Anda di halaman 1dari 7

PENYAKIT TB PARU

DOSEN PENGAMPU:
IBU Ns. DEBBY NOMIKO, M.Kep

OLEH :

MAHASISWA

1. Daryono
2. Yunita
3. Juliana

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN JAMBI JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ALIH JENJANG DIV KEPERAWATAN

TAHUN 2020
BABI
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
mikrotuberkulosis yang dapat menular melalui percikan dahak. Tuberkulosis bukan penyakit
keturunan dan dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur, diawasi oleh Pengawasan
Minum Obat (PMO). Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB, dimana sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi bisa juga organ
tubuh lainnya (Kemenkes RI, 2017).
Gejala awal penyakit tuberkulosis paru tidak spesifik,umumnya adalah batuk
produktif yang berkepanjangan (> 3 minggu), sesak nafas, nyeri dada, kurang darah
(anemia), batuk darah, rasa lelah, berkeringat malam hari. TB mudah menular melalui udara
yang tercemar oleh bakteri mycrobacterium tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita
TB paru batuk dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TB paru
dewasa, pemeriksaan BTA dilakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali yg dikenal SPS
(Sewaktu Pagi Sewaktu) dengan hasil pemeriksaan jika BTA 3 kali positif, 2kali positif, 1
kali negatif BTA dikatakan BTA Positif penderita menderita TB Paru (Kemenkes RI, 2017).
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit penyebab kematian terbanyak ketiga setelah HIV
di urutan kedua (Mazna, 2014).Penyakit tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah
kesehatan dunia di mana Badan Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO)
melaporkan bahwa 0,5% dari penduduk dunia terserang penyakit ini, sebagian besar berada
di negara berkembang. Tuberkulosis masih menjadi permasalahan utama kesehatan
masyarakat, selain mempengaruhi produktivitas kerja masyarakat, juga merupakan penyebab
kematian (Nizar, 2017).
Data Profil Kesehatan Indonesia (2016) melaporkan bahwa tuberkulosis
merupakan penyakit yang menjadi perhatian global, sesuai dengan tujuan pembangunan
berkelanjutan tahun 2030. WHO menargetkan untuk menurunkan kematian akibat
tuberkulosis sebesar 90% dan menurunkan insidens sebesar 80% pada tahun 2030
dibandingkan dengan tahun 2014. Kasus baru TB paru pada tahun 2015 diperkirakan
sebanyak 10,4 juta kasus baru tuberkulosis atau 142 kasus per 100.000 populasi. (Kemenkes
RI, 2017).
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus baru TB terbanyak ke-2 di dunia
setelah India. Sebesar 60% kasus baru TB terjadi di 6 negara yaitu India, Indonesia, China,
Nigeria, Pakistan, dan Afrika Selatan. Kematian akibat tuberkulosis diperkirakan sebanyak
1,4 juta kematian ditambah 0,4 juta kematian akibat tuberkulosis pada orang HIV. Meskipun
jumlah kematian akibat tuberkulosis menurun 22% antara tahun 2000 dan 2015, tuberkulosis
tetap menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia pada tahun 2015 (Profil Kesehatan
Indonesia, 2016).
Masalah utama pada pasien TB adalah rendahnya pengetahuan tentang pengobatan
dan penanganan TB. Untuk meningkatkan pengetahuan perlu upaya pendidikan kesehatan
dalam bentuk penyuluhan agar pengetahuan meningkat. Pendidikan kesehatan adalah suatu
kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau
individu. Disamping biaya per kapita yang relatif tinggi dibandingkan dengan media masa
(Erawatiningsih, 2009). berdasarkan penelitian Ummami (2012) dapat ditarik kesimpulan
ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang tuberculosis paru terhadap peningkatan
pengetahuan dan sikap penderita dalam pencegahan penularan tuberculosis di Puskesmas
Simo Kabupaten Boyolali.
Kepatuhan pasien dalam minum obat merupakan faktor penting dalam keberhasilan
suatu pengobatan. Pengobatan TB paru yang lama sering membuat pasien bosan dan
menimbulkan ketidakpatuhan pasien dalam minum obat. Permasalahan kepatuhan pasien
penyakit TB paru di pengaruhi banyak faktor, yaitu faktor obat, faktor sistem kesehatan,
faktor lingkungan, faktor sosial ekonomi, dan faktor pasien. Dukungan keluarga dan
pengetahuan pasien terhadap penyakit tuberkulosis, obat anti tuberkulosis, dan keyakinan
terhadap efikasi obatnya akan mempengaruhi keputusan pasien untuk menyelesaikan
terapinya atau tidak (Siswanto, 2012).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi TB Paru


Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
tuberkulosis(mycobacterium tuberculosis), sebagian besar kuman tuberkulosis menyerang
paru,tetapi juga mengenai organ tubuh lainnya (Kemenkes RI, 2011).Tuberkulosis
merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri mycobakterium tuberculosis (dan
kadang-kadang oleh mycobacterium bovis dan mycobacterium africanum). Organisme ini
di sebut pula sebagai basil tahan asam (Wibisono, 2010).
2.2 Etiologi
Penyebab penyakit tuberkulosis adalah bakteri mycobacterium tuberculosis dan
mycobacterium bovis. Kuman tersebut mempunyai ukuran 0,5-4 mikron x 0.3-0.6 mikron
dengan bentuk batang tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak mempunyai
selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid (terutama asam
mikolat). Bakteri ini mempunyai sifat istimewa, yaitu dapat bertahan terhadap pencucian
warna dengan asam dan alkohol, sehingga sering disebut Basil Tahan Asam (BTA), serta
tahan terhadap zat kimia dan fisik, kuman tuberkulosis juga tahan dalam keadaan kerin
dan dingin bersifat droman dan aerob. Bakteri ini bisa tahan selama 1-2 jam di udara
terutama di tempat yang lembab dan gelap (bisa berbulan-bulan), namun tidak tahan
terhadap sinar atau aliran udara (Widoyono,2011).Penyebab infeksi adalah
kompleksmycobacterium tuberculosis, kompleks ini termasuk mycobacteium
tuberculosis dan mycobacterium africanum terutama berasal dari sapi (Kunoli, 2013).

2.3 Patofisiologi
Sumber penularan berasal dari penderita tuberkulosis Basil Tahan Asam (BTA)
positif pada saat batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk
droplet atau percikan dahak. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan
dahak.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan di mana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama.Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,sementara sinar matahari
langsung dapat membunuh kuman.Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam
keadaan yang gelap dan lembab.Daya penularan seseorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak,makin menular penderita tersebut (Kemenkes RI,2011).
Penyakit tuberkulosis yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis
ditularkan melalui udara (droplet nuclei) saat seorang pasien TBC batuk dan percikan
ludah yang mengandung bakteri tersebut terhirup oleh orang lain saat bernafas. Bila
penderita batuk, bersin, atau berbicara saat berhadapan dengan orang lain, basil
tuberculosis dapat dan terhisap kedalam paru orang sehat. Maka inkubasinya selama 3-6
bulan. Resiko terinfeksi berhubungan dengan lama dan kualitas paparan dengan sumber
infeksi dan tidak berhubungan dengan faktor genetik dan faktorr penjamu lainnya. Resiko
tertinggi berkembangnya penyakit yaitu pada anak berusia dibawah 3 tahun, resiko
rendah pada masa kanak-kanak, dan meningkat lagi pada masa remaja, dewasa muda,dan
usia lanjut. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan dan bisa menyebar
kebagian tubuh melalui peredaran darah, pembuluh limfe, atau langsung keorgan terdekat
(Widoyono, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T.Y. (2010). Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Edisi kedua. Jakarta: UI Press.

Dinkes Provinsi Jambi, 2016. Profil kesehatan tahun 2015. Jambi

Doenges, Marilynn E.dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III.Alih Bahasa: I Made
Kriasa.EGC.Jakarta

Erawatiningsih, E.dkk. (2009). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan Berobat


Pada Penderita Tuberculosis Paru. Berita Kedokteran Masyarakat, 25, 117-124

Induniasih & Ratna, 2017. Promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dalam keperawatan.
Yogyakarta: Pustaka baru Press

Kementerian Kesehatan RI. (2016). Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta

Kementerian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis 2014.


Jakarta: Kementrian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan

Kunoli, firdaus J. 2013. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. CV. Trans Info Media.
Jakarta

Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika

Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Jakarta:
Salemba Medika

Nizar, M. (2017). Pemberantasan dan Penanggulangan Tuberkulosis. Yogyakarta: Gosyen


Publising

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Siswanto I (2013).Hubungan antara pengetahuan pasien tb paru dan dukungan keluarga dengan
kepatuhan minum obat anti tuberkulosis di puskesmas andalas kota padang.Skripsi. FK
UNAND. Padang

Widoyono. Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya.


Jakarta: Erlangga
Wibisono, W. S. (2010). Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Departemen Ilmu penyakit
paru FK UNAIR

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Edisi ke 2. Jakarta: Erlangga

Setiawan, R. 2016. Teori & Praktik Keperawatan Keluarga. Semarang: Unnes Press

Wilkonson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Dialih bahasakan oleh
Widyawati. Jakarta : EGC