Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya
alam yang melimpah, namun pada saat ini belum mampu mengelolanya secara
efektif dan efesien seingga Indonesia masih tertinggal dari cepatnya laju
pembangunan global. Untuk itu diperlukannya aktor pembangunan yang handal
yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki integritas, profesional, bebas
dari intervensi politik, bersih dari tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Mengingat peran Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang cukup dominan yaitu
mulai dari merumuskan kebijakan sampai pada implementasi kebijakan maka,
diperlukan sosok PNS yang profesional yaitu PNS yang mampu memenuhi
standar kompetensi jabatannya seingga mampu melaksanakan tugas jabatannya
secara efektif dan efesien. Untuk membentuk sosok PNS tersebut, perlu
dilaksanakan pembinaan melalui jalur pelatihan. Selama ini pelatihan
pembentukan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dilakukan melalui Pendidikan
dan Pelatihan Prajabatan (Diklat Prajabatan), dimana praktik penyelenggaraan
Pelatihan yang pembelajarannya didominasi oleh ceramah yang dianggap sulit
membentuk karakter PNS yang kuat dan profesional.
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas ASN adalah dengan
mengadakan pendidikan dan pelatihan, sebagaimana yang telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan
Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam peraturan tersebut ditetapkan bahwa
salah satu jenis diklat yang strategis untuk mewujudkan ASN agar menjadi ASN
yang profesional adalah Diklat Prajabatan. Diklat ini bertujuan untuk membentuk
nilai-nilai dasar profesi PNS agar dapat melaksanakan fungsi dan perannya
sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik dan perekat serta pemersatu
bangsa. Nilai-nilai dasar profesi PNS tersebut yang biasa dikenal dengan
ANEKA, yang merupakan singkatan dari Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika
publik, Komitmen mutu dan Anti korupsi, sehingga ASN dapat memiliki kinerja

1
yang berkompeten untuk menuju ASN kelas dunia. Pada pola pendidikan yang
baru dimana Diklat Prajabatan berganti nama menjadi Pelatihan Dasar, selain
nilai-nilai dasar ANEKA juga terdapat materi mengenai peran dan kedudukan
PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dikaitkan dengan
penerapan niai-nilai ANEKA yaitu Manajemen ASN, Whole of Government dan
Pelayan Publik.
Berdasarkan hal tersebut, Diklat Pelatihan Pra jabatan berguna untuk
membentuk kemampuan bersikap dan bertindak secara profesional dalam
mengelola tantangan dan keragaman sosial kultural dengan menggunakan
perspektif whole of government yang didasari oleh nilai-nilai dasar PNS
berdasarkan peran dan kedudukan PNS dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) dalam menjalankan tugas jabatannya sebagai pelayan
masyarakat.
Selain itu, untuk mengindetifikasi berbagai isu masalah yang ada di UPT
penulis berpedoman pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun
1995 Tentang Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan
Pemasyarakatan, Permenkumham Nomor 6 Tahun 2013 tentang tata tertib
lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan sebagai acuan untuk
mengaktulisasikan nilai-nilai dasar ASN.

B. Maksud dan Tujuan


Aktualisasi nilai dasar ASN dilakukan untuk membentuk ASN yang
berkarakter yang terbentuk oleh sikap dan prilaku disiplin ASN, nilai-nilai dasar
ASN dan Pengetahuan tentang kedudukan dan peran ASN dalam NKRI serta
menguasai bidang tugasnya sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya
secara profesional sebagai pelayan masyarakat.
Sedangkan aktualisasi ini bertujuan untuk menerapkan nilai-nilai dasar ASN
sesuai dengan ANEKA dalam menjalankan tugas sebagai abdi masyarakat.

2
C. Gambaran Umum Instansi
1. Sejarah Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru
Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Pekanbaru yang
beralamat di Jl. Bindanak No.1 merupakan salah satu satuan kerja yang berada
dilingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Riau. Dengan
Eselon I Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan instansi Kementerian Hukum
dan HAM RI. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Pekanbaru
dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia Nomor M.HH-10.OT.01.01 Tahun 2016 Tanggal 15 Juli 2016
tentang Pembentukan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Pekanbaru,
Jakarta, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Martapura, Denpasar, Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Padang, Jambi, Bengkulu, Yogyakarta,
Manado, Batam dan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Pangkal
Pinang, Mataram, Gorontalo, Palu, Kendari, Ambon, Ternate, Jayapura,
Manokwari, Mamuju.

2. Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru dapat
dilihat pada bagian dibawah ini:

Gambar 1.1. Struktur Organisasi Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru


(Sumber; Profil Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru)

3
3. Visi dan Misi
VISI :
Pulihnya Kesatuan Hubungan Hidup, Kehidupan dan Penghidupan WBP Sebagai
Individu, Anggota Masyarakat dan Makhluk Tuhan YME.

MISI :
Melaksanakan Perawatan Tahanan, Pembinaan dan Pembimbingan WBP Dalam
Kerangka  Penegakan Hukum, Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan serta 
Pemajuan dan  Perlindungan Hak Asasi Manusia.

4. Tujuan, Fungsi dan Sasaran


1. Tujuan
a. Membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia
seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi
tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan
masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup
secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab.
b. Memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan yang ditahan di
Rumah Tahanan Negara dan Cabang Rumah Tahanan Negara dalam
rangka memperlancar proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di
sidang pengadilan.
c. Memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan/para pihak
berperkara serta keselamatan dan keamanan benda-benda yang disita
untuk keperluan barang bukti pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan
pemeriksaan di sidang pengadilan serta benda-benda yang dinyatakan
dirampas untuk negara berdasarkan putusan pengadilan.

2. Fungsi
Menyiapkan Warga Binaan Pemasyarakatan agar dapat berintegrasi
secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai

4
anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab (Pasal 3 UUD No.12
Th.1995 tentang Pemasyarakatan).

3. Sasaran
a. Sasaran pembinaan dan pembimbingan WBP adalah meningkatkan
kualitas WBP yang pada awalnya sebagian atau seluruhnya dalam kondisi
yang kurang, yaitu :
 Kualitas ketakwaan kepada Tuhan YME.
 Kualitas intelektual.
 Kualitas sikap dan perilaku.
 Kualitas profesionalisme atau keterampilan.
 Kualitas kesehatan jasmani dan rohani.
b. Sasaran pelaksanaan sistem pemasyarakatan pada dasarnya terwujudnya
tujuan pemasyarakatan yang merupakan bagian dan upaya meningkatkan
ketahanan sosial dan ketahanan nasional, serta merupakan indikator-
indikator yang digunakan untuk mengukur hasil-hasil yang dicapai dalam
pelaksanaan sistem pemasyarakatan sebagai berikut :
 Isi Lembaga Pemasyarakatan lebih rendah daripada kapasitas.
 Menurunnya secara bertahap dari tahun ke tahun angka pelarian dan
gangguan kamtib.
 Meningkatnya secara bertahap jumlah Narapidana yang bebas sebelum
waktunya melalui proses asimilasi dan integrasi.
 Semakin menurunnya dari tahun ketahun angka residivis.
 Semakin banyaknya jenis-jenis institusi sesuai dengan kebutuhan
berbagai jenis / golongan Narapidana.
 Secara bertahap perbandingan banyaknya narapidana yang bekerja
dibidang industri dan pemeliharaan adalah 70:30.
 Presentase kematian dan sakit Warga Binaan Pemasyarakatan sama
dengan presentase di masyarakat.

5
 Biaya perawatan sama dengan kebutuhan minimal manusia Indonesia
pada umumnya.
 Lembaga Pemasyarakatan dalam kondisi bersih dan terpelihara, dan
 Semakin terwujudnya lingkungan pembinaan yang menggambarkan
proyeksi nilai-nilai masyarakat ke dalam Lembaga Pemasyarakatan.

6
BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI DASAR KADER PNS

A. Konsep Aktualisasi
Nilai-nilai dasar ASN yang perlu diterapkan dalam menjalankan tugas pokok
dan fungsi sebagai sorang ASN adalah dengan menerapkan nilai-nilai ANEKA
sebagai berikut :
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah suatu kewajiban atau pertanggungjawaban yang harus
dicapai. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau
institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Amanah
seorang ASNadalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Terdapat beberapa
aspek-aspek akuntabilitas yang meliputi :
1. Akuntabilitas adalah suatu hubungan (Accountability is a relationship) yaitu
hubungan dua pihak antara individu/kelompok/institusi dengan negara dan
masyarakat.
2. Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results oriented) yaitu
prilaku aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil dan inovatif.
3. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requires
reporting) yaitu perwujudan dari akuntabilitas.
4. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is meaningless
without consequences) yaitu kewajiban, tanggung jawab yang menghasilkan
konsekuensi.
5. Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves performence)
untuk memperbaiki kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.

