang bisa membantu
pemenuhan kebutuhan anak dan peningkatan kualitas PAUD.

16. Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI)


Keberadaan DUDI bisa untuk memperkaya pemahaman
anak atas materi pembelajaran tertentu. Sebagai contoh, anak
bisa berkunjung ke pedagang ikan hias atau yang dikonsumsi
sehingga secara langsung bisa melihat, memegang, dan
menghidu beragam jenis ikan.

Pekerja atau pemilik DUDI juga bisa diundang ke satuan


PAUD untuk bercerita tentang profesinya dan apa yang harus
dilakukan agar bisa sukses seperti mereka (penanaman nilai
karakter seperti kerja keras, disiplin, mandiri). Keterlibatan
DUDI bisa juga melalui program sosial (Corporate Sosial
Responsibility – CSR) mereka. Ini bisa dilakukan jika program
mereka sesuai dengan misi satuan PAUD dalam mendukung
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan esensial anak, misalnya
pemberian makanan tambahan, membiayai seminar untuk
orang tua dan PTK, dan Perbaikan fasilitas Satuan PAUD.

Panduan Praktis | 55
Lampiran 2
CONTOH
LAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN PAUDHI
Satuan PAUD Ceria Cemerlang
Tahun Ajaran 2021/2022

Program/Kegiatan Pihak yang dilibatkan Peserta Waktu Keterangan

Pendidikan Narsum: kepala satuan PAUD Orang tua peserta 15 Juli 2021 Tujuan kegiatan ini untuk
keluarga (kelas didik mendorong keterlibatan orang
untuk orang tua) tua dalam pendidikan anak
di sekolah dan di rumah. Di
sekolah, misalnya, peserta
mengikuti kelas orang tua
dan kelas inspirasi untuk
memperkaya pemahaman
tentang beragam profesi dan
penanaman nilai-nilai karakter
pada anak.

Di rumah orang tua diharapkan


melakukan pengasuhan yang
positif.

Narsum: Bpk. Aria (pegiat Orang tua peserta 20 Juli 2021 Tema: Pengasuhan positif
pendidikan keluarga) didik

Narsum: Dr. Dita Orang tua peserta 1 September Tema: Pencegahan stunting
(Puskesmas) didik dan orang tua di 2021
Bunda PAUD Desa, Kader sekitar sekolah
BKB dan Posyandu
Narsum: Anik (P2TP2A) Orang tua peserta 10 Januari Tema: Memberi dukungan
Kader BKB didik dan orang tua 2022 psikologis untuk anak korban
lain kekerasan
Narsum: Sita (Dosen PAUD) Orang tua peserta Maret 2021 ‘Pendidikan seks’ untuk anak
didik dan orang tua usia dini
lain

Satuan PAUD - 1 Juni 2021 Menyepakati jenis dan jadwal


Bunda PAUD kecamatan/
desa kegiatan;
Pengurus Posyandu
Memastikan orang tua punya
Kepala Puskesmas
buku KIA dan KMS untuk

anaknya.
Koordinasi Kader Posyandu Peserta didik satuan Sebulan Pengukuran tinggi dan berat

dengan posyandu PAUD sekali badan serta lingkar kepala

dan puskesmas Pemberian makanan tambahan

Melakukan Puskesmas dan Posyandu Anak peserta Agustus 2021 Pemberian Vitamin A

pemeriksaan didik dan warga di dan Februari

kesehatan, seperti lingkungan satuan 2022

pengukuran PAUD

tinggi badan,

berat badan, dan

lingkar kepala

Panduan Paktis | 56
Program/Kegiatan Pihak yang dilibatkan Peserta Waktu Keterangan

Melakukan Puskesmas dan Posyandu Anak peserta Agustus 2021 Pemberian obat cacing

intervensi Kader BKB, Posyandu didik dan warga di

kesehatan Psikolog (orang tua anak) lingkungan satuan

PAUD

Orang tua peserta Oktober Memastikan orang tua paham

didik PAUD dan tentang KMS dan buku KIA (mis.

warga desa Isi data imunisasi)

Puskesmas dan Dinas Orang tua, anak, Maret 2022 Mengikuti lomba UKS

Kesehatan kader Posyandu

Melakukan deteksi Membayar tukang (bisa juga - Agustus Guru dan anak memanfaatkan

dini tumbuh orang tua /warga kerja bakti) dan menjaga kebersihan sarana

kembang sanitasi yang ada

Memperbaiki Orang tua anak setiap hari Mengirim pesan-pesan singkat

sanitasi (mis. WC ke orang tua untuk mendorong

dan tempat cuci PHBS di rumah

tangan)

Membiasakan Pendidik dan tenaga Anak Setiap hari Anak dilatih menggunakan

anak hidup bersih kependidikan toilet

Pendidik dan tenaga


Anak Setiap hari Anak membersihkan kelas dan
kependidikan
tempat main
BPOM/Puskesmas (narsum)
Anak Setiap hari Anak mencuci gelas dan
Kepala desa
piringnya sendiri
Orang tua 15 November Narsum memberi pemahaman

Pengelola kantin 2021 tentang bahaya makanan yang

Pedagang makanan tidak sehat. Kepdes meminta

di sekitar sekolah para pedagang hanya menjual

makanan sehat.