7
a) Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia
Akuntabilitas tidak akan mungkin terwujud apabila tidak ada alat
akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara lain adalah:
1. Perencanaan Strategis (Strategic Plans) yang berupa Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP-D), Menengah (Rencana
Pembangunan Jangka Menengah/RPJM-D), dan Tahunan (Rencana Kerja
Pemerintah/RKP-D), Rencana Strategis (Renstra) untuk setiap Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) untuk
setiap PNS.
2. Kontrak Kinerja. Semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa terkecuali
mulai 1 Januari 2014 menerapkan adanya kontrak kerja pegawai. Kontrak
kerja yang dibuat untuk tiap tahun ini merupakan kesepakatan antara
pegawai dengan atasan langsungnya. Kontrak atau perjanjian kerja ini
merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun
2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS.
3. Laporan Kinerja yaitu berupa Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP) yang berisi perencanaan dan perjanjian kinerja pada
tahun tertentu, pengukuran dan analisis capaian kinerja, serta akuntabilitas
keuangan.

b) Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel


1. Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah yang pimpinan
memainkan peranan yang penting dalam menciptakan lingkungannya.
Pimpinan mempromosikan lingkungan yang akuntabel dapat dilakukan
dengan memberikan contoh pada orang lain (lead by example), adanya
komitmen yang tinggi dalam melakukan pekerjaan sehingga memberikan
efek positif bagi pihak lain untuk berkomitmen pula, terhindarnya dari
aspekaspek yang dapat menggagalkan kinerja yang baik yaitu hambatan
politis maupun keterbatasan sumber daya, sehingga dengan adanya saran dan
penilaian yang adil dan bijaksana dapat dijadikan sebagai solusi.

8
2. Transparansi
Tujuan dari adanya transparansi adalah:
a. Mendorong komunikasi yang lebih besar dan kerjasama antara
kelompok internal dan eksternal
b. Memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak seharusnya
dan korupsi dalam pengambilan keputusan
c. Meningkatkan akuntabilitas dalam keputusankeputusan
d. Meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada pimpinan secara
keseluruhan.

3. Integritas
Dengan adanya integritas menjadikan suatu kewajiban untuk menjunjung
tinggi dan mematuhi semua hukum yang berlaku, undang-undang, kontrak,
kebijakan, dan peraturan yang berlaku. Dengan adanya integritas institusi,
dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada publik dan/atau
stakeholders.

4. Tanggung jawab (Responsibilitas)


Responsibilitas institusi dan responsibilitas perseorangan memberikan
kewajiban bagi setiap individu dan lembaga, bahwa ada suatu konsekuensi
dari setiap tindakan yang telah dilakukan, karena adanya tuntutan untuk
bertanggungjawab atas keputusan yang telah dibuat.

5. Keadilan Keadilan adalah landasan utama dari akuntabilitas.


Keadilan harus dipelihara dan dipromosikan oleh pimpinan pada
lingkungan organisasinya. Oleh sebab itu, ketidakadilan harus dihindari
karena dapat menghancurkan kepercayaan dan kredibilitas organisasi yang
mengakibatkan kinerja akan menjadi tidak optimal.

9
6. Kepercayaan
Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan. Kepercayaan
ini yang akan melahirkan akuntabilitas. Dengan kata lain, lingkungan
akuntabilitas tidak akan lahir dari halhal yang tidak dapat dipercaya.

7. Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka diperlukan
adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan
dan kapasitas.

8. Kejelasan
Kejelasan juga merupakan salah satu elemen untuk menciptakan dan
empertahankan akuntabilitas. Agar individu atau kelompok dalam
melaksanakan wewenang dan tanggungjawabnya, mereka harus memiliki
gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang
diharapkan. Dengan demikian, fokus utama untuk kejelasan adalah
mengetahui kewenangan, peran dan tanggungjawab, misi organisasi, kinerja
yang diharapkan organisasi, dan sistem pelaporan kinerja baik individu
maupun organisasi.

9. Konsistensi
Konsistensi menjamin stabilitas. Penerapan yang tidak konsisten dari
sebuah kebijakan, prosedur, sumber daya akan memiliki konsekuensi
terhadap tercapainya lingkungan kerja yang tidak akuntabel, akibat
melemahnya komitmen dan kredibilitas anggota organisasi.

2. Nasionalisme
Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan
bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya.
Sikap seperti ini jelas mencerai beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang
lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme. Sedang dalam arti luas,

10
nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap
bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai
Pancasila. Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila
yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa menempatkan persatuan
kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas
kepentingan/pribadi atau kepentingan golongan menunjukkan sikap rela
berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, bangga sebagai bangsa Indonesia
dan bertanah air. Indonesia serta tidak merasa rendah diri mengakui persamaan
derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa;
menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia dan mengembangkan sikap
tenggang rasa. Adapun ciri-ciri nasionalisme yang ada dalam suatu negara
indonesia adalah :
 Sudah ada persatuan dan kesatuan bangsa.
 Sifat perjuangan bersifat nasional.
 Tujuannya untuk mencapai kemerdekaan yang nantinya ingin mendirikan
suatu negara merdeka yang kekuasaannya ditangani rakyat.
 Sudah ada organisasi modern dan bersifat nasional.
 Mengandalkan kekuatan otak (pikiran), dimana pendidikan sangat
berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Semangat kebangsaan (nasionalisme) ditampung dalam Pancasila sila ke 3, yakni
“Persatuan Indonesia” yang mempunyai ciri-ciri:
 Mencintai bangsa dan tanah air Indonesia.
 Rela berkorban demi bangsa dan negara.
 Bangga berbangsa dan bertanah air Indonesia
 Menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi
dan golongan

11
3. Etika Publik
Weihrich dan Koontz (2005:46) mendefinisikan etika sebagai “the dicipline
dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation”. Secara
lebih spesifik Collins Cobuild (1990:480) mendefinisikan etika sebagai “an idea
or moral belief that influences the behaviour, attitudes and philosophy of life of a
group of people”. Oleh karena itu, konsep etika sering digunakan sinonim dengan
moral. Ricocur (1990) mendefinisikan etika sebagai tujuan hidup yang baik
bersama dan untuk orang lain di dalam institusi yang adil. Dengan demikian etika
lebih dipahami sebagai refleksi atas baik/buruk, benar/salah yang harus dilakukan
atau bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada
kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan.
Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik adalah refleksi tentang
standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan
keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan
tanggung jawab pelayanan publik. Integritas publik menuntut para pemimpin dan
pejabat publik untuk memiliki komitmen moral dengan mempertimbangkan
keseimbangan antara penilaian kelembagaan, dimensi-dimensi pribadi, dan
kebijaksanaan di dalam pelayanan publik (Haryatmoko, 2001).

a) Kode Etik Aparatur Sipil Negara


Kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam
bentuk ketentuan-ketentuan tertulis. Adapun Kode Etik Profesi dimaksudkan
untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat
melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh
sekelompok profesional tertentu.
Berdasarkan Undang-Undang ASN, kode etik dan kode perilaku ASN yakni
sebagai berikut:
1. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas
tinggi.
2. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.

12
3. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan.
4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat yang
berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan etika pemerintahan.
6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,
efektif dan efisien.
8. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.
9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
10. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan, dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri
sendiri atau untuk orang lain.
11. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas
ASN.
12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
pegawai ASN.

b. Nilai-Nilai Dasar Etika Publik


Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang
ASN yakni sebagai berikut:
1. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan
Republik Indonesia 1945.
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
6. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.

13
8. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah.
9. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
13. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai
perangkat sistem karir.
Kode Etik Profesi dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu
kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang
diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu. Oleh
karena itu, dengan diterapkannya kode etik Aparatur Sipil Negara, perilaku
pejabat publik harus berubah dengan cara yaitu berubah dari penguasa menjadi
pelayan, berubah dari wewenang menjadi peranan dan menyadari bahwa jabatan
publik adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan bukan hanya di dunia
tapi juga di akhirat.

c. Konflik Kepentingan
Disamping penggunaan kekuasaan yang harus sejalan dengan norma etika,
kaidah pokok lain yang seringkali disebutkan dalam pedoman kode etik universal
adalah kesadaran bagi setiap pegawai pemerintah untuk menghindari adanya
konflik kepentingan (conflict of interest) dalam pelaksanaan tugasnya. Pengertian
dasar dari konflik kepentingan dapat secara sederhana dirumuskan sebagai
(McDonald, 2005):
"a situation in which a person, such as a public official, an employee, or a
professional, has a private or personal interest sufficient to appear to
influence the objective exercise of his or her official duties.”
Dengan demikian, konflik kepentingan adalah tercampurnya kepentingan
pribadi dengan kepentingan organisasi yang mengakibatkan kurang optimalnya

14
pencapaian tujuan organisasi. Di dalam kegiatan bisnis, konflik kepentingan akan
mengakibatkan persaingan tidak sehat serta manfaat kegiatan bisnis bagi khalayak
yang kurang optimal. Sedangkan dalam organisasi pemerintah konflik
kepentingan akan mengakibatkan penyalahgunaan kekuasaan, pengerahan sumber
daya publik yang kurang optimal, dan peningkatan kesejahteraan rakyat
terabaikan.
Pengaruh buruk dari adanya konflik kepentingan secara rinci dapat dijelaskan
dalam berbagai bentuk perilaku sebagai berikut:
1. Aji mumpung (self dealing): memanfaatkan kedudukan politis untuk
kepentingan yang sempit dan sistem nepotisme.
2. Menerima/memberi suap (bribery, embezzlement, graft)
3. Menyalahgunakan pengaruh pribadi (influence peddling): memanfaatkan
pengaruh untuk kepentingan karir atau bisnis yang sempit.
4. Pemanfaatan fasilitas organisasi/lembaga untuk kepentingan pribadi.
5. Pemanfaatan informasi rahasia; mengacaukan kedudukan formal dengan
keuntungan yang diperoleh secara informal
6. Loyalitas ganda (outside employment, moonlighting); menggunakan
kedudukan dalam pemerintahan untuk investasi pribadi.

d. Sumber-Sumber Kode Etik Bagi Aparatur Sipil Negara


Sebagai contoh, ASPA (American Society for Public Administration)
menyebutkan 9 (sembilan) azas sebagai sumber kode etik administrasi publik
(1981) sebagai berikut:
1. Pelayanan kepada masyarakat adalah di atas pelayanan kepada diri sendiri.
2. Rakyat adalah berdaulat dan mereka yang bekerja dalam lembaga pemerintah
pada akhirnya bertanggungjawab kepada rakyat.
3. Hukum mengatur semua tindakan dari lembaga pemerintah. Apabila hukum
dan peraturan itu dirasa bermakna ganda, kurang bijaksana atau perlu
perubahan, kita akan mengacu sebesar-besarnya kepada kepentingan rakyat
sebagai rujukan.

15
4. Manajemen yang efisien dan efektif adalah dasar bagi administrasi publik.
Subversi melalui penyalahgunaan pengaruh, penggelapan, pemborosan, atau
penyelewengan tidak dapat dibenarkan. Para pegawai bertanggung jawab
untuk melaporkan jika ada tindak penyimpangan.
5. Sistem penilaian kemampuan, kesempatan yang sama, dan azas-azas itikad
baik akan didukung, dijalankan dan dikembangkan.
6. Perlindungan terhadap kepercayaan rakyat adalah hal yang sangat penting.
7. Pelayanan kepada masyarakat menuntut kepekaan khusus dengan ciri-ciri
keadilan, keberanian, kejujuran, persamaan, kompetensi, dan kasih sayang.
Kita menghargai sifat-sifat seperti ini dan secara aktif mengembangkannya.
8. Hati nurani memegang peran penting dalam memilih arah tindakan. Ini
memerlukan kesadaran akan makna ganda moral dalam kehidupan, dan
pengkajian tentang prioritas nilai; tujuan yang baik tidak pernah membenarkan
cara yang tak bermoral (good ends never justify immoral means).
9. Para administrator negara tidak hanya terlibat untuk mencegah hal yang salah,
tetapi juga untuk mengusahakan hal yang benar melalui pelaksanaan
tanggungjawab dengan penuh semangat dan tepat pada waktunya.

4. Komitmen Mutu
a) Konsep efektifitas dan efesiensi
Istilah efektivitas dan efisiensi selalu menjadi tema menarik yang menjadi
sorotan publik dalam memberikan penilaian terhadap capaian kinerja perusahaan
ataupun institusi pemerintahan. Namun dalam kenyataanya seringkali kedua aspek
tersebut terlupakan, atau bahkan diabaikan. Richard L. Daft dalam Tita Maria
Kanita (2010: 8) mendefinisikan efektivitas sebagai berikut: “Efektivitas
organisasi berarti sejauh mana organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan,
atau berhasil mencapai apapun yang coba dikerjakannya. Efektivitas organisasi
berarti memberikan barang atau jasa yang dihargai oleh pelanggan.” Oleh karena
itu, Efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah direncanakan,
baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja.

16
Selanjutnya, Richard L. Daft dalam Tita Maria Kanita (2010: 8)
mendefinisikan efisiensi sebagai berikut: “Efisiensi organisasi adalah jumlah
sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasional. Efisiensi
organisasi ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, uang, dan manusia yang
dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah keluaran tertentu. Efisiensi dapat dihitung
sebagai jumlah sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan barang atau
jasa.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa efisiensi diukur dari ketepatan
realisasi penggunaan sumber daya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan,
sehingga dapat diketahui ada atau tidak adanya pemborosan sumberdaya
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur, dan mekanisme yang ke luar
alur sehingga Efisiensi merupakan tingkat ketepatan realisasi penggunaan
sumberdaya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan, sehingga tidak terjadi
pemborosan sumber daya, penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur, dan
mekanisme yang keluar alur.
Karakteristik ideal dari tindakan yang efektif dan efisien antara lain:
penghematan, ketercapaian target secara tepat sesuai dengan yang direncanakan,
pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat, serta terciptanya kepuasan
semua pihak: pimpinan, pelanggan, masyarakat, dan pegawai itu sendiri.
Konsekuensi dari penyelenggaraan kerja yang tidak efektif dan tidak
efisien adalah ketidaktercapaian target kerja, ketidakpuasan banyak pihak,
menurunkan kredibilitas instansi tempat bekerja di mata masyarakat, bahkan akan
menimbulkan kerugian secara finansial.

b) Konsep Inovasi
Sebagaimana pendapat Richard L. Daft dalam Tita Maria Kanita (Buku2:
2011: 56) bahwa : “Inovasi barang dan jasa adalah cara utama dimana suatu
organisasi beradaptasi terhadap perubahan-perubahan di pasar, teknologi, dan
persaingan.”
Inovasi dapat terjadi pada banyak aspek, misalnya perubahan produk
barang/jasa yang dihasilkan, proses produksi, nilai-nilai kelembagaan, perubahan

17
cara kerja, teknologi yang digunakan, layanan sistem manajemen, serta mindset
orang-orang yang ada di dalam organisasi.
Inovasi bisa muncul karena ada dorongan dari dalam (internal) untuk
melakukan perubahan, atau bisa juga inovasi muncul karena ada desakan
kebutuhan dari pihak eksternal, misalnya permintaan pasar. Inovasi lahir dari
imajinasi pemikiran orang orang kreatif, dan lahirnya kreativitas didorong oleh
munculnya ide/gagasan baru untuk ke luar dari rutinitas yang membosankan.
Munculnya ide/gagasan baru, kreativitas, dan inovasi dilatar belakangi oleh
semangat belajar yang tidak pernah pudar, yang dijalani dalam proses
pembelajaran secara berkelanjutan.
Gagasan kreatif yang lahir dari hasil pemikiran individu akan mendorong
munculnya berbagai prakarsa, sehingga dapat memperkaya program kerja dan
memunculkan diferensiasi produk/jasa, seiring dengan berkembangnya tuntutan
kebutuhan pelanggan. Demikian juga halnya inovasi dalam layanan publik
mestinya mencerminkan hasil pemikiran baru yang konstruktif, sehingga akan
memotivasi setiap individu untuk membangun karakter dan mind-set baru sebagai
aparatur penyelenggara pemerintahan, yang diwujudkan dalam bentuk
profesionalisme layanan publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar
menjalankan atau menggugurkan tugas rutin.

c) Konsep dasar dan pengertian mutu


Banyak definisi mutu yang dikemukakan oleh para ahli. Goetsch and Davis
(2006: 5) berpendapat bahwa belum ada definisi mutu yang dapat diterima secara
universal, namun mereka telah merumuskan pengertian mutu sebagai berikut.
“Quality is a dynamic state associated with products, services, people, processes,
and environments that meets or exceeds expectation.” Menurut definisi yang
dirumuskan Goetsch dan Davis, mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan
dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
melebihi harapan konsumen atau pengguna. Sejalan dengan pendapat tersebut,
William F. Christopher dan Carl G. Thor (2001: xi), menyatakan bahwa:

18
“Quality can be defined as producing and delivering to customers without error
and without waste superior customer values in the products and services that
each customer needs and wants Quality is depend on one mind individually.”
Dalam pandangan Christopher dan Thor, penilaian atas mutu produk/jasa
bergantung pada persepsi individual berdasarkan kesesuaian nilai yang
terkandung di dalamnya dengan kebutuhan dan keinginannya, tanpa kesalahan
dan pemborosan. Zulian Yamit (2010: 7-8) mengutip pendapat sejumlah pakar
tentang pengertian mutu. (1) Menurut Edward Deming: “Mutu adalah apapun
yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen.” (2) Menurut Crosby: “Mutu
merupakan nihil cacat, kesempurnaan dan kesesuaian terhadap persyaratan.” (3)
Menurut Juran: “mutu merupakan kesesuaian terhadap spesifikasi.”
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa mutu mencerminkan
nilai keunggulan produk/ jasa yang diberikan kepada pelanggan (customer) sesuai
dengan kebutuhan dan keinginannya, dan bahkan melampaui harapannya. Mutu
merupakan salah satu standar yang menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil
kerja. Mutu juga dapat dijadikan sebagai alat pembeda atau pembanding dengan
produk/jasa sejenis lainnya, yang dihasilkan oleh lembaga lain sebagai pesaing
(competitors).

d) Teknik atau metode perbaikan mutu


Mutu merupakan persepsi pengguna layanan terhadap kemampuan suatu
organisasi dalam menjawab kebutuhan dan harapan pelanggan. Mutu bersifat
dinamis, sehingga setiap organisasi dituntut untuk memperbaiki kinerjanya secara
terus menerus. Berikut ada beberapa metode sederhana yang paling banyak
digunakan bagi setiap organisasi penyedia layanan baik organisasi pemerintah
maupun swasta untuk melakukan perbaikan secara terus menerus (continous
improvement):

1. Metode Plan Do Check Act (PDCA)


Metode ini diperkenalkan Edward Deming tahun 1950 (Tague: 2004; 15) pada
saat ia memberikan kuliah di Jepang. Biasa dikenal juga dengan istilah lain yaitu

19
Plan Do Study Act (PDSA), metode ini digunakan untuk membantu organisasi
dalam melakukan perbaikan secara terus menerus. Metode ini terdiri empat
langkah yaitu:
a. Plan atau perencanaan.
Pada tahap ini dilakukan identifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi,
penyebabnya dan solusinya. Secara lebih rinci tahap perencanaan meliputi
kegiatan-kegiatan berikut:
 mengidentifikasi dan menetap kan prioritas peluang perbaikan kualitas
dari permasalahan yang sedang dihadapi.
 menetapkan sasaran yang hendak dicapai (target group pengguna layanan,
jenis perbaikan yang akan dilakukan, ukuran keberhasilan yang hendak
dicapai).
 menggambarkan proses kerja yang berjalan.
 mengumpulkan data data terkait dengan proses kerja saat ini.
 mengidentifikasi sumber penyebab masalah muncul.
 mengembangkan rencana aksi (action plan).
b. Do (melaksanakan).
Dalam tahap ini rencana aksi yang sudah disusun harus dijalankan secara
konsisten oleh semua orang. Tahap pelaksanaan ini perlu didukung dengan
dokumentasi yang baik sehingga memudahkan dalam melaksanakan tahap berikut
nya yaitu Check.
c. Check (pemeriksaan).
Tahap ini dilakukan pemeriksaan apakah rencana aksi yang sudah dilakukan
telah berjalan dengan semestinya, apakah target dan ukuran ke berhasilan yang
telah ditetapkan dapat dicapai? Jika belum tercapai apa saja yang menjadi kendala
atau sumber permasalahannya.
d. Action
Tahap ini melakukan tindakan atau keputusan yang perlu diambil sebagai
tindaklanjut dari tahap Check. Ada tiga tindakan/keputusan terhadap hasil
pemeriksaan.