Kantin hanya menyediakan

makanan sehat.

Orang tua memberi bekal di

sekolah dan menyediakan

makanan sehat di rumah.

Panduan Praktis | 57
Program/Kegiatan Pihak yang dilibatkan Peserta Waktu Keterangan

Membiasakan Orang tua atau kader Anak Sesuai Memasak makanan sehat yang
konsumsi Posyandu atau PKK jadwal menarik dan makan Bersama
makanan dan
minuman yang
sehat Dinas Dukcapil Orang tua Identifikasi Menghubungkan orang
Kepala desa/lurah pada saat tua yang anaknya belum
pendaftaran mempunyai ankta kelahiran dan
anak (Mei) KIA dengan Dinas Dukcapil
Membantu Pendidik Anak November Secara khusus diajarkan pada
pemenuhan gizi 2021
anak dari keluarga pembelajaran dengan tema
miskin
tertentu, misalnya makanan.

Orang tua (membacakan Setiap hari Anak didorong berbagi bekal

buku atau mendongeng) makanan dari rumah terutama

dengan anak dari keluarga

miskin.

Orang tua Pemuka agama Orang tua Kelas orang tua dengan
tema tentang pentingnya
bersedekah/berbagi.

Pengelola satuan PAUD


bersepakat dengan orang
tua anak lain untuk bersama-
sama membantu memenuhi
beberapa kebutuhan anak dari
keluarga miskin. .
Membangun Polisi Anak Februari Melalui Kelas Inspirasi, kepada
kemampuan anak Pegiat keluarga/psikolog 2022 anak ditanamkan keterampilan
untuk melindungi untuk merespons perlakuan
diri sendiri yang membuat mereka merasa
tidak nyaman.
Orang tua Februari Kelas orang tua: Mendisiplinkan
2022 anak tanpa kekerasan dan
melindungi anak dari kekerasan,
termasuk kekerasan seksual

Kota, tanggal…

Stempel dan tanda tangan

Nama kepala/pengelola satuan PAUD

Panduan Paktis | 58
Lampiran 3

Unsur-unsur Kinerja Layanan PAUD-HI di Satuan PAUD

Ragam layanan PAUD-HI yang dapat


Unsur-unsur Kinerja Layanan PAUD-HI dilakukan satuan PAUD dan
di satuan PAUD dimaknai sebagai keragaman pilihan
(dipantau di dalam Renstra (tidak terbatas, tidak preskriptif dan
sebagai Indikator Kinerja dapat disesuaikan sesuai dengan
Direktorat PAUD)
konteks, ragam kapasitas, sumber daya,
kondisi, karakteristik dan kebutuhannya
satuan dan daerahnya)

1. Melaksanakan program pendidikan 1. Lingkungan yang menyediakan


keluarga (kelas orang tua) berbagi makanan sehat (kantin sehat, bekal
materi untuk mewujudkan makanan sehat, dll);
kesinambungan nilai pendidikan di 2. Integrasi dengan Program Pelayanan
satuan dan di rumah dan/atau materi Kesehatan dan Gizi (Posyandu,
terkait pemenuhan kebutuhan esensial Puskesmas dan sejenis);
anak usia dini;
3. Mengecek kelengkapan Imunisasi
2. Melakukan pemeriksaan kesehatan
seperti pengukuran tinggi badan dan
dalam buku KIA setiap anak
berat badan; 4. Memastikan anak mendapatkan
3. Melakukan deteksi dini tumbuh vitamin A;
kembang anak; 5. Memastikan anak mendapatkan obat
4. Koordinasi DTTK dengan pihak terkait; cacing;
5. Koodinasi Posyandu dengan 6. Mengecek kepemilikan akta
puskesmas; kelahiran bekerja sama dengan dinas
6. Memiliki fasilitas sanitasi (instalasi air, kependudukan dan pencatatan sipil
jamban/toilet, fasilitas cuci tangan); (Dukcapil) kabupaten/kota;
7. Menerapkan Program Hidup Bersih 7. Menjaga kesehatan fisik anak usia
dan Sehat (PHBS);
dini (integrasi dari pembelajaran di
8. Melaksanakan program makanan
tambahan; dan
PAUD);
9. Memantau kepemilikan akta lahir/NIK 8. Menjaga kesejahteraan psikologis
anak usia dini, mencakup
kesejahteraan psikososial anak;
9. dan lain-lain

Panduan Praktis | 59
Narahubung

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
Kompleks Perkantoran Kemdikbud, Gedung E, Lantai 7
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat 10270
Telepon. (021) 5703151, laman: www.paud.kemdikbud.go.id

Informasi lebih lanjut tentang PAUD-HI


dapat diperoleh pada laman:

www.anggunpaud.kemdikbud.go.id
www.paudpedia.kemdikbud.go.id