20
 Adopt (adopsi). Jika hasil dari pelaksanaan rencana aksi terbukti mampu
mencapai hasil yang direncanakan maka solusi yang sudah dilakukan perlu
kemudian diadopsi.
 Adapt (melakukan adaptasi). Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa
solusi untuk memecahkan masalah kurang berjalan dengan baik maka
perlu dilakukan adaptasi dengan melakukan beberapa penyesuaian
terhadap kegiatan yang sudah direncanakan.
 Abandon (membatalkan). Jika ternyata solusi yang dilakukan ternyata
tidak menghasilkan perbaikan yang diharapkan maka organisasi dapat
membatalkan solusi tersebut.

2. Teknik Pohon masalah


Pohon masalah (problem tree) merupakan sebuah pendekatan/metode
yang digunakan untuk identifikasi penyebab suatu masalah. Analisis pohon
masalah dilakukan dengan membentuk pola pikir yang lebih terstruktur mengenai
komponen sebab akibat yang berkaitan dengan masalah yang telah diprioritaskan.
Metode ini dapat diterapkan apabila sudah dilakukan identifikasi dan penentuan
prioritas masalah.
Pohon masalah memiliki tiga bagian, yakni batang, akar, dan cabang.
Batang pohon menggambarkan masalah utama, akar merupakan penyebab
masalah inti, sedangkan cabang pohon mewakili dampak. Penggunaan pohon
masalah ini berkaitan dengan perencanaan proyek. Hal ini terjadi karena
komponen sebab akibat dalam pohon masalah akan mempengaruhi desain
intervensi yang mungkin dilakukan. Gambar 2 dibawah merupakan contoh bagan
pohon masalah.

21
Gambar 2.1. Diagram pohon masalah

3.m Teknik Fishbone


Berdasarkan gambar 3. fishbone manajemen mutu tersebut menunjukkan
bahwa setiap institusi pemerintah harus memiliki target capaian kinerja bermutu,
baik kinerja individual maupun kinerja organisasional. Merujuk konsep trilogy
mutu dari Joseph Juran, pada baris atas gambar fishbone merupakan tugas
pimpinan untuk menyusun rencana mutu (quality planning), mengawasi capaian
mutu (quality control), dan menetapkan program perbaikan mutu secara
berkelanjutan (continuous quality improvement). Pada baris bawah gambar
fishbone merupakan tanggung jawab aparatur untuk mengikuti sosialisasi terkait
rencana mutu yang sudah ditetapkan oleh pimpinan. Rencana mutu yang
dipaparkan ketika proses sosialisasi akan menjadi rujukan utama bagi aparatur
dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan perannya masing-masing. Selama proses
implementasi tersebut tentu akan dikawal oleh pimpinan, agar tidak terjadi
penyimpangan.
Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian terhadap capaian mutu pada
output dan outcome kemudian pimpinan melakukan tindak lanjut secara tepat
sesuai dengan hasil capaian tersebut. Di lain pihak, apartur pun dituntut untuk
merancang sendiri upaya perbaikan capaian mutu layanan secara berkelanjutan.

22
Gambar 2.3. Fishbone Manajemen mutu

4.mTeknik Berfikir Kreatif


Berpikir kreatif menunjukkan kemampuan orang untuk menghasilkan atau
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Proses berpikir kreatif membutuhkan
daya imajinasi tinggi yang mampu ke luar dari rutinitas atau berbeda dari
kebiasaan sehari-hari. Hasil berpikir kreatif akan melahirkan karya yang inovatif.
Inovasi bisa berbentuk karya yang betul-betul baru karena sebelumnya tidak
pernah ada atau merupakan sesuatu yang mengandung unsur kebaruan (novelty).
Contohnya adalah produk yang mengalami perubahan desain, pengayaan
keragaman motif, penambahan fungsi produk, mekanisme layanan yang lebih
sederhana, kecepatan waktu penyelesaian, layanan yang lebih ramah, dan
sebagainya. Demikian pula halnya tindakan aparatur yang kreatif akan
mencerminkan kebaruan dalam pemberian layanan publik, mengandung inovasi,
tidak sekedar mengerjakan rutinitas melainkan menunjukkan peningkatan mutu
kinerja yang dapat dilakukan di tempat kerja masing-masing.
Gambar 4. mengilustrasikan siklus tahapan berpikir kreatif secara garis
besar. Pada dasarnya setiap orang pernah mengalami kejenuhan, memiliki rasa
ketidakpuasan, dan munculnya dorongan keingintahuan. Perasaan-perasaan
tersebut akan mendorong tumbuhnya kebutuhan dan keinginan terhadap sesuatu
yang baru, unik, dan berbeda dari kondisi yang sudah ada.

23
Dengan dorongan perasaan di atas, kemudian terjadilah proses perenungan
dalam diri seseorang, sambil kemudian berimajinasi tentang apa dan bagaimana
sebenarnya yang dia butuhkan. Daya imajinasinya akan mendorong otaknya untuk
berpikir secara lebih serius, mengapa dia membutuhkan sesuatu yang baru.

Ketidakpuasan, Keingintahuan,
Kejenuhan, Kebutuhan, Keinginan .Merenung,
berimajinasi,
berpikir Mencari
Mencari data
data dan
dan
informasi,
informasi, membaca
membaca
rujukan, studi
rujukan, studi
banding, berdialog,
berdiskusi
berdiskusi

Siklus Tahapan Berfikir Kreatif


Menganalisis,
membuat racangan,
sosialisasi
sosialisasi di
di
Lahirnya karya lingkungan terbatas
lingkungan terbatas

kreatif sebagai
Dimanfaatkan sebuah inovasi

Gambar 2.4. Siklus Tahapan Berfikir Kreatif

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk dalam


pikirannya, dia akan berusaha keras untuk mencari data dan informasi, misalnya
dengan cara membaca berbagai rujukan tertulis, melakukan studi banding,
berdialog, berdikusi, dan cara lain yang dapat dilakukan. Berbekal bahan-bahan
yang berhasil dikumpulkan kemudian dituangkan ke dalam bentuk ide/gagasan
yang lebih kongkrit, bukan sekedar gagasan muluk hasil imajinasi dengan
berandai-andai.
Pada tahap berikutnya, gagasan yang sudah diwujudkan kemudian dianalisis
dampak positif dan negatifnya, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Setelah
diyakini kemudian dibuatlah rancangan konkrit atas gagasan kreatifnya itu.
Hasilnya bisa berbentuk teknologi, produk barang/jasa, metodologi, serta berbagai
pemikiran baru. Untuk memperoleh masukan, tanggapan, dan respon lainnya
maka hasil gagasan kreatifnya terlebih dahulu disosialisasikan di lingkungan

24
terbatas. Jika dipandang perlu, dilakukanlah berbagai penyempurnaan berdasarkan
masukan masukan tersebut. Selanjutnya akan lahirlah karya kreatif sebagai sebuah
inovasi, untuk dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang membutuhkannya.
Sebuah inovasi akan memiliki makna, apabila bermanfaat bagi pihak lain.
Setelah produk inovasi tersebut beredar dan dimanfaatkan, dalam kurun waktu
tertentu kemudian akan kembali menimbulkan ketidakpuasan, kejenuhan,
keingintahuan, kebutuhan, serta keinginan yang baru. Demikianlah siklus ini tidak
akan pernah berhenti menghasilkan inovasi.

5. Anti Korupsi
1) Pengertian dan Definisi Korupsi
Dampak-dampak dari korupsi sangat merugikan. Berbagai bentuk upaya dan cara
mengatasi korupsi namun tetap saja koruspi tidak dapat dihilangkan dari bumi ini. Korupsi
adalah penyalahgunaan jabatan dan administrasi, ekonomi atau politik baik yang disebabkan diri
sendiri maupun orang lain yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi sehingga
menimbulkan kerugian bagi masyarakat umum, perusahaan atau pribadi lainnya. Sedangkan
korupsi menurut hukum dalam undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan
tindak pidana korupsi, pengertian korupsi adalah setiap orang yang di kategorikan melakukan
hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang
lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang
ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian.

2) Nilai-nilai anti korupsi bagi PNS/ASN


Perjuangan melawan korupsi terus saja diperjuangkan, digemakan
diberbagai sudut penjuruh daerah di indonesia, tak bisa dipungkiri birokrasi
merupakan tempat yang paling sering mendapatkan sorotan tajam terkait dengan
korupsi, PNS tentunya garda terdepan dalam birokrasi yang bersentuhan langsung
dengan masyarakat. Layanan publik merupakan sebuah kebutuhan dasar yang
harus dirasakan masyarakat, layanan publik baik dalam bentuk layanan

25
administrasi,layanan publik dalam bentuk barang serta layanan publik dalam
bentuk jasa.
Melawan korupsi sangat membutuhkan perjuangan khususnya bagi para
PNS karena melalui diklat prajabatan PNS akan dibekali dengan materi Anti
Korupsi, melawan krouspsi tentunya memerlukan sebuah terobosan dan kemauan
karena itu untuk melawan korupsi harus dimulai pada saat ini, dimulai dari hal-hal
kecil dan dimulai dari diri sendiri. Melawan anti korupsi tentunya harus dimulai
pola pikir karena pola pikir/mindset karena pola pikir yang kadang membuat kita
terjerat untuk melakukan korupsi karena itu menanamkan dalam mindset kita
bahwa korupsi merupakan sebuah kejahatan dan dosa besar yang dilarang dalam
agama manapun.
Melalui pola pikir maka melahirkan tindakan, tindakan akan melahirkan
kebiasaan, kebiasaan akan melahirkan karakter dan karakter pada akhirnya akan
menentukan nasib anda. Dengan menjadi PNS yang anti korupsi maka akan
menjadi awal untuk menciptakan birokrasi yang bersih dan layanan publik yang
baik, PNS sebagai aparatur tentunya merupakan ujung tombak untuk memberikan
layanan yang terbaik kepada masyarakat .
Untuk menjadi PNS anti korupsi maka milikilah sikap perilaku 9 nilai anti korupsi
yang akan menjadi akar bagi membentuk karakter seorang PNS menjadi anti
korupsi yaitu :
1. Jujur
Nilai ini memiliki posisi yang sangat penting untuk melahirkan PNS yang
anti korupsi, sebagai seorang PNS maka miliilah sikap kejujuran ini, nilai jujur
memang sangat mudah diucapkan namun untuk mewujudkannya menjadi karakter
maka kita membutuhkan tekad yang kuat dan komitmen.Permasalahan korupsi te
ntunya muncul dari ketidakjujuran, karena itu sikap jujur mampu mencegah kita
untuk menjadi koruptor.

2. Disiplin
Nilai disiplin harga mati bagi seorang PNS, disiplin bisa dikatakan
merupakan sebuah sikap untuk taat kepada norma yang ada baik norma hukum,

26
maupun norma agama,penyebab korupsinya tentunya disebabkan oleh kurang
taatnya kita terhadap sebuah aturan.

3. Peduli
Peduli merupakan sikap anti korupsi yang harus juga dimiliki seorang
PNS/ASN penyebab korupsi sala satunya juga disebabkan oleh kurang kepedulian
kita terhadap lingkungan dan organisasi yang kadang melakukan perbuatan
korupsi dan kecurangan, acu tak acuh kadang menjadi prinsip kita sehinggah
kurang mempedulikan permasalahan korupsi.

4. Tanggung jawab
Tanggung jawab kepada bangsa dan negara dan khususnya tanggung jawab
kepada tuhan karena pada saat pengangkatan menjadi PNS kita disumpah atas
nama tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing karena itu
berbuat baiklah selama menjadi PNS karena apapun yng kita lakukan akan kita
pertanggung jawabkan.

5. Kerja keras
PNS tentunya harus bekerja keras seperti bekerja 3 AS, yakni bekerja keras,
kerja cerdas dan kerja ikhlas karena penyebab korupsi tentunya bisa disebabkan
karena kita tidak mau bekerja keras.
6. Sederhana
7. Mandiri
8. Berani
9. Adil

27
B. Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI
Kedudukan dan Peran Aparatur Sipil Negara dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia terdiri dari tiga materi pelatihan, yaitu Manajemen ASN,
Whole of Government (WoG), dan Pelayanan Publik.
1. Manajemen ASN
Manajeman ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN
yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik,
bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Manajemen ASN lebih
menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu
tersedia sumber daya aparatur yang unggul selaras dengan perkembangan jaman.
Pegawai ASN sebagai mana disebutkan dalam Undang-undang No 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara, terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Pegawai ASN
berkedudukan sebagai aparatur negara yang menjalankan kebijakan yang
ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan
intervensi semua golongan dan partai politik. Kedudukan ASN berada di pusat,
daerah dan luar negeri. Namun demikian pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
Untuk menjalankan kedudukannya tersebut, maka pegawai ASN berfungsi,
bertugas dan berperan sebagai berikut;
1) Pelaksana Kebijakan Publik
2) Pelayan Publik
3) Perekat dan Pemersatu Bangsa
Dalam Undang-undang ASN disebutkan bahwa ASN sebagai profesi
berlandaskan pada kode etik dan kode perilaku. ASN bertujuan untuk menjaga
martabat dan kehormatan ASN. Kode etik dan perilaku berisi pengaturan perilaku
agar pegawai ASN:
1) Melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab dan berintegritas
tinggi.
2) Melaksanakan tugas dengan cermat dan disiplin
3) Melayani dengan sikap hormat, sopan dan, tanpa tekanan
4) Melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

28
5) Melaksanakan tugas sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang
berwenang
6) Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7) Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggungjawab,
efektif dan efisien
8) Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya
9) Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi
10) Tidak menyalahgunakan informasi intern negara.
11) Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas
ASN
12) Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
pegawai ASN.

2. Whole of Government (WoG)


WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam
ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan
pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Oleh
karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan
yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang
relevan.
Terdapat beberapa alasan mengapa WoG menjadi penting dan tumbuh
sebagai pendekatan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah yaitu;
1) Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan
integrasi kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta
penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good Governance). Selain itu
perkembangan teknologi informasi, situasi dan dinamika kebijakan yang
lebih kompleks juga mendorong pentingnya WoG dalam menyatukan institusi
pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan dan layanan publik.

29
2) Terkait faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan kapasitas
sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi antar sektor dalam
pembangunan. Satu sektor bisa menjadi sangat superior terhadap sektor lain.
Masing-masing sektor menganggap bahwa sektornya lebih penting dari yang
lainnya.
3) Khususnya dalam konteks Indonesia, keberagaman latar belakang nilai,
budaya, adat istiadat serta bentuk latar belakang lainnya mendorong adanya
disintegrasi bangsa. Pemerintah sebagai institusi formal berkewajiban untuk
mendorong tumbuhnya nilai-nilai perekat kebangsaan yang akan menjamin
bersatunya elemen-elemen kebangsaan ini dalam satu frame NKRI.

Jenis-jenis pelayanan publik yang dikenal dalam pendekatan WoG adalah:


1) Pelayanan yang bersifat Administratif
Pelayanan publik yang menghasilkan berbagai dokumen resmi yang
dibutuhkan warga masyarakat.
2) Pelayanan Jasa
Pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang dibutuhkan warga
masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan dan
lainnya.
3) Pelayanan Barang
Pelayanan yang menghasilkan jenis barang yang dibutuhkan warga
masyarakat seperti jalan, perumahan, jaringan telepon, listrik dan lainnya.
4) Pelayanan Regulatif
5) Pelayanan melalui penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan
maupun kebijakan publik yang mengatur sendi-sendi kehidupan masyarakat.

3. Pelayanan Publik
Pelayanan Publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. (UU No 25

30
tahun 2009). Sedangkan menurut Lembaga Administrasi Negara Pelayanan
publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh
instansi pemerintah di Pusat dan Daerah, dan dilingkungan BUMN/BUMD dalam
bentuk barang dan/atau jasa dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu:
a) Organisasi penyelenggara pelayanan publik
b) Penerima layanan (pelanggan) yaitu orang, masyarakat, atau organisasi yang
berkepentingan
c) Kepuasan yang diberikan dan atau diterima oleh penerima layanan.

Prinsip-prinsip dalam pelayanan prima antara lain:


a) Responsif terhadap pelanggan/ memahami pelanggan
b) Membangun visi dan misi pelayanan
c) Menetapkan standar pelayanan dan ukuran kinerja pelayanan, sebagai dasar
pemberian pelayanan
d) Pemberian pelatihan dan pengembangan pegawai terkait bagaimana
memberikan pelayanan yang baik, serta pemahaman tugas dan fungsi
organisasi
e) Memberikan apresiasi kepada pegawai yang telah melakukan tugas
pelayanannya dengan baik

C. Isu Aktualisasi
1. Isu Aktual
Pada praktiknya, banyak masalah-masalah atau kendala yang harus
dihadapi oleh seorang ASN dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di
instansi tempat ia bekerja, atau yang lebih dikenal dengan isu aktual. Rancangan
aktualisasi ini nantinya akan menyelesaikan satu masalah pokok atau isu prioritas
yang menurut penulis anggap penting dan perlu diselesaikan segera. Salah satu
cara menentukan masalah pokok prioritas yang akan penulis angkat tersebut
adalah dengan menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth)
dengan skala penilaian 1 sampai 5.

31
Dalam menentukan core issue digunakan alat bantu analisis isu dimana
pada rancangan aktualisasi ini penulis menggunakan metode USG (Urgency,
Seriousness, Growth) yang penilaiannya menggunakan skala 1-5 (5= sangat besar,
4=besar, 3=sedang, 2=kecil, 1=sangat kecil), berikut ditampilkan hasilnya
Table 2.1. Identifikasi Isu
Prioritas
No. Identifikasi Isu U S G Total Peringkat
Kurangnya kesadaran WBP mengikuti
1. kegiatan pembinaan Lapas Perempuan
4 4 4 12 4
Kelas IIA Pekanbaru
Kurang disiplinnya WBP pada saat jam
2.
buka kereng selesai 3 4 3 10 5
Kurangnya kesadaran WBP dalam
3. memilah sampah di lingkungn Lapas 5 4 5 14 1
Perempuan Kelas IIA Pekanbaru
Kurangnya minat dan kesadaran WBP
4. terhadap kegiatan dan atau pelatihan di 4 4 5 13 2
Lapas Perempuan Klas IIA Pekanbaru
Kurang optimalnya pemeriksaan barang
5. 4 3 4 11 3
dan badan WBP yang keluar masuk blok

Keterangan Peringkat:
1 = Sangat tinggi
2 = Tinggi
3 = Sedang
4 = Rendah
5 = Sangat rendah

Berdasarkan hasil penilaian prioritas menggunakan USG, skor tertinggi ada


pada isu ketiga adalah “Kurangnya kesadaran WBP dalam memilah sampah
dilingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru”. Isu ini memiliki skor
14 dan menjadi isu prioritas (core issue) yang akan dibahas dalam rancangan
aktualisasi.

32
2. Kegiatan
Adapun kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi permasalahan yang ada di
dalam unit kerja tersebut adalah :
1. Melakukan konsultasi dengan mentor dan lebih memahami dasar hukum
ketertiban WBP, sesuai dengan Permenkumham Nomor 6 Tahun 2013
ayat 6.
2. Melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk melakukan kegiatan
aktualisasi.
3. Melakukan sosialisasi dan menempelkan poster himbauan menjaga
kebersihan.
4. Membuat jadwal piket kebersihan dimasing-masing kamar, agar
terwujudnya rasa tanggung jawab.
5. Menyiapkan tong sampah dan membuat label pada tong sampah.
6. Memulai pemilahan sampah organik dan anorganik.
7. Mengumpulkan sampah yang telah dipilah.
8. Melakukan kontrol kebersihan secara berkala diblok hunian WBP.
9. Memberikan masukan terdapat kegiatan kebersihan kamar hunian WBP.

D. Rancangan Aktualisasi Nilai Dasar PNS


Unit Kerja : Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru
Identifikasi Isu :
1. Kurangnya kesadaran WBP mengikuti
kegiatan pembinaan Lapas Perempuan Kelas
IIA Pekanbaru.
2. Kurang disiplinnya WBP pada saat jam buka
kereng selesai
3. Kurangnya kesadaran WBP dalam memilah
sampah di lingkungn Lapas Perempuan
Kelas IIA Pekanbaru

33
4. Kurangnya minat dan kesadaran WBP
terhadap kegiatan dan atau pelatihan di
Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru
5. Kurang optimalnya pemeriksaan barang dan
badan WBP yang keluar masuk blok

Isu yang Diangkat : Kurangnya kesadaran WBP dalam memilah


sampah dilingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA
Pekanbaru

Gagasan Pemecahan Isu (Kegiatan):


1. Melakukan konsultasi dengan mentor dan lebih memahami dasar
hukum ketertiban WBP, sesuai dengan Permenkumham Nomor 6
Tahun 2013 ayat 6.
Tabel 2.2. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 1
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Melakukan konsultasi dengan mentor dan lebih memahami
dasar hukum ketertiban WBP, sesuai dengan
Permenkumham Nomor 6 Tahun 2013 ayat 6. Tentang
kewajiban WBP untuk menjaga kebersihan diri dan
lingkungan hunian serta mengikuti kegiatan yang
dilaksanakan dalam rangka kebersihan lingkungan hunian.
Tahapan Kegiatan 1. Mencatat dasar hukum kewajiban WBP dalam menjaga
lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru.
2. Menyampaikan dan menjelaskan kepada atasan/mentor
mengenai rancangan aktualisasi.
3. Melakukan diskusi dengan atasan atau mentor.
4. Meminta saran kepada atasan/mentor mengenai
rancangan aktualisasi yang akan dilaksanakan.
Output / Hasil Mendapatkan dasar hukum kewajiban WBP dalam menjaga
lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru.
Nilai Dasar Akuntabilitas

34
Sebelum saya berkonsultasi kepada mentor, saya mencari
terlebih dahulu dasar hukum kewajiban WBP dalam
menjaga lingkungan Lapas, sehingga saya memperoleh
kejelasan dalam menyusun rancangan aktualisasi.
Nasionalisme
Saya berkonsultasi kepada atasan tentang dasar hukum
pemilahan sampah (meminta pendapat dan arahan). Hal
ini sesuai dengan sila keempat.
Etika Publik
Saat menyampaikan dan menjelaskan rancangan aktualisasi
kepada atasan atau mentor saya menggunakan tata bahasa
yang baik dan sopan.
Komitmen Mutu
Dalam melaksanakan kegiatan pertama tersebut yaitu
mengusulkan kegiatan pemisahan tempat sampah organik
dan non organik kepada atasan, saya akan melakukan secara
efektif. Dengan menggunakan teknik Kerangka Berpikir
Kreatif, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Saya membutuhkan masukan dari atasan/mentor
mengenai usulan kegiatan pemisahan tempat sampah
organik dan non organik
2. Saya berpikir bagaimana melakukan kegiatan pemisahan
tempat sampah organik dan non organik
3. Saya mencari solusi untuk melakukan kegiatan
pemisahan tempat sampah organik dan non organik
4. Saya mendiskusikan dengan rekan sejawat
5. Lahirnya idea atau gagasan tentang melakukan kegiatan
pemisahan tempat sampah organik dan non organik
Anti Korupsi
Dalam melakukan konsultasi dengan mentor tentang dasar
hukum dan usulan rancangan aktualisasi kegiatan yang akan
dilakukan, saya akan bersikap jujur dalam mengungkapkan

35
pendapat.
Peran ASN dalam Manajemen ASN: Saya akan berkonsultasi kepada atasan
NKRI (Manajemen mengenai rancangan kegiatan, agar dapat menjalankan
ASN, Pelayanan tugas sesuai aturan yang berlaku untuk mewujudkan ASN
Publik, dan Whole yang prefesional. Hal tersebut menggambarkan telah
Of Government) terlaksananya manajemen ASN di Lapas Perempuan Kelas
IIA Pekanbaru.
Kontribusi Dengan dilakukannya kegiatan ini dapat mendukung Visi
Terhadap Visi dan Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru yaitu Pulihnya
Misi kesatuan Hubungan Hidup, Kehidupan dan Penghidupan
WBP Sebagai Individu, Anggota Masyarakat dan Makhluk
Tuhan YME dan
Penguatan Nilai- Dengan dilaksanakannya kegiatan berkonsultasi dengan
nilai Organisasi atasan/mentor maka akan menguatkan nilai Profesional,
Akuntabel, Sinergi, Transparan dan Inovatif.

2. Melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk melakukan kegiatan


pemilahan sampah.
Tabel 2.3. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 2
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk
melakukan kegiatan pemilahan sampah.
Tahapan Kegiatan 1. Menyampaikan dan menjelaskan kepada teman
sejawat mengenai rancangan aktualisasi.
2. Melakukan diskusi teman sejawat
3. Meminta dan mencatat saran dari teman sejawat
mengenai rancangan aktualisasi yang akan
dilaksanakan.
Output / Hasil Mendapatkan masukan dan saran dari teman sejawat
melalui diskusi

Nilai Dasar Akuntabilitas


Menerima dan melaksanakan dengan penuh tanggung
jawab saran atau masukan yang diberikan teman sejawat

36
Nasionalisme
Saya berdiskusi dengan teman sejawat untuk memahami
tata cara pemilahan sampah. Hal ini sesuai dengan sila
keempat (bermusyawarah).
Etika Publik
Saat menyampaikan dan menjelaskan rancangan
aktualisasi kepada teman sejawat, maka saya akan
menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan.
Komitmen Mutu
Dalam melaksanakan kegiatan pertama tersebut yaitu
berkoordinasi dengan teman sejawat, saya akan melakukan
secara efektif. Dengan menggunakan teknik Kerangka
Berpikir Kreatif, dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mencari data dan informasi mengenai sampah organik
dan anorganik.
2. Berdialog dan berdiskusi.
3. Menjelaskan rancangan aktualisasi kepada atasan.
Anti Korupsi
Saat melakukan diskusi kepada teman sejawat mengenai
rancangan kegiatan, maka saya akan bertanggung jawab
untuk memberikan informasi secara lengkap dan terarah.
Peran ASN dalam Manajemen ASN: Saat melakukan diskusi kepada teman
NKRI (Manajemen sejawat mengenai rancangan maka saya akan memahami
ASN, Pelayanan SOP terlebih dahulu. Hal tersebut menggambarkan telah
Publik, dan Whole terlaksananya manajemen ASN di Lapas Perempuan Kelas
Of Government) IIA Pekanbaru.
Kontribusi Dengan dilakukannya kegiatan ini dapat mendukung Visi
Terhadap Visi dan Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru yaitu Pulihnya
Misi kesatuan Hubungan Hidup, Kehidupan dan Penghidupan
WBP Sebagai Individu, Anggota Masyarakat dan Makhluk
Tuhan YME
Penguatan Nilai- Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut maka akan

37
nilai Organisasi menguatkan nilai Profesional, Akuntabel, Sinergi,
Transparan dan Inovatif.

3. Melakukan sosialisasi dan menempelkan poster himbauan menjaga


kebersihan.
Tabel 2.4. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 3
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Melakukan sosialisasi dan menempelkan poster himbauan
menjaga kebersihan.
Tahapan Kegiatan 1. Konsultasi dengan KPLP.
2. Mengumpulkan ketua kamar dan tamping di ruang
KPLP untuk diberikan penjelasan tentang menjaga
kebersihan lingkungan Lapas
3. Menempelkan poster himbauan menjaga kebersihan
Output / Hasil Tersosialisasinya pemberitahuan tentang menjaga
kebersihan.

Nilai Dasar Akuntabilitas


Sebelum dilakukan kegiatan sosialisasi, saya mendatangi
KPLP untuk berkoordinasi agar mendapatkan kejelasan
target mengenai partisipatif pegawai dan WBP dalam
menjaga kebersihan lingkungan.
Nasionalisme
Saya tidak membedakan kamar hunian dalam melakukan
sosialisasi tentang pemilahan sampah. Hal ini sesuai
dengan sila kedua (tidak diskriminatif).
Etika Publik
Dengan cermat saya menyiapkan materi sosialisasi. Selain
itu, saya menyampaikan materi dengan bahasa yang sopan
dan mudah dimengerti.
Komitmen Mutu
Dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi peraturan Lapas
Perempuan Pekanbaru kepada ketua kamar, saya akan

38
melakukan secara efektif dan efisien. Dengan
menggunakan teknik PDCA, dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Plan (Rencana)
- Saya akan melakukan koordinasi dengan KPLP
- Saya akan mendata nama-nama ketua kamar dan
menyiapkan datar hadir WBP
- Saya akan berkordinasi dengan komandan jaga
untuk mengumpulkan ketua kamar
- Saya akan mengumpulkan ketua kamar di aula
- Saya akan memberikan penjelasan kepada ketua
kamar terkait pemisahan tong sampah
- Saya akan melakukan kegiatan sosialisasi
- Saya akan mengebalikan ketua kamar WBP
kedalam kamar masing-masing
- Saya akan melapor kepada komandan jaga bahwa
kegiatan sudah selsai dan WBP telah kembali ke
kamar masing-masing
2. Do (Melakukan)
Saya melaksanakan kegiatan sosialisasi tersebut
kepada ketua kamar
3. Check
apakah gagasan/ide tersebut efektif?
4. Action
- Jika rancangan tersebut efektif maka akan diadopsi.
- Jika rancangan kurang efektif maka akan diadaptasi
- Jika rancangan tidak efektif maka akan dibatalkan
(abandon).
Anti Korupsi
Kegiatan sosialisasi ini saya lakukan dengan penuh
Tanggung jawab dan meningkatkan rasa peduli terhadap

39
lingkungan di blok hunian WBP.
Peran ASN dalam Pelayanan Publik: Dengan melaksanakan kegiatan
NKRI (Manajemen sosialisasi sosialisasi atau memberikan informasi tentang
ASN, Pelayanan himbauan menjaga kebersihan. Maka hal ini akan
Publik, dan Whole meningkatkan pelayanan publik dari Lapas perempuan
Of Government) Kelas II A Pekanbaru
Kontribusi Kegiatan ini sesuai dengan Misi UPT Lapas Perempuan
Terhadap Visi dan Kelas IIA Pekanbaru yaitu: Pembinaan dan Pembimbingan
Misi WBP Dalam Kerangka  Penegakan Hukum demi
terwujudnya Visi Lapas Perempuan klas IIA Pekanbaru
Penguatan Nilai- Kegiatan ini dapat mewujudkan nilai-nilai yang
nilai Organisasi Profesional, Akuntabel, Transparan dan Inovatif.

4. Membuat jadwal piket kebersihan dimasing-masing kamar, agar


terwujudnya rasa tanggung jawab.
Tabel 2.5. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 4
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Membuat jadwal piket kebersihan dimasing-masing
kamar, agar terwujudnya rasa tanggung jawab.
Tahapan Kegiatan 1. Membuat daftar piket
2. Melaporkan hasil jadwal piket WBP kepada atasan di
Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru
3. Menempelkan jadwal piket
Output / Hasil Terbentuknya jadwal piket kebersihan dimasing-masing.
Nilai Dasar Akuntabilitas
Dalam melaksanakan kegiatan pendataan ini saya akan
konsisten dengan jadwal pendataan yang telah ditentukan
serta jujur dalam melaporkan hasil pendataan.
Nasionalisme
Saya akan bermusyawarah dengan komandan jaga untuk
menentukan daftar piket pembuangan sampah. Hal ini
sesuai dengan sila keempat (bermusyawarah).
Etika Publik
Dalam melakukan pendataan terhadap WBP saya akan

40
bersikap sopan terutama WBP yang sudah berumur.
Komitmen Mutu
Dalam menyusun format pendataan saya akan membuat
dengan inovasi dan kreatifitas yang saya miliki.
Anti Korupsi
Kegiatan ini saya lakukan dengan penuh Tanggung
jawab dan tanpa membedakan status sosial WBP.
Peran ASN dalam Manajemen ASN: Dengan adanya jadwal piket
NKRI (Manajemen kebersihan dimasing-masing kamar, maka hal ini dapat
ASN, Pelayanan menggambarkan terlaksananya manajemen ASN di Lapas
Publik, dan Whole Perempuan Kelas II A Pekanbaru.
Of Government)
Kontribusi Terhadap Dengan dilakukannya kegiatan ini dapat mendukung visi
Visi dan Misi Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru yaitu Pulihnya
kesatuan Hubungan Hidup, Kehidupan dan Penghidupan
WBP Sebagai Individu, Anggota Masyarakat dan
Makhluk Tuhan YME dan misi dari Lapas Perempuan
Kelas II A Pekanbaru yakni melaksankan pembinaan dan
pembimbingan WBP dalam kerangka hukum.
Penguatan Nilai-nilai Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut, maka akan
Organisasi menguatkan nilai Profesional, Akuntabel, Sinergi,
Transparan dan Inovatif.

5. Menyiapkan tong sampah dan membuat label pada tong sampah.


Tabel 2.6. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 5
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Menyiapkan tong sampah dan membuat label pada tong
sampah.
Tahapan Kegiatan 1. Mencari bentuk desain dan membuat label tong
sampah organik dan anorganik.
2. Melakukan penambahan tong sampah.
3. Menempelkan label tong sampah.
4. Serah terima tong sampah organik dan anorganik

41
kepada KPLP.
Output / Hasil Terlaksananya kegiatan menyiapkan tong sampah dan
menempelkan label tong sampah organik dan non
organik.
Nilai Dasar Akuntabilitas
Saya akan mencari bentuk desain yang menarik dan
bertangung jawab akan membuat label sampah organik
dan non organik sesuai jumlah tempat sampah yang
tersedia di blok hunian Lapas Perempuan Kelas IIA
Pekanbaru.
Nasionalisme
Saya akan bekerjasama dengan rekan sejawat yang ahli
desain untuk membuat label tong sampah agar hasilnya
tampak bagus dan menarik. Hal ini sesuai dengan sila
ketiga (gotong-royong).
Etika Publik
Dalam meminta bantuan kepada tamping (Tahanan
Pendamping) pada pembuatan label tong sampah, maka
saya akan senantiasa bersikap sopan, santun dan ramah.
Agar rekan sejawat merasa dihargai.
Komitmen Mutu
Dalam melaksanakan kegiatan pembuatan label tong
sampah organik dan non organik, saya akan melakukan
secara efektif dan efisien. Dengan menggunakan teknik
PDCA, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Plan (Rencana)
Saya akan membuat label tong sampah organik dan
non organic dengan tampilan yang bagus dan
menarik. Kemudian saya akan menempelkan label
tong sampah sesuai dengan jumlah tong sampah yang
tersedia
2. Do (Melakukan)

42
Saya melaksanakan perencanaan yang saya buat.
3. Check
Apakah gagasan/ide tersebut efektif untuk
dilaksanakan?
4. Action
- Jika hasil evaluasi tersebut efektif maka akan
diadopsi.
- Jika hasil evaluasi rancangan kurang efektif maka
akan diadaptasi
- Jika hasil evaluasi rancangan tidak efektif maka
akan dibatalkan (abandon).
Anti Korupsi
Melaporkan biaya yang telah digunakan kepada atasan
dalam proses pembuatan label tong sampah secara jujur
dengan memberikan bukti pembayaran (nota)
perbelanjaan alat dan bahan untuk pembuatan label tong
sampah.
Peran ASN dalam Manajemen ASN: Dengan adanya penempelan label
NKRI (Manajemen tong sampah organik dan non organik, maka hal ini dapat
ASN, Pelayanan menggambarkan terlaksananya manajemen ASN di Lapas
Publik, dan Whole Of Perempuan Kelas II A Pekanbaru.
Government)
Kontribusi Terhadap Kegiatan ini sesuai dengan misi UPT Lapas Perempuan
Visi dan Misi Klas IIA Pekanbaru yaitu: Pembinaan dan Pembimbingan
WBP Dalam Kerangka Penegakan Hukum demi
terwujudnya visi Lapas Perempuan Klas IIA Pekanbaru.
Penguatan Nilai-nilai Dengan terlaksanaknya penempelan label tong sampah
Organisasi organik dan non organik akan menguatkan nilai
Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan dan Inovatif.

43
6. Memulai pemilahan sampah organik dan anorganik.
Tabel 2.7. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 6
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Memulai pemilahan sampah organik dan anorganik.
Tahapan Kegiatan 1. Berkoordinasi dengan teman sejawat.
2. Berkoordinasi dengan ketua kamar / petugas piket.
3. Mengumpulkan sampah-sampah yang telah terpisah
pada tempat sampah.
Output / Hasil Terlaksananya kegiatan pemilahan sampah organik dan
anorganik.
Nilai Dasar Akuntabilitas
Saya akan bertangung jawab dalam kegiatan
mengumpulkan sampah-sampah yang telah terpisah pada
tempat sampah dengan penuh tanggung jawab dan
berkelanjutan (konsisten).
Nasionalisme
Saya akan berkerjasama dengan teman sejahwat dan
ketua kamar hunian. Hal ini sesuai dengan sila ketiga
(gotong royong).
Etika Publik
Saya akan bersikap sopan saat berkoordinasi dengan
atasan dan teman sejahwat serta ketua kamar hunian.
Selain itu saya akan bersikap cermat dalam mengawasi
WBP saat melaksanakan kegiatan mengumpulkan
sampah-sampah yang telah terpisah pada tempat sampah.
Komitmen Mutu
Dalam melaksanakan kegiatan mengumpulkan sampah-
sampah yang telah terpisah pada tempat sampah, maka
saya akan melakukan secara efektif.
Anti Korupsi

44
Saat melakukan kegiatan pemisahan sampah, saya akan
bekerja keras, kerja ikhlas, dan jujur dalam
melaksanakan kegiatan tersebut.
Peran ASN dalam Manajemen ASN: Dengan adanya kegiatan
NKRI (Manajemen mengumpulkan sampah-sampah yang telah terpisah pada
ASN, Pelayanan tempat sampah, maka hal ini dapat menggambarkan
Publik, dan Whole Of terlaksananya manajemen ASN di Lapas Perempuan
Government) Kelas II A Pekanbaru.
Kontribusi Terhadap Dengan melakukan kegiatan pemisahan tong sampah
Visi dan Misi organik dan non organik, dapat mewujudkan Misi Lapas
Perempuan Kelas IIA Pekanbaru, yaitu melaksanakan
perawatan tahanan dan Pembinaan serta Pembimbingan
WBP dalam kerangka penegakan hukum.
Penguatan Nilai-nilai Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, maka akan
Organisasi menguatkan nilai Profesional, Akuntabel, Sinergi,
Transparan dan Inovatif

7. Mengumpulkan sampah yang telah dipilah.


Tabel 2.8. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 7
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Mengumpulkan sampah yang telah dipilah.
Tahapan Kegiatan 1. Meminta izin kepada komandan jaga
2. Mengumpulkan sampah yang telah dipilah / dipisah.
3. Mengawasi WBP dalam mengumpulkan sampah
4. Laporan kepada komandan jaga
Output / Hasil Terlaksananya pengumpulan sampah yang telah dipilah.
Nilai Dasar Akuntabilitas
Saya akan bertangung jawab dalam kegiatan
pengumpulan sampah organik dan non organik.

Nasionalisme
Saya akan berkerjasama dengan teman sejahwat dan
ketua kamar hunian. Hal ini sesuai dengan sila ketiga
(gotong royong).

45
Etika Publik
Saya akan menggunakan bahasa yang sopan dan santun
saat pengumpulan sampah, ketika bertemu dengan WBP
dan saya menerapkan teknik komunikasi yang efektif,
agar dapat dipahami oleh WBP.
Komitmen Mutu
Saya akan melakukan secara efektif dalam melaksanakan
kegiatan mengumpulkan sampah.
Anti Korupsi
Saya akan jujur dan bertangung jawab dalam
melaksanakan mengumpulkan sampah yang telah dipilah /
dipisah.
Peran ASN dalam Whole Of Government: Dengan terlaksanaknya kegiatan
NKRI (Manajemen mengumpulkan sampah yang telah dipilah / dipisah, hal
ASN, Pelayanan tersebut menunjukkan adanya kerjasama antara WBP
Publik, dan Whole dengan pegawai.
Of Government)
Kontribusi Terhadap Kegiatan ini sesuai dengan Misi UPT Lapas Perempuan
Visi dan Misi Klas IIA Pekanbaru yaitu: Pembinaan dan Pembimbingan
WBP Dalam Kerangka Penegakan Hukum demi
terwujudnya visi Lapas Perempuan Klas IIA Pekanbaru.
Penguatan Nilai-nilai Dengan terlaksanaknya kegiatan mengumpulkan sampah
Organisasi yang telah dipilah / dipisah, maka akan menguatkan nilai
Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan dan Inovatif.

8. Melakukan kontrol kebersihan secara berkala diblok hunian WBP.


Tabel 2.9. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 8
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Melakukan kontrol kebersihan secara berkala diblok
hunian WBP.
Tahapan Kegiatan 1. Membuka pintu masuk blok hunian WBP.

46
2. Masuk ke dalam blok hunian WBP.
3. Kontrol kebersihan diblok hunian WBP.
4. Berkomunikasi dengan WBP
Output / Hasil Terlaksanannya kontrol kebersihan secara berkala diblok
hunian WBP.
Nilai Dasar Akuntabilitas
Konsisten dan Bertanggung jawab: Saya akan
memeriksa keadaan lingkungan sekitar untuk memastikan
tidak ada sampah secara berkala dan konsisten serta
bertanggung jawab untuk memastikan keadaan blok
hunian aman dan tidak terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan.
Nasionalisme
Saya akan berkerjasama dengan teman sejahwat ketika
mengotrol blok hunian WBP. Hal ini sesuai dengan sila
ketiga (gotong royong).
Etika Publik
Saat berkomunikasi dengan WBP saya akan bertutur
bahasa yang baik dan bersikap sopan.
Komitmen Mutu
Dalam melaksanakan kontrol kebersihan ke dalam blok
hunian WBP pada saat jam bertugas, saya akan
melakukan secara efektif sesuai dengan SKP kerja.

Anti Korupsi
Saya akan jujur dalam melaporkan hasil pengawasan
kepada atasan sesuai dengan fakta yang saya temui di
lapangan dengan menunjukkan dokumentasi hasil kontrol
rutin saat jam bertugas.
Peran ASN dalam Manajemen ASN: Dengan adanya kontrol kebersihan ke
NKRI (Manajemen dalam blok hunian WBP pada saat jam bertugas, maka hal
ASN, Pelayanan ini dapat menggambarkan terlaksananya manajemen ASN
Publik, dan Whole di Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru.

47
Of Government)
Kontribusi Terhadap Dengan dilakukannya kegiatan ini dapat mendukung visi
Visi dan Misi Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru yaitu Pulihnya
kesatuan Hubungan Hidup, Kehidupan dan Penghidupan
WBP Sebagai Individu, Anggota Masyarakat dan
Makhluk Tuhan YME
Penguatan Nilai-nilai Dengan dilaksanakannya kegiatan kontrol kebersihan ke
Organisasi dalam blok hunian WBP pada saat jam bertugas maka
akan menguatkan nilai Profesional, Akuntabel, Sinergi,
Transparan dan Inovatif

9. Memberikan masukan terdapat kegiatan kebersihan kamar hunian


WBP.
Tabel 2.10. Rancangan Aktualisasi Kegiatan 9
URAIAN KETERANGAN
Kegiatan Memberikan masukan terdapat kegiatan kebersihan kamar
hunian WBP.
Tahapan Kegiatan 1. Minta izin kepada komandan jaga.
2. Memeriksa kebersihan di lingkungan blok dan kamar
hunian.
3. Melaporkan hasil kontrol kepada komandan jaga

Output / Hasil Adanya masukan yang diberikan tentang kegiatan


kebersihan kamar hunian WBP.
Nilai Dasar Akuntabilitas
Dalam hal ini saya meminta izin terlebih dahulu kepada
atasan atau komandan jaga agar kegiatan ini bersifat
Transparan serta komandan mengetahui maksud dan
tujuan saya memasuki blok.
Nasionalisme
Saya bertangung jawab dalam membuat laporan masukan
yang diberikan tentang kegiatan kebersihan kamar hunian
WBP. Hal ini sesuai dengan sila keempat

48
(bermusyawarah).
Etika Publik
Saat berkomunikasi dengan atasan/ mentor mengenai
hasil evaluasi dan monitoring saya akan bertutur bahasa
yang baik dan bersikap sopan.
Komitmen Mutu
Saya akan membuat laporan masukan yang diberikan
tentang kegiatan kebersihan kamar hunian WBP kepada
komandan jaga secra efektif.
Anti Korupsi
Dalam melaporkan hasil masukan yang diberikan tentang
kegiatan kebersihan kamar hunian WBP, secara jujur
dan berani dengan menyampaikan hasil evaluasi dan
monitoring yang sesuai dengan fakta di lapangan.
Peran ASN dalam Whole Of Government: Dengan terlaksananya kegiatan
NKRI (Manajemen melaporkan hasil masukan yang diberikan tentang
ASN, Pelayanan kegiatan kebersihan kamar hunian WBP, maka saya akan
Publik, dan Whole melaporkan dan berkonsultasi kepada atasan sehingga
Of Government) terciptanya lingkungan blok hunian yang bersih dan hasil
pemilahan sampah dapat dimanfaatkan untuk menjalin
kerjasama yang berhubungan dengan Whole Of
Government.
Kontribusi Terhadap Dengan dilakukannya kegiatan ini dapat mendukung visi
Visi dan Misi Lapas Perempuan Kelas II A Pekanbaru yaitu Pulihnya
kesatuan Hubungan Hidup, Kehidupan dan Penghidupan
WBP Sebagai Individu, Anggota Masyarakat dan
Makhluk Tuhan YME.
Penguatan Nilai-nilai Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut, maka akan
Organisasi menguatkan nilai Profesional, Akuntabel, Sinergi,
Transparan dan Inovatif.

49
50